Bab 1 Perkembangan Ekonomi Makro Daerah
1.3. Sisi Sektoral
1.3.3. Perdagangan Besar, Eceran, dan Reparasi Mobil dan Motor
Sektor Perdagangan Besar, Eceran, dan Reparasi Mobil (PBER) mengalami percepatan pertumbuhan pada triwulan II 2017. Sektor PBER tumbuh sebesar 5,63% (yoy) lebih besar dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 5,13% (yoy). Akselerasi pertumbuhan sektor Perdagangan sejalan dengan meningkatnya Konsumsi Rumah Tangga sehubungan dengan momen bulan Ramadhan dan Idul Fitri.
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: Bappenda Provinsi NTB, diolah Grafik 1.27
PDRB Provinsi NTB Sektor Perdagangan Besar, Eceran dan Reparasi Mobil
Grafik 1.28
Grafik Penjualan Kendaraan Bermotor
Selain konsumsi masyarakat di Provinsi NTB, dilaksanakannya beberapa event keagamaan sepanjang bulan Ramadhan dan diakhiri dengan libur panjang selama satu minggu pada akhir bulan Ramadhan menjadi faktor yang mendorong meningkatnya kunjungan wisatawan ke Provinsi NTB. Hal ini tercermin pada statistik perkembangan kedatangan penumpang pesawat dan statistik perkembangan tamu hotel bintang yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, dimana kedua data statistik tersebut menunjukan peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Sejalan dengan pola konsumsi rumah tangga sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sektor Perdagangan yang tergerak dengan konsumsi Rumah Tangga pada triwulan II 2017 adalah sektor perdagangan yang terkait dengan konsumsi makanan, peralatan rumah tangga, dan transportasi antarkota atau antarprovinsi. Namun demikian, pertumbuhan sektor PBER pada triwulan II 2017 tertahan oleh penurunan penjualan kendaraan bermotor.
Tw I
Perdagangan Besar dan Eceran - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
(30)
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Miliar
Total Motor Mobil growth total (%,yoy)-kanan
Perkembangan Ekonomi Makro Daerah 13
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 1.29
Perkembangan Kedatangan Penumpang Pesawat ke Provinsi NTB
Grafik 1.30
Perkembangan Tamu Hotel Bintang Provinsi NTB
Ke depan, faktor yang dapat mendorong pertumbuhan sektor PBER adalah potensi peningkatan kunjungan wisatawan ke Provinsi NTB. Sektor pariwisata yang tercermin dari pertumbuhan sektor akomodasi & makan minum (PAMM) mengalami peningkatan yang tinggi sepanjang tahun 2016 sebesar 10,44% (yoy). Meningkatnya awareness mengenai potensi pariwisata sebagai penggerak ekonomi utama yang baru diperkirakan mampu menjaga kinerja sektor pariwisata sepanjang tahun 2017.
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah
Grafik 1.31
PDRB Provinsi NTB Sektor Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum
Grafik 1.32
Realisasi Usaha - Survei Kegiatan Dunia Usaha Provinsi NTB Sektor PHR
Total Domestik Internasional Growth (% yoy, kanan)
-20.00
Total DN LN Groth (yoy) - kanan
Tw I
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
-15.00
Tabel 1. Kegiatan Usaha Tabel 2. Harga Jual Tabel 3. Tenaga Kerja
Perkembangan Ekonomi Makro Daerah 14
1.4 Prospek Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III 2017
Pada triwulan III 2017 pertumbuhan ekonomi NTB diperkirakan tumbuh positif. Terdapat beberapa faktor yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan III 2017. Kinerja sektor tambang pada triwulan III 2017 diperkirakan meningkat cukup tinggi setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kontraksi. Investasi diperkirakan akan mengalami peningkatan pada triwulan III 2017, selaras dengan kinerja sektor konstruksi yang juga diperkirakan akan mengalami peningkatan. Penyaluran kredit investasi yang cukup tinggi dalam 3 (tiga) triwulan terakhir diperkirakan mendorong peningkatan tersebut.
