• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lumpur Lapindo

E. Indikasi Pelanggaran HAM dalam Eksplorasi Migas

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyatakan lumpur Lapindo yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, merupakan pelanggaran hak asasi manusia180. Keputusan tersebut diambil melalui rapat paripurna Komnas HAM. ”Kami meminta temuan tim investigasi Komnas HAM digunakan untuk penyidikan lebih lanjut oleh kepolisian,” kata Wakil Ketua Komnas HAM, Nur Kholis, dalam konferensi pers di Jakarta.Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Abdul Hakim Garuda Nusantara, mengatakan bahwa Lapindo Brantas Inc., harus bertanggung jawab atas tercerabutnya hak-hak ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan warga di sekitar Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Negara juga tetap harus menjalankan fungsinya melindungi hak-hak warga negara181. Namun demikian, Komnas HAM menilai bahwa dalam kasus bencana Lumpur Lapindo tidak memenuhi unsur pelanggaran HAM berat.

Berdasarkan pemantauan Komnas HAM menangkap adanya indikasi telah terjadi pelanggaran HAM di beberapa sektor kehidupan, yakni: Pertama, adalah perusakan lingkungan, padahal dalam UUD 1945 disebutkan setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat; Kedua, hak anak-anak atas pendidikan juga tercerabut karena sedikitnya 33 sekolah terendam lumpur yang mengakibatkan sekitar 5.397 siswa harus dimutasi ke sekolah lain atau belajar di sekolah darurat; Ketiga, Hak masyarakat untuk bekerja atau membuat pekerjaan baru juga lenyap terendam lumpur. Akibat beberapa perusahaan terendam lumpur, sehingga banyak buruh kehilangan pekerjaannya; dan Keempat, Hak warga atas kepemilikan juga dilanggar karena saat ini tanah, sawah, dan harta warga tak bernilai ekonomis lagi. Selain itu, masyarakat kehilangan rasa aman dan selalu resah akibat tumpang tindihnya berbagai kepentingan182.

180 Mengacu kepada hasil “Ringkasan Eksekutif Hasil Penyelidikan Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Yang Berat Peristiwa Lumpur Panas Lapindo”. Lihat: http:// www.komnasham.go.id/publikasi.

181 https://nasional.tempo.co/read/news/2012/08/14/063423492/komnas-ham-kasus-lapindo-adalah-kejahatan.

Selanjutnya Komnas HAM jugamencatat bahwa bencana Lumpur Lapindodi Sidoarjotelah menimbulkan kondisi yang mengakibatkan tidak terlindungi dan terpenuhinya hak asasi korban183. Hak-hak yang terlanggar antara lain: (1) Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, seperti dijamin dalam Pasal 27 Ayat (2) UUD 1945; (2) Hak untuk bekerja, mendapat imbalan, dan perlakuan adil dan layak dalamhubungan kerja, sebagaimana dijamin Pasal 28-D Ayat (2) UUD 1945; (3) Hak untuk hidup serta mempertahankan hidup dan kehidupannya, sebagaimanadijamin Pasal 27-A UUD 1945; (4) Hak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta hak atas rasa aman dan perlindungan dariancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu, yang merupakan hak asasi, seperti dijamin Pasal 28-G Ayat (1) UUD 1945; (5) Hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatlingkungan hidup yang baik dan sehat, serta hak mendapat layanan kesehatan,sebagaimana dijamin Pasal 28-H Ayat (1) UUD 1945; (6) Hak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasar; hak mendapat pendidikan dan manfaat dari ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidup dan demi kesejahteraan manusia, seperti dijamin Pasal 28-C UUD 1945; dan (7) Hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, sebagaimanadijamin Pasal 28-B Ayat (2) UUD 1945.Pasal 28-I UUD 1945 mengamanatkan, perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.

