• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resolusi Parlemen Uni Eropa Palm Oil and Deforestation of The

Dalam dokumen HIDAYATULLAH JAKARTA 2020 (Halaman 61-0)

BAB II DIPLOMASI SAWIT INDONESIA DAN TANTANGAN ISU

B. Tantangan dan Isu Keberlanjutan Kelapa Sawit Indonesia

2. Resolusi Parlemen Uni Eropa Palm Oil and Deforestation of The

Pada 4 April 2017, Parlemen Uni Eropa mengeluarkan Resolusi 2016/2222, yang dinamakan dengan Palm Oil Deforestation of The Rainforest (Kelapa Sawit dan Deforestasi Hutan Huhan) diajukan berdasarkan pada tudingan bahwa pengembangan kelapa sawit dan industrinya menjadi penyebab utama deforestasi dan perubahan iklim.

Selain itu, resolusi tersebut juga bertujuan akhir agar minyak sawit tidak

68Taufan Ardiansyah, CNBC News, “Tak Disangka, Gara-gara Ini Uni Eropa Hantam Sawit RI!”, diakses melalui https://www.cnbcindonesia.com/news/20190822140737-4-93924/tak-disangka-gara-gara-ini-uni-eropa-hantam-sawit-ri . Diakses pada 22 Maret 2020.

dimasukkan sebagai bahan baku program biodiesel Uni Eropa mulaitahun 2020.

Industri minyak kelapa sawit dianggap sebagai pemicu utama deforestasi.69

Keluarnya Resolusi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi produk kelapa sawit Indonesia, terutama yang akan memasuki pasar Uni Eropa. Data statistik menyebutkan bahwa Uni Eropa merupakan tujuan ekspor terbesar kedua minyak kelapa sawit Indonesia, setelah India, yang berkontribusi terhadap nilai ekspor kelapa sawit Indonesia. Besaran nilai ekspor kelapa sawit Indonesia pada tahun 2016 merupakan yang terbesar dibandingkan dengan ekspor Indonesia di sektor non-migas lainnya. Dengan posisi strategis tersebut, isu ini menjadi perhatian bagi seluruh pihak terkait di Indonesia karena terganggunya ekspor kelapa sawit Indonesia ke UE akan berdampak pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan. 70

Begitupun bagi negara- negara Asia Tenggara (ASEAN) lainnya, yang merupakan pelaku perkebunan komoditi tersebut, bagi negara dikawasan ASEAN Resolusi tersebut berisi dua proposal yang sangat kontroversial. Yang pertama adalah pengembangan skema sertifikasi tunggal baru untuk produk minyak sawit dan kelapa sawit yang dimulai pada tahun 2020. Yang kedua adalah penghapusan bertahap dan penggantian minyak sawit yang digunakan dalam biofuel dengan minyak nabati yang ditanam di Uni Eropa, juga dimulai pada tahun 2020.71

69 Edhy Prabowo, Kompas.com, 2017, ”Resolusi Sawit Parlemen Eropa yang Merugikan Indonesia”, Diakses pada melalui 5 Desember 2019 melalui

https://ekonomi.kompas.com/read/2017/12/05/155319126/resolusi-sawit-parlemen-eropa-yang-merugikan-indonesia.

70Dr. Windratmo Suwarno,2017,“Diplomasi Indonesia Menghadapi Kampanye Negatif Kelapa Sawit Di Uni Eropa”, Staf Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri.

71 Singapore Institute Of International Affairs (SIIA),” Why does the EU’s recent Resolution on Palm Oil matter to ASEAN?”, Diakses melalui http://www.siiaonline.org/why-does-the-eus-recent-resolution-on-palm-oil-matter-to-asean/. Diakses pada 16 Mei 2019.

