• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Klaster Bawang Putih Organik Sembalun

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL (Halaman 82-0)

BOKS 2: Pengembangan Klaster Bawang Putih Organik Sembalun

Sebagai salah satu komoditas pangan, bawang putih dalam beberapa waktu terakhir cukup sering menjadi komoditas penyumbang inflasi. Kenaikan harga bawang putih di Provinsi NTB sempat mencapai level yang cukup tinggi pada bulan Mei 2017 sebesar Rp50.000/Kg, lebih tinggi dari level harga normalnya pada kisaran Rp30.000 Rp35.000/Kg. Kenaikan harga tersebut tidak hanya terjadi di Provinsi NTB saja, melainkan hampir di seluruh daerah di Indonesia. Hal tersebut terindikasi disebabkan oleh berkurangnya pasokan bawang putih Tiongkok, dimana sebagian besar kebutuhan bawang putih Indonesia dipenuhi dari negeri tersebut.

Berdasarkan data statistik, tingkat konsumsi bawang putih masyarakat di Indonesia cukup tinggi, sebesar 400 ribu ton per tahun. Namun sayangnya hal tersebut masih belum diimbangi dengan kapasitas produksi yang mencukupi. Data produksi bawang putih Nasional pada tahun 2015 tercatat hanya sebesar 20 ribu ton/tahun, atau setara dengan 5% dari total kebutuhan konsumsi. Hal tersebut akhirnya berdampak pada tingginya impor bawang putih untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dalam jangka panjang, impor bawang putih yang tinggi tersebut berisiko memberikan tekanan kepada nilai tukar rupiah, sehingga perlu dilakukan mitigasi risiko sejak dini dengan meningkatkan produksi bawang putih dalam negeri.

Sumber: Survei Pemantauan Harga BI, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik Boks 2.1

Perkembangan Harga Bawang Putih NTB

Grafik Boks 2.2

Provinsi Penghasil Bawang Putih

Salah satu daerah di Indonesia yang cukup potensial dikembangkan sebagai sentra produksi bawang putih adalah Kecamatan Sembalun Lombok Timur Provinsi NTB. Provinsi NTB sendiri

BOKS 2: Pengembangan Klaster Bawang Putih Organik Sembalun 66 menjadi Provinsi dengan produksi bawang putih tertinggi di Indonesia, dengan tingkat produksi mencapai 9.700 ton di tahun 2015, atau 48% dari total produksi bawang putih nasionl.

Kecamatan sembalun sendiri sempat menjadi daerah sentra sekitar tahun 1990. Namun demikian tingkat produksi bawang putih sembalun dalam beberapa tahun terakhir menunjukan tren penurunan, terindikasi karena kualitas tanah yang menurun seiring penggunaan zat kimia yang kurang tepat.

Melihat hal tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB berinisiatif untuk membangkitkan kembali kejayaan bawang putih nasional, dengan daerah Sembalun menjadi ujung tombok peningkatan produksi bawang putih. Hal tersebut diwujudkan dengan mengembangkan bawang putih dengan konsep total organik, melalui pemberian berbagai pelatihan kepada kelompok tani binaan Bank Indonesia.

Pengembangan klaster bawang putih tersebut merupakan sinergi antara Bank Indonesia, Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur, dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) NTB.

Dengan teknik total organik tersebut diharapkan unsur hara tanah akan kembali meningkat.

Hal tersebut berdampak pada ukuran umbi bawang putih yang lebih besar, kualitas yang tahan lama, serta rasa yang semakin kuat. Penanaman yang dilakukan di lahan demplot seluas 1,1 ha tersebut menghasilkan 8 ton bawang putih pada panen perdana yang dilakukan.

Kedepannya, hasil panen perdana tersebut sebagian akan digunakan sebagai bibit tanaman untuk ditanam pada fase tanam berikutnya. Dengan demikian, konsep total organik dapat terimplementasikan secara berkelanjutan untuk periode-periode yang akan datang.

