Korban Bencana Lumpur Lapindo
A. Situasi dan Kondisi yang Mendasari Munculnya Gerakan Sosial Korban Bencana Lumpur Lapindo
1. Terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 14 Tahun 2007
Sebagai respons atas tuntutan korban bencana Lumpur Lapindo kepada pihak pemerintahtentang perlunya jaminan (payung) hukum dalam proses pembayaran ganti rugi sebagaimana dijelaskan pada Bab IV, presiden kemudian mengeluarkan kebijakan yang tertuang dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 14 Tahun 2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), tertanggal 8 April 2007.
Terdapat beberapa poin penting terkait isi dari Perpres Nomor 14 Tahun 2007 yakni: (1) Dibentuk suatu badan, yaitu Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) sebagai pengganti Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo (Timnas PSLS). Tugas utama BPLS adalah menangani upaya penanggulangan Lumpur, menangani luapan lumpur, dan menangani masalah sosial dan infrastrukutr akibat luapan lumpur di Sidoarjo; (2) Peta Area Terdampak (PAT) Lumpur Sidoarjo dibagai menjadi dua wilayah
PAT, yakni wilayah dalam PAT dan wilayah luar PAT, dimana untuk wilayah dalam PAT tanggung jawab penyelesaiannya menjadi tanggung jawab PT LBI, sedangkan untuk wilayah luar PAT tanggung jawab penyelesaianya menjadi tanggung jawab pihak pemerintah; (3) mekanisme penggantian aset tanah dan bangunan milik warga yang tergenang lumpur diatur melalui mekanisme jual-beli dengan akta jual-beli bukti kepemilika tanah yang mencantumkan luas tanah dan lokasi yang disahkan oleh Pemerintah; (4) proses pembayaran jual-beli dilakukan secara bertahap dimana 20% dibayarkan dimuka dan sisanya sebesar 80% dibayar paling lambat dalam kurun waktu 2 tahun; dan (5) Pemerintah secara resmi menyebut istilah Lumpur Sidoarjo (Lusi) bukan Lumpur Lapindo (Lula).
Hal yang paling dianggap kontroversial oleh korban bencana Lumpur Lapindo dari substansi Perpres Nomor 14 Tahun 2007 tersebut diatas adalah terkait dengan proses pembayaran ganti-rugi atas aset tanah dan bangunan milik warga korban bencana melalui mekanisme jual-beli dengan dengan bukti kepemilikan yang sah, dimana pihak PT LBI mensyaratkan bukti kepemilikan yang sah berupa sertifikat tanah dan sertifikat rumah (bangunan) dengan bukti surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), sementara bukti Petok D dan Letter-C tidak diakui sebagai bukti yang sah. Persoalannya adalah bahwa sebagian besar korban bencana Lumpur Lapindo tidak memiliki bukti sertifikat tanah dan rumah, serta bukti surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).
Paling tidak terdapat dua hal yang sangat krusial dari substansi kebijakan pemerintah tentang penanganan bencana Lumpur Lapindo yang dituangkan dalam bentuk Perpres Nomor 14 Tahun 2007 tersebut, yakni:
Pertama, didalam Perpres tersebut diatur tentang pembagian wilayah yang terkena dampak lumpur Lapindo, yakni wilayah di dalam Peta Area Terdampak (dalam PAT) dan wilayah diluar Peta Area Terdampak (luar PAT). Dalam proses penyelesaian ganti rugi (jual-beli), wilayah yang di luar PAT pembayaran menjadi tanggungjawab pihak PT LBI, sementara wilayah di luar PAT proses penyelesaian ganti rugi (jual-beli) menjadi tanggungjawab pemerintah melalui dana APBN. Dalam perjalanan selanjutnya,
proses ganti rugi di wilayah dalam PAT tidak berjalan dengan lancar, bahkan hingga tahun 2012 PT LBI belum menyelesaikan proses ganti rugi secara tuntas. Sementara bagi warga korban yang ada di luar wilayah PAT, yang proses ganti ruginya menjadi tanggungjawab pemerintah melalui dana APBN, pelaksanaan pembayaran ganti rugi relatif berjalan dengan lancar. Kondisi ini dianggap oleh warga korban yang masuk ke dalam wilayah PAT sebagai bentuk diskriminasi dan ketidakadilan dari pemerintah terhadap warga negara.
Kebijakan pemerintah yang membagi wilayah Peta Area Terdampak bencana Lumpur Lapindo menjadi dua wilayah menyebabkan kekuatan kolektif gerakan sosial korban bencana Lumpur Lapindo menjadi terpecah. Warga korban yang masuk wilayah luar Peta Area Terdampak (Luar PAT) umumnya tidak terlalu peduli dengan aksi gerakan sosial karena proses pembayaran jual beli berjalan dengan lancar melalui jaminan pemerintah dari alokasi dana APBN. Mereka hanya melakukan aksi saat menuntut agar wilayahnya dimasukan kedalam wilayah PAT. Hal ini menimbulkan rasa iri pada warga korban yang masuh wilayah dalam PAT, karena proses pembayaran jual beli mengalami kemacetan. Padahal ketentuan yang diatur Perpres adalah bahwa proses pembayaran jual beli bagi korban yang ada di wilayah luar PAT akan diselesaikan setelah proses pembayaran jual beli bagi korban yang ada di wilayah dalam PAT sudah diselesaikan oleh pihak PT LBI.
Kedua, didalam Perpres tersebut juga diatur tentang pemberian kompensasi ganti rugi bagi masyarakat yang menjadi korban. Mekanisme pemberian ganti rugi kepada korban bencana Lumpur Lapindo ditetapkan melalui skema jual-beli, dimana warga korban bencana Lumpur Lapindo sebagai pihak yang menjual aset tanah dan bangunan yang hancur tergenang lumpur dan pihak PT LBI dan pemerintah sebagai pihak yang membeli aset. Syarat terjadinya proses jual-beli adalah bahwa warga korban bencana Lumpur Lapindo harus menunjukkan bukti otentik berupa sertifikat tanah dan rumah (bangunan), serta bukti surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Persoalan yang muncul adalah bahwa ternyata bukti persyaratan administratif yang disampaikan oleh pihak PT LBI tidak
bisa dipenuhi oleh sebagian besar warga korban. Misalnya, dari 800 berkas yang milik warga korban di Desa Jatirejo, hanya 10 orang yang memiliki sertifikat tanah dan hanya satu orang yang memiliki IMB. Sementara dari jumlah keseluruhan berkas milik warga di empat desa, yakni sebanyak 4.000 berkas, dimana yang paling banyak berkas milik warga dari Desa Kedungbendo, ternyata hanya 110 berkas saja yang bersertifikat.
Dengan demikian nampak bahwa kebijakan pemerintah dalam penanganan dampak Lumpur Lapindo menimbulkan perasaan diskriminatif pada warga korban yang ada di wilayah dalam PAT dan menempatkan posisi warga korban dalam posisi yang lemah. Kondisi seperti ini ternyata berdampak pada melemahnya kekuatan kolektif gerakan sosial korban bencana Lumpur Lapindo sehingga kerja gerakan sosial menjadi tidak efektif.
Seperti halnya pada periode pertama, maka munculnya kebijakan pemerintah dengan terbitnya Perpres No. 14/2007 juga lepas dari konteks konstelasi politik pemerintahan Presiden SBY pada saat itu. Pada kurun waktu pemerintahan Presiden SBY, yakni periode 2005-2009, posisi ARB adalah sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (7 Desember 2005 sampai 20 Oktober 2009).
2. Ketidakpercayaan (Distrust) Korban Bencana Lumpur