Mencetak kader ulama besar yang dapat memimpin umat hidup sesuai syariat Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur‘an Bait Qur‘any At Tafkir
B. Paparan Data dan Hasil Penelitian
1. Perencanaan Kurikulum Integrasi Madrasah dan Pesantren
Perencanaan integrasi kurikulum madrasah dan pesantren di MTs Bait Qur‘any dilakukan oleh konsultan pendidikan serta tim dari MTs Bait Qur‘any bidang kurikulum. Berikut wawancara ibu Nunung kepala madrasah mengenai perencanaan integrasi kurikulum madrasah dan pesantren:
“Yang mengintegrasikan kurikulum pondok dan sekolah adalah konsultan pendidikan bersama dengan bidang kurikulum. Cara mengintegrasikan kurikulum ada di dalam buku Born to be Star. Supervisi dilakukan oleh kepala sekolah dengan menggunakan form standar yang ada. Evaluasi dilakukan melalui rapat rutin dengan konsultan. Konsultan secara rutin memberikan bimbingan/training bulanan dan juga training awal tahun ajaran” (Isnaini, 2020)
Integrasi kurikulum MTs Bait Qur‘any menggunakan dua kurikulum yaitu kurikulum madrasah dan pondok pesantren. Ibu Nunung kepala madrasah MTs Bait Qur‘any menyatakan:
“Kurikulum madrasah di MTs Bait Qur’any tidak menggunakan kurikulum madrasah dari Kemenag karena sekolah yang diinduk di bawah Diknas. Jadi madrasah menggunakan kurikulum Diknas. Sedangkan untuk kurikulum pondok pesantren berbasis kitab bukan berbasis mapel.” (Isnaini, 2020). Sekolah induk MTs Bait Qur‘any adalah SMP Madinatul Ilmi Para santri mengikuti Ujian Nasional dan Ijazah madrsahnya di bawah SMP Madinatul Ilmi.
Dengan menggunakan integrasi kurikulum madrasah dan pesantren maka para santri memperoleh tiga ijazah yaitu:Ijazah Nasional, Ijazah Pondok, dan Ijazah Tahfizh.
Berikut akan dipaparkan temuan dan pembahasan integrasi kurikulum dari sisi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, kendala, dan standar kompetensi lulusan.
Pada bagian ini akan dijelaskan paparan data yang terkait dengan perencanan kurikulum integrasi madrasah-pesantren di MTs Bait Qur‘any Ciputat. Perencanaan kurikulum ini dibagi lagi ke dalam beberapa sub pembahasan, yaitu pertama tujuan kurikulum, kedua konten/isi kurikulum dan ketiga organisasi isi kurikulum.
Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan dalam perencanaan kurikulum, yang darinya akan menghasilkan dokumen-dokumen instruksional kurikulum madrasah maupun pesantren sebelum dilaksanakan.
a. Tujuan Kurikulum
Data yang diperoleh dibatasi pada tujuan kurikulum tingkat satuan pendidikan (madrasah/sekolah). Tujuan kurikulum ini tiada lain adalah tujuan pendidikan di MTs Bait Qur‘any yang di tuangkan dalam visi madrasah, dirinci dalam misi madrasah yang dijabarkan capaian idealnya dalam tujuan madrasah.
Rinciannya antara lain sebagai berikut ini 1) Visi MTs Bait Qur‘any
―Mencetak kader ulama besar yang dapat memimpin umat hidup sesuai syariat Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur‘an Bait Qur‘any At Tafkir‖
Dari visi tersebut, ada 2 indikator keberhasilan yang dituju, antara lain:
pertama, ‖ ulama besar‖, yaitu mencetak calon ulama besar yang hafal Al Qur‘an. Kedua, ―syariat‖ berarti mampu menghukumi fakta dan mengkaitkan fakta dengan hukum syara dan siap berdakwah lisan dan tulisan.
62 2) Misi MTs Bait Qur‘any
Menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada mutu lulusan baik secara keilmuan, maupun secara moral dan sosial sehingga mampu menyiapkan dan mengembangkan ulama besar yang hafal Qur‘an dan mampu menguasai sains dan teknologi. Sedangkan misi dari penyelenggaran pembelajaran dan pendidikan di MTs Bait Qur‘any terurai sebagai berikut a) Membekali santri dengan kemampuan menguasai tsaqofah Islam b) Membekali santri dengan kemampuan menguasai sains dan teknologi c) Membantu santri mengembangkan seluruh potensi yang ada agar menjadi
santri yang memiliki kemandirian dan profesionalitas.