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah 67

BAB 5

PENYELENGGARAAN SISTEM

PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

Pada triwulan II 2017 terjadi peningkatan kebutuhan uang tunai di Provinsi NTB. Hal ini tampak dari net outflow uang yaitu jumlah uang tunai yang keluar (cash outflow) lebih banyak dari jumlah uang tunai yang masuk (cash inflow). Peningkatan ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi di Provinsi NTB terkait siklus musiman pada bulan Ramadhan dan hari besar keagamaan Idul Fitri. Demikian pula dengan transaksi non tunai secara total transaksi (RTGS dan kliring) meningkat dibanding dengan triwulanan sebelumnya.

5.1 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN 5.1.1 Transaksi Pembayaran Tunai

Permintaan terhadap uang kartal triwulan II 2017 meningkat dibanding dengan triwulan sebelumnya. Permintaan uang kartal masyarakat tampak dari indikator net outflow atau uang tunai yang keluar lebih besar dibandingkan dengan uang tunai yang masuk melalui setoran bank ke Bank Indonesia. Jumlah net outflow meningkat 36,98% (yoy), lebih tinggi dibanding dengan triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 18,32% (yoy). Hal ini sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi di Provinsi NTB, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga, yang tumbuh sebesar 2,66% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,12% (yoy). Aktivitas ekonomi yang signifikan mempengaruhi peningkatan uang kartal adalah bulan Ramadhan, perayaan Hari Raya Idul Fitri, dan persiapan penerimaan siswa baru di sekolah.

Pada triwulan II tahun 2017, transaksi pembayaran secara tunai menunjukkan uang tunai yang keluar bersih (net outflow) sebesar Rp2,40 Triliun. Uang tunai yang masuk selama triwulan II 2017 sebanyak Rp1,52 Triliun, mengalami penurunan sebesar 2,60% (yoy). Sedangkan uang tunai yang keluar pada triwulan II 2017 sebesar Rp3,92 Triliun, meningkat sebesar 18,32%

(yoy). Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan uang tunai selama triwulan II tahun 2017 di masyarakat meningkat dibanding dengan triwulan sebelumnya. Faktor yang dominan

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah 68 menentukan tren permintaan uang tunai pada triwulan II 2017 adalah perayaan hari besar keagamaan dan event ekonomi lain seperti tahun ajaran baru.

Tren triwulanan khusus triwulan II selama 5 (lima) tahun terakhir dari tahun 2013 s.d 2017 selalu terjadi net outflow. Namun, pada triwulan ini terjadi net outflow terbesar secara nominal yaitu sebesar Rp2,40 Triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan II 2013 yang sebesar Rp501,12 miliar. Pada triwulan II tahun 2013 s.d 2017 selalu mencatatkan pertumbuhan net outflow secara tahunan (kecuali triwulan II 2013 yang mencatatkan penurunan). Periode triwulan II 2016 merupakan kenaikan terbesar net outflow tahunan yaitu sebesar 108,05% (yoy). Pada triwulan II 2017 kenaikan net outflow cukup besar yaitu sebesar 36,98% (yoy), namun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan persentase kenaikan tahunan pada triwulan II 2016. Peningkatan aktifitas ekonomi di masyarakat dalam 5 (lima) tahun terakhir mendorong kebutuhan akan uang kartal khususnya pada triwulan II yang terkait dengan perayaan hari besar keagamaan nasional, penerimaan siswa baru dan peningkatan pengerjaan proyek konstruksi baik swasta maupun pemerintah.

