• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indonesia – Malaysia Palm Oil Group (IMPOG)

Dalam dokumen HIDAYATULLAH JAKARTA 2020 (Halaman 50-0)

BAB II DIPLOMASI SAWIT INDONESIA DAN TANTANGAN ISU

A. Diplomasi Sawit Indonesia Sebelum Hadirnya ISPO

2. Indonesia – Malaysia Palm Oil Group (IMPOG)

Produksi minyak sawit dunia didominasi oleh Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini secara total menghasilkan sekitar 85-90% dari total produksi minyak sawit dunia. Dalam jangka panjang, permintaan dunia akan minyak sawit menunjukkan kecenderungan meningkat sejalan dengan jumlah populasi dunia yang bertumbuh dan karenanya meningkatkan konsumsi produk-produk dengan bahan baku minyak sawit seperti produk makanan dan kosmetik. 47

47 Indonesian Investment, 2017, “Minyak Kelapa Sawit”, diakses melalui https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/minyak-sawit/item166? , diakses pada 05 Februari 2020.

Pada perjalananya kontribusi produksi minyak sawit Indonesia terus meningkat dari masa ke masa, dari 14% tahun 1965 menjadi 15% tahun 1980 dan 54% pada tahun 2016. Peranan produksi minyak sawit Indonesia, terus mengalahkan kontribusi produski minyak sawit Malaysia, yaitu 15% pada tahun 1965, meningkat 55% tahun 1980, namun berkurang hanya menjadi 32% pada tahun 2016. Meskipun adanya persaingan yang sengit, kedua negara tetap melakukan kerjasama dalam menangkal hal- hal yang mengganggu mereka sebagai produsen terbesar komoditas minyak kelapa sawit.

Kontribusi produksi komoditas minyak sawit Indonesia dan Malaysia terhadap penyediaan minyak nabati dunia, yang terus meningkat, menjadikan kedua negara menjadi sasaran kampanye negatif yang terus menyudutkan produk minyak kelapa sawit kedua negara. Sebagaimana kita ketahui Minyak kelapa sawit merupakan kontributor terbesar terhadap penyediaan minyak nabati dunia. Dalam menghadapi banyaknya tantangan tersebut, kedua negara produsen Indonesia dan Malaysia, berunding bersama menghadapi ancaman kampanye hitam yang dilakukan oleh banyak pihak seperti NGO lokal, nasional, dan transnasional di Eropa.

Kerja sama itu diformalkan dalam bentuk kesepakatan bersama, Memorandum of Understanding (Mou) yang dilakukan antara pemerintah Indonesia dan Malaysia yang

bertujuan untuk menjamin usaha bersama dan posisi antarnegara produsen sawit. MoU ini di tandatangani pada 2006 dan terus berulang sampai 2013. Kerja sama antara Indonesia dan Malaysia ini lahir karena adanya saling ketergantungan dalam masalah modal (investasi) dan tenaga kerja. Dari sudut modal, Malaysia memiliki kepentingan

menjaga investasi terbesar kedua negara dalam perkebunan sawit di Indonesia atau menguasai 26% lahan sawit di Indonesia. 48

Bahkan, kini pemodal Malaysia justru ditarik pemerintah Indonesia untuk menanamkan modalnya, terutama dalam industri pengolahan sawit yang lebih maju daripada di Indonesia. Sebaliknya, keberhasilan bisnis sawit Malaysia juga bergantung pada suplai tenaga kerja dari Indonesia yang masuk secara resmi ataupun tidak resrmi.

