• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inflasi Menurut Kota: Kota Padang dan Bukittinggi

Dalam dokumen Periode Februari 2017 (Halaman 67-72)

3 BAB III PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH

3.4 Inflasi Menurut Kota: Kota Padang dan Bukittinggi

Secara spasial, inflasi tahunan Kota Padang tercatat lebih tinggi daripada Kota Bukittinggi. Pada triwulan IV 2016, Kota Padang mengalami inflasi 5,02% (yoy) sedangkan Kota Bukittinggi relatif lebih rendah dengan inflasi 3,97% (mtm). Berdasarkan realisasi tersebut, Kota Padang menduduki peringkat ke-6 (enam) sedangkan Kota Bukittinggi berada di urutan ke-19 (sembilan belas) dari 82 kota sampel inflasi secara Nasional. Secara regional Sumatera, Kota Padang dan Kota Bukittinggi masing-masing berada pada peringkat ke-5 (lima) dan ke-13 (tiga belas) dari 23 kota sampel inflasi di Sumatera.

Secara spasial, inflasi tahunan Kota Padang tercatat lebih tinggi daripada Kota Bukittinggi. Pada triwulan IV 2016, Kota Padang mengalami inflasi 5,02% (yoy) sedangkan Kota Bukittinggi relatif lebih rendah dengan inflasi 3,97% (mtm). Berdasarkan realisasi tersebut, Kota Padang menduduki peringkat ke-6 (enam) sedangkan Kota Bukittinggi berada di urutan ke-19 (sembilan belas) dari 82 kota

sampel inflasi secara Nasional. Secara regional Sumatera, Kota Padang dan Kota Bukittinggi masing-masing berada pada peringkat ke-5 (lima) dan ke-13 (tiga belas) dari 23 kota sampel inflasi di Sumatera.

Inflasi Sumbar Vs Nasional

-0,57 0,07 4,89 3,02 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 9,00 10,00 -3,00 -2,50 -2,00 -1,50 -1,00 -0,50 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 Jan Feb Mar Ap r Me i Ju n Jul A gu st Se p t O kt N o v De s Jan Feb Mar Ap r Me i Ju n Jul A gu st Se p t O kt N o v De s 2015 2016 %yoy %mtm Bukittinggi (%mtm) Padang (%mtm)

Inflasi 2016 Kota Padang: 5,02% (yoy) Kota Bukittinggi: 3,93% (yoy)

Sumber: BPS, diolah

Grafik 3.11. Perkembangan Inflasi Kota Padang dan Bukittinggi

Tabel 3.5. Perkembangan Inflasi Kota Padang Menurut Kelompok Barang dan Jasa (%, yoy)

2015 2015

Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV

Umum 0,85 6,55 3,16 5,07 5,02 2,79 7,20 3,76 5,33 3,93

1 Bahan Makanan -1,38 4,09 1,04 2,96 3,04 -0,15 4,28 1,63 3,78 2,26

2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 0,97 0,65 0,88 0,92 0,95 1,46 1,59 1,68 1,53 1,19

3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 0,79 0,51 0,38 0,46 0,50 1,45 0,74 0,23 0,12 0,38

4 Sandang 0,16 0,10 0,12 0,08 0,09 0,21 0,26 0,23 0,14 0,09

5 Kesehatan 0,29 0,18 0,17 0,17 0,23 0,18 0,11 0,12 0,09 0,08

6 Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga 0,70 0,58 0,56 0,40 0,36 0,39 0,38 0,38 0,37 0,35

7 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan -0,44 0,68 0,05 0,20 0,00 -0,57 0,15 -0,37 -0,36 -0,29

Tren

No. Kelompok

Inflasi Kota Padang Inflasi Kota Bukittinggi

2016 Tren 2016

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah

Tekanan inflasi di Kota Padang dan Kota Bukittinggi sebagai representasi inflasi Sumbar pada triwulan IV 2016 cenderung menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Inflasi tahunan Kota Padang pada triwulan IV 2016 tercatat sebesar 5,02% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 5,07% (yoy). Penurunan inflasi IHK ini disumbang oleh kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan. Sementara itu, Kota Bukittinggi mengalami inflasi pada level 3,93% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 5,33% (yoy). Penurunan terbesar dialami oleh kelompok bahan makanan dan kelompok makanan jadi. Lebih rendahnya tekanan harga tiket angkutan udara di akhir tahun 2016 dibandingkan akhir tahun 2015, panen komoditas cabai yang terjadi

di berbagai sentra produksi di Sumbar dan meningkatnya pasokan cabai merah dari luar Sumbar menjadi faktor meredanya tekanan inflasi di Kota Padang dan Bukittinggi.

