• Tidak ada hasil yang ditemukan

Periode Februari 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Periode Februari 2017"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Periode Februari 2017

KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA BARAT

DIVISI ADVISORY DAN PENGEMBANGAN EKONOMI Jl. Jenderal Sudirman No. 22 Padang

(4)

Penerbit :

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat

Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi Daerah

Jl. Jenderal Sudirman No. 22 P A D A N G

Telp : 0751-31700

Fax : 0751-27313

e-mail : Bimo Epyanto ([email protected])

Kun Anifatussolikhah ([email protected])

Hasudungan P. Siburian ([email protected])

Rizky Shantika Putri ([email protected])

Hans Aulia Utama Hsb ([email protected])

(5)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, kali ini kami menghadirkan kembali publikasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Sumatera Barat periode Februari 2017. Kami mengharapkan publikasi ini memenuhi harapan sebagai rujukan informasi dan bahan masukan tentang perkembangan ekonomi dan keuangan Sumatera Barat bagi para pemangku kepentingan kami: pemerintah daerah; industri perbankan dan keuangan; akademisi, pelaku usaha dan para pihak terkait. Selain kami terbitkan dalam bentuk buku (hardcopy), kami juga menyediakan bentuk softcopy yang dapat diakses melalui situs kami: www.bi.go.id.

Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan IV 2016 tercatat tumbuh sebesar 4,86% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan III 2016 sebesar 4,81% (yoy) dan berada di posisi ke-8 di regional Sumatera. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada tahun 2016 melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Perekonomian Sumatera Barat hanya tumbuh sebesar 5,26% (yoy) melemah dibandingkan tahun 2015 sebesar 5,52% (yoy), bahkan lebih rendah dibandingkan historis 5 (lima) tahun terakhir (2011 2015) sebesar 6,03 %.

Laju inflasi Sumbar pada triwulan IV 2016 tercatat sebesar 4,89% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 5,10% (yoy). Menurunnya tingkat inflasi tersebut didorong oleh meredanya tekanan harga yang disebabkan oleh komoditas cabai seiring dengan panen di berbagai sentra produksi di Jawa dan Sumbar serta faktor kebijakan harga tiket angkutan udara yang lebih rendah dari rata-rata historis pada penghujung tahun. Pada akhir tahun 2016, inflasi Sumbar tercatat lebih tinggi dari nasional (3,02%, yoy) dan inflasi Sumatera (4,53%, yoy). Secara regional dan nasional, Sumatera Barat tercatat sebagai provinsi dengan laju inflasi tahunan tertinggi ke-4 (empat) setelah Bangka Belitung, Sumatera Utara dan Bengkulu.

Contoh penggalan kajian seperti tersebut di atas kami tuangkan secara lengkap dalam KEKR dan kami sertai dengan data serta informasi yang memadai yang kami olah dan peroleh dari para mitra strategis Bank Indonesia. Dalam kesempatan ini, kami menyampaikan penghargaan yang tinggi dan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada para pihak yang selama ini membantu dan mendukung tersedianya data dan informasi hingga terbitnya publikasi KEKR. Semoga dukungan dan kerjasama yang terjalin selama ini mampu terus dipertahankan dan ditingkatkan pada masa yang akan datang.

(6)

Tak ada gading yang tak retak. Kami berharap adanya masukan, kritikan dan saran dari para pembaca dalam rangka penyempurnaan KEKR ini. Akhirnya, semoga publikasi ini memberikan manfaat. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu melindungi langkah kita dalam tetap terus berkarya untuk negeri.

Padang, Februari 2017

KEPALA PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SUMATERA BARAT

(ttd)

Puji Atmoko Direktur

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GRAFIK ... xi

RINGKASAN EKSEKUTIF ... xiv

1 BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH ... 1

1.1 Perkembangan Umum ... 2

1.2 Dinamika Sisi Pengeluaran Perekonomian Sumatera Barat ... 3

1.2.1 Konsumsi Rumah Tangga ... 3

1.2.2 Konsumsi Pemerintah ... 5

1.2.3 Investasi ... 6

1.2.4 Ekspor ... 7

1.2.5 Impor... 10

1.3 Dinamika Lapangan Usaha Ekonomi Utama Sumatera Barat ... 11

1.3.1 Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan ... 12

1.3.2 Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, serta Reparasi Mobil dan Sepeda Motor ... 13

1.3.3 Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan ... 15

1.3.4 Lapangan Usaha Industri Pengolahan ... 16

1.4 Asesmen Perkembangan Ekonomi Selama Tahun 2016 ... 17

1.5 Prakiraan Perkembangan Ekonomi Triwulan I 2017 ... 18

2 BAB II KEUANGAN PEMERINTAH ... 21

2.1 Gambaran Umum ... 21

2.2 APBD Provinsi Sumatera Barat ... 23

2.2.1 Anggaran Pendapatan Provinsi Sumatera Barat ... 23

2.2.2 Realisasi Pendapatan Provinsi Sumatera Barat ... 24

2.2.3 Anggaran Belanja Provinsi Sumatera Barat ... 25

2.2.4 Realisasi Belanja Provinsi Sumatera Barat ... 25

2.3 APBD 19 Kabupaten/Kota di Sumatera Barat ... 26

2.3.1 Anggaran Pendapatan 19 Kabupaten/Kota di Sumatera Barat ... 26

2.3.2 Realisasi Pendapatan 19 Kabupaten/Kota di Sumatera Barat ... 27

2.3.3 Anggaran Belanja 19 Kabupaten/Kota di Sumatera Barat ... 29

2.3.4 Realisasi Belanja 19 Kabupaten/Kota di Sumatera Barat ... 30

2.4 Alokasi APBN di Sumatera Barat ... 32

(8)

3 BAB III PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH ... 35

3.1 Perkembangan Umum Inflasi Provinsi Sumatera Barat ... 36

3.2 Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang dan Jasa ... 37

3.2.1 Inflasi Tahunan Berdasarkan Kelompok Barang dan Jasa ... 37

3.2.2 Inflasi Triwulanan Berdasarkan Kelompok Barang dan Jasa ... 38

3.2.3 Inflasi Bulanan Berdasarkan Kelompok Barang dan Jasa ... 39

3.3 Disagregasi Inflasi ... 46

3.4 Inflasi Menurut Kota: Kota Padang dan Bukittinggi ... 48

3.4.1 Perbandingan Inflasi Tahun 2016 dan 2015 ... 50

3.4.2 Upaya Pengendalian Inflasi Daerah ... 51

3.5 Tracking Prakiraan Inflasi Triwulan I 2017 ... 53

4 BAB IV STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM ... 61

4.1 Ketahanan Sektor Rumah Tangga Daerah ... 62

4.1.1 Kinerja Keuangan Rumah Tangga ... 62

4.1.2 Dana Pihak Ketiga Perseorangan di Perbankan ... 64

4.1.3 Kredit Perbankan Sektor Rumah Tangga ... 66

4.2 Ketahanan Sektor Korporasi ... 68

4.2.1 Kinerja Korporasi ... 68

4.2.2 Eksposur Sektor Perbankan Pada Sektor Korporasi ... 73

4.3 Institusi Keuangan (Perbankan) ... 76

4.3.1 Aset Perbankan ... 76

4.3.2 Intermediasi Perbankan ... 77

4.3.3 Perbankan Syariah... 80

4.4 Akses Keuangan ... 81

4.4.1 Akses Keuangan UMKM ... 81

4.4.2 Akses Keuangan Penduduk ... 83

5 BAB V PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH ... 86

5.1 Perkembangan Transkasi Non Tunai ... 87

5.1.1 Transaksi Kliring ... 87

5.1.2 Layanan Keuangan Digital ... 87

5.2 Perkembangan Transaksi Tunai ... 94

5.2.1 Pengelolaan Uang Rupiah ... 94

5.2.2 Perkembangan Uang Tidak Layar Edar dan Uang Palsu ... 94

6 BAB VI KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN DAERAH ... 101

6.1 Ketenagakerjaan Daerah ... 102

6.2 Kesejahteraan Daerah ... 105

(9)

6.4 Perkembangan Nilai Tukar Petani Sumatera Barat ... 109

7 BAB VII PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH ... 111

7.1 Prospek Ekonomi ... 112

7.1.1 Prospek Sisi Permintaan ... 114

7.1.2 Prospek Sisi Penawaran ... 117

(10)

DAFTAR TABEL

TABEL 1.1.PERTUMBUHAN PRODUK DOMESTIK BRUTO (PDRB)BERDASARKAN PENGELUARAN ... 3

TABEL 1.2.PERTUMBUHAN PRODUK DOMESTIK BRUTO (PDRB)BERDASARKAN LAPANGAN USAHA ... 12

TABEL 2.1.PAGU ANGGARAN PENDAPATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2015 DAN 2016 ... 23

TABEL 2.2.REALISASI PENDAPATAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2015 DAN 2016 ... 24

TABEL 2.3.PAGU ANGGARAN BELANJA PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2015 DAN 2016 ... 25

TABEL 2.4.REALISASI BELANJA PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2015 DAN 2016 ... 26

