• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan

HASIL PENELITIAN 5.1 Pengantar

5.2.2 Informan Utama II

1. Nama : Eliska Gurning 2. Usia : 42 tahun

3. Jenis Kelamin : Perempuan 4. Suku : Batak Toba 5. Agama : Kristen Protestan 6. Pekerjaan : Petani

7. Jumlah Anak : 6 Orang 8. Pendidikan Terakhir: SD

Informan utama selanjutnya yang peneliti wawancarai adalah Ibu Eliska Gurning yang berusia 42 tahun dan sudah 3 tahun menjadi single parent dikarenakan berpisah dan ditinggalkan oleh suami. Ibu Eliska sendiri bukan merupakan penduduk asli Simanindo namun karena beliau menikah dengan suaminya yang merupakan penduduk Desa Simanindo dan hingga berpisah pun Ibu Eliska memilih untuk menetap dirumah mereka di Desa Simanindo tersebut bersama dengan seluruh anak-anaknya. Berikut hasil wawancara dengan informan:

“saya tinggal di Simanindo sudah lebih dari 20 tahun, saya lahir bukan di Simanindo dek, asal saya itu sebenarnya dari seberang Simanindo ini di Saragiras sana”

Ibu Eliska Gurning sudah menjalani hidup sebagai single parent sekitar 3 tahun dengan penyebab single parent dikarenkan beliau ditinggalkan dan berpisah

59 dengan suaminya dengan 6 orang anak mereka tinggal bersama beliau di Simanindo. Berikut penuturannya:

“saya menjadi janda sudah 3 tahun dek dan itu dikarenakan saya ditinggal dan berpisah dengan suami saya, suami saya ini menikah lagi dan anak-anak semuanya tinggal bersama saya. Anak saya ada 6 orang dek, yang paling besar umurnya 24 tahun dan yang paling kecil umurnya 13 tahun. Anak pertama dan kedua saya merantau ke Medan dan sedang mencari pekerjaan. Sekolah anak-anak saya hanya sampai batas SMA masih dek jadi mungkin sulit mereka untuk mendapatkan pekerjaan disana”

Ibu Eliska Gurning tinggal bersama anak-anaknya di rumah milik mereka dengan kondisi rumah yang sederhana dan dihuni bersama anak-anak. Berikut penuturannya:

“ini rumah kami yang ditinggalkan suami saya dek, ya gini la keadaan rumah kami apa adanya, Puji Tuhan lah masih bisa tinggal disini walaupun sederhana seperti ini, kalau yang dirantau pulang tetap tinggal disini juga”

Pekerjaan utama Ibu Eliska Gurning adalah sebagai buruh tani harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka sehari-hari. Berikut penuturannya:

“pekerjaan saya manggaji dek diladang-ladang orang kalau dipanggil didolok sana ladangnya, biasanya kalau musim menanam sama musim memanen gitu la dek karna kan saya bukan orang sini jadi gak punya tanah sendiri untuk diolah, manggaji ada kadang-kadang bisa hampir setiap hari dalam seminggu itu tapi kadang juga tidak ada sama sekali

60 dalam seminggu, makanya ada ku kontrak sepetak tanah untuk menambah-nambahi kalau misalnya sedang tidak ada panggilan menggaji”

Peneliti bertanya tentang apakah Ibu Eliska menjalankan peran ganda nya sekaligus dengan efektif dan bagimana beliau menyeimbangkan waktu bekerja diluar tanpa melupakan tugas yang sudah menjadi kodrat nya mengurus rumah tangga. Berikut penuturannya:

“anak-anak saya kan udah besar dek jadi sudah mandiri lah dan bisa mengurus diri sendiri, kalau untuk pekerjaan dirumah juga gitu, bukan saya lagi yang mengerjakan, tapi tetap saya pantau anak-anak sekolah mereka, saya kan kerja diluar rumah untuk mereka nya dek jadi mereka pun sudah mengerti apa yang bisa mereka lakukan”

