• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistematika Penulisan

Dalam dokumen HIDAYATULLAH JAKARTA 2020 (Halaman 44-0)

BAB I PENDAHULUAN

G. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Bab I merupakan Pendahuluan yang terdiri dari pernyataan masalah yang membahas secara umum tentang topik penelitian. Pembahasan tersebut juga meliputi tentang pertanyaan penelitian, tujuan, dan manfaat dari penelitian ini ditulis, tinjauan pustaka yang menjadi refrensi pada tulisan ini, kerangka konseptual untuk menganalisis permasalahan yang diteliti, metode penelitian, serta sistematika penulisan dari penelitian ini.

BAB II DIPLOMASI SAWIT INDONESIA SEBELUM ISPO SERTA TANTANGAN DAN TANTANGAN KEBERLANJUTAN KELAPA SAWIT

Pada Bab II ini berisi penjelasan dan gambaran umum mengenai pembentukan diplomasi sawit ini sebelum keluarnya kebijakan Indonesian Sustainale Palm Oil (ISPO), serta pada bab ini juga akan menjelaskan mengenai isu dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi terutama dari pihak luar.

BAB III INDONESIAN SUSTAINABLE PALM OIL (ISPO) DAN UPAYA DIPLOMASI SAWIT INDONESIA DALAM MENGENALKAN INDONESIAN SUSTAINABLE PALM OIL (ISPO) PERIODE 2016-2018

Pada Bab III membahas tentang gambaran umum Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), serta kebijakan-kebijakan dan langkah-langkah diplomasi, serta kerjasama yang dilakukan Indonesia dalam memperkenalkan kebijakan kelapa sawit berkelanjutan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) pada periode 2016-2018.

BAB IV KEPENTINGAN DIPLOMASI SAWIT INDONESIA DALAM UPAYA MEMPERKENALKAN INDONESIAN SUSTAINABLE PALM OIL (ISPO) PERIODE 2016-2018

Pada Bab IV ini akan membahas tentang jawaban dari pertanyaan peneltitan

“Mengapa Indonesia melakukan diplomasi dalam mengenalkan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) periode 2016- 2018 ?”Bab ini akan menjelaskan alasan kepentingn Indonesia dalam melakukan diplomasi dalam memperkenalkan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

BAB V KESIMPULAN

Pada bab terakhir ini akan berisi tentang kesimpulan yang menjelaskan jawaban terhadap hasil penelitian ini.

BAB II

DIPLOMASI SAWIT INDONESIA DAN TANTANGAN KEBERLANJUTAN KELAPA SAWIT INDONESIA

A. Diplomasi Sawit Indonesia sebelum hadirnya ISPO

1. Bergabung dengan Roundatable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Roundtable

on Sustanaible Oil (RSPO) adalah lembaga sertifikasi yang

dikeluarkan oleh negara-negara Uni Eropa. RSPO didirikan pada tahun 2004 sebagai respon untuk menanggapi masalah-masalah sosial dan lingkungan di negara-negara produsen kelapa sawit. Inisiatif yang bersifat sukarela ini diprakarsai oleh pihak industri dan masyarakat sipil dan bertujuan untuk mempromosikan produksi dan penggunaan minyak sawit berkelanjutan. 37

Alasan diterbitkannya sertifikasi RSPO ini adalah sebagai bentuk pencegahan dari akan terjadinya kerusakan lingkungan hutan hujan tropis yang merupakan dampak dari kegiatan menebang serta membakar hutan yang berpotensi dilakukan produsen kelapa sawit.38 Nilai-nilai yang ada di dalam RSPO adalah bersumber dari yang terdapat pada Millenium Development Goals (MDGs) yang menjelaskan tentang

37https://rspo.org/about, diakses pada 16 Oktober 2019.

38https://rspo.org/about, diakses pada 16 Oktober 2019.

people, planet, profit (3P) terkait Prinsip dan Kriteria (P&C) pembudidayaan tanaman kelapa sawit berkelanjutan.39

Data 2014, RSPO mempunyai 1439 anggota, diantaranya 911 adalah anggota biasa, 427 disebut sebagai anggota rantai pasokan dan 101 sebagai anggota afilias.

