Bab 3 Perkembangan Inflasi Daerah
3.2. Inflasi Berdasarkan Komoditas
3.2.6. Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga
Kelompok komoditas pendidikan, rekreasi, dan olah raga dalam triwulan II 2017 mengalami inflasi 1,78% (yoy). Tekanan inflasi tersebut sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami inflasi 1,77% (yoy). Meningkatnya laju inflasi tersebut masih disebabkan oleh biaya Pendidikan yang akan memasuki tahun ajaran baru.
jan feb mar apr mei jun jul agu sep okt nov des jan feb mar apr mei jun jul
2016 2017
% (mtm) 0.00 0.24 0.25 0.00 0.10 0.03 1.10 0.31 0.000.26 0.070.02 -0.1 -0.0 0.04 0.03 0.04 0.07 0.06
% (yoy) - sisi kanan 8.728.728.938.928.718.759.642.712.462.31 2.392.402.261.991.771.81 -0.0 1.780.07 -2.00
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 3.19
Perkembangan Inflasi Komoditas Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga
Grafik 3.20
Perkembangan Inflasi Bulanan Berdasarkan Kelompok Komoditas Pendidikan,
Rekreasi dan Olah Raga
Inflasi 41
3.2.7 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan
Tekanan inflasi kelompok komoditas transpor, komunikasi, dan jasa keuangan pada triwulan II 2017 sebesar 3,35% (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,68% (yoy). Tekanan inflasi tersebut meningkat tajam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sub-komoditas utama yang mengalami peningkatan inflasi tahunan terbesar adalah sarana dan penunjang transport khususnya biaya perpanjangan STNK. Kenaikan biaya perpanjangan yang terjadi pada awal tahun 2017 masih memberikan pengaruh inflasi tahunan pada subkomoditas sarana dan penunjang transpor.
Sedangkan subkomoditas transpor menunjukkan deflasi secara tahunan.
jan feb mar apr mei jun jul agu sep okt nov des jan feb mar apr mei jun jul
2016 2017
% (mtm) -0.8 0.46 -0.0 -1.3 -0.0 0.19 2.31 -1.5 -1.8 0.14 -0.2 -0.0 3.27 -0.0 0.05 0.21 0.42 0.78 0.37
% (yoy) - sisi
kanan 3.30 5.40 4.40 1.25 0.99 1.43 2.24 0.75 -1.6 -2.4 -2.8 -3.0 1.06 0.59 0.68 2.30 3.97 3.35 5.16 -4.00 -3.00 -2.00 -1.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00
-3.00 -2.00 -1.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00
% (mtm) % (yoy) - sisi kanan
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 3.21
Perkembangan Inflasi Komoditas Transportasi, Komunikasi dan Jasa
Grafik 3.22
Perkembangan Inflasi Bulanan Berdasarkan Kelompok Komoditas Transportasi,
Komunikasi dan Jasa
3.3 INFLASI PERIODIKAL 3.3.1 INFLASI TRIWULANAN
Inflasi triwulanan NTB dalam triwulan II 2017 lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Inflasi triwulanan NTB pada triwulan II 2017 sebesar 1,14% (qtq), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 1,04% (qtq). Meningkatnya inflasi pada triwulan II 2017 disebabkan meningkatnya tekanan harga pada komoditas sandang dan makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut diakibatkan meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap komoditas sandang menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Sejalan dengan hal tersebut, kebutuhan terhadap makanan jadi juga mengalami peningkatan, terutama menjelang Bulan Ramadhan. Sedangkan dari bahan makanan, pada triwulan II 2017 mengalami sedikit peningkatan dibandingkan dengan
Inflasi 42 triwulan I 2017 yang cenderung menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya akibat meningkatnya jumlah pasokan dari tingkat produsen pada masa panen raya.
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 3.23
Perkembangan Inflasi Triwulanan Provinsi NTB
Grafik 3.24
Perkembangan Inflasi Triwulanan Provinsi NTB Berdasarkan Komoditas
3.3.2 Inflasi Tahunan
Secara tahunan inflasi Provinsi NTB pada akhir triwulan II 2017 sebesar 3,38% (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan yang sama pada tahun sebelumnnya sebesar 2,58% (yoy).
Capaian inflasi tersebut berada dibawah koridor target inflasi Bank Indonesia sebesar 4+1% (yoy).
Tren inflasi tahunan NTB menunjukan arah yang cenderung meningkat dalam setahun terakhir dikarenakan pada tahun 2017 ini Hari Raya Idul Fitri pada bulan Juni.
