• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI MANAJEMEN INTEGRASI KURIKULUM MADRASAH DAN PESANTREN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IMPLEMENTASI MANAJEMEN INTEGRASI KURIKULUM MADRASAH DAN PESANTREN"

Copied!
177
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI MANAJEMEN INTEGRASI KURIKULUM MADRASAH DAN PESANTREN (

Studi Kasus MTs Bait Qur’any At Tafkir, Tangerang Selatan)

Tesis

Diajukan kepada Magister Manajemen Pendidikan Islam untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Magister Pendidikan

Disusun oleh Aslamiah 21180181000019

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 2020 M/1441 H

(2)

i

(3)

ii

(4)

iii

LEMBAR PENGESAHAN SEMINAR HASIL TESIS

Tesis dengan judul ―

Implementasi Manajemen Integrasi Kurikulum Madrasah dan Pesantren (MTs Bait Qur’any At-Tafkir Tangerang Selatan)” yang ditulis oleh Aslamiah dengan NIM 21180181000019, telah diujikan dalam Seminar Hasil Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Senin, 10 Agustus 2020. Tesis ini telah diperbaiki sesuai saran-saran dari penguji sebagai salah satu syarat mengikuti Ujian Promosi Tesis.

Jakarta, 22 Agustus 2020

Tanggal Tanda Tangan

Penguji I

Dr. Didi Suprijadi, MM

NIP. 195609121981031007 22 Agustus 2020

Penguji II Dr. Fauzan, MA

NIP. 197611072007011013 24 Agustus 2020

(5)
(6)

v DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN KARYA SENDIRI ... i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PENGESAHAN SEMINAR HASIL TESIS... iii

PEDOMAN TRANSLITERASI... xiii

KATA PENGANTAR ... xv

ABSTRAK ... x

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Permasalahan ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

D. Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 8

E. Sistematika Penulisan ... 10

BAB II KAJIAN TEORI A. Manajemen Kurikulum ... 11

1. Pengertian Manajemen Kurikulum ... 11

2. Fungsi Manajemen Kurikulum ... 14

B. Kurikulum Madrasah dan Pesantren ... 22

1. Kurikulum Madrasah ... 22

2. Kurikulum Pesantren ... 27

C. Integrasi Kurikulum ... 35

1. Pengertian Integrasi Kurikulum ... 35

2. Bentuk-bentuk Kurikulum Integratif ... 35

3. Integrasi Pesantren ke dalam Sistem Madrasah ... 41

4. Model-model Integrasi Ilmu dan Agama ... 43

D. Kerangka Konseptual ... 45

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat Penelitian ... 46

B. Metode Penelitian ... 46

C. Teknik Pengumpulan Data ... 46

D. Kisi-kisi Instrumen ... 48

E. Teknik Analisis Data ... 51

F. Uji Keabsahan Data ... 52

(7)

vi

BAB IV PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum MTs Bait Qur‘any At Tafkir... 54

1. Sejarah Berdirinya MTs Bait Qur‘any At Tafkir ... 54

2. Visi dan Misi ... 55

3. Struktur Organisasi ... 56

4. Tenaga Pendidik dan kependidikan ... 58

5. Santri ... 59

6. Prestasi Santri ... 59

B. Paparan Data dan Hasil Penelitian Kasus MTs Bait Qur‘any ... 60

1. Perencanaan Kurikukum Integrasi Madrasah Pesantren ... 61

2. Pelaksanaan Kurikulum Integrasi Madrasah Pesantren ... 69

3. Evaluasi Kurikulum Integrasi Madrasah Pesantren ... 81

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Perencanaan Kurikulum Integrasi Madrasah Pesantren ... 86

1. Tujuan Kurikulum ... 86

2. Organisasi Kurikulum ... 87

B. Pelaksanaan Manajemen Kurikulum Integrasi ... 89

1. Program Pelaksanaan Kurikulum ... 90

2. Supervisi Pelaksanaan Kurikulum ... 91

C. Evaluasi Manajemen Kurikulum Integrasi ... 93

1. Evaluasi Konteks ... 93

2. Evaluasi Input ... 94

3. Evaluasi Proses ... 95

4. Evaluasi Produk ... 95

D. Kendala Implementasi Manajemen Integrasi Kurikulum ... 96

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan ... 97

B. Saran ... 97

DAFTAR PUSTAKA ... 99

LAMPIRAN ... 104

(8)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Struktur Kurikulum MTs K13 ... 26

Tabel 2.2 Model Integrasi Forgarty ... 41

Tabel 3.1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian ... 49

Tabel 3.2 Pedoman Wawancara ... 50

Tabel 3.3 List Dokumen ... 51

Tabel 4.1 Daftar Tenaga Pendidik dan Kependidikan ... 58

Tabel 4.2 Jumlah Santri Tahun Ajaran 2013-2020 ... 59

Tabel 4.3 Kitab-Kitab yang Digunakan Bait Qur‘any ... 65

Tabel 4.4 Agenda Kegiatan Semester Ganjil dan Genap ... 70

Tabel 4.5 Kegiatan Harian Santri Senin-Jumat ... 71

Tabel 4.6 Kegiatan Sabtu-Ahad. ... 72

Tabel 4.7 Kegiatan Insidentil... 72

Tabel 4.8 Desain Matsada ... 73

Tabel 4.9 Materi Mawa ... 74

Tabel 4.10 Jadwal Mawa ... 75

Tabel 4.11 Capaian Nilai Ujian Nasional ... 77

Tabel 4.12 Capaian Tahfidz Kelas VII ... 78

Tabel 4.13 Capaian Tahfidz Kelas VIII ... 79

Tabel 4.14 Capaian Tahfidz Kelas IX ... 80

(9)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Aktifitas Manajemen ... 11

Gambar 2.2 Klasifikasi dan Bentuk-bentuk Kurikulum ... 36

Gambar 2.3 Model Penggalan (Fregmented) ... 36

Gambar 2.4 Model Keterhubungan (Connected)... 36

Gambar 2.5 Model Sarang (Nested) ... 37

Gambar 2.6 Model Urutan/Rangkaian (Sequence) ... 38

Gambar 2.7 Model Bagian (Shared) ... 38

Gambar 2.8 Model Jaring Laba-laba (Webbed) ... 38

Gambar 2.9 Model Galur (Threaded) ... 39

Gambar 2.10 Model Keterpaduan (Integrated) ... 39

Gambar 2.11 Model Celupan (Immersed) ... 40

Gambar 2.12 Model Jaringan (Networked) ... 40

Gambar 2.13 Model Integrasi Pesantren ke Dalam Lembaga Pendidikan Formal ... 42

Gambar 2.14 Model Sistem Pendidikan Tinggi Integrated ... 43

Gambar 2.15 Kerangka Konseptual... 45

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pesantren ... 56

Gambar 4.2 Struktur Organisasi MTs Bait Qur‘any ... 57

Gambar 4.3 Kegiatan Santri ... 59

Gambar 4.4 Konvergensi MTs Bait Qur‘any dan Keluarga ... 76

Gambar 5.1 Model yang digunakan ... 90

(10)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Balasan Dari Tempat Penelitian ... 104

Lampiran 2 Pedoman Pengambilan Data ... 105

Lampiran 3 Transkrip Hasil Wawancara Kepala Madrasah ... 107

Lampiran 4 Transkrip Hasil Wawancara Orang Tua Siswa ... 109

Lampiran 5 Transkrip Hasil Wawancara Guru ... 110

Lampiran 6 Jadwal Pelajaran ... 111

Lampiran 7 Kegiatan Santri ... 112

Lampiran 8 Pendidikan Dan Pelatihan Guru ... 115

Lampiran 9 Daftar Nilai UN MTs ... 116

Lampiran 10 Capaian Tahfidz ... 118

Lampiran 11 Silabus ... 121

(11)

x ABSTRAK

Aslamiah, NIM 21180181000019: ―Implementasi Manajemen Integrasi Kurikulum Madrasah dan Pesantren (MTs Bait Qur‘any At-Tafkir Tangerang Selatan)‖ Tesis Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tujuan penelitian ini adalah pertama mendeskripsikan bentuk perencanaan integrasi kurikulum madrasah pesantren. Kedua, mendeskripsikan bentuk pelaksanan integrasi kurikulum madrasah pesantren. Ketiga, mendeskripsikan bentuk evaluasi integrasi kurikulum madrasah pesantren. Keempat, mendeskripsikan kendala-kendala integrasi kurikulum madrasah pesantren MTs Bait Qur‘any At Tafkir Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus di MTs Bait Qur‘any At Tafkir Ciputat, Tangerang Selatan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis datanya menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, lalu penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian di MTs Bait Qur‘any At Tafkir adalah 1) Perencanaan integrasi kurikulum dilakukan dengan mengintegrasi tujuan kurikulum dan mengintegrasi pengorganisasian isi kurikulum dengan model integrasi fragmented model. 2) Pelaksanaan integrasi kurikulum dilakukan dengan mengintegrasi program pelaksanaan kurikulum dan mengintegrasikan supervise pelaksanaan kurikulum. 3) Evaluasi integrasi kurikulum dilakukan dengan mengevaluasi kurikulum yang meliputi evaluasi konteks, evaluasi input, evaluasi proses, dan evaluasi produk. 4) Kendala-kendala integrasi kurikulum madrasah dan pesantren tidak ada karena MTs Bait Qur‘any menggunakan program konvergensi MTs dan keluarga, keberhasilan sekolah mencapai target tercapai, guru merasakan kelebihan kurikulum terhadap santri, serta orang tua santri merasakan sesuai visi dan misi sekolah dan dampak positif ke santri.

