• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inflasi Bulanan Berdasarkan Kelompok Barang dan Jasa

Dalam dokumen Periode Februari 2017 (Halaman 58-65)

3 BAB III PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH

3.2 Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang dan Jasa

3.2.3 Inflasi Bulanan Berdasarkan Kelompok Barang dan Jasa

Rata-rata inflasi bulanan pada triwulan IV 2016 sebesar 0,55% (mtm) atau lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi pada triwulan III 2016 sebesar 0,98% (mtm) maupun rata-rata historis inflasi bulanan triwulan IV periode tahun 2011-2015 sebesar 0,88% (yoy). Berdasarkan kelompok barang, penurunan tekanan inflasi terutama disumbang oleh kelompok bahan makanan seiring dengan musim panen cabai merah pada Desember 2016 serta harga tiket angkutan udara yang lebih rendah dari rata-rata historisnya.

Tabel 3.2. Inflasi Bulanan Berdasarkan Kelompok Barang (%,mtm)

Jul Agust Sep Okt Nop Des Tw III'16 Tw IV '16

Umum 1,52 0,78 0,64 0,54 1,12 -0,01 0,98 0,55

1 Bahan Makanan 3,90 1,74 1,97 1,26 3,69 -1,62 2,54 1,11

2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 0,31 0,35 0,52 0,45 0,23 0,36 0,39 0,34

3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 0,20 0,42 0,31 0,63 0,24 0,89 0,31 0,59

4 Sandang 0,38 0,13 -0,09 -0,49 -0,20 -0,75 0,14 -0,48

5 Kesehatan 0,66 0,63 0,20 0,57 0,59 0,72 0,50 0,62

6 Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga 0,36 4,68 0,07 0,00 0,00 -0,15 1,70 -0,05

7 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 1,82 -1,16 -0,29 0,00 0,04 1,40 0,12 0,48

Tren Rata-rata Kelompok

No. Tw III 2016 Tw IV 2016

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah

Tabel 3.3. Andil Inflasi Bulanan Berdasarkan Kelompok Barang (%)

Jul Agust Sep Okt Nop Des Tw III'16 Tw IV '16

Umum 1,52 0,78 0,64 0,54 1,12 -0,01 0,98 0,55

1 Bahan Makanan 1,02 0,47 0,53 0,34 1,02 -0,46 0,67 0,30

2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 0,06 0,06 0,09 0,08 0,04 0,06 0,07 0,06 3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 0,04 0,08 0,06 0,12 0,05 0,17 0,06 0,12

4 Sandang 0,02 0,01 -0,01 -0,03 -0,01 -0,04 0,01 -0,03

5 Kesehatan 0,03 0,03 0,01 0,02 0,02 0,03 0,02 0,02

6 Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga 0,03 0,34 0,01 0,00 0,00 -0,01 0,12 0,00 7 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 0,32 -0,20 -0,05 0,00 0,01 0,24 0,02 0,08

No. Kelompok Tw III 2016 Tw IV 2016 Tren Rata-rata

Selama triwulan IV 2016, tekanan inflasi tertinggi terjadi pada bulan November sedangkan terendah terjadi pada Desember 2016. Inflasi pada November 2016 tercatat sebesar 1,12% (mtm), lebih tinggi dari rata-rata historis 2011-2015 sebesar 0,80% (mtm). Sub kelompok bahan makanan masih menjadi penyumbang utama inflasi dengan komoditas cabai merah memberikan andil tertinggi pada inflasi bulan tersebut. Sementara itu, pada bulan Desember, kelompok bahan makanan dan cabai merah justru menjadi penyumbang utama deflasi. Panen yang terjadi di Sumbar dan berbagai daerah pemasok cabai merah dari luar Sumbar menjadi faktor utama penurunan drastis harga cabai dari November ke Desember 2016. Di sisi lain, kenaikan harga tiket angkutan udara yang tidak setinggi periode tahun-tahun sebelumnya turut memberikan andil tertahannya inflasi bulanan pada Desember 2016.

Tabel 3.4. Komoditas Utama Penyumbang Inflasi Bulanan Triwulan IV 2016 (%,mtm)

Komoditas Andil (%) Komoditas Andil (%) Komoditas Andil (%)

Cabai Merah 0,45 Cabai Merah 0,88 Angkutan Udara 0,12

Bahan Bakar Rumah Tangga0,07 Beras 0,17 Pasir 0,09

Tarip Listrik 0,05 Bawang Merah 0,04 Mobil 0,08

Daging Ayam Ras 0,04 Bahan Bakar Rumah Tangga0,03 Beras 0,06

Nasi dengan Lauk 0,03 Minyak Goreng 0,03 Rokok Kretek 0,03

Tomat Sayur 0,02 Rokok Kretek Filter 0,02 Bensin 0,02

Beras 0,02 Cabe Hijau 0,02 Telur Ayam Ras 0,02

Minyak Goreng 0,02 Pasta Gigi 0,01 Batu Bata/Batu Tela 0,02

Ikan Bakar 0,01 Rokok Putih 0,01 Rokok Kretek Filter 0,02

Petai 0,01 Cabai Rawit 0,01 Buncis 0,01

Komoditas Utama Penyumbang Inflasi Bulanan Triwulan IV 2016 (%, mtm)