Misalnya pada tahun 2014, sekitar 80% tenaga kerja perkebunan kelapa sawit Malaysia berasal dari Indonesia. 49

Untuk Indonesia sendiri, hadirnya pengusaha sawit Malaysia jelas memberi sumbangan terhadap pendapatan negara. Selin itu, rekrutmen tenaga kerja Indonesia di perkebunan kelapa sawit Malaysia akan mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia. Saling ketergantungan ini disebut sangat menguntungkan, hal tersebut diungkapkan Wakil Perdana Menteri Malaysia Najib Razak pada penandatangan MoU tersebut :50

“Indonesia dan Malaysia melakukan kesepakatan dalam bentuk penetapan jumlah output yang akan diproduksi karena Indonesia di sini merasa khawatir jika Malaysia mencabut investasinya, yang pada akhirnya akan mengurangi volume produksi kelapa sawit yang dihasilkan dan akan menyebabkan menurunnya keuntungan Indonesia. Hal ini juga berlaku untuk Malaysia, karena Malaysia juga memiliki kendala dalam keterbatasan lahan dan keterbatasan tenaga kerja. Kita telah sepakat untuk

48 Erman E, 2017, “Di Balik Keberlanjutan Sawit : Aktor, Aliansi Dalam Ekonomi Politik Sertifikasi Uni Eropa”, Jurnal Masyarakat Indonesia, Vol 43 No 1, Juni 2017, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hal 6.

50 Erman E, 2017, “Di Balik Keberlanjutan Sawit : Aktor, Aliansi Dalam Ekonomi Politik Sertifikasi Uni Eropa”, Jurnal Masyarakat Indonesia, Vol 43 No 1, Juni 2017, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hal 6. .

meningkatkan produksi dan pemasaran CPO dengan membentuk aliansi strategi.”(Pidato Najib saat penandatanganan MoU, 25 Mei 2006).

Adanya kesepakatan resmi dari kedua negara ini menjadi jalan masuk untuk merancang berbagai kegiatan yang bertujuan menghadapi tantangan perdagangan minyak sawit ke Eropa. Kesepakatan ini dinamai Indonesia-Malaysia Palm Oil Group (IMPOG), yang merupakan wadah antar produsen kelapa sawit Indonesia dan Malaysia untuk menyusun program kerja sama, research and development (R&D), komunikasi, dan strategi agar mempunyai persepsi yang sama dalam upaya menghadapi tekanan asing atas kedua negara produsen utama sawit. 51

Di dalam IMPOG ini sendiri berisi dan beranggotakan enam asosiasi yang fokus di bidang minyak kelapa sawit, yaitu Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Malaysian Palm Oil Association (MPOA), Asosiasi Pemilik Perkebunan Minyak Sawit Serawak (SOPPOA), Federal Land Development Authority (FELDA), dan Asosiasi Investor Perkebunan Malaysia di Indonesia (APMI). Pertemuan kedua negara tersebut berlangsung di Kuching, Malaysia, pada 2010. Kesepakatan bersama antara Indonesia dan Malaysia telah melahirkan sikap yang sama sekali tidak bergantung pada negara konsumen Uni Eropa.

Sikap ini tecermin dari usaha-usaha, pertama, pembentukan sertifikasi sebagai respons terhadap sertifikasi sawit global yaitu RSPO yang dinilai tidak efektif.

Pembentukan badan sertifikasi oleh kedua negara ini merupakan bukti peranan negara-

51 Erman E, 2017, “Di Balik Keberlanjutan Sawit : Aktor, Aliansi Dalam Ekonomi Politik Sertifikasi Uni Eropa”, Jurnal Masyarakat Indonesia, Vol 43 No 1, Juni 2017, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hal 6 .

negara berkembang, yang selama ini dianggap lemah dan bergantung pada negara maju, ternyata cukup kuat dalam bernegosiasi dengan negara-negara maju seperti uni Eropa. Kedua, negara produsen ini membentuk kekuatan yang lebih besar dengan menarik negara-negara produsen sawit lain menghadapi negara konsumen Uni Eropa. Ketiga, aktor-aktor di kedua negara melakukan diplomasi dagang tingkat tinggi dengan Uni Eropa .52

Dengan dibentuknya IMPOG merupakan salah satu wujud upaya diplomasi yang dilakukan oleh Indonesia dan Malaysia dibidang kelapa sawit demi melindungi komoditas kelapa sawit beserta turunannya. Selain itu, sebagaimana dijelaskan diatas salah satu tujuan kedua negara membentuk wadah ini adalah ingin membentuk sertifikasi kelapa sawit yang tentunya lebih berpihak kepada kedua negara. Dan bagi Indonesia sendiri kesepakatan IMPOG tersebut merupakan wujud dan cikal bakal dari dibentuknya kebijakan Indonesian Sustainale Palm Oil (ISPO), sedangkan bagi Malaysia ini merupakan wujud cikal bakal dari kebijakan Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO).