Kata kunci: Implementasi Manajemen, Integrasi Kurikulum, Madrasah, Pesantren.

(12)

xi ABSTRAK

Aslamiah, NIM 21180181000019: ―Implementasi Manajemen Integrasi Kurikulum Madrasah dan Pesantren (MTs Bait Qur‘any At-Tafkir Tangerang Selatan)‖ Tesis Program Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

The purpose of this study is to first describe how to plan the integration of the pesantren madrasah curriculum. Second, describe how to implement the pesantren madrasah curriculum integration. Third, describe the way of assessing the integration of the pesantren madrasah curriculum. Fourth, describe the limitations of integrating the MTs Bait Qur'any At Tafkir Tangerang Selatan madrasah curriculum. This study used a qualitative approach with case study type research at MTs Bait Qur'any At Tafkir Ciputat, South Tangerang. Data collection was carried out through participatory observation, in- depth interviews, and documentation. Data analysis using data reduction techniques, data presentation, then drawing conclusions and verification. The results of the research in MTs Bait Qur'any At Tafkir are 1) The planning of the integration of the curriculum is carried out by integrating the objectives of the curriculum and integrating the organization of the content of the curriculum with the model of fragmented integration. 2) The implementation of curricular integration is carried out by integrating curricular implementation programs and integrating the supervision of curricular implementation. 3) The evaluation of the integration of the curriculum is carried out by evaluating the curriculum that includes context evaluation, entry evaluation, process evaluation and product evaluation. 4) There are no obstacles to the integration of the curriculum of the madrasah and Islamic boarding schools because MTs Bait Qur'any uses the family convergence program and MTs, the success of the school reaches the goal, the teacher feels the advantages of the plan of studies against the students and the parents of the students feel that you agree with the vision and mission of the school and the positive impact for the students.

Keywords: Management Implementation, Curriculum Integration, Madrasah, Islamic Boarding School.

(13)

xii

صخلم

ةيملسا :ليجستلا مقر 3228128211112

٩

ةلماكتلما ةرادلإا ذيفنت جهنلم

و ةسردلما دهعلما

ةسردلما(

)نايرنجات بونج ركفتلا نىأرقلا تيب ةيوناثلا ثحبلا اذى فديح ًلوأ نىعت

دهعلما و ةيملاسلإا ةسردلما جىانم جمدل طيطختلا لكش فصو اًيناث .

،

فصو ةيملاسلإا ةسردلما جهنم جمد ذيفنت لكش اًثلاث .

ةيملاسلإا ةسردلما جىانم جمد يموقت لكش فِص ، اًعبار .

،

فصو ةيملاسلإا ةيساردلا جىانلما لماكت لماكت ىلع ةضورفلما دويقلا في

بونج ركفتلا نىأرقلا تيب ةيوناثلا ةسردلما

زنايرنجات ثحبلا قرط ةساردلا هذى مدختست في ةلالحا ةسارد ثبح عون عم ,يعونلا

نىأرقلا تيب ةيوناثلا ةسردلما

,زنايرنجات بونج ركفتلا قيثوتلاو ةقمعتلما تلاباقلماو ةيكراشتلا ةظحلالما للاخ نم تانايبلا عجم تم

., ليلتح تاينقت

جئاتنلا صلاختسا ثم تانايبلا ضرعو تانايبلا ليلقت تاينقت يى ةمدختسلما تانايبلا .

يى ثحبلا اذى جئاتن 2

)

فادىأ جمد للاخ نم جىانلما لماكت طيطتخ ذيفنت متي جهنلما

جمدو ا ىوتمح أزلمجا لماكتلا جذونم عم مظنلما جهنلم

3 ) جىانلما ذيفنت ىلع فارشلإا جمدو جىانلما ذيفنت جمارب جمد للاخ نم جىانلما لماكت ذيفنت متي )

٣

مييقت

لماكتلا ةيلمعلا مييقتو ، تلاخدلما مييقتو ، قايسلا مييقت لمشي يذلا جهنلما مييقت للاخ نم متي يسارد جاهنم

جتنلما مييقتو )

٤

نود لوتح قئاوع دجوت ل عم ةيسردلما جىانلما لماكت

نلأ ةيملاسلإا ةيلخادلا سرادلما ةسردلما

نىأرقلا تيب ةيوناثلا تامادختسا

جمانرب براقتلا ملعلما رعشيو ، فدلها قيقتح في ةسردلما حانج ققتح ، يرسلأا

عم ىشامتي ونأ بلاطلا رومأ ءايلوأ رعشيو ، بلاطلا دض جهنلما ايازبم ةسردلما ةلاسر ةيؤر

.

ةيحاتفلما تاملكلا :

ةيملاسلإا ةسردلما ، ةسردلما ، جىانلما لماكت ، ةرادلإا ذيفنت

دهعلما ,

(14)

xiii

PEDOMAN TRANSLITERASI

Transliterasi Arab-Latin yang digunakan dalam tesis ini berpedoman pada buku ―Pedoman Penullisan Kaya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi)‖ yang diterbitkan oleh Tim CeQDA (Center For Quality Development dan Assurance) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007.

A. Konsonan

ARAB NAMA LATIN KETERANGAN

ا Alif - Tidak dilambangkan

ب Ba‘ B Be

ت Ta‘ T Te

ث Tsa‘ Ts Te dan es

ج Jim J Je

ح Ḥa‘ Ḥ Ha dengan titik di bawah

خ Kha‘ Kh Ka dan Ha

د Dal D De

ذ Dzal Dz De dan zet

ر Ra‘ R Er

ز Zai Z Zet

س Sin S Es

ش Syin Sy Es dan ye

ص Ṣad Ṣ Es dengan titik di bawah

ض Ḍad Ḍ De dengan titik di bawah

ط Ṭa Ṭ Te dengan titik di bawah

ظ Ẓa Ẓ Zet dengan titik di bawah

ع ‗Ain ‗ Koma terbalik

غ Ghain Gh Ge dan ha

ف Fa F Fa

ق Qaf Q Qi

ك Kaf K Ka

ل Lam L El

م Mim M Em

ن Nun N En

و Wau W We

(15)

xiv

ه Ha‘ H Ha

ء Hamzah ‗ Apstrof

ي Ya‘ Y Ye

B. Vocal

Vokal dalam bahasa Arab, terdiri dari vokal tunggal, vocal rangkap, dan vocal panjang. Ketiganya adalah sebagai berikut:

1. Vokal Tunggal

Tanda Vokal Nama Latin Keterangan

َ ا Fatḥaḥ A A

َ ا Kasraḥ I I

َ ا Ḍammaḥ U U

Contoh:

رصن : Naṣaara dan بتك : Kataba

2. Vokal rangkap

Tanda Vokal Nama Latin Keterangan

ي ى Fatḥaḥ dan Ya‘sakun Ai A dan I

و ى Fatḥaḥ dan Wau sakun Au A dan U

Contoh:

سيل : Laisa لوح : ḥaula

3. Vokal panjang

Tanda Vokal Nama Latin Keterangan

ا ب Fatḥaḥ dan Ba Ā A dengan garis di atas ي ب Kasrih dan Ba Ī I dengan garis di atas

و ب Ḍammah dan Ba Ȗ U dengan garis di atas

(16)

xv

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan tesis ini dengan judul ―Implementasi Manajemen Integrasi Kurikulum Madrasah dan Pesantren (Studi Kasus MTs Bait Qur‘any At Tafkir, Tangerang Selatan)‖

guna memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Shalawat beriring salam senantiasa penulis haturkan keharibaan sang qudwah Rasulullah SAW, serta para sahabat, tabi‘in dan umatnya yang senantiasa berjalan dalam syariat nya.

Penulis menyadari kekurangan yang ada, sehingga dalam penyelesaian tesis ini, tentunya banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak yang memberikan dukungan baik moril maupun spiritual. Dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Prof. Dr. Amany Burhanuddin Lubis, Lc, MA selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dr. Sururin, M.Ag selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3. Dr. Jejen Musfah, MA selaku Ketua Program Magister Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan motivasi, semangat, dan nasehat tanpa lelah kepada penulis.

4. Prof. Dr. Armai Arif, MA selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan pada penulis, dan memberikan banyak ilmu serta dukungan dalam proses bimbingan.

5. Seluruh Dosen Program Magister Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan banyak ilmu pada penulis.

6. Muslikh Amrullah, M.Pd dan seluruh karyawan Program Magister Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah banyak membantu dan memberikan layanan akademik dengan sangat baik.

7. Tomy Syafrizal Tinambunan, S.Pd suami tercinta yang senantiasa setia mendampingi, memberi motivasi dan keyakinan bahwa penulis mampu menyelesaikan S2.

8. Ayahanda Almarhum H. Zainan Thaib dan Ibunda tercinta Almh. Hj. Zuriah Jalil atas segala doa, kasih sayang dan dukungan serta pengorbanannya pada penulis.

