5 BAB V PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG
5.2 Perkembangan Transaksi Tunai
5.2.2 Perkembangan Uang Tidak Layar Edar dan Uang Palsu
60 70 80
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 2012 2013 2014 2015 2016
triliun rupiah Pemusnahan UTLE (Sisi Kanan)
Rasio Pemusnahan UTLE terhadap Inflow
%
Sumber: Bank Indonesia
Grafik 5.8. Aliran Uang Kas Masuk (Inflow) dan Keluar
(Outflow) di Wilayah Sumatera
Grafik 5.9. Perkembangan Pemusnahan Uang Tidak
Layak Edar (UTLE)
5.2.2 Perkembangan Uang Tidak Layar Edar dan Uang Palsu
Pemusnahan uang tidak layak edar (UTLE) di Sumatera Barat mengalami penurunan pada triwulan IV 2016. Pemusnahan UTLE pada periode laporan tercatat kembali mengalami penurunan 31,22% (yoy), atau menjadi Rp1,1 triliun. Namun demikian, rasio pemusnahan UTLE terhadap inflow meningkat sebesar 38,2% dibandingkan triwulan sebelumnya 30,5%. Secara tahunan, pemusnahan UTLE dari Januari hingga Desember 2016 juga mengalami penurunan hingga 11,9% (yoy), atau sebesar Rp5,7 triliun dari tahun sebelumnya mencapai Rp6,5 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa peredaran uang layak edar (ULE) di Sumatera Barat tahun 2016
mengalami perbaikan dan clean money policy berangsur-angsur dapat tercapai. Adanya program kas titipan, kas keliling dan penukaran uang yang melibatkan perbankan umum maupun bank perkreditan rakyat diyakini mampu mendukung kualitas ULE di Sumatera Barat.
Di lain sisi, jumlah pemusnahan UTLE secara lembaran mengalami kenaikan. Peningkatan pemusnahan UTLE secara lembaran meningkat 4,2% (yoy), menjadi 50,7 juta lembar yang pada periode IV 2015 tercatat sebesar 48,7 juta lembar. Hal ini berbanding terbalik dengan pemusnahan UTLE secara nominal yang mengalami penurunan menjadi Rp1,1 triliun. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa pemusnahan UTLE di Sumatera Barat untuk triwulan IV 2016 lebih banyak dipengaruhi oleh pemusnahan uang pecahan kecil (UPK).
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 I II III IV I II III IV 2015 2016 Pemusnahan UTLE juta lembar
Sumber: Bank Indonesia
106 91 86 100 111 86 112 83 136 132 151 188 194 114 161 104 146 125 281 207 0 50 100 150 200 250 300
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2012 2013 2014 2015 2016
Lembar Temuan Uang Palsu
2016
Sumber: Bank Indonesia
Grafik 5.10. Pemusnahan UTLE di Sumbar Grafik 5.11. Jumlah Temuan Uang Palsu di Sumbar
Uang rupiah palsu yang berhasil diidentifikasikan mengalami penurunan. Setelah triwulan III 2016 rupiah palsu yang ditemukan cukup tinggi, bahkan merupakan temuan tertinggi selama tahun 2016, pada triwulan IV 2016 temuan rupiah palsu berkurang. Kantor Bank Indonesia Sumatera Barat mencatat terdapat 207 lembar temuan uang rupiah palsu. Sementara itu secara tahunan, total temuan uang rupiah palsu dari Januari hingga Desember 2016 di wilayah Sumatera Barat sebesar 756 lembar, atau mengalami peningkatan hingga 32,46% (yoy) dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebanyak 573 lembar.
Untuk mencegah dan menanggulangi peredaran uang Rupiah palsu di masyarakat, Bank Indonesia mengeluarkan 11 pecahan mata uang rupiah baru tahun emisi (TE) 2016 yang telah diluncurkan pada tanggal 19 Desember 2016. Uang rupiah TE 2016
tersebut memperkuat beberapa unsur pengaman di uang rupiah yang telah ada sebelumnya, antara lain melalui fitur color shifting, rainbow feature, latent image, ultra violet feature, blind code/tactile effect dan rectoverso.