Sselain perusahaan-perusahaan besar pelaku industri makanan seperti, Unilever, Ferrero, P & G dan Nestle, terdapat juga anggota dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti WWF, Solidaridad dan Oxfam. Namun jumlah mereka hanya sebagian kecil dari jumlah total keanggotaan. Para anggotanya ada berasal dari berbagai negara di seluruh dunia.40

Indonesia sendiri telah bergabung dengan RSPO sejak berdirinya lembaga tersbut hal ini demi mengamnkan posisinya dalam perdagangan kelapa sawit.

Meskipun bersifat sukarela namun dengan bergabung memberikan daya tawar menarik bagi pasar kelapa sawit Indonesia terutama pasar eropa yang rata- rata menggunakan menggunakan skema sertifikasi RSPO.

Dari Jerman bergabung 190 anggota yang merupakan jumlah tertinggi untuk satu negara. Perusahaan Jerman menempati posisi pertama dalam pemerolehan lisensi untuk menggunakan segel dan label RSPO, saat ini ada 20 perusahaan Jerman yang

39 http://www.id.undp.org/content/indonesia/en/home/library/environtment_energy/study-bersama-persamaan-dan-perbedaan-sistem-sertifikasi-ispo-da.html, diases pada 16 Oktober 2019, pukul 15:19 WIB.

40World Growth, 2009, “Palm Oil- The Sustainable Oil, A Report by World Growth”, September 2009.

telah mendapatkan lisensi tersebut dan dengan demikian mereka diperbolehkan menggunakan segel tersebut, jikalau mereka ingin menggunakanya. 41

Anggota RSPO berkewajiban untuk memenuhi prinsip-prinsip RSPO yang pematuhannya diverifikasi melalui kontrol. Namun demikian, pada awal keanggotaanya dalam RSPO, sebuah perusahaan tidak harus langsung hanya memproduksi minyak kelapa sawit yang bersertifikat, tetapi hal ini dapat dilakukan secara bertahap hingga produksinya dapat beralih menjadi 100 persen sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Selama masa transisi, mereka boleh menjual minyak kelapa sawit bersertifikat, selama minyak tersebut diperoleh dari perkebunan yang telah bersertifikat. Pada bulan Juli 2013, terdapat 44 dari 126 produsen minyak sawit yang semuanya anggota RSPO yang sudah memiliki seritifikat.42

Dalam RSPO sendiri ada tiga jenis keanggotaan. Pertama anggota biasa.

Mereka dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari tujuh pemangku kepentingan sektor minyak sawit, walalupun mereka aktif dalam beberapa bidang lainnya. Kedua, anggota afiliasi yang bukan merupakan lembaga-lembaga dalam bidang pengembangan dan penelitian. Tugas mereka adalah memantau aktivitas dan tujuan RSPO.43

Dengan demikian mereka dapat mengikuti perkembangan dalam rapat umum anggota, tanpa memiliki hak suara. Ketiga, terdapat kemungkinan menjadi anggota

41World Growth, 2009, “Palm Oil- The Sustainable Oil, A Report by World Growth”, September 2009.

42Yoan Angelika, 2015, “Kebijakan Pemerintah Pasca Keluar dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)”, Universitas Riau : Jurnal Fisip Volume 2 No.2, Oktober, hal 4.

43Yoan Angelika, 2015, “Kebijakan Pemerintah Pasca Keluar dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)”, Universitas Riau : Jurnal Fisip Volume 2 No.2, Oktober, hal 5.

rantai pasokan RSPO. Mereka adalah perusahan-perusahaan yang memproduksi minyak kelapa sawit atau turunannya yang jumlah kurang dari 500 ton per tahun.

