• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBICARAAN SEPUTAR WANITA

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman didalam Al Qur'an:

"Maka janganlah kalian tunduk pada saat berbicara, sehingga men- jadi berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. " (Al Ahzab 32)

Sayyid Qutb didalam kitabnya yang berjudul "Azh Zhilaal" secara ringkas berkata: "Allah Subhanahu wa Ta 'ala melarang para wanita ketika ber- bicara dangan laki-Iaki yang bukan muhrimnya dengan tekanan suara yang mendesah dan lembut, hingga dapat menimbulkan gairah syahwat para lelaki dan menggerakkan insting mereka atau menimbulkan hasrat bagi orang-orang yang didalam hatinya terdapat penyakit serta dapat mengobar- kan fitnah didalam hatinya."

Lebih lanjut ia berkata: "Kemudian Allah Subhanahu wa Ta 'ala me- merintahkan kepada mereka (para wanita) agar berbicara seputar hal yang baik-baik. Karena, topik pembicaraan terkadang dapat menimbulkan hasrat vang kurang baik, apabila hal itu dilakukan dengan cara (seperti berbicara) yang dibuat-buat. Maka dari itu, dianjurkan bagi wanita dan pria yang bukan muhrim menggunakan bahasa yang baik ketika harus ada pembicaraan diantara mereka mengenai persoalan yang penting dan tidak diperkenankan untuk membicarakan sesuatu yang tidak baik serta senda gurau yang dapat mengarah kepada perbuatan munkar (agar tidak dirasuki sesuatu yang lain dibalik pembicaraan itu), cepat atau lambat.

Jika pembicaraan seorang wanita dan suaranya yang mendesah itu dapat menimbulkan hasrat (seperti mendatangkan sihir), maka dianjurkan bagi seorang isteri agar melakukan kesemuanya itu hanya terhadap suaminya, dengan tujuan untuk mendatangkan luapan cinta pada hatinya.

Para penyair berlomba-lomba didalam menggambarkan kecantikan dan ketertarikan (godaan) pembicaraan (suara) wanita. Untuk itu, disini penulis sebutkan perkataan mereka dengan tujuan agar dapat menyadarkan isteri- isteri akan apa yang telah dimilikinya (berupa daya tarik dari suaranya) yang akan memberinya peran yang cukup penting didalam membina ke-hidupan rumah tangga yang lebih baik dan mampu untuk memecahkan segala persoalan yang tengah menimpa dengan jalan yang terdekat (ter-mudah yang dimiliki).

Basyar berkata:

"Pembicaraan bagaikan sepotong bentuk pendidikan etika Yang menentukan kuning atau putihnya sebuah pernikahan." Al Qathaami berkata:

"Dan para wanita merangkai kata-kata

Untuk menuangkannya pada tempat-tempat air

Untuk menghapuskan rasa dahaga atas orang yang dahaga." Sedangkan yang lainnya berkata:

"Terkadang...jika ia memberi salam dan berbicara denganku Tentang hajat dan rahasiaku

Seakan perhiasan berjatuhan dari mulutnya." Yang lainnya berkata:

"Perkataannya...

Seperti minuman yang memabukkan." Yang lainnya berkata:

"Seakan dibawah lidahnya...

"Ketika puteri Al Jaun memasuki malam pertama dengan Rasulul-lah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan beliau mendekatinya, maka ia berkata: Aku berlindung kepada Allah darimu. Maka beliau (Rasulullah) pun berkata: Engkau telah berlindung kepada Allah SWT. Oleh karena itu, temuilah keluargamu. (HR Bukhari)

Isti'adzah (kata berlindung) disini bukanlah menunjukkan kepada makna yang sesungguhnya dan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memetik pada ucapan wanita tersebut melalui artinya secara umum. Kemu-dian ia (wanita) berkata: Orang yang diajak bicara merasa berbahagia dan ucapan itu pantas baginya sebagai ganti dari isti'adzah untuk mengucap-kan selamat terhadap diri Rasulullah dan bersikap ramah dengan wajah yang berseri-seri serta bertanya jawab bersama beliau dalam rasa simpatik-nya.