Jika ditegakkan, Resolusi tersebut mengancam untuk menutup sebagian besar industri minyak sawit ASEAN dari pasar UE yang menguntungkan. Pasar minyak sawit UE bernilai sekitar S $ 8,3 miliar dan menyumbang 17 persen (4,37 juta ton) dari Indonesia dan 13 persen (2,09 juta ton) dari ekspor minyak sawit Malaysia, masing-masing. Kehilangan akses ke pasar ini akan berdampak negatif pada banyak komunitas sawit di Indonesia dan di kawasan ASEAN lainnya, yang bergantung pada minyak sawit untuk mata pencaharian mereka.

Di Indonesia, keluarnya resolusi sawit Parlemen Eropa menuai berbagai kritik dari aktor-aktor negara. Bukan hanya dari aktor-aktor negara yang berkepentingan mengurusi sawit, seperti Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, dan Menteri Lingkungan Hidup, protes terhadap resolusi tersebut juga datang dari Presiden dan Wakil Presiden. Pendapat yang mengemuka adalah bahwa resolusi itu merupakan bentuk politik diskriminatif terhadap minyak nabati. Sebab, resolusi itu akan mendorong Uni Eropa menghilangkan penggunaan minyak sawit dan secara terselubung menghambat perdagangan sawit Indonesia ke negara kawasan Eropa.72 3. Kampanye dan Aksi Aktor non Negara terhadap Kelapa sawit Indonesia

Organisasi internasional dalam hubungan internasional peranannya saat ini telah diakui karena keberhasilannya dalam memecahkan berbagai persoalan serta permasalahan yang dihadapi oleh sebuah negara. Pada saat ini, bahkan organiasi internasional dianggap dapat mempengaruhi pola perilaku negara secara langsung dan

72Erman E, 2017, “Di Balik Keberlanjutan Sawit : Aktor, Aliansi Dalam Ekonomi Politik Sertifikasi Uni Eropa”, Jurnal Masyarakat Indonesia, Vol 43 No 1, Juni 2017, Lembaga

Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hal 7

tidak langsung. Hadirnya organisasi internasional mencerminkan keutuhan manusia untuk saling bekerja sama, sekaligus sebagai tempat dalam menangani persoalan yang ada.

Ada beberapa kategori organisasi internasional yatu, organisasi antar pemerintah atau yang sering disebut inter-Govermental Organizations (IGO), yaitu yang anggotanya terdiri dari perwakilan resmi pemerintah negara-negara. Contohnya seperti Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), World Trade Organizations (WTO) dan lainnya. Selain itu ada organisasi non-Pemerintah atau Non govermental Organizations (NGO), terdiri dari kelompok swasta bidang keilmuan, keagamaan, kebudayaan, ekonomi, lingkungan, dan sebagainya. Contohnya seperti Greenpeace, World wide fund (WWF).73

Berdasarkan dengan penjelasan di atas, tantangan dan hambatan dari minyak kelapa sawit Indonesia tidak datang hanya dari Uni Eropa, melainkan terdapat beberapa Non Goverment Operations (NGO) yang fokus terhadap isu yang sama dengan Uni Eropa. Sebagian besar protes dari NGO diantaranya berasal dari Greenpeace dan World wide Fund (WWF) yang bereperan sebagai NGO internasional yang perhatian penuh terhadap isu lingkungan hidup.

3.1 . Greenpeace

Greenpeace sejak lama telah melakukan penelitian dan kajian- kajian mengenai kelapa sawit Indonesia terutama tentang deforestasi dan

73DR.Anak Agung Banyu Parwita dan DR. Yanyan Mochammad Yani, 2014, “Pengantar Ilmu Hubungan Internasional”, PT. Remaja Rosdakarya : Bandung, Hal 92-93.

pengrusakan yang terjadi di hutan Indonesia. Adapun aksi yang dilakukan Greenpeace ini salah satu diantaranya bertujuan untuk mengakhiri deforestasi yang disebabkan perkebunan kelapa sawit di seluruh pasokan perusahaan merek-merek terbesar yang memasok kebutuhan rumah tangga dan pembeli minyak kelapa sawit di dunia.