Semua anggota adalah bagian dari Majelis Umum, yang diwakili oleh Dewan Eksekutif masing-masing. Dewan eksekutif ini terdiri dari 16 orang yang berasal dari tujuh sektor. Setiap sektor mengrimkan dua orang wakilnya, terkecuali sektor produsen minyak sawit yang diwakili oleh empat orang.44

Dalam hal ini juga pada RSPO pastiya memiliki prisip serta aturan yang berlaku. Aturan yang harus dipatuhi oleh para anggota RSPO ada terangkum dalam panduan prinsip-prinsip dan kriteria RSPO, yang disusun pada tahun 2007 dan kemudian direvisi pada tahun 2013. Aturan-aturan tersebut harus disesuaikan dengan hukum nasional dan kondisi lokal seperti upah minimum stempat.45

Oleh karna itu, rinciannya dapat bervariasi dari satu negara ke negara lain, untuk menjadi anggota RSPO, produsen, pengolah dan pedagang minyak sawit harus memnuhi delapan prinsip yaitu : 46

a. “Kewajiban terhadap transparansi

b. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku

c. Komitmen terhadap vitabilitas keuangan dan ekonomis jangka panjang d. Penerapan praktik-praktik terbaik dan tepat oleh pengusaha perkebunan

dan pabrik minyak sawit

44Angelika, Yoan. “Kebijakan Pemerintah Indonesia Pasca Keluar dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)”. Universitas Riau: Jurnal FISIP Volume 2 No. 2, Oktober, hal 5.

45Angelika Yoan, “ Kebijakan Pemerintah Indonesia Pasca Keluar dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)”, Universitas Riau: Jurnal FISIP Volume 2 No. 2, Oktober, 2015, hal 5

46 RSPO, “RSPO: Principles and Criteria for the Production of Sustainable Palm Oil”. Diakses melaui http://www.rspo.org/file/PnC_RSPO_Rev1.pdf. Diakses pada 10 Januari 2020.

e. Tanggung jawab lingkungan dan konversi sumber daya dan keanekaragaman hayati

f. Pertimbangan bertanggung jawab atas pekerja, individu dan komunitas yang terpengaruh oleh kegiatan pengusaha perkebunan dan pabrik minyak kelapa sawit

g. Pengembangan penanaman baru secara bertanggung jawab

h. Komitmen untuk perbaikan terus menerus dalam area-area kegiatan utama”.

Sebagaimana sudah dijelaskan di atas. Keanggotaan RSPO adalah bersifat sukarela, namun dalam langkah upaya diplomasinya sebelum adanya ISPO, Indonesia bergabung RSPO . Hal ini dilakukan agar memenuhi permintaan pasar dan kosumen tyang berkaitan dengan komoditas kelapa sawit.

2. Indonesia- Malaysia Palm Oil Group (IMPOG)

Produksi minyak sawit dunia didominasi oleh Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini secara total menghasilkan sekitar 85-90% dari total produksi minyak sawit dunia. Dalam jangka panjang, permintaan dunia akan minyak sawit menunjukkan kecenderungan meningkat sejalan dengan jumlah populasi dunia yang bertumbuh dan karenanya meningkatkan konsumsi produk-produk dengan bahan baku minyak sawit seperti produk makanan dan kosmetik. 47

47 Indonesian Investment, 2017, “Minyak Kelapa Sawit”, diakses melalui https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/minyak-sawit/item166? , diakses pada 05 Februari 2020.

Pada perjalananya kontribusi produksi minyak sawit Indonesia terus meningkat dari masa ke masa, dari 14% tahun 1965 menjadi 15% tahun 1980 dan 54% pada tahun 2016. Peranan produksi minyak sawit Indonesia, terus mengalahkan kontribusi produski minyak sawit Malaysia, yaitu 15% pada tahun 1965, meningkat 55% tahun 1980, namun berkurang hanya menjadi 32% pada tahun 2016. Meskipun adanya persaingan yang sengit, kedua negara tetap melakukan kerjasama dalam menangkal hal- hal yang mengganggu mereka sebagai produsen terbesar komoditas minyak kelapa sawit.