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah
Grafik 3.25
Perkembangan Inflasi Tahunan Provinsi NTB Berdasarkan Komoditas
Inflasi 43
3.4 DISAGREGASI INFLASI
3.4.1 Provinsi Nusa Tenggara Barat
Berdasarkan disagregasi inflasi, meningkatnya tekanan inflasi pada triwulan II 2017 disebabkan oleh inflasi pada kelompok administered price yang yakni sebesar 8,41%
(yoy). Kelompok administered price atau kelompok harga yang ditetapkan oleh pemerintah, mengalami inflasi yang cukup tinggi dibandingkan dengan kelompok lainnya (kelompok inti dan bahan makanan bergejolak). Inflasi tersebut disebabkan karena efek penyesuaian tarif dasar listrik berturut-turut yang dilaksanakan pada bulan Maret dan Mei 2017. Selain tarif dasar listrik, biaya perpanjangan STNK dan tarif cukai rokok yang diterapkan pada awal tahun 2017 juga turut meningkatkan tekanan inflasi.
Kelompok inti mengalami inflasi 3,37% (yoy), sedangkan kelompok volatile food atau komoditas bahan makanan bergejolak mengalami deflasi sebesar 1,45% (yoy). Laju inflasi kelompok inti mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya namun mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Beberapa komoditas kelompok inti yang mendorong meningkatnya inflasi pada komoditas tersebut, diantaranya tukang bukan mandor dan biaya sewa rumah.
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 3.26
Disagregasi Inflasi Bulanan Provinsi NTB
Grafik 3.27
Disagregasi Inflasi Tahunan Provinsi NTB
3.4.2 Kota Mataram
Inflasi Kota Mataram pada triwulan II 2017 sebesar 3,59% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 2,83% (yoy). Meningkatnya inflasi pada triwulan II 2017 dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, terutama disumbang oleh
Inflasi 44 meningkatnya harga komoditas administered price, diantaranya penyesuaian tarif dasar listrik untuk pengguna daya 900 VA dan biaya perpanjangan STNK.
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah
Grafik 3.28
Disagregasi Inflasi Bulanan Kota Mataram
Grafik 3.29
Disagregasi Inflasi Tahunan Kota Mataram
3.4.3 Kota Bima
Laju inflasi Kota Bima pada triwulan II 2017 meningkat. Inflasi Kota Bima pada triwulan II 2017 tercatat sebesar 2,64% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 1,63% (yoy). Seperti halnya yang terjadi di Mataram, kelompok yang memiliki kontribusi paling tinggi dalam meningkatnya tekanan inflasi adalah kelompok administered price atau kelompok harga yang ditentukan oleh pemerintah, diantaranya penyesuaian tarif dasar listrik untuk pengguna daya 900 VA dan biaya perpanjangan STNK.
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 3.30
Disagregasi Inflasi Bulanan Kota Bima
Grafik 3.31
Disagregasi Inflasi Tahunan Kota Bima
Inflasi 45
3.5 PENGENDALIAN INFLASI DAERAH
Meski tekanan inflasi hingga triwulan II 2017 cukup terkendali, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTB tetap waspada terhadap berbagai risiko tekanan harga pada masa yang akan datang. Koordinasi dan konsolidasi TPID diperkuat melalui Rapat Koordinasi Wilayah TPID Provinsi NTB dan perwakilan TPID dari seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi NTB. TPID Provinsi NTB bersama satgas pangan NTB secara intensif melakukan sidak pasar untuk memastikan tidak terjadi penimbunan komoditas pangan, sehingga berdampak pada kenaikan harga. Selain itu, TPID Provinsi NTB bersama TPID seluruh Kab/Kota juga melaksanakan pasar murah terintegrasi secara bersamaan, guna memastikan ketersediaan pasokan bahan makanan sepanjang bulan puasa hingga Hari Raya Lebaran.
Tabel 3.3
Langkah Pengendalian Inflasi pada bulan Ramadhan
Aspek Langkah Pengendalian Inflasi
1. Sosialisasi kepada masyarakat mengenai bijak dalam konsumsi melalui jalur dakwah dan iklan layanan masyarakat.
2 Mengeluarkan himbauan kepada Pegawai Negeri Sipil untuk tidak menggunakan gas elpiji 3 Kg.
1. Pemenuhan pasokan pangan secara bersama-sama antara daerah Lombok dan Sumbawa.
2. Penyelenggaraan pasar murah terintegrasi dengan berbagai pihak (Pemerintah Daerah, Swasta, BUMN, BUMD, Badan Amil Zakat Nasional).
1. Penjadwalan masa tanam komoditas antar periode.
2. Meningkatkan promosi Rumah Pangan Kita (RPK) dan Toko Tani Indonesia kepada masyarakat disertai peningkatan kualitas pelayanan dan cakupan komoditas yang dijual.