9. Mhd. Sultan Aufa T, dan Tahta Mhd. Rais T, serta Mhd. Azreen Phrygian T, anak-anak penulis yang tersayang, penyejuk hati dan penyemangat.

10. Ustadz Dr. Nurul Habiburrahmanuddin, MA selaku Pengasuh Pondok Pesantren dan Ustadzah Dr. Nurul Hikmah, MA selaku Direktur Lembaga Pendidikan Bait Qur‘any 11. Ibu Nunung Isnaini, S.Si, M.Kom selaku Kepala Sekolah beserta guru yang telah

memberikan bantuan dan meluangkan waktu untuk penulis mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan penulis dalam penelitian tesis ini.

(17)

xvi

12. Keluarga besar mahasiswa kelas Manajemen Pendidikan Islam (MPI) A yang penuh dengan aura energi positifnya selama masa perkuliahan untuk kegiatan belajar dan makan-makannya dan penyemangat dalam penyelesaian tesis.

13. Semua pihak yang membantu dalam menyelesaikan tesis ini yang tidak dapat ditulis satu persatu oleh penulis.

Penulis berharap semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan ketulusan hati dengan keberkahan dan keridhaan dari Allah SWT. Akhir kata penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan baik isi maupun susunannya. Semoga tesis ini dapat bermanfaat tidak hanya bagi penulis juga bagi para pembaca. Aamiin.

Jakarta, 5 Agustus 2020 Penulis,

Aslamiah, ST

(18)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berkembang lebih awal dibandingkan dengan lembaga pendidikan formal yang dikenalkan ketika masa kolonialisme. Pesantren tumbuh dan berkembang sesuai dinamika sosiokultural yang mengitari masyarakat. Hingga saat ini, pesantren masih eksis di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup pesat dengan adaptasi sesuai tuntunan zaman. Sebab itu, sistem pendidikan pesantren diakui sebagai indigenous (asli) institusi pendidikan Indonesia yang berbeda dengan pola pendidikan di negera manapun (Madjid, 2007, p. 59).

Menurut Nurcholish Madjid dalam Tamin (2018), perubahan pada setiap zaman dan institusi pendidikan merupakan sebuah keniscayaan, dalam kaitanya dengan pengembangan kurikulum dan pengembangan kelembagaan pesantren, beberapa respon terhadap perubahan yang diutarakan oleh Nurcholis Madjid bisa dikemukakan sebagai berikut: (Tamin, 2018, p. 10): Pertama, kelompok pertama yang merupakan kelompok terbesar atau mayoritas dalam merespon perubahan kelembagaan dan transformasi pesantren, yaitu kelompok yang menyadari dirinya apakah bernilai baik ataukah bernilai kurang baik. Sikap seperti ini menempatkan perubahan zaman sama sekali dianggap tidak berpengaruh terhadap tatanan kelembagaan pesantrenya. Sikap apriori yang seperti ini dimiliki banyak pemimpin pesantren dalam sekala yang sangat umum.

Kedua, kelompok yang menurut anggapan seseorang yang fanatik terhadap model dan situasi tertentu. Mereka dengan mudah begitu saja menilai bahwa pesantren dengan segala aspeknya adalah positif dan mutlak untuk dipertahankan. Hal ini menyatakan bahwa pandangan mayoritas pemimpin dan unsur-unsur didalamnya menampilkan sikap yang eksklusif dan cenderung konservatif. Ketiga, kelompok yang ketiga adalah kelompok yang merespon perubahan dengan sikap yang cenderung rendah diri, dan menumbuhkan sikap dangkal dalam mengejar ketertinggalan zamannya, sehingga akhirnya merusak diri sendiri dan identitas keseluruhanya.

Keempat, pesantren yang sepenuhnya menyadari dirinya sendiri baik dalam hal-hal yang berkaitan dengan segi-segi positifnya dan yang berkaitan dengan segi-segi negatifnya, sanggup dengan jernih dan kritis melihat mana tradisi atau unsur yang diteruskan dan mana yang harus ditinggalkan, dan karenanya memiliki kemampuan adaptasi yang positif pada perkembangan zaman dan masyarakatnya.

Keempat respon kalangan pesantren terhadap perkembangan zaman tersebut telah melahirkan polarisasi dilingkungan pesantren itu sendiri. Namun perkembangan di era modern telah mengambil sikap tersendiri dengan menuntut kebutuhan spiritualisasi yang dimiliki pesantren, masyarakat berharap bahwa pendidikan sebagai tempat belajar juga memberikan bekal kemampuan untuk mengadopsi kehidupan dan berkompetisi serta berparsitipasi dalam kehidupanya nyata dimasa depan. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang tengah membangun jati dirinya, tentunya dalam hal ini pendidikan sangat diharapkan untuk menopang terlaksananya program pembangunan dan kemajuan bangsa dan sumber daya manusia masyarakat Indonesia ke depan.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang merupakan wadah dalam kegiatan belajar mengajar tentunya dalam mencapai tujuannya tidak terlepas dari peranan manajemen yang ada di dalamnya. Karena manajemen dalam lembaga pendidikan

(19)

2

merupakan mobilisasi segala sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Manajemen umumnya sebagai proses perencanaan, mengorganisasi, pengarahan, dan pengawasan. Usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Inti dari manajemen adalah pengaturan (Musfah, 2015). Disamping itu salah satu komponen penting pada lembaga pendidikan formal yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan isi pengajaran, mengarahkan proses mekanisme pendidikan, kualitas hasil pendidikan, dan tolak ukur keberhasilan adalah kurikulum (departemenagama, 2001, p. 43).

Keberhasilan kurikulum dapat dipengaruhi oleh adanya pemberdayaan di dalam bidang manajemen atau pengelolaan di lembaga pendidikan yang bersangkutan dan sering diistilahkan dengan manajemen kurikulum. Manajemen kurikulum salah satu aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran dalam pendidikan nasional. Di samping itu, kurikulum merupakan suatu sistem program pembelajaran untuk mencapai tujuan institusional pada lembaga pendidikan, sehingga kurikulum memegang peranan penting dalam mewujudkan sekolah yang bermutu atau berkualitas.

Untuk menunjang keberhasilan kurikulum, diperlukan upaya pemberdayaan bidang manajemen atau pengelolaan kurikulum.

Istilah kurikulum sebagaimana yang diterapkan pada lembaga pendidikan formal, tidak didapatkan di lembaga pondok pesantren. Akan tetapi ketika memiliki maksud sebagai arah pembelajaran (manhaj), maka pondok pesantren sudah dikatakan memiliki kurikulum melalui kitab-kitab yang diajarkan pada para santri yang lebih terkonsentrasi pada ilmu-ilmu agama, misalnya hukum islam, hadist, tafsir, Al Qur‘an, teologi Islam, tasawuf, tarikh, dan kitab-kitab klasik lainnya.

Hal ini menjadi aspek terpenting khususnya kurikulum yang diterapkan di pondok pesantren. Sebagaimana di ketahui bahwasanya kurikulum disamping sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan pada pondok pesantren dan untuk memungkinkan pencapaian tujuan pendidikan pondok pesantren tersebut, juga bisa sebagai batasan dari suatu program kegiatan (bahan pengajaran) yang akan dijalankan pada suatu semester, kelas, maupun pada tingkat/jenjang pendidikan tertentu, dan sebagai pedoman kyai/ustadz dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar, sehingga kegiatan yang dilakukan Kyai/ustadz dan santri terarah pada tujuan yang telah ditentukan.

Kurikulum dalam dunia pesantren dilestarikan melalui pengajaran kitab-kitab klasik dan secara kultural yang telah menjadi karakteristik pondok pesantren hingga saat ini. Pengajaran kitab-kitab klasik tersebut pada gilirannya menumbuhkan warna tersendiri dalam bentuk faham dan sistem nilai tertentu. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang pada umumnya menyelenggarakan berbagai satuan pendidikan, baik dalam bentuk sekolah maupun madrasah juga seyogyanya menjadikan prinsip pengembangan kurikulum yang bermuatan nilai-nilai multikultural tersebut dalam kegiatan perencanaan, implementasi, dan evaluasi kurikulumnya. Namun, dalam praktiknya, butir ini tidak mudah dilakukan oleh pesantren, terutama pesantren tradisional (salafiyyah). Kegiatan pendidikan di pesantren tradisional pada umumnya merupakan hasil improvisasi dari seorang kiai secara intuitif yang disesuaikan dengan perkembangan pesantrennya (Madjid, 2007, p. 5).

Pendidikan formal lebih mengenalkan tentang ilmu pengetahuan secara umum.

Sampai saat ini, pesantren dan madrasah/sekolah pun telah tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan zamannya. Bahkan pesantren telah mengelaborasikan

(20)

3

sistem madrasah/sekolah dalam kurikulumnya ketika sekolah telah memasuki pesantren. Pesantren dan sekolah merupakan lembaga yang telah memberikan kontribusi dalam pendidikan bagi masyarakat. Pesantren telah memiliki akar kultural dan historis yang cukup kuat di masyarakat Indonesia dan tradisi pengembangan ilmu, sedangkan sekolah sebagai institusi modern telah memberikan kontribusi besar dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat. Akan tetapi, output dari kedua lembaga ini cukup berbeda. Terjadi dikotomi dengan jurang pemisah yang cukup dalam seperti perbedaan ketika menghadapi dunia kerja. Hal ini tidak lepas dari suatu paradigma bahwa lulusan pesantren lebih berkontribusi pada bidang yang terkait sosial, dakwah dan praktek keagamaan, sedangkan lulusan madrasah/sekolah bisa mengisi sektor- sektor industri.

