• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tracking Prakiraan Inflasi Triwulan I 2017

Dalam dokumen Periode Februari 2017 (Halaman 72-80)

3 BAB III PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH

3.5 Tracking Prakiraan Inflasi Triwulan I 2017

Mencermati perkembangan inflasi terkini dan berkaca pada pola musiman tahun sebelumnya, tekanan inflasi pada triwulan I 2017 diprakirakan menurun dalam level terbatas. Di sisi volatile foods, tekanan harga yang berasal dari komoditas hortikultura diperkirakan mereda seiring dengan panen komoditas cabai merah di Jawa dan Sumbar. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga KPw BI Sumbar diketahui bahwa harga rata-rata cabai merah pada Januari 2017 sebesar Rp61.281 atau lebih rendah dari rata-rata harga pada Desember 2016 sebesar Rp73.125. Walaupun tekanan dari komoditas hortikultura relatif lebih rendah, inflasi yang bersumber dari beras tetap perlu diwaspadai mengingat penurunan produksi padi pada triwulan IV 2016 akibat bencana banjir dan puso di berbagai sentra produksi di Sumbar berpotensi menyebabkan kenaikan harga gabah di triwulan I 2017. 50 70 90 110 130 150 170 190

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2013 2014 2015 2016

Ekspektasi Harga Umum dalam 6 bulan yang akan datang Perubahan harga sec umum 3 bln mendatang dibandingkan saat ini

Indeks

Sumber: Survei Konsumen BI

12.400 12.600 12.800 13.000 13.200 13.400 13.600 13.800 14.000 14.200 14.400 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000 80.000 90.000 100.000

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des Jan 2016 2017

Cabai Merah Bawang Merah Beras * -sb kanan

*) rata-rata beras jenis IR 42, Cisokan Solok, Pandan Jambi/Jawa, dan Siranda Bukittinggi

Rp/kg Rp/kg

Sumber: Survei Pemantauan Harga BI

Grafik 3.14. Ekspektasi Harga 3 dan 6 Bulan Mendatang

Grafik 3.15. Perkembangan Harga Bulanan Beras, Cabai Merah dan Bawang Merah

Pergerakan inflasi tahun 2017 mengalami tantangan yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2016. Dari sisi eksternal, tekanan inflasi didorong oleh kenaikan harga komoditas global, khususnya minyak dunia, yang akan

ditransmisikan ke harga minyak domestik. Dengan reformasi subsidi yang dilakukan pemerintah, maka kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Bahan Bakar Khusus berpeluang besar terjadi. Pada Januari 2017, PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Khusus, yaitu Pertamax, Pertamax Plus, Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite dan Pertalite sebesar Rp300 per liter sebagai bentuk penyesuaian harga minyak dunia. Di Sumbar, kebijakan ini berdampak pada kenaikan harga bensin dengan andil 0,09% (mtm). Selain BBM, kebijakan penyesuaian TTL3 yang akan dilakukan secara bertahap selama tahun 2017 (Jan, Mar, Mei) juga menambah risiko inflasi di sisi administered. Pada Januari 2017, TTL telah memberikan andil sebesar 0,11% (mtm) terhadap inflasi yang terjadi di Sumbar. Di sisi inflasi inti, kebijakan yang dilakukan provider telekomunikasi berdampak pada kenaikan harga tarif ponsel di awal tahun dengan andil inflasi mencapai 0,21% (mtm) atau tertinggi di antara seluruh kenaikan harga komoditas di Sumbar pada Januari 2017. Selain itu, adanya kebijakan kenaikan tarif perpanjangan STNK4 juga berdampak pada kenaikan inflasi inti khususnya pada kelompok barang biaya perpanjangan STNK dengan andil sebesar 0,11%.

Dengan mempertimbangkan berbagai risiko inflasi pada triwulan I 2017 serta perkembangan harga berdasarkan Survei Pemantauan Harga dan ekspektasi harga ke depan berdasarkan Survei Konsumen, inflasi Sumbar pada triwulan I 2017 diprakirakan berada pada kisaran 4,3% - 4,7% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,89% (yoy).

Dalam rangka mengantisipasi tekanan inflasi pada triwulan I 2017, TPID Provinsi Sumbar melakukan sejumlah langkah antisipatif melalui pelaksanaan High Level Meeting (HLM) TPID pada tanggal 24 Januari 2017 yang dihadiri

3 Permen ESDM No. 28 Tahun 2016 tanggal 20 Okttober 2016 tentang Tarif Tenaga Listrik yang

Disediakan oleh PT. PLN yg telah mendapat persetujuan DPR Komisi VII 22 Sept 2016 memutuskan bahwa untuk pelanggan 900VA yg tidak layak subsidi akan dilakukan kenaikan tarif secara

.

