BAB V PENUTUP
B. Saran
Dalam upaya memperkenalkan kelapa sawit berkelanjutannya, Indonesia gencar untuk melakukan diplomasi di berbagai negara yang menjadi tujuan utama komoditas kelapa sawit. Seperti memprakarsai berdirinya CPOPC dan lainnya. Hal tersebut belum terlalu efektif dalam mempromosikan kelapa sawit berkelanjutan Indonesia yaitu ISPO. Bahkan, setelah adanya ISPO kelapa sawit Indonesia masih sering menghadapi kampanye negatif .
Dalam hal ini, Indonesia melalui kebijakan ISPO seharusnya dapat menggandeng dan mengikuti langkah-langkah yang dilakukan RSPO sebagai kebijakan kelapa sawit berkelanjutan yang sudah terpercaya di lingkup global.
Selain itu, studi bersama RSPO dengan ISPO lebih sering lagi dilakukan, karena RSPO bisa dijadikan sebagai acuan untuk Indonesia dalam mempromosikan kelapa sawit berkelanjutan di berbagai negara. Indonesia melaui ISPO juga seharusnya memiliki sosialisasi yang jelas serta tindakan tegas bagi yang melanggar aturan.
Dengan begitu, kelapa sawit Indonesia melalui ISPO bisa lebih diterima .
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Anthonius P. Sitepu. Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011.
A, Vandana . Theory Of International Politics. Vikas Publishing house PVT LTD, 1996.
Bayne, Nicholas, Stephen Woolcock. The New Economy Diplomacy Decicion Making and Negotiation in International Relations. New York: Routledge, 2017
Creswell, John W. Qualitative Inquiry and Research Design, Choosing Among Five Traditions. California: Sage Publication, 1998.
d’Hooghe, Ingrid. China’s Public Diplomacy. Leiden: Brill Nijhoff, 2015.
Griffth, Martin dan Terry O Callaghan. International Relations: The Key Concepts. New York: Routledge, 2002.
Hans, J. Morgenthau. Politic Among Nations, the Struggle for Power and Peace. edisi Bahasa Indonesia, diterjemahkan oleh S.Maimoen, A.M. Fatwan, Cecep Sudrajat,.Yayasan Pustaka Obor Indonesia : Jakarta, 2010.
Plano ,Jack C. dan Roy Olton. The International Dictionary, England: Lia Press Ltd, 1982.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif ,Kualitatif dan R & D. Penerbit Alfabeta:
Bandung, 2009.
Strauss,Anslem dan Corbin J. Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif. Pustaka Pelajar : Yogyakarta, 2013.
William, D.S dan C Olson. Theory and Practice of International Relations. New Jersey:
Prentice Hall inc, 1991.
Miroslay, Nicni. Democracy and Foreign Policy, The Falacy of Political Realism. New York: Columbia University Press, 1992.
Skripsi
Dharmawan, A. H. Kesiapan Petani Kelapa Sawit Swadaya Dalam Implementasi Ispo:
Persoalan Lingkungan Hidup, Legalitas Dan Keberlanjutan”. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro, 2019.
Fachri, Hadin. Kepentingan Ekonomi Indonesia Dalam Memprakarsai Council Of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) 2015. Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018.
Kartika, Intan Tiara. Interaksi Kebijakan Renewable Energy Directive dan Kebijakan Indonesian Sustainable Palm Oil Terhadap Ekspor Kelapa Sawit Indonesia ke Uni Eropa. Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin Makassar, 2016.
Sumiati, Wina. Upaya Southeast Asian Ministers of Education (SEAMEO) Dalam Mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 4.2 Periode 2017-2018. Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018
http://scholar.unand.ac.id/13999/2/BAB%201%20UPLOAD%20PUTRA.pdf
Laporan Resmi
Suwarno, Windratmo. Diplomasi Indonesia Menghadapi Kampanye Negatif Kelapa Sawit Di Uni Eropa. Staf Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, 2017.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kajian Mandiri : Peran Diplomasi dalam Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan: Tinjauan terhadap Pengelolaan Industri Minyak Nabati”. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK).
ISBN 978-602-51358-4-2, 2019.
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Laporan Akhir Analisis Strategi Indonesia Untuk Meningkatkan Akses Pasar Produk Crude Palm Oil (CPO) Indonesia Ke Amerika Serikat. Pusat Kebijakan Kerjasama Perdagangan Internasional. Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan, 2015.