Oktober November Desember

Komoditas Andil (%) Komoditas Andil (%) Komoditas Andil (%)

Jengkol -0,06 Apel -0,05 Cabai Merah -0.47

Emas Perhiasan -0,04 Jeruk -0,03 Bawang Merah -0.05

Buncis -0,02 Tauge/Kecambah -0,02 Emas Perhiasan -0.04

Bawang Merah -0,02 Kentang -0,02 Jengkol -0.02

Kangkung -0,02 Daging Ayam Ras -0,02 Kentang -0.02

Wortel -0,02 Emas Perhiasan -0,01 Minyak Goreng -0.02

Telur Ayam Ras -0,01 Wortel -0,01 Petai -0.01

Kacang Panjang -0,01 Ayam Hidup -0,01 Jeruk -0.01

Gula Pasir -0,01 Ketimun -0,01 Buku Tulis Bergaris -0.01

Kentang -0,01 Kacang Panjang -0,01 Tomat Sayur -0.01

Komoditas Utama Penyumbang Deflasi Bulanan Triwulan IV 2016 (%, mtm)

Oktober November Desember

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah

Salah satu faktor tingginya harga cabai di Sumbar adalah besarnya ketergantungan pasokan cabai Sumbar dari provinsi lain seperti Jawa Tengah dan Sumatera Utara. Ketika produksi cabai merah di daerah tersebut terkendala

maka akan memberikan dampak lanjutan bagi pasokan di Sumbar. Berdasarkan grafik di bawah, terlihat bahwa jumlah produksi cabai Sumbar masih berada di bawah Sumut dan Jateng. Secara total, produksi cabai merah di Sumbar pada tahun 2016 tercatat sebesar 67.998 ton atau meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar 7,25% (yoy) namun masih berada di bawah produksi cabai merah Jateng dan Sumut masing-masing sebesar 166.669 ton dan 147.671 ton. Dari data tersebut diketahui bahwa peningkatan produksi cabai merah di Sumbar tidak serta merta menurunkan inflasi komoditas cabai merah di Sumbar. Korelasi yang bertanda positif antara produksi cabai merah di Sumbar dengan IHK cabai merah di Sumbar menunjukkan kurang signifikannya pengaruh produksi cabai merah terhadap pergerakan harga cabai merah. Salah satu faktor penyebabnya adalah tingginya transaksi cabai merah Sumbar ke provinsi lain seperti Riau sehingga suplai cabai merah Sumbar di Kota Padang dan Bukittinggi menjadi berkurang.

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2015 2016

IHK Cabai Merah Sumbar-sb kanan Produksi Cabai Sumbar Produksi Cabai Jateng Produksi Cabai Sumut Agregat Cabai Sumbar, Sumut & Jateng

ton Sumber: BPS, diolah 2015 2016 Sumbar 63.402 67.998 7,25 0,17 Jateng 168.411 166.669 -1,03 -0,41 Sumut 190.331 147.671 -22,41 -0,36 Agregat 422.144 382.338 -9,43 -0,43 Korelasi Produksi Cabai Bulanan ke IHK Cabai Sumbar Provinsi Total Produksi

Cabai (ton) Pert.

(yoy)

Grafik 3.5. Perkembangan IHK Cabai Sumbar vs Produksi Cabai Merah Sumbar, Sumut & Jateng

Dalam rangka mendukung pengendalian harga dan pengembangan ekonomi daerah melalui peningkatan kinerja UMKM yang tergabung dalam klaster, Tim Pengembangan Ekonomi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat memiliki program kerja pengembangan klaster ketahanan pangan untuk komoditas hortikultura di Kota Payakumbuh. Program pengembangan klaster hortikultura ini telah dimulai sejak bulan November tahun 2015 ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Kota Payakumbuh dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat dan berjalan selama 3 tahun. Dalam kegiatan budidaya tanaman hortikultura, kekurangan hasil panen yang disebabkan oleh serangan hama dan penyakit merupakan masalah utama yang dihadapi oleh petani. Permasalahan ini tentunya berdampak pada menurunnya produktivitas tanaman. Tindakan pengendalian serangan hama dan penyakit yang selama ini dilakukan oleh kelompok tani sebelum menjadi binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat memerlukan biaya yang tinggi.

Serangan hama dan penyakit pada tanaman dimulai pada saat proses persemaian hingga saat pematangan buah sebelum panen dilakukan. Dalam jangka waktu tersebut petani melakukan berbagai upaya pengendalian dengan menggunakan pestisida yang justru boros dan sia-sia. Mulai dari penggunaan beberapa jenis pestisida secara bersamaan, hingga pencampuran berbagai jenis pestisida dalam satu larutan dengan dosis yang tidak tepat. Sehingga pada akhirnya upaya pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan menjadi tidak tepat sasaran.