52 Erman E, 2017, “Di Balik Keberlanjutan Sawit : Aktor, Aliansi Dalam Ekonomi Politik Sertifikasi Uni Eropa”, Jurnal Masyarakat Indonesia, Vol 43 No 1, Juni 2017, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hal 7.

B. Tantangan Keberlanjutan Kelapa Sawit Indonesia

1. Kebijakan Renewable Energi Directive I (RED I) dan Trilogue Renewable Energi Directive II (RED II) oleh Komisi Eropa

Komisi Eropa menerapkan kebijakan subsidi untuk mencapa target jangka panjang dalam mengurangi ketergantungan terhadap minyak fosil. Kebijakan ini merupakan penerapan dari keputusan komite Eropa yang mewajibkan penggunaan 2% biofuel pada sarana transportasi. Sebagian besar minyak nabati yang diproduksi oleh Uni Eropa adalah minyak nabati yang berasal dari minyak rapeseed yang berjumlah 90%, sementara minyak lainnya yang di produksi oleh Uni Eropa berasal dari bunga matahari, kelapa sawit dan kedelai. Dari segi produktivitas minyak kelapa sawit menghasilkan energi yang lebih tinggi dan menggunakan lahan yang lebih sedikit dibandungkan dengan minyak rapeseed yang diproduksi oleh Uni Eropa.53

Kebijakan ini ada di dalam Directives 2001/77/ dan EC 2003/30/EC kemudian diperbaharui dalam Directive 2009/2008/EC of The European Parliament And Of The Council Of 23 April 2009, yang kemudian dikenal Renewable Energy Directive (RED).

Dalam kebijakan RED Uni Eropa menerapkan target penggunaan energi terbarukan pada listrik, Heating and cooling dan Biofuel sebesar 20% pada tahun 2020. Kebijakan ini mengikat secara hukum dan harus dilakukan oleh negara anggota. 54

53Frederick Erickson, 2009, “Green Protectionism in the European Union: How Europe’s Biofuels Policy and the Renewable Energy Directive Violate WTO Commitments", ECIPE

OCCASIONAL Paper No.1/2009.

54Intan Tiara Kartika, 2016, “Interaksi Kebijakan Renewable Energy Directive dan Kebijakan Indonseian Sustainable Palm Oil Terhadap Ekspor kelapa sawit Indonesia ke Uni Eropa”, Skripsi, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin Makassar, hal 33.

RED adalah sebuah kebijakan yang memiliki tiga tujuan utama yaitu, memastikan pasokan aman, berdaya saing, dan berkesinambungan.55 Ini dibentuk untuk menekankan keinginan Uni Eropa dalam mengatasi masalah lingkungan dengan menggunakan sumber energi terbarukan. Adapun yang dimaksud dengan sumber energi terbarukan menurut Uni Eropa adalah angin, energi matahari, hidrotermal dan energi laut, tenaga air, biomassa, gas landfill, limbah gas pabrik pengolahan biogas seperti yang tercantum pada pasal 2 point (a), “energy from renewable sources’ means energy from renewable non-fossil sources, namely wind, solar, aerothermal, geothermal, hydrothermal and ocean energy, hydropower, biomass, landfill gas, sewage treatment plant gas and biogases”.56

RED menerapkan persyaratan bagi 27 negara anggota Uni Eropa dan tiga nega lain yang termasuk dalam area ekonomi Eropa (Iceland, Lichtenstein, dan Norwegia) untuk mengadopsi target wajib nasional yaitu’ 20-20-20’. Target ini dibentuk untuk memastikan yang harus dicapai melaului efisiensi energi 2020.

