• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indeks dan Status Efektivitas Pengelolaan Ekowisata Pesisir

I. PENDAHULUAN

4.4. Efektivitas Pengelolaan Ekowisata Pesisir di Gugus Pulau Togean

4.4.2. Indeks dan Status Efektivitas Pengelolaan Ekowisata Pesisir

Indeks pengelolaan ekowisata pesisir menunjukkan besaran persentase pencapaian pengelolaan ekowisata pesisir saat ini. Sementara status efektivitas pengelolaan menunjukkan apakah pengelolaan ekowisata pesisir saat ini mengarah pada kondisi baik ataukah buruk. Evaluasi status pengelolaan ekowisata pesisir dilakukan pada keempat dimensi pembangunan baik secara parsial maupun gabungan. Berdasarkan skor setiap atribut yang tercantum pada Lampiran 11, selanjutnya dilakukan analisis efektivitas pengelolaan ekowisata pesisir terhadap empat dimensi pengelolaan dengan menggunakan metode EFANSIEC. Hasil analisis metode EFANSIEC selengkapnya diuraikan sebagai berikut:

1. Dimensi ekologi; hasil EFANSIEC terhadap 10 atribut pada dimensi ekologi disajikan pada Gambar 22.

Baik Buruk Batas Atas Batas Baw ah -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120

Status Keefektifan Pengelolaan Ekow isata PPK

S u m b u Y

Real Ekow isata Titik Acuan Utama Titik Acuan Tambahan

Gambar 22 Kondisi eksisting indeks efektivitas pengelolaan ekowisata pesisir di gugus Pulau Togean ditinjau dari dimensi ekologi

Gambar 22 menunjukkan bahwa nilai indeks yang diperoleh dari hasil EFANSIEC sebesar 88.47 %. Nilai 88.47 % untuk IEPEP menunjukkan bahwa

pengelolaan ekowisata pesisir berdasarkan dimensi ekologi di gugus Pulau Togean saat ini dikategorikan sangat efektif sehingga diharapkan keberlanjutan obyek ekowisata pesisir PPK di kawasan ini tersebut masih tetap terjaga. Indeks yang diperoleh juga menunjukkan bahwa kegiatan ekowisata pesisir kategori wisata selam, snorkeling, wisata mangrove, wisata pantai saat ini umumnya telah berada pada kondisi yang sesuai dengan kondisi kawasan gugus Pulau Togean, kegiatan wisata pesisir belum melebihi daya dukung, pemanfaatan bangunan wisata telah sesuai dan kondisi perairan laut belum tercemar (sesuai baku mutu). Berdasarkan titik acuan tambahan, status keefektifan pengelolaan ekowisata pesisir berada di bawah garis horisontal (batas bawah). Ini berarti bahwa lima atribut pertama pada titik acuan baik (“good”) memiliki skoring yang lebih rendah (cenderung ke arah skor 0) dibanding lima atribut kedua. Atribut-atribut yang memiliki skor rendah (bernilai 1) tersebut yakni kesesuaian ekowisata selam dan kesesuaian ekowisata mangrove, sementara atribut lainnya memiliki rata-rata skor 2. Rendahnya nilai skor terkait dengan parameter kesesuaian kawasan terhadap kegiatan ekowisata tersebut antara lain berkurangnya tutupan terumbu karang dan mangrove, serta kurangnya keberadaan atraksi jenis wisata budaya yang terkait.

2. Dimensi ekonomi; status efektivitas pengelolaan ekowisata pesisir berdasarkan dimensi ekonomi disajikan pada Gambar 23.

