• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inilah mahar puteri Rasulullah yang tidak di ukur dengan harga (uang) Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menikahkan puterinya dengan mahar

baju besi, sebagai simbol kesederhanaan.

Juga sebuah riwayat dari Anas, dimana ia berkata: "Ketika Abu Thalhah menikahi 'Ummu Sulaim, mahar yang diberikannya adalah masuk (me- meluk) Islam. Adapun 'Ummu Sulaim memeluk agama Islam sebelum Abu Thalhah. Kemudian Abu Thalhah melamarnya. 'Ummu Sulaim ber-kata: Aku telah memeluk agama Islam. Jika engkau masuk Islam, maka aku akan menikah denganmu. Lalu Abu Thalhah pun memeluk agama Is-lam dan itulah mahar baginya —yang diminta oleh 'Ummu Sulaim, isteri-nya—" (HR. Nasa'i dengan sanad sahih).

Yang dimaksudkan oleh hadits diatas adalah membolehkan kepada se- orang pria untuk memberikan cincin besi sebagai mahar bagi wanita yang hendak dinikahinya. Disamping itu, juga karena ada larangan bagi laki-laki memakai cincin yang terbuat dari emas. Sebab, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah melihat sahabat beliau memakai cincin yang terbuat dari emas dan beliau berpaling darinya serta membuangnya. Kemudian beliau membuat sebuah cincin besi dan memberikan kepadanya seraya bersabda: "Ini (memakai cincin yang terbuat dari emas bagi laki-laki) adalah per- buatan dosa dan merupakan perbuatan penghuni neraka" (HR. Ahmad dengan sanad sahih).

Betapa besar perbedaan antara kesederhanaan Islam dalam hal per- nikahan dan persepsi perkawinan serta tradisi yang berlaku pada zaman Jahiliyah. Sehingga perkawinan tidak lagi dianggap sebagai mendatangkan bencana bagi sang suami, sebagaimana pernah diungkapkan melalui per- nyataan berikut ini: "Tiga perkarayang memberatkan suami (karena per- nikahan), yaitu rumah untuk sang isteri, tempat berkumpul dan pesta yang diiringi oleh musik (yang banyak sekali menuntut harta kekayaan)."

Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata:

"Ingatlah, jangan berlebih-lebihan dalam memberikan mahar bagi wanita. Karena sesungguhnya, jika hal itu suatu kemuliaan di dunia dan bernilai taqwa di sisi Allah, Niscaya Rasulullah SAW adalah orang yang paling utama atas kalian dalam hal tersebut. Dan aku tidak pernah mengetahui bahwa beliau menikahi isteri-

isterinya, lebih dari serta menikahkan puteri-puterinya dengan mahar 12 'uqiyah." (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Nasa'i dengan sanad sahih) Tidaklah benar jika ada sebuah kisah yang menyatakan, bahwa ada perempuan yang membantah Umar ketika menyerukan agar tidak berlebih- lebihan di dalam memberikan mahar, dengan menggunakan dalil ayat Al Qur'an. Dalam hal ini disebabkan oleh dua alasan, diantaranya: Riwayat tersebut terputus dan sebagian lainnya lemah, karena adanya periwayat yang bernama Mujaalid bin Sa'id dan Qays bin Rabi', dimana keduanya dinyatakan lemah oleh Ibnu Hajar Al 'Asqalani serta para ulama fiqih lain- nya.

Sesungguhnya tindakan berlebih-lebihan itu haram hukumnya dan mengakibatkan kerusakan di dalam pernikahan. Adapun ayat tersebut me- nunjukkan kerelaan suami dan mencegah isteri untuk mengumpulkan harta. Akan tetapi, jika karena tuntutan dari pihak isteri atau walinya, maka hal itulah yang dilarang (tidak diperbolehkan). Tidaklah logis jika wanita ter- sebut menyanggah pendapat khalifah. Jika memang Umar diam tentang-nya, maka lebih baik ia berkata: Umar telah salah dan wanita ini benar! Kita telah mengetahui tentang ketetapan mahar sebelumnya, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sendiri yang menjadikan suatu keberkahan bagi seorang wanita dengan memudahkan mahar dari calon suaminya.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu, dimana ia berkata: "Bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyiapkan untuk pernikahan Fathimah kain beludru dan bantal yang berisikan jerami." Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: "Kami meng-hadiri pesta pernikahan Fathimah dan kami tidak melihat pesta yang lebih baik daripada pesta tersebut. Kami isikan kasurnya dengan rumput kering dan kami diberi buah kurma serta kismis, kemudian kami memakannya. Tempat tidur yang disediakan pada pesta tersebut terbuat dari kulit domba jantan."

Di manakah letak kesederhanaan yang telah disebutkan dalam sejarah dari pesta para puteri raja dengan berhiaskan mahkota serta isteri-isteri mereka yang memboroskan harta negara dan menyebabkan kebangkrutan. Contohnya:

a. Pernikahan antara Makmun dengan Buuron. Pernikahan itu dihiasi dengan mutiara yang serba mahal dan meminta kepada para undangan wanita agar memuliakan Buuron, supaya memperoleh apa yang mereka ingin- kan dari mutiara-mutiara tersebut. Ketika para panglima dan pejabat tiba pada pesta ini, Makmun memberikan kertas-kertas yang bertuliskan

nama-nama daerah dan setiap dari mereka mengambil daerah yang mereka pimpin. Anehnya, sebagian pengarang ada yang menamakan 'pesta iblis' ini dengan sebutan 'dakwah Islam'.

b. Bersumber dari tulisan Dr. Muhammad Ahmad Hanafi yang berjudul "Tsalaatsatu A'raas Audatu bi Al Khizaanati ila AlAflaas", yang ring- kasnya adalah: "Para sejarawan menyatakan, bahwa sesungguhnya di- antara perlengkapan perkawinan anak perempuan Khamrawiah dengan isteri khalifah yang terawat itu, ada satu lapis dari empat potongan yang terbuat dari emas, yang diatasnya terdapat kubah dari emas yang ter-jalin. Dari setiap jalinannya terdapat tandan yang terbuka dan didalam-nya terdapat butiran-butiran dari permata yang tak ternilai harganya. Didalam perlengkapan perkawinan itu terdapat juga lumpang yang ter-buat dari emas, yangmana bisa mengeluarkan bunyi-bunyian dan juga menebarkan wewangian serta harga dari satu tandan itu bernilai sepuluh dinar.

Khamrawiah belum merasa cukup dengan penghormatan segala per- lengkapan pernikahan yang disiapkan untuk anaknya, begitu juga dengan tindakan berlebihan didalam memberi ongkos pemindahannya dari Mesir ke Baghdad, maka ia memerintahkan untuk membangun baginya —diakhir perjalanan panjang ini— sebuah istana sebagai tempat peristirahatan bagi "perlengkapan perkawinan" dan juga menyiapkan apa yang dibutuhkan dalam pesta selama perjalanan.

Ibnu Khalqan menyebutkan, bahwa jumlah mahar yang hendak diberi- kan mencapai satu juta dirham. Akan tetapi, mahar ini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ongkos yang dikeluarkan oleh Khamrawiah dalam pesta tersebut. Penulis sebutkan, bahwa Ibnu Khashshaas, yaitu seorang pedagang permata yang telah dipercaya untuk menyiapkan perlengkapan pernikahan telah mendapat bayaran sebanyak 1400 dinar, dimana pada saat itu ia menjadi dikenal melalui sebuah lagu yang sangat masyhur (umum). •:‡