Pasca diluncurkannya 11 (sebelas) denominasi Uang Rupiah Tahun Emisi (TE) 2016 oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 19 Desember 2016 yang juga bertepatan dengan Hari Bela Negara, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat (KPw BI Prov. Sumbar) secara aktif melakukan sosialisasi ke seluruh elemen masyarakat dengan berbagai latar belakang, dari Gubernur Sumatera Barat sampai dengan siswa/i Taman Kanak-Kanak. Gencarnya sosialisasi yang dilakukan guna memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan Rupiah TE 2016 tersebut serta meredam isu yang beredar di masyarakat luas terkait desain Uang Rupiah Tahun Emisi 2016, seperti isu desain rectoverso (salah satu fitur keamanan) yang mirip dengan simbol partai terlarang, pencetakan uang yang dilakukan bukan oleh PERURI sampai dengan desain yang serupa dengan mata uang negara lain.
Gambar 1. Uang Rupiah Tahun Emisi 2016
BOKS 3:
Untuk mengklarifikasi berita hoax tersebut, KPw BI Prov. Sumbar mengadakan sosialisasi Uang Rupiah TE 2016 yang dikemas dalam acara Silaturahim Awal Tahun 2017 yang mengundang Asisten II Daerah Prov. Sumbar, Kapolda Sumbar, Danrem 032 Wirabraja, seluruh Pimpinan Redaksi Media Cetak Dan Elektronik, Pengurus Majelis Ulama Indonesia, Ketua Pengurus Organisasi Masyarakat Keagamaan (Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama), Akademisi serta Ketua Lembaga Kerapatan Adat Minangkabau. Pada kegiatan tersebut, Kepala Perwakilan BI Sumbar mempresentasikan tentang fitur maupun desain Uang Rupiah Tahun Emisi 201 kepada seluruh pemangku kepentingan. Tidak hanya melakukan pemaparan satu arah, beberapa pertanyaan juga dilontarkan
terkait isu yang beredar di masyarakat, termasuk isu gambar rectoverso yang disangkakan
serupa dengan gambar simbol partai terlarang dan pemilihan gambar pahlawan. Beberapa tokoh masyarakat juga turut menyampaikan saran terkait pencetakan dan pengedaran uang baru tersebut. Peserta kegiatan juga ikut diajak melakukan simulasi
pengenalan fitur-fitur pengamanan
dengan bantuan dari Unit Pengelolaan
Uang Rupiah, seperti menerawang rectoverso hingga membentuk logo Bank Indonesia,
meraba blind code, serta melihat keindahan fitur pengamanan ultra violet di bawah sinar
UV.
Tidak hanya sampai di situ, KPw BI Prov. Sumbar selalu menyertakan materi terkait pencetakan dan pengedaran Uang Rupiah Tahun Emisi 2016 pada beberapa kegiatan yang
mengikutsertakan stakeholders, seperti kegiatan High Level Meeting TPID Prov. Sumbar
yang juga dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat pada tanggal 24 Januari 2017. Pada kesempatan tersebut, KPw BI Prov. Sumbar juga membuka loket penukaran untuk peserta rapat yang ingin menukarkan Uang Rupiah TE 2016.
Gambar Sosialisasi Uang Rupiah TE 2016
Kepada Ketua MUI Prov. Sumbar
Gambar Sosialisasi Uang Rupiah TE
2016 Kepada Pemangku Kepentingan Prov. Sumbar
Gambar Sosialisasi Uang Rupiah TE 2016
dalam kegiatan High Level Meeting TPID
Prov. Sumbar
Gambar Sosialisasi Uang Rupiah TE 2016 kepada siswa/i beserta orang tua murid TK
Al Azhar 32
Dalam rangka mengenalkan tentang Bank Indonesia sedari dini, KPw BI Prov. Sumbar mengundang siswa/i TK Al Azhar 32 beserta dengan orang tua murid dan guru untuk lebih mengetahui tentang alat pembayaran di Indonesia pada tanggal 8 Februari 2017. Materi yang disampaikan dibuat dengan sangat mudah agar dapat dipahami oleh siswa/i TK, seperti warna uang dan angka nominal yang tertera pada uang serta kegunaan uang tersebut. Tim PUR pun turut melakukan sosialisasi Uang Rupiah TE 2016 kepada orang tua murid serta guru-guru, guna memastikan pemahaman yang komprehensif terkait Uang Rupiah Tahun Emisi 2016, selain hadiah yang disediakan bagi peserta yang dapat menjawab pertanyaan seputar Rupiah TE 2016.