3. Program Sapi Indukan Wajib Bunting
4. Program Rantai Dingin, membagikan fasilitas pendingin untuk menjaga ketersediaan pasokan ikan.
Kelembagaan 1. Koordinasi anggota TPID setiap bulan.
2. Kerjasama dengan Satgas Pangan yang bekerjasama dengan pihak Kepolisian.
Pengendalian Ekspektasi Masyarakat
Kerjasama Intra/Antar Daerah
Produksi/Distribusi/Konektivitas
Selain beberapa langkah tersebut, TPID Provinsi NTB terus mendorong dilaksanakannya beberapa langkah strategis berikut:
1. Penyusunan neraca beberapa komoditas strategis yang akurat dengan series data bulanan 2. Pengaturan tata niaga yang efektif dan terstruktur
3. Perluasan akses informasi harga pangan di masyarakat.
Inflasi 46
3.6 PROSPEK INFLASI TRIWULAN III 2017
Pada awal triwulan III 2017 tekanan inflasi menunjukkan penurunan. Inflasi bulanan pada Juli 2017 menurun menjadi 0,41% (mtm) dari bulan Juni sebesar 0,58% (mtm). Hal ini seiring menurunnya permintaan masyarakat setelah bulan puasa dan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Secara historis dalam 5 (lima) tahun terakhir, rata-rata inflasi Agustus dan September masing-masing sebesar 0,55% (mtm) dan -0,22% (mtm).
Namun, tekanan inflasi secara keseluruhan pada triwulan III 2017 diperkirakan meningkat. Meningkatnya tekanan inflasi akan terlihat pada perkiraan inflasi bulan Agustus 2017 yang lebih tinggi dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Beberapa faktor diperkirakan mempengaruhi tekanan harga pada triwulan III 2017, yaitu: meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat seiring peningkatan kunjungan wisatawan, risiko kekeringan pada musim kemarau yang berisiko menurunkan produksi palawija pada fase panen kedua dan risiko administered price terkait dengan perkembangan harga minyak dunia yang fluktuatif dapat mempengaruhi harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun demikian, inflasi triwulan III 2017 secara umum diperkirakan terkendali, berada dalam rentang target inflasi 4+1% (yoy), yaitu sebesar 4 s.d 4,4% (yoy).
Sumber: BPS Provinsi NTB dan Proyeksi Bank Indonesia, diolah Grafik 3.32
Prospek Inflasi Tahunan Triwulan III 2017
Grafik 3.33
Survei Pemantauan Harga Bank Indonesia
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM 47
BAB 4
STABILITAS KEUANGAN DAERAH,
PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM
Stabilitas keuangan daerah Provinsi NTB pada triwulan II 2017 masih relatif terjaga. Ketahanan sektor korporasi dan rumah tangga masih berada pada level aman. Hal ini tercermin dari indikator Non Performing Loan (NPL) relatif sama dengan triwulan sebelumnya. Risiko kredit sektor rumah tangga cenderung menurun, terlihat dari indikator Debt Service Ratio (DSR) >
30% yang mengalami penurunan. Optimisme rumah tangga juga meningkat tercermin dari meningkatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga.
4.1 ASESMEN KETAHANAN KORPORASI
Ketahanan sektor korporasi pada triwulan II-2017 masih berada pada level aman dan relatif sama dengan triwulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari indikator rasio Non Performing Loan (NPL). Rasio Non Performing Loan (NPL) sektor korporasi pada triwulan II-2017 sebesar 1,78% relatif sama dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 1,79%. Rasio NPL tersebut masih terjaga di bawah ambang batas 5%. Secara sektoral, NPL yang perlu dicermati adalah NPL pada sektor lain-lain yang nilainya relatif tinggi dan di atas ambang batas, yaitu sebesar 22,61%.
Grafik 4.1
Pertumbuhan Kredit dan Rasio NPL Bank Umum di Provinsi NTB
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM 48 Pada triwulan II 2017, penyaluran kredit perbankan Provinsi NTB kepada sektor korporasi produktif masih tumbuh tinggi sebesar 37,91% (yoy), namun melambat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 46,28% (yoy). Pertumbuhan yang tinggi tersebut ditopang oleh penyaluran kredit investasi kepada sektor pertambangan dan penggalian sejak triwulan IV 2016. Sedangkan perlambatan pertumbuhan seiring dengan penurunan jumlah baki debet kredit investasi khususnya sektor pertambangan dan penggalian dengan adanya pembayaran cicilan sejak awal tahun 2017.
