• Tidak ada hasil yang ditemukan

Optimalisasi Dana Desa Terhadap Perekonomian NTB

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL (Halaman 46-0)

BOKS 1: OPTIMALISASI DANA DESA

Sesuai dengan UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa (Pasal 72), Dana Desa adalah anggaran yang diperuntukkan bagi Desa dan Desa Adat yang ditransfer melalui APBD Kabupaten/Kota yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, serta pemberdayaan masyarakat dan kemasyarakatan. Dana Desa bersumber dari Belanja Pusat dengan mengefektifkan program yang berbasis Desa dialokasikan secara merata dan berkeadilan. Besaran Dana Desa adalah 10% dari dan di luar dana transfer ke daerah (on top) secara bertahap. Dana Desa dihitung berdasarkan jumlah desa dan dialokasikan dengan memperhatikan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan tingkat kesulitan geografis.

Desa memperoleh pendapatan yang bersumber dari:

1. Pendapatan Asli Desa

2. Alokasi APBN: dari relokasi anggaran pusat berbasis desa, 10% dari dan diluar dana transfer ke daerah secara bertahap

3. Bagian dari PDRD (Pajak Daerah dan Retribusi Daerah) kabupaten/kota: paling sedikit 10%

4. Alokasi Dana Desa (ADD): paling sedikit 10% dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota dikurangi DAK, pemerintah dapat menunda dan/atau mengurangi dana perimbangan jika kota/kabupaten tidak mengalokasikan ADD

5. Bantuan keuangan dari APBD Provinsi/Kabupaten/Kota 6. Hibah dan sumbangan pihak ketiga

7. Lain-lain pendaptan yang sah.

Tabel Boks 1.1. Perkembangan Dana ke Desa Tahun Anggaran 2015 - 2017

Dana ke Desa (Rp Miliar) 2015 2016 2017

Dana Desa (DD) 20,766 46,982 60,000

Alokasi Dana Desa (ADD) 33,835 35,455 40,068

Bagi Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) 2,650 2,849 3,119

Total 57,251 85,286 103,187

Jumlah Desa 74,093 74,754 74,954

Rata-rata Dana Per Desa (dlm Juta Rupiah) 772.69 1,140.89 1,376.67

Sumber: Kementerian Keuangan

BOKS 1: OPTIMALISASI DANA DESA 30

Sumber: Kementerian Keuangan

*) IKG = Indeks Kesulitan Geografis IKK = Indeks Kemahalan Konstruksi

Gambar Boks 1. Pengalokasian Dana Desa

A. Mengoptimalkan Pemanfaatan Dana Desa

Optimalisasi Dana Desa bertujuan untuk memastikan agar penggunaan dana desa memiliki dampak stimulus bagi ekonomi. Penggunaan Dana Desa diarahkan untuk:

1. Meningkatkan tingkat pendapatan masyarakat desa sehingga konsumsi Rumah Tangga dapat terjaga;

2. Peningkatan pelayanan dasar berskala, terutama di sektor kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

Konektivitas desa melalui pembangunan infrastruktur sangat penting untuk mendorong stabilitas harga dan distribusi yang merata.

Prioritas penggunaan Dana Desa diarahkan untuk membiayai: biaya pembangunan dan bidang pemberdayaan masyarakat desa. Cara pelaksanaan diutamakan melalui swakelola dengan menyerap tenaga kerja setempat, bahan baku lokal, serta kegiatan lainnya yang mendorong masyarakat produktif secara ekonomi.

Kegiatan pro-poor meliputi pelayanan kesehatan masyarakat miskin, pendidikan masyarakat miskin, pemberian gizi masyarakat miskin, pembinaan fakir miskin, pembinaan anak terlantar, dan pembinaan para penyandang cacat.

Hasil evaluasi dari Kementerian Keuangan terhadap penggunaan dana desa secara nasional adalah sebagai berikut:

a. Penggunaan dana desa di luar bidang prioritas,

b. Pengeluaran dana desa tidak didukung dengan bukti yang memadai,

c. Pekerjaan yang diutamakan secara swakelola dengan memberdayakan masyarakat setempat dan bahan baku lokal, dikerjakan seluruhnya oleh pihak ketiga/peyedia jasa,

d. Pemungutan dan penyetoran pajak tidak sesuai,

e. Desa belum mengenal mekanisme uang persediaan, sehingga dana yang telah disalurkan ke rekening Desa, ditarik dan disimpan di luar rekening Desa,

f. Belanja di luar yang telah dianggarkan dalam APBDesa.