Grafik 5.1

Perkembangan Nominal Inflow, Outflow, dan Net Flow di Provinsi NTB

Grafik 5.2

Perkembangan Pengedaran Uang di Provinsi NTB

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah 69 Tabel 5.1

Inflow, Outflow, dan Net Inflow Uang Per Pecahan (ribu lembar)

Jumlah

Berdasarkan pecahan uang, baik cash inflow maupun cash outflow didominasi oleh pecahan besar yakni Rp50.000,- dan Rp100.000,- sebesar 34,75% dari total lembar uang kertas cash inflow dan 35,82% dari total lembar uang kertas cash outflow pada triwulan II 2017. Demikian pula pada triwulan sebelumnya, pecahan besar juga mendominasi baik cash inflow ataupun cash outflow. Hal ini menunjukkan pilihan masyarakat saat ini lebih cenderung untuk menggunakan pecahan besar dibandingkan dengan pecahan kecil untuk melakukan transaksi. Kecenderungan tersebut antara lain juga dipengaruhi pembayaran gaji yang masih menggunakan uang tunai dan sebagian besar pecahan besar. Selain itu juga dipengaruhi pecahan yang digunakan di mesin ATM merupakan uang pecahan besar. Namun demikian, Bank Indonesia tetap berupaya untuk menyediakan uang kartal baik dalam pecahan besar maupun pecahan kecil secara optimal sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah 70 Dalam rangka peningkatan kualitas dan pemenuhan permintaan uang Rupiah dengan pecahan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB telah melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Pelayanan Kas Keliling sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas uang di masyarakat baik di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, layanan Kas Keliling akan terus diperluas ke pulau-pulau terpencil di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada triwulan II 2017 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB telah melakukan kegiatan kas keliling sebanyak 34 (tiga puluh empat) kali di wilayah kerja di Provinsi NTB. Frekuensi kas keliling tersebut meningkat dibanding dengan triwulan sebelumnya sebanyak 22 (dua puluh dua) kali karena menjelang beberapa event pada triwulan II 2017, yaitu bulan Ramadhan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri.

b. Untuk meningkatkan efisiensi perbankan dan optimalisasi pengelolaan uang, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB mendorong Transaksi Uang Kartal Antar Bank (TUKAB). Selain itu, kerja sama dengan perbankan dalam rangka memberikan pelayanan penukaran uang juga akan terus ditingkatkan. Untuk keterjangkauan pelayanan perkasan di Pulau Sumbawa, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB telah melakukan kerjasama Kas Titipan dengan bank umum di Kota Bima dan juga penambahan kerjasama Kas Titipan dengan bank umum di Kabupaten Sumbawa sejak triwulan I 2017.

c. Sosialisasi 3D (Didapat, Disayang, Disimpan) kepada semua lapisan masyarakat agar kualitas uang yang beredar tetap terjaga. Pada periode triwulan II 2017 telah dilakukan sosialisasi 3D sebanyak 2 (dua) kali.

d. Sebagai upaya peningkatan kualitas uang, maka Bank Indoenesia melakukan survei untuk mengetahui soil level uang yang beredar di masyarakat. Survei tersebut dilakukan secara berkala di setiap semester dan pada semester I dilakukan pada bulan Mei 2017. Survei tersebut merupakan bagian dari strategi ke depan dalam upaya peningkatan kualitas uang.

5.1.2 Transaksi Pembayaran Non Tunai

Berbeda dengan transaksi tunai, transaksi non tunai pada triwulan II 2017 menunjukkan penurunan secara tahunan (yoy). Transaksi non tunai baik RTGS maupun kliring secara keseluruhan pada triwulan II 2017 secara nominal mencapai Rp8,57 Triliun, menurun 8,82% (yoy). Penurunan secara tahunan tersebut juga sama dengan triwulan sebelumnya yang mengalami penurunan sebesar 7,05% (yoy). Sedangkan dari sisi jumlah

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah 71 warkat RTGS dan kliring secara total mencapai 87,56 ribu lembar, menurun dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 15,77% (yoy).

Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq), transaksi non tunai terjadi peningkatan sebesar 11,97% (qtq), dari Rp7,65 Triliun pada triwulan I 2017 menjadi Rp8,57 Triliun pada triwulan II 2017. Peningkatan tersebut ditopang transaksi RTGS dengan persentase kenaikan sebesar 37,22% (qtq), sedangkan transaksi kliring mengalami penurunan sebesar 13,33% (qtq).