3) Tujuan yang diharapkan dari penyelenggaraan di MTs Bait Qur‘any Ciputat adalah:
a) Meningkatkan persentasi kelulusan Ujian Nasional b) Meningkatkan angka persentase juz hafalan siswa c) Meningkataan kemampuan berfikir ilmiah d) Meningkatkan kemampuan siswa berdakwah
e) Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat melalui program mengajar siswa TK bagi yang sudah juz 30, berkhotbah di lingkungan sekitar.
MTs Bait Qur‘any merupakan sub sistem dari pondok pesantren Bait Qur‘any. Visi dan misi ponpes sama dengan Madrasah, dan juga kepengurusannya sama. Oleh sebab itu kurikulum madrsah adalah sebagai pendukung kurikulum pondok pesantren Bait Qur‘any.
Berdasarkan temuan lapangan dan paparan di atas, dapat diambil pengertian bahwa visi misi pesantren –madrasah Bait Qur‘any terutama adalah penekanan hafalan Alquran dan hadits juga pada pembinaan ilmu pengetahuan agama, pembinaan karakter akhlaq mulia dan mendukung penyerapan materi pelajaran umum di madrasah. Materi-materi umum yang diberikan secara lengkap di madrasah pada jam yg ditentukan pada hari belajar.
Dapat disimpulkan bahwa integrasi tujuan kurikulum madrasah dan pesantren di Bait Qurany terletak pada tujuan kurikulum pesantren mencetak ulama besar penghafal al Qur‘an, dimana kurikulum madrasah lebih besifat umum yaitu membentuk insan yang berkualitas tinggi dalam iptek berhiaskan kepribadian yang religius dan humanis. Sedangkan tujuan kurikulum pesantren mengembangkan indikator hafiz Qur‘an dan memiliki kepribadian sesuai syariat yaitu dengan menjabarkannya dalam redaksi indikator yang lebih teknis, yaitu mampu menghafal dan memahami Al quran serta mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan benar sesuai Al-Qur‘an dan As-Sunnah, serta mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan Islam ke depan dengan dilandasi akhlak mulia, beradab kepada Allah, Rasul-Nya, orang tua, sesama manusia dan pada lingkungan sekitarnya.
Dari pesantren tahfizul Qur‘an Bait qurany ini juga lahirnya para hafiz/h qur‘an yang sangat jelas menunjukkan bahwa Alqur‘an benar-benar terpelihara/mukjizat.
.
َنوُظِفاََلح ُوَل اَّنِإَو َرْكِّذلا اَنْلَّزَ ن ُنَْنَ اَّن
إ63
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr:9)
b. Organisasi Isi Kurikulum
Pengorganisasian isi kurikulum merupakan bagian yang sangat penting dalam perencanaan kurikulum, di samping bagian-bagian yang lainnya.
Pengorganisasian isi kurikulum dikembangkan dari standarisasi kurikulum nasional dan penjabaran visi madrasah. Kemudian isi kurikulum di pesantren Bait Qurany disusun berdasarkan visi misi pesantren.
Dalam mengamati pengorganisasian isi kurikulum, dapat kita lihat pada struktur kurikulum yang ada di pesantren yang didalamnya penekanan pada materi tahfiz Qur‘an. Materi-materi pelajaran umum dan agama yang diberikan di madrasah juga diberikan di pesantren. Agar tidak terjadi kesamaan dan penumpukan materi, maka materi umum di madrasah diberikan juga dalam bentuk belajar terjadwal di pesantren dan materi PAI (Pendidikan Agama Islam) madrasah diberikan dalam bentuk pembelajaran kitab-kitab kuning di pesantren.
Konten/isi kurikulum yang didesain di pesantren merupakan struktur khusus yang disusun untuk memberikan pelayanan yang maksimal terhadap perkembangan kompetensi yang dimiliki santri agar santri yang rata-rata berkemampuan tinggi dapat ditumbuhkembangkan secara benar dan tepat ke arah penguasaan khususnya Al Qur‘an dan juga IMTAQ dan IPTEK secara seimbang.
Struktur isi kurikulum pesantren-MTs meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai dengan Kelas IX.