B dan PT s
Nowcasting Pertumbuhan Ekonomi Provinsi NTB Non-tambang
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 1.35
PDRB Provinsi NTB Sektor Industri Pengolahan
Grafik 1.36
PDRB Provinsi NTB Sektor Pengadaan Listrik, Gas
4.8
Industri Pengolahan- Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Tw I
Pengadaan Listrik, Gas - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Perkembangan Ekonomi Makro Daerah 15
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 1.37
PDRB Provinsi NTB Sektor Pengadaan Air
Grafik 1.38
PDRB Provinsi NTB Sektor Konstruksi
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 1.39
PDRB Provinsi NTB Sektor Jasa Lainnya
Grafik 1.40
PDRB Provinsi NTB Sektor Transportasi dan Pergudangan
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 1.41
PDRB Provinsi NTB Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
Grafik 1.42
PDRB Provinsi NTB Sektor Informasi dan Komunikasi
Tw I
Pengadaan Air - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Tw I
Konstruksi - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Tw I
Jasa lainnya - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Tw I
Transportasi dan Pergudangan - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Tw I
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Tw I
Informasi dan Komunikasi - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Perkembangan Ekonomi Makro Daerah 16
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 1.43
PDRB Provinsi NTB Sektor Jasa Perusahaan
Grafik 1.44
PDRB Provinsi NTB Sektor Administrasi Pemerintahan
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 1.45
PDRB Provinsi NTB Sektor Jasa Pendidikan
Grafik 1.46
PDRB Provinsi NTB Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Sumber: BPS Provinsi NTB, diolah Grafik 1.47
PDRB Provinsi NTB Sektor Real Estate
Grafik 1.48
PDRB Provinsi NTB Sektor Jasa Keuangan
Tw I
Jasa Perusahaan - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Tw I
Administrasi Pemerintahan - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Tw I
Jasa Pendidikan - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Tw I
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Tw I
Real Estate - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Tw I
Jasa Keuangan - Kanan Growth (yoy %)-Kiri
Keuangan Pemerintah 17
BAB 2
KEUANGAN PEMERINTAH
4 5 6 7
Penyerapan belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) pemerintah Provinsi NTB dan seluruh kota/kabupaten di Provinsi NTB sampai dengan triwulan II 2017 mencapai Rp6,73 Triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan penyerapan dalam periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,28 Triliun. Hal tersebut disebabkan pos belanja modal, belanja barang dan belanja bantuan sosial cukup signifikan penyerapan belanjanya. Penyerapan belanja Provinsi NTB dan kota/kabupaten di Provinsi NTB masing-masing sebesar 36,77% dan 33,78% dari target.
Sementara itu, realisasi pendapatan dalam APBD Provinsi dan kota/kabupaten di Provinsi NTB sampai dengan triwulan II 2017 sebesar Rp9,51 Triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pendapatan dalam periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp8,52 Triliun.
Tingginya realisasi pendapatan APBD tersebut disebabkan oleh peningkatan pendapatan daerah berupa pajak daerah dan pendapatan lain-lain yang sah.
2.1 PERKEMBANGAN KEUANGAN PEMERINTAH
Realisasi pendapatan dalam APBD Provinsi dan kota/kabupaten di Provinsi NTB sampai dengan triwulan II 2017 sebesar Rp9,51 Triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pendapatan dalam periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp8,52 Triliun. Tingginya realisasi pendapatan APBD tersebut disebabkan oleh peningkatan pendapatan daerah berupa pajak daerah dan pendapatan lain-lain yang sah. Realisasi tersebut tumbuh 11,59% (yoy) setelah triwulan sebelumnya mengalami penurunan.
Dari sisi persentase realisasi pendapatan daerah (Provinsi NTB dan kota/kabupaten) triwulan II 2017 dibandingkan dengan anggaran pendapatan 2017 mencapai 50,47%. Persentase tersebut lebih tinggi dibanding dengan persentase realisasi triwulan II 2016 yang sebesar 48,25% dari anggaran pendapatan. Realisasi pendapatan pemerintah Provinsi NTB sebesar Rp2,37 Triliun atau 49,57% dari anggaran pendapatan 2017, sedangkan pemerintah kota/kabupaten sebesar Rp7,14 Triliun atau 50,78% dari anggaran pendapatan 2017.
