TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Uraian Teoritis 1.Tingkat Bunga
2.1.7. ingkat Bunga dan Investasi
1 2
Sumber : Prinsip-prinsip Ekonomi Makro, Case dan Fair, 2004
estor ingin memegang obligasi bila tingkat bunga turun dengan harapan menjualnya bila tingkat bunga tinggi.
2.1.7. ingkat Bunga dan Investasi
ingkat bunga yang ditetapkan di pasar uang memiliki akibat besar terhadap investasi yang direncanakan dipasar barang. Bila sebuah perusahaan manufaktur ingin m mbangun pabrik baru, maka para kontraktor harus dibayar pada saat pabrik di bangun. Seorang wirausaha yang ingin membuka kedai makanan baru, maka dia
i1 Ti Suk ngkat u Bunga i2 Md 0 m m Uang, M
Gambar 2.6. Hubungan Tingkat Bunga dan Permintaan Uang
Di dalam motif spekulasi juga berhubungan dengan tingkat bunga. Salah satu alasan untuk memegang obligasi bukannya uang, karena nilai pasar obligasi berbunga, berhubungan terbalik dengan tingkat bunga. Para inv
T T
mem , perlengkapan memasak, yang juga harus dibayar pada saat dipasang.
yang dibutuhkan untuk melaksanakan proyek-proyek tersebut umumnya dipinjam dari pihak bank ataupun pengusaha-pengusaha, dan harus dibayar kembali pada saat jatuh tempo berdasarkan kesepakatan. Biaya riil investasi tergantung sebagian pada tingkat bunga
menjadi lebih m dijalankan akan
murah sehingga lebih banyak proyek investasi yang mungkin akan dijalankan (Case dan Fair, 200
butuhkan meja, kursi
Uang
biaya pinjaman. Bila tingkat bunga naik, pinjaman ahal sehingga proyek investasi yang mungkin akan
lebih sedikit. Sedangkan bila tingkat bunga turun, biaya peminjaman akan lebih
4).
i3
%
Investasi yang direncanakan
i1 adalah fungsi negatif dari tingkat suku bunga Tingkat
Suku Bunga i2
0 I1 I2 I3 Investasi yang direncanakan, I Sumber : Prinsip-prinsip Ekonomi Makro, Case dan Fair, 2004
nurung (2009) dalam bukunya “Ekonomi Keuangan dan Kebijakan Monete
g domestik akan mengakibatkan apresiasi nilai tukar mata uang luar egeri dan depresiasi nilai tukar mata uang domestik. Depresiasi nilai tukar mata uang ibatkan harga relatif produk atau ekspor lebih murah sehingga
ekspor netto naik, dan akhirnya mengak at.
nflasi
Menurut Case dan Fair (2004), inflasi adalah kenaikan tingkat harga secara eseluruhan.
Sedangkan menurut Boediono (1995) inflasi adalah kecenderungan dari harga-aik secara umum dan terus menerus. Kenharga-aikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecu eluas kepada tau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain. Manakala
ankiw (2004) mengartikan inflasi sebagai kenaikan level harga secara umum. 2.1.8. Tingkat Bunga dan Nilai Tukar
Ma
r” menjelaskan tentang mekanisme transmisi alur harga aset terdiri atas efek nilai tukar (exchange rate effect), teori q Tobin, dan efek kekayaan (wealth effect). Pertumbuhan ekonomi internasional dan nilai tukar fleksibel telah meningkatkan peranan kebijakan moneter internasional dalam penentuan nilai tukar mata uang suatu negara. Ekspansi moneter yaitu kenaikan jumlah uang beredar awalnya akan menurunkan tingkat bunga riil domestik dan kemudian mengakibatkan deposit mata uang luar negeri naik. Peningkatan nilai deposit mata uang luar negeri terhadap deposit mata uan
n
domestik mengak
ibatkan naiknya permintaan agreg
2.1.9. Ekspektasi I
k
harga untuk n
ali bila kenaikan tersebut m a
neter, BI menganut sebuah kerangka kerja yang d
Ekspektasi inflasi rasional : πe ≠ πt-1 → inflasi yang secara langsung el-variabel lain yang diamati.
tian Terdahulu
Dalam melaksanakan kebijakan mo
inamakan Inflation Targeting Framework (ITF). Kerangka kerja ini diterapkan secara formal sejak Juli 2005, setelah sebelumnya menggunakan kebijakan moneter yang menerapkan uang primer (base money) sebagai sasaran kebijakan moneter.