BOKS 1: OPTIMALISASI DANA DESA 31 Pada tahun 2016, kinerja penyaluran dana desa secara nasional pada tahap 1 dan 2 sebagai berikut:

Tahap 1

 433 dari 434 daerah tersalurkan

 Paling banyak disalurkan pada bulan April 2016

 Sebanyak 21 daerah disalurkan Dana Desa Tahap I melampaui semester I 2016 Tahap 2

 430 dari 434 daerah tersalurkan

 Paling banyak disalurkan pada bulan September dan Oktober 2016

 Sebanyak 77 daerah disalurkan Dana Desa Tahap II pada bulan Desember 2016.

B. Sanksi Apabila Terdapat Pelanggaran Dana Desa

Tabel Boks 1.2. Matriks Pemberian Sanksi Terhadap Pelanggaran Dana Desa

Pemberi Sanksi Jenis Pelanggaran Jenis Sanksi

Menteri Keuangan

Bupati/Walikota tidak menyalurkan Dana Desa tepat waktu

Penundaan DAU dan/atau DBH Kab/Kota sebesar selisih kewajiban Dana Desa yang harus disalurkan ke Desa

 Bupati/Walikota tidak menyampaikan prasyarat penyaluran setiap tahap.

 Bupati/Walikota tidak menyampaikan perubahan Peraturan Kepala Daerahmengenai tata cara pembagian dan penetapan rincian Dana Desa setiap Desa yang dalam Peraturan Kepala Daerah sebelumnya tidak sesuai ketentuan.

Penundaan Penyaluran Dana Desa Kab/Kota

Bupati/Walikota tidak dapat memenuhi persyaratan penyaluran Tahap II sampai dengan berakhirnya tahun anggaran

Sisa anggaran Dana Desa Tahap II menjadi Sisa Anggaran Lebih pada Rekening Kas Umum Negara (RKUN) dan tidak dapat disalurkan kembali

 Laporan penundaan penyaluran dari bupati/walikota

 Laporan pemotongan penyaluran Dana Desa dari bupati/walikota

Pemotongan Dana Desa

Bupati/Walikota

 Kepala Desa tidak menyampaikan peraturan desa mengenai Anggaran Pendapatan Belanja (APB) Desa

 Kepala Desa tidak menyampaikan laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahap sebelumnya

 Terdapat usulan dari aparat pengawas fungsional daerah

Penundaan penyaluran Dana Desa ke Desa

 Terdapat sisa Dana Desa > 30% selama 2 tahun berturut-turut.

 Berdasarkan penjelasan dan hasil pemeriksaan ditemukan penyimpangan berupa SILPA tidak wajar

Pemotongan Dana Desa ke Desa

BOKS 1: OPTIMALISASI DANA DESA 32

Sumber: Kementerian Keuangan

C. Pemanfaatan Dana Desa

Berdasarkan data Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi secara nasional pada tahun 2016, Dana Desa lebih banyak digunakan untuk infrastruktur (90 persen). Sedangkan untuk tahun 2017 lebih banyak untuk program pemberdayaan. Penggunaan dana desa untuk infrastruktur efektif untuk menciptakan lapangan pekerjaan di desa serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi di desa. Rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi di desa mencapai 8% per tahun, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di kota. Selain pertumbuhan ekonomi, Dana Desa juga berperan dalam percepatan penanggulangan kemiskinan di pedesaan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan dana desa agar optimal adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan pembinaan dan pendampingan desa. Peningkatan pembinaan dan pendampingan desa diperlukan mulai dari perencanaan pemanfaatan Dana Desa (DD), alokasi dana desa (ADD), dan Bagi Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD), pelaksanaan program, dan pertanggungjawaban penggunaan dana. Peningkatan pembinaan dan pendampingan desa diperlukan agar dampak dari pemanfaatan dana tersebut dapat menggerakkan perekonomian desa sekaligus pengentasan kemiskinan di desa. Selain itu pendampingan diperlukan untuk meningkatan akuntabilitas pemanfaatan dana sekaligus mencegah keterlambatan pelaporan pertanggungjawaban yang dapat berpotensi pengenaan sanksi baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

2. Peningkatan peran BUMDes. Dengan adanya dana desa, BUMDes dapat didorong menjadi di desa yang akan memenuhi kebutuhan penduduk desa. Beberapa BUMDes di Provinsi NTB telah berhasil dalam pengelolaan simpan pinjam, air bersih, ekowisata yang dapat di jadikan percontohan oleh BUMDes lainnya. Ke depan, diperlukan perluasan kerjasama dengan perbankan sebagai agen bank yang akan melayani masyarakat yang membutuhkan produk dan layanan jasa perbankan.

