BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan
HASIL PENELITIAN 5.1 Pengantar
5.2.1 Informan Utama I
1. Nama : Romatiur Sidauruk 2. Usia : 51 Tahun
3. Jenis Kelamin : Perempuan 4. Suku : Batak Toba 5. Agama : Kristen Protestan 6. Pekerjaan : Petani
7. Jumlah Anak : 9 Orang 8. Pendidikan Terakhir: SMP
Informan utama yang peneliti wawancarai adalah Ibu Romatiur Sidauruk.
Beliau berusia 51 tahun, tinggal di Desa Simanindo dan merupakan penduduk asli Desa Simanindo. Saat peneliti mendatangi rumah Ibu itu, beliau sedang duduk berbincang-bincang diteras rumahnya bersama dengan Ibu-Ibu tetangga dilingkunganya dan juga anaknya yang sedang mengggendong cucunya Ibu Romatiur. Berikut hasil wawancara peneliti:
“saya tinggal di Simanindo sudah sejak lahir dan belum pernah pindah dari sini karna keluarga semuanya berdomisili disini juga, dirumah ini saya tinggal bersama anak-anak saya dan juga menantu dan cucu saya”
Ibu Romatiur Sidauruk sudah menjalani hidup sebagai single parent selama 3 tahun, beliau menjadi orangtua tunggal dikarenakan sang suami meninggal dunia. Ibu Romatiur Sidauruk mempunyai 9 orang anak dengan anak paling besar berumur 32 tahun sudah menikah dan memiliki anak dan anak beliau paling kecil berumur 4 tahun. Berikut penuturannya:
52
“saya menjadi janda sudah sekitar 3 tahun dan suami saya meninggal karena sakit dek. Anak saya ada 9 orang , yang paling besar umurnya 32 tahun, yang paling kecil umurnya 4 tahun. Satu orang anak saya perempuan sudah menikah dan sudah punya anak, yang sekolah sekarang ada 2 orang dan yang lainnya hanya sampai tamat SMA”
Ibu Romatiur Sidauruk tinggal bersama anak-anaknya di rumah milik pribadi dengan kondisi rumah yang sederhana dan dihuni bersama anak-anak, menantu dan satu orang cucunya. Berikut penuturannya:
“dirumah ini saya tinggal bersama anak-anak saya juga menantu saya dan cucu saya satu orang, dan seperti inilah kondisi rumah sendiri yang kami tempati seadanya saja walaupun tidak begitu cukup besar yang penting bisa ditempati lah dek walaupun tidak seberapa besar”
Ibu Romatiur Sidauruk bekerja sebagai petani dengan mengontrak tanah masyarakat lain yang tidak berapa luas dan juga menjadi buruh tani harian diladang orang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Berikut penuturannya:
“kalau pekerjaan saya cuma petani nya dek, itupun ladang yang saya kerjakan bukan ladang punya saya tapi dikontrak dan tidak setiap hari saya ke ladang, jadi kalau cuma mengharapkan hasil ladang yang gak seberapa itu ya gak akan cukup lah untuk kami ,makanya pekerjaan saya selain itu untuk menambah penghasilan saya ikut gaji-gajian lah diladang orang kalau ada orang yang lagi butuh tenaga contohnyaa saat menanam atau memanen saja, tapi tidak setiap hari ada panggilan kerjaan, bisa 2 kali seminggu”
53 Peneliti bertanya tentang apakah Ibu Romatiur menjalankan peran ganda nya sekaligus dengan efektif dan bagimana beliau menyeimbangkan waktu bekerja diluar tanpa melupakan tugas yang sudah menjadi kodrat nya mengurus rumah tangga. Berikut penuturannya:
“kan saya pergi kerja itu pagi dek dan pulang sampai dirumah sudah gelap, sebenarnya waktunya saya untuk istirahat, makanya anak-anak saya yang sudah besar ini lah menjaga adek-adeknya yang kecil, tapi tidak mungkinlah kan saya tidak tau apa yang terjadi seharian ini dirumah, jadi walaupun seharian saya tidak ada dirumah tapi saya harus tau lah apa-apa saja yang terjadi dirumah seharian ini gitu, kalua hari minggu kan ke gereja disitu lah waktu bersama keluarga juga”
Peneliti juga menanyakan tentang penghasilan perbulan yang didapatkan Ibu Romatiur Sidauruk, namun beliau mengaku penghasilannya perbulan tidak menentu dan beliau tidak pernah menghitungnya dikarenakan penghasilan yang didapatkan perhari biasanya pasti langsung habis terpakai untuk kebutuhan mereka. Berikut penuturannya:
“kalau ditanya penghasilan perbulan saya tidak bisa jawab dek karna kan tidak menentu, panen jagung 4 kali sebulan dan kalau gaji-gajian kadang ada kadang juga tidak ada seperti sekarang ini. Penghasilaan dari setiap gaji-gajian diladang orang 70rb perhari kalau bawa makan sendiri, biasanya dimulai pagi sampai sore. Hasil dari gaji-gajian itu juga biasanya langsung habis ajanya dek karna kan terpakai untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Jadi kalau ditanya berapa penghasilan
54 perbulan susah lah menjawab karna tidak menentu, yang pasti tidak banyak lah”
Peneliti juga bertanya perihal kecukupan penghasilan yang didapatkan Ibu Romatiur Sidauruk sebagai Ibu Tunggal untuk memenuhi kebutuhan keluarga beliau, dan beliau mengaku bahwa sesungguhnya penghasilan yang didapatkan belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga baik untuk kebutuhan rumah tangga ataupun pendidikan dan kesehatan keluarga dan anak-anaknya.
Berikut penuturannya:
“Kalau ditanya cukup atau enggak ya gak cukup sebenarnya dek, karna bukan cuma untuk makan yang saya pikiri tapi juga biaya lainnya seperti untuk sekolah atau juga kalau ada yang sakit, tapi apa mau dibuat lagi kan, saya tidak tahu lagi mau kerja apa untuk menambahi penghasilan, kalau ada yang bisa saya kerjai pasti saya kerjai untuk menambah pendapatan keluarga ini”
Peneliti juga bertanya perihal kesehatan seluruh anggota keluarga Ibu Romatiur Sidauruk dan beliau mengaku bahwa seluruh anggota keluarga belum pernah mendapatkan penyakit yang khusus atau cukup serius selain mendiang suami yang dahulu meninggal dikarenakan sakit yang dideritanya. Berikut penuturannya:
“kalau sakit penyakit belum pernah ada yang sampai punya penyakit yang cukup fatal dek selain bapak dulunya ya, sekarang paling hanya sakit biasa saja seperti demam, flu atau sakit perut gitu-gitu kalau sakit-sakit ringan kami berobat biasanya ke puskesmas paling dekat sini dan kami juga ada KIS”
55 Selanjutnya peneliti juga bertanya kepada Ibu Romatiur Sidauruk perihal kecukupan gizi yang didapatkan oleh seluruh anggota keluarga Ibu Romatiur.