Berdasarkan dokumen kurikulum Bait Qur‘any maka pengorganisasian kurikulum sebagai berikut: (Kurikulum Bait Qur'any, 2020):
1) Konsep Dasar Kurikulum
Konsep dasar kurikulum lembaga pendidikan Bait Qur‘any tercantum dalam desain kelembagaan Bait Qur‘any. Dasar kurikulum yang digunakan oleh Lembaga Bait Qur‘any yang termasuk di dalamnya adalah Lembaga Pendidikan Jenjang MTs yaitu menggunakan dasar-dasar kurikulum, yang berupa Al-Qur‘an wa Sunnah serta Psikologi Islam. Psikologi yang digunakan meliputi :
a) Psikologi Islam yang berdasarkan al-Qur‘an dan hadits b) Fase perkembangan berdasarkan Al-Qur‘an dan sunnah
c) Capaian setiap jenjang berdasarkan pada fase perkembangan Islam menurut Al-Qur‘an dan sunnah.
2) Kurikulum dirancang khusus dengan target pembelajaran pada tingkat MTs di Pondok Pesantren Tahfizh al Qur‘an Bait Qur‘any sebagai berikut :
a) Proses pembelajaran di MTs di kelas 1 (satu) atau kelas 7 (tujuh) mempersiapkan anak baligh,
b) Proses pembelajaran di MTs di kelas 2 (dua) atau 8 (delapan) dan kelas 3 (tiga) atau 9 (sembilan) dipandang sebagai manusia baligh yang memiliki taklif pada Allah meiputi tanggung jawab pada diri sendiri, Allah dan rasul, orang tua, suami atau istri, anak dan anggota masyarakat pada tahap awal.
c) Tidak memandang peserta didik MTs sebagai anak – anak atau pelajar yang hanya punya tanggungjawab belajar, tetapi memandang mereka
64
sebagai manusia baligh yang punya tanggung jawab dakwah yang memerlukan ilmu untuk menjalankan tanggung jawab mereka tersebut pada tahap awal.
3) Pendekatan proses pendidikan dan pengajaran yang digunakan di MTs Bait Qur‘any yaitu menggunakan pendekatan :
a) Aqliyah Nafsiyah, yang merupakan pendekatan utama di Lembaga Pendidikan Bait Qur‘any
b) Konstruktivisme (Saintific) c) Kooperatif
d) CTL (Kontekstual Learning) : berbicara dengan hal yang terdekat dengan anak.
4) Metode pengajaran menggunakan 2 (dua) dasar yaitu : a) Tsaqofah Islam, yang terbagi menjadi 2 (dua), yaitu :
b) Pemikiran, menggunakan pendekatan Aqliyah Nafsiyah dan konstruktivisme. Untuk wilayah konstruktivisme bisa menggunakan metode outing class, demonstrasi, inquiry (penemuan), studi kasus, eksperimen, studi banding. Untuk materi pemikiran ada 2 (dua) pola, yaitu diawali dengan ayat kauniyah, diawali dengan nash. Pemikiran juga menggunakan metode karya ilmiah
c) Ilmu alat, metode yang digunakan dengan jembatan keledai, lagu, tepuk, peta konsep, presentasi, video time, metode bait qur‘any (jarimatika), kinestetik (gerak).
d) Sains.
Untuk Sains menggunakan pendekatan aqliyah nafsiyah, konstruktivisme dan pendekatan fikih (khusus untuk pendekatan pembelajaran matematika). Untuk wilayah konstruktivisme bisa menggunakan metode outing class, demonstrasi, inquiry (penemuan), studi kasus, eksperimen, studi banding. Sains menggunakan juga metode karya ilmiah.
5) Materi pembelajaran dibagi diantaranya adalah :
a) Pemikiran : Tahfidz Qur‘an, Tahfidz Hadist (Fikih dan Akhlak), Tarjamah, al-Qur‘an Hadist, Aqidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, Pkn, IPS.
(TK: Qur‘an, Hadist, Tafsir, Asbabun Nuzul, Siroh, Tarjamah,
b) Ilmu Alat : B. Arab, B. Inggris, B. Indonesia, Mustolahul Hadist, Nahwu, Shorof, Ushul Fikih,
c) Sains : Matematika, IPA
Materi pembelajaran yang diberikan pada tingkat MTs di Pondok Pesantren Tahfizh al Qur‘an Bait Qur‘any merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Semua santri berhak dan wajib mengikuti seluruh mata pelajaran sesuai dengan yang telah dirancang.
