5.1 Deskripsi Hasil Penelitian
5.1.8 Informan Tambahan
Nama : Idris Christopel Sitanggang Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 04 Januari 1973
Umur : 48 Tahun
Suku : Batak
Agama : Kristen Protestan Alamat : Desa Sitoluhuta Pendidikan terakhir : SLTA
Pekerjaan : Kepala Desa Sitoluhuta
Informan tambahan yang peneliti wawancarai adalah bapak Idris Christopel Sitanggang selaku kepala desa Sitoluhuta yang biasa disapa pak Idris.
Beliau sudah menjabat sebagai kepala desa di Desa Sitoluhuta selama 2 periode.
Pak Idris berusia 48 tahun dan bersuku Batak. Pendidikan terakhir Pak Idris adalah SLTA. Pak Idris memiliki 4 orang anak dan keempatnya masih berada dalam jenjang pendidikan.
Menurut penuturan pak Idris mayoritas pekerjaan wanita yang sudah berkeluarga di desa tersebut adalah bertenun. Pekerjaan tersebut sudah dilakukan sejak turun-temurun di desa Sitoluhuta, hingga mulai dari kecil anak-anak yang berada di desa tersebut diajarkan untuk bertenun sejak dini. Para penenun di Desa
Sitoluhuta pada umumnya masih menggunakan alat tradisional dalam bertenun yang sering disebut gedogan dan penenun sudah memiliki alat tenun sendiri.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Saya sudah menjabat sebagai kepala desa di Desa Sitoluhuta ini selama 7 tahun dek, ini saya lagi menjalani masa jabatan periode kedua. Memang mayoritas penduduk wanita yang sudah berkeluarga di desa Sitoluhuta ini banyak bekerja sebagai penenun. Kalau yang tidak bertenun palingan mereka para pendatang dan belum mengerti cara bertenun. Kalau di sini para penenun masih menggunakan alat tradisional karena memang dari dulu-dulu para orang tua terdahulu juga sudah menggunakan gedogan.
Disini banyak memilih bertenun dek karna ladang yang dipunya pun hanya sedikit hanya suaminya juga sudah bisa mengerjakan pekerjaan ladangnya dan juga mereka sudah memahami bagaimana bertenun.”
Peneliti menanyakan bagaimana kondisi kehidupan penenun baik dalam kesehatannya, kebutuhan sandang dan pangan, rumahnya, pendidikan, komunikasi yang dimiliki oleh penenun. Menurut penuturan pak Idris untuk kesehatan prasarana di desa Sitoluhuta sudah tersedia yaitu pustu dan posyandu yang dilengkapi dengan bidan yang tinggal di desa Sitoluhuta. Seluruh masyarakat desa biasanya berobat ke bidan desa. Namun untuk kepemilikan BPJS warga desa belum memilikinya. Kondisi rumah yang dimiliki penenun cukup bagus meskipun masih sederhana. Penenun memiliki rumah yang tergolong kecil dimana dindingnya papan dan beralasan semen. Dan penenun juga sudah memiliki mck dan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan, penenun memenuhi sandangnya dengan makan tiga kali dalam satu hari dengan makanan
yang sederhana. Untuk pemenuhan sandang penenun umumnya melakukannya untuk acara-acara besar dan untuk keperluan anaknya yang masih dalam jenjang pendidikan. Interaksi di desa berjalan dengan baik dan adanya beberapa kegiatan yang mempererat hubungan warga.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“kalau kondisi penenun disini untuk kesehatannya penenun biasanya ke pergi kebidan, karena penyakit yang diderita juga masih penyakit biasa dek.
Dan disini juga bidan bersedia untuk melayani ke rumah jadi tidak terlalu membebani kalopun mereka tidak mempunyai kendaraan untuk datang ke pustu. Kalo kondisi rumah yang dimiliki cukup layaklah tapi sebenarnya untuk kategori layak belum dek karena papan yang digunakan masih ada yang bolong. Makan dan minum sudah pasti terpenuhi dek karena disini jugakan ikan lumayan murahnya sama beras jadi kalo makan sudah pasti tiga kali satu hari, tapi untuk pangan memang sangat jaranglah cukup untuk keperluan sekolah yang diprioritaskan.”