Investigasi yang dilakukan Komnas HAM sejak 2009 paling tidak menemukan 15 kategori pelanggaran hak asasi manusia dalam kasus lumpur Lapindo. Pelanggaran itu adalah: pelanggaran hak untuk hidup karena adanya korban meninggal dunia, pelanggaran hak atas informasi karena rencana kegiatan eksplorasi minyak dan gas di sana tidak diketahui masyarakat, hak atas rasa aman karena ancaman runtuhnya tanggul lumpur, hak

mengembangkan diri, hak atas perumahan karena tenggelamnya tempat tinggal. Komnas HAM juga menyatakan pengungsi lumpur Lapindo tak mendapat hak atas pangan dan kesehatan, hak atas pekerjaan dan hak pekerja karena lumpuhnya perekonomian di Sidoarjo, hak atas pendidikan karena rusaknya 33 sekolah sehingga siswa kesulitan bersekolah. Selain itu, yang turut dilanggar adalah hak berkeluarga dan berketurunan, hak milik, hak atas jaminan sosial, hak para pengungsi, dan hak kelompok rentan, seperti perempuan hamil dan menyusui, penyandang cacat, lansia, anak, dan perempuan184.

Selain Komnas HAM, Komnas Perempuan juga menyampaikan hasil temuan timnya yang dituangkan dalam “Laporan Pemetaan Pelanggaran Hak Asasi Perempuan dalam Bencana Luapan Lumpur di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur”. Kesimpulan laporan tersebut adalah bahwa telah terjadi pelanggaran hak-hak dasar warga negara yang mempengaruhi kehidupan lebih dari 24 ribu warga di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, baik oleh eksekutif (melalui terbitnya beberapa Perpres), oleh Yudikatif (melalui keputusan-kepurusan pengadilan), maupun legislatif (melalui persetujuan APBN), antara lain: (1) Hak atas informasi, sejak awal warga yang tinggal di sekitar lokasi pengeboran tidak diberikan informasi yang jelas tentang rencana pembangunan dan dampak dari pengeboran gas bumi oleh PT Lapindo Brantas; (2) Hak atas penghidupan yang layak, ribuan masyarakat kehilangan rumahnya tempat berlindung seketika, mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk menyusun kehidupan mereka di masa depan dan membangun rumah tangga yang aman dan nyaman sebagai keluarga dan komunitas; (3) Hak atas pekerjaan, ribuan buruh yang kehilangan pekerjaan karena banyak industri di sekitar lokasi pengeboran yang terendam lumpur dan terpaksa tutup. Sementara, lapangan pekerjaan informal juga musnah seiring dengan musnahnya kehidupan bermasyarakat yang menjadi pelanggan; (4) Hak atas lingkungan yang baik dan sehat, luapan lumpur dan gas yang keluar menyebabkan makhluk hidup termasuk manusia,

184 http://www.tempo.co/read/news/2012/08/14/063423492/Komnas-HAM-Kasus-Lapindo-Adalah-Kejahatan.

tumbuhan dan ternak tidak dapat bertahan hidup di lokasi; (5) Hak atas perumahan, ada ribuan warga yang rumahnya terendam lumpur lapindo terpaksa harus pindah. Sebagian dari mereka, setidaknya, bertahan hidup di pengungsian selama tiga tahun; (6) Hak atas kesehatan, aroma lumpur dan gas yang disemburkan oleh lumpur Lapindo membuat penduduk sekitar mengalami sesak napas. Bahkan para medis menganjurkan ibu hamil untuk pindah jauh dari lokasi karena takut aroma dari gas yang disemburkan oleh lumpur Lapindo tersebut akan membahayakan pada pertumbuhan janin; dan (7) Hak atas pendidikan yang layak, anak-anak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak karena orang tua mereka tidak mampu lagi membiayai pendidikan mereka185.

The Centre on Housing Right and Eviction (COHRE), yakni lembaga internasional dibawah naungan PBB yang memperjuangkan hak perumahan, memberikan perhatian yang besar terhadap bencana lumpur Lapindo. Bahkan COHRE mengusulkan PT LBI sebagai nominator pelanggar hak pemukiman186.

F. Dampak Bencana Lumpur Lapindo Terhadap Munculnya