BAB V HASIL PENELITIAN
5.2 Pembahasan Hasil Penelitian
5.2.2 Tingkat Kesejahteraan Penerima Program Sebelum dan
Kesejahteraan masyarakat adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehinggga dapat melaksanakan fungsi sosialnya seperti yang tercantum dalam Undang-undang No. 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan sosial. Pelaksanaan program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Desa Paindoan merupakan langkah yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan dengan cara mengelola modal awal guna menambah pendapatan melalui pemberdayaan masyarakat yang dibentuk dalam small group. Dengan pemberdayaan secara berkelompok, diharapkan terjalin rasa sepenangungan yang sehingga kelompok memiliki rasa kekeluargaan dan rasa tanggung jawab dalam pengembangan kelompok usaha.
Melalui program KUBE, masyarakat diberdayakan dengan harapan memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain sesuai dengan teori
Sugarto (Sugarto, 2005). Keterampilan yang diperoleh oleh anggota KUBE tenun adalah cara menenun kain ulos atau kain mandar dan KUBE ternak juga mendapatkan pengetahuan tentang cara mengelola dan merawat ternak babi.
Keterampilan dan pengetahuan ini kemudian diharapkan dapat menjadi modal anggota kelompok untuk mempengaruhi kehidupannya baik berupa soft skill ataupun penambahan pendapatan. Sama seperti tujuan awal program KUBE, pemberdayaan diharapkan mampu mempengaruhi masyarakat sekitar Desa Paindoan untuk ikut bergabung dalam upaya pemberdayaan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Kelompok masyarakat yang menerima program ini adalah masyarakat yang tidak memiliki keberdayaan untuk memperbaiki keadaan kesejahteraan keluarganya sesuai dengan pernyataan Soekanto yaitu tujuan pemberdayaan adalah memprkuatkekuasaan masyarakat khususnya kelompok lemah yang memiliki ketiadaberdayaan (Soekanto, 1987). Anggota kelompok merasakan ketiadaberdayaan karena tidak memiliki keahlian khusus atau bahkan tidak memiliki pendidikan formal guna menghasilkan pendapatan tambahan dalam menyokong kebutuhan keluarga.
Keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaan program KUBE merupakan cara pemerintah Desa Paindoan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Informan utama yang peneliti wawancarai adalah masyarakat yang menjadi badan pengurus dalam kelompoknya masing-masing sehingga memahami dengan baik apa yang terjadi dalam kelompok. Kelima informan memiliki pekerjaan utama dan menjadikan kegiatan program KUBE sebagai
pendapatan tambahan. Kelima informan telah berkeluarga, namun informan III dan V sudah berstatus janda.
Penelitian ini akan melihat tingkat kesejahteraan keluarga penerima program KUBE di Desa Paindoan dari 5 indikator kesejahteraan yang dikemukakan oleh Midgley yaitu pemenuhan gizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, dan pendapatan.
1. Gizi
Gizi atau konsumsi pangan merupakan suatu zat yang terdapat dalam makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral yang penting bagi manusia untuk pertumbuhan dan pelaksanaan aktifitas. Tingkat kesejahteraan masyarakat salah satunya dipengaruhi kondisi pemenuhan gizi masyarakat tersebut. Meningkatnya kesejahteraan akan meningkatkan konsumsi pangan individu karena daya beli terhadap pangan makin meningkat. Kondisi terpenuhinya gizi bagi keluarga tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya.
Dalam pemenuhan pangan keluarga, informan I mampu memenuhi makan 3 kali dalam sehari walaupun sangat pas-pasan. Hanya konsumi nasi, lauk dan sayur, sedangkan buah hanya dapat dikonsumsi sesekali. Informan II dan IV dapat memenuhi konsumi keluarga sebanyak 3 kali sehari lengkap dengan sayur dan buah. Informan II tidak mengkonsumsi susu dengan alsan tidak menyukai susu dan informan IV meyediakan konsumsi susu hanya untuk anak-anaknya.