3.4.1 Perbandingan Inflasi Tahun 2016 dan 2015

Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, inflasi Sumbar pada tahun 2016 masih dominan disumbang komoditas pada kelompok volatile foods namun mengalami perbedaan dalam hal komoditas utama penyumbang inflasi beserta komposisinya. Secara agregat selama setahun, komoditas cabai merah di tahun 2016 menjadi komoditas utama penyumbang inflasi dengan andil sebesar 2,15% atau 44% dari total inflasi akhir tahun 2016 sebesar 4,89% (yoy). Selain cabai merah, komoditas beras, rokok kretek filter dan Sekolah Menengah Atas (SMA) juga menjadi penyumbang inflasi utama dengan andil masing-masing sebesar 0,33%; 0,27% dan 0,27%. Berbeda halnya dengan inflasi pada tahun 2016, inflasi yang sangat rendah/deflasi yang dialami oleh komoditas cabai merah dan beras pada tahun 2015menjadikan beberapa komoditas yang secara historis bukan merupakan penyumbang inflasi utama, justru sebagai penyumbang utama, misalnya tukang bukan mandor dan SMA. Di tahun 2015, komoditas bawang merah juga menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil sebesar 0,45%. Secara komposisi, inflasi tahun 2015 memiliki keunikan karena andil dari sepuluh komoditas utama secara agregat mencapai 2,70% atau lebih tinggi dari inflasi tahun 2015 sebesar 1,08%, sehingga komoditas di luar 10 komoditas utama secara agregat memberikan andil negatif sebesar -1,62%.

Cabai Merah 44% Beras 7% Rokok Kretek Filter 5% Sekolah Menengah Atas 5% Rokok Kretek 5% Mobil 4% Angkutan Udara 3% Bawang Merah 3% Rokok Putih 3% Kentang 3% LAINNYA 18%

10

Komoditas Utama Inflasi Sumbar

2016

Bawang Merah 10% Tukang Bukan Mandor 10% Sekolah Menengah Atas 7% Angkutan Udara 7%

Bahan Bakar Rumah Tangga

6% Pisang

5%

Rokok Kretek Filter 5% Daging Ayam Ras

5% Kacang Panjang 4% Sate 3% LAINNYA -38%

10

Komoditas Utama Inflasi Sumbar

2015

Inflasi : 4,89% (yoy) Inflasi : 1,08% (yoy) Sumber: BPS, diolah

Berdasarkan event analysis tahun 2016, komoditas cabai merah, beras dan bawang merah menjadi komoditas utama yang sering muncul dalam sepuluh komoditas utama inflasi secara bulanan. Di tahun 2016, cabai merah muncul sebanyak sebelas kali, sementara beras dan bawang merah masing-masing muncul sebanyak delapan kali dan lima kali. Tingginya inflasi ketiga komoditas tersebut tidak terlepas dari faktor gangguan cuaca, gagal panen, dan tingginya transaksi pasokan keluar daerah Sumbar. Berbeda halnya dengan tahun 2015, komoditas cabai merah dan beras cenderung tidak mengalami gangguan pasokan. Hal ini terkonfirmasi dari andil kedua komoditas tersebut pada akhir tahun 2015 masing-masing sebesar -1,29% dan -0,15%.

0,05 0,73 0,62 -0,99 -0,36 0,18 1,52 0,78 0,64 0,54 1,12 -0,01

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sept Okt Nov Des

• Gangguan pasokan • Kenaikan harga pakan • Tingginya permintaan ke

Sumbar • Banjir lokal • Penurunan harga BBM • Normalisasi harga tiket

pesawat

• Gangguan cuaca • Gagal panen • Anomali kenaikan harga

tiket pesawat ditengah low season • Gangguan cuaca • Gagal panen lanjutan di Jawa • Kenaikan tarif cukai rokok

• Musim panen disertai membaiknya cuaca • Penurunan harga BBM

dan TTL

• Musim panen lanjutan • Penurunan harga elpiji

• Gangguan pasokan • Kenaikan tarif cukai

rokok

• Turunnya produktivitas lahan dan gangguan cuaca • Tingginya permintaan

• Berkurangnya pasokan cabai dari Jawa • Meningkatnya

permintaan beras dari luar Sumbar

• Meningkatnya permintaan • Gagal panen • Isu kenaikan tarif

cukai rokok • Kelangkaan elpiji 3 Kg • Gangguan cuaca • Serangan hama wereng • Kelangkaan elpiji 3 Kg • Kenaikan TTL • Gangguan cuaca • Gagal panen • Kelangkaan elpiji 3 Kg • Musim panen Idul Fitri 6-7 Juli Idul Adha 12 Sept Inflasi bulanan Sumbar (%mtm)