Gambar 23 menunjukkan bahwa nilai indeks keefektifan pengelolaan yang diperoleh dari metode EFANSIEC terhadap 7 atribut dimensi ekonomi sebesar 40.94 %. Ini berarti bahwa baru 40.94 % kegiatan ekowisata pesisir di gugus Pulau Togean dikelola secara efektif dari sisi ekonomi. Berdasarkan nilai IEPEP, persentase keefektifan pengelolaan tersebut berada pada kategori kurang efektif. Nilai indeks pengelolaan ekowisata pesisir dari sisi ekonomi berada pada garis horisontal. Ini berarti bahwa nilai-nilai skor pada setiap atribut dalam dimensi ekonomi memiliki nilai yang merata dan cenderung ke arah nilai satu (kategori sedang). Hal ini menunjukkan bahwa tujuan yang diharapkan dari keberadaan kegiatan usaha wisata pesisir saat ini belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal dan daerah. Secara umum, upah dan pendapatan yang diterima dari usaha turunan kegiatan wisata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penyerapan tenaga kerja cenderung konstan, dan harga

produk wisata relatif rendah sehingga multiplier effect ekowisata pesisir tidak signifikan pada masyarakat lokal. Dampak yang ditimbulkan ini hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat yang terkait dengan kegiatan wisata, seperti

transporter guide lokal, sebagian kecil nelayan, homestay dengan tingkat hunian yang terbatas (tergantung kelebihan daya tampung cottage) dan sebagian kecil pedagang makanan/minuman kecil.

Batas Baw ah Batas Atas Buruk Baik -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120

Status Keefektifan Pengelolaan Ekow isata PPK

S u m b u Y

Real Ekow isata Titik Acuan Utama Titik Acuan Tambahan

Gambar 23 Kondisi eksisting indeks efektivitas pengelolaan ekowisata pesisir di gugus Pulau Togean ditinjau dari dimensi ekonomi

3. Dimensi sosial; status efektivitas pengelolaan ekowisata pesisir berdasarkan dimensi sosial selanjutnya disajikan pada Gambar 24.

Gambar 24 menunjukkan bahwa berdasarkan dimensi sosial, pengelolaan ekowisata pesisir di gugus Pulau Togean berada pada kategori cukup efektif, oleh karena indeks efektivitas menunjukkan nilai 52.02 % (di atas 50 %). Posisi status keefektifan pengelolaan berada pada batas atas atau dapat dikatakan kecenderungan hasil pengelolaan ekowisata pesisir saat ini mengarah pada kondisi yang cukup

baik. Status keefektifan pengelolaan dalam posisi ini masih perlu ditingkatkan dengan mengoptimalkan seluruh atribut dalam dimensi sosial.

Batas Baw ah Batas Atas Buruk Baik -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120

Status Keefektifan Pengelolaan Ekow isata PPK

S u m b u Y

Real Ekow isata Titik Acuan Utama Titik Acuan Tambahan

Gambar 24 Kondisi eksisting indeks efektivitas pengelolaan ekowisata pesisir di gugus Pulau Togean ditinjau dari dimensi sosial

Kondisi ril menunjukkan bahwa keberadaan wisman bagi masyarakat belum memberikan dampak yang nyata baik dari sisi perubahan perilaku maupun perubahan kualitas hidup. Terkait dengan interaksi sosial, wisman merasakan bahwa masyarakat lokal memiliki tingkat penerimaan dan persahabatan yang tinggi terhadap mereka. Interaksi masyarakat lokal dengan wisman belum nyata menyebabkan pergeseran nilai-nilai dan norma di masyarakat lokal. Pengetahuan masyarakat lokal tentang ekowisata yang masih rendah menyebabkan potensi sosial budaya belum dioptimalkan untuk menjadi atraksi ekowisata di daerah ini, kecuali pelaksanaan “festival togean” yang dilaksanakan sekali dalam setahun.

