BAB V HASIL PENELITIAN
5.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian
5.1.2 Informan Utama I
1. Nama : Togi Dumaris Simamora 2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Usia : 52 Tahun
4. Suku : Batak Toba
5. Agama : Kristen Protestan
6. Status : Menikah
7. Pekerjaan : Bertani 8. Jumlah anak : 5 orang 9. Pendidikan Terakhir : SMA
Informan utama yang peneliti wawancarai adalah Ibu Togi Dumaris Simamora. Beliau berusia 52 tahun dan merupakan penduduk asli desa Paindoan.
Ibu Togi bekerja sebagai petani dan suaminya Bapak H. Siahaan bekerja sebagai supir bus. Beliau memiliki 5 orang anak dan kelima anaknya saat ini sedang menempuh pendidikan. Beliau tergabung dalam KUBE Dos Roha.
Ibu Togi adalah salah satu ketua kelompok dengan jenis usaha ternak babi.
Beliau bergabung dengan KUBE sejak tahun 2013 dan mengetahui informasi dari salah satu masyarakat desa yang bekerja di dinas sosial. Perseorangan ini telah memberi informasi dan mengajak untuk bergabung dalam pembentukan kelompok usaha ini di desa Paindoan. Setelah bergabung dalam kelompok, beliau dan anggota lainnya tidak mendapatkan pelatihan.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :
“Ini dinas sosial yang memberi informasi. Kebetulan pekerja dari dinas sosial ada yang dari desa ini, dialah yang memberikan berita ini kepada kita. Dia ini datang kepada ibu-ibu PKK kan, diinfokan lah kepada kita agar kita yang urus. Kemudian dibagi atas 5 kelompok, 10 orang perkelompok dari masyarakat-masyarakat desa Paindoan. Semua anggota kelompok ini tidak pernah mendapat pelatihan baik dari dinsos atau desa.”
Ibu Togi dan anggota kelompoknya mengaku tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan anggota kelompok. Kelompok hanya mengandalkan iuran yang dikumpulkan untuk meningkatkan produktifitas kelompok. Awalnya iuran yang dikumpulkan akan dibuat menjadi dana simpan pinjam antar anggota, tetapi hal ini tidak terealisasi.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :
“Kelompok kami sendiri dalam meningkatkan kemampuan kelompok tidak ada cara khusus atau kegiatan di kelompok yang bisa meningkatkan kemampuan kita. Untuk meningkatkan produktifitas kelompok, kami mengandalkan iuran anggota itu saja. Awalnya kita berniat untuk adakan simpan pinjam, tapi biasanya ibu-ibu desa sudah ada simpan pinjam dari organisasi Simpan Pinjam Perempuan (SPP). Kita menghindari terjadi hal lain-lain tidak diinginkan nanti ke depannya kan, jadi kita tahan saja dana ini untuk iuran saja.”
Dalam pelaksanaanya, kelompok ini memiliki pendaping. Pendamping KUBE kelompok Dos Roha bernama Bapak Hiras Siahaan yang merupakan salah satu masyarakat Paindoan dan hanya ditunjuk oleh dinas sosial. Pada awal
pembentukan, Ibu Togi berencana menjadi pendamping karena beliau salah satu orang yang ikut mengurus pembentukan kelompok ini ke dinas sosial. Namun karena beliau telah menjadi ketua kelompok, beliau tidak jadi ditunjuk agar tidak terjadi rangkap jabatan.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :
“Pendamping ini bukan kita yang pilih, tetapi ditunjuk langsung dari pihak dinas sosial. Awalnya saya hampir ditunjuk tetapi karena saya ketua dan tidak diperrbolehkan ada rangkap jabatan, jadi ditunjuklah Bapak Hiras tadi sebagai pendamping kami. Tapi dia bukan pegawai dinas sosial, beliau masyarakat desa ini juga.”