Sumber: BPS, diolah 11x 8x 5x 5x 4x 2x

VF

5x 5x AP

Sumber: Analisis Bank Indonesia

Grafik 3.13. Event Analysis Inflasi Tahun 2016

3.4.2 Upaya Pengendalian Inflasi Daerah

Dalam rangka mengantisipasi risiko inflasi yang meningkat pada triwulan IV 2016, TPID Provinsi Sumbar bersama seluruh TPID Kota dan Kabupaten di Sumbar melakukan berbagai program pengendalian inflasi diantaranya sebagai berikut :

1. High Level Meeting (HLM) TPID untuk merumuskan strategi pengendalian inflasi ke depan. Pada tanggal 12 Oktober 2016, TPID Prov. Sumbar menggelar HLM TPID yang dipimpin langsung oleh Gubernur Sumbar dan dihadiri seluruh TPID kota/kabupaten

serta instansi vertikal. Dalam HLM tersebut, Gubernur Sumbar menyampaikan arahannya agar seluruh kota/kab menjalankan program penanaman cabai di pekarangan rumah atau instansi secara lebih intensif, menugaskan SKPD terkait untuk melakukan pembudidayaan jengkol, meningkatkan koordinasi dengan Bulog dalam mengimplementasikan operasi pasar cabai merah, mengefektifkan kerja sama dengan Bulog setempat untuk memperkuat cadangan pangan daerah antara lain melalui sinergi Bulog dengan klaster binaan anggota TPID, mengefektifkan pelaksanaan operasi pasar baik di sisi produsen maupun sisi konsumen, melaksanakan kerja sama dengan penegak hukum dalam memonitor stok dan distribusi pangan, melakukan koordinasi dengan maskapai penerbangan untuk mengendalikan harga tiket pesawat untuk rute dari dan ke Padang khususnya pada waktu liburan, serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait perubahan pola konsumsi melalui diversifikasi pangan.

2. Melakukan operasi pasar beras, cabai merah dan bawang merah. TPID Prov. Sumbar melalui Bulog Divre Sumbar telah melaksanakan operasi pasar beras di Pasar Raya, Pasar Siteba dan Pasar Alai dengan frekuensi pelaksanaan setiap hari pada November-Desember 2016. Selain itu, TPID Prov. Sumbar melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumbar melaksanakan program Pasar Tani di lingkungan kantor dinas terkait sejak awal November hingga Desember 2016. Pasar Tani merupakan implementasi dari konsep sub terminal agribisnis yang memfasilitasi beberapa kelompok tani untuk dapat menjual langsung hasil pertaniannya kepada masyarakat. Dengan demikian, program tersebut dapat memotong rantai distribusi sehingga harga jual yang ditawarkan dapat lebih murah dari harga pasar. Program yang dijadwalkan berlangsung setiap hari Jumat pagi tersebut juga memperdagangkan beberapa komoditas sayuran lainnya untuk keperluan rumah tangga. Tidak hanya komoditas segar, terdapat juga produk olahan seperti cabai giling dan cabai bubuk yang dijual sebagai bentuk pengenalan kepada masyarakat agar dapat menggunakan produk cabai olahan sebagai pengganti cabai segar. Sejalan dengan TPID Prov. Sumbar, TPID Kota Padang menginisiasi pelaksanaan operasi pasar cabai merah pada tanggal 13 November 2016 di Gelanggang Olah Raga H. Agus Salim di Kota Padang. Pada kegiatan tersebut dilaksanakan juga operasi pasar beras bekerja sama dengan Bulog Divre Sumbar.

3. Kenaikan harga tiket pesawat yang sering muncul menjelang hari besar keagamaan dan liburan juga menjadi perhatian TPID Prov. Sumbar yang membutuhkan strategi pengendalian secara intensif. Dalam hal ini, koordinasi dengan pihak Garuda Indonesia dilakukan dengan pemberlakuan harga tiket sesuai koridor dan penyesuaian jumlah armada penerbangan untuk mengakomodir tingginya permintaan selama

4. Penguatan koordinasi dilakukan dengan seluruh anggota TPID untuk menyelaraskan

program pengendalian inflasi ke depan sesuai Peta Jalan (Roadmap) Pengendalian

Inflasi Sumatera Barat.

5. Ke depan, untuk memperkuat ketersediaan pasokan cabai merah di Sumbar, TPID Prov. Sumbar berencana melakukan penjajakan kerja sama pasokan dengan TPID Prov. Jawa Tengah sebagai sentra produksi cabai merah sesuai dengan surat Gubernur Sumbar No. 512/1116/Perindag/PDN/2016 yang disampaikan ke Gubernur Jawa Tengah pada tanggal 29 November 2016 tentang kerjasama pasokan cabai merah.

Dalam dokumen Periode Februari 2017 (Halaman 67-72)