Selain realisasi pendapatan daerah Provinsi NTB dan kota/kabupaten, juga terdapat realisasi pendapatan pemerintah pusat di Provinsi NTB yang berupa pendapatan pajak dan nonpajak.
Keuangan Pemerintah 18 Sebagian besar realisasi pendapatan pemerintah pusat di Provinsi NTB didominasi oleh pendapatan pajak. Sampai dengan triwulan II 2017, pendapatan pemerintah pusat tersebut mencapai Rp1,74 Triliun, lebih rendah dibandingkan dengan capaian triwulan yang sama tahun 2016 yang sebesar Rp1,88 Triliun. Hal tersebut disebabkan penurunan realisasi pendapatan baik dari pajak maupun bukan pajak.
Penyerapan belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) pemerintah Provinsi NTB dan seluruh kota/kabupaten di Provinsi NTB sampai dengan triwulan II 2017 mencapai Rp6,73 Triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan penyerapan dalam periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,28 Triliun. Hal tersebut disebabkan pos belanja modal, belanja barang dan belanja bantuan sosial cukup signifikan penyerapan belanjanya. Penyerapan belanja Provinsi NTB dan kota/kabupaten di Provinsi NTB masing-masing sebesar 36,77% dan 33,78% dari target.
Penyerapan belanja tersebut mencatat pertumbuhan meskipun masih dalam skala terbatas sebesar 7,07% (yoy). Pertumbuhan tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencatat penurunan dan pertumbuhan pada triwulan yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 32,88% (yoy). Pertumbuhan penyerapan belanja yang masih dalam skala tersebut disebabkan penurunan belanja pegawai sebesar 7,10% (yoy). Namun pos belanja selain belanja pegawai menunjukkan pertumbuhan positif, terutama belanja modal yang tumbuh signifikan sebesar 42,22% (yoy). Pertumbuhan belanja modal pemerintah daerah tersebut merupakan salah satu penopang investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) di dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Belanja modal tersebut diharapkan dapat mendorong efek multiplier bagi sektor-sektor ekonomi potensial di Provinsi NTB.
Persentase penyerapan belanja pemerintah daerah sampai dengan triwulan II 2017 terhadap anggaran belanja 2017 sebesar 34,55%. Persentase tersebut sedikit lebih rendah dibanding dengan realisasi belanja daerah periode yang sama tahun 2016 yang sebesar 35,07% dari anggaran belanja 2016. Realisasi belanja pemerintah Provinsi NTB mencapai Rp1,84 Triliun atau 36,77% dari anggaran belanja 2017, sedangkan pemerintah kota/kabupaten di Provinsi NTB merealisasikan belanja daerah sebesar Rp4,88 Triliun atau 33,78% dari anggaran belanja 2017.
Selain penyerapan belanja pemerintah Provinsi NTB dan kota/kabupaten di Provinsi NTB juga terdapat penyerapan belanja pemerintah pusat di Provinsi NTB yang seluruhnya merupakan belanja operasi (tidak termasuk transfer ke daerah dan dana desa), sampai dengan triwulan II 2017 menunjukkan penurunan sebesar 14,83% (yoy). Belanja operasi tersebut terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, dan belanja bantuan sosial semua
Keuangan Pemerintah 19 menunjukkan penurunan secara tahunan. Penyerapan anggaran belanja tersebut sebesar 37,81% dari anggaran tahun 2017, lebih rendah dibanding dengan triwulan yang sama tahun 2016 yang sebesar 40,61%. Terkait dengan dana desa dibahas secara lebih detail di Boks 1.
Sumber: Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Prov.