Kontribusi produksi komoditas minyak sawit Indonesia dan Malaysia terhadap penyediaan minyak nabati dunia, yang terus meningkat, menjadikan kedua negara menjadi sasaran kampanye negatif yang terus menyudutkan produk minyak kelapa sawit kedua negara. Sebagaimana kita ketahui Minyak kelapa sawit merupakan kontributor terbesar terhadap penyediaan minyak nabati dunia. Dalam menghadapi banyaknya tantangan tersebut, kedua negara produsen Indonesia dan Malaysia, berunding bersama menghadapi ancaman kampanye hitam yang dilakukan oleh banyak pihak seperti NGO lokal, nasional, dan transnasional di Eropa.

Kerja sama itu diformalkan dalam bentuk kesepakatan bersama, Memorandum of Understanding (Mou) yang dilakukan antara pemerintah Indonesia dan Malaysia yang

bertujuan untuk menjamin usaha bersama dan posisi antarnegara produsen sawit. MoU ini di tandatangani pada 2006 dan terus berulang sampai 2013. Kerja sama antara Indonesia dan Malaysia ini lahir karena adanya saling ketergantungan dalam masalah modal (investasi) dan tenaga kerja. Dari sudut modal, Malaysia memiliki kepentingan

menjaga investasi terbesar kedua negara dalam perkebunan sawit di Indonesia atau menguasai 26% lahan sawit di Indonesia. 48

Bahkan, kini pemodal Malaysia justru ditarik pemerintah Indonesia untuk menanamkan modalnya, terutama dalam industri pengolahan sawit yang lebih maju daripada di Indonesia. Sebaliknya, keberhasilan bisnis sawit Malaysia juga bergantung pada suplai tenaga kerja dari Indonesia yang masuk secara resmi ataupun tidak resrmi.

Misalnya pada tahun 2014, sekitar 80% tenaga kerja perkebunan kelapa sawit Malaysia berasal dari Indonesia. 49

Untuk Indonesia sendiri, hadirnya pengusaha sawit Malaysia jelas memberi sumbangan terhadap pendapatan negara. Selin itu, rekrutmen tenaga kerja Indonesia di perkebunan kelapa sawit Malaysia akan mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia. Saling ketergantungan ini disebut sangat menguntungkan, hal tersebut diungkapkan Wakil Perdana Menteri Malaysia Najib Razak pada penandatangan MoU tersebut :50

“Indonesia dan Malaysia melakukan kesepakatan dalam bentuk penetapan jumlah output yang akan diproduksi karena Indonesia di sini merasa khawatir jika Malaysia mencabut investasinya, yang pada akhirnya akan mengurangi volume produksi kelapa sawit yang dihasilkan dan akan menyebabkan menurunnya keuntungan Indonesia. Hal ini juga berlaku untuk Malaysia, karena Malaysia juga memiliki kendala dalam keterbatasan lahan dan keterbatasan tenaga kerja. Kita telah sepakat untuk

48 Erman E, 2017, “Di Balik Keberlanjutan Sawit : Aktor, Aliansi Dalam Ekonomi Politik Sertifikasi Uni Eropa”, Jurnal Masyarakat Indonesia, Vol 43 No 1, Juni 2017, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hal 6.

50 Erman E, 2017, “Di Balik Keberlanjutan Sawit : Aktor, Aliansi Dalam Ekonomi Politik Sertifikasi Uni Eropa”, Jurnal Masyarakat Indonesia, Vol 43 No 1, Juni 2017, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hal 6. .

meningkatkan produksi dan pemasaran CPO dengan membentuk aliansi strategi.”(Pidato Najib saat penandatanganan MoU, 25 Mei 2006).

Adanya kesepakatan resmi dari kedua negara ini menjadi jalan masuk untuk merancang berbagai kegiatan yang bertujuan menghadapi tantangan perdagangan minyak sawit ke Eropa. Kesepakatan ini dinamai Indonesia-Malaysia Palm Oil Group (IMPOG), yang merupakan wadah antar produsen kelapa sawit Indonesia dan Malaysia untuk menyusun program kerja sama, research and development (R&D), komunikasi, dan strategi agar mempunyai persepsi yang sama dalam upaya menghadapi tekanan asing atas kedua negara produsen utama sawit. 51

Di dalam IMPOG ini sendiri berisi dan beranggotakan enam asosiasi yang fokus di bidang minyak kelapa sawit, yaitu Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Malaysian Palm Oil Association (MPOA), Asosiasi Pemilik Perkebunan Minyak Sawit Serawak (SOPPOA), Federal Land Development Authority (FELDA), dan Asosiasi Investor Perkebunan Malaysia di Indonesia (APMI). Pertemuan kedua negara tersebut berlangsung di Kuching, Malaysia, pada 2010. Kesepakatan bersama antara Indonesia dan Malaysia telah melahirkan sikap yang sama sekali tidak bergantung pada negara konsumen Uni Eropa.