Kelompok Dos Roha biasanya melakukan rapat anggota jika ada salah satu anggota yang menemukan permasalahan dalam mengurus ternak. Namun, pendamping KUBE kurang menunjukkan motivasi kepada kelompok Dos Roha.
Anggota kelompok biasanya menyelesaikan masalah sendiri tanpa bantuan dari pendamping. Misalnya saat akan melaksanakan penyuntikan ternak, anggota kelompok berdisukusi untuk menentukan tanggal agar anggota kelompok dapat melakukakan penyuntikan secara serempak.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :
“Jika ada pembahasan yang perlu diadakan, kita akan kumpul dulu anggota kelompok. Kalau ada masalah ya dipecahkan bersama dengan pendamping. Tetapi menurut saya di kelompok kami pendamping KUBE kurang menunjukkan motivasi ya. Kita kalau mau suntik ternak biasanya kita anggota sekelompok panggil tukang suntik karena ada jumlah
minimalnya kalo mau suntik babi, itu hanya kita saja yang urus dan tidak ada pendamping KUBE yang mengawasi.”
Menurut Ibu Togi, yang menjadi permasalahan utama kelompok ternak Dos Roha adalah pemberian pakan, masyarakat tidak sanggup membayarkan pakan kering karena dirasa cukup mahal. Alternatifnya adalah pemberian pakan basah atau sisa-sisa dari konsumsi rumah tangga yang kualitasnya jauh lebih rendah daripada pakan kering. Selain itu, masalah lain yang muncul adalah adanya penyakit ternak sehingga banyak ternak yang mati. Kelompok Dos Roha pun tidak menjalin kerjasama dengan masyarakat Paindoan, namun cukup mendapat dukungan.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :
“Kalau soal hambata, ya bagaimanalah rezeki seseorang ini kan, berbeda-beda, ada yang tidak lancar ternaknya. Seperti kurang biaya begitukan untuk beli pelet atau pakan kering jadi ganti pakan basah padahal harusnya pakan kering. Awalnya ternak ini sebelumnya diberi makan pakan kering sama pihak dinas sosial, tapi saat diberikan ke anggota kelompok menjadi makan pakan basah karena tidak sanggup bayar pakan kan. Jadi terasa terhambatlah semuanya. Terkadang juga ada muncul penyakit ternak kan, bisa banyak ternak yang kita pelihara itu mati. Kalo masalah lain-lain masih lancar-lancar saja ya saya rasa. Tapi ada juga masalah baru-baru ini. Pada bulan Januari kemarin ada penyakit ternak babi, banyak sekali itu ternaknya yang mati bahkan sampai habis tidak bersisa. Kalau sudah masalah alam seperti ini susah lah, tidak ada jalan keluarnya. Terkait kerjasama, tidak ada kerja sama dengan anggota masyarakat Tapi
masyarakat cukup mendukung menurut saya. Tujuan awalnya juga kan kita mau ajak masyarakat lain untuk bergabung dalam kelompok, tetapi karena ada penyakit ternak belakangan ini tidak bisa kita lanjutkan tujuan itu.”
Dalam pemenuhan kebutuhan, Ibu Togi dan keluarga masih bisa mengakses air bersih dan makan tiga kali sehari walau merasa bahwa pendapatannya masih sangat pas-pasan. Meskipun dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan, Ibu Togi dan suaminya menganggap pendidikan sangat penting. Beliau berusaha keras untuk menyekolahkan anaknya. Anak pertamanya saat ini sedang menuju tingkat akhir di salah satu sekolah theologia. Beliau merasa berat dalam pemenuhan kebutuhan sekolah.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :
“Kebetuhan air bersih kami masih terpenuhi. Makan juga masih sanggup tiga kali sehari, bisa makan nasi, ikan dan sayur. Kalau buah hanya sesekali saja, karena kan pendapatan ya pas-pasan kali sebetulnya ini.
Kalau dibilang cukup, belum tentu cukup kan, tapi ya bagaimanalah cara kita agar bisa memenuhi kebutuhan anak-anak. Kita buat ternak, kita buat ini dan itu untuk menambah pendapatan untuk sekolah anak juga. Sekolah ini penting, saya dan suami usahakan yang terbaik untuk sekolah anak.