NTB, diolah
Sumber: Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Prov. NTB, diolah
Grafik 2.1
Realisasi Pendapatan dan Belanja Pemerintah Provinsi NTB
Grafik 2.2
Realisasi Pendapatan dan Belanja Seluruh Kota/Kabupaten di Provinsi NTB
Sumber: Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi NTB, diolah Grafik 2.3
Realisasi Pendapatan dan Belanja Pemerintah Pusat di Provinsi NTB 0.0
Keuangan Pemerintah 20
2.2 REALISASI PENDAPATAN PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH DAERAH DI PROVINSI NTB
Tabel 2.1 Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi NTB dan Kota/Kabupaten di Provinsi NTB s.d Triwulan II 2017
Rp Juta
Sumber: Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Prov. NTB, diolah
Realisasi pendapatan pemerintah daerah sampai dengan triwulan II 2017 mencapai Rp9,51 Triliun, yang terdiri dari Rp2,37 Triliun realisasi pendapatan pemerintah Provinsi NTB, dan Rp7,14 Triliun realisasi pendapatan pemerintah kota/kabupaten di Provinsi NTB. Sebagian besar realisasi pendapatan daerah tersebut merupakan pendapatan transfer dari pemerintah pusat yang sebesar 82,76%, sedangkan pendapatan daerah sebesar 15,22% dan lain-lain pendapatan yang sah sebesar 2,02%. Secara proporsi pendapatan asli daerah terhadap total pendapatan meningkat dibanding dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 11,23%.
Realisasi pendapatan pemerintah daerah sampai dengan triwulan II 2017 meningkat 11,59%
(yoy) setelah pada triwulan sebelumnya turun sebesar 2,77% (yoy). Peningkatan realisasi pendapatan asli daerah yang berupa pajak daerah dan lain-lain pendapatan asli daerah menopang peningkatan pendapatan pemerintah daerah. Selain itu, peningkatan di pos lain-lain pendapatan yang sah yang berasal dari pendapatan hibah juga meningkat cukup signifikan.
Kota/Kab Prov Total Kota/Kab Prov Total
I. PENDAPATAN
1.1. PENDAPATAN ASLI DAERAH 1,524,117 1,501,611 3,025,729 715,035 640,295 1,355,330 46.91 42.64 1.1.1 Pajak Daerah 501,943 1,122,139 1,624,082 206,893 515,686 722,579 41.22 45.96 1.1.2 Retribusi Daerah 198,237 18,459 216,696 62,120 9,723 71,843 31.34 52.67 1.1.3 Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang dipisahkan 98,844 92,558 191,402 10,081 438 10,519 10.20 0.47 1.1.4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah 725,094 268,454 993,548 435,940 114,449 550,389 60.12 42.63
1.2 PENDAPATAN TRANSFER 12,174,224 3,275,916 15,402,436 6,260,288 1,716,651 7,976,939 51.42 52.40 1.2.1 Transfer Pemerintah Pusat Dana
Perimbangan 10,894,447 3,222,521 14,116,968 5,585,571 1,689,954 7,275,525 51.27 52.44 1.2.1.1 Bagi Hasil Pajak 444,321 185,190 629,511 224,891 102,409 327,301 50.61 55.30 1.2.1.2 Bagi Hasil Bukan Pajak 515,046 167,935 682,981 357,955 99,799 457,754 69.50 59.43 1.2.1.3 Dana Alokasi Umum 7,232,566 1,496,973 8,729,539 3,700,779 817,163 4,517,943 51.17 54.59 1.2.1.4 Dana Alokasi Khusus 2,520,116 1,372,423 3,892,539 694,730 670,583 1,365,313 27.57 48.86
1.2.2 Transfer Pemerintah Pusat Lainnya 761,778 53,394 815,172 401,848 26,697 428,545 52.75 50.00
1.3 LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG
SAH 356,079 13,871 369,950 161,609 18,000 179,609 45.39 129.77
JUMLAH PENDAPATAN 14,054,421 4,791,397 18,798,114 7,136,932 2,374,946 9,511,878 50.78 49.57
% Realisasi APBD Prov
APBD REALISASI APBD %
Realisasi APBD Kota/Kab Uraian
No
Keuangan Pemerintah 21 Berbeda dengan Provinsi NTB dan kota/kabupaten, realisasi pendapatan pemerintah pusat di Provinsi NTB menunjukkan penurunan, yaitu sebesar 7,67% (yoy). Penurunan tersebut masih sama dengan triwulan sebelumnya yang juga menurun sebesar 7,05% (yoy). Penerimaan negara berupa pajak dan nonpajak pada triwulan ini masing-masing menurun sebesar 3,55%
(yoy) dan 31,64% (yoy). Secara keseluruhan pendapatan negara sampai dengan triwulan II 2017 mencapai Rp1,74 Triliun.