4. Dimensi kelembagaan; status efektivitas pengelolaan ekowisata pesisir

Batas Baw ah Batas Atas Buruk Baik -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120

Status Keefektifan Pengelolaan Ekow isata PPK

S u m b u Y

Real Ekow isata Titik Acuan Utama Acuan Tambahan

Gambar 25 Kondisi eksisting indeks efektivitas pengelolaan ekowisata pesisir di gugus Pulau Togean ditinjau dari dimensi kelembagaan

Gambar 25 menunjukkan bahwa dari sisi kelembagaan, pengelolaan kegiatan wisata pesisir di gugus Pulau Togean masuk dalam kategori kurang efektif. Hal ini ditunjukkan oleh nilai indeks keefektifan pengelolaan sebesar 45.91 %, yang berarti bahwa baru 45.91 % dimensi kelembagaan memberikan peran dalam pencapaian pengelolaan ekowisata pesisir yang efektif di gugus Pulau Togean. Status keefektifan pengelolaan berdasarkan titik acuan tambahan dalam dimensi ini menunjukkan terdapat atribut yang kinerjanya belum sesuai dengan tujuan awal, sementara pencapaian tujuan bagi atribut masih berada pada posisi antara baik dan buruk (sedang atau skor 1). Atribut yang belum optimal kinerjanya berdasarkan skor yang diperoleh saat ini (skor 0) adalah pelaksanaan regulasi fee untuk konservasi yang belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap upaya kelestarian terumbu karang, mangrove dan nilai budaya (obyek ekowisata).

Hasil EFANSIEC guna mengetahui status efektivitas pengelolaan ekowisata selanjutnya ditampilkan dalam bentuk diagram layang pada Gambar 26.

88.47 40.94 52.02 45.91 Ekologi Ekonomi Sos ial Kelembagaan

Gambar 26 Diagram layang nilai indeks efektivitas pengelolaan ekowisata pesisir di gugus Pulau Togean

Berdasarkan nilai-nilai status efektivitas pengelolaan yang diperoleh bagi keempat dimensi memperlihatkan bahwa ternyata dimensi ekonomi dan kelembagaan merupakan dimensi yang paling lemah (di bawah nilai 50 %) dalam menunjang keefektifan pengelolaan ekowisata pesisir secara umum. Ini berarti bahwa kedua dimensi tersebut harus ditingkatkan dan atau dipertahankan statusnya guna keberlanjutan pengelolaan ekowisata pesisir di gugus Pulau Togean. Sebaliknya, ada 2 (dua) dimensi pengelolaan yang masuk dalam kategori cukup efektif (sosial) dan sangat efektif pengelolaannya (ekologi). Diagram layang-layang juga dapat memberikan informasi bahwa semakin ke arah titik pusat kedudukan/nilai status keefektifan pengelolaan, semakin buruk peran dimensi tersebut dalam efektivitas pengelolaan ekowisata pesisir. Indeks keefektifan pengelolaan pada dimensi ekonomi, sosial dan kelembagaan dapat ditingkatkan kontribusinya ke arah kategori yang lebih efektif (baik) dengan melakukan analisis tingkat kepentingan atau sensitivitas (“leverage”) terhadap atribut penyusunnya. Hasil analisis sensitivitas selanjutnya dibahas pada sub-sub bab analisis sensitivitas pengelolaan ekowisata pesisir.

Hasil EFANSIEC per dimensi gabungan seluruh atribut (dimensi) efektivitas pengelolaan ekowisata pesisir di gugus Pulau Togean disajikan pada Gambar 27.

Batas Bawah Batas Atas Buruk Baik -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120

Status Keefektifan Pengelolaan Ekowisata PPK

S u m b u Y

Real Ekow isata Titik Acuan Utama Titik Acuan Tambahan

Gambar 27 Hasil EFANSIEC yang menunjukkan nilai efektivitas pengelolaan ekowisata pesisir pada kondisi eksisting di gugus Pulau Togean