Informan III sangat sulit memenuhi pangan 3 kali dalam sehari dan hanya mampu mengkonsumsi nasi dan lauk. Sayur hanya dapat dikonsumsi sesekali, sedangkan buah akan dikonsumsi ketika pohon yang ditanam di pekarangan
rumah sudah berbuah. Informan V dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga sebanyak 3 kali sehari dengan nasi, lauk, dan sayur yang didapat dari hasil tanam disekitar rumah. Sedangkan buah hanya dikonsumsi ketika harga buah di pasar sedang turun. Informan V akan membelikan susu untuk anaknya jika sedang memiliki uang tambahan dari hasil menjual tenun.
Kemudian setelah bergabung dengan kelompok usaha bersama di Desa Paindoan, kelima informan menyatakan mendapat penghasilan tambahan untuk memenuhi konsumsi pangan keluarga untuk menambah beras maupun lauk.
Hanya saja penambahan kuantitas dan kualitas gizi keluarga hanya meningkat dalam jumlah sedikit. Informan dari KUBE ternak hanya mendapat tambahan konsumsi pangan untuk sekedar tambahan sayur-mayur karena penghasilan dari KUBE baru dapat dirasakan dalam jangka waktu yang panjang karena masa panen tenak cukup lama. Sedangkan informan V dari KUBE tenun cukup merasakan dampak penambahan konsumsi rumah tangga karena bisa membeli susu.
2. Kesehatan
Kesehatan menjadi hal yang sangat utama dalam kehidupan. Masyarakat yang sakit akan sulit mencapai kesejahteraan dirinya. Masyarakat hendaknya tidak dibatasi jarak dan waktu dalam mengakses fasilitas kesehatan. Masyarakat mengharapkan mendapat fasilitas layanan kesehatan murah namun berkualitas disaat yang bersamaan.
Kesehatan anggota keluarga informan I, II, III, dan V dapat dikatakan baik karena tidak ada anggota keluarga yang mengidap penyakit khusus dan tidak pernah mengalami penyakit serius. Lalu salah satu anak informan IV, yaitu anak bungsunya memiliki gangguan bicara (tunawicara). Untuk mengakses fasilitas
kesehatan, informan I dan IV memiliki asuransi kesehatan berupa BPJS, sedangkan informan II, III, dan V memiliki asuransi kesehatan berupa KIS.
Kelima informan biasanya membawa anggota keluarga yang sakit untuk berobat ke poskesdes atau bidan yang ada di desa Paindoan.
Keadaan kesehatan anggota keluarga dan kemudahan dalam mengakses fasilitas kesehatan kelima informan tidak mengalami perubahan saat sebelum dan sesudah mengikuti program KUBE di Desa Paindoan. Kelima informan sejak dulu biasanya menerima pengobatan dari fasilitas kesehatan yang ada di desa yaitu ke poskesdes atau bidan Desa Paindoan.
3. Pendidikan
Menurut KBBI, pengertian pendidikan adalah sebuah proses ataupun tahapan dalam pengubahan sikap serta etika maupun tata laku seseorang atau kelompok dalam orang dalam meningkatkan pola pikir manusia melalui pengajaran dan pelatihan serta perbuatan yang mendidik. Hal ini berkaitan dengan tujuan bahwa arti pendidikan bukan hanya sebagai proses transfer pengetahuan saja akan tetapi sebagai proses pengubahan etika, norma ataupun akhlak dari peserta didik. Pendidikan menjadi salah satu kebutuhan utama yang seharusnya terpenuhi dengan baik. Pendidikan menjadi jalan bagi seseorang untuk dapat meningkatkan kualitas kesejahteraan hidupnya.
Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan, kelima informan menyatakan pendidikan menjadi sesuatu yang penting. Informan I menyekolahkan 5 anaknya, dan anak pertama telah memasuki jenjang perguruan tinggi sekolah theologia, anak kedua dan ketiga duduk di bangu SMK, anak ketempat kelas 3 SMP dan anak terakhir kelas 6 SD. Informan II juga berhasil menyekolahkan
anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Dua anaknya hanya lulus SMA dan langsung bekerja, lalu dua orang telah menamatkan gelar sarjana dan dua orang lagi tengah duduk di bangku perkuliahan.
Informan III sangat sulit memenuhi kebutuhan sekolah anaknya. Informan IV menyekolahkan 6 dari 7 anaknya. Anak keempat dan kelima saat ini sedang menempuh pendidikan di tingkat perguruan tinggi, sedangkan anak bunsgu tidak mengikuti pendidikan dikarenakan mengalami gangguan tunawicara dan daerah sekitar desa belum tersedia fasilitas SLB. Informan V menyekolahkan anak pertama hanya hingga SMK karena kendala biaya, anak kedua saat ini sedang mengikuti tes masuk perguruan tinggi, anak ketiga duduk di bangku SMA dan anak terakhir saat ini masih kelas 5 SD.
Keadaan informan setelah masuk dalam program KUBE ini menunjukkan bahwa pendapatan dari KUBE sangat membantu program pendidikan anak.
Misalnya informan I biasanya menggunakan uang hasil penjualan tenak untuk membayar uang kuliah anak pertamanya. Namun karena penyakit ternak yang menyebabkan banyak ternak mati, informan I mengalami kewalahan untuk memenuhi target uang kuliah anak. Informan V pun menyatakan akan menyekolahkan anak keduanya karena merasa sudah mampu dari hasil tenun yang beliau kelola.
4. Tempat Tinggal
Tempat tinggal biasanya berwujud bangunan rumah, tempat berteduh, atau struktur lainnya yang digunakan sebagai tempat manusia tinggal. Kondisi tempat tinggal tentu sangat mempengaruhi kualitas kesejahteraan individu. Semakin meningkat kondisi rumah, maka meningkat pula kualitas kesejahteraannya.
Rumah sebagai tempat tinggal tentu memiliki banyak fungi seperti misalnya tempat berlindung, tempat beristirahat, bahkan sebagai indikator menunjukan status sosialnya.
Ada 3 kriteria tempat tinggal yang dinilai menurut Kaare Svalastoga, yaitu pertama, status rumah yang ditempati misalnya rumah hak milik, rumah dinas, menyewa, atau menumpang. Kedua, kondisi fisik bangunan, misalnya dinding permanen, kayu, atau bambu. Ketiga, besarnya rumah yang dihuni menunjukkan semakin tingginya kualitas rumah.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, kelima informan telah memiliki rumah dengan status rumah milik sendiri. Informan I, II, dan IV memiliki rumah dengan tipe dinding permanen. Sedangkan rumah informan III terbuat dari kayu dengan model rumah adat yaitu rumah panggung. Informan V memiliki rumah dengan kondisi setengah dinding dan setengah kayu di bagian depan rumah, sedangkan untuk bagian belakang rumah dan dapur terbuat dari kayu. Ukuran rumah informan sudah cukup untuk ditinggali.
Fasilitas-fasilitas lain di dalam rumah juga tentu mendukung kualitas kesejahteraan keluarga. Informan I memiliki rumah berlantai semen dan kamar mandi sudah berada di dalam rumah. Alat elektronik berupa TV dan kulkas belum tersedia. Tidak ada saluran pembuangan air dan hanya ada saluran pembuangan kloset. Informan II telah memiliki rumah dengan lantai keramik lengkap dengan alat elektronik seperti TV dan kulkas. Rumah informan III berlantai kayu dan tidak memiliki sumber air dan listrik. Rumah informan IV berlantai semen dan sudah memiliki kamar mandi di dalam rumah serta diilengkapi fasilitas TV, namun pembuangan saluran air kurang memadai. Informan V memiliki rumah
berlantai semen dan difasilitasi dengan TV, tetapi letak kamar mandi masih berada diluar rumah dengan kualitas yang kurang memadai.