Untuk kitab-kitab yang digunakan dalam pembelajaran santri di MTs Pondok Pesantren Tahfizh al Qur‘an Bait Qur‘any adalah sebagai berikut
:
No Mata Pelajaran Buku
1 Tahfizh al Qur'an Metode Jarimatika Bait Qur'any
2 Terjemah Ibnu katsir
3 Tafsir al Qur'an Ibnu katsir
65
4 Aqidah Akhlak Riyadus sholihin
5 Hadist dan Tahfizh Hadist Hadist arbain Umdatul ahkam
6 Figh Bulughul maram
7 Bahasa Arab Baynayadaik, Mustaqili, Nahwu wadih
8 Sejarah Kebudayaan Islam Siroh nabawi
9 IPA Penerbit Erlangga
10 Matematika Penerbit Erlangga
11 Bahasa Indonesia Penerbit Erlangga
12 Bahasa Inggris Penerbit Erlangga
13 PPKN Penerbit Erlangga
14 Seni Budaya Penerbit Erlangga
Tabel 4.3 Kitab-Kitab yang digunakan MTs Bait Qur‘any Sumber
(Kurikulum Bait Qur'any, 2020)
Kegiatan belajar mengajar di MTs Pondok Pesantren Tahfizh al Qur‘an Bait Qur‘any mengacu pada kalender akademik yang berlaku pada tahun berjalan. Hanya berbeda pada saat Bulan Ramadhan. Saat Ramadhan maka kegiatan santri fokus pada dauroh al Qur‘an dan percepatan hafalan 30 juz.
Selain itu sebagai media bagi santri untuk mengamalkan ilmunya menjadi imam sholat, khususnya bagi santri putra untuk menjadi imam sholat taraweh dan sholat subuh di masjid-masjid dan mushola di sekitar pondok. Selain menjadi imam sholat juga menjadi penceramah (Kultum) setelah taraweh dan juga ba‘da subuh.
c. Prinsip-Prinsip Perencanaan
Integrasi kurikulum madrasah dan pesantren di MTs Bait Qur‘any dilakukan oleh konsultan pendidikan serta tim dari MTs Bait Qur‘any bidang kurikulum. Berikut wawancara ibu Nunung Isnaini kepala madrasah mengenai pengintegrasian kurikulum:
“Yang mengintegrasikan kurikulum pondok dan sekolah adalah konsultan pendidikan bersama dengan bidang kurikulum. Cara mengintegrasikan kurikulum ada di dalam buku Born to be Star. Supervisi dilakukan oleh kepala sekolah dengan menggunakan form standar yang ada. Evaluasi dilakukan melalui rapat rutin dengan konsultan. Konsultan secara rutin memberikan bimbingan/training bulanan dan juga training awal tahun ajaran” (Isnaini, 2020)
Berdasarkan wawancara di atas pesantren memang disusun untuk mendukung kurikulum madrasah-pesantren. Tetapi teknis penyusunannya ataupun bagaimana rancangannya dilakukan oleh konsultan pendidikan dan tim bidang pendidikan Bait Qur‘any.
Jadi, adanya kurikulum pesantren adalah sebagai pendukung dari kurikulum madrasah. Dengan kata lain isi kurikulum pesantren ini menjadi salah satu upaya dalam mewujudkan tujuan kurikulum madrasah dan secara otomatis juga mendukung visi dan misi madrasah-pesantren.
Seperti yang dinyatakan ibu kepala madrasah mengenai perencanaan
66
kurikulum dilakukan oleh konsultan dan bidang kurikulum dengan mengacu pada prinsip-prinsip dan perencanaan pembelajaran madrasah berlandaskan Tauhid (teosentris) yanga ada di buku Born to be Star karya Dr. Nurul Hikmah, M.A. Di dalam buku tersebut diperuntukkan untuk PAUD namun prinsipnya sama untuk jenjang pendidikan madrasah Berikut prinsip-prinsip dan perencanaan pembelajaran madrasah berlandaskan Tauhid (teosentris):
1) Berorientasi Pada Fitrah Anak
Al-Quran memberi isyarat bahwa anak dikaruniai potensi bertauhid yang dinamis dan tidak dapat hilang dari dalam dirinya. Al Maragi dalam Hikmah (2018) mengatakan bahwa fitrah mengandung arti kecenderengan untuk menerima kebenaran. Upaya stimulan potensi Tauhid diisyaratkan Al-Qur‘an sudah dimulai sebelum pembuahan. Ini dapat dilihat dari Firman Allah :
١٣ - ِءۤاَعُّدلا ُعْيَِسْ َكَّنِا ًةَبِّيَط ًةَّيِّرُذ َكْنُدَّل ْنِم ِْلِ ْبَى ِّبَر َلاَق ُوَّبَر اَّيِرَكَز اَعَد َكِلاَنُى
―Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, ―Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.‖
Ayat di atas menjelaskan bahwa sebelum kelahiran, sejatinya lingkungan sudah berupaya mengoptimalkan potensi ketauhidan dengan do‘a, dan sejatinya pada fase-fase berikutnya terus mengarahkan tugas-tugas perkembangannya sesuai dengan fitrah tauhid (Hikmah N. , 2018, pp. 185-186).