Hasil analisis untuk gabungan seluruh dimensi pengelolaan pada Gambar 27 menunjukkan bahwa indeks keefektifan pengelolaan ekowisata pesisir (IEPEP) di gugus Pulau Togean mencapai 62.50 % pada skala 0 % – 100 %. Ini berarti bahwa hasil penilaian terhadap 20 atribut penting yang tercakup dalam 4 dimensi pembangunan ekowisata, menunjukkan pengelolaan ekowisata pesisir di gugus Pulau Togean kawasan TNKT berada pada kategori cukup efektif (nilai IEPEP pada kategori 51 % - 75 %). Berdasarkan titik acuan tambahan untuk seluruh dimensi menunjukkan bahwa sepuluh atribut pertama titik acuan utama baik (“good”) yang digunakan untuk titik acuan tambahan batas atas (“up”), memiliki nilai skor yang besar atau cenderung mengarah pada kondisi baik (skor 2) sehingga kondisi ini dicapai tersebut harus dijaga, sementara sepuluh atribut sisanya harus

ditingkatkan pencapaian tujuannya. Atribut-atribut yang telah dikelola secara baik tersebut umumnya terkait dengan atribut ekologi, sementara pencapaian tujuan pengelolaan bagi atribut yang terkait dengan dimensi pembangunan ekonomi, sosial dan kelembagaan masih berada pada kondisi yang buruk (skor 0) sampai sedang (skor 1). Berdasarkan nilai IEPEP gabungan yang diperoleh dari empat dimensi, maka indeks pengelolaan ekowisata yang dicapai saat ini harus ditingkatkan nilainya melalui perbaikan pada atribut-atribut penting yang mempengaruhi pengelolaan ekowisata pesisir.

4.4.3. Nilai Sensitivitas Atribut Pengelolaan Ekowisata Pesisir

Analisis sensitivitas atribut (analisis leverage) ditujukan untuk mengetahui peranan setiap atribut dalam membentuk nilai IEPEP. Nilai RMS yang diperoleh merupakan nilai absolut dari perubahan indeks keefektifan pengelolaan jika salah satu atribut pada setiap dimensi dihilangkan. Makin besar nilai perubahan RMS akibat hilangnya atribut tertentu, semakin besar pula peranan atribut tersebut dalam pembentukan nilai indeks (Susilo 2003). Metode EFANSIEC dalam penelitian ini mencoba mensimulasi apakah nilai RMS yang dimiliki suatu atribut penting jika dihilangkan dapat mempengaruhi indeks yang diperoleh. Namun perlu diketahui bahwa jika ada beberapa atribut yang penting bukan berarti atribut lain tidak penting, akan tetapi atribut penting tersebut dapat saja mewakili atribut lainnya (Susilo 2003). Hasil analisis sensitivitas dan perubahan nilai RMS pada setiap dimensi pengelolaan dan gabungan selengkapnya disajikan Tabel 29.

Tabel 29 menunjukkan bahwa besar-kecilnya perubahan nilai RMS pada setiap atribut dan indeks dipengaruhi oleh nilai skor atribut yang bersangkutan. Hasil EFANSIEC memperlihatkan beberapa kecenderungan yakni:

(1) Jika skor yang dimiliki setiap atribut dalam satu dimensi didominasi oleh skor yang tinggi atau kategori baik (skor 2) sementara atribut lainnya memiliki memiliki skor buruk sampai sedang (skor 0-1), maka ada kecenderungan hasil analisis untuk atribut yang buruk memiliki nilai perubahan RMS yang tinggi, misalnya pada dimensi ekologi dan gabungan. Jika atribut yang memiliki skor buruk dan memiliki nilai perubahan RMS tinggi dikeluarkan dari analisis, maka akan meningkatkan nilai IEPEP. Hal ini ini diperlihatkan oleh hasil simulasi (2)

dimensi ekologi dan gabungan, dimana terjadi peningkatan nilai IEPEP masing- masing dari 88.47% menjadi 95.17% dan dari 62.50% menjadi 65.91%. Tabel 29 Analisis sensitivitas dan perubahan nilai RMS terhadap atribut pada

setiap dimensi pengelolaan dan gabungan dimensi

No

Atribut per Dimensi Pengelolaan dan Indeks Efektivitas

Pengelolaan Ekowisata Pesisir (IEPEP)