TABEL 2.5.PAGU ANGGARAN PENDAPATAN 19KABUPATEN/KOTA DI SUMATERA BARAT TAHUN 2015 DAN 2016 ... 26

TABEL 2.6.ALOKASI DIDTAHUN 2016 ... 27

TABEL 2.7.REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN 19KABUPATEN/KOTA DI SUMATERA BARAT TAHUN 2016 ... 28

TABEL 2.8.PANGSA SUMBER PENDAPATAN KAB/KOTA DI SUMATERA BARAT TAHUN 2016 ... 28

TABEL 2.9. PAGU ANGGARAN BELANJA 19KABUPATEN/KOTA DI SUMATERA BARAT TAHUN 2016 ... 30

TABEL 2.10. REALISASI BELANJA 19KABUPATEN/KOTA DI SUMATERA BARAT TAHUN 2016 ... 30

TABEL 2.11. PANGSA JENIS BELANJA BELANJA KABUPATEN/KOTA DI SUMATERA BARAT TAHUN 2016 ... 31

TABEL 2.12. PAGU/ANGGARAN KEMENTERIAN/LEMBAGA YANG BERSUMBER DARI APBNTAHUN 2016 ... 33

TABEL 2.13. REALISASI BELANJA KEMENTERIAN/LEMBAGA YANG BERSUMBER DARI APBNTAHUN 2016 ... 33

TABEL 3.1.PERKEMBANGAN INFLASI TAHUNAN SUMATERA BARAT MENURUT KELOMPOK BARANG DAN JASA ... 37

TABEL 3.2.INFLASI BULANAN BERDASARKAN KELOMPOK BARANG (%,MTM) ... 39

TABEL 3.3.ANDIL INFLASI BULANAN BERDASARKAN KELOMPOK BARANG (%) ... 39

TABEL 3.4.KOMODITAS UTAMA PENYUMBANG INFLASI BULANAN TRIWULAN IV2016(%,MTM) ... 40

TABEL 3.5.PERKEMBANGAN INFLASI KOTA PADANG MENURUT KELOMPOK BARANG DAN JASA (%, YOY) ... 49

TABEL 4.1.KOMPOSISI PENGELUARAN RUMAH TANGGA BERDASARKAN PENDAPATAN ... 63

TABEL 4.2.DANA RUMAH TANGGA UNTUK MEMBAYAR CICILAN DAN PERUBAHANNYA BERDASARKAN PENDAPATAN ... 64

TABEL 4.3.DANA RUMAH TANGGA UNTUK MENABUNG DAN PERUBAHANNYA BERDASARKAN PENDAPATAN ... 64

TABEL 4.4.KOMPOSISI JUMLAH REKENING PERSEORANGAN PER NILAI PENEMPATAN ... 66

TABEL 4.5.PERKIRAAN BEBAN ANGSURAN TERHADAP PENDAPATAN KORPORASI 6BULAN MENDATANG ... 72

TABEL 4.6.INDIKATOR PERKEMBANGAN BANK UMUM SUMATERA BARAT ... 76

TABEL 4.7.INDIKATOR PERKEMBANGAN BANK SYARIAH SUMATERA BARAT ... 80

TABEL 5.1.PENDUDUK USIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT JENIS KEGIATAN UTAMA (JUTA ORANG) ... 89

TABEL 5.2.INDIKATOR POTENSI PENGEMBANGAN KEUANGAN INKLUSIF DI SUMBAR 2015 ... 91

TABEL 6.1.PENDUDUK USIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT JENIS KEGIATAN UTAMA (JUTA ORANG) ... 102

TABEL 6.2.PERKEMBANGAN NTPPROVINSI DI SUMATERA ... 109

(11)

DAFTAR GRAFIK

GRAFIK 1.1.PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI DI KAWASAN SUMATERA PADA TRIWULAN IV2016 ... 2

GRAFIK 1.2.PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT DAN NASIONAL ... 2

GRAFIK 1.3.PERTUMBUHAN KONSUMSI RUMAH TANGGA ... 4

GRAFIK 1.4.KONTRIBUSI PDRBTW IV2016MENURUT PERMINTAAN ... 4

GRAFIK 1.5.INDEKS KEYAKINAN KONSUMEN (IKK) ... 5

GRAFIK 1.6.INDEKS TENDENSI KONSUMSI (ITK) ... 5

GRAFIK 1.7.INDEKS HARGA PROPERTI (SHPR) ... 5

GRAFIK 1.8.REALISASI BELANJA DAERAH APBDPROVINSI SUMATERA BARAT ... 6

GRAFIK 1.9.PERTUMBUHAN KOMPONEN INVESTASI ... 7

GRAFIK 1.10.INVESTASI PMA DAN PMDN ... 7

GRAFIK 1.11.PERKEMBANGAN KREDIT INVESTASI ... 7

GRAFIK 1.12.EKSPOR DAN IMPOR LUAR NEGERI ... 8

GRAFIK 1.13.EKSPOR IMPOR ANTAR DAERAH ... 8

GRAFIK 1.14. PERKEMBANGAN NILAI DAN VOLUME EKSPOR KOMODITAS KARET ... 8

GRAFIK 1.15. PERTUMBUHAN VOLUME EKSPOR KOMODITAS UTAMA ... 8

GRAFIK 1.16. PORSI EKSPOR KOMODITAS UTAMA ... 9

GRAFIK 1.17. PORSI NEGARA TUJUAN EKSPOR SUMBAR ... 9

GRAFIK 1.18. AKTIVITAS PERDAGANGAN LUAR NEGERI MELALUI PELABUHAN TELUK BAYUR ... 9

GRAFIK 1.19.AKTIVITAS PERDAGANGAN ANTAR DAERAH MELALUI PELABUHAN TELUK BAYUR ... 9

GRAFIK 1.20.VOLUME IMPOR KOMODITAS UTAMA NON MIGAS ... 10

GRAFIK 1.21.PERKEMBANGAN NILAI IMPOR NON MIGAS ... 10

GRAFIK 1.22.NILAI IMPOR BERDASARKAN KELOMPOK ... 11

GRAFIK 1.23.PORSI IMPOR KOMODITAS NON MIGAS TRIWULAN V2016 ... 11

GRAFIK 1.24.ASAL BARANG IMPOR SUMATERA BARAT TRIWULAN IV2016 ... 11

GRAFIK 1.25.KONTRIBUSI PDRBMENURUT LAPANGAN USAHA ... 13

GRAFIK 1.26.PERTUMBUHAN PDRB PER LAPANGAN USAHA UTAMA SUMBAR ... 13

GRAFIK 1.27.PERKEMBANGAN HARGA GABAH ... 13

GRAFIK 1.28. PERKEMBANGAN KREDIT PERTANIAN ... 13

GRAFIK 1.29. INDEKS KONSUMSI BARANG-BARANG KEBUTUHAN TAHAN LAMA ... 14

GRAFIK 1.30. JUMLAH WISATAWAN MELALUI BANDARA INTERNASIONAL MINANGKABAU DAN PELABUHAN TELUK BAYUR ... 14

GRAFIK 1.31. PENDAFTARAN KENDARAAN BARU (MOBIL) DI SUMATERA BARAT ... 15

GRAFIK 1.32. PEMAKAIAN LISTRIK KELOMPOK PELANGGAN BISNIS ... 15

GRAFIK 1.33. PERKEMBANGAN INDEKS KEGIATAN USAHA SEKTOR TRANSPORTASI DAN PERGUDANGAN (SKDU) .. 16

GRAFIK 1.34. PERKEMBANGAN INDEKS HARGA JUAL SEKTOR TRANSPORTASI DAN PERGUDANGAN (SKDU) ... 16

GRAFIK 1.35.PERKEMBANGAN KREDIT LAPANGAN USAHA TRANSPORTASI ... 16

GRAFIK 1.36.PERTUMBUHAN PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR ... 17

GRAFIK 1.37.PERKEMBANGAN PENJUALAN SEMEN DI SUMATERA BARAT ... 17

GRAFIK 1.38.INDEKS PERKEMBANGAN KEGIATAN USAHA SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN (SKDU ... 17

GRAFIK 1.39.PERKEMBANGAN HARGA CPO DAN KARET DUNIA ... 19

GRAFIK 1.40.PRAKIRAAN CUACA JANUARI 2017 ... 19

GRAFIK 1.41.PRAKIRAAN CUACA FEBRUARI 2017 ... 19

GRAFIK 1.42.PRAKIRAAN CUACA MARET 2017 ... 19

GRAFIK 1.43.PRAKIRAAN CUACA NOVEMBER 2016 ... 20

GRAFIK 1.44.PRAKIRAAN CUACA DESEMBER 2016 ... 20

GRAFIK 2.1.REALISASI BELANJA DI SUMATERA BARAT TAHUN 2015 DAN 2016 ... 22

GRAFIK 2.2.RASIO REALISASI BELANJA KABUPATEN/KOTA TERHADAP ANGGARAN TAHUN 2016 ... 22

(12)

