• Tidak ada hasil yang ditemukan

2008 2009 2010 2011 2012 Parigi Moutong 1,30 1,64 2,32 2,68 2,78

5) Kelautan dan Perikanan

2.4. Aspek Daya Saing Daerah

2.4.3. Iklim Berinvestasi

Investasi merupakan salah satu indikator penting dalam meningkatkan pembangunan perekonomian. Investasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja baru sehingga diharapkan akan mengurangi beban pengangguran dan kemiskinan. Masuknya investor asing ke suatu wilayah, sangat tergantung dari kondisi keamanan dan politik dalam negeri suatu wilayah. Kondisi keamanan dan politik dalam negeri yang stabil merupakan modal penting dalam menarik minat investasi asing di Indonesia pada umumnya, khususnya di Kabupaten Parigi Moutong.

Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan iklim investasi salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja; Angka Kriminalitas, Jumlah Demonstrasi, Kemudahan Perizinan,

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2013-2018 II-135 Pengenaan Pajak Daerah, Peraturan Daerah (Perda) yang Mendukung Iklim Usaha dan Status Desa (Persentase Desa Berstatus Swasembada Terhadap Total Desa).

a). Angka kriminalitas

Tindak kriminalitas akan memunculkan rasa tidak aman bagi masyarakat. Berbagai bentuk kejahatan seperti pencurian, penipuan, dan perampokan, maupun kekerasan dan kejahatan susila masih sering terjadi. Dengan masih adanya jumlah kejahatan yang tinggi ini, keleluasaan masyarakat untuk melakukan kegiatannya masing-masing menjadi terganggu. Oleh sebab itu, upaya untuk menciptakan keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas merupakan salah satu prioritas untuk mewujudkan stabilitas penyelenggaraan pemerintahan terutama menjaga iklim berinvestasi di daerah. Pemerintah daerah dapat terselenggara dengan baik apabila pemerintah dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat, menjaga ketertiban dalam pergaulan masyarakat, serta menanggulangi kriminalitas sehingga secara kuantitas dan kualitas tindak kriminalitas dapat diminimalisir. Angka kriminalitas dapat menggambarkan tingkat keamanan masyarakat, semakin rendah angka kriminatitas, maka semakin tinggi tingkat keamanan masyarakat.

b). Jumlah Demonstrasi

Unjuk rasa atau demonstrasi merupakan sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh kepentingan kelompok. Semakin sedikit jumlah demonstrasi, maka semakin tinggi tingkat kesepahaman dan semakin tinggi pula tingkat kestabilan kondisi keamanan suatu wilayah.

c). Kemudahan Perizinan

Investasi asing yang masuk ke suatu wilayah/daerah bergantung kepada daya saing investasi yang dimiliki oleh wilayah/daerah yang bersangkutan. Makin tinggi daya saing suatu daerah, makin tinggi minat investasi. Pembentukan daya saing investasi berlangsung secara terus-menerus dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kemudahan perizinan. Kemudahan perizinan suatu wilayah/daerah sangat menunjang dalam pembuatan proses administrasi suatu investasi.

d). Pengenaan Pajak Daerah (Jumlah dan Macam Pajak Daerah)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2013-2018 II-136 pribadi atau badan (dalam hal ini perusahaan) kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang berdasarkan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah (sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku). Sedangkan Retribusi daerah merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan (dalam hal ini perusahaan). e). Status Kelurahan

Pembangunan desa/kelurahan dalam jangka panjang ditujukan untuk memperkuat dasar-dasar sosial ekonomi perdesaan yang memiliki hubungan fungsional yang kuat dan mendasar dengan kota-kota dan wilayah di sekitarnya. Pembangunan desa dan pembangunan Sektor yang lain di setiap pedesaan mempercepat pertumbuhan desa menjadi desa swasembada yang memiliki ketahanan di segala bidang dan dengan demikian dapat mendukung pemantapan ketahanan nasional. Berdasarkan statusnya, desa atau kelurahan diklasifikasikan menjadi 3 (tiga), yakni desa/kelurahan swadaya; desa/kelurahan swakarya; dan desa/kelurahan swasembada (berkembang). Tabel berikut adalah gambaran secara lengkap mengenai jumlah desa/kelurahan menurut klasifikasinya di Kabupaten Parigi Moutong tahun 2010-2012.

