• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikator Survei Konsumen

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL (Halaman 92-0)

Bab 6 Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

6.4. Indikator Survei Konsumen

Kesejahteraan masyarakat NTB diperkirakan mengalami peningkatan kedepannya, tercermin dari optimisme masyarakat terhadap perekonomian Provinsi NTB yang membaik. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada triwulan II 2017 sebesar 109,92 atau lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 105,8. Meningkatnya keyakinan konsumen tersebut disebabkan karena meningkatnya penghasilan saat ini dibandingkan dengan 6 bulan yang lalu. Sejalan dengan itu, pengeluaran konsumen untuk membeli barang tahan lama meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya

Perkiraan konsumen terhadap kondisi perekonomian 6 bulan yang akan datang tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen yang dijabarkan dalam 3 faktor, antara lain ekspektasi penghasilan, kondisi ekonomi Indonesia, dan ketersediaan lapangan kerja. Dari seluruh indikator tersebut, hanya ekspektasi penghasilan yang mengalami penurunan. Hal tersebut

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan 76 menunjukkan bahwa masyarakat cukup optimis terhadap kondisi perekonomian 6 bulan yang akan datang.

Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia Grafik 6.5

Indikator Survei Konsumen

Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia Grafik 6.6

Ekspektasi Inflasi Masyarakat

Prospek Perekonomian Daerah 77

BAB 7

PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH

Perekonomian Provinsi NTB (termasuk tambang) secara keseluruhan tahun 2017 diperkirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2016. Melambatnya pertumbuhan tersebut disebabkan kinerja ekspor luar negeri yang masih belum pulih. Ekspor diperkirakan mengalami kontraksi karena berkurangnya kuota ekspor tembaga terkait dengan ijin ekspor yang diberikan pada tahun 2017. Demikian pula dengan perekonomian NTB pada triwulan IV 2017 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan triwulan III 2017 karena terbatasnya kuota ekspor tembaga. Pada triwulan III 2017 ekonomi Provinsi NTB diperkirakan tumbuh positif atau lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan II 2017 yang terkontraksi.

Sementara itu, perekonomian Provinsi NTB nontambang secara keseluruhan tahun 2017 diprakirakan tumbuh sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2016. Hal tersebut disebabkan terbatasnya pertumbuhan investasi dan konsumsi rumah tangga. Sementara itu, perekonomian NTB nontambang pada triwulan IV 2017 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan III 2017, didorong meningkatnya permintaan domestik menjelang akhir tahun dan peringatan Maulid Nabi. Pada triwulan III 2017 diperkirakan ekonomi nontambang Provinsi NTB tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan II 2017.

7.1 PROSPEK PEREKONOMIAN PROVINSI NTB

Pada triwulan IV 2017, pertumbuhan ekonomi tahunan diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III 2017, yaitu sebesar -1,0 s.d -0,5% (yoy). Lebih rendahnya pertumbuhan tersebut karena ekspor luar negeri yang diperkirakan menurun terkait terbatasnya sisa kuota ekspor tembaga untuk diekspor, setelah pada triwulan III 2017 yang diperkirakan akan tumbuh signifikan. Pada bulan Juli 2017, ekspor luar negeri tumbuh signifikan dibanding dengan periode triwulan II 2017. Sehingga diperkirakan hal ini akan mendorong pertumbuhan pada triwulan III 2017.

Perkiraan menurunnya ekspor luar negeri pada triwulan IV 2017 akan berdampak pada menurunnya sektor pertambangan pada PDRB sisi sektoral. Secara keseluruhan pada tahun 2017 kuota ekspor tembaga yang diberikan Kementerian ESDM juga lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2016. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2017 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2016 pada kisaran -0,6 s.d -0,2% (yoy).

Prospek Perekonomian Daerah 78

Sumber : BPS Provinsi NTB dan Proyeksi Bank Indonesia, diolah

Grafik 7.1

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Provinsi NTB

Sumber : BPS Provinsi NTB dan Proyeksi Bank Indonesia, diolah

Grafik 7.2

Proyeksi Pertumbuhan Kategori Utama

Perekonomian Provinsi NTB tanpa memperhitungkan sektor tambang pada triwulan IV 2017 diperkirakan meningkat dibandingkan dengan triwulan III 2017, yaitu sebesar 5,4 s.d 5,8% (yoy). Pertumbuhan tersebut diperkirakan disumbang oleh konsumsi rumah tangga, yang diperkirakan akan tumbuh meningkat seiring meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang akhir tahun dan perayaan Maulid Nabi. Selain itu, perkiraan meningkatnya kunjungan wisatawan pada akhir tahun diperkirakan berdampak pada meningkatnya beberapa sektor ekonomi utama NTB nontambang seperti perdagangan dan transportasi sehingga mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi nontambang.

Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB tanpa memperhitungkan sektor tambang untuk keseluruhan tahun 2017 diperkirakan sedikit melambat pada kisaran 5,5 s.d 5,9% (yoy).

Melambatnya pertumbuhan tersebut disebabkan oleh pertumbuhan investasi pada tahun 2017 yang diperkirakan tidak setinggi tahun sebelumnya dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang diperkirakan masih terbatas. Menurunnya pertumbuhan investasi dan terbatasnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercermin dari indikator Composite Leading Indikator (CLI) untuk masing-masing komponen tersebut.

Prospek Perekonomian Daerah 79

Sumber : Proyeksi Bank Indonesia, diolah Grafik 7.3

Composite Leading Indicator Konsumsi Rumah Tangga

Sumber : Proyeksi Bank Indonesia, diolah Grafik 7.4

Composite Leading Indicator Investasi

7.2 PERKIRAAN INFLASI PROVINSI NTB

Tekanan inflasi pada tahun 2017 diperkirakan terkendali. Inflasi NTB pada triwulan IV 2017 atau keseluruhan tahun 2017 diperkirakan sebesar 3,5 s.d 3,9% (yoy), berada dalam target inflasi nasional sebesar 4 + 1% (yoy). Terkendalinya laju inflasi sepanjang tahun 2017 tersebut didukung oleh terkendalinya harga komoditas volatile food, didukung oleh peningkatan produksi komoditas pangan. Langkah aktif TPID dan Satgas Pangan dalam meredam gejolak inflasi selama bulan puasa dan Idul Fitri 2017, berkontribusi terhadap terkendalinya harga pangan pada pertengahan tahun 2017. Hasil survei konsumen Bank Indonesia menunjukan ekspektasi inflasi yang terkendali dalam 3 hingga 6 bulan ke depan.

Meskipun demikian, laju inflasi 2017 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2016.

Hal tersebut disebabkan oleh peningkatan inflasi administered price yakni tarif STNK dan listrik yang meningkat pada awal tahun.

94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104

2012-01 2012-04 2012-07 2012-10 2013-01 2013-04 2013-07 2013-10 2014-01 2014-04 2014-07 2014-10 2015-01 2015-04 2015-07 2015-10 2016-01 2016-04 2016-07 2016-10 2017-01 2017-04 2017-07

Konsumsi CLI_Konsumsi

93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103

2012-01 2012-04 2012-07 2012-10 2013-01 2013-04 2013-07 2013-10 2014-01 2014-04 2014-07 2014-10 2015-01 2015-04 2015-07 2015-10 2016-01 2016-04 2016-07 2016-10 2017-01 2017-04 2017-07

PMTB CLI_PMTB

Prospek Perekonomian Daerah 80

Sumber : BPS Provinsu NTB dan Proyeksi Bank Indonesia, diolah

Grafik 7.5 Proyeksi Inflasi Tahunan

Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia, diolah Grafik 7.6

Ekspektasi Inflasi

Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia

Pada tahun 2017, terdapat sejumlah risiko yang terkait dengan kelompok komoditas administered price dan volatile food. Dari sisi kelompok volatile food, risiko terjadinya kekeringan akibat dari musim kemarau yang disebabkan fenomena El Nino perlu dicermati.

BMKG Provinsi NTB memperkirakan musim kemarau dengan kondisi curah hujan yang mulai berkurang akan dimulai pada pertengahan tahun 2017, dimana momen tersebut terjadi bersamaan dengan fase tanam selepas masa panen raya. Kekeringan lahan karena kemarau berisiko mempengaruhi tingkat produksi pertanian.

Selain itu, tingkat kunjungan wisatawan yang diperkirakan meningkat pada akhir tahun 2017 berisiko meningkatkan permintaan masyarakat, sehingga perlu didukung oleh ketersediaan pasokan pangan yang cukup. Sementara itu, perlu dicermati risiko administered price terkait dengan perkembangan harga minyak dunia yang fluktuatif dapat mempengaruhi harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

3.50 3.90

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00

Tw II Tw IIITw IV Tw I Tw II Tw IIITw IV Tw I Tw II Tw IIITw IV Tw I Tw II Tw IIITw IV

2014 2015 2016 2017

% (yoy)

140 150 160 170 180 190 200

Jan Mar May Jul Sep Nov Jan Mar May Jul Sep Nov Jan Mar May Jul

2015 2016 2017

Perubahan harga umum 3 bulan yad Perubahan harga umum 6 bulan yad

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL (Halaman 92-0)