1 PENDAHULUAN Latar Belakang
2009 2010 2011 2009 2010 2011 IPM Rank IPM Rank IPM Rank IKLH 1) Rank IKLH 2) Rank IKLH 2) Rank
2.1.2. Indikator Pembangunan Berkelanjutan
Terkait dengan empat pilar yang menjadi pendukung pembangunan berkelanjutan, maka indikator pembangunan juga mencakup keempat pilar tersebut. Moldan dan Dahl (2007) menyebutkan penjabaran dari keempat pilar tersebut sebagai berikut :
a) Aspek lingkungan biofisik, termasuk akses terhadap lahan, sumberdaya alam, air bersih, perumahan dan energi, didalamnya terkait ketersediaan infrastruktur dan teknologi informasi
b) Aspek ekonomi, untuk level individu terkait pendapatan minimum untuk dapat hidup layak, akses dalam aktivitas sosial ekonomi, hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Termasuk juga akses dalam pasar, hambatan masuk ke pasar serta akses ke pasar kredit (aspek finansial).
c) Aspek sosial, termasuk akses terhadap pengetahuan, informasi dan pengalaman (tidak ada diskriminasi pendidikan, pelatihan, teknologi informasi,dan lain-lain)
d) Aspek kelembagaan, termasuk didalamnya akses terhadap informasi (media massa, internet, akses telepon), pertukaran informasi, pengambilan keputusan, partisipasi dalam kegiatan publik,politik, demokrasi, keadilan dan sebagainya.
Tabel 6Indikator Keterkaitan antar Pilar Pembangunan Berkelanjutan
Keterkaitan Indikator
Lingkungan-ekonomi Produktivitas sumberdaya (misal :GDP/total input material),
intensitas transportasi
Sosial ekonomi Produktivitas tenaga kerja (produksi perkapita) distribusi
pendapatan per kapita
Sosial lingkungan Masalah kesehatan lingkungan, akses terhadap sumberdaya milik
umum (common goods)
Ekonomi kelembagaan Tingkat korupsi, share pajak tenaga kerja, total pajak lingkungan,
Sosial kelembagaan Jaminan hak tenaga kerja, Jaminan kesehatan, jaminan sosial
Lingkungan-kelembagaan Hak lembaga swadaya masyarakat untuk demokrasi, Kebebasan informasi,
18
Jesinghaus J (2007) menggunakan indikator yang dinamakannya sebagai
dashboard dari pembangunan berkelanjutan. Indikator yang dipergunakan juga meliputi empat dimensi, sosial, ekonomi, lingkungan dan kelembagaan. Indikator secara lengkap adalah sebagai berikut :
a) Dimensi sosial : populasi penduduk di bawah garis kemiskinan, koefisien gini, pengangguran, upah pekerja pabrik (laki-laki dan perempuan), balita kurang gizi, tingkat kematian balita, harapan hidup dan kelahiran, fasilitas pembuangan limbah, akses air bersih, akses fasilitas kesehatan, imunisasi anak, akses terhadap kontrasepsi, akses terhadap pendidikan dasar, akses terhadap pendidikan lanjutan, tingkat melek huruf, tingkat kriminalitas, area terbuka di pusat kota, tingkat pertumbuhan penduduk dan persentase populasi penduduk kota.
b) Dimensi lingkungan : ekosistem yang dilindungi, jumlah mamalia dan burung, emisi CO2, emisi lainnya, CFCs, polusi perkotaan, lahan pertanian yang subur dan permanen, penggunaan pupuk, penggunaan pestisida, areal hutan, intensitas penebangan kayu hutan, areal lahan kering, jumlah fosfor dalam air di perkotaan, populasi di pesisir, persentase produksi ikan, penggunaan air yang dapat diperbarui, BOD air, kandungan bakteri coli dalam air perkotaan dan area yang diproteksi.
c) Dimensi ekonomi : pendapatan perkapita, investasi, neraca perdagangan barang dan jasa, hutang luar negeri, bantuan pembangunan, input langsung, penggunaan pupuk, penggunaan energi komersial, sumberdaya energi yang dapat diperbarui, efisiensi energi, tempat pembuangan limbah yang layak, tempat pembuangan limbah berbahaya, pembuangan limbah nuklir, pengolahan limbah.
d) Dimensi Kelembagaan : implementasi strategi pembangunan berkelanjutan, keanggotaan organisasi lingkungan, penggunaan internet, jaringan telepon, pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan, biaya yang dikeluarkan penduduk untuk bencana alam, tingkat kerusakan akibat bencana alam dan jumlah kerangka CSD.