Perhitungan akhir konsumsi energi terbarukan yang 20% ini mengacu pada jumlah total energi yang dikonsumsi oleh setiap negara anggota dari berbagai sektor Tidak hanya itu, dalam RED diatur pula sasaran 10% untuk penggunaan

55Intan Tiara Kartika, 2016, “Interaksi Kebijakan Renewable Energy Directive dan Kebijakan Indonseian Sustainable Palm Oil Terhadap Ekspor kelapa sawit Indonesia ke Uni Eropa”, Skripsi, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin Makassar, hal 33.

56 Renewable Energy Directive 2009/28/EC hal 27 diakses melalui

https://www.eea.europa.eu/policy-documents/2009-28-ec . Diakses pada 17 Januari 2020.

57 T Wyns, “EU Governance of Renewable Energy Post-2020”, hal 4, diakses melalui https://eu.boell.org/sites/default/files/eu_renewable_energy_governance_post_2020.pdf. Diakses pada 17 Januari 2020.

energi.57

energi terbarukan pada bidang transportasi. Energi terbarukan bisa berasal dari berbagai sumber, tetapi sumber utama transportasi harus berasal dari biofuel. RED menetapkan sasaran ini untuk meningkatkan konsumsi yang lebih besar dalam penggunaan biofuel Uni Eropa.58 RED tersebut dibentuk atas dasar pandangan berkelanjutan (sustainable). Karakterisitik berkelnjutan untuk biofuel dapat dilihat pada pasal 17 dalam Renewable Energy Directives, yaitu penghematan emisi gas rumah kaca dan persyaratan penggunaan lahan. Biofuel ini harus bersifat berkelanjutan untuk dapat mendukung target wajib dari energi terbarukan dan agar dapat memenuhi syarat untuk mendukung ekonomi Uni Eropa.59

Selain itu untuk dapat memenuhi kriteria berkelanjutan (sustainable) emisi gas rumah kaca harus berada di ambang batas tertentu, dimana batas minimumnya adalah 35%. RED menjabarkan metode untuk menghitung jumlah emisi gas dilihat dari (1) ekstraksi dan budidaya bahan baku, (2) perubahan penggunaan lahan, (3) pengolahan dan (4) distribusi dan tranportasi. Selain itu, penghematan emisi dapat ditingkatkan melalui manajemen pertanian dan proses pengangkapan karbon. Jumlah emisi yang menggunakan metode RED kemudian dibandingkan dengan emisi dari bahan bakar fosil, kemudian dijumlahkan untuk menghitung total tingkat penghematan emisi.60

58Intan Tiara Kartika, “Interaksi Kebijakan Renewable Energy Directive dan Kebijakan Indonesian Sustanaible Palm Oil Terhadap Ekspor kelapa sawit Indonesia Ke Uni Eropa”, Skripsi, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin Makassar, 2016, hal 35.

59Taufan Ardiansyah, CNBC News, “Tak Disangka, Gara-gara Ini Uni Eropa Hantam Sawit RI!”, diakses melalui https://www.cnbcindonesia.com/news/20190822140737-4-93924/tak-disangka-gara-gara-ini-uni-eropa-hantam-sawit-ri . Diakses pada 22 Maret 2020.

60Andreas Lendle and Malorie Schaus, “Sustainability Criteria In The EU Renewable Energy Directive:Consistent With WTO rules”, ICSTD Project on WTO Juripundence and Sustinable Development 202, hal 3.

Kebijakan RED juga mengatur nilai default untuk berbagai macam biofuel yang digunakan sebagai alternatif dari kasus ke kasus. Produsen diberikan pilihan untuk memilih antara nilai default dan nilai penghematan emisi yang sebenarnya, dimana apabila nilai default emisi terlampau tinggi untuk biofuel dalam artian tingkat penyimpanan terlalu rendah, mereka bisa menghitung nilai yang sesungguhnya.61

Selain masalah Greenhouse Gas (GHG), RED juga menyoroti masalah penggunaan lahan. Dijelaskan lebih lanjut pada paal 17 (3)-(5) dari EU RED berisi tiga kriteria penggunaan lahan yang digunakan untuk menghasilkan bahan baku 38 biofuel yaitu : tanah dengan keanekaragaman hayati, tanah dengan karbon tinggi, dan tanah gambut.62

