5.1 Deskripsi Hasil Penelitian
5.1.5 Informan Utama III
Nama : Rosti Sitanggang
Umur : 43 Tahun
Suku : Batak
Agama : Katolik
Alamat : Desa Sitoluhuta Pendidikan terakhir : SMP
Pekerjaan : Penenun
Jumlah anggota keluarga : 6 orang Pekerjaan suami : Petani
Informan utama yang peneliti wawancarai adalah Ibu Rosti Sitanggang.
Ibu Rosti sudah menjadi penenun sejak beliau masih remaja. Ibu Rosti merupakan penduduk asli di Desa Sitoluhuta. Ibu Rosti memiliki 5 orang anak. Anak pertama Ibu Rosti merupakan laki-laki dan masih bersekolah di jenjang perkuliahan. Anak kedua Ibu Rosti merupakan perempuan yang masih bersekolah di jenjang perkuliahan. Anak ketiga Ibu Rosti merupakan perempuan dan masih bersekolah di jenjang SMA, anak keempat Ibu Rosti merupakan perempuan masih bersekolah di jenjang SMP. Dan yang terakhir anak Ibu Rosti merupakan perempuan dan masih bersekolah di jenjang SD.
Ibu Rosti merupakan penenun yang sejak dulu bertenun dengan alat tradisional yang dikenal dengan gedogan/kasusak dan merupakan kepunyaan sendiri. Ibu Rosti dalam keseharian sebagai penenun akan memulai kegiatan bertenun mulai dari pagi jam delapan sampai malam hari. Kegiatan bertenun ini tentu akan diselingi dengan pekerjaan-pekerjaan lain seperti beberapa pekerjaan rumah tangga. Kegiatan bertenun pada pagi sampai malam hari terkadang dilakukan di halaman rumah untuk mendapatkan cahaya yang lebih terang sambil sesekali ditiup angin yang membuat sejuk saat bertenun dan pada malam harinya sebelum tidur sempatkan lagi bertenun di dalam rumah. Saat bertenun Ibu Rosti melakukannya dengan dibantu anaknya yang masih bersekolah.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Ibu sudah bertenun sejak tamat SMP, karena dulu orang tua tidak mempunyai uang untuk melanjut sekolah saya bekerja bertenun ulos.
Setelah menikah dek saya merantau ke Jakarta tapi karena susah di sana cari duit saya dan suami pulang ke kampung dan mulai saat itu saya kembali bertenun. Saya mulai bertenun di pagi hari sekitar jam 8 pagi hingga malam dek. Anak saya ada lima dan masih bersekolah. Saya bersyukur karena dapat bantuan dari pemerintah untuk yang SMA, SMP, dan SD dan anak saya yang kedua yang lagi kuliah dapat beasiswa dari yayasannya. Kalau pulang sekolah mereka bantu saya dalam bertenun anak saya yang SMP, SMA dan yang lagi kuliah di masa covid ini ya.
Sebenarnya mereka belum sepenuhnya menguasai bertenun tapi sedikit membantu untuk merapikan benang sudah lumayan mempercepat menyelesaikan tenunan. Alat yang saya gunakan kalo bertenun itu namanya gedogan dek.”