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Kampanye Negatif Kelapa Sawit Indonesia, Potensi Kelapa Sawit Indonesia, Kiat-Kiat Menghadapi Kampanye Negatif Kelapa Sawit. Warta Ekspor, Juni 2011.
Jurnal
Amelia, D. Pemerintah Indonesia Terhadap Perubahan Tarif Pajak Cpo (Crude Palm Oil) Oleh Perancis 2016. Jom Fisip Vol. 4 No. 2 – Oktober 2017.
Lendle, Andreas dan Malorie Schaus. Sustainability Criteria In The EU Renewable Energy Directive:Consistent With WTO rules. ICTSD Project on WTO Jurispudence and Sustainable Development,202.
Angelika, Yoan. Kebijakan Pemerintah Indonesia Pasca Keluar dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Universitas Riau: Jurnal FISIP Volume 2 No. 2, Oktober, 2015.
Drajat, Bambang. Overcoming Black Campaign on Palm Oil and Devloping Future Strategy. Lembaga Riset Perkebunan Nusantara.
Arifin, Bustanul dan Komang Audina Permana Putri. Indonesian Government Strategies On Obtaining Crude Palm Oil (CPO) Market Access To European Union Countries Over The EU Parliament Resolution On Palm Oil And Deforestation Of Rainforest
. Andalas Journal of International Studies Vol VIII No 2 Nov 2019.
Askar, Jaya. Konsep Pembangunan Berkelanjutan. Program S3 Institut Pertanian Bogor, 2004.
Erman, E. Di Balik Keberlanjutan Sawit: Aktor, Aliansi Dalam Ekonomi Politik Sertifikasi Uni Eropa. Jurnal Masyarakat Indonesia, Vol. 43 No.1, Juni Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 2017.
Donald, Nuechterlein. National Interest and Foreign Policy : A conceptual Framework for Analysis and Decision Making. British Journal Of Internastional Studies, Vol.
2 No.3, October 1976.
Ansori, Firanty Maulidani. Upaya Indonesia Dalam Peningkatan Ekspor Crude Palm Oil Ke Nigeria. eJurnal Ilmu Hubungan Internasional, Volume 7, Nomor 1 2019:029-042, 2019.
H.Roskin, Michael. National Interest: From Abstractions to Strategy, Director Strategic Studies Institute, Us Army War College, 1994.
Iga, Rolesa Putri. Kerjasama Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia Ke Negara Vietnam Pada Tahun 2012-2015. JOM FISIP Volume 4 No. 2 Oktober, 2017.
Purba, Jan Horas V dan Tungkot Sipayung. Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan. Jurnal Masyarakat Indonesia Masyarakat Indonesia, Vol. 43 No.1, Juni 2017.
Kilian, M. Erza. Pemerintah Daerah dalam Diplomasi Ekonomi Indonesia: Studi Kasus pada Diplomasi Komersial Jawa Timur”, Jurnal Ilmiah Transformasi Global, Vol.
2 No.2.
Bonita, Maya. Strategi Indonesia Dalam Menanggapi Resolusi Parlemen Uni Eropa No.
P8_TA(2017)0098 Tentang Palm Oil and Deforestations of The Rainforest 2017.
JOM FISIP Vol. 5: Edisi II Juli – Desember 2018.
A.I, Sulistyanto, dan Akyuwen, R. Dinamika Produksi dan Ekspor Minyak Kelapa Sawit Indonesia. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah MadaYogyakarta, 2010.
W. McDonald, John. The Institute for Multi-Track Diplomacy. Journal of Conflictology Vol 3, 2012.
Voge, Ann-Kathrin dan Friedel Hütz-Adams – SÜDWIND e.V. Minyak Kelapa Sawit Berkelanjutan – Tuntutan atau Realitas? : Potensi dan Keterbatasan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Bread for the World – Protestant Development Service Protestant Agency for Diaconia and Develpment Caroline-Michaelis-Straße 1 10115 : Berlin Germany, 2014.
Roskin. National Interest: From Abstractions to Strategy. Director Strategic Studies Institute, Us Army War College, 1994.
