• Tidak ada hasil yang ditemukan

60 Indikator 6 : Proporsi rumah tangga dengan akses pada

Dalam dokumen Pembangunan Perumahan dan Permukiman di (Halaman 80-83)

fasilitas sanitasi yang layak (perkotaan) (%) Indikator 6 diterjemahkan sebagai proporsi penduduk perkotaan yang membuang air besar pada fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat terhadap jumlah total penduduk per-kotaan.

Berdasarkan grafik di bawah ini dapat dilihat bahwa propor-si rumah tangga di perkotaan dengan akses pada fapropor-silitas sani-tasi yang layak meningkat terus dari 57,5% (tahun 1992) men-jadi 78% (2000), dan 81,8% (tahun 2006). (Lihat gambar 4.5).

Pencapaian indikator 6 menunjukkan Indonesia telah melampaui target MDGs 2015 yang sebesar 78,8%.

Indikator 7 : Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (perdesaan) (%) Indikator 7 diterjemahkan sebagai proporsi penduduk per-desaan yang membuang air besar pada fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat terhadap jumlah total penduduk perdesaan.

Proporsi rumah tangga di perdesaan dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak ternyata menunjukkan perkem-bangan yang sangat baik. Jika pada tahun 1992 proporsi ini

hanya mencapai 19,1%, pada tahun 2000 meningkat menjadi Sumber : Diolah dari Survey Sosial Ekonomi Nasional (BPS, Berbagai Tahun)dalam Laporan Pencapaian MDGs Tahun 2007

GAMBAR 4.5

AKSES PENDUDUK PADA FASILITAS SANITASI LAYAK MENURUT DESA, KOTA DAN TOTAL TAHUN 2006 (%)

52,3%. Kemudian pada tahun 2006 rumah tangga dengan akses sanitasi layak pada kembali meningkat menjadi 60% (lihat Gambar 4.5).

Pencapaian indikator 7 menunjukkan bahwa Indonesia telah mencapai target MDGs 2015 yang sebesar 59,6%.

TABEL IV.6

STATUS PENCAPAIAN MDGS INDONESIA TAHUN 2007 (%)

NO M O R IN D I K A T O R 1 9 9 0 2 0 0 7 TA R G E T C A T A T A N ST A T U S

TARGET 10 : MENURUNKAN HINGGA SEPARUHNYA PROPORSI PENDUDUK TANPA AKSES TERHADAP SUMBER AIR MINUM YANG AMAN DAN BERKELANJUTAN SERTA FASILITAS SANITASI DASAR PADA 2015

38,2

1 57,2 69,1 Naik

dengan stabil

Sesuai target Sumber Air Terlindungi

Total

-2 Sumber Air Terlindungi 87,6 76,1 - Telah tercapai

Perkotaan

-3 52,1 65,5 Banyak

kemajuan

Sesuai target Sumber Air Terlindungi

Perdesaan -4 18,4 57,4 Naik perlahan Perlu usaha keras Air Minum Perpipaan

-4a 30,8 67,7 Terus

menurun

Perlu usaha keras Air Minum Perpipaan

Perkotaan

61

NO M O R IN D I K A T O R 1 9 9 0 2 0 0 6 TA R G E T C A T A T A N ST A T U S

Sumber : Diolah dari Laporan Pencapaian MDGs Indonesia Tahun 2007 Keterangan *tidak dicantumkan secara jelas besarannya TARGET 11 : MEMPERBAIKI KEHIDUPAN PENDUDUK MISKIN YANG HIDUP DI PERMUKIMAN KUMUH PADA 2020