Selanjutnya peneliti bertanya apa saja kendala maupun dampak pandemi Covid-19 yang dirasakan penenun. Pak Idris menuturkan bahwa bahwa semenjak adanya pandemi covid-19 dan adanya kebijakan-kebijakan pembatasan sosial mengakibatkan pemasaran ulos mengalami hambatan sehingga menyebabkan harga jual ulos menurun dan berdampak terhadap pendapatan yang diperoleh penenun menurun.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Masa pandemi seperti sekarang ini, jelaslah dek ada dampak yang dirasakan penenun. Harga hasil tenun turun karena pemasarannya yang
terhambat. Kalo penenun di sinikan menjual hasil tenunnya ke toke, lalu toke menjual ke kota lain seperti ke berastagi, kabanjahe, jadi harga jualnya tergantung tokenya. Sekarang juga kan semua aktivitas lagi dibatasi otomatis memang pemakaian ulos juga terbatas. Jadinya pendapatan penenun juga pasti berkurang”
Peneliti juga menanyakan bagaimana penenun dalam menambah penghasilnya dan bantuan yang diberikan pemerintah terhadap penenun. Pak Idris menuturkan bahwasanya beberapa penenun melakukan pekerjaan seperti menjual keripik dan menjual mie. Dari kegiatan tersebut belum memuaskan karena orang-orang sekitar juga mengalami perekonomian yang menurun sehingga tidak berminat dalam membeli jualan penenun. Selain itu penenun juga dan anggota keluarganya seperti anaknya bekerja ke ladang warga lain untuk menambah penghasilan. Dengan bantuan pemerintah yang diperoleh seperti mendapat bantuan umkm, uang tunai dan bantuan benang serta beras membuat penenun merasa terbantu dimas covid-19 dan semakin menaruh harapan terhadap batuan yang diberikan pemerintah.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Dimasa covid-19 aktivitas para penenun untuk bertenun berkurang, penenun ada yang jadi berjualan keripik dan mie, ada juga yang mengambil kerja sampingan menjadi buruh di ladang orang biar bisa menambah penghasilan. Dimasa covid-19 juga kan ada beberapa bantuan pemerintah seperti pembagian beras dan uang untuk umkm itu,uang tunai selain itu ada juga bantuan dari perindustrian membagikan benang untuk membuat ulos itu pun cuman satu kali aja dek.”
Peneliti juga menanyakan adakah kegiatan yang dilakukan para penenun dan program dalam mensejahterakan para penenun serta apa harapan untuk penenun di Desa Sitoluhuta. Pak Idris menuturkan bahwa setiap 1 kali sebulan penenun melakukan gotong royong di kantor desa dan perwakilan penenun beberapa kali mengikuti pelatihan dari dinas perindustrian sebelum pandemi, namun di masa pandemi kegiatan tersebut tidak dijalankan untuk sementara. Pak Idris juga menyampaikan harapannya agar pandemi covid-19 segera berlalu sehingga semuanya dapat kembali normal dan proposal-proposal yang telah diajukan ke kantor dinas perindustrian untuk penenun segera di proses yang dapat membantu kemampuan penenun dan menambah kualitas dari hasil tenunannya.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Kegiatan yang dilakukan mereka biasanya bergotong royong, mengikuti kegiatan dari dinas perindustrian sebelum pandemi ya, namun selama pandemi kegiatan itu diberhentikan untuk sementara. Harapan bapak program-program yang sudah diajukan ke dinas perindustrian dapat diproses dan segera dijalankan untuk menambah kemampuan para penenun. Pandemi juga segera berlalu, supaya semua kembali normal dan perekonomian penenun pun bisa membaik.”