• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. PEMBAHASAN

3. Indikator Responsibilitas

Responsibilitas dalam penelitian mengenai kinerja Dinas Perhubungan, Informatika, dan Komunikasi Kabupaten Sukoharjo merupakan suatu ukuran yang menunjukkan seberapa jauh proses pemberian pelayanan publik yang dilakukan Dinas Perhubungan, Informatika, dan Komunikasi Kabupaten Sukoharjo tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.

Dalam penelitian mengenai kinerja Dinas Perhubungan, Informatika, dan Komunikasi Kabupaten Sukoharjo dalam pengelolaan retribusi pengujian kendaraan bermotor responsibilitas bisa dilihat dari

commit to user

apakah pelaksanaan kegiatan pengujian kendaraan bermotor itu dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar atau sesuai dengan kebijakan dari Dishubinfokom Kabupaten Sukoharjo. Oleh sebab itu, responsibilitas bisa saja pada suatu ketika berbenturan dengan responsivitas. Hal ini sering dijumpai dalam proses pengujian adalah ketika ada kendaraan yang diujikan dan secara teknis tidak memenuhi syarat laik jalan, tetapi pemilik kendaraan ngotot minta agar dinyatakan lulus uji. Tidak jarang petugas/penguji harus adu argumentasi dengan para pemilik kendaraan tentang hal ini. Seperti disampaikan oleh Boediono salah satu pegawai di seksi pengujian kendaraan bermotor yang sebagai penguji, yaitu sebagai berikut :

”...Kami sering terpaksa harus adu argumentasi dengan pemilik kendaraan yang tidak lulus uji. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang kami lakukan adalah untuk keselamatan mereka sendiri. Kami tidak mungkin memberikan tanda pengesahan lulus uji bila memang ada bagian-bagian tertentu dari kendaraan tersebut yang secara teknis tidak laik jalan....” (wawancara tanggal 21 September 2010)

Hal senada juga diungkapakan oleh Bapak Herry Febrianto Kepala Seksi di Pengujian Kendaraan Bernotor sebagai berikut :

”...walaupun banyak yang ngotot ingin kendaraannya diluluskan tapi penguji tetep pada prinsipnya karena tanggung jawab penguji pada keselamatan nyawa manusia. jadi kalo ada yang tidak lulus dinyatakan lulus itu sangat berbahaya. Kalo tidak layak jalan kalo bisa diperbaiki ya kita membimbing untuk diperbaiki dulu. Soalnya kalo terjadi kecelakaan tar yang disalahkan penguji….” (wawancara tanggal 12 Oktober 2010)

commit to user

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pegawai di Seksi Pengujian Kendaran Bermotor hanya meluluskan kendaraan yang secara teknis benar-benar laik jalan walaupun harus rela adu argumentasi dengan para pemilik kendaraan. Hal seperti inilah contoh fenomena nyata dimana responsibilitas berbenturan dengan responsivitas. Dilihat dari segi responsibilitas pegawai di Seksi Pengujian Kendaraan Bermotor harus menjalankan tugasnya sesuai dengan prinsip-prinsip atau kebijakan yang ada yaitu mereka hanya bisa meluluskan kendaraan yang secara teknis memenuhi persyaratan laik jalan, namun di sisi lain jika dilihat dari segi responsivitas pegawai harus menanggapi adanya keinginan dari masyarakat agar kendaraan yang secara teknis tidak laik jalan agar diluluskan. Dalam hal ini apabila pegawai menuruti apa yang menjadi keinginan masyarakat pemilik kendaraan bermotor untuk memberikan kelulusan pada kendaraan yang seharusnya tidak laik jalan, selain tidak sesuai dengan prinsip dan kebijakan di Dishubinfokom Kabupaten Sukoharjo juga membahayakan nyawa dan keselamatan dari pengguna kendaraan. Oleh karena itu pegawai di Dishubinfokom Kabupaten Sukoharjo selalu berpegang kepada prinsip dan kebijakan yang ada. Hal ini juga diperkuat dengan pendapat dari Bapak Wakijo pemilik truk sebagai berikut ini:

”...pegawai sini memang susah Mbak kalo suruh meluluskan kendaraan yang haruse ndak lulus, mereka konsisten banget kalo ndak lulus dieyel gimanapun juga tetep ndak berubah. Tapi itu justru bagus Mbak jadi tujuan ikut KIR itu bukan hanya sekedar formalitas agar bisa mendapatkan tanda uji

commit to user

kelulusan tapi juga untuk menjaga keselamatan...” (wawancara tanggal 22 Oktober 2010)

Hal senada juga disampaikan oleh Bapak Darmono pemilik truk sebagai berikut :

”...sepertinya mereka tidak sembarangan Mbak dalam pemasangan tanda bukti lulus uji soalnya hanya yang benar-benar layak yang diluluskan. Proses pengujian juga teliti banget dari kecerahan lampu, keadaan rem, ban, dan penghapus kaca. Keselamatan merupakan yang nomer saru...” (wawancara tanggal 22 Oktober 2010).