Berdasarkan kerangka kerja Commission on Sustainable Development
(CSD) disusun beberapa indikator yang dipergunakan untuk mengukur pembangunan berkelanjutan (UN, 2001). Indikator-indikator tersebut adalah : a) Kategori sosial : persen penduduk di bawah garis kemiskinan, tingkat
pengangguran, rasio rata-rata upah perempuan terhadap laki-laki, status gizi anak, mortalitas balita, angka harapan hidup, rumah tangga yang memiliki akses ke sanitasi, populasi mengakses air bersih, populasi mengakses fasilitas kesehatan primer, tingkat melek huruf, anak yang mencapai kelas 5 SD, tingkat pencapaian pendidikan menengah pada orang dewasa, luas lantai per jiwa, indeks gini, imunisasi anak, persentase penduduk usia reproduksi pengguna alat kontrasepsi, angka kriminalitas, pertumbuhan penduduk, populasi penduduk di pemukiman kota.
b) Kategori ekonomi: PDRB per kapita, neraca perdagangan barang dan jasa, persentase komponen investasi dalam PDRB, rasio hutang terhadap PDRB, intensitas penggunaan material, konsumsi energi tahunan per kapita, banyaknya mineral dan logam yang dikonsumsi per unit PDRB, rasio pemakaian energi terhadap PDRB, intensitas pemakaian energi, limbah
19 industri, limbah rumah tangga, limbah radio aktif, limbah yang didaur ulang, jarak tempuh per kapita alat transportasi utama
c) Kategori lingkungan: emisi gas rumah kaca, konsentrasi polutan udara di perkotaan, luas lahan pertanian, perubahan luas lahan pertanian ke non pertanian, pemakaian pestisida di lahan pertanian, persentase luas hutan terhadap luas daratan, intensitas penebangan kayu, potensi kayu, persen pengambilan air tanah terhadap total persediaan air, kadar BOD dalam air, persen luas ekosistem yang dilindungi terhadap keseluruhan ekosistem.
d) Kategori kelembagaan: strategi pembangunan berkelanjutan daerah, persen anggaran untuk penelitian dan pengembangan, sambungan telepon per 1000 penduduk, kerugian jiwa dan ekonomi karena bencana alam.
Modal Sosial
Walaupun sampai saat ini belum ada suatu konsensus yang formal tentang sumber dari originalitas serta proses-proses pembentukan modal sosial, namun bagaimanapun juga telah muncul suatu kesepahaman dan saling pengertian antara para ahli dan peneliti tentang peran penting modal sosial dalam proses pertumbuhan dan pembangunan. Telah menjadi suatu konsensus umum bahwa untuk mendapatkan hasil yang optimal, proses pembangunan seharusnya mempertimbangkan secara serius akan peran penting dari modal sosial.
Subejo (2004) menyarikan beberapa pandangan tentang modal sosial yang berasal dari berbagai sumber. Pandangan-pandangan tersebut adalah sebagai berikut :
a) Coleman. Social capital consist of some aspects of social structures, and they facilitate certain actions of actors--wheter persons or corporate actors--within the structure
b) Putnam et.al. Features of social organization, such as trust, norms (or reciprocity), and networks (of civil engagement), that can improve the efficiency of society by facilitating coordinated actions
c) Narayan. The rules, the norms, obligations, reciprocity and trust embedded in
social relations, social structure and society’s institutional arrangements
which enable members to achieve their individual and community objectives
d) World Bank. Social capital refers to the institutions, relationships, and norms
that shape the quality and quantity of a society’s social interactions
e) Uphoff. Social capital can be considered as an accumulation of various types of intangible social, psychological, cultural, institutional, and related assets that influence cooperative behaviour
f) Dhesi. Shared knowledge, understandings, values, norms, and social networks to ensure the intended results
Modal sosial mencakup institutions, relationships, attitudes dan values yang mengarahkan dan menggerakkan interaksi antar orang akan memberikan kontribusi terhadap pembangunan sosial dan ekonomi. Menurut World Bank (1998) modal sosial tidaklah sesederhana hanya sebagai penjumlahan dari institusi-institusi yang dibentuk oleh masyarakat, tetapi juga merupakan perekat dan penguat yang menyatukan mereka secara bersama-sama. Modal sosial meliputi shared values dan rules bagi perilaku sosial yang terekspresikan dalam
20
hubungan-hubungan antar personal, trust dan common sense tentang tanggung jawab terhadap masyarakat, semua hal tersebut menjadikan masyarakat lebih dari sekedar kumpulan individu.
Dari beberapa pengertian yang telah disarikan oleh Subejo (2004), dapat dilakukan suatu generalisasi dan simplifikasi tentang elemen-elemen utama dari modal sosial. Simpulan sederhana dan umum yang dapat diajukan tentang elemen utama modal sosial mencakup rasa saling percaya (trust), norma (norms)dan jejaring (network). Ketiga elemen tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kerjasama untuk mencapai hasil yang diinginkan yang mampu mengakomodasi kepentingan individu yang melakukan kerjasama maupun kelompok secara kolektif.