Pada pasal 17 ayat 3 – 5 dijelaskan bahwa biofuel tidak boleh berasal dari bahan mentah yang ditanam pada lahan yang mengandung nilai keanekaragaman yang tinggi, dimana termasuk didalamnya hutan dan lahan berpohon, area yang diciptakan untuk perlindungan alam, spesies langka, terancam dan membahayakan, serta padang rumput yang dengan keanekaragaman hayati.63 Kedua, biofuel tidak boleh dibenuk dari lahan dengan jumlah karbon yang tinggi, seperti tanah yang subur dan hutan. 64

61 Intan Tiara Kartika, “Interaksi Kebijakan Renewable Energy Directive dan Kebijakan Indonesian Sustanaible Palm Oil Terhadap Ekspor kelapa sawit Indonesia Ke Uni Eropa”, Skripsi, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin Makassar, 2016, hal 36.

62 Renewable Energy Directive 2009/28/EC hal 3 diakses melalui https://www.eea.europa.eu/policy-documents/2009-28-ec . Diakses pada 17 Januari 2020.

63 Renewable Energy Directive 2009/28/EC hal 3 diakses melalui https://www.eea.europa.eu/policy-documents/2009-28-ec . Diakses pada 17 Januari 2020.

64 Intan Tiara Kartika, “Interaksi Kebijakan Renewable Energy Directive dan Kebijakan Indonesian Sustanaible Palm Oil Terhadap Ekspor kelapa sawit Indonesia Ke Uni Eropa”, Skripsi, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin Makassar, 2016, hal 38.

Ketiga, biofuel tidak boleh dibentuk dari bahan mentah yang ditanam dilahan gambut, kecuali bukti yang tersedia dari penanaman dan pemanenan dari bahan mentah yang tidak melibatkan proses drainase. Walaupun kriteria berkelanjutan Uni Eropa mengatur tentang perubahan penggunaan lahan dan mengatur proses pembentukan biofuel, ini belum menjamin bahwa tidak ada efek tak langsung dari kebijakan ini. Indirect Land-Use Change (ILUC) mengarah pada perubahan potensial penggunaan lahan berdasarkan peingkatan permintaan untuk biofuel.

Dalam artian, permintaan bahan baku biofuel seperti kelapa sawit akan terus meningkat karena adanya kriteria berkelanjutan (sustainable) Uni Eropa. Kenaikan permintaan akan mengarah pada kenaikan produksi, yang tentunya bisa berdampak pada pembabatan lahan dan deforestasi.

Hutan Indonesia, sebagai pemasok utama kelapa sawit, menjadi terancang karena peningkatan permintaan kelapa sawit, dimana bisa mengakibatkan hutan ditebang dan dialihfungsikan menjadi perekbunan kelapa sawit. Ini tentu akan mengarah pada krisis lingkungan hidup. RED ini dibentuk tidak terlepas dari berbagai tuntutan pemerhati lingkungan dan ilmuwan di dunia. Padahal bahan bakar non-minyak juga menyumbang emisi gas rumah kaca ke atmosfer bumi melalui proses produksi bahan bakar tersebut, dimana setiap tahunnya sekitar 180 juta ton karbondioksida (Co2) diemisikan ke udara sebagai hasil pembakaran lahan gambut, untuk membuka perkebunan di Malaysia dan Indonesia. 65

65Intan Tiara Kartika, 2016, “Interaksi Kebijakan Renewable Energy Directive dan Kebijakan Indonesian Sustanaible Palm Oil Terhadap Ekspor kelapa sawit Indonesia Ke Uni Eropa”, Skripsi,

Selain itu, RED akan menetapkan kebijakan RSPO-RED yang dikeluarkan bersama RSPO, merupakan perpaduan antara RSPO dan RED. Di dalam RSPO RED Uni Eropa berencana akan menerapkan standarisasi tunggal terhadap kelapa sawit yang akan masuk kawasan Uni Eropa.66