Sumber: Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Prov. NTB
dan Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. NTB, diolah Sumber: Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Prov. NTB, diolah
Grafik 2.4
Realisasi Pendapatan Pemerintah Pusat dan Daerah di Provinsi NTB
Grafik 2.5
Realisasi Pendapatan Pemerintah Kota/Kabupaten di Provinsi NTB s.d Tw II 2017
Secara spasial, kota/kabupaten yang memiliki realisasi pendapatan daerah terbesar sampai dengan triwulan II 2017 adalah Kabupaten Lombok Timur dengan jumlah sebesar Rp1,22 Triliun, sedangkan yang terkecil adalah Kota Bima dengan jumlah sebesar Rp401,33 Miliar. Jika berdasarkan persentase realisasi pendapatan terhadap anggaran pendapatan, kota/kabupaten yang memiliki persentase realisasi pendapatan terbesar adalah Kabupaten Sumbawa Barat sebesar 53,08% dan kota/kabupaten yang memiliki persentase terkecil adalah Kabupaten Lombok Barat sebesar 47,53%.
2.2.1 RISIKO FISKAL DARI SUMBER PENDAPATAN
Berdasarkan sudut pandang risiko, APBD yang baik adalah APBD yang mempunyai ketahanan fiskal yang baik. Hal ini tercipta jika pendapatan daerah tersebut tidak terlalu bergantung pada transfer dari pemerintah pusat. Daerah yang pendapatannya sebagian besar berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan rasio efektivitas minimal 100% dan rasio kemandirian
1 1 3 4
Pemerintah Pusat Pemerintah Provinsi Pemerintah Kota/Kab
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00
Kota Mataram Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Lombok Utara Sumbawa Barat Sumbawa Dompu Kab. Bima Kota Bima Provinsi NTB
Rp Triliun
Keuangan Pemerintah 22 yang besar (>50%) akan memiliki ketahanan fiskal yang lebih baik. Kemampuan pemerintah daerah dalam menghasilkan pendapatan yang bersumber dari daerahnya sendiri terutama dari pajak daerah, retribusi daerah, dan hasil pengelolaan daerah yang dipisahkan, serta lain-lain pendapatan asli daerah dapat dilihat dari rasio kemandirian. Rasio kemandirian dapat memperhitungkan Dana Bagi Hasil (DBH) yang merupakan salah satu pendapatan daerah yang bersumber dari daerah sendiri1.
Pendapatan daerah di Provinsi NTB dan Kota/Kabupaten di Provinsi NTB tersebut terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pendapatan Transfer, dan Lain-lain Pendapatan yang Sah.
Sebagian besar pendapatan daerah Provinsi NTB dan Kota/Kabupaten di Provinsi NTB merupakan Pendapatan Transfer. Kota/Kabupaten yang memiliki PAD terbesar secara nominal sampai dengan triwulan II 2017 adalah Kabupaten Lombok Tengah yaitu sebesar Rp220,48 Miliar. Sedangkan kota/kabupaten yang memiliki PAD terkecil secara nominal adalah Kabupaten Dompu, yaitu sebesar Rp1,80 Miliar. Potensi daerah dan skala ekonomi suatu wilayah diperkirakan mempengaruhi kota/kabupaten dalam memperoleh PAD sehingga terdapat disparitas PAD antar kota/kabupaten di Provinsi NTB.
Sumber: Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Prov.