Gunawan, Suherno. Motivasi Indonesia Bekerjasama Dengan Malaysia Dalam Membentuk The Council Of Palm Oil Producing Countries (Cpopc) Tahun 2015.
Jom Fisip Vol. 5: Edisi Ii Juli – Desember 2018.
Schleicher, Tobias dan Inga Hilbert. Production of Palm Oil in Indonesia. Project-ID:
031B0235B , Oeko-Institut e.V, Freiburg Germany, 2019.
Website dan Dokumen Elektronik
BussinesWireIndia. 2017. India's National Palm Oil Sustainability Framework (IPOS) Launched. diakses pada 20 April 2020 melalui
https://www.businesswireindia.com/indias-national-palm-oil-sustainability-framework-ipos-launched-54950.html.
BUMN. 2019. Dongkrak Harga Sawit, Indonesia Ajak Malaysia Implementasikan Program B30. Diakses pada 30 April 2020 melalui
http://www.bumn.go.id/ptpn5/berita/1-Dongkrak-Harga-Sawit-Indonesia-Ajak-Malaysia-Implementasikan-Program-B30.
BUMN. 2019. Narasi Lingkungan Sawit. Diakses pada 25 April 2020 melalui http://bumn.go.id/ptpn5/berita/1-Narasi-Lingkungan-Sawit.
BUMN. 2019. Harga Minyak Sawit Naik Kembali Mencapai Rekor Tertinggi. Diakses pada 29 April 2020 melalui http://www.bumn.go.id/ptpn5/berita/1-Harga-Minyak-Sawit-Naik-Kembali-Mencapai-Rekor-Tertinggi.
Defenisi Metodologi penelitian, diakses melalui https://idtesis.com/metode-penelitian2.
Denada L Gaol. 2018. Faktor Penghambat Diplomasi CPO Indonesia Di Pasar Eropa.
Diakses pada 20 April 2020 melalui
https://www.researchgate.net/publication/332362480.
Edhy Prabowo. 2017. Resolusi Sawit Parlemen Eropa yang Merugikan Indonesia.
Diakses pada 20 Februari 2020 melalui
https://ekonomi.kompas.com/read/2017/12/05/155319126/resolusi-sawit-parlemen-eropa-yang-merugikan-indonesia.
GAPKI. 2017. ISPO Sebagai Alat Diplomasi Indonesia. Diakses pada 06 Februari 2020 melalui https://gapki.id/news/3189/ispo-sebagai-alat-diplomasi-sawit-indonesia.
GIMNI. 2018. Ekspor Cpo Ke Negara Asia Dan Rusia Kian Terbuka. Diakses pada 27 April 2020 melalui http://gimni.org/ekspor-cpo-ke-negara-asia-dan-rusia-kian-terbuka/.
Indonesian Investment. 2017. Minyak Kelapa Sawit. Diakses pada 05 Februari 2020 melalui https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/minyak-sawit/item166?.
Indra Nugraha. 2017. Ketika Parlemen Eropa Keluarkan Resolusi soal Sawit. Diakses pada 23 Maret 2020 melalui http://www.mongabay.co.id/2017/04/09/ketika-parlemen-eropa-keluarkan-resolusisoal-sawit/ .
Info Sawit. 2020. Berikut Beberapa Point Baru Pada Minyak Sawit Berkelanjutan ISPO.
Diakses pada 25 April 2020 melalui
https://www.infosawit.com/news/9805/berikut-beberapa-point-baru-pada-minyak-sawit-berkelanjutan-ispo.
Info Sawit. 2019. Geliat Peluang Pasar Minyak Sawit Berkelanjutan. Diakses pada 26 April 2020 melalui https://www.infosawit.com/news/9491/geliat-peluang-pasar-minyak-sawit-berkelanjutan .
Legitimasi RSPO diuji: belajar dari 3 kasus. Diakses pada 12 April 2020 melalui http:bakumsu.or.id/news/index.php.
L.Gora Kunjana. 2019. Wamenlu: Pemerintah Perkuat Diplomasi Sawit. Diakses pada 20 April 2020 melalui https://www.beritasatu.com/ekonomi/583073-wamenlu-pemerintah-perkuat-diplomasi-sawit.
Medan Bisnis Daily. 2015. RI Tak Berdaya Tentukan Harga CPO. Diakses pada 29 April 2020 melalui http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/11/26/200763/ri-tak-berdaya-tentukan-harga-cpo/ .