4 Berdasarkan PP No. 60 Th 2016 yg menggantikan PP No. 50 Th 2010 tentang Jenis dan Tarif atas

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), tarif perpanjangan STNK secara weighted avg naik sebesar

langsung oleh Gubernur Sumbar. Beberapa arahan Gubernur Sumbar dalam HLM tersebut antara lain: (i) setiap kepala daerah segera menindaklanjuti program penanaman cabai merah dalam polybag di setiap rumah warga dan selanjutnya diperluas cakupannya pada lingkungan sekolah dan instansi lainnya; (ii) memperbanyak jumlah Toko Tani Indonesia di setiap daerah; (iii) Dinas PU agar ikut memantau kelancaran arus lalu lintas khususnya apabila terjadi bencana longsor; (iv) mendirikan papan harga di setiap pasar di setiap daerah; dan (v) mengatur pola tanam yang akan dikoordinasikan kepada gapoktan.

Secara spasial, rata-rata inflasi tahunan Sumatera, Kalimantan dan KTI (Nusa Tenggara, Maluku dan Papua) periode 2003-2015 tercatat 7,15% (yoy) atau lebih tinggi dari rata-rata wilayah Jawa sebesar 6,9% (yoy). Pada periode 2006-2015 inflasi provinsi Sumatera Barat (Sumbar) cenderung berada di atas nasional kecuali periode tahun 2009, 2012 dan 2015. Hal ini berarti bahwa daya beli masyarakat Sumbar tergerus relatif lebih besar bila dibandingkan dengan rata-rata daya beli masyarakat di daerah lain. Khusus di Sumatera Barat, pengukuran inflasi hanya dilakukan di kota Padang dan Bukittinggi. Dalam pemenuhan kebutuhannya, kedua kota ini ditopang oleh suplai barang dan jasa dari kabupaten-kabupaten penyangganya seperti Kabupaten Solok, Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, dan kabupaten lainnya. Disamping itu provinsi-provinsi lain juga berperan besar dalam menyuplai barang dan jasa ke Padang dan Bukittinggi seperti provinsi Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Jambi.

Inflasi regional umumnya memiliki karakteristik yang lebih dipengaruhi oleh tekanan di sisi penawaran dibandingkan permintaan. Demikian halnya dengan inflasi di Sumbar yang lebih dominan di sisi penawaran. Dominasi sisi penawaran lebih terasa dibandingkan sisi permintaan yang hanya bergejolak di musim-musim tertentu (misalnya saat paceklik atau cuaca yang tidak kondusif), mengakibatkan kebijakan moneter menjadi kurang efektif untuk mengatasi inflasi di daerah. Oleh karena itu penelitian terkait dengan inflasi di sisi penawaran sangat penting untuk dilakukan, sehingga dapat diketahui seberapa besar tingkat persistensi inflasi di Sumbar dan faktor penyebabnya dilihat dari aspek jalur distribusi, struktur pasar, dan mekanisme pembentukan harga dari suatu komoditas. Komoditas yang menjadi cakupan dalam penelitian ini adalah cabai merah dan bawang merah yang merupakan komoditas utama penyumbang inflasi di Sumbar selain beras, daging ayam dan telur ayam (sesuai roadmap pengendalian yang telah di sahkan oleh Gubernur Sumatera Barat pada Mei 2016).

Penelitian ini menggunakan metode survei untuk memperoleh data primer berupa informasi terkait struktur pasar, tata niaga dan perilaku pembentukan harga mulai dari produsen hingga konsumen serta analisis kuantitatif terhadap data sekunder berupa inflasi tahunan (yoy) secara bulanan dengan menggunakan IHK Provinsi Sumbar periode 2003-2015 dengan software STATA untuk menentukan derajat persistensi inflasi. Survei yang dilakukan merupakan kerja

BOKS 2:

Pelaksanaan Technical Assistance Tim Pengendalian Inflasi Daerah se-Provinsi

Sumatera Barat

eksternal. Populasi dalam kajian ini adalah produsen dan pedagang yang menjadi pelaku dalam proses distribusi komoditas cabai merah dan bawang merah di Sumatera Barat. Metode penarikan sampel dalam penelitian menggunakan teknik pengumpulan sampel nonprobability sampling yaitu metode pusposive sampling yakni penarikan sampel yang sengaja ditentukan oleh surveyor/peneliti. Survei pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan penelusuran saluran penjualan dari level produsen kemudian dilanjutkan ke level yang lebih tinggi yaitu pedagang (Snow Ball).