Peneliti kemudian bertanya kepada Ibu Rosti mengenai bagaimana dampak covid-19 yang dirasakan penenun. Ibu Rosti menuturkan bahwa dengan adanya pandemi covid-19 pendapatan penenun menurun. Hal ini terjadi karena kurangnya penggunaan ulos di masa sekarang dengan adanya pembatasan aktivitas budaya, dimana perayaan aktivitas budaya dibatasi dan ditunda untuk sementara waktu yang membuat pemakaian ulos tersebut menjadi sedikit dan harganya yang menurun bahkan sering kali terjadi pemasaran ulos yang terhambat membuat toke ulos sering kali tidak menerima hasil tenunan. Saat sebelum pandemi, Ibu Rosti biasanya mendapatkan pendapatan sebesar Rp1.750.000
dalam sebulan. Namun selama pandemi Ibu Rosti hanya mampu mendapatkan pendapatan sebesar Rp850.000. sebelum pandemi covid harga ulos yang dihasilkan ibu Rosti dapat mencapai Rp 350.000 untuk 1 buah ulos. Sebulan Ibu Rosti dapat menenun ulos sebanyak 5 lage/ulos dengan kualitas yang lumayan tinggi. Dari pendapatan tersebut Ibu Rosti dapat menabung sebesar Rp50.000 hingga Rp100.00 dari penjualan ulos. Di masa pandemi Ibu Rosti dalam sebulan hanya dapat menghasilkan 3 buah ulos dengan harga 1 buah ulos sebesar Rp 280.000. Masa pandemi Ibu Rosti tetap menabung namun mengurangi nilai dari yang sebelumnya.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Dampak yang dirasakan pandemi ini dek harga ulos menurun drastis, ini karena kurangnya penggunaan ulos dek karena adanya kebijakan pembatasan aktivitas budaya itu. Dulu ya sebelum pandemi harga ulos itu Rp 350.000 per ulos, kalau sekarang Rp 280.000 paling tinggi itupun kalau diterima toke dek. Hasil tenunan itu harus benar-benar rapi, tidak boleh benangnya itu ada yang kendor-kendor. Apalagi pas awal covid-19 lebih parah lagi harga ulosnya, sekarang udah lumayanlah dek.”
Ibu Rosti menuturkan bahwa pengeluaran sehari-hari semakin bertambah di masa pandemi Covid-19. Pengeluaran yang semakin bertambah salah satunya disebabkan karena anak Ibu Rosti yang masih bersekolah. Biaya untuk membeli handphone dan kuota internet setiap bulannya untuk belajar membuat pengeluaran Ibu Rosti semakin meningkat. Sebelum pandemi anak yang masih SMA dan SMP tidak memerlukan handphone saat belajar. Di masa pandemi ibu Rosti harus menyediakan handphone dalam memenuhi kebutuhan anaknya. Adapun bantuan
kuota hanya diterima salah satu anak Ibu Narti yang di jenjang SMP, dan anaknya yang berada di perguruan tinggi, hal tersebut juga belum dapat mencukupi kebutuhan dalam belajar daring. Dengan bantuan pemerintah kabupaten untuk memberikan potongan uang kuliah salah satu anaknya yang berada di perguruan tinggi membuat Ibu Rosti sedikit terbantu.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Untuk pengeluaran ibu saat ini paling banyak kuota internet dan membeli handphone lah dek. Dulu sebelum pandemi anak saya yang masih SMP dan SMA tidak saya kasih berhandphone karena saya pikir juga itu salah satu hal yang membuat anak itu malas membaca buku. Tapi karena sekarang sistemnya daring jadi harus dipenuhi. Saya bersyukur dek sekali anak saya yang kuliah dapat bantuan uang kuliah dari pemkab samosir.
Bantuan kuota dari pemerintah itu tidak semua anak saya mendapatkan dek, hanya anak saya yang ada di SMP, dan itu pun belum cukup dalam sebulan itu.”
Selain itu untuk menghemat pengeluaran sehari-hari, Ibu Rosti menuturkan tidak pernah membeli barang-barang yang tidak terlalu penting. Di masa pandemi Ibu Rosti hanya membeli perlengkapan hand sanitizer dan masker.
Untuk membeli pakaian sebelum pandemi hanya di akhir tahun saja. Namun, untuk keperluan sekolah Ibu Rosti tetap memprioritaskan karena tidak menginginkan anaknya merasa malu di sekolah. Selain itu untuk keperluan makan di masa covid-19 Ibu Rosti makan dengan teratur dan mengkonsumsi buah dan sayur. Sebelum pandemi Ibu rosti memakan buah apabila ada hasil dari ladang
saja, namun sekarang Ibu Rosti mengusahakan membeli buah dan sayur untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Untuk keperluan makan wajib dipenuhi makan nasi 3 kali satu hari dek, ya untuk menunya yang sederhana aja apalagi saya dan anak rame jadinya menunya telur, tahu, tempe kalo beli ikan di nelayan yang dikampung ini saja karena lebih murah dibandingkan di pasar. Apa lagi di masa pandemi ini lebih butuh makan sehat kan jadinya harus beli sayur dan buah, sebelum pandemi cukup kalo ada aja buah dari ladang sudah cukup dek.”
Kesehatan merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi setiap orang.