Edi Irfandianto, Muhammad. 2019. Membuat Indonesia Melawan Kampanye Hitam Kelapa Sawit. Diakses pada 20 April 2020 melalui ,https://www.kompasiana.com/edirfandianto/5cc145e8cc5283427f0a08e5/membu at-indonesia-melawan-kampanye-hitam-kelapa-sawit
Moons, J.V. dan Remco de Boer. Economic Diplomacy, Product Characteristics and the Level of Development, (paper online) (The Hague). Diakses pada 06 Februari 2020 melalui https://www.etsg.org/ETSG2014/Papers/105.pdf;
Pandu Gumilar. 2018. Kementan: ISPO adalah Senjata Lawan Kampanye Negatif Sawit.
Diakses pada 25 April melalui
https://ekonomi.bisnis.com/read/20180918/99/839697/kementan-ispo-adalah-senjata-lawan-kampanye-negatif-sawit.
Oke Finance. 2016. Biodiesel Dinilai Jadi Pasar Potensial Minyak Sawit. Diakses pada 27 April 2020 melalui
https://economy.okezone.com/read/2016/11/25/320/1551636/biodiesel-dinilai-jadi-pasar-potensial-minyak-sawit
Peraturan Presiden (PERPRES) No. 42 Tahun 2016, Tentang Pengesahan Charter Of The Establishment Of The Council Of Palm Oil Producing Countries/Cpopc (Piagam Pembentukan Dewan Negara-Negara Produsen Minyak Sawit). Diakses
pada 27 Maret 2020 melalui
https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/40361/perpres-no-42-tahun-2016 . REPUBLIKA. 2018. Sertifikat ISPO Belum Cukup untuk Ekspor Sawit ke Eropa. Diakses
pada 11 Mei 2020 melalui
https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/pertanian/18/12/05/pj8o6f368-sertifikat-ispo-belum-cukup-untuk-ekspor-sawit-ke-eropa.
Renewable Energy Directive 2009/28/EC hal 27. Diakses pada 17 Januari 2020 melalui https://www.eea.europa.eu/policy-documents/2009-28-ec.
https://rspo.org/about.
Ringkasan Eksekutif : Studi Bersama Persamaan dan Perbedaan Sistem Sertifikasi ISPO dan RSPO. Diakses pada 20 April 2020 melalui
https://docplayer.info/31198120-Ringkasan-eksekutif-studi-bersama-persamaan-dan-perbedaan-sistem-sertifikasi-ispo-dan-rspo.html .
Roundatale Susatinable Palm Oil (RSPO). 2016. Studi Bersama ISPO-RSPO Sebuah Pencapaian Penting dalam Kerjasama Mewujudkan Minyak Sawit Berkelanjutan
di Indonesia. Diakses pada 20 April 2020 melalui https://rspo.org/news-and- events/news/studi-bersama-isporspo-sebuah-pencapaian-penting-dalam-kerjasama-mewujudkan-minyak-sawit-berkelanjutan-di-indonesia .
RSPO. 2013. Principles and Criteria for the Production of Sustainable Palm Oil. Diakses pada 10 Januari 2020 melalui http://www.rspo.org/file/PnC_RSPO_Rev1.pdf.
Sawit Indonesia. 2018. Indonesia-India Sepakat Promosikan ISPO dan IPOS’. Diakses pada 29 April 2020 melalui https://sawitindonesia.com/indonesia-india-sepakat-promosikan-ispo-dan-ipos/
Taufan Ardiansyah. CNBC News. Tak Disangka, Gara-gara Ini Uni Eropa Hantam Sawit RI!. Diakses pada 22 Maret 2020 melalui
https://www.cnbcindonesia.com/news/20190822140737-4-93924/tak-disangka-gara-gara-ini-uni-eropa-hantam-sawit-ri .
T Wyns. EU Governance of Renewable Energy Post-2020. Diakses pada 17 Januari 2020 melalui
https://eu.boell.org/sites/default/files/eu_renewable_energy_governance_post_202 0.pdf.
Direktorat jenderal Perkebunan (Kementerian Pertanian). Diakses pada 12 April 2020 melalui http://ditjenbun.deptan.go.id/index.php/component/content/article/36- news/204-wamentan-pimpin-pertemuan-persiapan-uji-lapang-konsep-sertifikasi-ispo.html.