Rumah kelima informan saat ini telah memiliki saluran udara yang memadai. Saat dibandingkan dengan sebelum mengikuti program KUBE, hanya kondisi rumah informan II yang mengalami perubahan. Namun perlu diperhatikan bahwa peningkatan kualitas tempat tinggal ini tidak semata-mata karena hasil ternak yang dikelola oleh informan saja. Ternak yang dikelola informan II memang berkembang baik, namun perubahan kondisi rumah ini juga didukung oleh bantuan dari anak-anak beliau yang sudah bekerja.
Kondisi tempat tinggal informan I, IV, dan V dari segi bangunan memang tidak mengalami perubahan, namun fasilitas dalam rumah terlihat semakin membaik. Namun perlu diperhatikan bahwa tejadinya peningkatan fasilitas ini pun bukan hanya hasil dari pengelolaan program KUBE saja.
Informan I menghabiskan uang dari hasil program KUBE ini lebih banyak ke arah pendidikan, sedangkan informan IV mengalami peningkatan fasilitas pun didukung oleh pendapatan suami. Informan V memang menyisihkan sedikit pendapatan dari hasil program untuk meningkatkan fasilitas di dalam rumah.
Hanya informan III yang tidak menunjukkan perubahan sebelum dan sesudah mengikuti kelompok.
5. Pendapatan
Pendapatan kelima informan tidak menetap karena tergantung jumlah hari kerja menjadi buruh atau tergantung hasil panen. Menurut BPS ada 4 golongan untuk membedakan tingkat pendapatan, yaitu :
1. Golongan pendapatan sangat tinggi dengan pendapatan rata-rata lebih dari Rp.3.500.000 perbulan
2. Golongan pendapatan tinggi dengan pendapatan rata-rata antara Rp.2.500.000 s/d Rp.3.500.000 perbulan.
3. Golongan pendapatan sedang dengan pendapatan rata-rata antara Rp.1.500.000 s/d Rp.2.500.000 perbulan.
4. Golongan pendapatan rendah dengan pendapatan rata-rata Rp.1.500.000 perbulan.
Pendapatan informan I, III, dan IV berada pada golongan rendah. Informan I mendapatkan uang sebanyak Rp. 1.500.000 hasil dari bertani dan beternak.
Jumlah ini pun masih dipotong pupuk dan pakan. Ternak biasa dijual 3 ekor pertahun dan harga perekor sekitar Rp2.100.000. Pendapatan bersihnya adalah Rp.500.000 per ekor. Jika dihitung pendapatan bersih dalam perbulannya, informan I hanya mendapat maksimal Rp. 150.000. Informan III dan IV berpenghasilan Rp. Rp.500.000 hingga Rp. 800.000 perbulan dari hasil bertani.
Kedua informan belakangan ini tidak lagi memelihara ternak sehingga tidak mendapat penghasilan tambahan dari program KUBE.
Sedangkan pendapatan informan II dan V berada pada golongan sedang.
Informan II berpenghasilan sekitar Rp. 1.500.000 perbulan dari hasil bertani dan penjualan ternak. Penghasilan berssih yang didapat dari menjual ternak berkisar Rp. 200.000- Rp.250.000 perekor dan jumlah ternak terjual ini biasanya hanya 4 ekor saja pertahun. Informan V mendapat penghasilan kotor sejumlah Rp.
1.700.000 perbulan dari hasil menjadi buruh tani. Sedangkan pendapatan dari program KUBE yaitu usaha tenun bisa mencapai Rp.20.000 perlembar kain ulos
yang dijual. Jumlah tenun yang terjual bisa mencapai 20 lembar perbulan di hari-hari biasa. Namun karena keadaan pandemi yang terjadi belakangan ini, sangat sulit bahkan untuk menjual selembar kain ulos karena tidak ada permintaan.