Pertumbuhan secara triwulanan tersebut diperkirakan terkait dengan percepatan aktivitas ekonomi di Provinsi NTB, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah yang mulai meningkat pada triwulan II 2017 dibanding dengan triwulan sebelumnya. Meskipun peningkatan tersebut masih terbatas, jika dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya pencapaian triwulan II 2017 masih lebih rendah. Dalam rangka untuk terus meningkatkan transaksi non tunai, Bank Indonesia bersama berbagai pihak terus mendorong pemanfaatan uang elektronik melalui Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). GNNT ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen non tunai yang dapat mendukung sistem pembayaran yang aman, efisien, dan lancar. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, dalam berbagai kesempatan baik di lingkungan pemerintahan, pelaku usaha, akademisi, maupun kepada masyarakat umum terus melakukan sosialisasi GNNT.

Grafik 5.3

Perkembangan Transaksi Non Tunai

Pada triwulan II 2017, nilai transaksi dan warkat RTGS mengalami peningkatan secara tahunan.

Nilai transaksi RTGS mencapai Rp5,26 Triliun atau tumbuh sebesar 11,85% (yoy), pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang menurunan sebesar

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah 72 2,19% (yoy). Di sisi lain jumlah warkat RTGS pada triwulan II 2017 menurun 46,51% (yoy), dengan jumlah warkat mencapai 0,85 ribu lembar.

Transaksi kliring triwulan II 2017 mencapai Rp3,31 Triliun, turun sebesar 29,51% (yoy), penurunan ini lebih dalam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang juga mengalami penurunan sebesar 11,47% (yoy). Sejalan dengan perlambatan pertumbuhan nominal transaksi kliring, jumlah warkat kliring juga turun sebesar 11,72% (yoy).

Grafik 5.4

Perkembangan Transaksi RTGS di Provinsi NTB

Grafik 5.5

Perkembangan Transaksi Kliring di Provinsi NTB

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan 73

6 6 6 6 6

BAB 6

KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Indikator kesejahteraan Provinsi NTB secara umum menunjukkan penurunan. Hal ini terlihat dari beberapa indikator seperti tingkat kemiskinan yang sedikit mengalami peningkatan. Selain itu, indikator Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menurun. Nilai Tukar Petani (NTP) meskipun menunjukkan peningkatan secara umum, namun khusus NTP Hortikultura dan NTP Perkebunan menunjukkan penurunan secara tahunan.

6.1 PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Menurunnya perekonomian NTB pada triwulan II 2017, sejalan dengan menurunnya beberapa indikator kesejahteraan masyarakat. Persentase kemiskinan mengalami sedikit peningkatan dibandingkan dengan September 2016 yang tidak terlepas dari adanya penyesuaian tarif dasar listrik. Sejalan dengan Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia yang menunjukan optimisme konsumen dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mengalami penurunan, terutama disebabkan oleh menurunnya penghasilan masyarakat dibandingkan dengan 6 bulan yang lalu. Indikator Nilai Tukar Petani (NTP) juga masih tumbuh terbatas.

6.2 KEMISKINAN

Presentase penduduk miskin sebesar 16,07%, sedikit meningkat dibandingkan dengan kondisi bulan September 2016 yang sebesar 16,02%. Peningkatan tersebut tidak terlepas dari adanya penyesuaian tarif dasar listrik untuk Rumah Tangga 900 VA berturut-turut pada bulan Januari dan Maret 2017. Dari sisi jumlah, jika dibandingkan dengan tahun 2014-2016, penduduk miskin di Provinsi NTB Maret 2017 relatif rendah. Hal ini diperkirakan seiring dengan inflasi yang rendah dalam 3 (tiga) tahun terakhir dan program-program pengentasan kemiskinan yang dicanangkan oleh pemerintah daerah.