GRAFIK 2.5.SURPLUS/DEFISIT ANGGARAN KABUPATEN/KOTA DI SUMATERA BARAT TAHUN 2016 ... 32

GRAFIK 2.6. REALISASI BELANJA KEMENTERIAN/LEMBAGA DI SUMATERA BARAT BERDASARKAN FUNGSI TAHUN 2015 ... 34

GRAFIK 2.7. REALISASI BELANJA KEMENTERIAN/LEMBAGA DI SUMATERA BARAT BERDASARKAN FUNGSI TAHUN 2016 ... 34

GRAFIK 3.1.PERKEMBANGAN INFLASI SUMBAR,SUMATERA DAN NASIONAL ... 36

GRAFIK 3.2.PERBANDINGAN INFLASI PROVINSI SE-SUMATERA (TW III DAN IV TAHUN 2016) ... 36

GRAFIK 3.3.INFLASI TAHUNAN (% YOY)BERDASARKAN KELOMPOK BAHAN MAKANAN ... 37

GRAFIK 3.4.ANDIL KOMODITAS CABAI MERAH DAN BERAS TERHADAP INFLASI SUMBAR ... 37

GRAFIK 3.5.PERKEMBANGAN IHKCABAI SUMBAR VS PRODUKSI CABAI MERAH SUMBAR,SUMUT &JATENG ... 41

GRAFIK 3.6.DISAGREGASI INFLASI TAHUNAN PROVINSI SUMBAR ... 46

GRAFIK 3.7.DISAGREGASI INFLASI TAHUNAN PROVINSI SUMBAR ... 46

GRAFIK 3.8.IKK,IKE DAN IEKKONSUMEN DI SUMBAR ... 47

GRAFIK 3.9.LAJU INFLASI SUMATERA BARAT BERDASARKAN DISAGREGASI INFLASI ... 48

GRAFIK 3.10.KONTRIBUSI INFLASI TAHUNAN (YOY)SUMATERA BARAT BERDASARKAN DISAGREGASI INFLASI ... 48

GRAFIK 3.11.PERKEMBANGAN INFLASI KOTA PADANG DAN BUKITTINGGI ... 49

GRAFIK 3.12.PERBANDINGAN ANDIL INFLASI SUMBAR TAHUN 2015 DAN 2016 ... 50

GRAFIK 3.13.EVENT ANALYSIS INFLASI TAHUN 2016 ... 51

GRAFIK 3.9.EKSPEKTASI HARGA 3 DAN 6BULAN MENDATANG ... 53

GRAFIK 3.10.PERKEMBANGAN HARGA BULANAN BERAS,CABAI MERAH DAN BAWANG MERAH ... 53

GRAFIK 4.1.KOMPOSISI PENGELUARAN RUMAH TANGGA ... 63

GRAFIK 4.2.KOMPOSISI DPKSUMATERA BARAT ... 65

GRAFIK 4.3.PERTUMBUHAN DPKPERSEORANGAN ... 65

GRAFIK 4.4.KOMPOSISI DPKPERSEORANGAN SUMATERA BARAT ... 65

GRAFIK 4.5.PERTUMBUHAN DPKPERSEORANGAN TIAP JENIS PENEMPATAN ... 65

GRAFIK 4.6.PERTUMBUHAN KREDIT RUMAH TANGGA ... 66

GRAFIK 4.7.PANGSA KREDIT SEKTOR RUMAH TANGGA ... 66

GRAFIK 4.8.PERKEMBANGAN JUMLAH MOTOR ... 67

GRAFIK 4.9.PERKEMBANGAN HARGA PROPERTI RESIDENSIAL (SHPR) DI SUMATERA BARAT... 67

GRAFIK 4.10.PERKEMBANGAN NPLKREDIT RUMAH TANGGA ... 67

GRAFIK 4.11.KINERJA KORPORASI DI SUMATERA BARAT BERDASARKAN LIAISON TRIWULAN II2016 ... 69

GRAFIK 4.12.KONDISI KEGIATAN USAHA DI SUMATERA BARAT ... 70

GRAFIK 4.13.INDEKS KEYAKINAN KONSUMEN ... 70

GRAFIK 4.14.PERKEMBANGAN KONDISI LIKUIDITAS KEUANGAN KORPORASI DI SUMATERA BARAT ... 71

GRAFIK 4.15.KONDISI LIKUIDITAS KEUANGAN KORPORASI BERDASARKAN SEKTORAL ... 71

GRAFIK 4.16.PANGSA KREDIT BERDASARKAN JENIS PENGGUNAAN DI SUMBAR ... 74

GRAFIK 4.17.PERTUMBUHAN KREDIT BERD.JENIS PENGGUNAAN ... 74

GRAFIK 4.18.PERTUMBUHAN 4SEKTOR TERBESAR KREDIT KORPORASI DI SUMBAR ... 75

GRAFIK 4.19.NPL4SEKTOR TERBESAR KREDIT KORPORASI DI SUMBAR ... 75

GRAFIK 4.20.PERTUMBUHAN ASET BANK UMUM SUMATERA BARAT ... 77

GRAFIK 4.21.SUKU BUNGA TERTIMBANG DPK DAN KREDIT BANK UMUM SUMBAR ... 77

GRAFIK 4.22.PERTUMBUHAN DPKBANK UMUM MENURUT JENIS SIMPANAN (YOY) ... 78

GRAFIK 4.23.PERKEMBANGAN NILAI DPKMENURUT JENIS SIMPANAN ... 78

GRAFIK 4.24.PERTUMBUHAN KREDIT BANK UMUM BERDASARKAN JENIS PENGGUNAAN ... 78

GRAFIK 4.25.PERKEMBANGAN LDR DAN NPLBANK UMUM ... 78

GRAFIK 4.26.PERTUMBUHAN INDIKATOR PERBANKAN SYARIAH SUMBAR ... 81

GRAFIK 4.27.PERTUMBUHAN JENIS-JENIS DANA PIHAK KETIGA PERBANKAN SYARIAH SUMBAR ... 81

GRAFIK 4.28.PERTUMBUHAN KREDIT UMKM ... 82

GRAFIK 4.29.PROPORSI KREDIT UMKMSISI SEKTORAL ... 82

GRAFIK 4.30.PERKEMBANGAN NPLKREDIT UMKM ... 82

GRAFIK 4.31.RASIO REKENING DPKPENDUDUK ... 84

GRAFIK 4.32.RASIO REKENING KREDIT PENDUDUK ... 84

GRAFIK 4.33.RASIO REKENING DPKPENDUDUK BEKERJA ... 84

GRAFIK 4.34.RASIO REKENING KREDIT PENDUDUK BEKERJA ... 84

(13)

GRAFIK 5.2.PERKEMBANGAN TRANSAKSI UANG ELEKTRONIK BERBASIS SERVER DI SUMBAR ... 87

GRAFIK 5.3.FREKUENSI TRANSAKSI DAN JUMLAH REKENING LAYANAN KEUANGAN DIGITAL DI SUMBAR ... 88

GRAFIK 5.4.PERKEMBANGAN ALIRAN UANG KAS MASUK (INFLOW) DAN KELUAR (OUTFLOW) ... 88

GRAFIK 5.9.INDIKATOR PEREKONOMIAN KOTA SAWAHLUNTO,SUMATERA BARAT DAN INDONESIA... 92

GRAFIK 5.10.PERBANDINGAN PENDAPATAN PER KAPITA KOTA SAWAHLUNTO,SUMATERA BARAT DAN INDONESIA ... 92

GRAFIK 5.11.INDIKATOR PEREKONOMIAN KOTA SAWAHLUNTO,SUMATERA BARAT DAN INDONESIA ... 93

GRAFIK 5.5.ALIRAN UANG KAS MASUK (INFLOW) DAN KELUAR (OUTFLOW) DI WILAYAH SUMATERA ... 94

GRAFIK 5.6.PERKEMBANGAN PEMUSNAHAN UANG TIDAK LAYAK EDAR (UTLE) ... 94

GRAFIK 5.7.PEMUSNAHAN UTLE DI SUMBAR ... 95

GRAFIK 5.8.JUMLAH TEMUAN UANG PALSU DI SUMBAR ... 95

GRAFIK 6.1. PANGSA PEKERJA MENURUT LAPANGAN PEKERJAAN UTAMA ... 103

GRAFIK 6.2. INDEKS KONDISI KETENAGAKERJAAN DAN PENGHASILAN SAAT INI ... 103

GRAFIK 6.3. INDEKS KONDISI KETENAGAKERJAAN,PENGHASILAN DAN KEGIATAN USAHA YANG AKAN DATANG ... 103

GRAFIK 6.4. PEKERJA MENURUT STATUS PEKERJAAN UTAMA ... 105

GRAFIK 6.5. TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA MENURUT PENDIDIKAN TERTINGGI ... 105

GRAFIK 6.6. JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI SUMATERA BARAT ... 106

GRAFIK 6.7. GARIS KEMISKINAN DI SUMATERA BARAT ... 106

GRAFIK 6.8. GARIS KEMISKINAN UNTUK MAKANAN ... 107

GRAFIK 6.9. GARIS KEMISKINAN UNTUK NON MAKANAN... 107

GRAFIK 6.10. INDEKS KEDALAMAN KEMISKINAN (P1) ... 107

GRAFIK 6.11. INDEKS KEPARAHAN KEMISKINAN (P2) ... 107

GRAFIK 6.12. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA PROVINSI DI SUMATERA,2015 ... 108

GRAFIK 6.13. GINI RATIO PROVINSI DI SUMATERA,2016... 108

GRAFIK 6.14. PERKEMBANGAN INDEKS HARGA DITERIMA (IT) DENGAN INDEKS HARGA DIBAYAR (IB ... 110

GRAFIK 6.15. NTPSUMBAR MENURUT SUBSEKTOR ... 110

GRAFIK 6.16.PERKEMBANGAN HARGA GKP(PRODUSEN) DAN HARGA BERAS (KONSUMEN) ... 110

GRAFIK 7.1. PRAKIRAAN PERTUMBUHAN EKONOMI SUMBAR TAHUN 2017 ... 113

GRAFIK 7.2. HISTORIS RATA-RATA PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUNAN (YOY)SUMBAR TAHUN 2011-2016 ... 113

GRAFIK 7.3. INDEKS EKSPEKTASI KONSUMEN ... 115

GRAFIK 7.4.PERKEMBANGAN DAN PROYEKSI HARGA KOMODITAS INTERNASIONAL (PALM OIL) ... 116

GRAFIK 7.5. INDEKS EKSPEKTASI KONSUMEN ... 116

GRAFIK 7.6.PERKEMBANGAN HARGA KOMODITAS INTERNASIONAL MINYAK KELAPA SAWIT DAN KARET (S.D. FEBRUARI 2017) ... 116

GRAFIK 7.7.PERKEMBANGAN SASARAN LUAS TANAM DAN LUAS PANEN PADI DI SUMBAR TAHUN 2017 ... 117

GRAFIK 7.8. PERKEMBANGAN HARGA GABAH ... 117

GRAFIK 7.9.PROYEKSI INFLASI SUMBAR TAHUN 2017 ... 119

GRAFIK 7.10. INDEKS EKSPEKTASI HARGA KE DEPAN ... 119

GRAFIK 7.11.PROYEKSI HARGA EMAS (USD/TROY)SUMBER :FINANCIAL FORECAST CENTER ... 121

(14)

RINGKASAN EKSEKUTIF

KAJIAN

EKONOMI

REGIONAL

PROVINSI

SUMATERA

BARAT

PERIODE

NOVEMBER

2016

Perekonomian Sumatera Barat triwulan IV 2016 tumbuh terbatas

Perekonomian Sumatera Barat menunjukkan perbaikan moderat pada triwulan akhir 2016. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan IV 2016 tercatat tumbuh sebesar 4,86% (yoy) atau meningkat tipis dibandingkan triwulan III 2016 sebesar 4,81% (yoy).1 Setelah berada pada posisi keempat di triwulan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Sumbar berada di urutan kedelapan untuk wilayah Sumatera pada periode laporan.

Sumber pertumbuhan pada triwulan IV 2016 terutama berasal dari konsumsi pemerintah

Pertumbuhan ekonomi 2016 melambat dibandingkan 2015

Peningkatan perekonomian Sumatera Barat pada triwulan IV hanya ditopang oleh perbaikan konsumsi pemerintah seiring dengan pengembalian penundaan dana transfer daerah oleh Pemerintah Pusat. Sementara itu, komponen lainnya tumbuh lebih rendah. Dari sisi lapangan usaha, sumber perbaikan berasal dari meningkatnya kinerja pertanian, perikanan, dan kehutanan serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor.

Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada tahun 2016 melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Perekonomian Sumatera Barat hanya tumbuh sebesar 5,26% (yoy) melemah dibandingkan tahun 2015 sebesar 5,52% (yoy), bahkan lebih rendah dibandingkan historis 5 (lima) tahun terakhir (2011 2015) sebesar 6,03% (yoy). Sumber perlambatan terutama berasal dari konsumsi pemerintah, investasi, dan ekspor luar negeri. Secara sektoral, melemahnya kinerja lapangan usaha pertanian dan transportasi menjadi sumber perlambatan ekonomi tahun 2016.