NTB, diolah
Sumber: Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Prov. NTB, diolah
Grafik 2.6
Rasio Efektivitas Kota/Kabupaten di Provinsi NTB Tw II 2017
Grafik 2.7
Rasio Kemandirian Kota/Kabupaten di Provinsi NTB Tw II 2017
1 Rasio efektivitas merupakan perbandingan antara Realisasi PAD dan Target PAD. Rasio Kemandirian adalah perbandingan antara Realisasi PAD dan Realisasi Total Pendapatan. Rasio kemandirian yang semakin tinggi menunjukkan bahwa daerah tersebut semakin mandiri dan tidak bergantung kepada bantuan eksternal (pemerintah pusat dan/atau pemerintah provinsi). Rasio kemandirian yang semakin tinggi juga menunjukkan semakin tingginya tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah yang ditunjukkan dengan semakin tingginya partisipasi dalam membayar pajak dan retribusi daerah (Ika, 2013).
51
Kota Mataram Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Lombok Utara Sumbawa Barat Sumbawa Dompu Kab. Bima Kota Bima Provinsi NTB
% Rasio Efektivitas (Realisasi PAD / Target PAD)
22
Kota Mataram Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Lombok Utara Sumbawa Barat Sumbawa Dompu Kab. Bima Kota Bima Provinsi NTB
% Rasio Kemandirian (Realisasi PAD / Realisasi Total Pendapatan)
% Rasio Kemandirian ((Realisasi PAD + DBH) / Realisasi Total Pendapatan)
Keuangan Pemerintah 23
2.2.1.1 RASIO EFEKTIVITAS
Pada triwulan II 2017 rasio efektivitas Provinsi NTB dan Kota/Kabupaten di Provinsi NTB secara keseluruhan mencapai 44,79%. Pemerintah kota/kabupaten secara keseluruhan di Provinsi NTB memiliki rasio efektivitas yang lebih tinggi yaitu sebesar 46,91% dibanding dengan pemerintah Provinsi NTB yang sebesar 42,64%. Rasio efektivitas kota/kabupaten secara keseluruhan di Provinsi NTB yang lebih tinggi dibanding dengan Provinsi NTB tersebut menandakan kinerja dalam realisasi PAD kota/kabupaten di Provinsi NTB lebih baik dibanding dengan Provinsi NTB.
Secara spasial, kota/kabupaten yang memiliki rasio efektivitas tertinggi adalah Kabupaten Lombok Tengah sebesar 129,47%, dan yang terendah adalah Kabupaten Dompu sebesar 2,37%.
2.2.1.2 RASIO KEMANDIRIAN
Rasio kemandirian Provinsi NTB dan kota/kabupaten di Provinsi NTB pada triwulan II 2017 secara keseluruhan sebesar 14,25%. Secara terpisah, Provinsi NTB memiliki rasio kemandirian sebesar 26,96%, lebih tinggi dibanding dengan kota/kabupaten di Provinsi NTB yang hanya sebesar 10,02%. Secara spasial rasio kemandirian kota/kabupaten di Provinsi NTB yang tertinggi adalah Kota Mataram, yaitu sebesar 22,34%. Hal ini menandakan Kota Mataram memiliki kemampuan yang lebih kuat dalam menghasilkan pendapatan yang bersumber dari daerahnya sendiri dibandingkan dengan kota/kabupaten lainnya. Kota Mataram berhasil membukukan PAD sebesar Rp152,43 Miliar sampai dengan triwulan II 2017. PAD tersebut merupakan terbesar kedua di antara kota/kabupaten lainnya di Provinsi NTB. Jika rasio kemandirian memperhitungkan Dana Bagi Hasil (DBH), kota/kabupaten di Provinsi NTB yang tertinggi adalah Kabupaten Sumbawa Barat dengan rasio sebesar 45,30%. Tingginya rasio tersebut terutama ditopang oleh Dana Bagi Hasil Bukan Pajak yang cukup besar dibandingkan dengan kota/kabupaten lain.