Greenpeace adalah salah satu NGO yang sering dianggap melakukan kampanye negatif terhadap produk minyak kelapa sawit Indonesia dengan cara menekan para produsen serta mengajak para konsumen untuk memboikot produk minyak kelapa sawit Indonesia. Greenpeace melihat penyebaran perkebunan kelapa sawit merusak lingkungan dan melanggar batas habitat spesies yang dianggap langka seperti harimau, gajah, dan orang utan di kawasan Sumatera dan Kalimantan. Greenpeace mengklaim 20% emisi global disebabkan oleh deforestasi, dan perekbunan kelapa sawit dianggap sebagai penyebab utama rusaknya hutan hujan tropis Indonesia. 74 Selain melakukan kampanye negatif dengan cara yang telah telah dijelaskan, Greenpeace juga secara terus menerus memberikan tekanan kepada perusahan-perusahaan dan pemerintah di Uni Eropa sebagai pihak yang menggunakan kelapa sawit sebagai bahan produksi. Greenpeace meminta pemerintah Uni Eropa untuk tidak menggunakan atau mengurangi konsumsi dan impor minyak kelapa sawit dari negara-negara yang diklaim

74Adelita Sukma Kusumanigtyas, 2017, “Upaya Hambatan Non-Tarif Oleh Uni Eropa Terhadap Minyak Kelapa Sawit Indonesia”, Jurnal Analisis Hubungan Internasional, Vol. 6 No. 2 , september, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, Hal 157.

sebagai pelaku pengrusakan lingkungan karena akibat dari perluasan lahan kebun kelapa sawit seperti Indonesia dan Malaysia. 75

Selain itu, Greenpeace meminta Uni Eropa sebagai negara konsumen minyak kelapa sawit untuk berpartisipasi dalam mengatasi deforestasi dan mendukung minyak kelapa sawit berkelanjutan. Hal itu diutarakan oleh Direktur Kebijakan Hutan Greenpeace :

“The Parliament is right to recognise the hugh responsibility that the UE has to stop deforestations, and how important this is for climate action and sustainable development. We are at one minute to midnight the European Commission must not lose more time in putting forward an EU action plan to make Europe a deforestation- free economy and turn the tide on global forest destruction”.76

Tekanan-tekanan yang diberikan oleh Greenpece terhadap pemerintah Uni Eropa nampaknya mendapat tanggapan positif dari pemerintah Uni Eropa.

Hal ini dibuktikan dengan beberapa langkah yang dilakukan oleh pemerintah Uni Eropa yang berkaitan dengan dampak deforestasi akibat produksi minyak kelapa sawit. Hal ini juga menunjukkan bagaimana aktor non negara berperan dalam pengambilan keputusan seperti beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh Uni Eropa. Beberapa kebijakan dikeluarkan akibat adanya tekanan- tekanan yang dilakukan oleh Greenpece.

3.2. World Wide Fund (WWF)

75Adelita Sukma Kusumanigtyas, 2017, “Upaya Hambatan Non-Tarif Oleh Uni Eropa Terhadap Minyak Kelapa Sawit Indonesia”, Jurnal Analisis Hubungan Internasional, Vol. 6 No. 2 , september, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, Hal 157.

76Adelita Sukma Kusumanigtyas, 2017, “Upaya Hambatan Non-Tarif Oleh Uni Eropa Terhadap Minyak Kelapa Sawit Indonesia”, Jurnal Analisis Hubungan Internasional, Vol. 6 No. 2 , september, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, Hal 157.

Selain Greenpeace yang fokus terhadap isu tersebut adalah World Wide Fund (WWF). WWF juga merupakan salah satu NGO yang memiliki perhatian lebih pada isu deforestasi terutama di Indonesia. Berbeda halnya dengan Greenpeace yang menggunakan aksi langsung sebagai upaya melakukan kampanye negatif terhadap minyak kelapa sawit Indonesia, cara yang digunakan WWF dapat dikatakan tidak terlalu ekstrim. Hal ini pandangan WWF terhadap aksi negatif, perwakilan WWf dari Jerman mengatakan : “Switching from palm oil to other oils is no solutions to tackle enviromental degradation caused by unsustainable palm oil production “.77

Terlihat bahwa pandangan WWF terhadap minyak kelapa sawit adalah bahwa terdapat alternatif berkelanjutan untuk kelapa sawit yaitu dengan dibentuknya sertifikasi yang kredibel untuk minyak kelapa sawit.

