BAB IV PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
IMPLEMENTASI MANAJEMEN INTEGRASI KURIKULUM MADRASAH DAN PESANTREN
(Studi Kasus MTs Bait Qur’any At Tafkir, Tangerang Selatan) (Misalnya: Kepala Sekolah, Wakamad, dan Orangtua)
No Jenis Dokumen Keterangan
ADA TIDAK
1. Buku Laporan Tahunan
2 File Data BQ (Soft Copy)
- Kalendar Akademi
- Struktur Kurikulum
- Materi MAWA
- Jadwal Kegiatan Santi
- Ujian MTs
- Struktur Organisasi
- Silabus
3. Dokumen prinsip-prinsip perencanaan kurikulum di buku Born to be a star
Tabel 3.3 List Dokumentasi
E. Teknik Analisis Data
Proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola kategori dan satuan uraian dasar dapat dirumuskan dengan hipotetis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2010, p. 103). Analisis data yang dimaksud adalah untuk mencari dan menata secara sistematis hasil observasi, wawancara, catatan-catatan dan dokumentasi untuk meningkatkan peneliti terhadap persoalan yang sedang diteliti dengan cara: reduksi data, penyajian data dan, penarikan kesimpulan/verifikasi.
Analisis merupakan segala sesuatu laporan yang nampak dan terdengar saja adalah laporan yang bersifat deskriptif. Analisis data dimulai sejak pengumpulan data berlangsung melalui metode diatas, dimana setiap data yang diperoleh akan terlebih dahulu diseleksi agar data yang diolah lebih akurat dan objektif. Selanjutnya, data yang diperoleh dianalisis dengan penyaringan data, pengelolahan dan penyimpulan. Data kemudian disusun dalam kategori-kategori yang saling dihubungkan dari berbagai sumber. Melalui proses inilah penyimpulan yang dibuat dengan tujuan untuk memperkokoh dan memperluas bukti yang dijadikan landasan.
Miles & Huberman, mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh (Sugiyono, 2010, p. 246)
1. Reduksi Data
Data yang diperoleh dari lapangan jumlanya cukup banyak, untuk itu perlu dicatat secara rinci dan teliti (Sugiyono, 2010, p. 247). Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.Dengan demikian data yang telah direduksikan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
52 2. Penyajian Data
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data.
Menurut Miles dan Huberman yang paling sering digunakan dalam menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif (Sugiyono, 2010, p. 249)
Penyajian data secara general adalah proses pengorganisasian data, pengompresi sekumpulan informasi yang dapat menghadirkan proses penarikan kesimpulan dan aksi. (Miles, Hubberman, dan Saldana, 2014:8). Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowcart, dan sejenisnya (Sugiyono, 2010, p. 341)
Dengan demikian menurut peneliti, setelah adanya reduksi data kemudian dilanjutkan dengan penyajian data. Dalam penelitian ini bersifat kualitatif sehingga penyajian datanya berupa penjabaran makna atau naratif.
3. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi
Fase ketiga dari proses analisis data adalah penerikan kesimpulan dan verifikasi kesimpulan. Dari awal proses pengumpulan data analisatif kualitatif menginterpretasikan hal apa yang dimaksud oleh susunan catatan, penjelasan, arus sebab/akibat, dan preposisi atau dalil. Miles, Hubberman, dan Saldana dalam proses penelitian kualitatif, kesimpulan awal yang dikemukakan sifatnya masih belum final dan akan berubah ketika bukti-bukti yang kuat sebagai pendukung pada tahap pengumpulan data selanjutnya tidak ditemukan. Namun, tatkala kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal tadi telah didukung oleh bukti yang valid serta konsisten pada saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data (proses verifikasi, maka kesimpulan yang dihasilkan merupakan kesimpulan yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. (Sugiyono, 2010, p. 345)
Dengan demikian menurut peneliti, penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena masalah dalam penelitian kualitatif bersifat sementara dan akan berkembang saat peneliti berada di lapangan
F. Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data di dalam penelitian kualitatif meliputi uji kredibilitas (validitas internal), transferability (validitas eskternal), dependability (reabilitas), dan confirmability (obyektifitas) (Sugiyono, 2010, p. 270).