1 Revisi Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III 2016 dari 4,82% (yoy) menjadi 4,81% (yoy). Revisi tersebut berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat Triwulan IV 2016 No. 9/02/13/Th. XX, 6 Februari 2017

(15)

Realisasi pendapatan dan belanja daerah meningkat

Meskipun mengalami pemotongan anggaran DAK sebesar 10%dari yang dianggarkan, realisasi penerimaan daerah (provinsi dan

kabupaten/kota) di Sumatera Barat tetap menunjukkan

pertumbuhan yang positif. Penambahan Organisasi Perangka Daerah (OPD) pada tahun 2016, berdampak pada peningkatan DAK dibandingkan tahun sebelumnya. Di lain sisi, realisasi belanja daerah juga mengalami pertumbuhan yang positif dibandingkan dengan triwulan IV 2015. Semakin meningkatnya alokasi belanja daerah untuk Belanja Pegawai menyebabkan alokasi untuk Belanja Modal semakin menurun dari tahun 2015 ke tahun 2016.

Tekanan inflasi di akhir

tahun mereda.

Setelah mengalami inflasi yang cukup tinggi pada triwulan III 2016, inflasi Sumatera Barat pada triwulan IV 2016 mereda. Secara tahunan, laju inflasi Sumatera Barat pada triwulan IV 2016 tercatat sebesar 4,89 (yoy) atau lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 5,10% (yoy). Panen komoditas hortikultura pada Desember 2016 serta kebijakan penetapan harga tiket angkutan udara yang lebih rendah dari rata-rata historis pada penghujung tahun, menjadi faktor pendukung menurunnya tekanan inflasi pada akhir tahun 2016. Dengan besaran inflasi tersebut, Provinsi Sumatera Barat tercatat sebagai provinsi dengan laju inflasi tahunan tertinggi keempat di kawasan Sumatera maupun secara nasional yakni setelah Bangka Belitung, Sumatera Utara, dan Bengkulu.

Stabilitas keuangan korporasi dan rumah tangga di daerah terjaga

Secara umum, stabilitas keuangan daerah relatif terjaga baik dari korporasi maupun rumah tangga, di tengah penurunan kinerja perusahaan dan moderatnya daya beli masyarakat. Kinerja korporasi sedikit tertahan akibat keterbatasan perolehan bahan baku, faktor cuaca, dan pelemahan permintaan. Namun demikian, ditinjau dari sisi kemampuan membayar utang, korporasi di Sumatera Barat secara umum memiliki risiko yang relatif terjaga.

Struktur pengeluaran rumah tangga pada triwulan IV 2016 tidak jauh berbeda dengan periode sebelumnya, yang masih didominasi oleh kebutuhan konsumsi. Periode puncak liburan akhir tahun mendorong peningkatan persentase pengeluaran untuk konsumsi, sedangkan porsi untuk tabungan relatif sama. Selain itu, pengeluaran

(16)

untuk cicilan kredit menurun pasca mencapai puncaknya pada triwulan III 2016.

Intermediasi perbankan konsisten berada pada level yang tinggi. Kualitas kredit menurun.

LDR, sebagai cerminan fungsi intermediasi, bank umum di Sumatera Barat pada akhir tahun 2016 konsisten berada di level yang tinggi. Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu rasio antara jumlah kredit yang disalurkan bank terhadap jumlah DPK bank, yang pada akhir 2016 ini tercatat relatif stabil pada kisaran 145,2% dibandingkan tahun 2015. Sementara itu, meskipun mulai membaik dibandingkan triwulan III 2016, kualitas kredit bank umum di Sumbar sepanjang tahun 2016 secara umum terus menurun dan perlu perhatian yang serius. Pada triwulan IV 2016 rasio Non Performing Loans (NPL) perbankan menurun menjadi 3,2% dari triwulan sebelumnya sebesar 3,6% dan akhir tahun 2015 yang hanya mencapai 2,7% (yoy). Penurunan kualitas kredit korporasi menjadi pendorong utama penurunan kualitas kredit.

Transaksi non tunai menurun

Transaksi tunai mencatat net inflow

.

Perkembangan transaksi non tunai di Sumatera Barat melalui Sistem Kliring Nasional Bank Inonesia (SKNBI) menunjukkan tren yang masih menurun secara nominal dan volume transaksi. Pada triwulan IV 2016, volume transaksi kliring kembali mengalami penurunan sebesar 8,4% (yoy), meskipun sedikit membaik dibandingkan triwulan III 2016 yang mencatat penurunan 9,4% (yoy). Kondisi serupa juga terjadi pada nominal transaksi kliring yang turun 12,08% (yoy), lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencatat penurunan 6,3% (yoy).

Sumatera Barat tercatat kembali mengalami net inflow, sedangkan daerah lain di Sumatera mengalami net outflow pada periode laporan. Net inflow pada triwulan IV 2016 sebesar Rp173 miliar, menurun 52,32% (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya. Net inflow tersebut ditengarai disebabkan oleh tingginya konsumsi masyarakat Sumatera Barat sehubungan dengan periode libur anak sekolah dan kenaikan sejumlah barang-barang kebutuhan pokok di akhir tahun.

Tingkat pengangguran

terbuka menurun.

Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi Sumbar pada tahun 2016, angka penggangguran terbuka pada Agustus 2016 menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya akibat perbaikan kinerja sektor pertambangan sehingga membutuhkan

(17)

tambahan angkatan kerja untuk sektor tersebut. Pertumbuhan PDRB lapangan usaha pertambangan selama semester II 2016 laporan tercatat sebesar 7,77% (yoy) seiring dengan peningkatan aktivitas pertambangan seperti batubara dan emas di beberapa kabupaten, mendorong penyerapan tenaga kerja di lapangan usaha tersebut. Secara umum, penyerapan tenaga kerja di Sumatera Barat masih didominasi oleh lapangan pekerjaan utama yakni pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan dengan status pekerjaan sebagian besar bersifat informal dan tingkat pendidikan yang masih rendah.

IPM masyarakat Sumatera Barat membaik

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan rasio gini cenderung membaik di tengah meningkatnya persentase jumlah penduduk miskin. Peningkatan penduduk miskin tersebut terutama terjadi pada masyarakat perdesaan, sementara penduduk miskin masyarakat perkotaan relatif stabil. Di sisi lain, kualitas hidup masyarakat Sumatera Barat cenderung meningkat sebagaimana tercermin dari membaiknya IPM, diikuti dengan perbaikan pada ketimpangan atau ketidakmerataan ekonomi penduduk di Sumatera Barat.

Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat triwulan II 2017

diprakirakan meningkat.

Pertumbuhan ekonomi Sumbar di triwulan II 2017 diprakirakan meningkat didorong oleh akselerasi kinerja konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah dan investasi. Pada triwulan II 2017, pertumbuhan ekonomi Sumbar diprakirakan berada di kisaran 5,3% - 5,7% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan prakiraan pertumbuhan pada triwulan I 2017 pada kisaran 4,8% - 5,2% (yoy). Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga diprakirakan meningkat seiring dengan pemberian gaji ke-13 dan ke-14 serta perayaan keagamaan yang bergeser dari triwulan III pada tahun lalu menjadi triwulan II pada tahun 2017.

(18)

Laju inflasi Sumatera Barat di triwulan II 2017 diprakirakan meningkat.

Laju inflasi triwulan II 2017 secara umum meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, dalam rentang 7,7% - 8,1% (yoy) yang terutama disebabkan oleh faktor musiman. Selain karena terdapat faktor musiman Lebaran, tingginya inflasi juga dipengaruhi faktor musiman tahun ajaran baru. Seluruh kelompok baik inflasi inti, inflasi bahan pangan bergejolak (volatile food), dan inflasi harga barang yang diatur pemerintah (administered price) cenderung meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi tahun 2017 diprakirakan relatif stabil dibandingkan 2016 Inflasi tahun 2017 diprakirakan lebih tinggi dibandingkan 2016

Pada tahun 2017, pertumbuhan ekonomi diprakirakan berada pada kisaran 5,2% - 5,6% (yoy), relatif stabil dibandingkan tahun 2016. Di sisi permintaan, sumber pertumbuhan utama berasal dari komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga, ekspor dan investasi. Membaiknya konsumsi rumah tangga disebabkan oleh peningkatan harga komoditas dunia, khususnya CPO dan karet yang mendorong perbaikan daya beli dan tingkat pendapatan masyarakat.

Inflasi tahun 2017 diproyeksikan pada kisaran 4,9% - 5,3% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan tahun 2016 sebesar 4,89% (yoy). Proyeksi peningkatan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG bersubsidi. Selain itu, kebijakan pemerintah menaikkan tarif listrik ikut menambah tekanan pada kelompok administered price.

(19)

INDIKATOR EKONOMI TERPILIH SUMATERA BARAT

I II III IV I II III IV I II III

MAKRO

IHK Sumatera Barat * 127.69 134.55 140.15 155.39 113.12 113.43 116.79 125.06 125.06 120.22 122.70 124.09 126.41 126.41 128.19 126.66 130.42 IHK Kota Padang 127.69 134.55 140.15 155.39 113.58 113.89 117.30 126.03 126.03 120.99 123.48 124.83 127.10 127.10 127.72 127.38 131.16 IHK Kota Bukittinggi 109.82 110.17 113.21 118.22 118.22 114.79 117.15 118.87 121.52 121.52 121.09 121.56 125.20 Laju Inflasi Tahunan Sumatera Barat (yoy %) 7.84 5.37 4.16 10.87 8.63 6.16 6.00 11.58 11.58 6.28 8.17 6.25 1.08 1.08 6.62 3.23 5.10 Laju Inflasi Tahunan Kota Padang (yoy %) 7.84 5.37 4.16 10.87 8.87 6.26 5.95 11.90 11.90 6.52 8.42 6.42 0.85 0.85 4.97 3.16 5.07 Laju Inflasi Tahunan Kota Bukittinggi (yoy %) 6.94 5.44 6.37 9.24 9.24 4.53 6.34 5.00 2.79 2.79 7.20 3.76 5.33