Teori Ekspektasi, menurut Dornbusch (1994) dalam Wijaya (2008), menyatakan bahwa pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaftif dan ekspektasi rasional. Ekspektasi rasional adalah ramalan optimal mengenai masa depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Pengertian rasional adalah suatu tindakan yang logik untuk mencapai tujuan berdasarkan informasi yang ada. Sedangkan ekspektasi adaftif adalah ramalan inflasi yang mengacu pada inflasi aktual di masa lalu. Artinya secara sederhana teori ekspektasi dapat dinotasikan menjadi :
Ekspektasi Inflasi adaftif : πe
= πt-1 → inflasi tahun sebelumnya.
dipengaruhi oleh variab
2.2. Peneli
Duburcq dan Girardin (2009), melakukan penelitian yang berjudul “Domestic and External Factors in Interest Rate Determination: The Minor Role of the Exchange Rate Regime” dengan menggunakan metode vector error correction model
Colom
gkat bunga
emiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap
suku di
Dete ual Framework” dengan
bia, Ecuador, Mexico, Panama, Peru, dan Venezuela) di dapat bahwa jumlah uang beredar dan tingkat suku bunga Amerika Serikat hanya berpengaruh negatif terhadap tingkat suku bunga Ecuador. Sedangkan negara lainnya berpengaruh positif, kecuali Brazil menjadi satu-satunya negara yang memiliki otonomi sebagai tin
yang hanya disebabkan oleh variabel domestik.
Dua dan Pandit (2001), melakukan penelitian yang berjudul “Interest Rate Determination In India: The Role of Domestic and External Factors” dengan menggunakan metode error correction model (ECM) dan ARIMA model. Di mana penelitian ini menguji peran faktor-faktor domestik dan eksternal penentuan suku bunga jangka pendek di India pasca reformasi periode Maret 1993 – Mei 2000. Dari hasil yang didapat menunjukkan bahwa Treasury Bill Rate (3 months dan 12 months) dan commercial paper rate m
bunga jangka pendek di In a.
Edwards dan Khan (1985), melakukan penelitian yang berjudul “Interest Rate rmination In Developing Countries: a Concept
menggunakan model konsisten sesuai teori Fisher. Tujuan penelitian ini adalah menguraikan analisis penentuan tingkat suku bunga di negara-negara sedang berkembang yang sedang dalam proses pengkontrolan sektor keuangan dan pembatasan pada arus modal. Dalam hal ini negara yang diambil sebagai sample
adalah Kolombia dan Singapura. Kedua negara ini sangat berbeda dalam hal tingkat pembangunan keuangannya dan derajat keterbukaan. Hasil estimasi menunjukkan
bahwa di Kolombia baik faktor tingkat bunga asing dan domestik sangat penting, sementara tingkat bunga domestik di Singapura sepenuhnya ditentukan oleh asing variasi suku bunga dan nilai tukar.
Gochoco (1989), melakukan penelitian yang berjudul “Financial Liberalization and Interest Rate Determination: the Case of the Philippines, 1981 – 1985”. Dalam penelitian ini upaya yang dilakukan adalah untuk menjelaskan bagaimana suku bunga dipengaruhi oleh kondisi moneter domestik serta faktor-faktor eksternal yang telah diliberalisasi studi kasus di Philippina. Model empiris digunakan mencakup faktor domestik dan eksternal tersebut. Data yang digunakan adalah bulanan dimulai dari Januari 1981 sampai Desember 1985. Untuk mengestimasi model digunakan metode Generalized Least Square (GLS).
Bhattarai (2005), melakukan penelitian yang berjudul “An Empirical Study of Interest Rate Determination Rules” di Inggris dan negara ekonomi G7. Penelitian ini untuk melihat hubungan jangka panjang dari kesenjangan output dan kesenjangan inflasi terhadap tingkat bunga. Uji kointegrasi digunakan untuk melihat hubungan jangka panjang antara tingkat bunga dan kesenjangan output dan inflasi. Metode persamaan simultan digunakan untuk menyelidiki keterkaitan antara variabel-variabel, sedangkan uji VAR respons impuls digunakan untuk menganalisis dampak dari guncangan unit dalam output. Dari hasil uji kointegrasi didapat bahwa kenaikan kesenjangan inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat bunga, dan kesenjangan output berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap tingkat bunga.
Dari hasil persamaan simultan didapat bahwa kesenjangan output dipengaruhi tingkat bunga, sedangkan kesenjangan inflasi dipengaruhi oleh kesenjangan output. Dari hasil VAR respons impuls didapat bahwa tingkat bunga mengurangi kesenjangan output dengan respon tertinggal di kesenjangan inflasi, kesenjangan output mengurangi tingkat bunga dengan respon tertinggal di kesenjangan inflasi, dan kesenjangan inflasi mengurangi tingkat bunga dengan respon tertinggal di kesenjangan output.