Sikap ini tecermin dari usaha-usaha, pertama, pembentukan sertifikasi sebagai respons terhadap sertifikasi sawit global yaitu RSPO yang dinilai tidak efektif.

Pembentukan badan sertifikasi oleh kedua negara ini merupakan bukti peranan negara-

51 Erman E, 2017, “Di Balik Keberlanjutan Sawit : Aktor, Aliansi Dalam Ekonomi Politik Sertifikasi Uni Eropa”, Jurnal Masyarakat Indonesia, Vol 43 No 1, Juni 2017, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hal 6 .

negara berkembang, yang selama ini dianggap lemah dan bergantung pada negara maju, ternyata cukup kuat dalam bernegosiasi dengan negara-negara maju seperti uni Eropa. Kedua, negara produsen ini membentuk kekuatan yang lebih besar dengan menarik negara-negara produsen sawit lain menghadapi negara konsumen Uni Eropa. Ketiga, aktor-aktor di kedua negara melakukan diplomasi dagang tingkat tinggi dengan Uni Eropa .52

Dengan dibentuknya IMPOG merupakan salah satu wujud upaya diplomasi yang dilakukan oleh Indonesia dan Malaysia dibidang kelapa sawit demi melindungi komoditas kelapa sawit beserta turunannya. Selain itu, sebagaimana dijelaskan diatas salah satu tujuan kedua negara membentuk wadah ini adalah ingin membentuk sertifikasi kelapa sawit yang tentunya lebih berpihak kepada kedua negara. Dan bagi Indonesia sendiri kesepakatan IMPOG tersebut merupakan wujud dan cikal bakal dari dibentuknya kebijakan Indonesian Sustainale Palm Oil (ISPO), sedangkan bagi Malaysia ini merupakan wujud cikal bakal dari kebijakan Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO).

52 Erman E, 2017, “Di Balik Keberlanjutan Sawit : Aktor, Aliansi Dalam Ekonomi Politik Sertifikasi Uni Eropa”, Jurnal Masyarakat Indonesia, Vol 43 No 1, Juni 2017, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hal 7.

B. Tantangan Keberlanjutan Kelapa Sawit Indonesia

1. Kebijakan Renewable Energi Directive I (RED I) dan Trilogue Renewable Energi Directive II (RED II) oleh Komisi Eropa

Komisi Eropa menerapkan kebijakan subsidi untuk mencapa target jangka panjang dalam mengurangi ketergantungan terhadap minyak fosil. Kebijakan ini merupakan penerapan dari keputusan komite Eropa yang mewajibkan penggunaan 2% biofuel pada sarana transportasi. Sebagian besar minyak nabati yang diproduksi oleh Uni Eropa adalah minyak nabati yang berasal dari minyak rapeseed yang berjumlah 90%, sementara minyak lainnya yang di produksi oleh Uni Eropa berasal dari bunga matahari, kelapa sawit dan kedelai. Dari segi produktivitas minyak kelapa sawit menghasilkan energi yang lebih tinggi dan menggunakan lahan yang lebih sedikit dibandungkan dengan minyak rapeseed yang diproduksi oleh Uni Eropa.53

Kebijakan ini ada di dalam Directives 2001/77/ dan EC 2003/30/EC kemudian diperbaharui dalam Directive 2009/2008/EC of The European Parliament And Of The Council Of 23 April 2009, yang kemudian dikenal Renewable Energy Directive (RED).