Penduduk miskin dihitung berdasarkan berapa jumlah penduduk yang pengeluaran per kapita per bulannya berada di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan tersebut terbentuk dari komposit harga-harga komoditas (makanan maupun non-makanan) yang berada di dalamnya, sehingga tingkat inflasi menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan garis kemiskinan.

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan 74

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 6.1

Perkembangan Tingkat Kemiskinan Provinsi NTB

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 6.2

Persentase Distribusi Penduduk Miskin

Penduduk miskin di Provinsi NTB masih didominasi oleh penduduk di pedesaan.

Sebanyak 51,24% penduduk miskin di Provinsi NTB terdapat di pedesaan dan sebanyak 48,76% terdapat di perkotaan. Kondisi tersebut menunjukan pemerataan pertumbuhan ekonomi yang masih dapat ditingkatkan di Provinsi NTB. Dengan pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi total secara provinsi dapat ditingkatkan dengan lebih optimal.

Memperbaiki kinerja sektor-sektor ekonomi utama seperti sektor pertaniaan, melalui inovasi pertanian dan penggunaan teknologi pertanian, serta mendorong tumbuhnya sektor ekonomi potensial yang padat karya seperti pariwisata diharapkan dapat memberikan multiplier effect yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

6.3 NILAI TUKAR PETANI

NTP Provinsi NTB meski menunjukkan peningkatan secara umum, khusus NTP Hortikultura dan Perkebunan menunjukkan penurunan. Hingga bulan Juni 2017, Indeks NTP Provinsi NTB tercatat 105,09, tumbuh 0,91% (yoy). Angka indeks tersebut meningkat dibandingkan dengan angka indeks pada bulan Maret 2017 yang tercatat sebesat 104,71 yang secara tahunan tumbuh 0,32% (yoy). NTP Hotikultura dan NTP Perkebunan masing-masing tercatat 90,20 dan 93,32. Selain indeks NTP tersebut yang di bawah 100, indeks tersebut menunjukkan penurunan secara tahunan. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, NTP Hotikultura dan Perkebunan masing-masing sebesar 94,37 dan 94,47.

Secara umum, tren pertumbuhan NTP sampai dengan triwulan II 2017 cenderung menunjukan perlambatan dibanding dengan tahun sebelumnya. Jika dilihat per komponen NTP, khusus NTP Hortikultura dan NTP Perkebunan bahkan menunjukkan penurunan tahunan dari awal tahun 2017 sampai dengan triwulan II 2017. Penurunan NTP yang paling dalam terjadi pada NTP Hortikultura, kemudian diikuti NTP Perkebunan. Jika dilihat per subkomponen, Indeks yang

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan 75 Diterima petani mengalami pertumbuhan lebih rendah dibandingkan dengan Indeks yang Dibayar petani sebagai indikasi meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat dan harga barang.

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 6.3

Nilai Tukar Petani Provinsi NTB

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 6.4

Pertumbuhan NTP dan Komponen Pembentuknya

Terbatasnya pertumbuhan NTP perlu mendapat perhatian, terutama untuk mencapai target penurunan kemiskinan. Pergerakan nilai tukar petani berkorelasi cukup kuat dengan penduduk miskin, karena sebagian besar penduduk miskin bekerja di sektor pertanian. Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani dan menjaga harga komoditas tetap terjangkau akan berdampak positif dalam hal meningkatkan NTP, yang pada akhirnya akan membantu menurunkan angka kemiskinan di Provinsi NTB.