Secara nyata dalam keseharian, apabila dicermati secara mendalam, semua perilaku aktivitas sosialekonomi warga masyarakat lokal melekat dalam jaringan hubungan sosialnya. Modal sosial memungkinkan transaksi ekonomi menjadi lebih efisien dengan memberikan kemungkinan bagi pihak-pihak yang terkait untuk bisa (1) mengakses lebih banyak informasi, (2) memungkinkan mereka untuk saling mengoordinasikan kegiatan untuk kepentingan bersama, dan (3) dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan opportunistic behavior melalui transaksi yang terjadi berulang-ulang dalam rentang waktu yang panjang.
Svendsen dan Svendsen (2004) menyatakan bahwa modal sosial meningkatkan sistem kontrol terhadap perilaku oportunis, pembonceng (free rider) dan pencari rente (rent seeking). Individu memang cenderung berperilaku oportunis, mementingkan diri sendiri dan hanya akan berusaha untuk mewujudkan tujuan bersama apabila tujuan-tujuan individunya terpenuhi. Kecenderungan tersebut akan mampu ditekan apabila terbangun modal sosial yang kuat karena sistem kontrol yang terbangun dari modal sosial tersebut akan meningkatkan tambahan biaya untuk berperilaku oportunis (MCsc) sehingga tambahan manfaat yang diperolehnya (MB) tidak lagi memadai seperti dijelaskan pada Gambar 2. Oleh karena itu, besar kecilnya jumlah individu yang berperilaku oportunis seringkali dijadikan sebagai indikator kuat lemahnya modal sosial masyarakat.
Modal sosial yang terbangun dari adanya rasa saling percaya, jaringan kerja dan norma yang kondusif akan mengurangi biaya kontrak dan kontrol sehingga
Gambar 3Peran Modal Sosial dalam Menekan Perilaku Oportunistik
MB A MCsc MC Opportunism Rp/Unit
21 dapat meniadakan biaya transaksi yang tinggi. Selanjutnya, rasa saling percaya juga memudahkan terbangunnya jaringan kerja yang efisien dan memberi manfaat pada proses produksi dalam pembangunan ekonomi wilayah. Interaksi sosial yang didasari oleh rasa percaya yang kuat akan memiliki nilai ekonomi dan sekaligus menjadi alat peredam konflik.
Hampir semua bentuk modal sosial terbentuk dan tumbuh melalui gabungan atau kombinasi tindakan dari beberapa orang. Keputusan masing-masing pemain atau pelaku memiliki konsekuensi kepada semua anggota kelompok atau grup. Sehingga hal tersebut mencerminkan suatu atribut dari struktur sosial. Seperti dikemukakan oleh Dhesi dalam Subejo (2004) bahwa modal sosial bukan merupakan private property dari orang yang mendapat manfaat darinya. Hal ini hanya akan muncul dan tumbuh kalau dilakukan secara bersama (shared). Sehingga modal sosial bisa dikatakan sebagai properti dari public good. Modal sosial akan tumbuh dan semakin berkembang kalau digunakan secara bersama dan sebaliknya akan mengalami kemunduran atau penurunan bahkan suatu kepunahan dan kematian kalau tidak digunakan atau dilembagakan secara bersama.
Modal sosial tidak dapat diwariskan sepenuhnya secara otomatis dari generasi ke generasi seperti pewarisan genetik dalam pengertian biologi. Pewarisan modal sosial dan nilai-nilai yang menjadi atributnya memerlukan suatu proses adaptasi, pembelajaran serta pengalaman dalam praktek nyata. Proses ini akan tumbuh dan berkembang dalam waktu yang panjang melalui interaksi yang berulang-ulang yang memungkinkan suasana untuk saling membangun kesepahaman, kepercayaan serta nilai dan aturan main yang disepakati bersama antar pelaku kerjasama.
Rustiadi (2009) menuliskan bahwa determinan modal sosial seperti jaringan kerja, norma dan rasa percaya mempengaruhi kinerja ekonomi secara positif dan negatif. Jaringan kerja berpengaruh positif jika dampak proteksi terhadap perilaku
rent seeking lebih besar daripada crowding out waktu kerja. Norma berdampak positif jikapeluang berkembangnya kreativitas lebih besar daripada peluang menipisnya etika kerja. Sedangkan rasa saling percaya akan mendorong peningkatan kinerja ekonomi yang lebih tinggi bila mampu membangun kondisi persaingan yang sehat.
Menurut Rustiadi (2009) dan Lawang (2005) terdapat tiga unsur utama dari modal sosial, yaitu hubungan saling percaya, norma serta jejaring(network) dan keterkaitan (network). Berikut ini penjelasan yang dikutip dari Rustiadi (2009).