5 BAB V PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG
5.1 Perkembangan Transkasi Non Tunai
5.1.2 Layanan Keuangan Digital
5 10 15 20 25 200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 1.600 I II III IV I II III IV 2015 2016 M il li o n s
Jumlah Kartu Nominal Transaksi (Rp) - rhs juta rupiah
Sumber: Bank Indonesia
Grafik 5.1. Perkembangan Transaksi Kliring di Sumbar Grafik 5.2. Perkembangan Transaksi Uang Elektronik
Berbasis Server di Sumbar
5.1.2 Layanan Keuangan Digital
Perkembangan Layanan Keuangan Digital (LKD) di Sumatera Barat terus mengalami peningkatan. Hingga triwulan IV 2016, jumlah agen LKD telah mencapai 1.986 agen dengan laju pertumbuhan 65,5% (yoy) dari periode yang sama tahun 2015. Peningkatan tersebut juga diiringi dengan kenaikan jumlah frekuensi transaksi yang mencapai 184 kali transaksi, atau meningkat 22,7% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan jumlah transaksi tersebut didominasi oleh transaksi top up uang elektronik server based masyarakat Sumatera Barat pada periode akhir tahun yang berkaitan dengan peningkatan konsumsi masyarakat.
Peningkatan transaksi melalui agen LKD tersebut juga sejalan dengan kenaikan penggunaan uang elektronik server based di masyarakat. Tercatat pada triwulan IV 2016, transaksi uang elektronik server based mengalami kenaikan yang cukup signifikan hingga 155,7% (yoy). Kenaikan tersebut tidak terlepas dari semakin banyaknya merchant yang mulai menggunakan uang elektronik server based sebagai metode pembayarannya di Sumatera Barat.
100 200 300 400 500 600 I II III IV I II III IV 2015 2016
Frekuensi Transaksi Jumlah Rekening Digital
Sumber: Bank Indonesia
(2.000) (1.000) 0 1.000 2.000 3.000 4.000 0 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2012 2013 2014 2015 2016
Inflow Outflow Net Inflow-rhs
miliar rupiah miliar rupiah
Sumber: Bank Indonesia
Grafik 5.3. Frekuensi Transaksi dan Jumlah Rekening
Layanan Keuangan Digital di Sumbar
Grafik 5.4. Perkembangan Aliran Uang Kas Masuk
(Inflow) dan Keluar (Outflow)
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat berupaya menggencarkan edukasi transaksi non tunai kepada masyarakat mengingat banyaknya keunggulan yang dimiliki jika dibandingkan dengan transaksi tunai sehingga terwujud masyarakat Sumatera Barat yang memiliki preferensi tinggi dalam menggunakan sarana pembayaran non tunai dalam bertransaksi atau yang dikenal dengan Less Cash Society. Untuk mencapai misi perluasan transaksi non tunai, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat proaktif bekerja sama dengan berbagai pihak terkait
Pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia, khususnya Asia Pasifik terus mengalami peningkatan drastis dalam beberapa dekade terakhir. Pada tahun 2000, negara-negara di kawasan Asia Pasifik menyumbang kurang dari 30% dari total output dunia. Kontribusi tersebut terus mengalami peningkatan hingga menjadi hampir 40% pada tahun 20146. Sayangnya, peningkatan perekonomian tersebut belum diiringi dengan meratanya kesejahteraan masyarakat. Kemiskinan dan kesenjangan ekonomi masih menjadi tantangan utama di sejumlah negara.