Data Skor

Persentase Perubahan RMS

Analisis per Dimensi Analisis Gabungan Basis 1 2 Basis 1 2

1. Ekologi

Kesesuaian ekowisata selam 1 4.68 5.61 4.84 0.72 1.06 0.59 Kesesuaian ekowisata snorkeling 2 0.09 Keluar 0.28 Keluar Keluar Keluar

Kesesuaian ekowisata mangrove 1 7.14 7.31 Keluar 0.48 Keluar 0.30 Kesesuaian ekowisata rekreasi 2 1.27 0.95 0.36 1.80 1.87 1.85 Daya dukung ekowisata selam 2 1.64 1.74 0.70 2.02 2.11 2.03 Daya dukung ekowisata snorkeling 2 1.76 1.98 0.81 2.21 2.32 2.19 Daya dukung ekowisata mangrove 2 1.87 2.09 0.89 2.36 2.48 2.31 Daya dukung ekowisata rekreasi 2 2.04 2.36 1.08 2.46 2.59 2.38 Pemanf. lahan untuk fasil.wisata 2 2.19 2.74 1.34 2.48 2.63 2.39 Daya dukung kualitas Perairan 2 2.13 2.71 1.42 2.42 2.59 2.32

IEPEP (%) 88.47 88.14 95.17

2. Ekonomi

Optimum jumlah wisman 2 1.22 Keluar 0.08 Keluar Keluar Keluar

Optimum harga produk wisata 0 4.29 3.94 4.37 3.55 3.80 3.75

Diversifikasi/optimasi

ekow.pesisir 0 6.33 5.79 Keluar 3.63 3.95 Keluar

Kamar dan jumlah kunjungan 1 3.43 2.88 0.81 1.48 1.50 1.91 Upah tenaga kerja lokal thd UMP 1 3.74 3.23 1.40 1.39 1.37 1.87 Trend jml tenaga kerja lokal 1 2.76 3.03 0.80 1.30 2.38 1.79 Pendapatan masyarakat dari usaha

turunan 1 1.48 3.96 0.21 Keluar Keluar Keluar

IEPEP (%) 40.94 42.81 46.83

3. Sosial

Kenyamanan masyarakat dan

wisman 2 2.22 3.59 3.59 1.79 1.26 1.69

Perub.sikap/perilaku masyarakat

terhadap wisman 1 0.36 Keluar 2.40 Keluar Keluar Keluar

Pengetahuan ekowisata 1 1.37 2.40 2.65 1.27 1.33 1.70 Konflik dgn pemanfaatan lain 1 1.31 2.65 4.32 Keluar Keluar Keluar

Perubahan kualitas hidup masy. 1 2.48 4.32 Keluar 1.34 1.45 1.71

IEPEP (%) 52.02 53.30 53.30

4. Kelembagaan

Efektif. Regulasi fee konservasi 0 3.80 6.96 6.96 1.68 2.05 1.78 Zonasi & Aturan Pemanfaatn 1 1.97 Keluar 9.47 Keluar Keluar Keluar

Penegakan hokum 1 2.57 9.47 8.66 1.41 1.64 1.66 Penyediaan Infrastruk. Penunjang 1 4.04 8.66 Keluar 1.51 1.79 1.68

IEPEP (%) 45.91 42.62 42.62

5. IEPEP GABUNGAN (%) 60.25 59.62 63.83 Keterangan:

1 atau bold = simulasi menghilangkan atribut yang memiliki nilai perubahan RMS terendah 2 atau italic bold =simulasi menghilangkan atribut yang memiliki nilai perubahan RMS tertinggi

(2) Sebaliknya jika atribut yang memiliki nilai perubahan RMS rendah dengan skor tertinggi dikeluarkan dari analisis, maka perubahan IEPEP cukup kecil (simulasi 1 dimensi ekologi dan gabungan). Ini berarti bahwa atribut yang sudah baik pengelolaannya harus dipertahankan, sedangkan yang buruk harus ditingkatkan dan menjadi prioritas pengelolaan.