Kelima informan memang bisa dikatakan tidak memasuki garis kemiskinan. Namun ada beberapa indikator lain yang bisa dipertimbangkan dalam menilai pendapatan perbulan informan. Informan I, II, dan IV masih memiliki suami untuk meningkatkan hasil pendapatan, sedangkan informan III dan V tidak memiliki pemasukan tambahan karena berstatus janda. Jumlah anggota keluarga pun perlu dipertimbangkan mengingat bahwa semakin banyak anggota keluarga maka rasio tanggungan keluarga akan meningkat pula. Informan I tidak memiliki anak yang ikut menyokong pemenuhan kebutuhan keluarga karena anak-anaknya masih bersekolah. Sedangkan informan II, III, IV, dan V sedikit terbantu dengan adanya pendapatan tambahan dari anak yang sudah bekerja. Jumlah anak yang masih dalam status sekolah juga menjadi pertimbangan jumlah total pendapatan.
Sesuai fakta di lapangan berdasarkan hasil wawancara dan observasi, program KUBE sebenarnya kurang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama program KUBE ternak. Ternak hanya menghasilkan tambahan pendapatan sekitar Rp. Rp.150.000-Rp.250.000 perbulannya. Jumlah ini sangat kecil jika dihitung dengan tenaga dan waktu yang dikeluarkan untuk memelihara ternak. Terkadang ternak baru bisa dijual seekor dalam jangka waktu setengah tahun. Sedangkan program KUBE tenun dapat mencapai jumlah Rp.500.000 perbulan jika dikelola dengan baik. Karena itu, perlu dipertimbangkan kembali untuk mengadakan evaluasi dan pelatihan-pelatihan tambhan yang dapat meningkatkan produktifitas kelompok.
Dari lima indikator kesejahteraan tersebut, program KUBE berhasil meningkatkan jumlah konsumsi anggota keluarga, pendidikan anak, dan tambahan pendapatan. Jumlah peningkatan pendapatan ini bergantung pada masing-masing cara informan dalam mengelola usaha agar mampu memberikan hasil. Kondisi rumah dan kesehatan kelima informan tidak menunjukkan perubahan dari hasil program KUBE ini. Jumlah pendapatan dari KUBE belum mampu untuk memperbaiki kondisi rumah karena pendapatan habis untuk biaya konsumsi rumah tangga dan pendidikan anak. Sedangkan untuk mengakses fasilitas kesehatan, informan hanya mendatangi poskesdes untuk berobat dan keluarga informan pun jarang mengalami sakit.
Meningkatnya kondisi kesejahteraan anggota KUBE dari segi konsumsi gizi keluarga, pendidikan anak dan pendapatan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Diah Ayu Ningrum yang menyatakan bahwa adanya peningkatan pendapatan terhadap anggota KUBE Sejahtera Desa Giripurno, Ngadirejo, Temanggung. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Novia Agustin yang menyatakan bahwa program KUBE berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat yang awalnya tidak memiliki pekerjaan di Nagarai Sikabu dan Nagari Punggung Kasik, Lubuk Alung, Padang Pariaman.
Menurut World Bank (2008) di negara berkembang seseorang disebut miskin apabila berpendapatan kurang dari $ US 1 per hari. Jika dilihat dari standart World Bank, anggota KUBE di Desa Paindoan tidak tergolong miskin.
Namun perlu diperhatikan kembali bahwa hal ini tidak menjadi patokan bahwa anggota kelompok sudah sejahtera karena seperti pendapat Adi bahwa taraf
kehidupan yang lebih baik tidak hanya diukur dari kondisi ekonomi dan fisik belaka, tetapi juga ikut memperhatikan aspek sosial, mental, dan segi kehidupan spiritual (Adi, 2012).
5.2.3 Faktor Pendukung Dan Faktor Penghambat Pelaksanaan Program