Tabel 5.1. Penduduk Usia 15 tahun ke atas Menurut Jenis Kegiatan Utama (juta orang)
Asian Development Bank, 2015
101 Myanmar 24,85 41 Malaysia 47,09
102 Indonesia 24,36
Indeks Keuangan Inklusif
sumber: ADB, 2015 (diolah)
120 Filipina 19,63
12 Korea Selatan 68,89
25 Singapura 58,24
45 Thailand 45,59
Dalam forum internasional G20 pada Pittsburgh Summit tahun 2009, salah satu tema yang dibahas yaitu terkait dengan keuangan inklusif sebagai prioritas pembangunan yang diyakini mampu mengurangi disparitas ekonomi masyarakat. Asian Development Bank dalam laporannya7 menempatkan Indonesia pada peringkat 102 dari 176 negara yang dihitung. Adapun indeks keuangan inklusif Indonesia adalah 24,36; masih di bawah Malaysia yang sebesar 47,09 dan Myanmar sebesar 24,85. Sedangkan, menurut data dari World Bank tahun 2014, jumlah masyarakat dewasa Indonesia yang memiliki rekening di lembaga keuangan sebesar 36,1%. Masyarakat Indonesia yang menggunakan jasa lembaga keuangan untuk menabung sebesar 26,6% dan yang
6
Informasi lebih lanjut, kunjungi https://www.imf.org/external/pubs/ft/reo/2015/apd/eng/pdf/areo0415c1.pdf
7
Informasi lebih lanjut, kunjungi https://www.adb.org/sites/default/files/publication/153143/ewp-426.pdf
BOKS 3:
meminjam dari lembaga keuangan sebesar 13,1%. Berkaca pada kondisi tersebut, Pemerintah Indonesia menyusun Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) dengan menargetkan 75% masyarakat Indonesia dapat mengkases layanan keuangan pada tahun 2019.
Hanya 9 dari 25 orang Indonesia yang memiliki rekening.
Gambar 5.1. Jumlah Masyarakat Indonesia yang Memiliki Rekening di Lembaga Keungan 2014 Bank Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran turut aktif dalam pengimplementasian SNKI melalui pengembangan inovasi saluran distribusi, produk dan jasa sistem pembayaran. Oleh karena itu, Bank Indonesia mengembangkan sebuah produk layanan keuangan tanpa kantor bank (branchless banking) yang dinamakan Layanan Keuangan Digital (LKD). Layanan keuangan ini menggunakan pihak ketiga (agen) sebagai perpanjangan layanan perbankan dengan menggunakan instrumen telepon genggam atau berbasis web. Melalui LKD diharapkan masyarakat mendapatkan akses layanan keuangan sehingga pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat di wilayah Sumatera Barat yang memiliki kecenderungan bergerak di sektor perdagangan.
Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, kelebihan dari program LKD yang dirasakan langsung oleh masyarakat adalah (1) fleksibilitas jam operasional LKD; (2) Lokasi LKD yang pada umumnya berada di kampung-kampung yang jauh dari kantor bank dan mesin ATM; serta (3) Kemudahan transaksi tanpa harus mengantri dan memiliki rekening tabungan. Adapun fasilitas LKD yang banyak digunakan oleh masyarakat antara lain transfer dana, pembayaran listrik, pembayaran cicilan kredit dan pembelian token listrik.
Tabel 5.2. Indikator Potensi Pengembangan Keuangan Inklusif di Sumbar 2015
1 Kab. Kepulauan Mentawai 0 16.936 35.830.000
2 Kota Sawahlunto 0,02 14.396 43.710.000
3 Kab/Kota Lainnya di Sumbar 0,03 n.a. n.a.
4 Kab. Pasaman 0,04 108.943 22.520.000
5 Kab. Tanah Datar 0,04 123.956 26.720.000
6 Kab. Sijunjung 0,05 123.465 29.970.000
7 Kab. Pasaman Barat 0,05 154.756 26.790.000
8 Kota Solok 0,05 267.678 42.050.000
9 Kota Padang Panjang 0,06 90.699 47.090.000
10 Kab. Solok Selatan 0,07 45.126 24.790.000
11 Kab. Solok 0,08 n.a. 26.430.000
12 Kab. Agam 0,13 29.985 29.950.000
13 Kota Payakumbuh 0,14 266.159 33.260.000
14 Kota Pariaman 0,19 154.402 40.680.000
15 Kab. Pesisir Selatan 0,20 73.102 20.580.000
16 Kab. Limapuluh Koto 0,21 6.409 29.680.000
17 Kota Padang 0,26 1.424.801 46.820.000
18 Kota Bukittinggi 0,31 440.484 46.830.000
19 Kab. Dharmasraya 1,40 96.697 33.050.000
20 Kab. Padang Pariaman 1,46 24.152 35.720.000
Pendapatan / Kapita Masyarakat
(Rp/tahun)*** Ranking Kabupaten/Kota
Rasio Jumlah Pemegang Unik dengan Jumlah
Agen LKD*
Jumlah Rekening Tabungan (rekening)**
Sumber: *) LKPBU per Januari 2016, diolah
**) Kubus Cognos Bank Indonesia per Februari 2016 ***) BPS Sumbar 2015
Sementara itu, berdasarkan hasil perhitungan, diketahui bahwa sejumlah daerah di Sumatera Barat masih memiliki rasio keuangan inklusif yang cukup rendah. Rasio ini didasarkan atas perbandingan antara jumlah pemegang uang elektronik berbasis server dengan jumlah agen LKD. Rendahnya rasio tersebut mengindikasikan bahwa perkembangan program keuangan inklusif melalui LKD di sebagian besar kabupaten/kota belum optimal. Di sisi lain, jumlah rekening tabungan dan pendapatan per kapita masyarakat yang tinggi menjadi salah satu indikator bahwa perekonomian di kabupaten/kota tersebut cukup berkembang. Daerah yang memiliki rasio jumlah uang elektronik dengan jumlah agen LKD yang kecil, namun ukuran perekonomiannya cukup signifikan, menunjukkan bahwa daerah tersebut merupakan daerah yang memiliki potensi cukup besar untuk mengembangkan program LKD dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Daerah tersebut antara lain Kab. Kepulauan Mentawai dan Kota Sawahlunto.