Peneliti juga menanyakan tentang penghasilan perbulan yang didapatkan Ibu Eliska Gurning, namun sama seperti informan utama I Ibu Eliska Gurning mengaku penghasilannya perbulan tidak menentu dan beliau tidak pernah menghitungnya dikarenakan biasanya penghasilan yang didapatkan perhari pasti langsung habis saja terpakai untuk kebutuhan mereka seminggu. Berikut penuturannya:

“gimanalah saya mau bilangnya ya dek, karna kan kalau penghasilan yang saya dapatkan itu langsung habis nya pasti dalam minggu itu beli ini beli itu karna kan tidak seberapa, kalau ada manggaji perhari itu dapat 60 ribu nya dek itupun kalau ada manggaji ya dek, makanya tidak ada pernah sisa malah kurang kadang-kadang dek, kalau kurang uang untuk

61 beli ikan asal kan ada saja lah nasi jadi makan nasi garam lah kalau tidak cukup”

Peneliti juga bertanya perihal kecukupan penghasilan yang didapatkan Ibu Eliska Gurning sebagai pencari nafkah tunggal untuk memenuhi kebutuhan keluarga Ibu Eliska, dan beliau mengaku bahwa penghasilan yang didapatkan beliau dari hasil bertani dan gaji-gajian sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga baik untuk kebutuhan rumah tangga ataupun untuk keperluan pendidikan dan kesehatan beliau dan anak-anaknya. Berikut penuturannya:

“penghasilan saya itu sebenarnya sangat kurang lah dibilang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga kami sehari-hari, untuk kebutuhan sekolah anak saja sudah lumayan memakan biaya karna kan sekolah yang ada di kecamatan ini hanya ada SD, sedangkan kalau SMP dan SMA harus ke kecamatan lain lah yang jaraknya jauh dan hanya bisa ditempuh dengan angkot palingan maka bertambah lah biaya untuk ongkos sekolah kan. Kebutuhan rumah tangga dan sekolah sangat tidak sebanding dengan penghasilan yang saya dapatkan dari menggaji dan tanah yang sepetak itu, belum lagi mengisi pulsa paket untuk anak sekolah ini karna online itu. Seperti saya bilang tadi kalau tidak cukup lagi membeli ikan asin di pajak asalkan ada beras dan garam saja lah dek itu lah kami makan. Puji Tuhan lah juga kan dek anak-anak saya ini bisa mengerti keadaan ekonomi keluarga jadi tidak menuntut banyak bahkan untuk lauk pauk dirumahpuntidak”

62 Peneliti juga bertanya perihal kesehatan seluruh anggota keluarga Ibu Eliska Gurning. Ibu Eliska mengaku beliau bersyukur bahwa anggota keluarga beliau belum pernah mengalami penyakit yang cukup serius. Berikut penuturannya:

“kalau ada yang sakit biasanya berobat ke puskesmas kami, syukur lah ada KIS dek tapi memang Puji Tuhan belum pernah ada kami yang sampai sakit parah yang harus sampai opname gitu dek, palingan kalau sakit cuma sakit-sakit biasa kayak gitu gitu lah gak pernah yang berat-berat sakitnya”

Peneliti juga bertanya kepada Ibu Eliska tentang kecukupan gizi sehari-hari yang didapatkan oleh seluruh anggota keluarga Ibu Eliska Gurning. Berikut penuturannya:

“aduh dek gak terpikirkan lah untuk cukupnya gizi atau tidak, bisa kami makan tiga kali sehari dan sehat sudah cukup untuk kami dek, kalau untuk seperti susu atau buah-buahan yang lengkap belum bisa terpenuhi kami dek, bagaimanalah saya mau beli susu kadang beli ikan asin saja tidak cukup lagi, ya nasi garam yang ada ya itu lah dulu yang ada asal lah makan dulu”

Peneliti juga menanyakan tentang pendapat Ibu Eliska Gurning perihal pendidikan, dan beliau mengaku sangat ingin untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi dan dengan harapan bisa mengangkat perekonomian keluarga kelak. Berikut penuturannya:

“sebenarnya besar sekalinya harapan saya dek untuk menyekolahkan anak-anak saya ini sampai kuliah, tapi mau bilang apa uang tidak ada

63 dan mereka pun tidak ada yang bisa menang ke negeri, kalau seandainya menang mereka di negeri kan katanya ada bantuan bidik misi itu dari pemerintah, tapi gak menang, mana sanggup kami menguliahkan kalau ke swasta”

Peneliti juga menanyakan kepada Ibu Eliska Gurning tentang bantuan-bantuan apa saja yang sudah pernah diterima oleh keluarga beliau, dan beliau mengaku telah menerima bantuan Program Keluarga Harapan dari pemerintah.

Berikut penuturannya:

“ada bantuan yang kami dapat dari pemerintah yaitu bantuan keluarga harapan yang 300 ribu itu, ya lumayanlah untuk menambahi membeli pulsa paket internet untuk anak sekolah ini daripada tidak ada bantuan sama sekali kan, hanya itu saja dek tidak ada lagi dari mana mana, palingan bantuan disekolah-sekolah negeri itu lah jadi gratis sekolah di negeri”

Peneliti juga menanyakan pendapat Ibu Eliska Gurning tentang perubahan kondisi dan hambatan-hambatan yang cukup sulit dialaminya setelah menjadi orangtua tunggal, dan karena mayoritas penduduk di Desa Simanido memang petani maka sama seperti Ibu Romatiur Sidauruk, Ibu Eliska Gurning mengatakan bahwa walaupun sebelum menjadi orangtua tunggal beliau juga sudah bertani bersama suami meskipun menurut beliau keadaan ekonomi mereka setelah berpisah dengan suami pun tidak ada perubahan menurun ataupun meningkat.

Berikut penuturannya:

“kalau yang saya rasakan sendiri sih dek tetap aja sama seperti dulu, tidak ada perubahan dalam keadaan ekonomi keluarga kami, karena

64 berkurang satu yang bekerja untuk menambahi uang ke dapur tapi anak saya pun 2 orang sudah pergi merantau, jadi seperti seimbang, tetaplah seperti dulu ekonomi cuman memang harapan kami semakin meningkatla ekonomi kami dengan anak-anak yang sudah merantau ini semoga dapat kerja dan boleh membantu keluarga disini, kalau sekarang belum bisa mereka bantu”

Peneliti juga bertanya kepada Ibu Eliska Gurning perihal upaya yang dilakukan Ibu Eliska dalam mengatasi segala permasalahan-permasalahan dan hambatan-hambatan yang dihadapi oleh keluarga Ibu Eliska Gurning. Berikut penuturannya:

“kalau upaya sudah saya upayakan yang saya bisa dek, hanya bertani nya saya bisa jadi bertani saya lebih keras lagi, kalau misalkan ada manggaji setiap hari pasti saya kerjakan tapi kan tidak ada setiap hari, tapi tetap juga saya kerjakan yang lain itulah diladang yang sedikit itu tapi kan tetap tidak cukup untuk bisa makan makanan bergizi atau untuk menguliahkan anak-anak kan”

Dari hasil wawancara peneliti dengan informan utama II yaitu Ibu Eliska Gurning peneliti menyimpulkan bahwa setelah menjadi single parent kondisi kesejahteraan keluarga Ibu Eliska Gurning tetap terbilang jauh dari kesejahteraan dilihat dari pendapatan Ibu Eliska Gurning yang sangat sedikit dan selalu kurang untuk membeli bahan makanan bahkan untuk membeli lauk pauk yang mengakibatkan tidak terpenuhinya gizi yang baik dari setiap anggota keluarga, begitu juga dengan pendidikan anak-anak yang hanya sampai pada jenjang SMA

65 juga keadaan tempat tinggal yang sederhana dan cukup sempit menampung seluruh anggota keluarga.

Dokumen terkait