• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian

5.1.6 Informan Utama V

1. Nama : Lamtiar Sitinjak 2. Jenis Kelamin : Perempuan

3. Usia : 48 Tahun

4. Suku : Batak Toba 5. Agama : Kristen Protestan 6. Status : Janda

7. Pekerjaan : Petani 8. Jumlah anak : 4 orang 9. Pendidikan Terakhir : SMEA

Informan utama kelima yang peneliti wawancarai adalah Ibu Lamtiar Sitinjak yang berumur 48 tahun. Beliau bekerja sebagai buruh tani dan tinggal bersama 4 orang anaknya. Ibu Lamtiar tergabung dalam kelompok Saurdot yang merupakan kelompok usaha jenis tenun. Kelompok ini berdiri sejak 2018 dan

beliau merupakan ketua kelompok tenun. Menurut beliau, awal mula kelompok ini dibentuk dikarenakan paksaan keadaan. Beliau belajar menenun dari tetangga di desa untuk menambah penghasilan, lalu salah satu masyarakat desa Paindoan yang bekerja di dinas sosial menawarkan pembentuk kelompok tenun aar mendapat bantuan dari pemerintah. Ibu Lamtiar kemudian mengajak teman yang lain untuk belajar tenun agar kelompok tenun ini dapat dibentuk.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Jadi dulu dek niatnya ikut KUBE untuk menambah penghasilan. Suami saya baru meninggal, pendapatan tentu berkurang. Saya pikrikanlah cara untuk menambah uang. Kebetulan tetangga saya bisa menenun, lalu saya minta diajarkan saja. Kami ada beberapa orang saat belajar cara menenun.

Lalu kebetulan ada masyarakat desa kita ini bekerja di dinas sosial namanya Ibu Inggrid Purba yang mendengar ada kegiatan tenun ibu-ibu dek. Beliau yang meyarankan kami ikut kelompok KUBE untuk menambah modal usaha.”

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Lamria, kelompok Saurdot memiliki 10 orang anggota. Kelompok diberikan modal yang digunakan untuk membeli alat tenun dan bahan lainnya. Dana dicairkan ke tepat waktu ke rekening dan tidak ada penambahan aset lain selain modal awal. Tiap anggota memiliki satu alat tenun dirumah masing-masing. Menurut ibu Lamtiar, dinas sosial tidak mengadakan pelatihan terhadap anggota kelompok. Anggota kelompok belajar tenun dari hasil les dengan tetangga yang ada di desa.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Kelompok kami ada 10 orang anggotanya. Kami diberi modal kelompok sebesar 20 juta dek. Ini uangnya diberikan ke rekening atas nama kelompok, tepat waktu pencairan dananya. Kemudian uang ini kami gunakan untuk membeli alat tenun dan juga benang. Biaya untuk memulai program ini lumayan mahal, apalagi alatnya, bahan juga sekarang makin mahal. Tapi kan tidak masalah, alat ini bisa untuk modal jangka panjang.

Jadi kami setiap orang ada alat tenun masing-masing dirumah. Kami tidak ada menerima tambahan aset lain, hanya modal awal itu saja yang kami terima. Kami pun tidak pernah menerima pelatihan dek, kan kami les sendiri, belajar sendiri sama tetangga. Dari 10 orang anggota, Dua orang menenun kain mandar dan 8 orang lagi menenun kain ulos.”

Menurut Ibu Lamtiar, anggota kelompok telah memahami hal-hal yang harus dikerjakan. Anggota juga memiliki rasa tanggung jawab untuk mengembangkan kelompok dan bukan sekedar penerima bantuan. Kemampuan yang dimiliki anggota juga dianggap cukup untuk meningkatkan kualitas kelompok. Dalam upaya meningkatkan kemampuan anggota, Ibu Lamtiar dan teman-temannya biasanya saling mengunjungi rumah anggota lain untuk melihat hasil tenun yang telah dikerjakan. Sesama anggota biasanya akan belajar bersama jika menemukan kesulitan dalam membentuk sebuah pola.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Anggota sudah memahami apa yang harus dikerjakan. Sudah ada ilmu tenunnya sebagai modal sampai hari tua. Anggota mengetahui ada tanggung jawab untuk mengembangkan kelompok ini, bukan hanya sekedar menerima bantuan saja. Kalau bahas kemampuan bagaimana ya, dibilang

cukup ya belum tentu cukup tapi ya bisa dicukup-cukupkan. Kalau sudah ada niat, ditambah lagi diberikan modal ya tentu kemampuan ini kita usahakan untuk ditingkatkan dek. Untuk meningkatkan kemampuan anggota juga kami datang ke rumah teman, bertanya-tanya tentang proses yang sudah dikerjakannya. Kalau penenun kan tentu paham mana yang dah putus benangnya atau belum. Kalau nanti kami lihat ada tenun ini yang putus benangnya kami tunjukkan nanti bagaimana agar mudah pengerjaan pola tenun nya, saling belajar lah dek agar sama-sama maju.”