Pendekatan statistik univariate dan multivariate dapat digunakan untuk mengukur persistensi inflasi. Pendekatan univariate lebih menekankan hanya pada aspek data time series, sedangkan dalam pendekatan multivariate terdapat tambahan informasi seperti real output dan tingkat suku bunga bank sentral (Dossche dan Everaert 2005). Pendekatan univariate dengan menggunakan autoregressive (AR) time series model merupakan pendekatan yang paling lazim dalam riset empiris. Analisis dengan pendekatan univariate menunjukkan bahwa derajat persistensi inflasi kota Padang tergolong tinggi yaitu sebesar 0,84 pada peride full sample. Pada periode sub sample, terlihat bahwa persistensi inflasi pada periode 2007-2010 lebih tinggi daripada periode 2003-2006 maupun 2011-2015. Hal ini terutama karena dampak kenaikan harga BBM dan juga efek dari kenaikan harga komoditas internasional. Pada periode 2011-2015, tingkat persistensi inflasi Sumbar cenderung menurun seiring tren penurunan harga minyak internasional dan BBM domestik serta membaiknya koordinasi pengendalian inflasi daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah. Menurunnya tingkat persistensi juga tercermin pada penurunan nilai half-life-nya. Pada periode 2007-2010 dengan tingkat persistensi inflasi sebesar 0,94, nilai half-life-nya tercatat 11,2, sedangkan pada periode 2011-2015 dengan tingkat persistensi inflasi sebesar 0,83, nilai half-life-nya menurun menjadi 3,8. Dengan koefisien persistensi inflasi sebesar 0,83, maka 50% waktu penyesuaian yang dibutuhkan untuk kembali ke titik awal semula akan membutuhkan waktu sekitar + 3,8 bulan atau dengan kata lain 50% shock akan diserap dalam tempo 3,8 bulan.

Tabel 1. Derajat Persistensi Inflasi Umum Provinsi se-Sumatera

Wil. Sumatra Full Sample 2003-2006 2007-2010 2011-2015

Half Life Half Life Half Life Half Life

Aceh 0,86 4,5 0,97 20,7 0,86 4,7 0,86 4,7 Babel 0,83 3,6 0,85 4,3 0,95 12,6 0,63 1,5 Bengkulu 0,87 5,1 0,94 12,0 0,94 11,9 0,88 5,2 Jambi 0,83 3,7 0,87 5,0 0,94 11,1 0,79 2,9 Lampung 0,90 6,5 0,95 13,0 0,95 14,4 0,85 4,1 Sumut 0,88 5,4 0,94 10,3 0,95 14,7 0,89 5,8 Riau 0,87 5,1 0,89 6,2 0,96 18,3 0,88 5,4 Kepri 0,90 6,7 0,93 10,2 0,95 12,7 0,94 11,0 Sumsel 0,88 5,3 0,91 6,9 0,98 35,0 0,84 4,1 Sumbar 0,84 3,9 0,90 6,5 0,94 11,2 0,83 3,8

Sumber : Pengolahan Data STATA, Kajian Analisis Persistensi Inflasi Sumbar

Jika ditinjau per kelompok barang maka derajat persistensi inflasi tertinggi terjadi pada kelompok transportasi sedangkan terendah terjadi pada kelompok bahan makanan. Pada periode full sample persistensi inflasi transportasi, makanan jadi dan bahan makanan masing-masing tercatat 0,85; 0,84 dan 0,81. Adanya faktor musiman seperti hari raya dan musim panen menyebabkan harga bahan makanan cenderung volatile dan setelah terjadi kenaikan, harga komoditas pada kelompok ini lebih cepat turun dibandingkan komoditas-komoditas pada kelompok lainnya. Secara spasial, persistensi inflasi Sumbar cenderung lebih rendah dari provinsi lain di Sumatera. Pada periode full sample, derajat persistensi inflasi tertinggi dialami oleh Provinsi Lampung dan terendah terjadi pada Provinsi Jambi. Sumbar dengan tingkat persistensi inflasi 0,84 berada pada peringkat 3 paling rendah se-Sumatera.