3. Alignment program yang dicanangkan oleh Provinsi dengan Kabupaten dan Desa. Saat ini pengembangan Sapi, Jagung, dan Rumput Laut (PIJAR), Penguatan Badan Usaha Desa (BUMDes), penambahan desa wisata, pemantapan ketahanan pangan dan pemenuhan infrastruktur dasar (perumahan, air bersih, dan sanitasi lingkungan) merupakan program strategis untuk penanggulangan kemiskinan di pedesaan di Provinsi NTB yang dapat diselaraskan dengan program kabupaten dan desa.

4. Pengelolaan Dana Desa menggunakan transaksi nontunai baik dalam pendapatan maupun belanja. Hal ini perlu dilakukan agar pengelolaan dana desa dapat tertib, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab.

Inflasi 33

BAB 3 INFLASI

1

Tekanan inflasi tahunan Provinsi NTB pada triwulan II 2017 mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya kelompok komoditas yang harganya diatur pemerintah (administered price) pada Bulan Ramadhan dan menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1438 H.

3.1 KONDISI UMUM

Tekanan inflasi tahunan Provinsi NTB pada triwulan II 2017 mengalami peningkatan.

Tekanan inflasi pada akhir triwulan II 2017 (Juni 2017) sebesar 3,38% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi triwulan I 2017 sebesar 2,58% (yoy), namun lebih rendah dibanding inflasi pada triwulan yang sama pada tahun lalu sebelumnya sebesar 4,38% (yoy). Angka inflasi NTB tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang tercatat sebesar 4,37%

(yoy). Peningkatan tekanan inflasi tahunan pada triwulan II 2017 terjadi terutama disebabkan oleh tekanan inflasi ada administered price1 sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Bulan Ramadhan dan menjelang perayaan Idul Fitri pada triwulan II 2017, khususnya untuk kebutuhan transportasi.

Komoditas kelompok volatile food secara tahunan mengalami deflasi pada triwulan II 2017, sementara itu tekanan inflasi pada kelompok inti dan administered price mengalami peningkatan. Deflasi kelompok volatile food disumbang oleh beberapa komoditas utama, diantaranya bawang merah, tomat sayur, pir, kangkung, dan jagung manis. Sementara itu, inflasi dari komoditas inti disumbang oleh tukang bukan mandor, sedangkan biaya perpanjangan STNK, tarif listrik, dan tarif listrik menjadi kontributor utama dari komoditas administered price.

1Disagregasi Inflasi dibagi kedalam 3 kelompok besar, yaitu:

- Administered Price : Kelompok komoditas yang pergerakan harganya diatur oleh regulasi pemerintah, seperti bensin, tarif listrik - Volatile food : Kelompok komoditas yang harganya cenderung bergejolak, sebagian besar adalah kelompok bahan makanan.

- Inti / Core : Kelompok komoditas yang harganya relatif stabil.

Inflasi 34

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul

2015 2016 2017

Nasional Provinsi NTB Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah

-1.00 -0.50 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul

2015 2016 2017

Nasional Provinsi NTB

% (mtm)