Selain kredit investasi, kredit modal kerja dan konsumsi juga mengalami perlambatan.
Berdasarkan sektor ekonomi utama di Provinsi NTB, yakni pertanian, perdagangan, dan pertambangan, kredit bank umum paling besar disalurkan kepada sektor perdagangan dengan porsi sebesar 53,06% dari total kredit produktif atau 25,53% dari total keseluruhan kredit.
Kredit yang disalurkan kepada sektor perdagangan tersebut tumbuh sebesar 8,60% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 13,97% (yoy). Kredit sektoral yang mencatat pertumbuhan paling tinggi di antara sektor yang lain pada triwulan II 2017 adalah kredit pertambangan dan penggalian, serta sektor jasa kemasyarakatan; dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 167,40% (yoy) dan 65,56% (yoy).
Tabel 4.1
Perkembangan NPL Bank Umum Berdasarkan Lapangan Usaha di Provinsi NTB
NPL Berdasarkan Lapangan Usaha
(%) TW 4 TW 4 TW 1 TW 2 TW 3 TW 4 TW 1 TW2
Total Kredit 1,74 1,99 2,15 2,07 2,04 1,58 1,79 1,78 Kredit Produktif 2,54 3,09 3,30 3,22 3,20 2,14 2,53 2,59 Pertanian, Perburuan, dan Kehutanan 1,55 1,62 1,45 1,17 1,73 1,25 1,72 1,68 Perikanan 5,62 2,56 2,92 2,26 1,77 1,48 1,11 1,78 Pertambangan dan Penggalian 43,08 35,07 18,18 24,43 19,77 0 0 0 Industri Pengolahan 4,35 3,93 5,03 5,37 5,05 4,22 5,44 3,45 Listrik, Gas, dan Air - 1,76 1,31 0,83 0,54 0,38 0,01 0,02 Konstruksi 3,19 2,39 2,79 2,93 2,84 2,46 2,86 2,52 Perdagangan Besar dan Eceran 2,74 3,52 3,67 3,68 3,69 3,34 3,73 3,78 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,41 3,09 2,89 0,93 0,90 0,62 0,91 0,94 Transportasi, Pergudangan, dan Komunikasi 0,85 1,99 2,57 1,91 2,05 1,50 1,74 1,47 Perantara Keuangan 2,04 1,49 1,37 6,84 1,82 1,92 1,27 0,93 Real Estate dan Jasa Perusahaan 1,05 0,87 1,76 2,12 1,98 1,69 2,93 3,00 Administrasi Pemerintahan 1,23 1,72 4,45 16,88 - - - -Jasa Pendidikan 1,55 0,98 0,61 1,47 0,58 1,23 1,40 1,38 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0,26 0,16 0,18 0,25 0,14 0,08 0,07 0,04 Jasa Kemasyarakatan 1,45 2,17 2,94 2,55 3,28 2,74 2,75 2,63 Jasa Rumah Tangga 0,92 2,14 2,51 2,20 2,69 4,62 4,76 4,72
Jasa Lainnya - - - - - - -
-Lain-lain - 22,39 24,99 13,59 13,17 6,73 7,03 22,61 Bukan Lapangan Usaha 1,13 1,19 1,31 1,22 1,19 1,01 1,08 1,04
2017 2016
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM 49 Tabel 4.2
Perkembangan Kredit Bank Umum Berdasarkan Sektor Ekonomi di Provinsi NTB
Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Sektor
Ekonomi dan Lokasi Bank 2014 2015
(%) TW 4 TW 4 TW 1 TW 2 TW 3 TW 4 TW 1 TW2
Total Kredit 15,52 12,88 13,74 14,53 14,72 30,85 26,50 22,33 Kredit Produktif 11,04 10,97 12,02 13,47 18,09 56,85 46,28 37,91 Pertanian, Perburuan, dan Kehutanan 9,72 36,19 55,84 79,64 102,75 71,56 60,52 63,97 Perikanan (3,58) 37,90 19,80 44,74 47,50 43,48 56,52 44,01 Pertambangan dan Penggalian 91,41 (18,14) (29,29) (38,46) (25,00) 31.292 37.589 37.474 Industri Pengolahan 25,67 24,88 21,28 26,77 23,79 14,14 10,19 11,65 Listrik, Gas, dan Air 54,43 16,88 2,21 26,67 33,33 86,67 114,29 49,39 Konstruksi (28,69) 35,50 37,78 30,79 23,90 20,03 11,07 10,61 Perdagangan Besar dan Eceran 10,62 5,43 8,83 14,34 17,01 19,16 15,49 9,80 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 29,94 20,55 24,55 21,00 21,52 17,11 9,21 5,01 Transportasi, Pergudangan, dan Komunikasi 8,79 1,59 3,69 10,76 13,38 15,82 17,28 8,93 Perantara Keuangan 25,77 (37,87) (39,65) (51,18) (39,33) (36,25) (1,41) 54,02 Real Estate dan Jasa Perusahaan 19,18 81,59 48,16 6,36 2,13 0,68 (36,12) (35,37) Administrasi Pemerintahan 72,32 (68,83) (62,22) (50,00) (50,00) (100,00) - 25,55 Jasa Pendidikan 112,82 10,15 7,88 15,38 7,69 (13,33) (12,50) 11,02 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 3,37 2,01 1,25 1,44 0,70 8,33 - 1,24 Jasa Kemasyarakatan 74,85 (35,12) (43,95) (42,99) 19,44 36,99 64,59 64,38 Jasa Rumah Tangga 45,77 24,47 (3,73) (17,24) (31,25) (32,26) (22,22) (15,66) Jasa Lainnya - - - - - - - -Lain-lain - - (55,24) (54,17) (42,11) 43,75 46,67 (3,98) Kredit Bukan Lapangan Usaha 18,39 15,20 15,04 15,35 12,35 12,05 12,01 10,71