Belum selesai masalah RED I yaitu mulai tahun 2016, Uni Eropa merancang target-target baru dalam kebijakan energi terbarukan, yang dikenal sebagai Renewable Energy Directive II (RED II). RED II menetapkan bahwa target penggunaan energi terbarukan

pada tahun 2030 naik menjadi 32% dari yang semula 27%. Diatur pula kontribusi beberapa kategori biofuel sehingga tidak melebihi konsumsi tahun 2019. Kategori yang dimaksud adalah yang memiliki resiko tinggi terhadap perubahan penggunaan lahan secara tidak langsung Indirect Land-Use Change (ILUC), serta tanaman yang mengalami ekspansi area produksi secara signifikan.67

Bahkan dalam aturan tersebut disebutkan bahwa minyak kelapa sawit dikategorikan sebagai komoditas yang tidak berkelanjutan, sehingga tidak dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biofuel. Penggunaan sawit akan dikurangi secara bertahap hingga habis sama sekali pada tahun 2030. Peraturan tersebut mulai tertuang dalam revisi RED II tahun 2018 dan akan diberlakukan Komisi Eropa pada Maret 2019. Hal itulah yang membuat Malaysia dan Indonesia merasa terganggu,

Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin Makassar, Hal 39.

66Saqira Yunda Imansari, 2011, “Penetapan Kebijakan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Pada Tahun 2011”, e Jurnal, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Jember, Hal 8

67Taufan Ardiansyah, CNBC News, “Tak Disangka, Gara-gara Ini Uni Eropa Hantam Sawit RI!”, diakses melalui https://www.cnbcindonesia.com/news/20190822140737-4-93924/tak-disangka-gara-gara-ini-uni-eropa-hantam-sawit-ri . Diakses pada 22 Maret 2020.

khusunya Indonesia, industri sawit merupakan lapangan usaha bagi banyak petani kecil. Kala ekspor terhambat dengan aturan non tarif tersebut, maka akan ada banyak petani kecil yang terdampak. Pemerintah Indonesia saat ini sedang menyiapkan gugatan untuk Uni Eropa terkait diskriminasi sawit. Gugatan akan dilakukan melalui World Trade Organization (WTO) .68

Keluarnya RED I dan RED II membuat posisi kelapa sawit Indonesia menjadi terancam. Kelapa sawit Indonesia mulai diberi batasan dengan berbagai standar yang ditetapkan oleh Uni Eropa salah satunya melalui kebijakan RED tersebut. Selain itu, minyak sawit yang masuk ke Uni Eropa juga harus melalui proses sertifikasi yang berbelit, salah satu yang diakui dikawasan tersebut yaitu, Roundatable Sustainable Palm Oil (RSPO). Hal ini tentunya membuat Indonesia tidak tinggal diam yaitu dengan masif memperkenalkan sertifikasi kelapa sawit berkelanjutannya yaitu Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

2. Resolusi Parlemen Uni Eropa Palm Oil and Deforestation of The Rainforest

Pada 4 April 2017, Parlemen Uni Eropa mengeluarkan Resolusi 2016/2222, yang dinamakan dengan Palm Oil Deforestation of The Rainforest (Kelapa Sawit dan Deforestasi Hutan Huhan) diajukan berdasarkan pada tudingan bahwa pengembangan kelapa sawit dan industrinya menjadi penyebab utama deforestasi dan perubahan iklim.

Selain itu, resolusi tersebut juga bertujuan akhir agar minyak sawit tidak

68Taufan Ardiansyah, CNBC News, “Tak Disangka, Gara-gara Ini Uni Eropa Hantam Sawit RI!”, diakses melalui https://www.cnbcindonesia.com/news/20190822140737-4-93924/tak-disangka-gara-gara-ini-uni-eropa-hantam-sawit-ri . Diakses pada 22 Maret 2020.

dimasukkan sebagai bahan baku program biodiesel Uni Eropa mulaitahun 2020.