Dalam kebijakan RED Uni Eropa menerapkan target penggunaan energi terbarukan pada listrik, Heating and cooling dan Biofuel sebesar 20% pada tahun 2020. Kebijakan ini mengikat secara hukum dan harus dilakukan oleh negara anggota. 54

53Frederick Erickson, 2009, “Green Protectionism in the European Union: How Europe’s Biofuels Policy and the Renewable Energy Directive Violate WTO Commitments", ECIPE

OCCASIONAL Paper No.1/2009.

54Intan Tiara Kartika, 2016, “Interaksi Kebijakan Renewable Energy Directive dan Kebijakan Indonseian Sustainable Palm Oil Terhadap Ekspor kelapa sawit Indonesia ke Uni Eropa”, Skripsi, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin Makassar, hal 33.

RED adalah sebuah kebijakan yang memiliki tiga tujuan utama yaitu, memastikan pasokan aman, berdaya saing, dan berkesinambungan.55 Ini dibentuk untuk menekankan keinginan Uni Eropa dalam mengatasi masalah lingkungan dengan menggunakan sumber energi terbarukan. Adapun yang dimaksud dengan sumber energi terbarukan menurut Uni Eropa adalah angin, energi matahari, hidrotermal dan energi laut, tenaga air, biomassa, gas landfill, limbah gas pabrik pengolahan biogas seperti yang tercantum pada pasal 2 point (a), “energy from renewable sources’ means energy from renewable non-fossil sources, namely wind, solar, aerothermal, geothermal, hydrothermal and ocean energy, hydropower, biomass, landfill gas, sewage treatment plant gas and biogases”.56

RED menerapkan persyaratan bagi 27 negara anggota Uni Eropa dan tiga nega lain yang termasuk dalam area ekonomi Eropa (Iceland, Lichtenstein, dan Norwegia) untuk mengadopsi target wajib nasional yaitu’ 20-20-20’. Target ini dibentuk untuk memastikan yang harus dicapai melaului efisiensi energi 2020.

Perhitungan akhir konsumsi energi terbarukan yang 20% ini mengacu pada jumlah total energi yang dikonsumsi oleh setiap negara anggota dari berbagai sektor Tidak hanya itu, dalam RED diatur pula sasaran 10% untuk penggunaan

55Intan Tiara Kartika, 2016, “Interaksi Kebijakan Renewable Energy Directive dan Kebijakan Indonseian Sustainable Palm Oil Terhadap Ekspor kelapa sawit Indonesia ke Uni Eropa”, Skripsi, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin Makassar, hal 33.

56 Renewable Energy Directive 2009/28/EC hal 27 diakses melalui

https://www.eea.europa.eu/policy-documents/2009-28-ec . Diakses pada 17 Januari 2020.

57 T Wyns, “EU Governance of Renewable Energy Post-2020”, hal 4, diakses melalui https://eu.boell.org/sites/default/files/eu_renewable_energy_governance_post_2020.pdf. Diakses pada 17 Januari 2020.

energi.57

energi terbarukan pada bidang transportasi. Energi terbarukan bisa berasal dari berbagai sumber, tetapi sumber utama transportasi harus berasal dari biofuel. RED menetapkan sasaran ini untuk meningkatkan konsumsi yang lebih besar dalam penggunaan biofuel Uni Eropa.58 RED tersebut dibentuk atas dasar pandangan berkelanjutan (sustainable). Karakterisitik berkelnjutan untuk biofuel dapat dilihat pada pasal 17 dalam Renewable Energy Directives, yaitu penghematan emisi gas rumah kaca dan persyaratan penggunaan lahan. Biofuel ini harus bersifat berkelanjutan untuk dapat mendukung target wajib dari energi terbarukan dan agar dapat memenuhi syarat untuk mendukung ekonomi Uni Eropa.59

Selain itu untuk dapat memenuhi kriteria berkelanjutan (sustainable) emisi gas rumah kaca harus berada di ambang batas tertentu, dimana batas minimumnya adalah 35%. RED menjabarkan metode untuk menghitung jumlah emisi gas dilihat dari (1) ekstraksi dan budidaya bahan baku, (2) perubahan penggunaan lahan, (3) pengolahan dan (4) distribusi dan tranportasi. Selain itu, penghematan emisi dapat ditingkatkan melalui manajemen pertanian dan proses pengangkapan karbon. Jumlah emisi yang menggunakan metode RED kemudian dibandingkan dengan emisi dari bahan bakar fosil, kemudian dijumlahkan untuk menghitung total tingkat penghematan emisi.60