Anak pertama saya sekarang sudah menuju tingkat akhir STT. Berat memang biaya kuliah ini. Apalagi baru-baru ini ternak saya habis karena mati terkena penyakit. Padahal sudah direncanakan uang ternak ini untuk bayar kuliah, pusing lah sekarang ini.”
Walau pemenuhan kebutuhan terasa sulit, anak-anak dari Ibu Togi tidak ikut berperan dalam menambah pendapatan keluarga. Anak-anak hanya ikut ke
pollak (ladang), tidak ikut ke sawah dan hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Untuk masalah kesehatan, beliau memiliki BPJS dan biasanya membawa anggota keluarga yang sakit ke puskes Paindoan. Anggota keluarga beliau juga tidak pernah mengalami sakit serius sehingga harus dibawa ke rumah sakit.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :
“Kalau untuk menambah pendapatan ya anak-anak tidak ikut berperan karena masih sekolah. Kalau bantu ke pollak mereka mau, kalau ke sawah mereka tidak ikut. Kasihan kalau sampai gatal-gatal mereka. Palingan bantu dirumah saja, masak, cuci piring dan jaga rumah . Untuk akses kesehatan, kami ada BPJS yang dari pemerintah. Kalau anak saya sakit, saya bawa ke puskes dulu. Kalau tidak bisa ditangani kami akan pikirkan untuk dibawa ke rumah sakit lah. Tetapi anak-anak belum pernah ada sakit yang mengharuskan dibawa ke rumah sakit. Ke puskes dikasih obat biasanya sudah sembuh.”
Kondisi tempat tinggal Ibu Togi dan keluarga sudah layak. Pembuangan air kamar mandi masih dialirkan ke belakang rumah, namun aliran kloset sudah disalurkan ke septitank. Pendapatan ibu Togi dalam tiga bulan berkisar Rp.4.000.000. Total ini merupakan pendapatan kotor dari hasil tani dan ternak, pendapatan ini masih dipotong pupuk, pakan, gaji buruh tani dan lain-lain. Beliau biasa menjual ternak dengan harga Rp. 30.000 per kg dan beliau biasanya menjual 3 ekor pertahun. Untung bersih dari ternak hanya sekitar Rp.500.000 per ekor.
Sehingga jikauntung dihitung dalam perbulan, pendapatan perbulan hanya bertambah Rp.130.000- Rp. 150.000.
Beliau juga menambah pendapatan dari gaji sebagai guru PAUD yaitu sebesar Rp.500.000/tiga bulan. Tetapi beberapa bulan belakangan pendapatan ini menurun dikarenakan ternak yang beliau pelihara mati terkena penyakit. Suami beliau yang bekerja sebagai supir juga berhenti bekerja 4 bulan terakhir dikarenakan masa pandemi sangat sulit untuk mncapai target penumpang.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :
“Rumah saya rasa sudah cukup nyaman, tapi memang tidak ada ada tv dan kulkas. Udara juga kan masih bebas masuk. Kalau air bekas mandi dan cuci piring pembuangannya ke belakang rumah aja, tapi kalau kloset sudah pakai septitank. Sekarang susah bahas pendapatan ini ya. Pendapatan saya pertigabulan masa panen. Sekitar 4 juta dipotong pupuk, pakan dan gaji pekerja.
Saya biasanya hanya jual 3 pertahun, untung-untung sedikit saja. Lalu ada tambahan 500 ribu dari hasil menjadi guru PAUD setiap 3 bulan juga. Seperti saya bilang tadi ternak saya banyak mati, suami juga nggak bisa kerja sudah 4 bulan. Karena corona kan ada batas penumpang bus, padahal kalau bus nggak penuh nggak balik modal minyaknya. Jadi sekarang sangat berat karena berkurang pemasukan keluarga.”