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 3.1

Perkembangan Inflasi Tahunan Provinsi NTB dan Nasional

Grafik 3.2

Perkembangan Inflasi Bulanan Provinsi NTB dan Nasional

Jika dilihat secara bulanan, perkembangan inflasi bulanan NTB pada triwulan II 2017 menunjukan tren peningkatan. Tekanan inflasi bulanan pada bulan April 2017 tercatat sebesar 0,03% (mtm2), terjadi peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat deflasi sebesar 0,68% (mtm). Peningkatan tekanan inflasi tersebut terutama disumbang oleh penyesuaian harga beberapa komoditas administered price oleh pemerintah, antara lain biaya perpanjangan STNK, tarif listrik, dan rokok kretek filter. Penyesuaian biaya perpanjangan STNK dan harga pita cukai rokok yang dilaksanakan pada awal tahun 2017 masih memberikan dampak tekanan inflasi bagi masyarakat hingga Bulan April 2017, begitu pula dengan penyesuaian tarif listrik yang dilaksanakan untuk pelanggan 900 VA pada bulan Maret 2017 lalu turut memberikan dampak tekanan inflasi terutama bagi pelanggan listrik paskabayar. Meningkatnya tekanan inflasi berlanjut pada bulan Mei 2017 yang mencapai sebesar 0,52% (mtm). Peningkatan tekanan inflasi bulanan terjadi karena terbatasnya pasokan beberapa komoditas pangan yang menyebabkan meningkatnya harga, antara lain tomat sayur, daging ayam ras, bawang putih, telur ayam ras, dan kacang panjang.

Kenaikan harga pada triwulan II 2017 mencapai puncaknya pada bulan Juni yang tercatat inflasi sebesar 0,58% (mtm). Meskipun demikian, angka inflasi tersebut tercatat masih lebih rendah dibandingkan dengan angka inflasi nasional sebesar 0,69% (mtm). Inflasi tersebut mayoritas disumbang oleh komoditas core inflation sehubungan dengan meningkatnya konsumsi

2 yoy : Year on Year, inflasi dihitung berdasarkan perbandingan IHK bulan tertentu dengan bulan yang sama tahun sebelumnya.

qtq : Quartal to Quartal, inflasi dihitung berdasarkan perbandingan IHK bulan tertentu di akhir kuartal dengan bulan di akhir kuartal sebelumnya.

mtm : Month to Month, inflasi dihitung berdasarkan perbandingan bulan tertentu dengan IHK bulan sebelumnya ytd : Year to Date, inflasi dihitung berdasarkan perbandingan IHK bulan tertentu dengan IHK akhir tahun sebelumnya

Inflasi 35 masyarakat terhadap nasi dengan lauk dan kebutuhan sandang pada saat bulan Ramadhan dan menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Tabel 3.1

Komoditas Penyumbang Inflasi Tahunan Provinsi NTB pada Triwulan II 2017

Umum Volatile Food Umum Volatile Food

1 Tarif Listrik Tongkol/Ambu-ambu Tarif Listrik Beras 2 Tukang Bukan Mandor Tongkol Pindang Beras Bandeng/Bolu 3 Biaya Perpanjangan STNK Jeruk Batu Bata/Batu Tela Kakap Merah 4 Rokok Kretek Filter Tempe Rokok Kretek Filter Selar/Tude 5 Tarip Air Minum PAM Tenggiri Biaya Perpanjangan STNK Bawang Putih

6 Sewa Rumah Daging Sapi Rokok Kretek Jeruk

7 Kue Kering Berminyak Minyak Goreng Bandeng/Bolu Bawang Merah 8 Rokok Kretek Mie Kering Instant Rokok Putih Kelapa

9 Mie Teri Kakap Merah Cumi-cumi

10 Upah Pembantu RT Kacang Panjang Sepeda Motor Mie Kering Instan

No Mataram Bima

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah

-1.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul

2015 2016 2017

Nasional Provinsi NTB

% (ytd)

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah

-2.00 -1.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul

2015 2016 2017

Nasional Provinsi NTB

% (qtq)

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 3.3

Perkembangan Inflasi Tahun Kalender Provinsi NTB dan Nasional

Grafik 3.4

Perkembangan Inflasi Triwulanan Provinsi NTB dan Nasional

3.2 INFLASI BERDASARKAN KOMODITAS

Berdasarkan pengelompokan komoditas meningkatnya tekanan inflasi Provinsi NTB pada triwulan II 2017 disebabkan oleh meningkatnya inflasi dari kelompok sandang, kelompok perumahan, listrik, air dan gas, dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau. Meningkatnya tekanan harga kelompok sandang karena meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap kebutuhan sandang menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Sedangkan kelompok bahan makanan yang harganya relatif bergejolak, pada triwulan II 2017 tercatat deflasi. Beberapa komoditas, seperti beras harganya relatif stabil bahkan komoditas cabai

Inflasi 36 menunjukkan penurunan. Begitu pula tiket pesawat pada triwulan II 2017 relatif tidak menunjukkan kenaikan harga.