Wikipedia. Penelitian kualitatif, diakses melalui
https://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_kualitatif.
World Commissionon Environtment and Development (WCED). Our common Future.
Diakses pada 24 Agustus 2020 melalui www.un-documents.net/our-common-future.pdf.
Lain- Lain
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2017. Peran Pemerintah dalam Pengembangan Budidaya Kelapa Sawit dengan Skala Industri.
Ken, Kiyono . A Study on The Concept of The National Interest of Hans j Morghentau : Ad a Satandard of American Foreign Policy. Nagasaki University’s Academic output site.
Bayne dan Woolcock. The New Economy Diplomacy.
Kementrian luar Negeri Republik Indonesia. 2019. Video Resmi Perkenalan ISPO : A Story of Indonesian Palm Oil: Economic Welfare and Environmental Sustainability. Diakses pada 20 April 2020 melalui
https://www.youtube.com/watch?v=WeDkSkiuG80&t=76s
Indonesian Oil Palm Research Institute. 2006. Tinjauan Ekonomi Kelapa Sawit. Medan.
LAMPIRAN I :
Wawancara daring dengan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Dr. Tungkot Sipayung
1. Bagaimana Bapak melihat kebijakan Indonesian sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai alat diplomasi sawit Indonesia ?
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan pendapatan, konsumen di pasar dunia khususnya negara maju (seperti Eropa, Amerika Serikat dan Jepang) memiliki berbagai macam atribut produk yang mempengaruhi preferensinya untuk mengkonsumsi suatu produk khususnya produk pertanian/agribisnis. Dahulu hanya atribut harga dan kualitas/keamanan pangan yang mempengaruhi keputusan konsumen, namun preferensi konsumen untuk konsumsi produk saat ini juga dipengaruhi atribut lainnya seperti atribut lingkungan dan atribut kemanusian. Artinya konsumen akan membeli produk yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan/keinginannya, namun di sepanjang supply chain (produksi hingga sampai ditangan konsumen) produk yang dibeli oleh konsumen tersebut tidak merugikan masyarakat (sekitar supply chain) secara sosial maupun ekonomi dan tetap menjaga lingkungan atau tidak merusak lingkungan.
Untuk mengakomodasi tuntutan konsumen tersebut, maka pemerintah Indonesia membentuk ISPO sebagai suatu standar sertifikasi keberlanjutan produksi minyak sawit yang telah memenuhi standar pertanian (GAP) sekaligus memenuhi prinsip keberlanjutan pada aspek lingkungan, sosial dan ekonomi.
Dengan demikian, minyak sawit yang telah tersertifikasi ISPO dapat memenuhi tuntutan konsumen global sehingga daya saing minyak sawit di pasar dunia dapat meningkat.
ISPO sebagai alat diplomasi menunjukkan gagasan mengenai minyak sawit yang diekspor Indonesia adalah minyak sawit sustainable yang dihasilkan melalui proses yang sustain sehingga diharapkan dapat meningkatkan akses dan mempetahankan pasar minyak sawit khususnya di negara maju yang menjunjung tinggi prinsip keberlanjutan. Selain itu, ISPO juga dapat menjadi “senjata” meng-counter black campaign yang dilakukan oleh oknum LSM negara barat yang menggunakan isu sustainable lingkungan, ekonomi maupun sosial masyarakat.
2. Bagaimana Bapak melihat ISPO sebagai instrumen kebijakan ?
ISPO juga dipandang sebagai sebuah instrumen kebijakan publik yang bersifat mandatori untuk dilaksanakan oleh seluruh pelaku industri sawit nasional.
Meskipun saat ini berdasarkan Permentan 11/2015, sertifikasi ISPO baru diwajibkan untuk dimiliki oleh perusahaan perkebunan sedangkan masih bersifat sukarela untuk perkebunan rakyat. Namun ke depannya, sertifikat ini juga akan bersifat mandatori bagi pekebun rakyat berdasarkan rancangan Perpres ISPO.