2) Dirancang Berdasarkan Fase Perkembangannya
Dalam hadist Nabi menunjukkan wajibnya memerintahkan anak-anak untuk melakukan shalat jika telah sampai umurnya tujuh tahun. Ini menjadi dalil atau alasan bahwa umur tujuh tahun itu telah memadai mengarahkan khithab. Adapun memerintahkan anak mumayyiz untuk mengerjakan shalat, itu bukan perintah dari sya‟i, justru dari wali anak. Dengan demikian sebagai upaya untuk membiasakan anak terhadap taklif. Konsep tamyiz dan baligh dijadikan dasar desain kurikulum (Hikmah N. , 2018, p. 190).
َع ْن
“Dari Amr Bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat sedang mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka karena tinggal sholat sedang mereka berusia 10 tahun dan pisahkan antara mereka di tempat tidurnya."
3) Berorientasi Pada Tugas-tugas Perkembangannya.
Prinsip-prinsip perencanaan berorientasi pada tugas-tugas perkembangan anak, meliputi (Hikmah N. , 2018, p. 192):
a) Perkembangan Jasmani
67
Pemenuhan terhadap kebutuhan jasmani dapat membantu pertumbuhan jasmani anak (motorik). Dalam pendidikan selain memperhatikann kebutuhan jasmani juga perlu memperhatikan perkembangan dari jasmani itu sendiri.
b) Perkembangan Sosial Emosional
Perkembangan sosial yaitu kemampuan anak untuk beribadah dan menjadi khalifah Allah di muka bumi. Pada saat ini, perkembangan sosial dimulai dari sifat egosentrik, individual ke arah interaktif, komunal. Perkembangan sosial meliputi dua aspek yaitu kompetensi sosial dan tanggung jawab sosial.
c) Perkembangan Keagamaan
Islam menuruh umatnya beragama (berislam) secara menyeluruh (QS. Al Baqarah 2:208). Perkembangan agama pada anak-anak (3-6 tahun) melalui beberapa tahapan yaitu: tingkat dongeng dan tingkat kenyataan. Adapun sifat-sifat agama pada anak memiliki karakteristik yaitu: unreflective, egosentris, anthromorphis, verbal dan rituals, imitatif, rasa heran
d) Perkembangan Moral
Kepribadian anak terbentuk dengan pemikiran bahwa kepribadian baik yaitu kepribadian yang mendapatkan pujian atau hadiah dan kepribadian buruk yaitu kepribadian yang membuahkan hukuman. Dalam Islamini dikembangkan dengan pemahaman aqidah sejak dini untuk membangun kepribadian anakPerkembangan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran anak berkembang dan berfungsi sehingga dapat berpikir tentang dari mana asal manusia, alam dan kehidupan, bagaimana cara kehidupan ketiganya dan hendak kemana akhir dari kehidupan ketiganya
e) Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran anak berkembang dan berfungsi sehingga dapat berpikir tentang dari mana asal manusia, alam dan kehidupan, bagaimana cara kehidupan ketiganya dan hendak kemana akhir dari kehidupan ketiganya.
4) Berorientasi Pada Hak-hak Anak Dalam Islam
Pendidikan sejatinya memperhatikan hak-hak anak dalam menyelenggarakan pendidikan. Anak dalam Al-Quran memiliki beberapa hak yang wajib dipenuhi keluarga.
1. Hak untuk beriman kepada Allah.
Hak ini terdapat pada QS Luqman ayat 31 yang menjelaskan larangan seekaligus mengandung pelajaran wujud dan keesaan Allah.