PDRB - harga konstan (miliar Rp) ** PDRB berdasarkan sisi Permintaan

- Konsumsi Rumah Tangga 59,403 61,661 64,224 66,819 17,159 17,333 17,704 17,814 70,010 17,884 18,069 18,498 18,569 73,021 18,613 18,852 19,317 - Konsumsi LNPRT 1,114 1,147 1,189 1,309 377 389 368 377 1,511 377 378 397 410 1,562 401 410 417 - Konsumsi Pemerintah 14,319 14,545 14,991 15,715 2,960 3,612 3,766 5,877 16,215 3,004 3,787 3,991 6,191 16,974 3,104 3,998 3,920 - Pembentukan Modal Tetap Bruto (Investasi) 30,724 34,084 36,256 37,947 9,465 9,868 10,098 10,512 39,943 9,927 10,230 10,565 10,954 41,676 10,347 10,654 10,876 - Perubahan Inventori (25) 499 692 378 (34) 111 20 (28) 69 (46) 94 83 (50) 81 (142) 551 145 - Ekspor Luar Negeri 17,891 21,313 17,556 19,295 4,781 4,810 4,867 5,463 19,922 4,942 5,838 5,068 5,236 21,084 4,404 4,067 4,779 - Impor Luar Negeri 7,864 8,815 9,907 8,477 2,133 2,000 2,305 2,443 8,881 2,133 2,135 2,136 2,323 8,727 2,094 1,698 1,853 - Net Ekspor Antar Daerah (10,543) (12,754) (6,276) (7,112) (318) (1,259) (462) (3,434) (5,472) 74 (1,595) (732) (2,889) (5,142) 1,284 (136) (145)

PDRB berdasarkan Lapangan Usaha

- Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 27,278 28,535 29,285 30,286 7,613 8,175 8,563 7,795 32,147 7,892 8,227 8,702 8,718 33,539 8,322 8,422 8,607 - Pertambangan dan Penggalian 4,782 5,028 5,321 5,726 1,475 1,460 1,455 1,534 5,924 1,569 1,541 1,543 1,482 6,136 1,514 1,536 1,592 - Industri Pengolahan 12,277 12,859 13,690 14,394 3,676 3,679 3,818 3,967 15,140 3,822 3,851 3,859 3,887 15,419 3,885 4,151 4,098 - Pengadaan Listrik, Gas 103 108 117 121 30 32 32 39 133 32 33 32 37 134 36 37 37 - Pengadaan Air 114 118 123 129 33 33 34 34 134 35 36 35 36 142 37 38 38 - Konstruksi 8,279 8,925 9,814 10,825 2,865 2,803 2,852 3,018 11,537 2,945 3,031 3,132 3,219 12,327 3,102 3,209 3,348 - Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan

Sepeda Motor 15,896 16,837 18,288 19,442 4,971 5,099 5,314 5,163 20,547 5,229 5,345 5,470 5,551 21,595 5,612 5,649 5,747 - Transportasi dan Pergudangan 10,939 11,872 12,794 13,877 3,603 3,626 3,754 3,966 14,950 3,943 4,011 4,101 4,102 16,156 4,181 4,310 4,441 - Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,069 1,120 1,179 1,249 323 332 336 338 1,329 339 348 362 371 1,420 377 389 399 - Informasi dan Komunikasi 5,763 6,296 7,035 7,676 2,038 1,993 2,098 2,182 8,312 2,233 2,261 2,357 2,280 9,131 2,458 2,528 2,618 - Jasa Keuangan 3,035 3,317 3,641 3,870 994 1,013 1,006 1,028 4,041 1,063 1,005 1,046 1,074 4,188 1,118 1,103 1,119 - Real Estate 2,153 2,240 2,343 2,472 643 646 655 666 2,610 658 669 692 728 2,748 704 712 724 - Jasa Perusahaan 459 482 510 548 145 147 147 148 586 150 152 156 163 622 161 161 164 - Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial

Wajib 6,637 7,225 7,236 7,363 1,828 1,802 1,903 1,973 7,506 1,915 1,931 1,959 2,054 7,860 2,027 2,053 2,070 - Jasa Pendidikan 3,366 3,651 4,020 4,358 1,103 1,091 1,137 1,296 4,627 1,231 1,233 1,261 1,314 5,040 1,341 1,344 1,371 - Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1,259 1,361 1,504 1,621 422 427 436 465 1,750 440 446 471 521 1,877 473 478 493 - Jasa lainnya 1,610 1,706 1,822 1,918 495 506 516 526 2,044 533 547 556 560 2,196 571 578 590

Pertumbuhan PDRB (yoy %) 6.34 6.31 6.02 7.52 4.97 5.44 5.59 5.85 5.86 5.48 4.93 5.74 5.41 5.55 5.86 4.82 PERBANKAN

Bank Umum

Total Aset (Rp triliun) 30.3 34.1 40.2 43.6 47.6 46.8 48.7 48.1 48.1 50.8 52.9 53.8 54.3 54.3 55.5 56.5 57.46 DPK (Rp Triliun) 20.9 22.6 25.6 26.3 27.0 29.2 30.8 29.7 29.7 31.8 33.0 34.0 33.1 33.1 34.2 35.2 35.97 - Giro (Rp Triliun) 3.6 4.3 4.9 4.3 4.9 6.0 6.2 4.3 4.3 6.6 7.4 6.8 4.9 4.9 7.1 6.5 6.43 - Tabungan (Rp Triliun) 11.8 11.9 13.2 14.2 13.0 13.3 14.3 15.3 15.3 14.0 14.5 15.5 17.5 17.5 16.0 17.4 17.65 - Deposito (Rp Triliun) 5.5 6.4 7.6 7.8 9.1 9.8 10.3 10.2 10.2 11.2 11.2 11.7 10.7 10.7 11.0 11.3 11.89 Kredit (Rp Triliun) 21.6 29.4 34.2 38.7 38.9 40.4 41.3 42.8 42.8 44.2 45.8 47.4 48.0 48.0 48.2 49.7 50.30 - Modal Kerja 7.5 10.6 13.1 14.4 14.6 15.5 15.8 16.0 16.0 16.3 16.9 17.2 17.1 17.1 17.0 17.2 17.27 - Investasi 4.5 4.9 5.3 7.1 6.8 7.2 7.0 7.6 7.6 8.5 8.8 9.3 10.0 10.0 9.8 10.7 11.01 - Konsumsi 9.6 13.8 15.8 17.2 17.4 17.8 18.4 19.1 19.1 19.5 20.1 20.8 20.9 20.9 21.4 21.7 22.01 LDR (%) 103.0 130.0 133.4 147.1 144.2 138.6 134.1 143.8 143.8 139.0 138.8 139.4 145.1 145.1 141.2 140.9 139.8 NPL (gross, %) 2.1 2.3 2.3 2.2 3.2 2.9 3.1 2.9 2.9 3.0 3.0 3.1 2.7 2.7 3.0 3.3 3.6 2016 2015 2015 2014 INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 Keterangan :

* IHK th 2012-2013 menggunakan tahun dasar 2007=100, IHK th 2014 menggunakan tahun dasar 2012=100 ** PDRB menggunakan tahun dasar 2010

Sumber :

- Data IHK, Laju Inflasi, PDRB berasal dari BPS

(20)

1

BAB I

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH

Perekonomian Sumatera Barat menunjukkan perbaikan moderat pada triwulan akhir 2016. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan IV 2016 tercatat

tumbuh sebesar 4,86% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan III 2016 sebesar 4,81% (yoy). Peningkatan perekonomian Sumatera Barat hanyaditopang oleh perbaikan konsumsi pemerintah pasca pengembalian penundaan dana transfer daerah oleh Pemerintah Pusat serta pengaruh dari siklus puncak pengeluaran yang terjadi pada triwulan IV. Dari sisi lapangan usaha, sumber perbaikan berasal dari meningkatnya kinerja pertanian, perikanan, dan kehutanan serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor. Membaiknya kinerja pertanian merupakan pengaruh base effect pasca kekeringan triwulan III 2016 serta dampak dari kebijakan pemerintah untuk meningkatkan luas tanam dan luas panen tanaman bahan makanan (tabama). Selain itu, membaiknya harga komoditas dunia (CPO dan karet) turut mendorong perbaikan kinerja pertanian dari subsektor perkebunan. Di sisi lain, lapangan usaha industri pengolahan serta transportasi dan pergudangan mencatat pelemahan.

Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada tahun 2016 melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Perekonomian Sumatera Barat

hanya tumbuh sebesar 5,26% (yoy) melemah dibandingkan tahun 2015 sebesar 5,52% (yoy), bahkan lebih rendah dibandingkan historis 5 (lima) tahun terakhir (2011 – 2015) sebesar 6,03% (yoy). Sumber perlambatan terutama berasal dari konsumsi pemerintah, investasi, dan ekspor luar negeri. Secara sektoral, melemahnya kinerja lapangan usaha pertanian dan transportasi menjadi sumber perlambatan ekonomi tahun 2016.

Perekonomian Sumatera Barat pada triwulan I 2017 diprakirakan tumbuh moderat di kisaran 4,8 – 5,2% (yoy). Penopang perekonomian terutama bersumber

dari konsumsi pemerintah dan ekspor luar negeri. Pengesahan APBD tahun 2017 serta percepatan proses administrasi dan tender program pemerintah diharapkan dapat mendorong pengeluaran pemerintah pada awal tahun. Sementara dari sisi eksternal, perbaikan ekspor didorong oleh membaiknya harga internasional Secara sektoral, perbaikan lapangan usaha pertanian dan industri pengolahan diprakirakan menopang pertumbuhan ekonomi triwulan I 2017. Dari sektor pertanian, peningkatan

(21)

produksi tabama terjadi seiring dengan adanya upaya ekstensifikasi lahan. Dari sektor industri pengolahan, pasokan bahan baku dan harga komoditas yang diyakini membaik diprakirakan akan memengaruhi penjualan perusahaan, khususnya pengolahan CPO.

1.1 Perkembangan Umum

Perekonomian Sumatera Barat menunjukkan perbaikan moderat pada triwulan akhir 2016. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan IV 2016 tercatat tumbuh sebesar 4,86% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan III 2016 sebesar 4,81% (yoy). Meskipun demikian, perbaikan perekonomian Sumatera Barat hanya ditopang oleh perbaikan konsumsi pemerintah seiring dengan penyaluran kembali dana transfer daerah yang sebelumnya ditunda oleh Pemerintah Pusat. Sementara itu, komponen lainnya terpantau tumbuh melemah. Dari sisi lapangan usaha, sumber perbaikan berasal dari meningkatnya kinerja pertanian, perikanan, dan kehutanan serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor. Membaiknya kinerja pertanian merupakan fenomena base effect pasca kekeringan pada triwulan III 2016 serta dampak dari kebijakan pemerintah untuk meningkatkan luas tanam dan luas panen tanaman bahan makanan (tabama). Selain itu, membaiknya harga komoditas dunia (CPO dan karet) turut mendorong perbaikan kinerja pertanian dari subsektor perkebunan. Di sisi lain, lapangan usaha industri pengolahan serta transportasi dan pergudangan mencatat pelemahan.