Madrasah juga berusaha melakukan pembaharuan menghadapi kenyataan bahwa output dari madrasah serba tanggung, pengetahuan agamanya tidak mendalam sedangkan pengetahuan umumnya juga rendah. Hal tersebut diakibatkan adanya pengurangan proporsi pendidikan agama dari 60% mata pelajaran berbasis agama dan 40% mata pelajaran berbasis umum menjadi 30% mata pelajaran agama dan 70% mata pelajaran umum, sebagai konsekuensi masuknya madrasah dalam sistem pendidikan nasional (Raharjo, 2013). Fenomena ini telah menimbulkan upaya-upaya dalam memaksimalkan proporsi pendidikan agama dan umum dalam sebuah kurikulum yang integratif. Usaha tersebut telah dicoba dan dilaksanakan di berbagai pesantren yang kemudian sebagai manifestasi dari konsekuensi tersebut adalah diadakannya lembaga pendidikan dengan sistem madrasah.

Berdasarkan konteks pendidikan yang ada di Indonesia, wacana integrasi keilmuan agama dan sains ini mulai mendapatkan perhatian pada tahun 1990-an. Hal ini mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang sebelumnya telah banyak dielaborasi oleh pemikir-pemikir dari barat. Pada saat ini, hasil pemikiran para cendikiawan dalam upaya integrasi ilmu agama dan ilmu umum telah diterapkan pada dua lembaga itu sekaligus. Fenomena tersebut dapat dilihat dari hadirnya MTs/SMP, MA/SMA di lingkungan pesantren dengan pola penerapan kurikulum sebagaimana yang berlaku di luar pesantren, sedangkan pendidikan keagamaan mengikuti kurikulum pesantren secara khusus (Suyatno, 2013, p. 355).

Tuntutan masyarakat terhadap dunia pesantren dan persekolahan telah berkembang pesat seiring dengan perkembangan waktu. Masyarakat dan orang tua menginginkan berbagai hal lebih dari keberadaan pesantren. Beberapa keinginan yang muncul diantaranya adalah a) Memiliki kemampuan dalam keagaman dan juga menginginkan lulusan pesantren memiliki peluang yang setara dengan lulusan madrasah/sekolah umum sehingga para lulusan dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan formal lainnya secara leluasa, b) Memiliki keunggulan dalam keterampilan spesifik dalam bidang agama seperti hapal Al-Qur‘an, mampu membaca kitab kuning, dan juga memiliki logika berpikir kuat, pengetahuan umum yang luas maupun pengembangan kreatifitas yang terasah sehingga mampu menghadapi persoalan dunia global yang kompleks, c) Lulusan pesantren memiliki daya saing dalam keterampilan spesifik dan pengisian dunia kerja dan berbagai tuntutan lainnya.

Dalam prosesnya, sebagian besar pondok pesantren berupaya merespon tuntutan zaman dengan memodernisasi lembaganya dengan mendirikan lembaga pendidikan formal mulai dari pra-sekolah hingga tingkat pendidikan tinggi. Selain itu, beberapa pondok pesantren mencoba untuk tetap karakteristik aslinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang berfokus pada tafaqquh fi al-din (pendalaman agama), yang

(21)

4

mengajarkan siswa bagaimana memahami isi kitab kuning. Pesantren yang berupaya menggabungkan dua dimensi, sambil mempertahankan identitasnya sebagai lembaga pendidikan yang tafaqquh fi al-din tetapi di sisi lain juga mengadopsi sistem pendidikan formal, khususnya madrasah yang kemudian dikenal dengan sebutan pondok pesantren terintegrasi. (Muhdi, 2018, p. 2).

Jadi dapat disimpulkan pesantren selalu merespon perubahan zaman yang terjadi.

Respon tersebut dapat direalisasikan dengan dua langkah utama, yakni: a) Merevisi kuikulumnya dengan memasukkan mata pelajaran umum; b) Membuka kelembagaan dan fasilitas pendidikannya bagi kepentingan pendidikan umum. Dalam proses mengembangkan kurikulumnya, pesantren membentuk lembaga pendidikan yang mengakomodir kepentingan masyarakat yaitu lembaga pendidikan madrasah dan sekolah.

Perpaduan antara pondok pesantren dan madrasah yang berada dalam satu lingkungan cukup menarik, sebab pesantren dengan karakteristik dan metode belajar yang telah diterapkan cukup lama harus mengalami reaktualisasi, baik dari sisi pembenahan kurikulum pesantren maupun tenaga pendidiknya. Adapun perpaduan ini tentunya melahirkan dinamika baru yang patut dikaji terutama dari segi manajemennya guna mengetahui lebih dalam konsep integrasi kurikulum pondok pesantren dan madrasah.

Sekarang ini banyak pondok pesantren yang lahir dengan konsep integrasi sistem pendidikan yang meliputi pendidikan ilmu agama dan pendidikan ilmu umum temasuk didalamnya adalah penerapan integrasi kurikulum. Permasalahannya adalah apakah penerapan/implementasi manajemen integrasi kurikulum sudah tepat sehingga tujuan maupun harapan integrasi kurikulum dapat tercapai secara maksimal atau tidak. Sebab, di satu sisi pondok pesantren harus mencetak santri-santrinya menjadi manusia yang ahli dalam bidang ilmu maupun praktek agama, namun sisi lain madrasah/sekolah formal menuntut agar siswanya menjadi orang yang paham sains, teknologi maupun pengembangan kreatifitasnya. Untuk itu sangat diperlukan penguasaan ilmu manajemen dalam konsep intgerasi kurikulum tersebut.

Proses penyesuaian kurikulum tidak serta merta dapat dilakukan dengan mudah oleh setiap lembaga pendidikan. Berbagai kendala dan hambatan sering sekali terjadi menyertai dalam proses penyesuaian kurikulum tersebut. Hal ini juga dapat dialami oleh kalangan pesantren. Pesantren yang membuka pendidikan formal memiliki kendala yang mungkin lebih besar dari lembaga formal lainnya karena pesantren yang memiliki konsep integrasi kurikulum disisi lain harus mampu menjaga tradisi keilmuannya juga harus mampu menerapkan kurikulum yang diterapkan pemerintah.

Perpaduan (integrasi) pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan non formal dan sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian terkait hal tersebut di sebuah lembaga pondok pesantren di kawasan Ciputat Tangerang Selatan yang bernama Pondok Pesantren Bait Qur‘any At Tafkir. Pondok Pesantren ini yang telah menerapkan integrasi kurikulum pesantren dan madrasah diberi nama MTs Bait Qurany At-Tafkir Ciputat. Pondok yang mempunyai santri ratusan lebih mengintegrasikan kurikulum sejak awal didirikan sekolah formal di lingkungan pesantren. Pondok pesantren Bait Qur‘any At Tafkir adalah pondok pesantren yang memiliki sebuah Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah berbasis pondok pesantren dan penyelenggaraanya adalah tanggung jawab Yayasan Bait Qur‘any At Tafkir, Ciputat Timur Tangerang Selatan. Keberadaan lembaga pendidikan ponpes sejak tahun ajaran 2013/2014, artinya sudah 6 tahun kegiatan belajar mengajar di

(22)

5

ponpes Tahfidz Al Quran Bait Qur‘any berjalan. Pada saat lembaga berusia 6 tahun, persoalan muncul dengan kebutuhan dan tuntunan masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas, hal ini menjadi problema yang perlu dijawab tuntas.

Oleh karena itu Pondok Pesantren dan Madrasah Tahfizul Quran, Bait Qurany sedang dihadapkan dengan berbagai tuntutan untuk terus berupaya meningkatkan mutu madrasah dalam berbagai aspek. MTs Bait Qur‘any At Tafkir adalah salah satu madrasah swasta di Tangerang Selatan yang berusaha menjawab tantangan zaman dengan pemadatan materi dan penambahan alokasi waktu mata pelajaran. Juga evaluasi pendidikan berupa ujian lisan dan tertulis untuk mata pelajaran pesantren dan ujian tertulis untuk pelajaran umum yang terkadang untuk evaluasi ini saja membutuhkan waktu sekitar setengah bulan.