2017 2016
4.2 ASESMEN KETAHANAN RUMAH TANGGA 4.2.1 Perkembangan Kondisi Rumah Tangga
Tingkat konsumsi rumah tangga dalam PDRB Provinsi NTB yang meningkat pada triwulan II 2017 juga tercermin dari keyakinan rumah tangga yang juga meningkat.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2017 sebesar 2,66% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 2,12% (yoy). Kegiatan konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh keyakinan rumah tangga terhadap perekonomian.
Ketika rumah tangga yang optimis terhadap kondisi perekonomian, mereka akan meningkatkan kegiatan konsumsi dan begitu pula sebaliknya. Tingkat optimisme tersebut dapat dilihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dihasilkan oleh Survei Konsumen.
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM 50
0.00%
1.00%
2.00%
3.00%
4.00%
5.00%
6.00%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
I II III IV I II III IV I II
2015 2016 2017
Porsi Konsumsi Rumah Tangga
Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga - sisi kanan (yoy)
Sumber: BPS, diolah Sumber: Survei Konsumen, diolah
Grafik 4.2
Perkembangan Konsumsi Rumah Tangga dalam Produk Domestik Regional Bruto Provinsi NTB
Grafik 4.3
Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen
Percepatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada PDRB Provinsi NTB triwulan II 2017 tersebut juga terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen yang juga menunjukkan terjadinya peningkatan pada triwulan II 2017. Indeks Keyakinan Konsumen yang dihasilkan oleh Survei Konsumen Bank Indonesia pada triwulan II 2017 sebesar 109,92, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 105,80. Meningkatnya angka IKK tersebut didorong oleh peningkatan pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).
Sumber: Survei Konsumen, diolah
Sumber: Survei Konsumen, diolah Grafik 4.4
Persepsi Rumah Tangga terhadap Ekonomi Saat Ini
Grafik 4.5
Persepsi Rumah Tangga terhadap Ekonomi 6 (Enam) Bulan Mendatang
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM 51 Rumah tangga di Provinsi NTB masih memiliki optimisme yang cukup tinggi terhadap kondisi penghasilan dan pembelian barang tahan lama untuk saat ini (triwulan II 2017). Untuk 6 (enam) bulan ke depan, secara umum rumah tangga masih tetap optimis. Hal ini ditandai dengan adanya ekspektasi penghasilan, usaha, dan lapangan kerja dengan indeks di atas 100. Namun perlu diwaspadai terkait tingkat optimisme ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini yang angkanya di bawah 100 yang berarti rumah tangga cenderung pesimis dalam ketersediaan lapangan pekerjaan.
Pengeluaran rumah tangga lebih banyak digunakan untuk konsumsi dengan porsi sebesar 66,6% pada triwulan II 2017, diikuti dengan tabungan sebesar 19,9%, dan cicilan pinjaman sebesar 13,5%. Porsi konsumsi pada triwulan II 2017 juga mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, yaitu dari 64,4% menjadi 66,6%. Porsi dana yang digunakan untuk menabung juga mengalami peningkatan dari 16,6% pada triwulan I 2017 menjadi 19,9% pada triwulan II 2017. Dengan bertambahnya porsi konsumsi dan dana yang digunakan untuk menabung, dana yang disisihkan untuk membayar cicilan pinjaman berkurang, yaitu dari 19,0% menjadi 13,5%.