Dari hasil analisis data primer dengan menggunakan metode survei menunjukkan bahwa faktor distribusi yang berperan penting dalam pembentukan harga antara lain adalah panjang mata rantai distribusi, biaya distribusi, dan

gangguan distribusi. Dalam mendistribusikan komoditasnya, terdapat

kecenderungan karakter pedagang di titik menengah (distributor, pedagang besar, pedagang besar) yang selain menjual komoditasnya ke rantai berikutnya tapi juga melakukan penjualan langsung dalam jumlah besar ke konsumen akhir. Dengan memotong rantai niaga, konsumen akhir akan diuntungkan karena memperoleh harga yang lebih murah dibandingkan bila membeli di pengecer. Berkaitan dengan jalur distribusi, Sumbar memiliki keterkaitan yang erat dengan berbagai provinsi di Sumatera. Sumbar merupakan produsen utama bawang merah dan cabai merah dengan beberapa kabupaten pemasok seperti Kabupaten

Solok, Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar. Khusus cabai merah, adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara kota/kabupaten di Sumbar dengan kota/kabupaten di luar Sumbar menyebabkan tingginya ekspor antar daerah (terjadi arbitrase) untuk komoditas tersebut ke beberapa provinsi lain di Sumatera seperti Riau dan Kepulauan Riau. Untuk memenuhi kebutuhan cabai merah di Sumbar, pedagang justru membeli cabai merah dari provinsi lain seperti Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Demikian halnya dengan bawang merah yang dominan dipasok Sumatera Utara dan Jambi. Dalam hal hambatan logistik, gangguan cuaca dan kerusakan infrastruktur (seperti jalan) merupakan hambatan terberat yang dihadapi pedagang. Margin tertinggi pada rantai perdagangan bawang merah terjadi pada titik pemasok utama dan distributor utama sementara pada rantai komoditas cabai merah, margin tertinggi diperoleh pengepul (dalam kondisi normal). Hal ini mengkonfirmasi asumsi bahwa margin keuntungan pedagang lebih besar dari produsen serta asumsi pedagang di tingkat hulu memiliki margin keuntungan yang lebih besar dari tingkat menengah dan hilir (eceran).

Struktur pasar pada titik produsen, pedagang grosir dan pedagang eceran cenderung pasar persaingan sempurna. Sementara pada pengepul, struktur pasar cenderung pasar persaingan sempurna yang mengarah ke oligopsoni dan pada pemasok utama, distributor utama dan pedagang besar, struktur pasar cenderung pasar persaingan sempurna yang mengarah ke oligopoli. Apabila tidak memasok ke pasar, pemasok utama, distributor utama dan pedagang besar merupakan pelaku dagang yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pasokan dan harga dengan alasan sebagai pemasok utama, harga komoditas yang lebih murah, hubungan dengan pembeli yang sudah terjalin lama dan baik hingga alasan tidak pernah kehabisan pasokan pesanan.

Faktor ketersediaan supply/pasokan dibandingkan jumlah permintaannya merupakan faktor paling berpengaruh yang menjadi penentu harga jual. Dalam menetapkan harga jual, mayoritas responden cenderung mengikuti harga pasar tertinggi. Hal ini menjelaskan fenomena tingginya persistensi inflasi di Sumbar. Dalam menentukan harga beli dan harga jual, hampir seluruh pedagang menggunakan mekanisme kesepakatan antara penjual dan pembeli. Secara umum, hampir seluruh pelaku perdagangan menyatakan bahwa harga penjualan naik pada semester II dengan kenaikan tertinggi yaitu pada bulan Juli, Agustus, September seiring dengan siklus perayaan keagamaan dan tahun ajaran baru. Ketika terjadi perubahan harga, baik biaya produksi oleh produsen atau pembelian oleh pedagang, hampir seluruh pelaku dalam rantai distribusi akan melakukan perubahan harga pada saat itu juga, baik untuk kenaikan maupun penurunan harga. Pedagang mayoritas memperoleh informasi perubahan harga

dari pemasok, kemudian disusul dari pedagang lainnya, media komunikasi, media cetak dan pembeli.

Dari penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa rekomendasi untuk mengurangi persistensi inflasi yang tinggi di Sumbar antara lain melalui perbaikan infrastruktur untuk mendukung ketersediaan supply kebutuhan barang dan jasa di daerah, peningkatan posisi tawar produsen khususnya dalam sistem penentuan harga komoditas, penguatan TPID tidak hanya dilakukan pada kota sample inflasi tapi juga kota/kabupaten lainnya yang merupakan daerah asal (produsen) komoditas utama penyumbang inflasi, penyediaan pusat informasi harga pada berbagai tingkat perdagangan dan lokasi komoditas yang mudah di akses oleh pelaku usaha, pemetaan jumlah komoditas yang masuk dan keluar Sumbar (akurasi data surplus defisit), penerapan mitigasi risiko kenaikan harga khususnya saat pasokan sedikit dan siklus musiman (mis: hari raya keagamaan), pembangunan gudang dan cold storage sebagai buffer stock komoditas yang rentan terhadap cuaca dan pengembangan teknologi pengawetan seperti cabai giling dan cabai bubuk untuk mengantisipasi musim paceklik.

Dalam dokumen Periode Februari 2017 (Halaman 72-80)