Model pendidikan terpadu inilah yang diterapkan di MTs Bait Qurany yang mengintegrasikan pendidikan formal madrasah ke dalam lembaga pendidikan pesantren. Artinya, pesantren sebagai lembaga pendidikan telah berdiri terlebih dahulu, baru kemudian sistem pendidikan formal madrasah diadopsi dan diterapkan di lembaga pesantren. Para siswa sekaligus santri, wajib menetap di asrama/pondok/ma‘had selama 24 (dua puluh empat) jam. Pesantren berdiri tahun 2006 dan Madrasah ini baru berdiri pada tahun 2013, namun pembelajaran di pesantren telah berjalan dan tersusun dalam kurikulum pesantren tersendiri. Adapun layanan pembelajaran dan pembinaan yang diberikan di pesantren Bait Qurany adalah: Pertama.

tahfizul qur‘an dan tambahan bekal pengetahuan serta pengamalan agama (sholat jama‘ah setiap waktu, qiyamul lail, puasa dan amalan sunnah lainnya, tahfizul quran, kajian kitab/qiratul kutub, tafsir Al Quran, akhlakul banin (kitab kuning), pembinaan baca al-Qur‘an, lughah/bahasa arab, nahwu, sharaf, tilawah), pembiasaan pembacaan wirid dan kalimat-kalimat toyyibah. Kedua, materi pelajaran madrasah, bimbingan belajar (bimbel) dan pengembangan muhadatsah dan lain- lain. Ketiga, pembinaan akhlaqul karimah (perilaku, tutur kata, pola berbusana, dan lain-lain). Sedangkan keempat adalah melatih kemandirian melalui berbagai aktifitas dan tanggung jawab serta kegiatan ekstra kurikuler.

Adanya madrasah di dalam Pesantren Tahfizul Qur‘an Bait Qurany ini, mensyaratkan adanya manajemen kurikulum integrasi diantara keduanya. Hal ini dikarenakan, kurikulum MTs menjadi sub sistem dari sistem induknya, yaitu kurikulum Pesantren. Kurikulum madrasah cenderung lebih kaku karena sudah ditentukan oleh pemerintah, sedangkan kurikulum pesantren lebih fleksibel karena memang dikembangkan sepenuhnya oleh pesantren yang bersangkutan. Sehingga, muatan kurikulum pesantren disini dapat disesuaikan dengan tujuan maupun struktur kurikulum pesantren. Pada konten/isi kurikulum masing-masing berjalan sendiri. Materi pelajaran masih dilaksanakan terpisah antara kurikulum madrasah dan kurikulum pesantren, tidak terjadi integrasi berupa penyatuan materi pelajaran dalam arti integrasi keilmuan.

Konsep hidden kurikulum terlihat pada kegiatan–kegiatan yang mengarahkan kepada pembentukan karakter siswa melalui pembiasaan kegiaatan (Shalat Dhuha, Tahfizh, Kajian, Muhadatsah, Zikir, Shalat berjama‘ah, Berdoa bersama, Sedekah).

Pesantren Bait Qur‘any mendesain program hidden kurikulum untuk pembentukan karakter peserta didik. Praktik hidden kurikulum berhasil membentuk karakter peserta didik yaitu kejujuran, tanggung jawab, toleransi, disiplin diri, religius, mandiri, peduli sesama, kesopanan. Kegiatan pembiasaan yang dilakukan tentu bukan hanya membentuk karakter akan tetapi juga memperlihatkan sikap, mengajarkan norma, menerapkan nilai, meningkatkan kepercayaan serta memberikan asumsi kepada peserta

(23)

6

didik. Pendapat tersebut dipertegas oleh Musfah, Fauzan et.al (2018 Yang mengemukakan bahwa santri tidak hanya belajar mengasah kemampuan akal tetapi melakukan pembiasaan yang bisa menguatkan hatinya untuk memiliki karakter yang baik, seperti membaca Alquran, shalat, dan puasa.

Pondok Pesantren Tahfiz dan Yayasan Pendidikan Bait Qurany At-Takfir merupakan salah satu pesantren yang ada di Kecamatan Ciputat yang mengikuti trend pengembangan model pendidikan tersebut. Pesantren yang didirikan oleh Dr.

Habiburrahman ini merupakan sebuah fenomena yang unik. Pesantren modern dengan predikat tahfiz yang kental ini ternyata sangat menerima terhadap produk modernisasi, sehingga dikembangkan juga sistem pendidikan modern dengan mendirikan PAUD, RA, TPA (Taman Pendidikan Al quran), MI, MTS, dan MA. Madrasah Bait Qur‘any merupakan salah satu bentuk integrasi pendidikan yang sudah membuka diri terhadap perubahan, karena kebutuhan zaman dan karena semakin berkembangnya pemikiran rasional.

Penggabungan kurikulum tersebut sebagai upaya pimpinan pondok pesantren dalam memenuhi kebutuhan santri dan membekali diri mereka supaya dapat bersaing dengan sekolah luar. Berangkat dari kebijakan pondok untuk mengadakan terobosan- terobosan dalam mensikapi dinamisasi pendidikan tersebut dan Integrasi Kurikulum di Madrasah dan Pondok Pesantren Tahfizul Quran Bait Qurany sekaligus juga mengangkat persoalan yang ada. Untuk itu, manajemen yang baik diperlukan untuk mengawal dan terus meningkatkan program/kurikulum agar berjalan dengan baik, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sehingga terus dapat meningkatkan mutu pendidikannya.

Beberapa keberhasilan yang diraih oleh Pesantren Tahfizul Quran Bait Qur‘ani yang dijalankan oleh Yayasan Bait Qur‘any At-Tafkir ini, menurut penulis menjadi suatu hal yang menarik dan layak untuk dijadikan satu pembahasan, dan bahkan dijadikan sebagai sebuah contoh bagi lembaga pendidikan Islam lain yang ingin mengembangkan program tahfizul quran dan mengintegrasi kurikulum madrasah yang mengacu pada kurikulum pemerintah dengan penyesuaian seperlunya dan pihak pesantren menggunakan kurikulum yang disusunnya sendiri pula. Jadi bentuk integrasi semacam ini cukup unik untuk diteliti lebih lanjut, seperti apa model integrasi kurikulum yang digunakan. Oleh karena pentingnya hal ini, maka penulis merasa perlu mengadakan penelitian secara mendalam tentang ―Implementasi Manajemen Integrasi Kurikulum Pesantren dan Madrasah‖ dalam bentuk penelitian kualitatif di MTs Bait Qurany At-Tafkir Tangerang Selatan.

B. Permasalahan

1. Identifikasi Masalah

a. Permasalahan pondok pesantren harus mencetak santri-santrinya menjadi manusia yang ahli dalam bidang agama tetapi disisi lainnya, sekolah menuntut menjadi orang yang paham Sains dan teknologi.

b. Output dari madrasah/sekolah dan pesantren ini cukup berbeda dalam menghadapi dunia kerja, terdapat paradigma bahwa lulusan pesantren lebih berkontribusi pada bidang yang terkait sosial, dakwah dan praktek keagamaan, sedangkan lulusan madrasah/sekolah bisa mengisi sektor-sektor industri

c. Kurang efektif pelaksanaan integrasi kurikulum madrasah dan pesantren.

(24)

7 2. Batasan Masalah

Berdasarkan dari identifikasi masalah, agar penelitian ini lebih terfokus dan terarah, penulis memberi batasan masalah dalam penelitian ini yakni pada Manajemen Integrasi Kurikulum dengan judul ―Implementasi Manajemen Integrasi Kurikulum Madrasah dan Pesantrean MTs Bait Qur‘any At Tafkir Tangerang Selatan‖ yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, kendala-kendala implementasi integrasi kurikulum.

3. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah tersebut maka pokok pemasalahannya adalah ― Bagaimanan implementasi manajemen integrasi kurikulum madrasah dan pesantren MTs Bait Qur‘any At Tafkir? Adapun sub masalahnya sebagai berikut:

a. Bagaimana perencanaan integrasi kurikulum madrasah pesantren di MTs Bait Qurany?

b. Bagaimana pelaksanaan integrasi kurikulum madrasah pesantren di MTs Bait Qurany

c. Bagaimana evaluasi integrasi kurikulum madrasah pesantren di MTs Bait Qur‘any?

d. Apakah kendala yang dihadapi dalam manajemen integrasi kurikulum madrasah pesantren di MTs Bait Qur‘any?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Secara akademis penelitian ini bertujuan untuk pertama mendeskripsikan bentuk perencanaan integrasi kurikulum MTs Bait Qur‘any At Tafkir. Kedua, mendeskripsikan bentuk pelaksanan integrasi kurikulum MTs Bait Qur‘any At Tafkir. Ketiga, mendeskripsikan bentuk evaluasi dan pengawasan integrasi kurikulum di MTs Bait Qur‘any At Tafkir. Keempat, mendeskripsikan kendala- kendala manajemen integrasi kurikulum madrasah dan pesantren MTs Bait Qur‘any At Tafkir.

Secara konsep terapan penelitian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan memperkuat teori perencanaan manajemen integrasi kurikulum madrasah dan pesantren MTs Bait Qur‘any At Tafkir. Pelaksanaan manajemen integrasi kurikulum madrasah dan pesantren MTs Bait Qur‘any At Tafkir. Hasil evaluasi manajemen integrasi kurikulum madrasah dan pesantren MTs Bait Qur‘any At Tafkir.

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis

1) Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada lembaga pendidikan Madrasah dalam pendekatan teori-teori kurikulum untuk menganalisa permasalahan-permasalahan menyangkut kurikulum dan pengembangannya.