Selain anggota yang bersifat saling menolong, pendamping KUBE Saurdot menunjukkan sikap yang suportif. Ibu Ester ditunjuk langsung oleh dinas sosial untuk membimbing. Pendamping rutin hadir di pertemuan atau arisan kelompok Saurdot yang diadakan sekali sebulan. Selain itu, pendamping juga ikut memeriksa laporan buku keuangan. Kelompok juga rutin mengadakan iuran (IKS) dan disetor ke rekening setiap bulannya. Dana ini digunakan sebagai dana kegiatan sosial kelompok. Menurut Ibu Lamtiar, pendamping KUBE berhasil membina dan mengarahkan kelompok. Pendamping sangat berperan dalam upaya peningkatan kualitas kelompok.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Pendamping KUBE kami ditentukan dinsos, namanya Ibu Ester Aritonang.

Kalau kami kumpul, beliau datang juga setiap bulan. Misalkan kami adakan arisan, kami infokan agar beliau datang. Soalnya keuangan kami juga diperiksa kan. Kami adakan iuran 10 ribu perbulan dan uang pangkal 50 ribu. Biasanya kami pergunakan dana ini saat menjenguk anggota yang sakit. Pendamping KUBE kami tentu tahu kemana saja uang yang kami

pergunakan, beliau rajin periksa laporannya kepada bendahara. Kami tentu mersa dibina, diarahkan sama beliau, sehingga beliau pun tidak akan merasa malu kan dengan pembinaanya.”

Menurut wawancara dengan beliau, kelompok tenunnya dirasa tidak menemukan masalah yang tidak bisa dihadapi. Kegiatan akan berjalan lancar selagi anggota memiliki niat dalam pengerjaan tenun. Hanya perlu membagi waktu antar bertani dan bertenun. Namun, belakangan harga bahan-bahan seperti benang, pakan dan simata sedang naik di pasar, sehingga untung yang didapat dari kain tenun menjadi lebih sedikit. Tetapi hal ini masih bisa diterima beliau berhubung tenun hanya lah pendapatan tambahan.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Hambatan sepertinya tidak ada sebenarnya dek, karena kan ini barang kami yang kerjakan, sudah diberi bahan dan alat, tinggal mempergunakan saja. Hambatannya paling di kemauan saja. Ada kemauan atau tidak dalam pengerjaanya. Apalagi seperti saya kan petani ya harus meluangkan waktu dek. Barangnya juga dijual terbilang mudah, dalam pengerjaanya nya pun bisa selesai selembar kain dalam sehari. Tapi belakangan harga simata dan bonang (bahan-bahan tenun) mulai naik, sisa sedikit saja untungnya untuk kami. Tapi karena ini pun niatnya nambah-nambah pendapatan saja ya sudahlah tidak masalah, masih bisa kita terima dek.”

Selain tidak ditemukannya masalah-masalah yang dapat menggangu kegiatan tenun, interaksi antaranggota kelompok juga berjalan baik. Masyarakat sekitar di desa Paindoan juga memberi dukungan kepada kelompok. Ibu-ibu di

desa biasanya ikut melihat proses pembuatan tenun ulos dan bahkan ikut membeli.

Hal ini membuat Ibu Lamtiar dan teman-temannya merasa sangat terbantu.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Interaksi antar kelompok lancar dek, bahkan bagus sekali. Kami itu sesekali mendatangi rumah sesama anggota, melihat hasil kerjanya, saling puji juga kalau kami lihat bagus kain ulos yang dia buat dek. Masyarakat Paindoan juga mendukung program ya. Kadang ada juga ibu-ibu desa ini datang melihat kami menenun. Mereka juga membeli kain ulos yang kami buat. Baguslah dek interaksi sesama anggota dan antar masyarakat Paindoan, senang saya jadi terbantu.”

Beliau memutuskan bergabung dengan kelompok tenun dengan alasan menambah pendapatan keluarga. Suami beliau baru saja meninggal dan beliau saat ini hidup dengan 4 orang anaknya. Alasan pendidikan inilah yang menjadi semangat beliau untuk bergabung dalam program KUBE di Desa Paindoan. Biaya pendidikan dirasa cukup berat untuk beliau sehingga hanya mampu menyekolahkan anak ke jenjang SMA. Anak pertama beliau langsung bekerja setelah lulus SMK. Namun karena anak pertama sudah bekerja dan beliau mendapat penghasilan tambahan dari kegiatan tenun, beliau berencana untuk menyekolahkan anak keduanya yang baru lulus SMA ke perguruan tinggi.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Anak pertama saya lulusan SMK sekarang bekerja. Anak kedua baru lulus SMA dek dan berencana lanjut ke perguruan tinggi, anak ketiga sekarang kelas 1 SMA dan anak bungsu masih kelas 4 sd. Kebutuhan sekolah anak

masih terpenuhi dek. Kalau sampai SMA saya masih sanggup sekolahkan karena ada sekolah negeri. Anak pertama saya dulu minta kuliah, tapi saya kasih pengertian dek kalau mamanya belum bisa bayarkan untuk itu.