6,35 5,56 5,25 5,24 5,15 5,01 4,92 4,86 4,30 2,22 4,49 4,94 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00

7,00 Provinsi di Sumatera Sumatera Nasional

% yoy Sumber: BPS, diolah 4,71 4,68 4,73 5,04 4,91 5,19 5,02 4,94 5,49 5,75 5,26 5,61 5,58 5,85 4,81 4,86 0 1 2 3 4 5 6 7 I II III IV I II III IV 2015 2016

Nasional Sumatera Barat

%, yoy

Sumber: BPS, diolah

Grafik 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi di

Kawasan Sumatera pada Triwulan IV 2016

Grafik 1.2. Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Barat

dan Nasional

Secara regional, perbaikan ekonomi juga terjadi di hampir seluruh provinsi di kawasan Sumatera. Laju pertumbuhan ekonomi Sumatera pada triwulan IV 2016

(22)

tercatat sebesar 4,59% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan III 2016 sebesar 4,03% (yoy). Perbaikan ekonomi Sumatera terutama berasal dari membaiknya pengeluaran pemerintah serta meningkatnya kinerja ekspor luar negeri dan antar daerah. Ditinjau secara spasial, peningkatan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi di Jambi, Nangroe Aceh Darussalam, dan Riau. Sementara pertumbuhan ekonomi Kep. Riau dan Lampung mengalami perlambatan. Pada periode laporan, pertumbuhan ekonomi Sumbar berada di urutan kedelapan.

Berbeda dengan kawasan Sumatera, pertumbuhan ekonomi skala nasional mencatat pelemahan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2016 tercatat sebesar 4,94% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan triwulan III 2016 sebesar 5,02%. Pelemahan tersebut merupakandampak dari kebijakan penghematan belanja pemerintah serta belum kuatnya perbaikan ekonomi global.

1.2 Dinamika Sisi Pengeluaran Perekonomian Sumatera Barat

Ditinjau dari kelompok pengeluaran, membaiknya perekonomian Sumatera Barat pada triwulan IV 2016 berasal dari membaiknya kontraksi pengeluaran pemerintah. Sementara kinerja komponen lain terpantau melemah. Perlambatan tertinggi terjadi pada kinerja ekspor luar negeri yang mencatatkan kontraksi lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat namun pada kisaran moderat (Tabel 1.1).

Tabel 1.1. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDRB) Berdasarkan Pengeluaran

Konsumsi Rumah Tangga 4,08 4,03 4,58 4,34 4,26 4,40 4,36 4,42 4,38 4,39

Konsumsi LNPRT 0,02 -2,77 7,94 8,69 3,39 6,46 8,51 3,68 0,46 4,67

Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 1,56 5,19 6,02 4,21 4,36 3,41 5,40 -1,35 -0,83 1,20

Pembentukan Modal Tetap Bruto 4,89 3,81 4,62 4,03 4,33 3,90 3,82 2,93 2,85 3,36

Perubahan Inventori 3,96 -1,00 177,07 3,59 105,80 897,53 469,75 0,43 816,83 -2,34

Ekspor Luar Negeri 3,34 20,26 1,82 -5,55 4,62 -10,87 -29,64 -3,51 -4,87 -12,84

Impor Luar Negeri -0,46 6,66 -7,34 -3,62 -1,51 -1,24 -20,83 -12,69 -54,15 -23,04

Net Ekspor Antar Daerah -148,85 16,09 29,90 -19,36 -13,10 1090,42 -94,36 -85,52 4,49 -68,32

P D R B 5,49 5,75 5,26 5,61 5,52 5,58 5,85 4,81 4,86 5,26

Komponen Pengeluaran (%, yoy)

2015 2016

II III IV Total

I II III IV Total I

Sumber: BPS, diolah

1.2.1 Konsumsi Rumah Tangga

Momentum liburan sekolah menjelang akhir tahun belum mampu mendorong akselerasi konsumsi rumah tangga. Realisasi pengeluaran rumah tangga tercatat

(23)

hanya tumbuh sebesar 4,38% (yoy) atau relatif turun dibandingkan triwulan III 2016 sebesar 4,42% (yoy). Fenomena akhir tahun berupa liburan sekolah yang diharapkan mampu meningkatkan konsumsi rumah tangga ternyata belum memberikan dampak seperti yang diharapkan. Turunnya daya beli akibat meningkatnya tekanan inflasi dan rendahnya ekspektasi masyarakat terhadap kondisi perekonomian menjadi faktor penahan konsumsi rumah tangga. Hasil liaison Kantor Perwakilan BI Provinsi Sumatera Barat memaparkan bahwa terbatasnya permintaan domestik disebabkan oleh masih lemahnya daya beli masyarakat yang terlihat dari menurunnya optimisme masyarakat. Kinerja produksi yang terbatas akibat kesulitan mendapatkan bahan baku berdampak pula pada penurunan penghasilan masyarakat, khususnya pada sektor berbasis pengolahan CPO dan karet. Sementara itu, beberapa kebijakan pemerintah dalam upaya peningkatan pariwisata dan keikutsertaan dalam ajang destinasi halal nasional dan internasional belum mampu mendorong peningkatan aktivitas konsumsi pada akhir tahun 2016.

4,38 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5 5,0 16.000 16.500 17.000 17.500 18.000 18.500 19.000 19.500 20.000

I II III IV I II III IV I II III IV

2014 2015 2016

Konsumsi RT Pertumbuhan (%, yoy) - sisi kanan

Sumber: BPS, diolah Konsumsi RT; 51,30% Konsumsi LNPRT; 1,09% Konsumsi Pemerintah; 15,98% Investasi; 29,70% Net Ekspor LN; 10,13%

Net Ekspor Antar Daerah; -7,54%

Sumber: BPS, diolah

Grafik 1.3. Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga Grafik 1.4. Kontribusi PDRB Tw IV 2016 Menurut

Permintaan

Pelemahan konsumsi tercermin dari turunnya beberapa indikator hasil Survei Konsumen yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini, dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) (Grafik 1.5). Indikasi lain terpantau dari melemahnya Indeks Tendensi Konsumsi (ITK) BPS dari 109,53 menjadi 101,71 (Grafik 1.6). Ditinjau lebih rinci lagi, penurunan ITK disebabkan oleh pelemahan tingkat pendapatan masyarakat dan konsumsi makanan dan bukan makanan. Indikator lain tercermin dari melemahnya permintaan

(24)

perumahan yang tergambarkan dari turunnya Indeks Harga Properti hasil Survei Pemantauan Harga Properti (SHPR) Kantor Perwakilan Sumatera Barat (Grafik 1.7).

0 20 40 60 80 100 120 140

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2012 2013 2014 2015 2016

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini (IKK) Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Baseline Positif

Indeks

Sumber: Bank Indonesia

20 40 60 80 100 120 140

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2012 2013 2014 2015 2016

Indeks Indeks Tendensi KonsumenPendapatan Rumah Tangga Pengaruh Inflasi terhadap Tingkat Konsumsi Baseline (Batas Positif)

Tingkat Konsumsi Makanan dan Bukan Makanan

Sumber: : BPS, diolah

Grafik 1.5. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Grafik 1.6. Indeks Tendensi Konsumsi (ITK)

0 5 10 15 20 25 0 2 4 6 8 10 12

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2013 2014 2015 2016

TOTAL TIPE MENENGAH

TIPE BESAR TIPE KECIL - Skala Kanan

% yoy % yoy

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 1.7. Indeks Harga Properti (SHPR)

1.2.2 Konsumsi Pemerintah

Aktivitas konsumsi pemerintah menunjukkan perbaikan pada triwulan akhir 2016. Meredanya kontraksi pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan IV 2016 merupakan dampak dari pemberian transfer Pemerintah Pusat terhadap penundaan Dana Alokasi Umum (DAU) sebagaimana terdapat dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 125/PMK.07/2016 tentang Penundaan Sebagian Penyaluran DAU Tahun 2016. Sebagai informasi, penundaan pemberian sebagian DAU pada triwulan III 2016 menyebabkan daerah melakukan efisiensi pengeluaran pemerintah, khususnya penyelenggaraan acara dan perjalan dinas, serta berimbas pada pembatalan tender 118 proyek pemerintah. Dengan demikian, penyaluran kembali dana perimbangan tersebut memberikan ruang fiskal yang lebih besar bagi pemerintah daerah dalam mengoptimalkan realisasi belanja. Perbaikan konsumsi pemerintah pada triwulan laporan juga merupakan refleksi dari puncak realisasi belanja daerah sesuai pola historisnya. Selain itu, adanya kontrak kinerja antara Gubernur Sumbar dengan Operasi Perangkat Daerah (OPD) yang

(25)

mewajibkan penyerapan belanja daerah minimal sebesar 95% dari target APBD turut mendukung meningkatnya realisasi konsumsi pemerintah pada triwulan IV 2016. 200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 1.600 1.800 2.000

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2013 2014 2015 2016

Belanja Daerah Belanja Pegawai

Beanja Modal

Miliar Rp Miliar Rp

Sumber: Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Sumatera Barat, diolah

Grafik 1.8. Realisasi Belanja Daerah APBD Provinsi Sumatera

Barat

1.2.3 Investasi

Secara umum investasi relatif stagnan dan hanya mampu tumbuh terbatas pada triwulan IV 2016. Perilaku wait and see pelaku usaha serta masih minimnya insentif penanaman modal pihak swasta menjadi penyebab terbatasnya aktivitas investasi. Permasalahan dan panjangnya proses pembebasan lahan turut menjadi kendala dalam realisasi investasi di Sumatera Barat2. Selain itu, menurunnya kapasitas utilisasi perusahaan karena kesulitan mendapatkan bahan baku menjadi faktor penahan pelaku usaha untuk melakukan investasi, khususnya pada industri pengolahan. Stagnasi investasi ini ditunjukkan dengan likert scale hasil liaison triwulan IV 2016 yang bernilai 0,47, menurun dibandingkan triwulan III 2016 yang berada pada level 0,67. Menurunnya kegiatan investasi tercermin juga dari penurunan realisasi nilai PMA pada triwulan IV 2016 (Grafik 1.10). Penurunan kinerja investasi juga sejalan dengan melambatnya pertumbuhan penyaluran kredit investasi Sumatera Barat dari 18,09% (yoy) pada triwulan III 2016 menjadi 7,89% (yoy) pada triwulan IV 2016 (Grafik 1.11).