6.4 INDIKATOR SURVEI KONSUMEN

Kesejahteraan masyarakat NTB diperkirakan mengalami peningkatan kedepannya, tercermin dari optimisme masyarakat terhadap perekonomian Provinsi NTB yang membaik. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada triwulan II 2017 sebesar 109,92 atau lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 105,8. Meningkatnya keyakinan konsumen tersebut disebabkan karena meningkatnya penghasilan saat ini dibandingkan dengan 6 bulan yang lalu. Sejalan dengan itu, pengeluaran konsumen untuk membeli barang tahan lama meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya

Perkiraan konsumen terhadap kondisi perekonomian 6 bulan yang akan datang tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen yang dijabarkan dalam 3 faktor, antara lain ekspektasi penghasilan, kondisi ekonomi Indonesia, dan ketersediaan lapangan kerja. Dari seluruh indikator tersebut, hanya ekspektasi penghasilan yang mengalami penurunan. Hal tersebut

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan 76 menunjukkan bahwa masyarakat cukup optimis terhadap kondisi perekonomian 6 bulan yang akan datang.

Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia Grafik 6.5

Indikator Survei Konsumen

Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia Grafik 6.6

Ekspektasi Inflasi Masyarakat

Prospek Perekonomian Daerah 77

BAB 7

PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH

Perekonomian Provinsi NTB (termasuk tambang) secara keseluruhan tahun 2017 diperkirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2016. Melambatnya pertumbuhan tersebut disebabkan kinerja ekspor luar negeri yang masih belum pulih. Ekspor diperkirakan mengalami kontraksi karena berkurangnya kuota ekspor tembaga terkait dengan ijin ekspor yang diberikan pada tahun 2017. Demikian pula dengan perekonomian NTB pada triwulan IV 2017 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan triwulan III 2017 karena terbatasnya kuota ekspor tembaga. Pada triwulan III 2017 ekonomi Provinsi NTB diperkirakan tumbuh positif atau lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan II 2017 yang terkontraksi.

Sementara itu, perekonomian Provinsi NTB nontambang secara keseluruhan tahun 2017 diprakirakan tumbuh sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2016. Hal tersebut disebabkan terbatasnya pertumbuhan investasi dan konsumsi rumah tangga. Sementara itu, perekonomian NTB nontambang pada triwulan IV 2017 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan III 2017, didorong meningkatnya permintaan domestik menjelang akhir tahun dan peringatan Maulid Nabi. Pada triwulan III 2017 diperkirakan ekonomi nontambang Provinsi NTB tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan II 2017.

7.1 PROSPEK PEREKONOMIAN PROVINSI NTB

Pada triwulan IV 2017, pertumbuhan ekonomi tahunan diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III 2017, yaitu sebesar -1,0 s.d -0,5% (yoy). Lebih rendahnya pertumbuhan tersebut karena ekspor luar negeri yang diperkirakan menurun terkait terbatasnya sisa kuota ekspor tembaga untuk diekspor, setelah pada triwulan III 2017 yang diperkirakan akan tumbuh signifikan. Pada bulan Juli 2017, ekspor luar negeri tumbuh signifikan dibanding dengan periode triwulan II 2017. Sehingga diperkirakan hal ini akan mendorong pertumbuhan pada triwulan III 2017.

Perkiraan menurunnya ekspor luar negeri pada triwulan IV 2017 akan berdampak pada menurunnya sektor pertambangan pada PDRB sisi sektoral. Secara keseluruhan pada tahun 2017 kuota ekspor tembaga yang diberikan Kementerian ESDM juga lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2016. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2017 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2016 pada kisaran -0,6 s.d -0,2% (yoy).

Prospek Perekonomian Daerah 78

Sumber : BPS Provinsi NTB dan Proyeksi Bank Indonesia, diolah

Grafik 7.1

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Provinsi NTB

Sumber : BPS Provinsi NTB dan Proyeksi Bank Indonesia, diolah

Grafik 7.2

Proyeksi Pertumbuhan Kategori Utama

Perekonomian Provinsi NTB tanpa memperhitungkan sektor tambang pada triwulan IV 2017 diperkirakan meningkat dibandingkan dengan triwulan III 2017, yaitu sebesar 5,4 s.d 5,8% (yoy). Pertumbuhan tersebut diperkirakan disumbang oleh konsumsi rumah tangga, yang diperkirakan akan tumbuh meningkat seiring meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang akhir tahun dan perayaan Maulid Nabi. Selain itu, perkiraan meningkatnya kunjungan wisatawan pada akhir tahun diperkirakan berdampak pada meningkatnya beberapa sektor ekonomi utama NTB nontambang seperti perdagangan dan transportasi sehingga mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi nontambang.

Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB tanpa memperhitungkan sektor tambang untuk keseluruhan tahun 2017 diperkirakan sedikit melambat pada kisaran 5,5 s.d 5,9% (yoy).

Melambatnya pertumbuhan tersebut disebabkan oleh pertumbuhan investasi pada tahun 2017 yang diperkirakan tidak setinggi tahun sebelumnya dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang diperkirakan masih terbatas. Menurunnya pertumbuhan investasi dan terbatasnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercermin dari indikator Composite Leading Indikator (CLI) untuk masing-masing komponen tersebut.

Prospek Perekonomian Daerah 79

Sumber : Proyeksi Bank Indonesia, diolah Grafik 7.3

Composite Leading Indicator Konsumsi Rumah Tangga

Sumber : Proyeksi Bank Indonesia, diolah Grafik 7.4

Composite Leading Indicator Investasi

7.2 PERKIRAAN INFLASI PROVINSI NTB

Tekanan inflasi pada tahun 2017 diperkirakan terkendali. Inflasi NTB pada triwulan IV 2017 atau keseluruhan tahun 2017 diperkirakan sebesar 3,5 s.d 3,9% (yoy), berada dalam target inflasi nasional sebesar 4 + 1% (yoy). Terkendalinya laju inflasi sepanjang tahun 2017 tersebut didukung oleh terkendalinya harga komoditas volatile food, didukung oleh peningkatan produksi komoditas pangan. Langkah aktif TPID dan Satgas Pangan dalam meredam gejolak inflasi selama bulan puasa dan Idul Fitri 2017, berkontribusi terhadap terkendalinya harga pangan pada pertengahan tahun 2017. Hasil survei konsumen Bank Indonesia menunjukan ekspektasi inflasi yang terkendali dalam 3 hingga 6 bulan ke depan.

Meskipun demikian, laju inflasi 2017 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2016.

Hal tersebut disebabkan oleh peningkatan inflasi administered price yakni tarif STNK dan listrik yang meningkat pada awal tahun.

94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104

2012-01 2012-04 2012-07 2012-10 2013-01 2013-04 2013-07 2013-10 2014-01 2014-04 2014-07 2014-10 2015-01 2015-04 2015-07 2015-10 2016-01 2016-04 2016-07 2016-10 2017-01 2017-04 2017-07

Konsumsi CLI_Konsumsi

93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103

2012-01 2012-04 2012-07 2012-10 2013-01 2013-04 2013-07 2013-10 2014-01 2014-04 2014-07 2014-10 2015-01 2015-04 2015-07 2015-10 2016-01 2016-04 2016-07 2016-10 2017-01 2017-04 2017-07

PMTB CLI_PMTB

Prospek Perekonomian Daerah 80

Sumber : BPS Provinsu NTB dan Proyeksi Bank Indonesia, diolah

Grafik 7.5 Proyeksi Inflasi Tahunan

Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia, diolah Grafik 7.6

Ekspektasi Inflasi

Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia

Pada tahun 2017, terdapat sejumlah risiko yang terkait dengan kelompok komoditas administered price dan volatile food. Dari sisi kelompok volatile food, risiko terjadinya kekeringan akibat dari musim kemarau yang disebabkan fenomena El Nino perlu dicermati.

BMKG Provinsi NTB memperkirakan musim kemarau dengan kondisi curah hujan yang mulai

BMKG Provinsi NTB memperkirakan musim kemarau dengan kondisi curah hujan yang mulai

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL (Halaman 82-0)