2) Implementasi dari integrasi kurikulum yang akan meningkatkan kinerja dan citra lembaga serta mutu pendidikan

3) Dengan penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian tentang proses manajemen integrasi kurikulum.

b. Manfaat Praktis

1) Bagi Pengelola Pendidikan

(25)

8

a) Pengelola pendidikan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai sumber informasi untuk menemukan model atau bentuk ideal integrasi kurikulum madrasah dan pesantren.

b) Pengelola pendidikan merumuskan tujuan integrasi kurikulum madrasah dan pesantren yang menjadi acuan bagi para guru/ustadz dalam setiap pembelajaran.

c) Pengelola pendidikan dapat menetapkan pedoman integrasi kurikulum tingkat satuan pendidikan antara madrasah dan pesantren sebagai acuan penyelenggaraan proses belajar- mengajar.

d) Pengelola pendidikan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan evaluasi terhadap model kurikulum tingkat madrasah untuk perbaikan kurikulum pada periode mendatang.

2) Bagi Pendidik

a) Pendidik dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan acuan dalam mengajar di kelas, baik di madrasah ataupun pesantren.

b) Pendidik dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran dalam mengelola pembelajaran di kelas sesuai dengan tanggung jawab pada pelajarannya masing-masing.

c) Pendidik dapat mengeksplorasi adanya integrasi antara materi setiap mata pelajaran dengan pengembangan karakter (akhlak mulia) dan integrasi antara materi-materi pelajaran umum dengan materi-materi agama Islam dengan adanya sistem pesantren.

D. Penelitian Terdahulu yang Relevan

Penelitian terdahulu merupakan penelusuran pustaka yang digunakan peneliti sebagai pembanding terhadap penelitian yang dilakukan yang berupa hasil karya ilmiah, penelitian, ataupun sumber lain. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang penelitian ini, maka penulis sampaikan beberapa penelitian terdahulu yang terkait.

Jurnal Ahmad Adip Muhdi (2018) yang berjudul ―Management of Integrated Education between Pesantren and Campus in Improving the Quality of Graduates‖.

Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan investigasi lebih lanjut guna menganalisis dan menemukan konsep dan model manajemen pendidikan terintegrasi antara pondok pesantren dan perguruan tinggi Islam serta implikasinya untuk meningkatkan kualitas lulusannya. Hasil penelitian terhadap konsep integrasi kurikulum mendapatkan dua konsep yaitu yaitu "konsep integrasi sistemik" yang didefinisikan sebagai ide yang ingin mengintegrasikan semua komponen sistem pendidikan di kedua institusi, dengan mengintegrasikan para pendidik, peserta didik, kurikulum, dan bangunan atau fasilitas lainnya. Konsep kedua adalah "integrasi organik", yaitu tentang gagasan yang ingin mengintegrasikan nilai spiritual dalam pendidikan pesantren dan nilai-nilai intelektual perguruan tinggi. (Muhdi, 2018).

Jurnal Siti Maryam Munjiat (2017) dengan judul ―Integrasi Kurikulum Pesantren dan Madrasah Pada Pondok Pesantren Manba‘ul ‗Ulum Sindangmekar Dukupuntang Cirebon‖. Tujuan penelitian ini untuk menjawab dan menjelaskan tentang faktor-faktor yang terjadi integrasi kurikulum. Selain itu, penelitian dimaksudkan untuk mengangkat semangat lembaga pendidikan berdasarkan agama, yaitu Pesantren dan Madrasah (mewakili gen dari pesantren dengan Kurikulum sistematis) dalam mengintegrasikan kedua kurikulum keduanya. Satu hal yang sangat penting lagi dalam penelitian ini

(26)

9

menghilangkan batas dan jarak antara sains umum dan teologi dengan keberadaan mengintegrasikan kurikulum seperti yang telah dilakukan semua pendahulunya, yaitu Pesantren Gontor Ponorogo, Pesantren Darul Arqom Garut, Pesantren al-Amin Madura dengan cara berbeda dan pola. Yang ada juga di Pesantren manba'ul 'Ulum Cirebon merupakan objek penelitian itu tentang integrasi (Munjiat, 2017).

Penelitian Muhammad Rouf (2016) yang berjudul ―Manajemen kurikulum integratif Madrasah-Pesantren‖. Penelitian ini bertempat di dua Madrasah, yakni MAN 1 Malang dan Madrasah terpadu MAN 3 Malang.Tujuan dari penelitian ini adalah pertama, untuk mendeskripsikan kurikulum integratif madrasah-pesantren di MAN 1 Malang dan Madrasah Terpadu MAN 3 Malang. Kedua, untuk mendeskripsikan pelaksanaan kurikulum integratif madrasah-pesantren di MAN 1 Malang dan Madrasah Terpadu MAN 3 Malang dan ketiga, untuk mendeskripsikan evaluasi kurikulum integratif madrasah-pesantren di MAN 1 Malang dan Madrasah Terpadu MAN 3 Malang. Hasil dari penelitian di MAN 1 Malang dan Madrasah Terpadu MAN 3 Malang ini adalah: a) Perencanaan kurikulum integratif madrasah-pesantren dilakukan dengan mengintegrasikan tujuan kurikulum dan mengintegrasikan pengorganisasian isi kurikulum. b) Pelaksanaan kurikulum integratif madrasah-pesantren dilakukan dengan:

mengintegrasikan program pelaksanaan kurikulum dan mengintegrasikan supervisi pelaksanaan kurikulum. c) Evaluasi kurikulum integratif madrasah-pesantren dilakukan dengan mengevaluasi kurikulum secara koordinatif antara madrasah dan pesantren, yang meliputi evaluasi konteks kurikulum, evaluasi input kurikulum, evaluasi proses kurikulum dan evaluasi produk kurikulum (Rouf, 2016).

Jurnal Susan M. Drake (S018) yang berjudul ―Integrated Curriculum as an Effective Way to Teach 21st Century Capabilities‖. Tulisan ini menawarkan terintegrasi kurikulum sebagai cara yang efektif untuk menyelesaikan beberapa tantangan yang terkait dengan mengembangkan kemampuan C21. menyajikan kerangka kurikulum yang menyeluruh – file Know-Do-Be. Mengidentifikasi kemampuan , proses perencanaan desain ke belakang yang memungkinkan untuk kreatif dan koheren desain kurikulum. Model kurikulum terintegrasi dieksplorasi diikuti dengan penelitian efektivitas integrasi. Terakhir, menunjukkan bagaimana menyatukan kompetensi dan kurikulum terintegrasi dapat menciptakan situasi pembelajaran yang kaya serta rekomendasi untuk memfasilitasi latar depan kemampuan abad ke-21 melalui integrasi kurikulum (M.Drake & Reid, 2018)

Erwin Akib (2020) yang berjudul ―Study on Implementation of Integrated Curriculum in Indonesia‖. Dalam integrasi kurikulum, sekolah harus melihat pendidikan sebagai proses pengembangan kemampuan yang dibutuhkan dalam hidup, khususnya dalam menghadapi tantangan hidup abad ke-21, bukan subjek terpisah yang dibagi menjadi bidang yang berbeda. Pembelajaran yang terintegrasi akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami masalah kompleks yang ada di sekitar lingkungan dengan tampilan yang lengkap. Dengan pembelajaran terintegrasi ini, siswa diharapkan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, menilai, dan menggunakan informasi yang ada di sekitar mereka dengan penuh makna. Fokus utama artikel ini adalah menganalisis implementasi pembelajaran terintegrasi dalam kurikulum di Indonesia. Kurikulum terintegrasi yang dikembangkan Robin Fogarty memiliki banyak keunggulan yang dapat diadaptasi dalam perkembangan pendidikan di Indonesia termasuk revisi Kurikulum 2013. Akademisi dan praktisi harus memahami secara komprehensif sifat dari sepuluh model kurikulum (Robin Fogarty) dan Kurikulum 2013 sebelum membuat alat dan mengimplementasikannya dalam belajar.

(27)

10

Perbedaan dan persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian saat ini maka ada ruang yang dapat diisi, sekaligus distingsi penelitian kali ini, yakni fokus pada tujuan penelitian. Persamaan dari penelitian ini dengan penelitian sebelumnya sama- sama membahas integrasi kurikulum madrasah dan pesantren. Pada penelitian penulis fokus penelitiannya mengetahui bentuk perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan kendala-kendala pelaksanaan, standar kompetensi lulusan. Dengan demikian diharapkan penelitian ini bisa melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya.

E. Sistematika Penulisan

Untuk memahami tata urutan dan memudahkan karangka berpikir dalam penelitian ini, penulis menggunakan sistematika sebagai berikut:

Bab I: PENDAHULUAN

Pada Bab I ini berisi penjelasan tentang fenomena yang melatarbelakangi penelitian dan berisi perencanaan langkah-langkah pelaksanaan penelitian secara umum.

Pembahasannya terdiri dari beberapa sub bab, antara lain: latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, penelitian terdahulu yang relevan, sistematika penulisan.

BAB II : KAJIAN TEORITIK

Pada Bab II ini berisi tentang konsep manajemen kurikulum yang dipakai sebagai pisau analisis dalam mengkaji manajemen kurikulum integrasi madrasah-pesantren di MTs Bait Qur-any At Tafkir. Pembahasannya meliputi: (a) Landasan Teoritik, bagian ini memiliki beberapa sub bahasan, yaitu: Teori tentang Manajemen Kurikulum, Teori tentang Kurikulum Madrasah dan Pesantren; dan Teori tentang Integrasi Kurikulum, kemudian (b) Kerangka Berpikir.