Industri minyak kelapa sawit dianggap sebagai pemicu utama deforestasi.69

Keluarnya Resolusi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi produk kelapa sawit Indonesia, terutama yang akan memasuki pasar Uni Eropa. Data statistik menyebutkan bahwa Uni Eropa merupakan tujuan ekspor terbesar kedua minyak kelapa sawit Indonesia, setelah India, yang berkontribusi terhadap nilai ekspor kelapa sawit Indonesia. Besaran nilai ekspor kelapa sawit Indonesia pada tahun 2016 merupakan yang terbesar dibandingkan dengan ekspor Indonesia di sektor non-migas lainnya. Dengan posisi strategis tersebut, isu ini menjadi perhatian bagi seluruh pihak terkait di Indonesia karena terganggunya ekspor kelapa sawit Indonesia ke UE akan berdampak pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan. 70

Begitupun bagi negara- negara Asia Tenggara (ASEAN) lainnya, yang merupakan pelaku perkebunan komoditi tersebut, bagi negara dikawasan ASEAN Resolusi tersebut berisi dua proposal yang sangat kontroversial. Yang pertama adalah pengembangan skema sertifikasi tunggal baru untuk produk minyak sawit dan kelapa sawit yang dimulai pada tahun 2020. Yang kedua adalah penghapusan bertahap dan penggantian minyak sawit yang digunakan dalam biofuel dengan minyak nabati yang ditanam di Uni Eropa, juga dimulai pada tahun 2020.71

69 Edhy Prabowo, Kompas.com, 2017, ”Resolusi Sawit Parlemen Eropa yang Merugikan Indonesia”, Diakses pada melalui 5 Desember 2019 melalui

https://ekonomi.kompas.com/read/2017/12/05/155319126/resolusi-sawit-parlemen-eropa-yang-merugikan-indonesia.

70Dr. Windratmo Suwarno,2017,“Diplomasi Indonesia Menghadapi Kampanye Negatif Kelapa Sawit Di Uni Eropa”, Staf Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri.

71 Singapore Institute Of International Affairs (SIIA),” Why does the EU’s recent Resolution on Palm Oil matter to ASEAN?”, Diakses melalui http://www.siiaonline.org/why-does-the-eus-recent-resolution-on-palm-oil-matter-to-asean/. Diakses pada 16 Mei 2019.

Jika ditegakkan, Resolusi tersebut mengancam untuk menutup sebagian besar industri minyak sawit ASEAN dari pasar UE yang menguntungkan. Pasar minyak sawit UE bernilai sekitar S $ 8,3 miliar dan menyumbang 17 persen (4,37 juta ton) dari Indonesia dan 13 persen (2,09 juta ton) dari ekspor minyak sawit Malaysia, masing-masing. Kehilangan akses ke pasar ini akan berdampak negatif pada banyak komunitas sawit di Indonesia dan di kawasan ASEAN lainnya, yang bergantung pada minyak sawit untuk mata pencaharian mereka.

Di Indonesia, keluarnya resolusi sawit Parlemen Eropa menuai berbagai kritik dari aktor-aktor negara. Bukan hanya dari aktor-aktor negara yang berkepentingan mengurusi sawit, seperti Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, dan Menteri Lingkungan Hidup, protes terhadap resolusi tersebut juga datang dari Presiden dan Wakil Presiden. Pendapat yang mengemuka adalah bahwa resolusi itu merupakan bentuk politik diskriminatif terhadap minyak nabati. Sebab, resolusi itu akan mendorong Uni Eropa menghilangkan penggunaan minyak sawit dan secara terselubung menghambat perdagangan sawit Indonesia ke negara kawasan Eropa.72 3. Kampanye dan Aksi Aktor non Negara terhadap Kelapa sawit Indonesia

Organisasi internasional dalam hubungan internasional peranannya saat ini telah diakui karena keberhasilannya dalam memecahkan berbagai persoalan serta

Organisasi internasional dalam hubungan internasional peranannya saat ini telah diakui karena keberhasilannya dalam memecahkan berbagai persoalan serta

Dalam dokumen HIDAYATULLAH JAKARTA 2020 (Halaman 50-0)