Grafik 5.5. Indikator Perekonomian Kota Sawahlunto,
Sumatera Barat dan Indonesia
Grafik 5.6. Perbandingan Pendapatan per Kapita Kota
Sawahlunto, Sumatera Barat dan Indonesia
Kota Sawahlunto menduduki peringkat keenam kabupaten/kota dengan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera Barat pada tahun 2014 sebesar 6,04% (yoy). Tercatat, rata-rata pertumbuhan ekonomi Kota Sawahlunto sejak tahun 2011 – 2014 adalah sebesar 5,78%. Bahkan tahun 2013 dan 2014, laju pertumbuhan ekonomi Kota Sawahlunto sebesar 6,04% (year on year) melebihi pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat dan Indonesia yang berturut-turut sebesar 5,85% (yoy) dan 5,02% (yoy). Selain itu, sejak tahun 2010 hingga 2014, pendapatan per kapita Kota Sawahlunto lebih tinggi dibandingkan pendapatan per kapita Sumatera Barat dan Indonesia. Namun demikian, prospek perekonomian yang terus membaik tersebut belum banyak berimbas pada pemerataan akses keuangan di Kota Sawahlunto. Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat tercatat bahwa persentase jumlah pemilik rekening, baik rekening tabungan, deposito maupun giro nasabah bank umum yang berada di Kota Sawahlunto hanya 0,41% dibandingkan jumlah pemilik rekening bank umum secara keseluruhan di Sumatera Barat. Nilai tersebut cenderung sangat kecil bila dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Sumatera Barat. Sebagai contoh, berdasarkan data BPS Kota Padang Panjang (2016), wilayah Kota Padang Panjang memiliki luas 23 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 50.883 jiwa pada tahun 2015 dan memiliki persentase jumlah rekening 2,62% atau 880.267 rekening. Sedangkan Kota Sawahlunto dengan luas wilayah 275,9 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 60.186 jiwa pada tahun 2015 hanya memiliki persentase jumlah rekening 0,41% atau 138.161 rekening. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi pemilik jumlah rekening di Kota Padang Panjang sejumlah 38.272 pemilik rekening per km2 dan 17 rekening per penduduk, lebih tinggi dibandingkan Kota Sawahlunto yang hanya memiliki konsentrasi jumlah pemilik rekening yang sebesar 501 pemilik rekening per km2 dan 2 rekening per penduduk.
Sumber: Bank Indonesia
Grafik 5.7. Indikator Perekonomian Kota Sawahlunto,
Sumatera Barat dan Indonesia
Oleh karena itu, untuk mendorong tercapainya target keuangan inklusif Indonesia tahun 2019, peningkatan implementasi program LKD perlu dilakukan dengan mengupayakan sejumlah langkah strategis, antara lain menambahkan fasilitas pembayaran LKD selain yang sudah tersedia, menambah jumlah frekuensi sosialisasi dan penyebarluasan berbagai jenis media promosi, menambah jumlah agen LKD dan menggencarkan penggunaan telepon genggam sebagai instrumen transaksi di agen-agen LKD serta mendorong integrasi sistem keuangan inklusf antara otoritas terkait. Beberapa rekomendasi tersebut diyakini dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan LKD dan pada akhirnya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
5.2 Perkembangan Transaksi Tunai