Sebagai klarifikasi terhadao isu-isu tentang Uang Rupiah Tahun Emisi 2016, dapat diuraikan sekilas tentang fakta-fakta terkait pengeluaran Uang Rupiah Tahun Emisi 2016:
No Isu Yang Beredar Tanggapan Bank Indonesia
1. Gambar simbol partai
terlarang pada Uang Rupiah TE 2016
a. Gambar saling isi yang tertera merupakan salah satu fitur pengaman yang paling sulit untuk dipalsukan yang dikenal sebagai Rectoverso.
b. Rectoverso dibuat dengan suatu teknik cetak khusus pada uang kertas yang membuat sebuah gambar berada pada posisi yang sama dan saling membelakangi di bagian depan dan belakang.
c. Apabila dilihat tanpa diterawang, gambar akan terlihat seperti ornamen yang tidak beraturan, namun apabila diterawang ke arah sumber cahaya, rectoverso akan membentuk gambar yang utuh, dalam hal ini adalah lambang BI yang merupakan singkatan dari Bank Indonesia.
d. Rectoverso juga digunakan pada mata uang di negara-negara lain seperti Euro, Thailand Bath (membentuk ornamen nilai nominal), UK Poundsterling, dan Korea Won (membentuk logo/gambar tertentu).
No Isu Yang Beredar Tanggapan Bank Indonesia 2016 serupa dengan
warna uang negara lain
sebagai pembeda antar pecahan. Berdasarkan survei, lebih dari 90% responden membedakan pecahan berdasarkan warna.
b. Uang pecahan TE 2016 masih menggunakan warna dominan yang sama dengan desain uang sebelumnya. c. Terdapat beberapa mata uang di dunia yang memiliki
skema warna serupa dengan Rupiah, antara lain Euro, Ringgit, Dolar Singapura, Baht, Yuan dan berbagai mata uang lainnya.
3. Pencetakan Uang
Rupiah TE 2016 tidak dilakukan oleh PERURI
a. Tidak benar bahwa pencetakan uang Rupiah TE 2016 dilakukan oleh perusahaan pencetakan selain Perum Peruri, baik di luar negeri ataupun di dalam negeri.
b. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang pasal 14, pelaksana pencetakan Rupiah dilaksanakan di dalam negeri dengan menunjuk BUMN sebagai pelaksana Pencetakan Rupiah. Dalam kaitan ini, pelaksana pencetakan adalah Perum Peruri yang merupakan Badan Usaha Milik Negara yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan pencetakan Rupiah tersebut.
4. Skema pemilihan
gambar pahlawan pada Uang Rupiah TE 2016
1. Pencantuman gambar pahlawan di dalam uang Rupiah TE 2016 merupakan amanat UU No.7 Tahun 2011.
2. Dalam penentuan gambar tokoh yang dimuat dalam uang Rupiah, Bank Indonesia berkonsultasi dengan Pemerintah pusat maupun daerah, sejarawan, akademisi, serta tokoh masyarakat.
3. Semua gambar pahlawan nasional yang dicantumkan pada uang Rupiah kertas dan logam diperoleh dari instansi yang berwenang menatausahakan pahlawan nasional dan telah disetujui oleh ahli waris pahlawan nasional.
4. Gambar pahlawan yang digunakan dalam Rupiah juga telah ditetapkan dalam Surat Keputusan Presiden RI (Keppres No.31 Tahun2016 tentang Penetapan Gambar Pahlawan Nasional Sebagai Gambar Utama Pada Bagian Depan Rupiah Kertas dan Rupiah Logam Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 5 September 2016).
Berdasarkan fakta-fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa Bank Indonesia selalu berpedoman pada Undang-Undang dalam menetapkan kebijakannya, termasuk dalam pengeluaran Uang Rupiah Tahun Emisi 2016, sehingga dapat kami sampaikan bahwa
isu-isu yang beredar di masyarakat luas seperti pada tabel di atas adalah berita hoax. Selain
itu, Bank Indonesia juga berkomitmen terus untuk menjaga Rupiah sebagai alat pembayaran satu-satunya yang sah di Republik Indonesia, seperti dengan penyediaan uang layak edar di masyarakat serta mewajibkan seluruh masyarakat untuk bertransaksi menggunakan Rupiah di wilayah NKRI. Mari jaga kewibawaan Rupiah sebagai simbol kedaulatan Bangsa Indonesia dengan tidak menyebarkan isu-isu negatif terhadap Rupiah serta menjaga Rupiah dengan baik sehingga terjaga kualitasnya dan kelayakedarannya.