Tujuan dari sertifikasi ISPO sebagai kebijakan mandatori adalah untuk perbaikan tata kelola perkebunan sawit Indonesia. Tata kelola yang dimaksud dalam hal ini adalah terkait legalitas lahan dan kebun sawit. Salah satu isu yang banyak digunakan sebagai black campaign menyerang sawit adalah penggunaan isu kebun sawit telah mengeksploitasi hutan dan sebagai penyebab deforestasi.
Melalui sertifikasi ISPO dimana salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh pelaku perkebunan adalah tidak adanya masalah legalitas yang ditunjukkan dengan kepemilikan HGU dan IUP bagi perusahaan perkebunan serta kepemilikkan SHM dan STDB bagi pekebun rakyat. Dengan demikian, mandatorinya sertifikasi ISPO oleh seluruh pelaku usaha perkebunan sawit diharapkan juga mampu menyelesaikan masalah legalitas pada kebun sawit.
3. Apa saja sebenarnya kepentingan nasional Indonesia dalam ISPO, selain menjaga pasar kelapa sawit dan mencegah kampanye negatif ?
Tujuan lain dari sertifikasi ISPO sebagai kebijakan mandatori adalah untuk perbaikan tata kelola perkebunan sawit Indonesia untuk menghasilkan minyak sawit dan produk turunan yang berkelanjutan dan berkualitas.Dengan terpenuhinya sertifikasi ISPO 100%, diharapkan dapat menyelesaikan masalah-masalah terkait tata kelola seperti masalah-masalah legalitas lahan dan kebun sawit.
ISPO dengan tujuh prinsip keberlanjutannya yaitu: (1) peningkatan usaha secara berkelanjutan; (2) sistem perizinan dan manajemen perkebunan; (3) penerapan pedoman teknis budidaya dan pengelolaan kelapa sawit; (4) pengelolaan dan pemantauan lingkungan; (5) tanggung jawab terhadap pekerja;
(6) tanggung jawab sosial komunitas; dan (7) pemberdayaan kegiatan ekonomi masyarakat. Ketujuh prinsip ISPO tersebut diterjemahkan menjadi ratusan indikator (kriteria) dalam pemenuhan sertifikasi kerbelanjutan juga menggambarkan sebagai bentuk perwujudan Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs merupakan suatu platform pembangunan dunia yang telah disepakati hampir seluruh dunia yang mulai diberlakukan tahun 2015-2030.
Industri sawit nasional memiliki potensi berperan sebagai aktor untuk mewujudkan pencapaian SDGs baik pada level regional/daerah, nasional hingga global. Peran tersebut dapat tercapai jika implementasi ISPO on the right track
dilakukan oleh para pelaku industri sawit. Hal ini dikarenakan adanya kesamaan antara ISPO dan SDGs dimana kedua platform ini menggunakan tiga prinsip utama yakni keberlanjutan lingkungan, keberlanjutan sosial dan keberlanjutan ekonomi.Selain itu, mengintegrasikan ISPO ke dalam SDGs juga menjadi salah satu strategi dalam rangka membawa ISPO ke level dunia sekaligus meningkatkan keberterimaan minyak sawit dipasar dunia.
Secara empiris kontribusi industri minyak sawit dalam ekonomi telah banyak terbukti antara lain yakni mendorong pertumbuhan ekonomi (nasional dan daerah), sumber devisa dan pendapatan negara. Kontribusi industri minyak sawit dalam aspek sosial antara lain adalah peranannya dalam pembangunan pedesaan dan pengurangan kemiskinan. Berbagai penelitian juga membuktikan bahwa peranan ekologis dari perkebunan sawit mencakup pelestarian daur karbon dioksida dan oksigen, restorasi degraded land konservasi tanah dan air, peningkatan biomas dan karbon stok lahan serta mengurangi emisi gas rumah kaca/restorasi lahan gambut. Kontribusi tersebut menunjukkan kontribusi industri sawit terhadap pencapaian SDGs. Dengan penerapan ISPO maka akan semakin meningkatkan inklusifitas industri sawit untuk mencapai SDGs yang semakin besar dan semakin luas.
*Notes: BACA JURNAL PASPIMONITOR VOLUME 4 NOMOR 20
(www.paspimonitor.or.id)
4. Apakah diplomasi yang dilakukan Pemerintah Indonesia seperti membentuk Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), sudah maksimal untuk mencegah banyaknya kampanye negatif terhadap komoditas kelapa sawit terutama kelapa sawit Indonesia, dan apakah hal terseut sudah efektif dalam mengenalkan ISPO sebagai kebijakan kelapa sawit berkelanjutan Indonesia ?