(3) Jika atribut-atribut pada suatu dimensi didominasi oleh skor sedang (skor 1), sementara sisanya terdapat skor baik (skor 2) dan skor buruk (skor 0), nilai perubahan RMS atribut sisa tersebut cenderung tinggi dan paling rendah. Atribut dengan skor baik cenderung memiliki nilai perubahan RMS rendah, sebaliknya atribut dengan skor rendah cenderung memiliki nilai perubahan RMS tinggi dalam mempengaruhi IEPEP. Kasus ini diperlihatkan oleh dimensi ekonomi, dimana atribut optimum jumlah kunjungan wisman menunjukkan kondisi baik untuk saat ini (dengan kondisi prasarana yang ada), sementara itu diversifikasi dan harga produk ekowisata skor masih sangat rendah sehingga perlu ditingkatkan nilainya. Jika atribut yang memiliki skor buruk dihilangkan dari analisis leverage, maka terjadi peningkatan nilai IEPEP.

(4) Jika pada suatu dimensi pengelolaan memiliki jumlah atribut terbatas (dalam penelitian ini di bawah 6 atribut), nilai-nilai perubahan RMS setiap atribut yang dianalisis secara tidak nyata memiliki keterkaitan dengan skor awal yang dimiliki. Walaupun demikian, kecenderungan atribut yang memiliki skor buruk dan skor baik memiliki nilai perubahan RMS yang tinggi. Hal ini diperlihatkan oleh dimensi sosial dan dimensi kelembagaan. Satu atribut pada dimensi sosial yang memiliki skor baik dan sedang memiliki nilai RMS tinggi dan satu atribut yang memiliki skor sedang memiliki nilai RMS tinggi. Demikian pula pada dimensi kelembagaan, satu atribut dengan skor rendah memiliki nilai RMS cukup tinggi walaupun ada atribut lain yang memiliki skor sedang bernilai RMS lebih tinggi. Hal penting lain terkait dengan pembentukan nilai IEPEP dalam kondisi ini, bahwa dikeluarkannya satu atribut dengan RMS terendah (skor sedang) pada dimensi sosial (perubahan kualitas hidup) menyebabkan peningkatan nilai IEPEP. Sebaliknya dikeluarkannya satu atribut dengan RMS terendah (skor sedang) pada dimensi kelembagaan (penyediaan infrastruktur penunjang kegiatan ekowisata dan regulasi fee konservasi) menyebabkan

penurunan nilai IEPEP. Namun, secara umum atribut yang dikeluarkan dari analisis EFANSIEC dapat dikatakan penting dalam mempengaruhi perubahan indeks pengelolaan ekowisata pesisir.

Atribut-atribut pengungkit (penting) untuk setiap dimensi pengelolaan ekowisata pesisir secara berturut-turut dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Dimensi Ekologi

Atribut pada dimensi ekologi yang perlu ditingkatkan efektivitas pengelolaannya dalam kegiatan ekowisata pesisir di gugus Pulau Togean adalah kesesuaian kawasan PPK untuk ekowisata mangrove dan kesesuaian kawasan untuk ekowisata selam. Kedua atribut tersebut memiliki peran dalam penentuan posisi kegiatan ekowisata pesisir secara langsung saat ini (wisata mangrove dan wisata selam). Jika aktivitas ekowisata selam menunjukkan arah yang tidak sesuai secara ekologi, ini berarti bahwa parameter yang terkait langsung dengan obyek ekowisata selam (terumbu karang) terjadi gangguan. Demikian pula kegiatan ekowisata mangrove yang sudah tidak sesuai, menunjukan bahwa terdapat parameter kesesuaian yang telah terganggu misalnya kerapatan, jenis mangrove dan asosiasinya yang berkurang. Dikhawatirkan, ketidaksesuaian kegiatan ekowisata mangrove dan selam memberikan pengaruh negatif terhadap kegiatan lain seperti ekowisata snorkeling dan pantai. Wong (1998), penurunan luasan mangrove menyebabkan peningkatan erosi pantai yang selanjutnya berpengaruh terhadap keberadaan cottage dan wisata pantai. Hal ini disebabkan oleh adanya interaksi antara ekosistem mangrove dengan ekosistem terumbu karang melalui 5 (lima) tipe interaksi yakni fisik, bahan organik terlarut, bahan organik partikel, migrasi fauna, dan dampak manusia (Ogden dan Gladfelter dalam Bengen 2001). Chazottes et al. (2002); ISRS (2004) menyatakan bahwa persentase karang yang terancam oleh aliran permukaan dari daratan (antropogenik) diperkirakan mencapai lebih dari 50 %, sedangkan menurunnya kualitas air akibat pencemaran menambah tekanan terhadap karang hingga mencapai 30 %. Iftekhar and Islam (2004), pengelolaan