4,000

Medium I Medium II Super I Super II

Rp / Kg

Sumber: Survei Pemantauan Harga Bank Indonesia

0

Harga Cabai Merah & Rawit (Rp/Kg)

Cabe Merah Besar Cabe Merah Keriting Cabe Rawit Hijau Cabe Rawit Merah Rp / Kg

Sumber: Survei Pemantauan Harga Bank Indonesia Grafik 3.5

MI MII MIII MIV MI MII MIII MIV MI MII MIII MIV MI MII MIII MIV MI MII MIII MIV

201703 201704 201705 201706 201707

MI MII MIII MIV MI MII MIII MIV MI MII MIII MIV MI MII MIII MIV MI MII MIII MIV

201703 201704 201705 201706 201707

Rp

Tiket Pesawat Lombok - Jakarta

Sumber: Survei Pemantauan Harga Bank Indionesia Grafik 3.7

Perkembangan Harga BBM

Grafik 3.8

Perkembangan Harga Tiket Pesawat

Tabel 3.2

Ringkasan Perkembangan Inflasi Provinsi NTB

April Mei Juni April Mei Juni Qtq Ytd Yoy

Nasional 123,19 123,48 124,29 0,09 0,39 0,69 1,17 2,38 4,37

Umum 126,59 127,25 127,99 0,03 0,52 0,58 1,14 2,19 3,38

Bahan Makanan 128,90 130,52 131,28 -0,77 1,26 0,58 1,06 -1,35 -0,86

Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau 129,00 129,15 130,53 0,34 0,12 1,07 1,53 2,78 5,17

Perumahan, Listrik, Air, dan Gas 126,45 127,07 127,24 0,18 0,49 0,13 0,81 3,41 5,51

Sandang 118,92 119,30 120,87 0,55 0,32 1,32 2,20 4,49 6,34

Kesehatan 120,17 120,29 120,74 0,34 0,10 0,37 0,82 2,12 4,34

Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Raga 121,81 121,86 121,94 0,03 0,04 0,07 0,14 0,01 1,78

Transportasi, Komunikasi, dan Jasa 126,61 127,14 128,13 0,21 0,42 0,78 1,42 4,78 3,35

IHK 2017 MTM 2017 Tw II 2017

Inflasi Komoditas

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah

Inflasi 37

3.2.1 Bahan Makanan

Kelompok komoditas bahan makanan pada triwulan II 2017 mengalami deflasi sebesar 0,86% (yoy). Deflasi tersebut tidak sedalam yang terjadi pada bulan triwulan I 2017 yang mengalami deflasi mencapai 1,72% (yoy). Faktor utama yang mempengaruhi rendahnya harga bahan makanan pada triwulan II 2017 secara tahunan adalah jumlah pasokan komoditas pangan utama yang cukup tinggi paskapanen raya pada bulan Maret 2017. Tingginya pasokan komoditas pangan utama dari tingkat produsen dapat mengendalikan harga di tingkat pasar.

jan feb mar apr mei jun jul agu sep okt nov des jan feb mar apr mei jun jul

2016 2017

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah

-10

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 3.9

Perkembangan Inflasi Komoditas Bahan Makanan

Grafik 3.10

Perkembangan Inflasi Bulanan Berdasarkan Kelompok Komoditas Bahan Makanan

Jika dilihat per jenis komoditas, komoditas sayur-sayuran menjadi penyumbang utama deflasi, disusul buah-buahan. Hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) Bank Indonesia menunjukan secara umum pergerakan harga beberapa komoditas pangan utama yang cenderung menurun selama triwulan II 2017. Selama triwulan II 2017, komoditas pangan yang menjadi penyumbang deflasi adalah daging ayam ras segar pada bulan April dan Mei 2017 dan bawang merah pada bulan Juni 2017. Harga daging ayam ras mencapai Rp40.000 per kilogram pada bulan April 2017, namun harga kembali stabil pada harga Rp32.500 per kilogram pada akhir bulan Juni 2017. Kenaikan harga ini diduga tidak hanya karena menjelang Bulan Ramadhan, namun juga adanya kelangkaan akibat berhentinya pasokan dari Jawa. Sedangkan komoditas cabai rawit merah dan bawang merah cenderung rendah paskapanen raya.