2

(26)

2,85 3,86 1,15 -2 0 2 4 6 8 10 12 14

I II III IV I II III IV I II III IV 2014 2015 2016

Total Investasi Investasi Bangunan Investasi Non Bangunan

%, yoy Sumber: BPS, diolah 10 20 30 40 50 60 70 (500) 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000

I II III IV I II III IV I II III IV 2014 2015 2016

PMDN (Miliar Rp) PMA (Juta USD) - sisi kanan

Juta USD Miliar Rp

Sumber: Badan Koordinasi Penanaman Modal, diolah

Grafik 1.9. Pertumbuhan Komponen Investasi Grafik 1.10. Investasi PMA dan PMDN

0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2013 2014 2015 2016

Kredit Investasi

Pertumbuhan (%, yoy) - sisi kanan

Miliar Rp

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 1.11. Perkembangan Kredit Investasi

1.2.4 Ekspor

Kondisi cuaca yang tidak kondusif, kendala dalam mendapatkan bahan baku dan masih lemahnya permintaan dari negara mitra dagang berdampak masih lemahnya pertumbuhan ekspor pada triwulan IV 2016. Kendala cuaca yang kurang kondusif menyebabkan penurunan produksi kelapa sawit, karet, dan kayu manis sebagai bahan baku ekspor komoditas di Sumatera Barat. Kenaikan harga komoditas ekspor CPO dan karet belum direspon dengan peningkatan permintaan dari negara mitra dagang. Berdasarkan hasil liaison, penjualan ekspor CPO perusahaan kontak menurun seiring dengan penurunan volume produksi akibat cuaca yang kurang mendukung dan pengaruh El Nino serta kabut asap pada tahun 2015 lalu. Pengaruh cuaca tersebut dapat menghambat pembentukan bunga betina sehingga mengurangi produksi buah kelapa sawit. Penurunan ekspor juga terjadi pada kontak industri olahan karet. Kondisi tersebut ditengarai

(27)

akibat melemahnya perekonomian global khususnya Tiongkok dan industri otomotif dunia serta membanjirnya supply bahan baku karet yang berasal dari Vietnam dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga karet dari Indonesia. Pelemahan ekspor tercermin dari penurunan nilai dan volume ekspor karet dari USD53,8 juta dan 39,6 juta ton (triwulan III 2016) menjadi USD51,9 juta dan 39 juta ton (triwulan IV 2016) (Grafik 1.4). Sementara itu, penjualan ekspor kontak industri olahan kayu manis menurun akibat tidak mencukupinya stok persediaan bahan baku yang dilakukan oleh perusahaan dalam mengantisipasi lonjakan permintaan pada akhir tahun. Harga bahan baku kayu manis juga terus mengalami kenaikan mengingat terbatasnya bahan baku kondisi cuaca yang menghambat proses pengeringan dan banyaknya alih fungsi lahan. Hal ini berdampak pada peningkatan biaya transportasi pelaku usaha karena bahan baku harus dipanen dari lokasi yang lebih jauh dari sentra produksi.

3,3 20,3 1,8 -5,5 -10,9 -29,6 -3,5 -4,9 -0,5 6,7 -7,3 -3,6 -1,2 -20,8 -12,7 -54,2 -60,0 -50,0 -40,0 -30,0 -20,0 -10,0 0,0 10,0 20,0 30,0 I II III IV I II III IV 2015 2016

Ekspor Luar Negeri Impor Luar Negeri

%, yoy Sumber: BPS, diolah 3,3 20,3 1,8 -5,5 -10,9 -29,6 -3,5 -4,9 -0,5 6,7 -7,3 -3,6 -1,2 -20,8 -12,7 -54,2 -60,0 -50,0 -40,0 -30,0 -20,0 -10,0 0,0 10,0 20,0 30,0 I II III IV I II III IV 2015 2016

Ekspor Luar Negeri Impor Luar Negeri

%, yoy

Sumber: BPS, diolah

Grafik 1.12. Ekspor dan Impor Luar Negeri Grafik 1.13. Ekspor Impor Antar Daerah

0 10 20 30 40 50 60 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

I II III IV I II III IV I II III IV

2014 2015 2016 M ill io n s

Nilai Ekspor Karet Vol. Ekspor Karet (skala kanan)

Juta USD ribu tonribu ton

Sumber: Bank Indonesia

-40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40 50

I II III IV I II III IV I II III IV 2014 2015 2016

g. Volume ekspor cpo g. Volume ekspor karet

%, yoy

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 1.14. Perkembangan Nilai dan Volume

Ekspor Komoditas Karet

Grafik 1.15. Pertumbuhan Volume Ekspor

(28)

Berbeda dengan ekspor luar negeri, aktivitas perdagangan antar daerah membaik moderat pada triwulan IV 2016 seiring dengan meningkatnya permintaan akhir tahun. Membaiknya produksi komoditas pertanian di tengah peningkatan permintaan terindikasi menjadi pendorong perbaikan ekspor antar daerah. Berdasarkan hasil liaison, indikasi meningkatnya ekspor antar daerah tercermin dari peningkatan terbatas skala likert penjualan domestik dari 0,42 pada triwulan III 2016 menjadi 0,46 pada triwulan IV 2016. Indikator lain tercermin dari meningkatnya volume dan pertumbuhan aktivitas muat barang melalui Pelabuhan Teluk Bayur (Grafik 1.19)

76,9% 14,4%

3,8% 2,3% 0,9% Minyak dan lemak

nabati atau hewani

Karet dan barang dari karet

Kopi, teh dan rempah-rempah Limbah dari industri makanan Lainnya Sumber:Bank Indonesia India 43,7% Amerika Serikat 14,1% Singapura 13,1% Tiongkok 6,2% Bangladesh 4,1% Belanda Mianmar Australia 2,1% Jepang 1,7% Lainnya 9,3%

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 1.16. Porsi Ekspor Komoditas Utama Grafik 1.17. Porsi Negara Tujuan Ekspor Sumbar

(100,0) (50,0) 50,0 100,0 150,0 200,0 250,0 0,2 0,4 0,6 0,8 1,0 1,2 1,4

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2013 2014 2015 2016

Vol Ekspor Vol Impor g.Impor - skala kanan g.Ekspor - skala kanan

% yoy Juta Ton Sumber: Pelindo (30,0) (20,0) (10,0) 10,0 20,0 30,0 40,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2013 2014 2015 2016

Vol Muat Vol Bongkar g.Bongkar - skala kanan g.Muat - skala kanan

% yoy Juta Ton

Sumber: Pelindo

Grafik 1.18. Aktivitas Perdagangan Luar Negeri

Melalui Pelabuhan Teluk Bayur

Grafik 1.19. Aktivitas Perdagangan Antar Daerah

(29)

1.2.5 Impor

Kontraksi kinerja impor luar negeri pada triwulan IV 2016 semakin dalam dibandingkan triwulan sebelumnya. Pelemahan tersebut disebabkan oleh menurunnya impor bahan baku terutama pupuk dan limbah dari industri makanan (seperti konsentrat pakan ternak) yang selama ini menjadi komoditas utama impor Sumatera Barat. Berkurangnya pemakaian pupuk seiring dengan penurunan produksi kelapa sawit dan karet terindikasi menjadi penyebab turunnya permintaan impor pada triwulan laporan. Selain itu, terbatasnya daya beli masyarakat dan pelemahan nilai tukar juga turut mendorong penurunan impor. Sejumlah kontak liaison mengatakan pergerakan nilai tukar dapat memengaruhi biaya khususnya terkait pembelian bahan baku impor.Pelemahan tersebut tercermin dari penurunan nilai dan volume impor komoditas non migas utama (Grafik 1.20 dan Grafik 1.21).

-20 0 20 40 60 80 100 120 0 50 100 150 200 250 300

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2013 2014 2015 2016

Vol. Impor Nonmigas

Vol. Impor Limbah dari Industri Makanan - sisi kanan Vol. Impor Pupuk - sisi kanan

Vol. Impor Mesin - sisi kanan

Ribu Ton Ribu Ton

Sumber: Bank Indonesia

0 10 20 30 40 50 0 20 40 60 80 100 120

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2012 2013 2014 2015 2016 M il li o n s

Nilai Impor Nonmigas

Nilai Impor Limbah dari Industri Makanan-sisi kanan Nilai Impor Pupuk-sisi kanan

Nilai Impor Mesin-sisi kanan

juta USD juta USD

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 1.20. Volume Impor Komoditas Utama Non

Migas

Grafik 1.21. Perkembangan Nilai Impor Non Migas

Ditinjau dari klasifikasi pengelompokan barang, impor luar negeri masih didominasi oleh bahan baku (95,7%). Nilai impor bahan baku selama triwulan IV 2016 tercatat sebesar USD12,55 juta, turun dibandingkan triwulan III 2016 sebesar USD15,31 juta (Grafik 1.22). Sedangkan berdasarkan negara asal barang, impor luar negeri Sumatera Barat pada triwulan laporan bersumber dari Tiongkok (31,2%), Kanada (21,4%), dan Rusia (6,4%).

(30)

5 10 15 20 25 30 35 40 45

I II III IV I II III IV I II III IV

2014 2015 2016

Barang Konsumsi Barang Modal Bahan Baku

Juta USD

Sumber: Bank Indonesia

Limbah dari industri makanan; 22,1% Pupuk; 21,4% Kertas dan kertas karton; 12,7% Garam, sulfur dan batu-batuan; 16,3% Mesin; 8,6% Lainnya; 13,8%

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 1.22. Nilai Impor Berdasarkan Kelompok Grafik 1.23. Porsi Impor Komoditas Non Migas

Triwulan V 2016 Tiongkok; 31,2% Kanada; 21,4% Rusia; 6,4% Jerman; 5,8% ASEAN ; 4,7% India ; 1,2% Lain-lain; 29,5%

Grafik 1.24. Asal Barang Impor Sumatera Barat

Triwulan IV 2016

1.3 Dinamika Lapangan Usaha Ekonomi Utama Sumatera Barat

Secara sektoral, membaiknya perekonomian Sumatera Barat ditopang oleh peningkatan kinerja lapangan usaha pertanian dan perdagangan. Dari sektor pertanian, perbaikan kinerja terjadi seiring dengan meningkatnya produksi tanaman bahan makanan (tabama) sebagai dampak dari upaya pemerintah untuk meningkatkan luas tanam padi. Sedangkan peningkatan kinerja perdagangan terjadi karena adanya faktor musiman liburan sekolah pada akhir tahun.