Berikut penuturannya:
“kalau untuk masalah gizi ya dek untuk kami ya hanya dengan bisa kami makan tiga kali sehari saja sudah cukup dek untuk kami sekarang ini, kalau untuk beli susu tidak ada, paling gizi dari sayur-sayuran dan buah-buah yang dari sini saja”
Peneliti juga menanyakan tentang pendapat Ibu Romatiur Sidauruk perihal pendidikan, dan menurut beliau sendiri pendidikan sangatlah penting terlebih beliau juga sangat mengharapkan pendidikan yang tinggi untuk anak-anaknya namun keadaan ekonomi menghalangi harapan beliau dan keluarga nya untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Berikut penuturannya:
“anak saya yang bisa saya sekolahkan sampai kuliah masih cuma satu orang dek, selain daripada itu semuanya masih hanya sampai tamat SMA karna kan saya tidak punya biaya untuk menyekolahkan yang lain ini sampai ke kuliah, ya harapan saya sebenarnya sangat ingin untuk menguliahkan mereka semua cuman apa yang mau dibuat membayar biaya kuliahnya dan keperluan-keperluan nya nanti disana, sedangkan disini saja masih kekurangan”
Peneliti juga menanyakan kepada Ibu Romatiur Sidauruk tentang bantuan-bantuan apa saja dan darimana saja yang sudah pernah diterima beliau. Berikut penuturannya:
56
“bantuan-bantuan dari pemerintah yang pernah saya dapatkan yaitu bantuan langsung tunai sebesar 300 ribu itu dek sama juga termasuklah kartu KIS itu tadi yang untuk berobat kan, dan ada juga lah sedikit bantuan juga lah dibilang dari gereja kami setiap akhir tahun biasanya ada sembako sedikit seperti minyak goreng kadang-kadang, atau gula, sirup , itu saja palingan memang dek tapi itupun sudah lumayan lah kan daripada tidak ada”
Peneliti juga menanyakan pendapat Ibu Romatiur Sidauruk tentang perubahan kondisi dan hambatan-hambatan yang dialaminya setelah menjadi orangtua tunggal, dan beliau mengaku bahwa walaupun sebelum menjadi orangtua tunggal beliau juga sudah ikut bertani bersama mendiang suami namun sangat jelas perubahan yang dirasakan setelah mendiang suami meninggal, beliau mengatakan hambatan paling besar yang dihadapi adalah masalah ekonomi yang semakin menurun, kinerja beliau tidak bisa menyamai kinerja mendiang suami, maka dari itu pemasukan dana ke rumah tangga juga jauh berkurang. Berikut penuturannya:
“setelah suami saya meninggal pastinya lebih berat lah hidup saya dek, tanggung jawab saya semaki banyak, saya yang mengurus ini saya yang mengurus itu sementara tangan saya pun cuma dua nya dek, tapi harus lah saya upayakan membagi waktu sebaik mungkin, trus kebetulan anak-anak saya kan sudah besar sebagian jadi sudah bisa mereka yang menjaga adek-adeknya yang masih kecil, yang paling susah di ekonomi ini lah, karna kan sebenarnya kalau uang lancar kan semuanya pun bisa menjadi lancer, bisa lebih tenang pikiran, padahal setelah jadi janda ini
57 penghasilan kan jadi berkurang sementara anggota keluarga pun banyak dan anak-anak makin besar makin banyak uang keluar, sementara penghasilan saya pun trus berapa lah dek hanya dari gaji-gajian itu, ngak cukup lah dibilang, makanya kalau ada yang lagi nyari tukang cuci saya ambil juga kadang-kadang dek, apala yang bisa membantu keuangan keluarga ini biar cukup saya kerjakan”
Peneliti juga bertanya tentang upaya Ibu Romatiur Sidauruk dalam mengatasi permasalahan kesejahteraan hidup keluarga Ibu Romatiur. Berikut penuturannya:
“cukup banyak yang masih harus dipenuhi dek, cara yang bisa saya lakukan mengatasi yang kurang itu ya seharusnya dengan menambah pekerjaan saya lah misalnya mencuci-gosok dirumah orang kalau ada yang butuh, kalau berubah pekerjaan saya kan tidak bisa, sekolah tidak ada modal tidak ada hanya itu saja yang bisa saya lakukan dek, kalau masih kurang ya dipaksakan dicukupkan karena mau dari mana menutupi”
Dari hasil wawancara peneliti dengan informan utama I yaitu Ibu Romatiur Sidauruk peneliti menyimpulkan bahwa setelah menjadi single parent permasalahan-permasalahan dalam kehidupan keluarga beliau semakin berat dan kondisi tersulit yang dihadapi keluarga Ibu Romatiur Sidauruk adalah kondisi ekonomi dimana kondisi ekonomi tersebut juga yang sangat berpengaruh hampir ke seluruh aspek kehidupan keluarga Ibu Romatiur Sidauruk terutama aspek kesejahteraan keluarga Ibu Romatiur Sidauruk, dimana indikator kesejahteraan tersebut meliputi kecukupan gizi, tingkat kesehatan, tingkat pendidikan, tempat
58 tinggal, dan pendapatan yang seluruhnya dipengaruhi oleh faktor ekonomi dalam mewujudkannya.