Mengganti minyak sawit dengan minyak nabati lain tidak menjamin bahwa minyak nabati selain minyak kelapa sawit lebih baik dalam hal melindungi lingkungan. 78

WWF melihat bahwa untuk membuat minyak kelapa sawit yang sustainable dengan cara memberikan sertifikasi yang kompeten, hal ini mendorong WWF untuk membentuk RSPO bersama Uni Eropa (sebagai konsumen minyak kelapa sawit) dan Malaysian Palm Oil Association (

77Adelita Sukma Kusumanigtyas, 2017, “Upaya Hambatan Non-Tarif Oleh Uni Eropa Terhadap Minyak Kelapa Sawit Indonesia”, Jurnal Analisis Hubungan Internasional, Vol. 6 No. 2 , september, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, Hal 157.

78Adelita Sukma Kusumanigtyas, 2017, “Upaya Hambatan Non-Tarif Oleh Uni Eropa Terhadap Minyak Kelapa Sawit Indonesia”, Jurnal Analisis Hubungan Internasional, Vol. 6 No. 2 , september, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, Hal 157.

sebagai produsen minyak kelapa sawit) untuk membentuk suatu asosiasi yang bertujuan untuk mempromosikan praktik kelapa sawit berkelanjutan guna membantu mencegah deforestasi yang berlebihan, melestarikan kenaekaragaman hayati, dan senantiasa memperhatikan kehidupan masyarakat pedesaaan di negara produsen kelapa sawit.79

Dalam mengupayakan hal tersebut, langkah yang dilakukan WWF adalah menginsiasi pembentukan Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) pada tahun 2001, WWF mulai melihat kemungkinan minyak kelapa sawit berkelanjutan. Pengematan yang dibuat WWF disebut sebagai inisiatif kunci yaitu WWF Forest Conversion Initiative (WWF FCI) yang telah disusun sejak 2001. Tujuan WWF FCI adalah untuk mengurangi konversi hutan berlebih akibat dari perluasan lahan kelapa sawit.80

Demi mencapai langkah ini WWF juga menggunakan gabungan pendekatan seperti pengembangan pengelolaaan terbaik dari para pelaku pasar sepanjang rantai persediaan persediaan minyak kelapa sawit dan memperngaruhi kebijakan investasi bagi pembangunan perkebunan. Fokus perhatian WWF adalah kekhawatiran penebangan hutan, dampak dari ekspansi lainnya yaitu kehilangan keanekaragaman hayati serta konflik sosial dan tanah.

79Adelita Sukma Kusumanigtyas, 2017, “Upaya Hambatan Non-Tarif Oleh Uni Eropa Terhadap Minyak Kelapa Sawit Indonesia”, Jurnal Analisis Hubungan Internasional, Vol. 6 No. 2 , september, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, Hal 157.

80Bambang Drajat, “Overcoming Black Campaign on Palm Oil and Devloping Future Strategy”, Lembaga Riset Perkebunan Nusantara, Hal 282.

Selanjutnya secara perlahan WWF meyakinkan Uni Eropa dengan cara membentuk pemikiran masyarakat Uni Eropa, bahwa industri minyak kelapa sawit telah merusak habitat dari spesies-spesies yang dilindungi seperti Orang Utan, Harimau, dan Gajah. Hal tersebut dilakukan dengan memasang poster-poster yang biasanya terdapat gambar yang berkaitan dengan hewan atau spesies yang telah kehilagan habitat akibat dari perluasan kelapa sawit.