Tabel 2.122

Jumlah Desa/Kelurahan Menurut Status Desa Di Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2010–2012

Tahun Swadaya Klasifikasi Swakarsa Swasembada Jumlah

2010 85 50 65 200

2011 93 58 74 225

2012 93 58 74 225

Sumber: BPS Parigi Moutong tahun 2011-2013, Data Sulawesi Tengah & SKPD 2.4.4 Sumber Daya Manusia

SDM berkualitas merupakan kunci keberhasilan pembangunan daerah. Pembangunan SDM harus benar-benar diarahkan agar mampu menghasilkan SDM yang memiliki etos kerja yang produktif, terampil, kreatif, disiplin, profesional dan mampu memanfaatkan, mengembangkan serta menguasai ilmu dan teknologi yang inovatif dalam rangka memacu pelaksanaan pembangunan nasional. Gambaran umum kondisi daerah aspek daya saing daerah terkait dengan sumber daya manusia salah satunya dapat dilihat dari kualitas tenaga kerja dan tingkat ketergantungan penduduk.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2013-2018 II-137 a). Kualitas Tenaga Kerja

Salah satu faktor penting yang tidak dapat diabaikan dalam kerangka pembangunan daerah adalah kualitas SDM. Kualitas SDM ini berkaitan erat dengan kualitas tenaga kerja yang tersedia untuk mengisi kesempatan kerja di dalam negeri dan di luar negeri. Kualitas tenaga kerja di suatu wilayah sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan. Artinya semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk suatu wilayah maka semakin baik kualitas tenaga kerjanya.

b). Tingkat Ketergantungan Penduduk

Tingkat ketergantungan penduduk digunakan untuk melihat gambaran besarnya beban yang harus ditanggung oleh setiap penduduk berusia produktif terhadap penduduk yang tidak produktif. Penduduk muda berusia dibawah 15 tahun umumnya dianggap sebagai penduduk yang belum produktif karena secara ekonomis masih tergantung pada orang tua atau orang lain yang menanggungnya. Selain itu, penduduk berusia di atas 65 tahun juga dianggap tidak produktif lagi sesudah melewati masa pensiun. Penduduk usia 15-64 tahun, adalah penduduk usia kerja yang dianggap sudah produktif. Atas dasar konsep ini dapat digambarkan berapa besar jumlah penduduk yang tergantung pada penduduk usia kerja. Meskipun tidak terlalu akurat, rasio ketergantungan semacam ini memberikan gambaran ekonomis penduduk dari sisi demografi.

Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Semakin tinggi Persentase dependency ratio, maka semakin tinggi beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan penduduk yank tidak produktif lagi. Gambaran rasio ketergantungan penduduk Kabupaten Parigi Moutong tahun 2008-2012 sebagaimana tabel 2.123 berikut.

Tabel 2.123

Rasio Ketergantungan Penduduk

di Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2008–2012

Uraian 2008 2009 Tahun 2010 2011 2012 Parigi Moutong 60,01 62,74 60,49 58,38 58,03 Sulawesi Tengah 50,20 49,94 49,08 58,28 78,70 Sumber: BPS Parimo tahun 2009-2013, Data Sulawesi Tengah & SKPD

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2013-2018 II-138 Rasio ketergantungan pada periode 2008-2012 mengalami penurunan, yakni dari 60,01% pada tahun 2008 menjadi 58,03% pada tahun 2012 atau menurun sebesar 1.98%. artinya setiap 100 orang yang berusia kerja (dianggap produktif) mempunyai tanggungan sebanyak 60 orang pada tahun 2008 menurun menjadi 58 orang tahun 2012 yang belum produktif dan dianggap tidak produktif lagi. Dari indikator ini terlihat bahwa pada tahun 2012 penduduk usia kerja di Kabupaten Parigi Moutong masih dibebani tanggung jawab akan penduduk muda yang proporsinya lebih banyak dibandingkan tanggung jawab terhadap penduduk tua.

Rasio ketergantungan di Provinsi Sulawesi tengah lebih tinggi di banding dengan Kabupaten parigi Moutong. Dimana dari tahun ketahun terjadi peningkatan angka ketergantungan sejak lima tahun terakhir hingga pada tahun 2012 berada pada 78,70% atau setiap 100 orang yang berusia kerja (dianggap produktif) mempunyai tanggungan sebanyak 78,7 orang pada tahun tersebut.

Dokumen terkait