64.4%
19.0%
16.6%
TW I-2017
Konsumsi Cicilan/Pinjaman Tabungan
Sumber: Survei Konsumen, diolah
Sumber: Survei Konsumen, diolah Grafik 4.6
Komposisi Pengeluaran Rumah Tangga Triwulan I 2017
Grafik 4.7
Komposisi Pengeluaran Rumah Tangga Triwulan II 2017
Berdasarkan pengeluaran, tingkat pengeluaran konsumsi yang tertinggi dilakukan oleh kelompok rumah tangga berpengeluaran Rp6,1-7 juta dan Rp1 2 juta. Dari sisi tingkat pembayaran cicilan pinjaman, yang tertinggi (23%) dilakukan kelompok rumah tangga dengan pengeluaran Rp7,1-8 Juta. Hal tersebut menyebabkan potensi tabungan yang semakin rendah dari kelompok rumah tangga berpengeluaran tinggi.
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM 52 Tabel 4.3
Komposisi Pengeluaran Rumah Tangga Berdasarkan Pendapatan pada Triwulan II 2017
Komposisi Tingkat Konsumsi, Cicilan dan Tabungan (adjustmen)
Rp1 - 2 jt Rp2,1 - 3 jt Rp3,1 - 4 jt Rp4,1 - 5 jt Rp5,1 - 6 jt Rp6,1 - 7 jt Rp7,1 - 8 jt >Rp8 jt Rata-rata
Konsumsi 72,2% 62,8% 63,2% 65,0% 70,0% 75,0% 62,0% 33,3% 66,6%
Cicilan/Pinjaman 13,0% 16,3% 14,0% 14,0% 10,0% 10,0% 23,0% 13,3% 13,5%
Tabungan 14,8% 21,0% 22,8% 21,0% 20,0% 15,0% 15,0% 53,3% 19,9%
Total 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0%
Penggunaan Pengeluaran/bulan
4.2.2 Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Pada triwulan II 2017 terjadi penurunan risiko dari sisi kredit karena secara agregat terjadi penurunan jumlah rumah tangga yang memiliki debt service ratio lebih dari 30% pendapatannya (DSR > 30%). Jumlah rumah tangga dengan DSR > 30% pada triwulan II 2017 turun sebesar 21,1% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Rumah tangga dengan DSR > 30% memiliki risiko kredit lebih tinggi dibanding kelompok rumah tangga dengan DSR < 30% dan dapat menjadi penyebab kredit bermasalah. Peningkatan DSR > 30%
terutama terjadi pada kelompok rumah tangga dengan pendapatan Rp2,1-3 Juta dengan peningkatan sebesar 23,8%, sementara itu penurunan DSR > 30% tertinggi terjadi pada kelompok rumah tangga dengan pendapatan Rp6,1 7 Juta.
Sumber: Survei Konsumen, diolah
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM 53 Tabel 4.4
Dana Rumah Tangga untuk Membayar Cicilan dan Perubahannya Berdasarkan Pendapatan
0-10% 10%-20% 20%-30% >30% 1-10% 10%-20% 20%-30% >30%
TBM*
Rp1 - 2 jt 27,8% 6,8% 8,8% 5,2% Rp1 - 2 jt 0,0% 0,3% 0,3% 48,2% 0,0%
Rp2,1 - 3 jt 15,2% 5,7% 8,8% 4,3% Rp2,1 - 3 jt 0,0% 0,3% 0,8% 32,8% 0,0%
Rp3,1 - 4 jt 6,5% 1,7% 1,5% 1,5% Rp3,1 - 4 jt 0,0% 0,2% 0,3% 10,7% 0,0%
Rp4,1 - 5 jt 1,3% 0,5% 0,3% 0,3% Rp4,1 - 5 jt 0,0% 0,0% 0,2% 2,3% 0,0%
Rp5,1 - 6 jt 1,0% 0,7% 0,0% 0,2% Rp5,1 - 6 jt 0,0% 0,0% 0,0% 1,8% 0,0%
Rp6,1 - 7 jt 0,2% 0,2% 0,0% 0,0% Rp6,1 - 7 jt 0,0% 0,0% 0,0% 0,3% 0,0%
Rp7,1 - 8 jt 0,2% 0,2% 0,3% 0,2% Rp7,1 - 8 jt 0,0% 0,0% 0,0% 0,8% 0,0%
>Rp8 jt 0,3% 0,0% 0,0% 0,2% >Rp8 jt 0,0% 0,2% 0,2% 0,2% 0,0%
Total 52,5% 15,7% 19,8% 11,8% Total 0,0% 1,0% 1,8% 97,2% 0,0%
*TBM = Tidak Bisa Menabung
0-10% 10%-20% 20%-30% >30% 0-10% 10%-20% 20%-30% >30%
TBM
Rp1 - 2 jt 29,5% 10,8% -24,3% -16,2% Rp1 - 2 jt - -0,50 -0,71 0,11 -1,00
Rp2,1 - 3 jt 35,8% 9,7% -5,4% 23,8% Rp2,1 - 3 jt -1,00 - -0,38 0,19