Kasihan kalau dia kuliah, adek-adeknya saya tidak sanggup bayar biaya sekolahnya nanti. Tapi anak kedua saya sekarang ini rencananya mau saya kuliahkan, dia mau tes perguruan tinggi bulan depan. Lumayan lah sudah ada tambahan pendapatan dari tenun, kakaknya juga sudah kerja, jadi saya rasa saya sanggup untuk kuliahkan anak kedua saya.”

Pekerjaan beliau sebagai buruh tani biasanya mendapat gaji Rp.70.000 per hari. Menurut beliau, pendapatan ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena hal ini maka beliau menenun kain sepulang bertani. Kain ulos yang ditenun sendiri biasanya dijual Rp.160.000 ke tokke dan Rp. 180.000 ke perseorangan dengan modal pengerjaan sekitar Rp.150.000 sampai Rp.160.000 per ulos. Namun kegiatan tenun 3 bulan terakhir sedang berhenti karena tidak ada permintaan ulos dari pembeli akibat masa pandemi.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Pendapatan saya sehari 70 ribu kalau jadi buruh tani dek. Total itu masih pendapatan kotor ya, saya masih harus bawa nasi untuk makan siang dan minum dari rumah. Rasanya tidak cukup tapi ya dicukup-cukupkan, namanya orang tua pasti ada aja akalnya untuk mengamankan biaya hidup dek. Syukurnya sekarang ada tenun yang lumayan membantu untuk menambah ikan asin di dapur kan. Selembar tenun saya jual 160 ribu ke tokke, kalau ke perseorangan bisa 180 ribu. Untung-untung dikit ajanya dari modal 150 ribu ke 160 ribu. Tapi sekarang sangat sulit menjual ulos

ini karena corona, tidak ada pesta diadakan, jadi mastarakat tidak beli ulos. Saya sudah berhenti menenun sekitar 3 bulan ini. Semoga corona ini cepat berlalu dek, biar ada tambahan pemasukan lagi.”

Dengan total pendapatan beliau, kebutuhan makan tiga kali sehari masih dapat tercukupi dengan baik. Pendapatan juga sedikit terbantu oleh anaknya yang saat ini sudah bekerja. Beliau biasa mengkonsumsi nasi, lauk dan sayur yang diambil dari hasil yang ditanam di sekitar rumahnya. Untuk konsumsi buah dan susu, ibu Lamtiar menyatakan masih sangat jarang. Buah hanya dibeli jika harga buah sedang murah saja dan susu akan dibeli sesekali saat ada rezeki tambahan.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan air berssih, Ibu Lamtiar menggunakan sumur bor dirumahnya.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Kebutuhan air bersih terpenuhi dek, air kami berasal dari sumur bor.

Makan terpenuhi dek 3 kali sehari, lengkap nasi, lauk dan sayur. Buah masih jarang-jarang lah. Saya beli buah hanya saat harganya sedang murah saja, sama sajanya vitamin buah itu kan mahal atau murah. Tapi kalau susu tidak konsumsi dek, walaupun memang mau lah sesekali dibeli kalau anak-anak mau minum susu. Tapi itu pun sangat jarang, kalau ada rezeki saja.”

Walau dengan ekonomi pas-pasan dan konsumsi rumah tangga seadanya, rumah yang ditempati beliau saat ini sudah rumah dengan status milik sendiri.

Kondisi rumah terlihat sederhana dan masih terbuat dari kayu. Air dan listrik dirumah memang sudah terpenuhi, bahkan fasilitas seperti televisi juga sudah

tersedia. Fasilitas yang kurang memadai adalah kamar mandi yang masih berada diluar rumah dan hanya terbuat dari seng. Tidak ada saluran pembuangan air, hanya ada pembuangan kloset ke septitank.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Kondisi rumah ya sudah cukup menurut saya. Sumber air kami ada, listrik juga ada. Kalau alat elektronik hanya Tv kita punya dek, kalau kulkas kita masih belum ada, mahal biaya membeli kulkasnya dan biaya listriknya.

Pembuangan air kamar mandi ya dibuang seperti itu saja, airnya masih terserap ke tanah, kalau kloset kita sudah alirkan ke septitank. Hanya saja kamar mandi kami masih diluar dek, itupun terbuat dari seng-seng saja.

Kurang aman memang kamar mandi ini, tapi belum ada biaya memperbaiki, bagaimana lahmau dibuat kan.”

Sedangkan jika anggota keluarga Ibu Lamtiar sakit, maka biasanya akan dibawa berobat ke bidan desa. Beliau menjelaskan bahwa anak-anaknya tidak pernah mengalami sakit serius sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Beliau juga memiliki fasilitas asuransi kesehatan berupa KIS namun tidak pernah dipergunakan untuk berobat.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Saya bawa anak berobat ke bindes dek. Tapi anak pun memang tidak pernah sakit parah, makanya dibawa ke bindes saja. Kan tidak mungkin anak hanya demam biasa kita bawa ke rumah sakit walaupun kita memang ada KIS. Kami tidak pernah pakai KIS itu ke rumah sakit.”

Dokumen terkait