BAB III

INDONESIAN SUSTAINABLE PALM OIL (ISPO) DAN UPAYA DIPLOMASI SAWIT INDONESIA DALAM MEMPERKENALKAN

ISPO PERIODE 2016- 2018

Pada bab ini akan membahas tentang gambaran umum Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Serta upaya langkah-langkah diplomasi Indonesia di bidang kelapa sawit, yaitu upaya yang dilakukan Indonesia dalam memperkenalkan kebijakan kelapa sawit berkelanjutan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) pada periode 2016-2018. Adanya isu yang menyatakan bahwa minyak sawit asal Indonesia tidak ramah lingkungan, mendorong timbulnya tuntutan agar Indonesia melaksanakan praktik industri kelapa sawit secara berkelanjutan.

Setelah hadir dan terbit, ISPO dianggap merupakan salah satu komponen kebijakan penting bagi diplomasi kelapa sawit Indonesia. ISPO juga merupakan gambaran komitmen global Indonesia dalam praktik kelapa sawit berkelanjutan.

Sebagai kebijakan yang penting, pemerintah Indonesia dalam hal ini tentunya perlu memperkenalkannya ke lingkup yang lebih luas, agar dapat diterima dan demi kelapa sawit yang lebih dipandang positif, serta meminimalisir pandangan negatif terhadap kelapa sawit Indonesia yang selama ini banyak dihadapi.

A. Gambaran Umum ISPO

1. Keluarnya Indonesia dari Roundtable and Sustainable Palm Oil (RSPO)

Roundtable and Sustainable Palm Oil (RSPO) didirikan dengan tujuan memperkenalkan praktik kelapa sawit berkelanjutan yang membantu mengurangi deforestasi, melestarikan keanekaragaman hayati, dan menghargai kehidupan masyarakat adat di negara produsen minyak sawit. RSPO menjamin bahwa tidak ada hutan primer baru atau kawasan bernilai konservasi tinggi lainnya yang dikorbankan untuk perkebunan kelapa sawit, bahwa perkebunan menerapkan praktik terbaik yang dapat diterima, dan bahwa hak-hak dasar dan kondisi hidup jutaan perkebunan, petani kecil, dam masyarakat asli dihargai sepenuhnya..81

Meskipun demikian RSPO dalam setiap kebijakannya banyak menunjukkan titik-titik lemah. Sejumlah laporan dan studi dari berbagai organisasi non pemerintah baik lokal maupun internasional membuktikan contoh-contoh pelanggaran serius terhadap kriteria-kriteria tersebut. Selain itu juga terdapat banyak masalah dalam pelaksanaan prosedur pengaduan.

Meskipun pada dasarnya tujuan RSPO adalah demi mewujudkan kelapa sawit berkelanjutan. Namun, dalam perkembangan dan praktek di lapangan, banyaknya aturan yang terdapat pada RSPO dianggap hanya mengutamakan konsumen semata, yaitu pasar Eropa, sementara kepentingan produsen tidak diperhatikan sama sekali.

Perkembangan lainnya juga terlihat pada timbulnya

81Yoan Angelika.2015, “Kebijakan Pemerintah Indonesia Pasca Keluar Dari Roundtable And Sustainable Palm Oil (RSPO)”, Jom Fisip Volume 2 No. 2 – Oktober.

pemikiran bahwa pengembangan kelapa sawit di Indonesia yang selalu berpedoman pada peraturan luar negeri yang terkadang tidak sesuai dengan kondisi di Indonesia.

82

Alasan lain penetapan ISPO adanya kebijakan dari komisi Eropa yaitu, Renewable Energy Directive (RED). Dalam hal ini, akan ditetapkannya kebijakan RSPO-RED

yang dikeluarkan bersama RSPO, ketentuan RSPO-RED merupakan perpaduan antara RSPO dan kebijkan komisi Eropa Renewable Energy Directive (RED). RED merupakan kebijakan yang mengatur tentang emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari bahan dasar biofuel, yang salah satunya dalam hal ini adalah kelapa sawit itu sendiri. Kawasan Uni Eropa berencana akan menerapkan standarisasi tunggal terhadap kelapa sawit yang akan masuk kawasan tersebut. Selain itu RED akan menghapus kelapa sawit sebagai bahan baku biofuel nya di kawasan tersebut.83

Selain itu, RSPO dianggap memiliki banyak nilai merah, nilai merah tersebut diantaranya adalah :84

A. Ketimpangan kekuatan di RSPO tidak menjadi pertimbangan. Meja RSPO dibayangkan flat, sehingga diasumsikan diskusi berlangsung fair yang dilakukan oleh semua stakeholder minyak sawit. Pada

kenyataanya tidaklah demikian, the ‘world’ is not flat.