3.2.2 Makanan Jadi, Minuman dan Tembakau

Kelompok komoditas makanan jadi, minuman, dan tembakau pada triwulan II 2017 mengalami inflasi 5,17% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi pada triwulan I 2017 sebesar 5,44% (yoy). Namun secara triwulan, tekanan inflasi pada triwulan II 2017 mengalami peningkatan yang cukup signifikan yakni 1,53% (qtq) dibandingkan dengan triwulan

Inflasi 38 sebelumnya yakni sebesar 0,56% (qtq). Sub-komoditas yang menyumbang tekanan inflasi utama pada triwulan II 2017 adalah makanan jadi. Meningkatnya tekanan inflasi pada sub-komoditas tersebut diakibatkan meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang bulan Ramadhan.

Terkendalinya tekanan inflasi pada komoditas makanan jadi, minuman, dan tembakau sejalan dengan upaya stabilisasi harga yang intensif dilakukan pada bulan puasa 2017, khususnya pada komoditas gula pasir. Hal tersebut berdampak pada menurunnya harga gula pasir sepanjang triwulan II 2017.

jan feb mar apr mei jun jul agu sep okt nov des jan feb mar apr mei jun jul

2016 2017

% (mtm) 0.19 0.20 0.18 0.32 0.38 1.08 0.17 0.20 0.31 0.74 0.28 0.60 0.93 0.20 0.10 0.34 0.12 1.07 0.86

% (yoy) - sisi kanan 3.803.493.613.623.814.58 4.444.224.384.434.574.75 5.525.525.445.461.69 5.173.66 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00

0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20

% (mtm) % (yoy) - sisi kanan

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 3.11

Perkembangan Inflasi Komoditas Makanan Jadi, Minuman dan Tembakau

Grafik 3.12

Perkembangan Inflasi Bulanan Berdasarkan Kelompok Komoditas Makanan Jadi, Minuman

dan Tembakau

3.2.3 Perumahan, Listrik, Air dan Gas

Kelompok komoditas perumahan, listrik, air dan gas pada triwulan II 2017 mengalami inflasi 5,51% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I 2017 sebesar 4,83%

(yoy). Meningkatnya tekanan harga komoditas tersebut terutama disumbang oleh sub-komoditas biaya bahan bakar, penerangan dan air. Peningkatan harga sub-komoditas tersebut tidak terlepas dari dilaksanakannya penyusaian skema subsidi tarif listrik oleh pemerintah. Subsidi untuk pelanggan listrik daya 900 VA dikurangi secara bertahap hingga sepenuhnya tidak disubsidi. Pada triwulan I dan triwulan II 2017, penyesuaian tersebut dilaksanakan pada bulan Januari, Maret, dan Mei 2017, masing-masing sebesar 31%. Sementara itu, harga gas elpiji cenderung stabil sejak awal tahun 2017. Ke depan, risiko yang perlu mendapatkan perhatian adalah perkembangan harga minyak dunia yang fluktuatif yang dapat berpengaruh pada penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Harga minyak dunia tersebut secara langsung dipengaruhi situasi geo politik dunia yang saat ini sedang tidak menentu.

Inflasi 39

jan feb mar apr mei jun jul agu sep okt nov des jan feb mar apr mei jun jul

2016 2017

% (mtm) 1.03 -0.4 -0.3 -0.1 0.14 0.13 0.15 0.21 -0.0 1.76 -0.0 0.02 1.08 0.97 0.50 0.18 0.49 0.13 0.10

% (yoy) - sisi

kanan 2.75 2.16 1.52 0.90 0.91 1.12 1.50 1.91 1.06 2.82 2.55 2.39 2.44 3.94 4.83 5.15 3.27 5.51 3.51 0.00