-4b 9 52,8 Naik

perlahan

Perlu usaha keras Air Minum Perpipaan

Perdesaan

30,9

5 68 65,5 - Telah

tercapai Sanitasi yang layak

Total 57,5 6 81,8 78,8 Kualitas kurang baik Telah tercapai Sanitasi yang layak

di Perkotaan 19,1 7 60 59,6 Kualitas kurang baik Telah tercapai Sanitasi yang layak

di Perdesaan

88,27

1 Proporsi rumah tangga yang 84 * Menurun

-memiliki atau menyewa rumah

Pencapaian target MDGs air minum dapat diklasifikasikan secara sederhana sebagai (i) target air terlindungi diperkirakan akan dapat dicapai bahkan saat ini target di perkotaan telah ter-lampaui; (ii) target air perpipaan akan sulit tercapai. Sementara target MDGs sanitasi secara umum telah tercapai, walaupun perlu diingat bahwa fasilitas sanitasi yang dianggap layak tersebut masih diragukan kualitasnya.

4.2.6 Tantangan dan Upaya Pencapaian MDGs di Indo-nesia

A. Perumahan

Tantangan yang dihadapi untuk mencapai target MDGs bidang perumahan di Indonesia antara lain:

1. Terjadinya kesenjangan dalam pembiayaan perumahan Sumber pembiayaan untuk kredit pemilikan rumah (KPR) pada umumnya berasal dari dana jangka pendek (deposito dan tabungan), sementara sifat kredit pemilikan rumah pada umumnya mempunyai tenor jangka panjang. Kesenjangan tersebut dalam jangka panjang menyebabkan pasar perumah-an menjadi tidak sehat karena ketidakstabilperumah-an ketersediaperumah-an sumber pembiayaan.

2. Masih rendahnya efisiensi dalam pembangunan peru-mahan

Tingginya biaya administrasi perijinan yang dikeluarkan dalam pembangunan perumahan merupakan persoalan yang selalu dihadapi dalam pembangunan perumahan. Biaya

per-ijinan untuk pembangunan perumahan saat ini mencapai 20% dari harga rumah sehingga makin menjauhkan keterjangkauan masyarakat terhadap harga rumah.

3. Pembiayaan perumahan yang terbatas dan pola subsidi yang memungkinkan terjadinya salah sasaran

Hal ini disebabkan karena program perumahan tidak sepenuhnya terkoordinasi dan efektif sehingga masih sering terjadi ketidakkonsistenan antara institusi yang terlibat. Disamping, pemerintah daerah masih belum menjadikan pem-bangunan perumahan sebagai salah satu prioritas.

Upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk meng-hadapi tantangan tersebut antara lain;

1. Mendorong terbentuknya National Housing Authority sebagai institusi yang mempunyai wewenang penuh dalam memecahkan seluruh persoalan di bidang peru-mahan dan mengembangkan kebijakan pengembangan perumahan.

2. Menata kembali pemilikan, penguasaan tanah yang tidak teratur menjadi teratur melalui konsolidasi lahan (Land Readjustment).

3. Menciptakan sumber pembiayaan perumahan jangka pan-jang melalui pembentukan fasilitas pembiayaan perumahan jangka panjang yaitu pendirian SMF (Secondary Mortgage Facility) dan SMM (Secondary Mortgage Market), serta ino-vasi dan rekayasa keuangan (financial engineering).

62

B. Permukiman

Tantangan yang dihadapi untuk mencapai target MDGs bidang air minum di Indonesia antara lain:

1. Cakupan daerah layanan yang sangat besar dan beragam.

Sebaran penduduk yang tidak merata dan beragamnya wilayah Indonesia menjadikan tingkat kesulitan penyediaan layanan meningkat .

2. Keterbatasan sumber pendanaan pemerintah

Keterlibatan pihak swasta untuk mendukung pembangun-an air minum dpembangun-an spembangun-anitasi di Indonesia spembangun-angat dibutuhkpembangun-an terutama dikarenakan keterbatasan sumber dana dari pemerin-tah. Sayangnya, hingga tahun 2006, tingkat keterlibatan swas-ta masih rendah.