82Saqira Yunda Imansari, 2011, “Penetapan Kebijakan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Pada Tahun 2011”, e Jurnal, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Jember, Hal 8.

83Saqira Yunda Imansari, 2011, “Penetapan Kebijakan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Pada Tahun 2011”, e Jurnal, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Jember, Hal 8

84“Legitimasi RSPO diuji: belajar dari 3 kasus”,dikses pada 12 April 2020 melalui http:bakumsu.or.id/news/index.php .

B. LSM lingkungan dan sosial yang terlibat di RSPO terlalu

“Enviromentalist’’ yaitu masalah lingkungan hanya menjadi persoalan bagi kaum aktivis lingkungan, justru masalah yang berkaitan erat dengan ketidakadilan sosial tidak dipandang.

Akibatnya kampanye orangutan, gajah, harimau, dan hewan lainnya lebih mengemuka daripada kampanye terhadap kemiskinan dan kelaparan yang dialami masyarakat lokal dan buruh perkebunan sawit itu sendiri.

C. Tujuh kali Roundtable Meetings (RTM) masih seputar penguatan lembaga, penerimaan dan pengesahan anggota baru, penetapan prinsip, kriteria, dan indikator, serta sertifikasi. Sementara percepatan penghancuran hutan terus terjadi di lapangan belum ada contoh yang bisa ditunjukkan selain hanya bermain kepada kesepakatan-kesepakatan tanpa implementasi.

D. Isu yang melibatkan petani kecil di RSPO merupakan topik krusial.

Namun, belum ada defenisi dan ukuran yang jelas tentang petani kecil perkebunan sawit. Sementara, keterlibatan mereka dalam diskusi, lobi-lobi, dan negosiasi yang memerlukan keahlian adalah seperti mimpi dan tidk mungkin terjadi, baik dari segi kapasitas sumber daya dan pembiayaan.

Pada awalnya pembentukan RSPO adalah dengan tujuan yang baik, yaitu demi kelapa sawit yang berkelanjutan. Tetapi pada kenyataannya, segala tujuan

RSPO yang tertuang dalam visi dan misinya dianggap bagi sebagian anggotanya tidak tersalurkan kepada mereka yang mempunyai usaha dibidang kelapa sawit.

Maka, atas dasar inilah Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar dunia mengeluarkan sebuah kebijakan dengan tujuan untuk melindungi para petani, pengolah, dan perusahaan sawit serta guna melindungi produksi dalam negeri untuk memutuskan keluar dari anggota RSPO.85 Akhirnya secara kelembagaan Indonesia keluar pada tahun 2011, dikarenakan aturan yang diberlakukan rezim RSPO memunculkan banyak perdebatan. 86

Keluarnya Indonesia dari RSPO karna adanya beberapa hal didalam RSPO yang tidak sejalan dengan apa yang diinginkan Indonesia. Selain itu dengan keluarnya Indonesia dari RSPO merupakan langkah awal bagi Indonesia untuk membentuk sertifikasi yang lebih dapat memangku kepentingan para pelaku industri minyak kelapa sawit di dalam negeri sendiri. Dan pada tahun 2011 Indonesia mulai mengenalkan ISPO sebagai standar kelapa sawit berkelanjutannya yang diharapkan dapat diterima oleh dunia global.

2. Pasca Keluarnya Indonesia dari RSPO

Pasca memutuskan untuk keluar dari RSPO banyak ada banyak tantangan yang dihadapi kelapa sawit Indonesia. Diantaranya adalah kelapa sawit Indonesia disebut sebagai kelapa sawit tidak ramah lingkungan serta tidak berkelanjutan

85 ‘Legitimasi RSPO diuji: belajar dari 3 kasus”,Diakses pada 12 April 2020 melalui http:bakumsu.or.id/news/index.php

86Saqira Yunda Imansari, 2018, “The Establishment of Indonesian Sustainable Palm Oil” (ISPO) in 2011, e-Journal Ilmu Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universtas Jember, Hal 8.