1. Kredibilitas
Kredibilitas adalah keakuratan diantara data responden dengan data peneliti. Ada beberapa syarat kredibilitas.
a. Perpanjangan pengamatan
Maksudnya ialah si peneliti kembali ke lapangan untuk mengamati kembali, wawancara kembali dengan responden / sumber data yang telah ditemui maupun yang belum ditemui sebelumnya. Maksud dari perpanjangan pengamatan ini ialah agar terjalin hubungan yang akrab satu sama lain, saling percaya, saling terbuka dan saling berbagi tanpa ada yang ditutupi.
b. Peningkatan ketekunan
Artinya peneliti melakukan proses pengamatan dengan cara lebih teliti, cermat, dan kontiniu. Dengan metode ini maka kepastian data dan urutan kejadian akan dapat dipotret secara runut.
c. Triangulasi
53
Triangulasi pada pengujian kredibilitas ini dimaksudkan sebagai pengecekan data-data dari sumber-sumber melalui berbagai mekanisme dan waktu. Dengan cara itu maka akan ada triangulasi sumber, triangulasi waktu, dan triangulasi teknik pengumpulan data.
d. Peer Review
Metode ini adalah usaha untuk menghasilkan informasi terkait beserta data yang dibutuhkan hingga akhirnya hal-hal yang didapatkan bisa benar dan meyakinkan.
e. Analisis kasus negative
Maksudnya ialah menganalisis kasus yang negatif atau seorang peneliti mencari data yang bersifat agak berbeda, dan bahkan sangat beda atau bertentangan dengan data yang sudah ada. Kalau sudah tidak ada data lagi yang paradok terhadap data temuan awal berarti data yang didapatkan sudah bisa terpercaya kebenarannya. Tapi jika masih ditemukan data yang paradok dengan data awal maka mungkin peneliti akan melakukan perubahan dalam penelitiannya.
f. Member Check
Proses pengecekan data data yang didapat dari informan.
2. Transferability (Validitas Eksternal)
Validitas eksternal merupakan transferability dalam penelitian kualitatif. Validitas eksternal menunjukan deretan ketetapan atau dapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi dimana sampel tersebut telah digunakan.
3. Dependability
Di dalam penelitian yang bersifat kualitatif, uji dependability dilakukan dengan cara mengaudit terhadap keseluruhan proses penelitian. Banyak terjadi peneliti tidak melakukan proses meneliti di lapangan, tetapi bisa memberikan data. Peneliti yang bersifat/berprilaku seperti ini perlu dipertayakan dependabilitinya. Karena peneliti ini mendatangkan data tanpa terjun ke lapangan, maka ia bisa disebut sebagai peneliti tidak reliable. Oleh karena itu pengujian ini dilakukan untuk mangaudit semua proses penelitian secara keseluruhan.
4. Confirmability (Objektifitas)
Uji objektifitas ini sangat mirip dengan uji dependability, sehingga pengujiannya bisa dilaksanakan dengan cara bersama sama. Menguji objektifitas sama dengan menguji hasil dari sebuah penelitian, dihubungkan terhadap proses yang dijalankan peneliti. Jika hasil dari penelitian ialah manfaat dari proses penelitian yang dilakukan, maka peneliti ini sudah memenuhi kriteria confirmability.
Dalam penelitian kali ini peneliti menggunakan uji triangulasi dalam menguji keabsahan datanya. Triangulasi ini dimaksudkan sebagai proses cek data dari banyak sumber dan dengan banyak cara dan waktu. Dengan itu maka akan ada triangulasi sumber, waktu, dan teknik pengumpulan data.
Penulis ingin mengetahui bagaimana Implementasi Manajemen Integrasi Kurikulum Madrasah dan Pesantren (MTs Bait Qurany At-Tafkir Tangerang Selatan).
Dengan mengumpulkan berbagai macam jenis data bisa dari wawancara, observasi, maupun dokumentasi. Sehingga metode triangulasi dapat mendapatkan data yang sama seperti harapan peneliti.