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN

Pada Bab III ini berisikan metodologi penelitian meliputi metode penelitian yang digunakan, tempat atau obyek penelitian, data dan sumber penelitian, teknik dan pengumpulan data, analisis dan pengumpulan data.

BAB IV PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN

Pada Bab IV ini berisikan gambaran umum MTs Bait Qur‘any At Tafkir dengan ruang lingkup sejarah singkat, visi, misi, dan tujuan, struktur organisasi, prestasi-prestasi BAB V PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

Bab V ini berisi tentang interpretasi penulis dari data yang berhasil dihimpun. Analisis ini berfungsi untuk menjawab permasalahan yang dirumuskan berkaitan dengan manajemen kurikulum integratif madrasah dan pesantren MTs Bait Qur‘any At Tafkir.

BAB VI

Bab VI ini berisi simpulan dan saran yang diikuti dengan daftar pustaka serta lampiran-lampirannya

(28)

11 BAB II

KAJIAN TEORITIK

A. Manajemen Kurikulum

1. Pengertian Manajemen Kurikulum

Manajemen kurikulum berasal dari dua kata, yaitu manajemen dan kurikulum.

Untuk mengetahui pengertian manajemen kurikulum, hendaknya kita mengetahui terlebih dulu arti dari masing-masing kata. Secara bahasa (etimologi), manajemen berasal dari bahasa Latin, yaitu dari asal kata manus yang artinya tangan dan agare yang berarti melakukan. Kata-kata itu digabungkan menjadi managere. Managere diterjemahkan kedalam bahasa inggris dalam bentuk kata kerja to manage dengan kata benda management yang artinya pengelolaan (Usman, 2006, p. 3)

Manajemen umumnya sebagai proses perencanaan, mengorganisasi, pengarahan, dan pengawasan. Usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Inti dari manajemen adalah pengaturan (Musfah, 2015). Definisi di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan suatu alat atau metode dalam memproses sumber daya secara individu maupun kelompok dapat mengorganisasikan, mengelola dari usaha-usaha yang dilakukannya menjadi terarah dan teratur dengan baik sesuai yang direncanakan.

Manajemen menurut Terry dan Franklin, (2003) didefenisikan sebagai, the process of designing and maintaining an environment in wich individuals, working together in groups, efficiently accomplish selected aims (Terry & Franklin, 2003, p.

4) . Ungkapan ini memberikan sebuah pengertian bahwa manajemen sebagai suatu proses yang terdiri dari aktivitas perencanaan, pengaturan, penggerakan dan pengendalian, yang dilakukan untuk menentukan dan memenuhi sasaran hasil yang diwujudkan dengan penggunaan manusia dan sumber daya lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen merupakan proses perencanaan dan pemeliharaan lingkungan di mana individu bekerja bersama dalam kelompok dan mencapai tujuan-tujuan terpilih secara efektif.

Gambar 2.1 Aktifitas Manajemen Sumber (Terry & Franklin, 2003, p. 4) Perencanaan Pengaturan

Penggerakkan Pengendalian

(29)

12

Dari beberapa pendapat tersebut dapat penulis simpulkan bahwa manajemen adalah serangkaian proses kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian melalui pemanfaatan Sumber Daya Manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh sekolah atau lembaga, dalam hal ini manajemen teramat penting perannya dalam sebuah pengorganisasian sehingga proses yang dilakukan memiliki tujuan yang jelas.

Sedangkan pengertian kurikulum berasal dari kata Curriculum Bahasa Latin.

Makna dari itu adalah a running course, Specially a chariot race course.

Selanjutnya Courir yang dalam Bahasa Perancis dimaknai to run yakni berlari.

Penamaan tersebut sengaja dibuat dalam rangka kursus atau dengan kata lain mata pelajaran yang seharusnya diambil dalam rangka menuju gelar sebagaimana mendapatkan sebuah ijazah (Arief, 2002). Armai Arief kemudian memandang bahwa sebutan lainnya adalah manhaj yakni dalam ranah pendidikan Islam yang dimaknai sebuah jalan bercahaya yang dilewati oleh guru bersama dengan muridnya dalam rangka mengembangkan sebuah pemahaman, pengetahuan serta keterampilan atau aspek kognitif, psikomotorik dan afektif mereka.

Dalam sektor pendidikan, kurikulum berarti sejumlah mata kuliah di perguruan tinggi (Yamin, 2012, p. 21). Menurut UU Sisdiknas Tahun 2003, disebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman tertentu (UUSPN, 2003).

Setelah memahami pengertian manajemen dan kurikulum, maka selanjutnya perlu kita pahami pengertian manajemen kurikulum sebagai sebuah kesatuan. Dalam membahas ini Oemar Hamalik menggunakan istilah ―manajemen pengembangan kurikulum‖, menurutnya dalam usaha pengembangan kurikulum diperlukan suatu keahlian manajerial dalam arti kemampuan merencanakan, mengorganisasi, mengelola dan mengontrol kurikulum (Hamalik, 2006, p. 9).Sedangkan Rusman memakai istilah ―manajamen kurikulum‖, menurutnya manajemen kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komperhensif, sistemik, dan sistematik dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum (Rusman, 2011, p. 3). Dapat dipahami bahwa manajemen kurikulum merupakan kemampuan pengelolaan sistemik yang meliputi perencanaan, pengelolaan, pengendalian dan evaluasi dalam mengimplementasikan kurikulum di dalam lembaga pendidikan agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan pendidikan.

Dalam prespektif Islam, kiranya dapat ditemui sumber-sumber dari al- Qur‘an maupun al-Hadits yang mengandung ibrah (pesan) untuk menerapkan kurikulum pendidikan dengan pendekatan manajemen. Perintah untuk melaksanakan prinsip manajerial dalam organisasi atau lembaga pendidikan diberikan Nabi Muhammad Saw. kepada Abu Hurairah ra. tentang bagaimana pentingnya orang yang tepat.

Adapun redaksinya adalah

ِتَعِّ يُض اَذِإ ِرِظَتْ ناَف ُةَناَمَْلأا

َةَعاَّسلا َلوُسَراَي اَهُ تَعاَضِإ َفْيَك َلاَق ِإ ُرْمَْلأا َدِنْسُأ اَذِإ َلاَق ِوَّلل

َلَ

ِرِظَتْ ناَف ِوِلْىَأ ِْيرَغ َةَعاَّسلا

“(Imam Bukhari menyatakan) Muhammad bin Sinan menyampaikan (riwayat) kepada kami, Hilal bin „Ali telah menyampaikan (riwayat) kepada kami, (riwayat itu) dari „Atha‟, dari Yasar, dari Abu Hurairah ra. Yang berkata:

(30)

13

Rasulullah Saw. bersabda: Apabila suatu amanah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancurannya. (Abu Hurairah) bertanya: Bagaimana meletakkan amanah itu, Ya Rasulallah? Beliau menjawab: Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya. Hadits Bukhari Nomor 6015. (Muhammad bin Usma'il Abu Abdillah al-Bukhariy al-Ja'fi, 1987, p.

33)

Pada hadits Muhammad bin Sinan yang diriwayatkan Abu Hurairah di atas menandakan pentingnya melaksanakan amanah dari seorang pemimpin, dan bagi pemimpin berkewajiban memberikan amanah kepada orang yang tepat, jangan sampai memberikan tanggung jawab kepada orang yang tidak tepat. Proses itu adalah proses manajerial, dimana ada seorang pemimpin dan orang yang dipimpin.

Seorang pemimpin mengkoordinasikan semua aktivitasnya bersama dengan para anggotanya untuk bersama mencapai tujuan.

Sedangkan mengenai implementasi kurikulum dalam pendidikan, dapat kita temui dalam A l q u r a n Surat Al-Alaq (96): 5, Al-Baqarah (2): 31 dan Luqman (31): 12. Allah Swt. memberikan teladan kepada umat manusia untuk mempelajari segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Beberapa ayatnya antara lain

ْمَلْعَ ي َْلَ اَم َنََٰسنِْلإٱ َمَّلَع

“Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya‖(QS.Al-Alaq, 96:5)

َمَّلَعَو نَا َلاَقَ ف ِةَكىَٰۤلَمْلا ىَلَع ْمُهَضَرَع َُّثم اَهَّلُك َءۤاَْسَْْلا َمَدَٰا ُؤِب

َْيِْقِدَٰص ْمُتْنُك ْنِا ِءَۤلُؤَٰى ِءۤاَْسَْاِب ْ ِنِ

- ١٣

Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”(QS. Al-Baqarah, 2:31)

َِِغ َوَّٰللا َّن ِاَف َرَفَك ْنَمَو وِسْفَ نِل ُرُكْشَي اََّنمِاَف ْرُكْشَّي ْنَمَو ِوَّٰلِل ْرُكْشا ِنَا َةَمْكِْلحا َنَٰمْقُل اَنْ يَ تَٰا ْدَقَلَو ٣١ - ٌدْيَِحَ

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, ”Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”(QS. Luqman, 31:12) (Kemenag, 2020)