Sesuai dengan prinsip yang ada, dalam proses pengujian kendaraan bermotor untuk mengetahui apakah kendaraan tersebut laik uji atau tidak, bagian-bagian kendaraan yang diperiksa dan persyaratan yang harus dipenuhi antara lain sebagai berikut:

1. Lampu Penerangan

Lampu besar kiri kanan yang seharusnya berwarna putih yang memenuhi syarat dan tidak menyilaukan. Lampu belakang dan lampu rem berwarna merah, lampu nomor, lampu samping, lampu petunjuk arah/righting kekuatan sinar maupun warnanya harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2. Peralatan sempurna dan memiliki syarat antara lain:

a. Pesawat kemudi termasuk tire root, ball join/king pen, termasuk lengan-lengan kemudi/bearing/laker harus baik; chamber, chaster

commit to user

b. Rem: selang-selang maupun kampas/sepatu rem tidak ada kebocoran/keausan dan bekerja sempurna.

c. Pesawat penutup suara/knalpot yang sempurna dan mengarah ke belakang.

d. Ban hidup yang layak pakai dan tidak aus. Ban depan tidak boleh vulkanisiran.

e. Sepasang kaca spion yang baik.

f. Petunjuk arah (righting) sesuai dengan ketentuan. g. Penghapus kaca/wiper berfungsi dengan baik.

h. Sistem suspensi (shock breaker), chasis dan perlengkapannya harus sempurna.

i. Rumah-rumah kabin, load bak harus baik dan kokoh di atas chasis. j. Emisi gas buang: asap (diesel smoke) maksimal 50%, CO

maksimal 4,5%, dan HC maksimal 1.200 ppm.

Untuk melakukan pemeriksaan terhadap bagian-bagian yang ada di kendaraan diperlukan seorang tenaga yang mempunyai kemampuan atau keahlian khusus yang mengetahui seluk beluk tentang pengujian. Berikut adalah pendapat yang dikemukakan oleh Bapak Budiono selaku pegawai fungsional di Seksi Pengujian Kendaraan Bermotor :

“…tidak semua pegawai disini bisa menguji mbak soalnya alat yang digunakan alat mekanik dan alat berat, selain itu kan pengujian itu harus akurat layak ya diluluskan kalo ga ya ga diluluskan jadi butuh keahlian khusus. Kemampuan penguji di sini ada 4 tataran atau jenjang. Ada pemula, pelaksana, pelaksana lanjutan, dan penyelia. Yang bisa jadi penguji

commit to user

adalah pegawai sini yang dapat SK pengujian. Masuk ke sini kita sekolah ke pendidikan khusus pengujian baru dapet SK penguji. Pemula mengikuti pendidikan lagi masuk pelaksana, pelaksana masuk pelaksana lanjutan, dan setelah ikut pendidikan lagi baru jadi penyelia. Jadi selalu bertahap ndak mungkin masuk langsung jadi penyelia tanpa melalui pendidikan khusus…” (wawancara tanggal 11 Oktober 2010)

Pernyataan dari Bapak Boediono di atas menunjukkan bahwa agar pelaksanaaan kegiatan pengujian sesuai dengan yang diharapkan dan akurat diperlukan petugas penguji atau tenaga ahli yang berpengalaman. Namun terdapat kendala dalam ketersediaan tenaga ahli, yaitu seperti yang ditambahkan oleh Bapak Boediono sebagai berikut :

“…biasanya dari pusat minta Dinas mengajukan berapa, kalo minta 2 ya kita mengajukan 2 jadi ya ndak mengajukan seenaknya sendiri. Pendidikan biasanya di Tegal. Kalo pendidikan dengan biaya sendiri itu mahal soalnya hanya 2 bulan tapi biayanya 10 juta. Kalo dari pusat tidak ada pelatihan gratis ya itu yang membuat kita kurang tenaga terlatih. Saat ini personil penguji 5orang dengan 5000 kendaraan, jadi personil kurang. Sehari rata-rata yang datang 40 orang dengan penguji 5 orang tapi yang 1 merangkap kepala seksi jadi ya hanya 4 orang yang jadi penguji.sebenarnya kalo jumlah personilnya bisa ditambah dan alat juga ditambah kita bisa membuka dua alur pengujian tiap harinya. Kendaraan datang pertama diperiksa pemula, dari luar masuk ke pelaksana. Pemula juga diajari jadi penyelia apabila penyelia sedang tidak ada di tempat…” (wawancara tanggal 11 Oktober 2010)

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kendala dalam proses pengujian adalah kurangnya tenaga ahli karena belum adanya penambahan tenaga yang dilatih atau belum mempunyai SK pengujian.

Sesuai dangan beberapa bendapat di atas secara umum responsibilitas di seksi pengujian kendaraan bermotor Dinas Perhubungan,

commit to user

Informatika, dan Komunikasi Kabupaten Sukoharjo dinilai sudah sangat baik karena sudah sesuai dengan prinsip dan kebijakan yang ada, hal ini bisa dilihat dalam pemberian tanda kelulusan uji kelayakan hanya diberikan kepada kendaraan yang benar-benar secara teknis laik jalan, selain itu proses pengujian juga dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kemampuan khusus dalam pengujian kendaraan bermotor untuk menguji kendaraan sehingga dengan demikian kendaraan yang di uji benar-benar bisa dijamin keakurtannya apakah lulus uji atau tidak.

Dokumen terkait