58Intan Tiara Kartika, “Interaksi Kebijakan Renewable Energy Directive dan Kebijakan Indonesian Sustanaible Palm Oil Terhadap Ekspor kelapa sawit Indonesia Ke Uni Eropa”, Skripsi, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin Makassar, 2016, hal 35.

59Taufan Ardiansyah, CNBC News, “Tak Disangka, Gara-gara Ini Uni Eropa Hantam Sawit RI!”, diakses melalui https://www.cnbcindonesia.com/news/20190822140737-4-93924/tak-disangka-gara-gara-ini-uni-eropa-hantam-sawit-ri . Diakses pada 22 Maret 2020.

60Andreas Lendle and Malorie Schaus, “Sustainability Criteria In The EU Renewable Energy Directive:Consistent With WTO rules”, ICSTD Project on WTO Juripundence and Sustinable Development 202, hal 3.

Kebijakan RED juga mengatur nilai default untuk berbagai macam biofuel yang digunakan sebagai alternatif dari kasus ke kasus. Produsen diberikan pilihan untuk memilih antara nilai default dan nilai penghematan emisi yang sebenarnya, dimana apabila nilai default emisi terlampau tinggi untuk biofuel dalam artian tingkat penyimpanan terlalu rendah, mereka bisa menghitung nilai yang sesungguhnya.61

Selain masalah Greenhouse Gas (GHG), RED juga menyoroti masalah penggunaan lahan. Dijelaskan lebih lanjut pada paal 17 (3)-(5) dari EU RED berisi tiga kriteria penggunaan lahan yang digunakan untuk menghasilkan bahan baku 38 biofuel yaitu : tanah dengan keanekaragaman hayati, tanah dengan karbon tinggi, dan tanah gambut.62

Pada pasal 17 ayat 3 – 5 dijelaskan bahwa biofuel tidak boleh berasal dari bahan mentah yang ditanam pada lahan yang mengandung nilai keanekaragaman yang tinggi, dimana termasuk didalamnya hutan dan lahan berpohon, area yang diciptakan untuk perlindungan alam, spesies langka, terancam dan membahayakan, serta padang rumput yang dengan keanekaragaman hayati.63 Kedua, biofuel tidak boleh dibenuk dari lahan dengan jumlah karbon yang tinggi, seperti tanah yang subur dan hutan. 64

61 Intan Tiara Kartika, “Interaksi Kebijakan Renewable Energy Directive dan Kebijakan Indonesian Sustanaible Palm Oil Terhadap Ekspor kelapa sawit Indonesia Ke Uni Eropa”, Skripsi, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin Makassar, 2016, hal 36.

62 Renewable Energy Directive 2009/28/EC hal 3 diakses melalui https://www.eea.europa.eu/policy-documents/2009-28-ec . Diakses pada 17 Januari 2020.

63 Renewable Energy Directive 2009/28/EC hal 3 diakses melalui https://www.eea.europa.eu/policy-documents/2009-28-ec . Diakses pada 17 Januari 2020.

64 Intan Tiara Kartika, “Interaksi Kebijakan Renewable Energy Directive dan Kebijakan Indonesian Sustanaible Palm Oil Terhadap Ekspor kelapa sawit Indonesia Ke Uni Eropa”, Skripsi, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin Makassar, 2016, hal 38.

Ketiga, biofuel tidak boleh dibentuk dari bahan mentah yang ditanam dilahan gambut, kecuali bukti yang tersedia dari penanaman dan pemanenan dari bahan

Ketiga, biofuel tidak boleh dibentuk dari bahan mentah yang ditanam dilahan gambut, kecuali bukti yang tersedia dari penanaman dan pemanenan dari bahan

Dalam dokumen HIDAYATULLAH JAKARTA 2020 (Halaman 44-0)