Keuangan Pemerintah 24
2.3 REALISASI BELANJA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH DAERAH DI PROVINSI NTB
Tabel 2.2 Belanja Daerah Pemerintah Provinsi NTB dan Kabupaten/Kota di Provinsi NTB s.d Triwulan II 2017
Rp Juta
Sumber: Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Prov. NTB, diolah
Penyerapan belanja Pemerintah Provinsi NTB dan Kota/Kabupaten di Provinsi NTB sampai dengan triwulan II 2017 sebesar Rp6,73 Triliun, yang terdiri dari Rp1,84 Triliun yang merupakan realisasi belanja Provinsi NTB dan Rp 4,88 Triliun yang merupakan realisasi belanja Kota/Kabupaten di Provinsi NTB. Sebagian besar (82,37%) penyerapan belanja tersebut merupakan belanja operasi, yaitu sebesar Rp5,54 Triliun, sedangkan selebihnya merupakan belanja modal Rp820,94 Miliar (12,21%), serta belanja tak terduga dan belanja transfer bagi hasil kota/kabupaten/desa sebesar Rp359,07 Miliar (5,43%).
Pertumbuhan belanja daerah sampai dengan triwulan II 2017 secara year on year meningkat dibanding dengan triwulan sebelumnya, walaupun masih dalam skala terbatas tidak sebesar
Kota/Kab Prov Total Kota/Kab Prov Total
II. BELANJA
2.1 BELANJA OPERASI 11,102,660 3,482,322 14,584,982 4,196,859 1,342,891 5,539,750 37.80 38.56 2.1.1 Belanja Pegawai 6,368,215 1,383,301 7,751,516 2,482,443 632,122 3,114,565 38.98 45.70 2.1.2 Belanja Barang 2,745,195 784,212 3,529,408 806,782 275,236 1,082,017 29.39 35.10 2.1.3 Belanja Bunga 4,563 - 4,563 4,524 - 4,524 99.14
2.1.4 Belanja Subsidi - - - 8,170 0.00 8,170
2.1.5 Belanja Hibah 457,772 1,262,358 1,720,131 100,418 434,421 534,839 21.94 34.41 2.1.6 Belanja Bantuan Sosial 130,181 48,739 178,920 144,728 1,113 145,841 111.17 2.28 2.1.7 Belanja Bantuan Keuangan 1,396,733 3,711 1,400,444 649,794 - 649,794 46.52
2.2 BELANJA MODAL 3,043,955 990,737 4,034,691 618,782 202,155 820,937 20.33 20.40 2.3 BELANJA TAK TERDUGA 30,329 4,000 34,329 6,056 - 6,056 19.97
2.3.1 Belanja Tidak Terduga 30,329 4,000 34,329 6,056 - 6,056 19.97
2.4 TRANSFER - - - 62,498 296,576 359,074 2.4.1 Transfer Bagi Hasil ke
Kab/Kota/Desa
280,117
531,939 812,055 62,498 296,576 359,074 22.31 55.75
2.4.1.1 Bagi Hasil Pajak 41,867 531,939 573,806 62,498 296,576 359,074 149.28 55.75 2.4.1.2 Bagi Hasil Retribusi 5,010 - 5,010 - -
-2.4.1.3 Bagi Hasil Pendapatan Lainnya 233,239 - 233,239 - -
-JUMLAH BELANJA 14,457,061 5,008,997 19,466,058 4,884,194 1,841,623 6,725,817 33.78 36.77 SURPLUS/DEFISIT (402,640) (217,600) (620,240) 2,252,738 533,324 2,178,846
Uraian No
APBD REALISASI ANGGARAN %
Realisasi APBD Kota/Kab
% Realisasi APBD Prov
Keuangan Pemerintah 25 triwulan yang sama tahun sebelumnya. Sampai dengan triwulan II 2017, realisasi belanja daerah meningkat sebesar 7,07% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya turun sebesar 2,26% (yoy).