Melalui hasil pengamatan budidaya hortikultura yang biasa dilakukan oleh Kelompok Tani Bina Bersama yang merupakan salah satu kelompok tani yang menjadi pilot project pada klaster hortikultura, serangan hama dan penyakit berpotensi mengurangi produksi cabai hingga 50% dari potensi jumlah panen. Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam usaha pertanian cabai adalah kurangnya informasi teknologi, adanya serangan hama/penyakit, serta kurangnya informasi tentang pascapanen dan pengolahan. Untuk menghindari timbulnya berbagai masalah dalam budidaya tanaman cabai merah, terutama terhadap keamanan produk dan lingkungan, perlu dilakukan usaha budidaya cabai secara benar melalui alur proses budidaya dari on farm sampai dengan penanganan pasca panen yang sesuai dengan Good Agricultural Practice (GAP).

BOKS 1:

Berdasarkan permasalahan tersebut, pada tahun 2016 dilakukan program kerja demonstrasi studi lapangan pada klaster hortikultura khususnya pada tanaman cabai secara terpadu untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman petani terhadap upaya pengendalian hama dan penyakit serta penerapan Good Agricultural Practice (GAP).

Demonstrasi merupakan suatu metode penyuluhan di lapangan untuk

pertanian yang telah terbukti bagi petani. Salah satu jenis demonstrasi yang dilaksanakan oleh petani adalah demonstrasi plot (demplot). Tujuan pelaksanaan demplot adalah untuk memberikan contoh bagi petani untuk menerapkan teknologi yang diintroduksikan dan petani dapat melihat secara langsung proses inovasi teknologi. Dengan pelaksanaan demplot diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku sehingga petani mau dan mampu menggunakan inovasi baru.

Gambar 1. Penyiapan lahan demplot

Kegiatan demplot tanaman cabai ini dilaksanakan pada lahan Kelompok Tani Bina Bersama bertempat di Kelurahan Koto Baru, Kecamatan Payakumbuh Timur, Kota Payakumbuh. Kegiatan dimulai pada bulan Agustus s.d. November 2016 dengan masa panen hingga bulan Maret 2017. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang petani yang merupakan anggota Kelompok Tani Bina Bersama, Kelompok Tani Baliak Mayang dan kelompok tani yang berada di sekitar area demonstrasi plot serta petugas lapang dari instansi terkait. Lahan yang dijadikan sebagai area demplot seluas 7.000 meter persegi.

Gambar 2. Penyemaian dan penanaman benih cabai

Dalam kegiatan ini diterapkan metode perbandingan antara budidaya tanaman cabai yang dilakukan secara organik (Good Agricultural Practice) dengan non organik. Teknik budidaya yang dilakukan terdiri atas perencanaan, lokasi budidaya, penyiapan lahan, media tanam, penggunaan pupuk dan pestisida, pengairan, panen dan pencatatan. Pelaksanaan kegiatan dalam uji coba Good Agricultural Practice (GAP) tanaman cabai ini mengacu kepada prosedur operasi standard dari Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, meliputi: 1) Pemilihan benih cabai merah; 2) Persemaian; 3) Persiapan lahan; 4) Penanaman dan pemeliharaan.

Gambar 3. Tanaman cabai diawal masa tanam dan yang sudah berbuah lebat

Dari hasil pencatatan dan pengamatan yang dilakukan oleh petani pada lahan demplot, penerapan budidaya secara organik (Good Agricultural Practice) memiliki keunggulan dari sisi ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit. Selain itu, perkembangan pertumbuhan tanaman yang menerapkan budidaya organik lebih cepat dibandingkan tanaman yang menerapkan budidaya non organik. Tanaman dengan teknik budidaya organik sudah menunjukkan bakal buah dengan jumlah dan kualitas yang lebih unggul dibandingkan tanaman dengan budidaya non organik.

Melalui kegiatan demplot yang menerapkan budidaya cabai secara Good Agricultural Practice (GAP) terbukti mampu meningkatkan produktivitas tanaman cabai hingga 30% dibandingkan tanaman cabai dengan budidaya yang biasa dilakukan oleh petani.

Melalui kegiatan demplot, petani peserta demplot mendapatkan pengetahuan dan pemahaman secara lebih jelas mengenai penerapan teknologi Good Agricultural Practice (GAP) untuk pencegahan terhadap serangan hama dan penyakit dan peningkatan produktifitas pada tanaman cabai. Diharapkan petani cabai yang berada di sekitar area demplot dan/atau petani cabai dari kabupaten/kota lain di Provinsi Sumatera Barat juga dapat mempelajari secara utuh mengenai penerapan budidaya tanaman cabai secara Good Agricultural Practice (GAP). Sehingga, diharapkan pasokan cabai di seluruh daerah di Provinsi Sumatera Barat dapat terjaga dan berdampak pada tercapainya kestabilan harga.

Dalam dokumen Periode Februari 2017 (Halaman 58-65)