mangrove dapat menggunakan pendekatan integrated coastal zone management

(ICM) guna mencegah dampak kerusakan alami seperti sedimentasi, erosi maupun minimalisir dampak badai dan tsunami. Salah pendekatan yang digunakan dalam ICM adalah konsep ekowisata yang memuat tentang perlunya kegiatan wisata

berbasis konservasi sumberdaya alam guna meningkatkan kualitas obyek wisata dan peningkatan nilai ekonomi dan sosial (Katon et al. 2000).

b. Dimensi Ekonomi

Atribut dalam dimensi ekonomi yang dianggap penting untuk dikelola adalah diversifikasi kegiatan ekowisata, atribut optimum harga produk wisata pesisir dan atribut upah tenaga kerja terhadap UMP. Upah tenaga kerja sangat penting dalam kegiatan ekowisata karena terkait dengan peningkatan kualitas hidup rumahtangga tenaga kerja lokal. Makin tinggi upah yang dibayarkan ke pekerja wisata, semakin banyak kebutuhan utama rumahtangga yang dapat dipenuhi, seperti kebutuhan untuk pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan, pakaian dan tabungan.

Diversifikasi dan harga produk wisata (dalam hal ini biaya yang dikeluarkan selama menikmati obyek wisata) berpengaruh terhadap perubahan permintaan wisman dan efek pengganda terhadap produk turunan wisata lain. Efek yang ditimbulkan adalah menstimulir tumbuhnya usaha-usaha turunan dalam skala kecil dan rumahtangga yang mampu meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup masyarakat lokal. Jika obyek wisata sebagai proksi dari sumberdaya alam mengalami degradasi, maka akan terjadi penurunan dalam kesediaan wisman mancanegara untuk membayar nilai obyek wisata tersebut. Terkait dengan kondisi sumberdaya alam (obyek wisata) yang relatif masih baik, nilai ekonomi obyek ekowisata gugus Pulau Togean mampu dibayar oleh wisman sebesar US$ 1 444.82. Produk yang dihasilkan oleh sumberdaya PPK (langsung ataupun secara langsung) pada dasarnya sangat beragam sehingga memiliki nilai produk yang besar. Keragaman produk wisata termasuk ekowisata budaya dan pangsa pasar dapat meningkatkan nilai ekonomi dan jika dimanfaatkan secara optimal akan meningkatkan kontribusi ekonomi daerah (Iftekhar and Islam 2004). Selain itu, kegiatan ekowisata mampu mengurangi dampak kerusakan, dan jika dikelola dengan baik akan cocok untuk tujuan konservasi biodiversitas (Salam et al. 2000).

c. Dimensi Sosial

Berdasarkan nilai skor dan perubahan nilai RMS, atribut yang memiliki peran penting dalam dimensi sosial yakni perubahan kualitas hidup masyarakat lokal dan kenyamanan wisman dan masyarakat lokal dalam melaksanakan kegiatannya masing-masing. Kenyataan menunjukkan bahwa kualitas hidup