Ibu Rosti menuturkan bahwasannya mereka sekeluarga sudah terdaftar dalam BPJS. Karena biaya untuk berobat membutuhkan biaya yang mahal. Apabila mengalami penyakit ringan Ibu Rosti berobat cukup dengan ke bidan dan memperoleh obat juga dari bidan desa.
Berikut hasil wawancara peneliti yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Kalau sakit jarang dek, palingan sebelum dan dimasa pandemi cuman demam aja itu pun jarang sekali. Berobat cukup ke bidan yang ada di desa aja sama makan obat dari sana udah sembuh. Kalo BPJS semua keluarga saya sudah terdaftar dek, takutnya kan ada juga kondisi penyakit yang harus dibawa ke rumah sakit.”
Pemenuhan kebutuhan manusia salah satunya adalah tempat tinggal.
Tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan dalam bertahan hidup. Rumah merupakan salah satu fasilitas yang sangat dibutuhkan manusia, tidak terkecuali
Ibu Rosti. Ibu Rosti mempunyai rumah yang masih sederhana bertembok batu bata dan beralas semen dan hanya terdapat 1 kamar saja. Memiliki jendela di dalam ruang tamu dan kamar serta dapur. Dapur yang dimiliki Ibu Rosti juga masih sederhana yang masih semi permanen dan mempunyai 1 kamar mandi.
Sumber air yang digunakan air PDAM, namun untuk menghemat biaya listrik ibu rosti mencuci baju ke Danau Toba. Selain itu Ibu Rosti lebih sering memasak nasi menggunakan kayu bakar untuk menghemat listrik. Biaya yang diperlukan Ibu Rosti untuk air sebesar Rp 50.000 dan untuk biaya listrik Rp 45.000. Di masa pandemi Ibu Rosti mendapat potongan biaya listrik dengan membayar setengah dari tagihan listrik.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Rumah yang saya tempati sudah milik saya sendiri dek, tapi keadaanya masih sederhanalah dek, kalau ada uang rencana mau memperbaiki dapur saya karena kan masih masih darut. Penggunaan air sudah PDAM cuman kalo cuci baju saya tetap ke Danau Toba biar irit, dan kalo masak nasi juga saya pake kayu bakar biar biaya listrik juga tidak terlalu mahal. kalo mck waktu membangun rumah ini sudah saya sediakan dek”
Interaksi sosial dalam keluarga merupakan faktor yang sangat penting dalam menjaga keharmonisan dan kerukunan dalam keluarga dan dengan orang lain. Ibu Rosti menuturkan bahwasannya sebelum pandemi dan di masa pandemi komunikasi antara anggota keluarganya berjalan dengan baik, begitupun dengan masyarakat sekitar. Untuk kegiatan seperti arisan dan pelatihan bertenun terlaksana dengan baik namun di masa pandemi kegiatan tersebut ditiadakan untuk sementara waktu. Kegiatan gotong-royong penenun dan kegiatan posyandu
oleh kader tetap terlaksana perbulan. Bantuan berupa uang tunai yang diterima ibu Rosti dari keluarga maupun tetangga tidak ada, namun Ibu Rosti memperoleh bantuan dari pemerintah yaitu bantuan UMKM sebesar Rp 2.400.000, bantuan beras 15 kg, telur ½ papan dan bantuan pendidikan dari pemerintah Samosir untuk uang kuliah anaknya sebesar Rp 2.000.00. Hal ini cukup membantu bagi Ibu Rosti dalam memenuhi kebutuhan anaknya.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Komunikasi dengan keluarga sama tetangga baik dek, saya tidak pernah bertengkar dengan keluarga dan tetangga. Kalau bantuan materi dari keluarga tidak ada. Bantuan yang saya terima cuman dari pemerintah saja dek pertama bantuan untuk anak saya yang kuliah sama bantuan umkm satu atau dua kali dek tapi karena saya juga anggota PKH di masa pandemi ini saya dapat 15 kg beras dan telur ½ papan. Sebelum pandemi saya dan penenun dalam 1 sebulan itu ada pertemuan dengan dinas perindustrian dek, itu dipilih oleh kantor desa siapa saja yang ikut namun di masa pandemi kegiatan itu di tunda dulu beserta arisan marga dan partangiangan gereja. Kalau untuk gotong-royong dan posyandu tetap dilakukan dek.”