54 BAB IV
PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum dan Latar Penelitian
1. Sejarah Berdirinya Pesantren dan MTs Bait Qurany At-Tafkir
Pondok Pesantren (ponpes) Tahfidz Al Qur‘an Bait Qur‘any merupakan salah satu Lembaga Pendidikan tingkat Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah yang berada di bawah naungan Yayasan Bait Qur‘any At-Tafkir. Keberadaan lembaga pendidikan Mts berdiri sejak tahun ajaran 2013/2014. Artinya sudah 6 tahun kegiatan belajar mengajar di Ponpes Tahfidz Al Qur‘an Bait Qur‘any berjalan.
Melalui semangat dakwah Al Qur‘an selama kurang lebih 6 tahun telah melahirkan kurang lebih 20 hafidz/zh 30 juz dengan waktu 3-4 tahun. Santri yang belajar di Ponpes Tahfidz Al Qur‘an Bait Qur‘any berasal dari lingkungan Jabodetabek, dan juga ada santri yang berasal dari luar Jawa, seperti dari Bengkulu, Palembang, Kalimantan, NTT, dan Papua.
Pada tahun 2005 terbentuk kelompok kecil yang berada di bawah naungan Majlis Taklim Al-Muhajirin yang mencoba mewadahi ibu-ibu muda dengan materi pengenalan dan pemahaman Al-Qur‘an dan penanaman aqidah. Setelah berjalan satu tahun pengajian hanya diikuti oleh 6 orang, kemudian ada keinginan dari beberapa pengurus Majlis Taklim untuk mengembangkan pengajian ibu-ibu muda tersebut dengan menggunakan manajemen pemberdayaan manusia secara serius. Pada akhir tahun 2006 , atas dukungan Majlis Taklim, terbentuklah kelompok pembinaan ibu dan anak dengan model Bait Qurany Pendidikan Berbasis Aqidah Islam Pra Tamyiz Aula Duljannah. Mengingat perkembangan Bait Qurany di Aula Duljannah mengalami beberapa hambatan, kemudian dewan pendiri memisahkan diri dengan Majlis Taklim Al-Muhajirin pada tahun 2006 dan mendirikan lembaga Pusat Pelatihan Orang Tua dan Anak PPRA. Melalui beberapa training Bait Qurany yang diberikan kepada kelompok ibu Majlis Taklim dan mahasiswi UIN Jakarta, kemudian berdirilah secara resmi At-Tafkir dan beberapa cabangnya. Diantara cabang Bait Qurany diantaranya: a. HLG El-Fikr, Ciracas b. HLG Sabiqul Khoirot, Ciputat c. HLG Mar‘atus Sholihah, Pd. Cabe d. BQ Saleh Rahmany, Aceh.
Pondok Pesantren Tahfizh al Qur'an Bait Qur'any berdiri pada tahun 2006 kemudian pada tahun ajaran 2013/2014 membuka program pendidikan tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan 10 santri yang semuanya belajar tanpa biaya sedikitpun alias gratis. Pondok Pesantren dan MTs merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. MTs merupakan salah satu bagian dari pondok sebagai pendidikan formal dimana para santri mendapatkan ilmu-ilmu umum tingkat MTs seperti IPA, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan lain-lain sesuai kurikulum pendidikan nasional. Pondok berdiri dengan kerinduan ingin lahirkan generasi emas, maka pondok di desain dengan habit ulama, diantaranya mendawamkan tahajud, dhuha, Puasa senin kamis, Tahfidz Al qur'an, dan dakwah. Diawali dengan 10 santri dan sekarang Alhamdulillah 4 dari mereka sudah bersekolah di Mesir.
Sumber pendanaan pondok berasal dari Lembaga Ziswaf Yayasan Bait Qur'any At Tafkir. Penggalangan dana diperoleh dari para jamaah Ustad Nurul Habiburrahmanuddin.
Ustadz Nurul Habiburrahmanuddin adalah pengasuh Pondok Pesantren Tahfizh al Qut'an Bait Qur'any. Ustzh Dr. Nurul Hikmah, MA adalah konsultan
55
pendidikan Lembaga Pendidikan Bait Qur'any. Keduanya adalah pendiri Pondok Pesantren Tahfizh al Qut'an Bait Qur'any.