Ayat-ayat Al-Qur‘an di atas menurut Abuddin Nata (2012) berisi tentang bahan- bahan pelajaran yang perlu diajarkan kepada manusia, yaitu tentang segala sesuatu yang belum dipelajari (maa lam ya‟lam), nama-nama tentang segala sesuatu, termasuk nama Tuhan (asmaul husna), pengetahuan tentang hakikat dan kebenaran segala sesuatu (al-hikmah). Adanya bidang ilmu yang diajarkan tersebut menggambarkan bahwa muatan yang harus tercantum dalam kurikulum meliputi berbagai macam bidang ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia, baik yang berkaitan dengan pembinaan mental spiritual, intelektual, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan fisik dan psikis dan lainnya. Kurikulum pendidikan

(31)

14

yang di dalamnya ada begitu banyak mata pelajaran, berjenjang, terkonsep secara nasional dengan konteks daerah yang beragam, serta melibatkan banyak orang menjadikan perlunya pendekatan manajemen dalam pelaksanaan kurikulum, agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik sesuai dengan amanat Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional (Nata, 2012, p. 126)

2. Fungsi Manajemen Kurikulum

Adapun ruang lingkup pembahasan manajemen kurikulum sebagaimana teori manajemen yang umum, disebut dengan fungsi manajemen. Fungsi manajemen kurikulum itu sendiri dibagi ke dalam tiga ruang lingkup yaitu: pertama perencanaan kurikulum, kedua pelaksanaan kurikulum dan ketiga evaluasi kurikulum. Adapun rinciannya dijelaskan di bawah ini:

a. Perencanaan Kurikulum

Fungsi manajemen kurikulum yang pertama dilakukan adalah perencanaan kurikulum. Menurut Beane dalam Hamalik, perencanaan kurikulum adalah suatu proses ketika peserta dalam banyak tingkatan membuat keputusan tentang tujuan belajar, cara mencapai tujuan tersebut melalui situasi mengajar- belajar, serta penelaahan keefektifan dan kebermaknaan metode tersebut akan saling berhubungan dan tidak mengarah pada tujuan yang diharapkan (Rusman, 2011, p. 171)

Dalam perencanaan kurikulum ini, ada proses perencanaan kurikulum yang meliputi beberapa kegiatan yang harus diperhatikan. Uraian sistematis dipaparkan oleh Rusman, yaitu perumusan tujuan kurikulum, landasan perencanaan kurikulum, perumusan isi kurikulum dan organisasi kurikulum.

Adapun perinciannya sebagai berikut:

1) Landasan Perencanaan Kurikulum

Dalam merencanakan kurikulum, pengembang kurikulum haruslah memperhatikan apa saja yang menjadi landasan-landasan kurikulum.

Landasan tersebut antara lain: kekuatan sosial, perlakuan pengetahuan dan pertumbuhan dan perkembangan manusia (Rusman, 2011, p. 25).

a) Kekuatan Sosial

Perubahan sistem pendiidkan di Indonesia sangatlah dinamis. Pendidikan di Indonesia menggunakan sistem terbuka, sehingga harus selalu menyesuaikan dengan perubahan dan dinamika sosial yang terjadi di masyarakat, baik itu sistem politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan.

b) Perlakuan Pengetahuan

Perencanaan kurikulum bereaksi terhadap keberadaan data atau informasi yang berhubungan dengan pembelajaran. Di sekolah tradisional biasanya struktur informasi lebih dari informasi itu sendiri. Pertimbangan yang lain adalah di mana mencari fakta dan data, berusaha belajar tentang sikap, emosi, perasaan terhadap pembelajaran, proses informasi, memanipulasi, menyimpan dan mengambil kembali informasi tersebut untuk dikembangkan dan digunakan dalam kegiatan merancang kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

c) Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia.

Informasi tentang perkembangan manusia ini sangatah penting. Guru dituntut untuk merencanakan kurikulum atau program pembelajaran yang

(32)

15

berkenaan dengan kebutuhan dan perkembangan siswa. Data-data ini penting, seperti sekolah selalu menyediakan data untuk pengembangan program sekolah yang baru, lebih awal anak belajar pendidikan khusus, pendidikan sekolah alternatif, dan pendidikn akselerasi.

2) Perumusan Tujuan Kurikulum

Menurut Ivor Davies dalam Nurgiantoro, tujuan kurikulum (pendidikan) menjadi dasar orientasi pengembang (atau pendesain) dan pemakai kurikulum. Tujuan kurikulum ada dua macam, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum disusun dalam konteks yang lebih luas dan kaya dan masih dapat dibuat penjelasan yang lebih khusus. Tujuan ini mendeskripsikan apa yang akan dicapai yang biasanya merupakan penjabaran atau pengoperasionalan pikiran yang terkandung dalam tujuan bersifat deskripsi kesimpulan atas hipotesis (Nurgiantoro, 2008, p. 40).

Tujuan khusus memiliki bentuk yang eksplisit dan operasional. Ia berusaha mendeskripsikan pengertian sejelas mungkin dan pasti tentang apa yang harus dipikirkan, diperkuat, dan dirasakan siswa setelah berakhirnya kegiatan belajar-mengajar. Penjabaran khusus dari tujuan umum tersebut tidak mudah dilakukan, karena ia harus selalu konsisten dengan tujuan umum itu (Nurgiantoro, 2008, p. 40).

Dalam kajian Rusman, terdapat tiga sumber yang mendasari perumusan tujuan kurikulum, yaitu aims, goals dan objective. Kurikulum aims merupakan rumusan kurikulum yang menggambarkan outcomes yang diharapkan berdasarkan beberapa skema nilai diambil dari kaidah-kaidah filosofis. Aims ini tidak berhubungan secara langsung terhadap tujuan sekolah dan tujuan pembelajaran. Goals merupakan outcomes sekolah yang dapat dirumuskan secara secara institusional oleh sekolah atau jenjang pendidikan tertentu sebagai suatu sistem. Objectives merupakan outcomes yang diharapkan dapat tercapai dalam jangka waktu pendek, segera setelah proses pembelajaran di kelas berakhir, dapat dinilai setidaknya secara teoretis dalam jangka waktu tertentu (Rusman, 2011, p. 22).

3) Perumusan Isi Kurikulum

Hamalik menyebut isi kurikulum ini dengan konten kurikulum, dimana antara konten dan isi kurikulum tidak ada bedanya. Menurutnya, konten atau isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yang meliputi bahan kajian dan mata pelajaran.

Isi kurikulum adalah mata pelajaran pada proses belajar-mengajar, seperti pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diasosiasikan dengan mata pelajaran. Pemilihan isi menekankan pada pendekatan mata pelajaran (pengetahuan) atau pendekatan proses (keterampilan) (Rusman, 2011, p. 178) Dalam merumuskan isi kurikulum ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain: kriteria pemilihan isi kurikulum, ruang lingkup isi kurikulum, dan urutan isi kurikulum. Perinciannya antara lain sebagai berikut:

a) Kriteria Pemilihan Isi Kurikulum

Untuk dapat menyusun kurikulum pendidikan yang baik, ada beberapa kriteria pemilihan isi kurikulum yang harus diperhatikan. Sebagaimana dipaparkan oleh Hamalik, antara lain:

(1) Signifikansi, yaitu seberapa penting isi kurikulum pada suatu disiplin

Gambar

Gambar 2.1 Aktifitas Manajemen  Sumber (Terry & Franklin, 2003, p. 4) Perencanaan Pengaturan
Gambar 2.2 Klasifikasi dan Bentuk-Bentuk Kurikulum Integrasi  Sumber (Kurniawan, 2011)
Gambar 2.5. Model Sarang (Nested)
Gambar 2.6. Model Urutan/Rangkaian (Sequenced)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis data, peneliti menemukan beberapa hasil penelitian yang terkait dengan adanya integrasi sistem pendidikan pesantren dan madrasah, diantaranya:

Khusnuridlo, menyatakan bahwa bentuk pendidikan pesantren dapat diklasifikasan menjadi empat tipe, yaitu: (a) pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal dengan

Selanjutnya sebagai upaya untuk dapat memberikan pendidikan yang holistic (menyeluruh) maka perlu dikembangkan proses pendidikan yang mampu menfasilitasi dan

Khusnuridlo, menyatakan bahwa bentuk pendidikan pesantren dapat diklasifikasan menjadi empat tipe, yaitu: (a) pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal dengan

Menakar Modernisasi Pendidikan Pesantren Mengusung Sistem Pesantren Sebagai Sistem Pendidikan Mandiri, Cet.. Tradisi Intelektual Santri dalam Tantangan dan Hambatan

Hal itu karena sistem pendidikan dan pengajaran dalam pondok pesantren tipe ini sudah mengadakan penggabungan antara yang tradisional dan yang modern.. Artinya,

Sehingga kalau di tanya apa tujuan pesantren, jawabnya tujuan sekolah itu.166 Tujuan pondok pesantren modern Ar-Rahmat bojonegoro adalah “Mendidik generasi bangsa yang berbudi luhur,

Jadi setiap guru yang terdaftar dalam pendidikan formal dan madrasah didata secara setara sebagai pendidik dalam proses lembaga pendidikan yang ada dibawah naungan yayasan.213 Berdasar