3. Penurunan kualitas dan kuantitas sumber air baku. Hal ini disebabkan oleh semakin menurunnya daya du-kung hutan terhadap sistem siklus air. Penyebab lain adalah aktivitas manusia yang mengeluarkan zat pencemar ke badan air seperti limbah pabrik/industri, limbah rumah tangga, sam-pah padat serta tangki septik di rumah tangga yang tidak me-menuhi syarat konstruksi.

4. Masalah kemiskinan.

Masalah kemiskinan yang diderita penduduk turut menja-di penyebab rendahnya kemampuan penduduk untuk meng-akses air minum yang layak.

5. Lemahnya kemampuan manajerial operator air minum Hal ini berdampak pada stagnasi produksi air minum perpi-paan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, masih tingginya kebocoran, serta kualitas, kuantitas dan kontinuitas pelayanan masih di bawah standar air minum yang sehat.

Upaya yang dilakukan untuk menangani tantangan di sek-tor air minum tersebut antara lain:

1. Penguatan peraturan perundangan serta kebijakan men-genai air minum.

Saat ini telah diterbitkan UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA). Dalam undang-undang ini dijelaskan pengaturan sumber daya air dari hulu hingga ke hilir. Selanjutnya telah pula diluncurkan Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BM) dan beberapa regulasi lain-nya yang dijadikan sebagai rujukan strategis dalam penyedia-an air minum ypenyedia-ang efektif dpenyedia-an berkesinambungpenyedia-an. Diharapkpenyedia-an melalui mekanisme insentif dan disinsentif dalam peraturan

perundangan ini, pencapaian tujuan MDGs menjadi lebih ter-pacu serta laju perusakan atas sumber daya air menjadi lebih berkurang.

2. Peningkatan kapasitas kelembagaan penyelenggara penyediaan air minum.

Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas manaje-men operator air minum sehingga penyelenggaraannya manaje- menja-di lebih efektif dan efisien serta tepat sasaran kepada masya-rakat miskin sesuai dengan amanat MDGs.

3. Kerjasama para pemangku kepentingan.

Dari sisi pemerintahan terdapat banyak institusi yang ter-libat dalam penyediaan air minum di masyarakat. Selain itu sifat air yang lintas wilayah menyebabkan pengaturannya pun menjadi tanggungjawab banyak pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Selain itu, pihak yang terlibat dalam penyediaan air minum, tidak hanya pemerintah tapi juga termasuk pihak swasta, lembaga swadaya masyarakat, terma-suk komunitas. Oleh karena itu, koordinasi dan kerjasama dalam kesetaraan menjadi kata kunci dalam pelibatan para pemangku kepentingan tersebut.

4. Penguatan sistem informasi manajemen.

Hal ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kegiatan perencanaan hingga pemantauan dan evaluasi pro-gram. Selain itu, pendataan yang kuat akan mengurangi tum-pang tindih antarprogram serta membantu identifikasi wila-yah/penduduk yang kurang akses air minumnya.

5. Pengembangan kemampuan masyarakat dalam penye-diaan air minum baik dalam pengelolaan maupun pem-biayaan.

Hal ini sesuai dengan prinsip bahwasanya masyarakatlah yang memahami kebutuhan dan kemampuan mereka sendiri. Pemerintah selain berfungsi sebagai penyedia juga memfasili-tasi penyediaan air minum yang dilaksanakan oleh ma-syarakat. Selain meringankan beban pembiayaan pemerintah, serta berdasar pembelajaran selama ini, penyediaan air minum oleh masyarakat menunjukkan tingkat keberlanjutan yang lebih baik.

6. Konservasi sumber air baku, termasuk di dalamnya pe-ngelolaan limbah industri maupun domestik.

Upaya ini meliputi pengaturan tata guna lahan berupa pengembalian fungsi lahan sebagai daerah tangkapan air hujan serta penanaman hutan yang gundul. Selain itu, pe-ningkatan kualitas air baku melalui penanganan sumber pence-Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia

63

Dalam dokumen Pembangunan Perumahan dan Permukiman di (Halaman 80-83)