٣١ - ٌمْيِظَع ٌمْلُظَل َكْرِّشلا َّنِا ِوَّٰللاِب ْكِرْشُت َل ََُِّ بَٰ ي ُوُظِعَي َوُىَو وِنْب ِل ُنَٰمْقُل َلاَق ْذِاَو
“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”(QS. Luqman 34:13)
2. Hak untuk mengetahui aturan Allah.
68
ْنِم َكِلَٰذ َّنِا َكَباَصَا اَم ىَٰلَع ِْبِْصاَو ِرَكْنُمْلا ِنَع َوْناَو ِفْوُرْعَمْلاِب ْرُمْأَو َةوَٰلَّصلا ِمِقَا ََُِّ بَٰ ي ٣١ - ِرْوُمُْلا ِمْزَع
“Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. .”(QS. Luqman 34:17)
Nasehat Luqman berkaitan dengan amal-amal shaleh yang puncaknya adalah shalat, serta amal-amal kebajikan yang mencerminkan amr ma‘ruf hahi munkar. Sejatinya diajarakan pada anak setelah ketauhidan yaitu aturan-aturan
3. Hak anak mendapatkan kasih sayang.
Melalui kata bunayya yang artinya pemenuhan hak pada anak hendaknya didasari oleh kasih sayang, menyenangkan dan menggembirakan terhadap anak.
4. Hak anak mendapatkan cinta yang berkualitas.
Sejatinya memberi rasa sayang pada anak adalah sayang yang berkualitas, yaitu rasa sayang yang dapat menghantarkan anak menjadi orang yang membahagiakan dan pemimpin.
5. Hak mendapatkan pendidikan yang berorientasi pada hak-hak anak yang telah ditetapkan oleh Allah .
6. Hak mendapatkan rasa aman dari tindak kekerasan fisik maupun psikis.
5) Berorientasi Pada Tingkat Pemikiran Anak
Sejatinya, optimalisasi potensi berpikir anak mempertimbangkan perkembangan kognitifnya. Perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran anak berkembang dan berfungsi sehingga dapat berpikir tentang dari mana asal manusia, alam dan kehidupan, bagaimana cara kehidupan ketiganya dan hendak kemana akhir dari kehidupan ketiganya (Hikmah N. , 2018, p. 227)
6) Pengetahuan Anak dibangun Secara Aktif
Belajar aktif merupakan perkembangan teori learning by doing (1059-1952). Dewey menrepakan prinsip-prinsip leraning by doing bahwa siswa perlu terlibat dalam proses belajar secara spontan. Melalui model pembelajaran aktif, siswa diharapkan akan mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang mereka miliki.
7) Al-Quran dan Alam Menjadi Sumber Belajar
Anak memiliki potensi bertauhid, potensi intelektual, potensi emosi dan sosial dan potensi jasmani. Potensi yang dimiliki anak ini akan tetap menjadi potensi, jika tidak dioptimalkan. Objek belajar yang diisyaratkan oleh Al-quran yang dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak yaitu Al-Qur‘an surat An-bisa : 82, Muhammad: 24, AL-Mudatsir: 18 dan An Nisa: 78, dan ayat kauniyah yaitu Al-Baqarah 164.
8) Pendidikan dalam Aktifitas Sehari-Hari
69
Tamyiz merupakan fase dimana anak-anak telah mampu memahami aturan dari Allah dan Rasul, merepakan dan menjadikan solusi dalam hidup.
Tamyiz dimulai sejak anak tahu tangan kanan dan kiri walaupun ada yang berpendapat di usia 7 tahun. Pendidikan sejatinya dapat menghantarkan anak mumayyiz, dan mempersiapkan anak untuk masuk usia baligh.
Pendidikan dalam Islam mencakup semua aktifitas sehari-hari. Ini dapat juga disebut dengan pendidikan yang menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) berkembang dari faham kontruktivisme
9) Integritas Sekolah dan Keluarga
Orangtua adalah penanggungjawab pendidikan yang pertama dan utama. Menurut Ki Hajar Dewantara dalam Hikmah, pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara keluarga, sekolah dan masyarakat.
Prinsip-prinsip menjadi dasar konsultan dan tim akademik merancang integrasi kurikulum. Konten kurikulum terkait agama menggunakan pondok pesantren, sedangkan pengetahuan umum menggunakan materi dari sekolah SMP di bawah Kemendikbud.