(31)

Tabel 1.2. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDRB) Berdasarkan Lapangan Usaha

1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 7.31 5.48 6.22 4.41 5.84 3.66 0.63 1.62 11.84 4.33 5.45 2.37 -1.09 2 Pertambangan dan Penggalian 5.23 3.64 4.32 1.05 3.51 6.37 5.56 6.05 -3.33 3.58 -3.51 -0.32 3.13

3 Industri Pengolahan 3.52 1.11 5.22 11.11 5.22 3.97 4.66 1.06 -2.00 1.84 1.65 7.80 6.22

4 Pengadaan Listrik dan Gas 2.13 5.53 8.32 22.78 9.85 6.47 2.45 0.78 -4.88 0.84 10.54 13.21 14.02 5 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 3.10 3.41 2.67 6.44 3.89 6.47 7.25 4.44 5.84 5.99 4.39 5.74 7.84

6 10.13 7.60 4.02 4.87 6.58 2.77 8.13 9.84 6.69 6.85 5.36 5.89 6.89

7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 10.44 5.26 4.21 3.30 5.68 5.18 4.84 2.94 7.52 5.10 7.33 5.69 5.05 8 Transportasi dan Pergudangan 8.95 6.02 6.10 9.81 7.73 9.43 10.59 9.23 3.42 8.07 6.05 7.46 8.31 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 6.19 6.79 6.75 6.05 6.44 5.12 4.87 7.44 9.84 6.85 11.09 11.71 10.44 10 Informasi dan Komunikasi 11.48 6.53 8.30 6.98 8.27 9.56 13.44 12.35 4.48 9.86 10.07 11.82 11.07 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 1.81 2.45 5.72 9.39 4.79 6.93 -0.74 3.99 4.41 3.63 5.20 9.79 6.91

12 6.36 6.18 5.27 4.51 5.56 2.49 3.56 5.74 9.25 5.30 6.87 6.47 4.64

13 Jasa Perusahaan 6.83 7.28 6.39 7.40 6.97 4.04 3.95 6.32 10.24 6.15 6.84 5.74 4.98

14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 4.66 -1.48 2.09 2.61 1.95 4.78 7.19 2.96 4.08 4.71 5.80 6.32 5.63

15 4.94 12.10 7.97 1.24 6.18 11.65 13.00 10.91 1.40 8.92 8.95 8.97 8.71 16 13.60 10.81 7.33 1.59 7.97 4.25 4.34 7.97 12.03 7.27 7.36 7.29 4.78 17 6.12 6.31 6.60 7.05 6.52 7.56 7.99 7.92 6.39 7.46 7.08 5.62 5.98 7.52 4.97 5.44 5.59 5.86 5.50 5.48 4.93 5.74 5.41 5.55 5.86 4.82 III 2014 2015 2016 II III IV Total I II Real Estate Jasa Pendidikan

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa lainnya

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

I

I II III IV Total

Konstruksi

Lapangan Usaha (%, yoy)

Sumber: BPS, diolah

1.3.1 Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

Sejumlah upaya yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan dalam meningkatkan produksi mampu mendorong perbaikan kinerja sektor pertanian pada triwulan IV 2016. Perbaikan kinerja sektor pertanian terutama berasal dari meningkatnya produksi tanaman bahan makanan (tabama) pasca gangguan cuaca (kemarau) yang berakibat kekeringan pada triwulan III 2016. Untuk meningkatkan produksi padi triwulan laporan, Dinas Pertanian dan Perkebunan memfokuskan pada program intensifikasi lahan termasuk pemanfaatan teknologi, pembenihan, pengairan irigasi dan teknologi budidaya . Khusus untuk teknologi budidaya padi, melalui pengembangan dan peningkatan implementasi sistem tanam jajar legowo (jarwo), produktivitas lahan bisa meningkat sebesar 20%. Meningkatnya pasokan tabama tercermin dari turunnya pertumbuhan harga gabah kering di tingkat penggilingan pada triwulan IV 2016 dibandingkan triwulan sebelumnya (Grafik 1.27). Indikator perbaikan kinerja pertanian terkonfirmasi dari kenaikan pertumbuhan penyaluran kredit pertanian dari 1,8% (yoy) pada triwulan III 2016 menjadi 5,3% (yoy) pada triwulan IV 2016 (Grafik 1.28). Meningkatnya perbaikan kinerja lapangan usaha pertanian mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat mengingat pangsanya mencapai 24,4% dari total perekonomian (Grafik 1.25). Di sisi lain, perbaikan

(32)

kinerja pertanian pada triwulan akhir 2016 masih terbatas dan tertahan lebih lanjut seiring dengan banjir dan puso yang terjadi di beberapa sentra produksi, khususnya kelapa sawit dan karet akibat kondisi cuaca yang kurang kondusif.

Pertanian 24,4% Industri Pengolahan 11,3% Konstruksi 9,6% Perdagangan 16,3% Transportasi dan Pergudangan 12,0% Lainnya 13,4% Jasa - Jasa 13,0% Sumber: BPS, diolah 5,49 5,75 5,26 5,61 5,58 5,85 4,81 4,86 -4 -2 0 2 4 6 8 10 12 14 I II III IV I II III IV 2015 2016

Sumatera Barat Pertanian Industri Pengolahan Perdagangan Transportasi dan Pergudangan

%, yoy

Sumber: BPS, diolah

Grafik 1.25. Kontribusi PDRB Menurut Lapangan

Usaha

Grafik 1.26. Pertumbuhan PDRB per Lapangan Usaha

Utama Sumbar

1.3.2 Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, serta Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

Adanya siklus musiman seperti liburan sekolah menjelang akhir tahun mampu meningkatkan kinerja lapangan usaha perdagangan pada triwulan IV 2016. Pertumbuhan sektor perdagangan pada triwulan laporan mampu mencapai 5,71% (yoy) atau naik dibandingkan triwulan III 2016 sebesar 3,81% (yoy). Meski meningkat, pertumbuhan tersebut masih di bawah rata-rata historis kinerja sektor perdagangan selama 2 (dua) tahun terakhir (2014 2015) seiring dengan masih terbatasnya daya beli dan konsumsi masyarakat pada triwulan IV 2016. Kondisi ini tercermin dari menurunnya Indeks Konsumsi Barang-barang Kebutuhan Tahan Lama hasil Survei Konsumen (SK) Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi

-10 -5 0 5 10 15 20 25 0,0 1000,0 2000,0 3000,0 4000,0 5000,0 6000,0

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2013 2014 2015 2016

Rata-rata Harga Gabah GKP Pertumbuhan - sisi kanan

Rp/Kg Sumber: BPS, diolah 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2013 2014 2015 2016

Kredit Pertanian Pertumbuhan - sisi kanan

Sumber: Bank Indonesia

(33)

Sumatera Barat (Grafik 1.32). Di sisi lain, meningkatnya jumlah wisatawan secara signifikan pada periode liburan akhir tahun turut memberikan kontribusi bagi perbaikan kinerja sektor perdagangan (Grafik 1.33). Indikasi perbaikan sektor perdagangan tercermin dari hasil liaison dengan kontak perusahaan pembiayaan yang memaparkan adanya peningkatan permintaan kredit mobil. Membaiknya pertumbuhan kredit tersebut disebabkan oleh strategi peluncuran kendaraan tipe baru, peningkatan harga komoditas yang mendukung membaiknya pendapatan masyarakat di sentra produksi dan penurunan LTV kredit kendaraan bermotor. Hasil liaison dengan perusahaan kontak penjualan mobil juga membenarkan adanya peningkatan pembelian kendaraan pada masyarakat golongan middle-up dengan pendapatan yang tetap seperti PNS dan karyawan swasta di Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh. Kondisi ini juga terkonfirmasi dari meningkatnya jumlah pendaftaran kendaraan baru yang dikeluarkan oleh Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah (DPKD) Provinsi Sumatera Barat (Grafik 1.31). Indikator lain meningkatnya aktivitas perdagangan tercermin dari peningkatan penjualan energi listrik pelanggan kelompok bisnis (Grafik 1.32).

109,5 106,0 91,0 105,5 123,0 117,5 114,0 98,5105,0 102,0 101,095,5101,5 99,5 88,0 88,4 0,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0 140,0

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2013 2014 2015 2016

Indeks

Sumber: Survei Konsumen, Bank Indonesia

-30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 0 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 16.000 18.000

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

2013 2014 2015 2016

Jumlah Wisman g.Wisman-sisi kanan

Orang %,yoy

Sumber: BPS, diolah

Grafik 1.29. Indeks Konsumsi Barang-barang

Kebutuhan Tahan Lama

Grafik 1.30. Jumlah Wisatawan Melalui Bandara

Internasional Minangkabau dan Pelabuhan Teluk Bayur

Gambar

Grafik 1.12. Ekspor dan Impor Luar Negeri  Grafik 1.13. Ekspor Impor Antar Daerah
Grafik 1.16.  Porsi Ekspor Komoditas Utama  Grafik 1.17.  Porsi Negara Tujuan Ekspor Sumbar
Grafik 1.22. Nilai Impor Berdasarkan Kelompok    Grafik 1.23. Porsi Impor Komoditas Non Migas  Triwulan V 2016  Tiongkok;  31,2% Kanada;  21,4% Rusia; 6,4%Jerman; 5,8%ASEAN ; 4,7%India ; 1,2% Lain-lain; 29,5%
Grafik 1.26. Pertumbuhan PDRB per Lapangan Usaha  Utama Sumbar
+7

Referensi

Dokumen terkait

Melihat transaksi menggunakan layanan Branchlees banking masih terbilang relatif baru di BRI Syariah maka hal yang menarik untuk diteliti adalah sejauh mana

Siklus 2 persentase peningkatan jumlah siswa yang mendapatkan nilai tuntas pada ranah kognitif sebesar 18,24% dan nilai rata-rata kelas meningkat sebesar 10,82..

Segala puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan Proyek Akhir dan

Genotipe kontrol BP 409, seperti yang terlihat sebelumnya pada Gambar 3, memiliki nilai minimum dan rerata yang lebih rendah dengan nilai pada populasi terseleksi, atau dengan kata

Apabila kemudian dalam SPT pajak penghasilan tersebut terdapat kekurangan pembayaran pajak maka fasilitas penghapusan sanksi administrasi akan diberikan sesudah

Choirudin Wijaya Kusuma Guru Dewasa Tk.I SMA Wachid Hasyim 2 Taman Sidoarjo Kab.. Sidoarjo

yang bertentangan perilaku untuk meningkatkan kepentingannya, bahkan jika pemilik   baru tidak memonitor kinerja manajer# 6ika pemilik baru melakukan memonitor  kinerja

Dari beberapa platform media sosial yang digunakan oleh Tanifund terlihat dengan jelas bahwa Tanifund menggunakan berbagai jenis media sosial untuk mempromosikan, sekaligus