Peningkatan tersebut ditopang oleh peningkatan belanja modal, belanja barang dan belanja bantuan sosial yang cukup signifikan. Belanja modal sampai dengan triwulan II 2107 meningkat sebesar 42,22% (yoy), belanja barang meningkat 25,58% (yoy) dan belanja bantuan sosial juga meningkat sebesar 20,77% (yoy). Namun, pertumbuhan belanja daerah sampai dengan triwulan II tersebut sedikit tertahan terkait dengan penurunan belanja pegawai sebesar 7,10%
(yoy).
Penyerapan belanja pemerintah pusat di Provinsi NTB (tidak termasuk transfer ke daerah dan dana desa) menunjukkan penurunan secara year on year (tahunan) sebagaimana triwulan sebelumnya. Penyerapan belanja daerah pemerintah pusat sampai dengan triwulan II 2017 sebesar Rp2,78 Triliun, menurun 14,83% (yoy). Penurunan pertumbuhan tahunan terjadi pada belanja pegawai, belanja barang, belanja modal dan belanja bantuan sosial. Belanja pegawai dan belanja barang merupakan komponen belanja terbesar, dengan proporsi masing-masing sebesar 43,14% dan 36,49%.
Sumber: Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Prov.
NTB, diolah
Sumber: Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Prov. NTB, diolah
Grafik 2.8
Realisasi Belanja Pemerintah Pusat dan Daerah di Provinsi NTB
Grafik 2.9
Realisasi Belanja Kota/Kabupaten di Provinsi NTB Tw II 2017
Persentase penyerapan belanja terhadap anggaran belanja Kota/Kabupaten di Provinsi NTB secara keseluruhan pada triwulan II 2017 mencapai 33,78%. Persentase penyerapan belanja tertinggi adalah Kabupaten Lombok Timur yang sebesar 37,20%, sedangkan kota/kabupaten yang memiliki persentase terkecil adalah Kabupaten Dompu sebesar 24,41%.
1 2
Pemerintah Pusat Pemerintah Provinsi Pemerintah Kota/Kab
0.00
Kota Mataram Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Lombok Utara Sumbawa Barat Sumbawa Dompu Kab. Bima Kota Bima Provinsi NTB
Rp Triliun
Keuangan Pemerintah 26
2.3.1 RISIKO FISKAL DARI BELANJA PEMERINTAH DAERAH
Sama seperti halnya pendapatan, belanja juga merupakan sumber risiko fiskal. Pertumbuhan belanja yang semakin tinggi tanpa adanya dukungan pendapatan akan menjadi sumber risiko bagi daerah. Pemerintah daerah akan memperoleh manfaat yang berkelanjutan apabila belanja diarahkan pada jenis belanja modal. Dengan naiknya belanja modal maka multiplier yang tercipta akan lebih panjang dan berdampak pada sektor-sektor yang lebih luas. Namun di sisi lain, pemerintah daerah selain mengalokasikan belanja untuk kepentingan publik dalam bentuk belanja modal juga membiayai operasional pemerintahan (Ika, 2013).
Total penyerapan belanja modal pemerintah Provinsi NTB dan kota/kabupaten di Provinsi NTB pada triwulan II 2017 mencapai Rp820,94 Miliar, yang terdiri dari Rp202,06 Miliar belanja modal pemerintah Provinsi NTB, dan Rp618,78 Miliar belanja modal pemerintah kota/kabupaten di Provinsi NTB. Sementara itu, penyerapan belanja pegawai pemerintah Provinsi NTB dan kota/kabupaten di Provinsi NTB pada triwulan II 2017 mencapai Rp3,11 Triliun
Total penyerapan belanja modal pemerintah Provinsi NTB dan kota/kabupaten di Provinsi NTB pada triwulan II 2017 mencapai Rp820,94 Miliar, yang terdiri dari Rp202,06 Miliar belanja modal pemerintah Provinsi NTB, dan Rp618,78 Miliar belanja modal pemerintah kota/kabupaten di Provinsi NTB. Sementara itu, penyerapan belanja pegawai pemerintah Provinsi NTB dan kota/kabupaten di Provinsi NTB pada triwulan II 2017 mencapai Rp3,11 Triliun