masyarakat di Kepulauan Togean masih sangat rendah. Hal ini dapat ditunjukkan oleh tingkat pendidikan masyarakat lokal (terutama etnis Bajau) yang umumnya adalah sekolah dasar, dan fasilitas pendidikan hanya sampai pada sekolah lanjutan pertama (SLTP), sementara setingkat tingkat atas berada di kecamatan lain (aksesibilitas yang sulit). Hal ini disebabkan karena pola matapencaharian sebagai nelayan yang menyebabkan seluruh anggota keluarga ikut pindah ke wilayah lain dengan tidak menetap menurut musim penangkapan ikan. Selain itu, saat anak masih dalam usia prasekolah, kegiatan melaut telah diakulturasikan ke anak sehingga lingkungan kehidupan laut identik dengan kegiatan sehari-hari. Dari sisi kesehatan, hanya beberapa desa memiliki sumber air bersih dan prasarana kesehatan yang cukup, sementara limbah rumahtangga umumnya dibuang ke laut. Permasalahan ini dapat menjadi faktor penghambat dalam upaya mobilitas vertikal sosial masyarakat, sehingga diperlukan pendekatan kultural dan struktural dalam pemecahannya (Satria 2002).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kenyamanan wisman dan masyarakat lokal merupakan atribut penting yang terkait dengan terjadinya perubahan sikap dan perilaku dalam masyarakat. Perilaku wisman dari sisi pengetahuan dan penghargaan terhadap alam yang sangat besar diharapkan dapat diserap oleh masyarakat lokal, secara ekologi dan ekonomi mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan ekowisata pesisir. Pengetahuan masyarakat terhadap kegiatan wisata pesisir berbasis ekosistem dan nilai budaya sangat penting dalam melestarikan sumberdaya alam (atraksi utama ekowisata pesisir). Disadari bahwa ada kecenderungan pelaksanaan nilai budaya lokal dalam pemanfaatan sumberdaya alam di Kepulauan Togean mengalami pergeseran (Sangadji 2010). Sebaliknya, kehadiran wisman dalam jumlah besar (melebihi daya dukung) berpotensi merubah nilai-nilai sosial budaya (cultural identity) masyarakat lokal (Orams 1999).

d. Dimensi Kelembagaan

Tabel 29 juga menunjukkan bahwa atribut yang memberikan nilai sensitivitas tertinggi dalam mempengaruhi efektivitas pengelolaan wisata pesisir berbasis ekosistem ditinjau dari dimensi kelembagaan adalah efektivitas regulasi tentang pembayaran fee untuk konservasi dan ketersediaan infrastruktur penunjang kegiatan ekowisata pesisir. Kenyataan menunjukkan bahwa aturan pembayaran fee

untuk konservasi bagi pengusaha melalui pembayaran pajak usaha wisata (hotel dan restoran) bagi setiap pengunjung telah diatur oleh pemerintah daerah. Namun wujud program yang ditujukan untuk konservasi terumbu karang dan mangrove belum nyata keberadaannya. Di lain pihak masih ditemukan beberapa pelanggaran pemanfaatan sumberdaya PPK baik di kawasan terumbu karang (penangkapan ikan menggunakan bom dan kompresor).

Terkait dengan penyediaan infrastruktur, kebutuhan akan transportasi yang efisien sangat diperlukan di kawasan ini guna meminimalkan biaya perjalanan. Selain itu, diperlukan ketersediaan prasarana air bersih, kelistrikan dan telekomunikasi yang memadai. Program pengadaan prasarana perlu melibatkan pemerintah pusat, oleh karena membutuhkan biaya yang cukup besar. Keberadaan prasarana tersebut diharapkan dapat meminimalisir biaya bagi usaha wisata dan juga bagi penduduk secara umum. Hall (2001) menyatakan bahwa salah satu strategi pengelolaan wisata pesisir berkelanjutan yakni dengan pemberlakuan insentif keuangan (financial incentives) seperti pajak, harga, subsidi, dan bantuan yang diperuntukkan bagi pembangunan infrastruktur wisata dan pemberdayaan masyarakat lokal. Perencanaan pengelolaan kegiatan ekowisata mangrove yang terpadu tidak akan berhasil tanpa adanya intervensi ekonomi dan regulasi serta