(sustainable). Selain itu berhembus isu bahwa Indonesia merupakan salah satu yang paling terbanyak menyumbang kerusakan lingkungan akibat produksi perkebunan sawit. Pelaku industri kelapa sawit dalam negeri menganggap isu yang kerap dihembuskan oleh negara-negara maju pada pengembangan kelapa sawit Indonesia juga masih belum jelas, apakah memang benar-benar untuk melindungi dunia dari ancaman perubahan iklim atau sekedar untuk mempertahankan kepentingan negara-negara tersebut.87

Tantangan kelapa sawit Indonesia yang sering dimunculkan ini juga sangat berpotensi untuk menimbulkan efek domino diantaranya mematikan perkembangan kemitraan perusahaan perkebunan kelapa sawit Indonesia di tingkat global, dan hal tersebut akan berimbas kepada pelaku industri komoditas kelapa sawit dalam negeri terutama para petani yang termasuk kategori smallholders. Bila sampai hal itu terjadi maka ini akan berdampak terutama bagi yang mengandalkan kelapa sawit sebagai mata pencariannya, karena otomatis kesempatan masyarakat untuk memperluas penanaman pohon kelapa sawit mungkin tertutup.

Oleh karena itu, langkah yang diambil pemerintah adalah dengan membentuk namun juga intensif memperkenalkan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), sebagai sebuah aturan yang perlu ditegakkan, yang diharapkan dapat memberikan solusi tantangan yang dihadapi dari dunia global terhadap komoditas kelapa sawit di Indonesia.

87 Hesti Indah Kresnarini, 2011, “Kampanye Negatif Kelapa Sawit Indonesia, Potensi Kelapa Sawit Indonesia, Kiat- kiat menghadapi Kampanye negatif Kelapa Sawit”, Warta Ekspor, Edisi Juni 2011, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, hal 9.

Bila semua isu positif tentang budidaya dan pengelolaan sistem perkebunan kelapa sawit diinformasikan ke seluruh dunia, maka tantangan yang dihadapi kelapa sawit Indonesia akan dapat ditepis, dan semua kalangan dapat merasakan manfaat dari hasil perkebunan kelapa sawit nasional. Komoditas kelapa sawit Indonesia terbukti memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perekonomian Indonesia, serta menjadi sektor yang mampu mengangkat taraf kehidupan masyarakat Indonesia.

3. Terbentuk dan Keluarnya ISPO

Aturan yang diberlakukan oleh RSPO memunculkan banyak perdebatan dari sejumlah LSM, pengusaha perkebunan sawit dan sejumlah lembaga pemerintahan.

Ada yang pro terhadap RSPO dan ada pula yang kontra. Proses perdebatan ini merupakan proses yang di alami Pemerintah Indonesia hingga memutuskan untuk menetapkan kebijakan ISPO. Dimulai pada tahun 2009, Indonesia memulai membicarakan hingga tahun 2011 meresmikan Indonesian Substainable Palm Oil/ISPO di Medan. ISPO diperkenalkan sebagai sebuah Sistem Sertifikasi yang diterapkan di Indonesia sebagai standar dan ketentuan dalam menjalankan industri kelapa sawit yang lebih sehat. Isu ini menjadi sangat penting bagi Indonesia sebagai produsen terbesar komoditas tersebut.88

ISPO awalnya adalah ambisi Indonesia untuk menjadi tandingan dari skema sertifikasi internasional seperti RSPO. Pada perjalananya ISPO belum diakui di

ISPO awalnya adalah ambisi Indonesia untuk menjadi tandingan dari skema sertifikasi internasional seperti RSPO. Pada perjalananya ISPO belum diakui di

Dalam dokumen HIDAYATULLAH JAKARTA 2020 (Halaman 61-0)