-Rp3,1 - 4 jt 0,0% 100,0% -65,4% -55,0% Rp3,1 - 4 jt - -0,50 -0,50 -0,24 -Rp4,1 - 5 jt 14,3% -66,7% -60,0% -60,0% Rp4,1 - 5 jt - - -0,50 -0,42 -Rp5,1 - 6 jt -33,3% 0,0% -100,0% -75,0% Rp5,1 - 6 jt - - -1,00 -0,45 -Rp6,1 - 7 jt -50,0% -66,7% -100,0% -100,0% Rp6,1 - 7 jt - - - -0,71 -Rp7,1 - 8 jt -66,7% 0,0% 0 0,0% Rp7,1 - 8 jt - - - 0,00
->Rp8 jt 100,0% -100,0% 0 0,0% >Rp8 jt - - 0,00 -0,50
-Total 22,6% 3,3% -26,5% -21,1% Total -1,00 - -0,52 0,02 -1,00
*Perubahan tw II 2017 dibandingkan tw I 2017 *Perubahan tw II 2017 dibandingkan tw I 2017 Pengeluaran/
bulan
Perubahan Debt Service Ratio (DSR)*
Pengeluaran/
bulan
Perubahan Tabungan*
Pengeluaran/
bulan
Triwulan II 2017
Pengeluaran/
bulan
Triwulan II 2017
Debt Service Ratio (DSR) Tabungan
Sumber : Survei Konsumen, diolah
Risiko dari sisi kredit mengalami penurunan dan ketahanan sektor rumah tangga pada triwulan II 2017 meningkat. Hal ini tercermin pada rasio NPL kredit konsumsi yang sebesar 1,04%, relatif menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 1,08%. Rasio tersebut masih berada di bawah ambang batas maksimal sebesar 5%.
Sementara itu, outstanding kredit konsumsi yang disalurkan bank umum di Provinsi NTB pada triwulan II 2017 sebesar Rp16,38 Triliun, tumbuh sebesar 10,72% (yoy). Pertumbuhan tersebut cenderung melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 12,01%
(yoy).
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM 54
Grafik 4.8
Perkembangan Kredit Konsumsi
Grafik 4.9
Rasio NPL Kredit Konsumsi
Rasio NPL kredit konsumsi terbesar masih merupakan kredit Ruko atau Rukan yaitu sebesar 2,88%. Rasio NPL kredit konsumsi terbesar berikutnya secara berurutan adalah rasio NPL Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sampai dengan tipe 70, KPR di atas tipe 70, kredit kendaraan bermotor, dan kredit konsumsi lainnya, yang masing-masing sebesar 2,14%, 1,78%, 1,42%, dan 0,72%.
Rasio NPL kredit tersebut masih di bawah ambang batas maksimal yaitu sebesar 5%.
Grafik 4.10
Perkembangan Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
Grafik 4.11
Perkembangan Kredit Kendaraan Bermotor
Penyaluran kredit KPR sampai dengan tipe 70 dan KPR di atas tipe 70 tumbuh masing-masing sebesar 8,76% (yoy) dan 8,48% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang masing-masing sebesar 6,96% (yoy) dan 4,18% (yoy). Perlambatan pertumbuhan pertumbuhan penyaluran kredit dialami oleh kredit konsumsi lainnya, yaitu sebesar 11,84% (yoy) lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I 2017 yang sebesar 13,93% (yoy). Sedangkan untuk kredit ruko
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM 55 atau rukan dan kredit kendaraan bermotor justru mengalami kontraksi masing-masing sebesar 5,15% (yoy) dan 2,56% (yoy). Penurunan kredit ruko atau rukan berdasarkan hasil survei kepada pelaku usaha diperkirakan karena supply ruko atau rukan lebih dari permintaan. Selain itu, terdapat alternatif tempat usaha lain di pusat perbelanjaan modern yang masih memiliki kapasitas yang cukup untuk memenuhi permintaan pelaku usaha.
4.3 ASESMEN LEMBAGA KEUANGAN 4.3.1 Perkembangan Bank Umum
Jumlah bank umum dan BPR/S di NTB pada triwulan II 2017 masing-masing sebanyak 32 bank umum dan 32 BPR/S. Jumlah kantor bank umum mengalami peningkatan dari 373 kantor pada triwulan I 2017 menjadi 377 kantor pada triwulan II 2017, sedangkan jumlah kantor BPR/S masih sama, yaitu sebanyak 123 kantor.