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 3.13

Perkembangan Inflasi Komoditas Perumahan, Listrik, Air dan Gas

Grafik 3.14

Perkembangan Harga Gas Elpiji

3.2.4 Sandang

Kelompok komoditas sandang dalam triwulan II 2017 mengalami inflasi 6,34% (yoy), meningkat dibandingan triwulan I 2017 yakni sebesar 5,49% (yoy). Kelompok komoditas sandang termasuk kedalam kelompok inflasi inti, sehingga pergerakan inflasinya cenderung tidak terlalu bergejolak dan lebih dominan dipengaruhi oleh naik-turunnya permintaan dan daya beli masyarakat. Pada triwulan II 2017, puncak peningkatan harga sandang terjadi pada bulan Juni 2017. Hal tersebut terjadi karena meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap kebutuhan sandang menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Pada perkembangan selanjutnya di bulan Juli 2017, inflasi tahunan komoditas sandang kembali mengalami penurunan.

jan feb mar apr mei jun jul agu sep okt nov des jan feb mar apr mei jun jul

2016 2017

% (mtm) 0.29 0.74 0.70 0.19 0.39 0.79 1.60 0.45 0.97 -0.0 -0.0 -1.0 1.12 1.03 0.08 0.55 0.32 1.32 0.17

% (yoy) - sisi

kanan 2.96 3.64 4.19 4.36 4.44 5.13 6.15 6.66 6.12 5.99 6.09 4.97 5.84 6.13 5.49 5.87 3.13 6.34 4.66 0.00

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 3.15

Perkembangan Inflasi Komoditas Komoditas Sandang

Grafik 3.16

Perkembangan Inflasi Bulanan Berdasarkan Kelompok Komoditas Sandang

Inflasi 40

3.2.5 Kesehatan

Kelompok komoditas kesehatan pada triwulan II 2017 mengalami inflasi 4,34% (yoy).

Inflasi pada kelompok komoditas tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 4,18% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi kelompok komoditas kesehatan terutama didorong oleh meningkatnya sub-komoditas perawatan jasmani dan kosmetika.

jan feb mar apr mei jun jul agu sep okt nov des jan feb mar apr mei jun jul

2016 2017

% (mtm) 0.980.190.550.070.020.570.540.200.180.380.280.580.740.75 -0.2 0.340.100.370.23

% (yoy) - sisi kanan 5.035.085.525.145.055.625.645.455.075.024.964.634.384.964.184.461.744.342.36 0.00

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 3.17

Perkembangan Inflasi Komoditas Kesehatan

Grafik 3.18

Perkembangan Inflasi Bulanan Berdasarkan Kelompok Komoditas Kesehatan

3.2.6 Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga

Kelompok komoditas pendidikan, rekreasi, dan olah raga dalam triwulan II 2017 mengalami inflasi 1,78% (yoy). Tekanan inflasi tersebut sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami inflasi 1,77% (yoy). Meningkatnya laju inflasi tersebut masih disebabkan oleh biaya Pendidikan yang akan memasuki tahun ajaran baru.

jan feb mar apr mei jun jul agu sep okt nov des jan feb mar apr mei jun jul

2016 2017

% (mtm) 0.00 0.24 0.25 0.00 0.10 0.03 1.10 0.31 0.000.26 0.070.02 -0.1 -0.0 0.04 0.03 0.04 0.07 0.06

% (yoy) - sisi kanan 8.728.728.938.928.718.759.642.712.462.31 2.392.402.261.991.771.81 -0.0 1.780.07 -2.00

Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 3.19

Perkembangan Inflasi Komoditas Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga

Grafik 3.20

Perkembangan Inflasi Bulanan Berdasarkan Kelompok Komoditas Pendidikan,

Rekreasi dan Olah Raga

Inflasi 41

3.2.7 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan

Tekanan inflasi kelompok komoditas transpor, komunikasi, dan jasa keuangan pada triwulan II 2017 sebesar 3,35% (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,68% (yoy). Tekanan inflasi tersebut meningkat tajam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sub-komoditas utama yang mengalami peningkatan inflasi tahunan terbesar adalah sarana dan penunjang transport khususnya biaya perpanjangan STNK. Kenaikan biaya perpanjangan yang terjadi pada awal tahun 2017 masih

Tekanan inflasi kelompok komoditas transpor, komunikasi, dan jasa keuangan pada triwulan II 2017 sebesar 3,35% (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,68% (yoy). Tekanan inflasi tersebut meningkat tajam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sub-komoditas utama yang mengalami peningkatan inflasi tahunan terbesar adalah sarana dan penunjang transport khususnya biaya perpanjangan STNK. Kenaikan biaya perpanjangan yang terjadi pada awal tahun 2017 masih

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL (Halaman 46-0)