• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.1 Deskripsi Hasil Penelitian

5.1.4 Informan Utama II

Nama : Nursaide Sihotang

Umur : 45 Tahun

Suku : Batak

Agama : Kristen Protestan

Alamat : Desa Sitoluhuta

Pendidikan terakhir : SMP

Pekerjaan : Penenun

Jumlah anggota keluarga : 4 orang Pekerjaan suami : Petani

Informan utama yang peneliti wawancarai adalah Ibu Nursaide Sitanggang yang biasa disapa Ibu Nursaide. Ibu Nursaide sudah menjadi seorang penenun semenjak 20 tahun yang lalu. Ibu Nursaide merupakan penduduk asli di Desa Sitoluhuta. Ibu Nursaide memiliki 4 orang anak. Anak pertama Ibu Nursaide merupakan perempuan yang baru lulus dari tingkat SMA. Anak kedua Ibu Nursaide merupakan laki-laki yang masih bersekolah di jenjang SMA. Dan anak yang ketiga anak Ibu Nursaide merupakan laki-laki dan masih bersekolah di jenjang SMP. Terakhir anak Ibu Nursaide merupakan perempuan yang masih di jenjang pendidikan SD.

Ibu Nursaide merupakan penenun ulos yang menggunakan alat tradisional gedogan/kasussak. Alat tersebut merupakan kepunyaan Ibu Nursaide sendiri. Saat menenun Ibu Nursaide bekerja dibantu anaknya yang baru lulus SMA. Ibu Nursaide dalam kesehariannya sebagai penenun akan memulai kegiatan bertenun mulai dari pagi pukul 09.00 wib sampai malam hari. Kegiatan bertenun ini tentu akan diselingi dengan pekerjaan-pekerjaan lain seperti beberapa pekerjaan rumah tangga. Kegiatan bertenun pada pagi hari terkadang di lakukan di teras rumah untuk memperoleh cahaya yang lebih cerah sedangkan sore hari dilakukan di dalam rumah.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Ibu sudah 20 tahunan menjadi penenun. Dari dulu kerja ibu memang jadi penenun tapi belum bisa mengerjakan sendiri ya masih harus dibantu orang tua. Mulai menikah sampai sekarang saya kembali bertenun dan

sudah bisa mengerjakan sendiri, sebelumnya ibu tidak merantau karena merantau ke kota dek. Menurut ibu lebih enak bertenun ini, suami bisa keladang cari duit. Hasil dari ladangkan tidak setiap bulan jadi yang digunakan memang hasil dari bertenun ini. Anak saya masih sekolah semua, ini satu anak pertama baru lulus dari SMA. Anak yang baru lulus inilah yang membantu saya bertenun dek tapi dia belum bisa mengerjakan sendiri, kalau ada yang salah harus saya juga yang memperbaikinya.”

Peneliti juga bertanya kepada peneliti mengenai dampak pandemi covid-19 yang dirasakan oleh penenun. Ibu Nursaide menuturkan bahwasanya pendapatan penenun mengalami penurunan hal tersebut diakibatkan adanya pembatasan sosial di masa pandemi covid-19 dimana perayaan aktivitas budaya dibatasi bahkan ditunda untuk sementar waktu. Hal tersebut membuat minimnya akan pemakaian ulos dan permintaan akan ulos menjadi berkurang dan harga ulos yang mengalami penurunan. Di awal pandemi ulos hasil tenun Ibu Nursaide tidak diterima oleh toke ulos. Harga ulos yang biasa ditenun oleh Ibu Nursaide seharga Rp200.000. Ibu Nursaide dapat menghasilkan ulos sebanyak 6 lage/helai jadi dalam sebulan pendapatan yang diperoleh Ibu Nursaide Rp1.200.000. Di masa pandemi ini harga ulos yang Ibu Nursaide hasilkan seharga Rp180.000. Ibu Nursaide dapat menghasilkan ulos sebanyak 4 lage/ulos jadi, dalam sebulan pendapatan Ibu Nursaide Rp800.000. Sebelum pandemi Ibu Nursaide dapat menabung dari hasil tenun sebesar Rp30.000 sedangkan di masa pandemi ini Ibu Nursaide sama sekali tidak menabung.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Pandemi kayak gini menurun sekalilah pendapatan ibu dek. Ulos yang biasanya saya jual Rp200.000 sekarang hanya Rp180.000 lah paling tinggi dengan kualitas yang sama dan jenis yang sama ya. Suami juga bertani dek cuman penghasilanya kan nggak perbulan jadi yang digunakan memang dari hasil bertenun. Dulu sebelum pandemi ibu selalu menyisihkan Rp30.000 untuk tabungan tapi sekarang untuk memenuhi kebutuhan aja cukup udah bagus dek.”

Ibu Nursaide juga menuturkan adanya pengeluaran yang semakin bertambah untuk keperluan anak sekolah di masa pandemi Covid-19. Ibu Nursaide memiliki anak yang masih sekolah di jenjang SMA, SMP, dan SD. Di tengah pandemi keperluan akan handphone dan kuota internet sangat diperlukan untuk belajar. Anak Ibu Nursaide yang masih sekolah sebelumnya tidak memiliki handphone namun, karena adanya keperluan belajar di masa pandemi Covid-19 menyebabkan Ibu Nursaide harus membelikan anaknya handphone dan kuota internet. Adapun bantuan kuota yang diperoleh anak Ibu Nursaide hanya anaknya yang dijenjang SMA. Ibu Nursaide bersyukur anaknya yang memiliki KIP dan ikut terdaftar program PKH sehingga mendapat bantuan dalam setahub sekali.

Salah satu anak Ibu Nursaide yang baru lulus menunda masuk kuliah selama setahun untuk membantu orang tuanya terlebih dahulu.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Pas lagi Covid-19 kayak gini, keperluan anak sekolah makin nambah sekarang dek. Selama pandemi harus pakai handphone dan harus ada paket, mau gak mau kita belikan lah anak handphone. Itu pun yang di

pake tabunganlah dek. Itu pun saya bersyukur dek karena masih terdaftar jadi anggota PKH jadi, saya bisa dapat bantuan uang tunai setiap tahunnya itulah saya buat juga membeli handphone anak setahun lalu.”

Selain itu untuk mengurangi pengeluaran di masa pandemi Covid-19, Ibu Nursaide menuturkan bahwa keluarganya tidak pernah membeli barang-barang yang tidak diperlukan selain kebutuhan pokok sehari-hari. Dalam hal kebutuhan makan, Ibu Nursaide beserta keluarganya tetap makan dengan teratur 3 kali sehari sebelum dan di masa pandemi. Namun ada pengurangan menu makan di masa pandemi. Di masa pandemi Ibu Nursaide lebih memilih untuk mengkomsumsi ikan dan telur dari pada membeli ayam maupun daging yang harganya lebih mahal. Sebelum pandemi Ibu Nursaide menyatakan jarang sekali membeli susu dan buah namun, di masa pandemi ini Ibu Nursaide membeli susu kaleng dan buah minimal 3 kali dalam sebulan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Pembelian pakaian dilakukan Ibu Nursaide setahun dalam sekali dari uang bantuan yang diperoleh anaknya. Sedangkan di masa pandemi uang bantuan dari pemerintah dialihkan untuk membeli kuota internet dan handphone. Kegiatan berlibur juga jarang dilakukan Ibu Nursaide sebelum dan di masa pandemi.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Kalau masalah makanan dek sebelum dan di masa covid-19 ini juga ibu tetap makan 3 kali dalam sehari. Tapi menu untuk makannya di masa pandemi ini bertambah, ibu harus membeli susu dan buah. Kalau dulu makan sayur dan ikan sudah sangat lengkap itu. Kalau lagi masa covid-19 ini ibu tidak beli baju baru, karena natal dan gereja pun kan sudah

ditiadakan dulu jadi uangnya dialihkan untuk beli handphone anak sama kuota internetnya.

Peneliti juga menanyakan mengenai tempat tinggal Ibu Nursaide. Ibu Nursaide menuturkan bahwasanya tempat tinggalnya sudah merupakan kepemilikan sendiri dan berkat bantuan pemerintah sebelum pandemi covid-19 Ibu Nursaide telah mendapat bedah rumah. Bangunan rumah Ibu Nursaide sudah permanen dengan tembok papan, beralas semen dan sudah lengkap dengan sanitasi air dari PDAM dan mck.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Ibu sangat bersyukur dapat bantuan dari pemerintah untuk bedah rumah dek, walaupun ibu harus menambahi sikit-sikit lagi ya karena dana dari pemerintah hanya Rp15.000.000 jadi pinjamlah ke bank dulu. Dimasa covid-19 ini untang ibu sudah lunas sih dek. Rumah ibu yang sekarang sudah lengkap dengan sanitasi air dan mck dek meskipun temboknya masih papan dan belum dikeramik.”

Kesehatan adalah hal terpenting dalam hidup manusia untuk bisa melakukan segala aktivitas. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Ibu Nursaide bahwasannya Ibu Nursaide beserta keluarganya sudah mempunyai BPJS. Di masa pandemi dan sebelum pandemi penyakit yang biasa di alami oleh Ibu Nursaide hanya demam biasa dan biasanya berobat ke puskesmas pembantu desa.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Kalo ada yang sakit di rumah dek ibu membawanya berobat ke Puskesmas pembantu desa aja dek. Ibu dan keluarga sudah punya BPJS”

Hubungan interaksi sosial Ibu Nursaide dengan tetangganya maupun masyarakat yang ada di Desa Sitoluhuta terjalin dengan baik. Ibu Nursaide juga terkadang meminta pertolongan meminjam uang kepada toke ulosnya yang merupakan tetangga Ibu Nursaide. Ibu Nursaide juga memperoleh bantuan UMKM yang disalurkan pemerintah di masa pandemi yang dapat dmembantu dalam memenuhi kebutuhan dan menambah modal Ibu Nursaide. Ibu Nursaide juga juga mengikuti arisan yang ada di desa dan pelatihan penenun. Namun, di masa pandemi ini kegiatan ditunda untuk sementara waktu. Di masa pandemi ini hubungan komunikasi Ibu Nursaide dengan anaknya sedikit berbeda dibandingkan sebelum pandemi. Ibu Nursaide menuturkan anaknya menjadi lebih sering bermain handphone dan terkadang sering melupakan pekerjaan rumah.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Hubungan saya dengan anak saya baik-baik aja dek, cuman setelah anak saya mempunyai handphone terkadang mereka susah disuruh dan pura-pura tidak mendengar. Kalau hubungan dengan tetangga ibu tidak pernah berantem dek, seperti kemarin ibu meminjam uang dulu ke toke untuk menanam jagung baru nanti dibayar setelah ada hasil dari bertenun. Ibu juga dapat bantuan UMKM dek, ya lumayanlah untuk mebantu dalam modal dan memenuhuhi kebutuhan di masa pandemi ini”