Tabel 4.5
Perkembangan Jumlah Bank dan Jaringan Kantor di Provinsi NTB
I II III IV I II
Bank Umum 28 30 32 32 32 32 32 32
Konvensional 22 24 25 25 25 25 25 25
Unit Usaha Syariah 12 12 17 2 2 4 4 4
Syariah 6 6 7 7 7 7 7 7
Jumlah Kantor Bank Umum 212 215 453 426 426 413 373 377
BPR/S 32 32 32 32 32 32 32 32
Jumlah Kantor BPR/S 123 123 123 123 123 123 123 123
Total Kantor Bank 335 338 576 549 549 536 496 500
2015 2017 2014
Kategori 2016
Sumber: Statistik Ekonomi dan Keuangan Daerah (SEKDA), diolah
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM 56 Tabel 4.6
Perkembangan Indikator Bank Umum di Provinsi NTB
Indikator Bank Umum 2014 2015
(RP Milyar) Tw 4 Tw 4 Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4 Tw 1 Tw 2
Aset 26.762 29.655 31.439 32.309 32.190 37.903 37.929 39.199 Kredit - Berdasarkan Lokasi Bank 21.261 23.999 24.773 25.812 26.272 31.402 31.339 31.575 - Kredit Modal Kerja 6.789 7.258 7.581 8.044 8.157 8.875 9.017 9.490 - Kredit Investasi 2.382 2.813 2.900 2.974 3.041 6.921 6.312 5.705 - Kredit Konsumsi 12.090 13.928 14.293 14.795 15.075 15.606 16.010 16.380 Kredit UMKM 7.399 7.941 8.264 8.880 9.034 9.695 9.931 10.283 Dana Pihak Ketiga 16.798 19.368 20.015 20.855 20.787 21.245 22.282 23.698 - Giro 2.136 2.853 3.829 3.826 3.567 3.435 4.502 4.078 - Tabungan 9.836 11.409 9.799 10.560 10.718 12.244 10.905 12.063 - Deposito 4.826 5.106 6.387 6.468 6.502 5.567 6.875 7.557 NPL (%) 2 2 2 2 2 2 2 3 LDR (%) 127 124 124 124 126 148 141 133 Kredit - Berdasarkan Lokasi Proyek 25.866 27.659 28.285 28.882 28.633 31.536 31.939 32.304 - Kredit Modal Kerja 9.392 9.121 9.299 9.236 8.669 9.403 9.582 9.989 - Kredit Investasi 3.268 3.829 3.935 4.092 4.082 5.750 5.599 5.229 - Kredit Konsumsi 13.206 14.709 15.051 15.554 15.882 16.384 16.758 17.086
2017 2016
Grafik 4.12
Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit Bank Umum di Provinsi NTB
Grafik 4.13
Pertumbuhan Aset, DPK dan Kredit Bank Umum di Provinsi NTB
Secara umum, kinerja bank umum (konvensional dan syariah) pada triwulan II 2017 mengalami peningkatan. Total aset bank umum di Provinsi NTB pada triwulan II 2017 mencapai Rp39,12 Triliun atau tumbuh sebesar 21,33% (yoy). Pertumbuhan tersebut sedikit meningkat peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 20,64% (yoy). Peningkatan aset bank umum sejalan dengan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang juga meningkat. Namun di sisi lain, penyaluran kredit mencatat adanya perlambatan pertumbuhan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM 57 Sebagian besar aset bank umum di Provinsi NTB merupakan aset pada kelompok bank pemerintah dengan porsi sebesar 77,48%, sementara kelompok bank swasta nasional dan bank asing campuran masing-masing sebesar 22,36% dan 0,17%. Jika dilihat berdasarkan tingkat pertumbuhan tahunan, aset bank pemerintah dan bank swasta mengalami peningkatan pertumbuhan masing-masing sebesar 26,67% (yoy) dan 6,03% (yoy) pada triwulan II 2017.
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM 57 Sebagian besar aset bank umum di Provinsi NTB merupakan aset pada kelompok bank pemerintah dengan porsi sebesar 77,48%, sementara kelompok bank swasta nasional dan bank asing campuran masing-masing sebesar 22,36% dan 0,17%. Jika dilihat berdasarkan tingkat pertumbuhan tahunan, aset bank pemerintah dan bank swasta mengalami peningkatan pertumbuhan masing-masing sebesar 26,67% (yoy) dan 6,03% (yoy) pada triwulan II 2017.