BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan
HASIL PENELITIAN 5.1 Pengantar
5.2.3 Informan Utama III
1. Nama : Lusiana Barus 2. Usia : 49 tahun 3. Jenis Kelamin : Perempuan 4. Suku : Batak Karo 5. Agama : Katolik 6. Pekerjaan : Petani 7. Jumlah Anak : 5 Orang 8. Pendidikan Terakhir: SMA
Informan utama ketiga yang peneliti wawancarai adalah Ibu Lusiana Barus. Ibu Lusiana Barus lahir di Namorambe dan beliau bukan merupakan penduduk asli Simanindo, beliau tinggal di Simanindo sebelumnya dikarenakan ikut suami dan memilih tetap tinggal hingga saat ini. Berikut hasil wawancara peneliti:
“saya bukan penduduk asli sini nak, saya orang namorambe lahir di namorambe tapi kan dulu ikut suami disini kan trus sampai sekarang juga masih bertahan tetap tinggal disini, mau balik kampung tidak tau ngapain nanti disana jadi disini saja tetap”
Ibu Lusiana Barus sudah menjadi single parent selama 7 tahun yang dikarenakan suami beliau meninggal akibat penyakit yang dideritanya. Ibu Lusiana memiliki 5 orang anak dengan anak yang paling besar berumur 26 tahun,
66 anak paling kecil berumur 7 tahun dan satu orang cucu yang berumur 3 tahun.
Berikut penuturannya:
“saya sudah tujuh tahun menjadi janda nak, suami saya dulunya meninggal karena sakit, anak saya ada lima orang dan semua masih menjadi tanggungan saya, anak saya yang paling besar umurnya 26 tahun dan yang paling kecil umurnya masih 7 tahun, pas masih bayi lah anak saya yang terakhir meninggal bapaknya. Anak laki-laki pertama saya yang diperantauan sudah menikah dan punya satu orang anak, jadi ada lah cucu saya satu, tapi sayangnya anak saya ini baru bercerai dengan istrinya dan anak mereka tinggalnya sama saya disini, bapaknya masih diperantauan mau cari-cari kerja”
Ibu Lusiana tinggal bersama anak-anaknya dan cucunya di rumah yang sejak dahulu ditinggali bersama dengan mendiang suami beliau. Berikut penuturannya:
“saya tinggal dirumah bersama anak-anak saya dan satu orang cucu saya itu tadi, kami sudah lama tinggal disini, sejak dulu waktu suami saya masih ada dan rumah ini kebetulan adalah rumah milik orang tua suami saya”
Ibu Lusiana bekerja sebagai petani dengan mengontrak lahan milik warga untuk ditanami jagung. Beliau mengaku memilih menjadi petani dikarenakan pendidikan yang rendah dan tidak adanya modal untuk memulai usaha lainnya.
Berikut penuturannya:
“pekerjaan saya petani nak, itulah dulu yang bisa saya kerjakan dengan keadaan yang hanya tamat SMA ini, kalau untuk memulai bisnis lain kan
67 modal tidak ada sedangkan untuk bertani saja saya tidak punya tanah sendiri dan modal sendiri, saya ngontrak tanah orang pertahunnya , yang saya tanam biasanya jagung, modalnya dari toke nak dan nanti kalau sudah panen hasilnya dijual ke toke dan dipotong sama toke modal yang saya sudah pakai itu”
Peneliti bertanya tentang apakah Ibu Lusiana menjalankan peran gandanya sekaligus dengan efektif dan bagimana beliau menyeimbangkan waktu bekerja diluar tanpa melupakan tugas yang sudah menjadi kodrat nya mengurus rumah tangga. Berikut penuturannya:
“kasih sayang anak-anak saya tetap saya perhatikan dek, pekerjaan saya diluar tidak menjadi halangan mengurangi komunikasi saya dengan keluarga, sekalian saya istirahat biasanya hari sabtu kan hari pekan, saya memang biasanya gak ke ladang dihari sabtu, belanja kebutuhan dapur lah bersama anak-anak saya dan seharian itu dirumah dan begitu juga hari minggu”
Peneliti juga bertanya kepada Ibu Lusiana Barus tentang penghasilan yang didapatkan oleh Ibu Lusiana Barus dari bertani setiap bulannya. Berikut penuturannya:
“kalau dihitung-hitung penghasilan saya itu sebulan dari hasil jagung sekitar kurang dari Rp.1.500.000 gitu lah nak, panen jagung kan sekali dalam 4 bulan jadi sekitar segitulah rata-ratanya, karna modal dari mulai menanam sampai memanen semuanya kan dari toke, jadi kalau sudah panen kami jual hasilnya ke toke itu trus dipotonglah modal yang sudah kita pakai tadi”
68 Peneliti juga bertanya perihal kecukupan penghasilan Ibu Lusiana untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya dan beliau mengaku bahawa pendapatannya sesungguhnya tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya. Berikut penuturannya:
“sebenarnya penghasilan segitu untuk kebutuhan tujuh orang sangat tidak cukup untuk kami nak, anak saya yang diperantauan itu pun masih tanggungan saya walaupun sudah pernah menikah tetap masih harus saya kirim berapa yang bisa saya kirim untuk dia karena kan dia belum ada pekerjaan disana, ditambah lagi anaknya disini saya juga yang tanggung, dan sementara anak-anak saya pun masih sekolah, yang paling kecil masih kelas 2 SD, sangat tidak cukup lah nak tapi apa mau dibuat kan uang yang ada segitu itulah dihemat-hematkan, kalau semisalnya ada modal saya mungkin bisa saya berdagang tapi kan tidak ada mau dapat modal dari mana saya sedangkan menanam jagung saja saya dipinjami modal dari toke sampai panen pun makanya harga hasil panen pun mau berapa dibuat toke ya harus kami terima segitu nak, kalau misalnya nanti ditoke lain harga jagung bisa Rp 4.500 per kilo dan ditoke saya Rp 4.000 per kilo ya tidak bisa saya memilih menjual ke toke lain itu ,tetap saya harus menjual ke toke saya karena dia yang sudah meminjamkan modal sampai panen tadi kan”
Peneliti juga bertanya perihal kesehatan seluruh anggota keluarga Ibu Lusiana Barus. berikut penuturannya:
69
“kalau ada yang sakit biasanya kami berobat ke puskesmas terdekat karna palingan hanya sakit-sakit kecil dan kami punya KIS juga kok nak, tapi belum pernah ada yang sakit parah”
Peneliti juga bertanya kepada Ibu Lusiana perihal kecukupan gizi yang didapatkan oleh seluruh anggota keluarga Ibu Lusiana Barus. Berikut penuturannya:
“kalau makan tiga kali sehari masih bisa lah nak tapi kalau untuk seperti beli susu dan beli daging-daging atau beli buah–buahan mahal ya kan nak jadi cukuplah makan seadanya tiga kali sehari dan sehat-sehat sudah cukup”
Peneliti juga menanyakan tentang pendapat Ibu Lusiana Barus perihal pendidikan, dan harapan beliau untuk pendidikan anak-anaknya. Berikut penuturannya:
“sekolah anak saya yang paling tinggi SMA nak, belum ada yang kuliah karna tidak ada dana untuk menguliahkan, saya sebenarnya sangat mengerti pentingnya pendidikan itu, kan kalau kuliah pasti mendapatkan pekerjaan pun pasti lebih mudah dan jadinya bisa memebantu menaikkan ekonomi keluarga kami ini tapi belum sanggup saya menguliahkan anak-anak saya dengan pendapatan saya yang hanya dari bertani jagung yang tidak seberapa itu, 4 bulan nak baru bisa panen, selama 4 bulan harus hemat-hematlah saya mengatur keuangan ini biar cukup makan kami kan gitu”
70 Peneliti juga menanyakan kepada Ibu Lusiana Barus tentang bantuan-bantuan apa saja yang sudah pernah diterima oleh Ibu Lusiana. Berikut penuturannya:
“bantuan-bantuan dari pemerintah yang ada kami dapatkan bantuan yang Rp. 300.000 itu nak, selain itu ya bantuan dana dana sekolah SD SMP SMA Negeri itulah kan jadi anak-anak saya yang sekolah di negeri tidak perlu bayar uang sekolah lagi dan tidak ada bayar-bayar buku lagi atau biaya-biaya lain”
Peneliti juga menanyakan pendapat Ibu Lusiana Barus tentang perubahan kondisi dan hambatan-hambatan yang dialaminya setelah menjadi orangtua tunggal, dan beliau mengaku bahwa kesulitan yang paling dirasakan yaitu dalam memenuhi kebutuhan keluarga sementara kinerja yang sudah beliau kerahkan sudah meningkat 2 kali lipat namun tetap saja belum bisa menaikkan tingkat kesejahteraan keluarganya: Berikut penuturannya:
“berubah lah nak sosok suami sebagai penanggung jawab nafkah kami sudah tidak ada, dan saya pun sudah pikul 2 kali lipat pekerjaan yang seharusnya dilakukan suami tapi belum juga cukup untuk keluarga kami, kan yang seharusnya saya harus kerja keras saya lakukan lebih keras lagi, tapi itula tidak bisa meningkat ekonomi itu sementara pengeluaran yang dituntut setelah suami meninggal justru semakin banyak karna anak-anak kan sudah semakin besar”
Peneliti juga bertanya kepada Ibu Lusiana Barus perihal upaya yang dilakukan Ibu Lusiana Barus dalam mengatasi permasalahan-permasalahan
71 ataupun hambatan-hambatan yang dihadapi keluarga Ibu Lusiana. Berikut penuturannya:
“yang saya lakukan yang itu tadi nak yang dahulunya saya kerja keras saya buat kerja lebih keras lagi karena hanya saya sendiri sekarang yang menjadi orangtua kan, itu yang bisa saya upayakan itula yang dicukupkan nak yang pasti saya sudah berusaha tapi kalau memang belum bisa kami tercukupi segala kebutuhan makan, pendidikan dan gizi itu apa boleh buat, bersyukur sajalah bisa makan dengan 3 kali sehari dan masih diberi kesehatan ya kan”
Dari hasil wawancara peneliti dengan informan utama III yaitu Ibu Lusiana Barus peneliti menyimpulkan bahwa setelah menjadi single parent segala tanggungan keluarga hanya bergantung pada Ibu Lusiana sendiri, meskipun beberapa anak-anak beliau sudah pada usia produktif namun sayangnya mereka belum mendapatkan pekerjaan dan masih menjadi tanggungan Ibu Lusiana Barus.
Menurut Ibu Lusiana kondisi tersulit yang dihadapi keluarga beliau terkhusus Ibu Lusiana sendiri adalah kondisi ekonomi dimana kondisi ekonomi keluarga beliau tersebut yang sangat berpengaruh pada kesejahteraan keluarga Ibu Lusiana, dimana indikator kesejahteraan tersebut yang meliputi gizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, dan pendapatan yang seluruhnya dipengaruhi oleh faktor ekonomi dalam mewujudkannya.