Prestasi pondok dari tahun ke tahun terus meningkat dan Prestasi terakhir yang cukup membanggakan adalah salah satu dari santri terbaik yang sekarang melanjutkan studi di Universitas Al azhar Kairo Mesir merupakan santri yang berhasil lolos beasiswa dari kedutaan besar Mesir di Indonesia. Dengan usia pondok yang masih seumur jagung, pondok pesantren Tahfizh al Qur'an Bait Qur'any mampu bersaing dengan pondok lain yang sudah ada di Indonesia.
Sarana gedung dari tahun ke tahun terus diupayakan agar memiliki tempat belajar (kelas), tempat tidur (Asrama) dan tempat ibadah yang layak (Masjid). Pada awal berdiri santri belajar di teras rumah yang di rumah itu juga berlangsung pendidikan untuk tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tidak jarang juga karena teras digunakan untuk kegiatan anak MI, maka santri MTs belajar di halaman sempit di bawah pohon mangga beratapkan langit. Para assatidz/zh berjuang mengajar dengan suasana yang panas, dengan sarana sederhana (papan tulis bekas yang sudah tinggal sepotong) dan suara yang harus kencang karena bersaing dengan riuhnya kelas santri MI. Pada tahun ajaran 2014/2015 pondok berhasil menyewa sebuah rumah yang terpisah dengan tempat santri MI belajar. Rumah inilah yang kemudian berhasil dibeli dan menjadi pondok bagi santri MTs. Rumah difungsikan sebagai ruang belajar, ruang tidur, kantor, dan juga ruang ibadah. Ruang ibadah ini menjadi tempat serbaguna. Saat sholat maka digunakan untuk sholat, saat belajar maka akan dipasang sekat non permanen sehingga tersekat-sekat menjadi kelas.
Di malam hari ruang serbaguna ini difungsikan menjadi tempat tidur bagi santri ikhwan. Kamar yang ada hanya difungsikan sebagai tempat menyimpan lemari dan perlengkapan lainnya, seperti kasur dan buku-buku. Sementara itu, santri akhwat sebelumnya tidur di rumah-rumah petak (kontrakan) yang dikontrak oleh pondok. Alhamdulillah pada tahun 2015/2016 pondok dapat membeli sebuah rumah tidak terlalu besar namun lokasi tidak jauh dari rumah besar (pondok pusat) dan kemudian dijadikan sebagai asrama bagi santri akhwat.
Semua aktivitas santri terpusat di pondok pusat, dan dengan segala keterbatasan ini tidak menyurutkan langkah manajemen untuk terus berupaya memberikan yang terbaik bagi para santri, baik dari sisi materi dan material. Pada tahun 2020 ini sedang proses pembangunan masjid dan ruang belajar bagi para santri.
2. Visi dan Misi Bait Qurany At-Tafkir
Perkembangan dan tantangan masa depan seperti: perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, globalisasi yang sangat cepat, era informasi, dan berubahnya kesadaran masyarakat dan orang tua terhadap pendidikan memicu madrasah untuk merespon tantangan sekaligus peluang guna memiliki citra moral yang menggambarkan profil madrasah sekaligus pesantren tahfizul Qur‘an yang diinginkan di masa mendatang datang yakni: (a) meningkatkan kualitas pengasuhan orang tua sesuai syariat, (b) melahirkan hafidz Al-Qur‘an, (c) tsaqofah Islam, (d) membentuk generasi Islam yang dapat menterjemahkan Al- Qur‘an, (e) membentuk generasi Islam yang menguasai serta mampu berkomunikasi bahasa Arab, (f) membentuk generasi Islam yang menguasai Ilmu fiqh (fiqih ibadah, muamalah, jinayat, mawarits, fiqh dakwah dll), (g) membentuk generasi Islam yang menguasai pengetahuan, sains dalam bingkai tauhid, (h) mengembangkan setiap aspek
56
perkembangan pada diri anak; motorik, emosi, sosial
, kognitif dan keberagamaan.
Pesantren tahfizul Qur‘an yang diinginkan masa mendatang datang seperti yag dijabarkan di atas diwujudkan dalam Visi dan Misi Madrasah dan Pesantren sebagai berikut:
e. Visi: