5.1 Deskripsi Hasil Penelitian
5.1.6 Informan Utama IV
Nama : Renti Gurning
Umur : 43 Tahun
Suku : Batak
Agama : Katolik
Alamat : Desa Sitoluhuta
Pendidikan terakhir : SMP
Pekerjaan : Penenun
Jumlah anggota keluarga : 7 orang
Pekerjaan suami : - (Meninggal)
Renti gurning atau yang biasa disapa Ibu Renti merupakan yang salah satu penenun ulos di Desa Sitoluhuta yang sudah bertenun selama 16 tahun. Ibu Renti merupakan penduduk asli Desa Sitoluhuta dan menjadi tulang punggung keluarga (single mother). Ibu Renti dalam kesehariannya sebagai penenun akan memulai kegiatan bertenun mulai dari pagi sampai malam hari. Ibu Renti bertenun dengan menggunakan alat tradisional yaitu gedogan. Dalam bertenun Ibu Renti dibantu dengan anaknya ketika sudah pulang dari sekolah. Kegiatan bertenun ini tentu akan diselingi dengan pekerjaan-pekerjaan lain seperti beberapa pekerjaan rumah tangga. Ibu Renti memiliki 7 orang anak, 5 diantaranya masih di jenjang sekolah dan 2 anaknya sudah bekerja namun masih tinggal bersama dengan Ibu Renti dan masih menjadi tanggung jawab Ibu Renti.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Ibu sudah lama tinggal di desa ini dek, orang tua ibu juga dulu tinggal disini. Ibu bertenun itu sejak masih remaja umur-umur 16 tahun lah tapi itu tidak menetap. Sejak saya menikah baru ibu selalu bertenun. Ibu masih menggunakan gedogan kalau bertenun dek karena kan dari awal sudah pakai itu jadi kalau pakai yang modern ibu belum tau. Anak ibu ada 7, yang masih sekolah ada 5 dan 2 lagi sudah tamat dari SMA. Ibu bertenun sendiri dek, cuman terkadang kalau anak saya pulang sekolah
mau dibantu seperti menyisir dan mengkanji benang itu. Mereka juga belum paham keseluruhan cara bertenun ini.”
Peneliti juga menanyakan bagaimana dampak pandemi yang dirasakan oleh penenun. Ibu Renti menuturkan bahwasanya pandemi covid-19 membuat pendapatannya berkurang. Ibu Renti menuturkan bahwasanya pendapatan penenun mengalami penurunan hal tersebut diakibatkan adanya pembatasan sosial di masa pandemi covid-19 dimana perayaan aktivitas budaya dibatasi bahkan ditunda untuk sementar waktu. Hal tersebut membuat minimnya akan pemakaian ulos dan permintaan serta harga akan ulos menjadi berkurang. Sebelum pandemi covid-19 harga Harga ulos yang biasa ditenun oleh Ibu Renti seharga Rp200.000.
Ibu Renti dapat menghasilkan ulos sebanyak 8 lage/helai jadi dalam sebulan pendapatan yang diperoleh Ibu Renti Rp1.600.000. Di masa pandemi ini harga ulos yang Ibu Renti hasilkan seharga Rp180.000. Ibu Renti dapat menghasilkan ulos sebanyak 4 lage/ulos jadi, dalam sebulan pendapatan Ibu Renti Rp1.100.000.
sebelum pandemi dan dimasa pandemi Ibu Renti sama sekali tidak menabung karena pendapatannya habis untuk memenuhi kebutuhan. Terkadang Ibu Renti di masa pandemi juga melakukan pekerjaan ke ladang orang lain untuk menambah penghasilannya selama 5 hingga 6 kali dalam sebulan dengan gaji perhari Rp70.000.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Semenjak ada covid-19 pemasaran ulos berkurang dek, harganya menurun. Sebelum pandemi harga ulos yang saya buat Rp200.000/ulos sekarang nggak dapat lagi segitu, sekitar Rp180.000 lah dek. Karna pemasaran nya juga lancar saya biasanya menghasilkan ulos bisa 8
paling banyak dalam sebulan. Sekarang pemasarannya pun kurang jadinya 4 ulos dalam sebulan, itu pun mengerjakannya udah malas dek karena turunnya harganya. Tapi, disini nggak ada lagi kerjaan apalagi lahan yang saya punya juga sedikit, ketiga anak saya pun sudah bisa menyelesaikan itu, terkadang ke ladang orang lah dek yang punya lahan luas untuk menambah penghasilan.”
Dengan pendapatan yang menurun, kebutuhan juga banyak yang harus dipenuhi. Ibu Renti menuturkan karena beliau hanya tamatan dari SMP, Ibu Renti menginginkan anaknya untuk bisa nantinya tamat dengan ijazah SMA. Kebutuhan sekolah yang harus dipenuhi Ibu Resti di masa pandemi ini handphone dan kuota dalam setiap bulannya. Pemakaian Handphone dilakukan secara bergantian dan meminjam kepada anaknya yang sudah bekerja. Ibu Renti menjadi salah satu penerima manfaat sehingga mendapat bantuan uang program keluarga harapan per tahunnya diperoleh adapun bantuan kuota dari pemerintah tidak diterima oleh anak Ibu Renti. Hal tersebut juga belum diketahui Ibu Narti penyebabnya.