CPOPC adalah organisasi yang menaungi negara produsen minyak sawit di dunia meskipun saat ini baru beranggotakan Indonesia dan Malaysia dimana keduanya merupakan negara produsen minyak sawit terbesar di dunia. Salah satu tujuan dari organisasi ini adalah untuk meng-counter black campaign sawit dengan menggunakan berbagai isu. Kedua negara ini juga memiliki sistem sertifikasi minyak sawit yang berkelanjutan yaitu Indonesia dengan ISPO dan Malaysia dengan MSPO. Aspek yang dituju oleh kedua sistem sertifikasi baik ISPO dan MSPO sama yakni aspek sustainablity pada lingkungan, ekonomi dan sosial, namun kebijakannya dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing negara
meskipun kedua negara tersebut sebagai anggota dari CPOPC. Hal ini menunjukkan bahwa CPOPC belum efektif mempromosikan ISPO.
Pemerintah Indonesia baik melalui CPOPC atau tidak (bertindak sendiri) juga belum efektif memperkenalkan ISPO sebagai sistem sertifikasi keberlanjutan minyak sawit Indonesia. Hal tersebut terkonfirmasi dari masih banyaknya black campaign yang menyerang sawit dengan menggunakan isu lingkungan, sosial dan ekonomi. Artinya tujuan dari implementasi kebijakan ISPO adalah sebagai counter isu tersebut.
Belum efektifnya Indonesia dalam memperkenalkan ISPO di negara tujuan ekspor maupun pasar dunia, dapat dilihat juga dari rendahnya tingkat keberterimaan pasar global. Hal tersebut berimplikasi dari belum adanya perbedaan harga dari minyak sawit premium dengan sertifikasi ISPO dengan minyak sawit tanpa sertifikasi ISPO. Kondisi ini juga berpotensi menimbulkan disinsentif bagi pelaku industri sawit untuk menerapkan prinsip dan bersertifikat ISPO. Oleh karena itu, hal yang penting untuk dilakukan adalah meningkatkan keberterimaan pasar global terhadap sistem sertifikasi keberlanjutan ISPO sehingga dapat tercipta harga minyak sawit premium.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan notifikasi ISPO di WTO. Namun sebelum itu, perlu disusun kembali terlebih dahulu standar ISPO sebagai standar produk yang berlaku di Indonesia yakni dalam bentuk SNI. Dalam penyusunan SNI ISPO tersebut juga selain melibatkan kementerian teknis namun perlu juga melibatkan Badan Standarisasi Nasional (BSN). Setelah penyusunan standar ISPO dilakukan dan diterbitkannya menjadi SNI, kemudian BSN akan menotifikasi SNI ISPO tersebut kepada World Trade Organization (WTO) sehingga SNI ISPO menjadi global value yang diakui oleh seluruh negara anggota WTO. Selain itu, meningkatnya keberterimaan pasar dunia terhadap sertifikasi ISPO dapat menjadikan Indonesia sebagai referensi sertifikasi keberlanjutan produk sawit di dunia. Dengan begitu, industri sawit nasional tidak lagi harus mengikuti aturan keberlanjutan yang diterapkan oleh
Upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan notifikasi ISPO di WTO. Namun sebelum itu, perlu disusun kembali terlebih dahulu standar ISPO sebagai standar produk yang berlaku di Indonesia yakni dalam bentuk SNI. Dalam penyusunan SNI ISPO tersebut juga selain melibatkan kementerian teknis namun perlu juga melibatkan Badan Standarisasi Nasional (BSN). Setelah penyusunan standar ISPO dilakukan dan diterbitkannya menjadi SNI, kemudian BSN akan menotifikasi SNI ISPO tersebut kepada World Trade Organization (WTO) sehingga SNI ISPO menjadi global value yang diakui oleh seluruh negara anggota WTO. Selain itu, meningkatnya keberterimaan pasar dunia terhadap sertifikasi ISPO dapat menjadikan Indonesia sebagai referensi sertifikasi keberlanjutan produk sawit di dunia. Dengan begitu, industri sawit nasional tidak lagi harus mengikuti aturan keberlanjutan yang diterapkan oleh