Pada pembahasan kali ini penulis kemukakan mengenai sebagian dari cerita tentang andil dari kecerdasan dan kepintaran wanita didalam mem- berikan jawaban. Sebagaimana diceritakan, bahwa Harun Al Rasyid me- miliki beberapa orang budak (perempuan) hitam dan jelek perawakannya. Pada suatu hari, Harun Al Rasyid membagikan beberapa uang Dinar ke-pada tetangganya (dengan cara menaburkannya didepan rumah para tetang-ganya itu, Ed.). Lalu para tetangga itu menemukannya dan memungut uang dinar tersebut. Sedangkan budaknya hanya berdiri saja sambil memandang wajah Harun Al Rasyid. Harun Al Rasyid pun bertanya kepadanya: "Apa-kah engkau tidak ingin (ikut) memungut uang Dinar itu?" Ia (sang budak) menjawab: "Sesungguhnya yang mereka cari itu uang Dinarnya, sedangkan aku mencari pemiliknya." Maka Harun pun merasa kagum kepadanya, lalu mendekati dan memujinya dengan kebaikan. Kebaikan ucapannya itu telah mewakili atas kebagusan hatinya (dinukil dari kitab yang berjudul "Na- waadiru Al Adzkiya ").

Pada suatu hari, Muhammad bin Abdullah bin Thahir berkemas untuk menunaikan ibadah Haji. Lalu budak perempuan miliknya keluar meng- hampirinya, yangmana ia (tuannya) itu adalah seorang penya'ir yang sangat menyukainya. Ia (sang budak) sempat menangis ketika melihat perleng- kapan perjalanan yang hendak dibawa oleh tuannya. Maka Muhammad bin Abdullah berkata:

"Airmata yang jatuh bagaikan mutiara Yang mengalir membasahi pipinya Yang bercucuran pada saat perpisahan Dari ujung mata yang bercelak."

Kemudian ia berkata: "Izinkanlah aku...."

Maka budak itu pun berkata:

"Ketika bulan merayap dengan sinar terangnya Menjauhi kita dengan tenggelam Hanya saja rasa gelora cinta tampak Pada saat menjelang

keberangkatan."

Al Mufdhil berkata: "Aku menemui Al Rasyid dengan membawa se- suatu. Yaitu, seorang budak (perempuan) pemalu yang ahli di dalam ber- sya'ir dan aku hadiahkan untuknya." Al Rasyid berkata: "Wahai Mufdhil, katakan mengenai dirinya sedikit saja." Maka ia pun berkata:

"Ia bagaikan pipi yang patut disayangi Yang dicium oleh mulut kekasihnya Dan tampak padanya perasaan malu." Maka sang budak itu pun berkata:

"Ia bagaikan warna pipiku ketika mendorongku Telapak tangan khalifah untuk melakukan perintah Yang harus dicuci."

Al Ashma'i berkata: "Aku pernah berada tepat disisi Amirul Mukmin-in, ketika seorang lelaki masuk bersama budak yang hendak ia jual. Lalu Al Rasyid memperhatikannya dan kemudian berkata: Bawalah budakmu kembali! Seandainya tidak terdapat bintik-bintik diwajahnya dan tanda- tanda keliaran pada hidungnya, niscaya akan aku beli." Maka lelaki itu pun pergi bersamanya. Ketika telah mencapai tabir (pintu) ia (budak itu) ber- kata: "Wahai Amirul Mukminin, kembalikanlah aku kepadamu. Niscaya akan aku lantunkan sya'ir (nasyid) untuk menjelaskan kedatanganku." Maka beliau pun menerimanya dan ia melantunkan sebuah sya'ir:

"Tidak akan selamat pemudi atas kebaikannya Sekali-sekali tidak...tidak juga purnama

Bagi pemudi belia yang terdapat tanda-tanda keliaran

Dan bagi purnama yang tampak bintik-bintik noda diwajahnya."

Maka Amirul Mukminin pun merasa kagum kepadanya dan beliau membeli serta mendekati tempatnya. Setelah itu, ia pun menjadi budak (perempuan) yang sangat beruntung disisi beliau.

Ketika aku menyerahkan tombak kepada Al Mahdi, ia berkata: "Demi Allah, wahai budakku, sesungguhnya engkau selalu berada didalam pikiran orang-orang yang tengah mabuk kepayang. Akan tetapi, betis kakimu itu

terlalu kecil." Maka ia pun (sang budak) berkata: "Wahai Amirul Mukmin-

in, sesungguhnya engkau sangat membutuhkan diriku dan janganlah me-

lihat menganai hal itu." Maka Amirul Mukminin berkata: "Aku beli." Lalu

ia pun menjadi budak yang bernasib baik disisi beliau dan melahirkan Musa

serta Harun.

Diceritakan oleh Abubakar As Shuli, bahwa Al Mahdi membeli se-