Sebelum pandemi Ibu Renti hanya mengeluarkan biaya transportasi untuk anaknya yang sedang di jenjang sekolah.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Meskipun pendidikan saya hanya SMP dek, maunya anak saya bisa lah lebih tinggi dari situ. Kalaupun nanti tidak sanggup sampai kuliah SMA minimal dek. Apalagi dengan adanya bantuan dari PKH ini cukup membantu dek. Di masa pandemi ini lah dek yang khawatir anak harus ada handphone sama kuotanya. Bantuan kuota itu anak saya tidak
mendapat dek, ibu juga bingung kenapa tidak dapat ya mungkin anak salah mendaftarkan di sekolah”.
Peneliti juga bertanya kepada Ibu Renti bagaimana pemenuhan kebutuhan pangan dan sadang selama pandemi covid-19. Di masa pandemi dan sebelum pandemi Ibu Renti makan dengan 3 kali sehari namun, sebelum pandemi Ibu Renti masih mampu membeli daging sebagai menu makanan sedangkan di masa pandemi Ibu Renti sudah tidak pernah membeli daging cukup dengan makan ikan asin sayur dan sekali-kali memakan buah. Ibu Renti juga menuturkan keluarga jarang berlibur dikarenakan biaya yang tidak ada. Dalam pemenuhan pakaian ibu Renti kerap kali membeli monza namun di masa pandemi ini Ibu Renti sudah tidak pernah membeli monza dan beralih untuk membeli masker.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Ibu mengurangi menu makanan dek, tapi tetap makan 3 kali sehari, sebelum pandemi kan harga daging lumayan murah jadi sekali-kali beli daging kalau dimas pandemi ini nggak lagi cukup makan sayur dan ikan dan terkadang membeli buah. Kegiatan berlibur jarang dek sebelum dan dimasa pandemi ini. Untuk beli baju biasanya ibu beli monza, selama pandemi nggak lagi beli baju dek.”
Peneliti juga menanyakan kepada Ibu Renti mengenai kesehatan keluarga Ibu Renti. Ibu Renti menuturkan bahwa sebelum dan dimasa pandemi Ibu Renti tidak menderita penyakit apapun, namun apabila mengalami sakit Ibu Renti beserta keluarga berobat ke puskesmas yang relatif murah dan menggunakan BPJS apabila harus ke rumah sakit.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Ibu dan keluarga jarang sakit dek, ya kalaupun sakit ibu pergi ke puskesmas dek biar murah, dengan menggunakan BPJS atau ke bidan desa sebelum dan dimasa pandemi ini.”
Tempat tinggal Ibu Renti sudah merupakan tempat tinggal sendiri. Ibu Renti membangun rumahnya dengan bantuan bedah rumah dari pemerintah.
Rumah Ibu Renti juga sudah dilengkapi dengan dapur, listrik dengan token, mck dan sanitasi air dengan bantuan dari desa. Rumah yang ditempati Ibu Renti layak digunakan meskipun bertembok dengan papan dan beralas semen.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Rumah ini punya sendiri dek, dan kemarin dapat bantuan dari pemerintah untuk merenovasi. Untuk air sama mck sudah ada dek, dulu saya juga dapat bantuan desa untuk memasukan sanitasi air karena Danau Toba kan lumayan jauh dari rumah saya.”
Peneliti juga bertanya mengenai komunikasi Ibu Renti dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Ibu Renti menuturkan bahwa Ibu Renti tidak pernah melakukan perkelahian dengan tetangganya. Bahkan, Ibu Renti juga meminjam kepada salah satu toke yang ada di lingkungannya di masa pandemi ini. Namun dimasa pandemi ini Ibu Renti kerap kali menjaga jarak dengan orang sekitar karena takut akan adanya virus. Begitu pun dengan anak-anaknya komunikasi Ibu Renti berjalan dengan baik. Dalam kegiatan bergotong-royong selama pandemi dan sebelumnya tetap dilakukan beserta kegiatan posyandu. Namun untuk kegiatan arisan dan kegiatan gereja untuk sementara waktu ditiadakan. Ibu Renti juga mendapatkan bantuan umkm sebesar Rp2.400.00 dimasa pandemi yang dapat
digunakan Ibu Renti dalam menambah biaya kebutuhan-kebutuha dimasa pandemi.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Hubungan dengan lingkungan baik dek, komunikasilah yang sedikit berkurang dek dikarenakan pandemi ini dan beberapa kegiatan ditunda sementara waktu. tapi kalau gotong-royong dan posyandu tetap dek. Di masa pandemi ini saya meminta bantuan dek meminjam uang ke toke sebelum menjual hasil tenunan saya. Bantuan yang saya dapat cuman dari dinas perindustrian dek dikasih benang, kalo PKH sebelum dan dimasa pendemi beras memang ada. Adapun saya dapat bantuan umkm dimasa pandemi ini dek cuman sekali aja. Cukup membatu sih dek, yah nambah-nambah bisa dialihkan dalam memenuhi kebutuhan dan menambah-nambah modal.”