• Tidak ada hasil yang ditemukan

NASIHAT 'UMMU MU'ASHIRAH KEPADA PUTERINYA SEBELUM PERNIKAHAN

'Ummu Mu'ashirah telah menasihati anak perempuannya dengan perkata-an sebagai berikut: "Wahai anakku, engkau akan menghadapi kehidupan baru, yaitu kehidupan yang tidak ada tempat bagi ibu dan bapakmu atau seseorang dari saudaramu. Yang akan menjadi temanmu adalah seorang laki-laki yang tidak ingin orang lain mencampuri urusannya padamu, se-kalipun itu dari pihak keluargamu sendiri. Jadilah engkau isteri yang baik bagi suamimu dan ibu bagi anak-anakmu. Jadikanlah suamimu merasakan, bahwa engkau adalah segalanya dalam meniti kehidupannya di dunia ini.

Ingatlah selalu olehmu, bahwa dengan sedikit perkataan manis akan cukup membuat laki-laki (suami) bahagia. Jangan sampai suamimu merasa, bahwa pernikahanmu dengannya menyebabkan engkau jauh dari kerabat dan keluargamu. Sesungguhnya perasaan seperti ini telah menyita perhati-annya. Karena, ia pun telah meninggalkan rumah kedua orang tua dan ke-luarganya demi engkau. Maka, ia tidak ada bedanya dengan engkau.

Perempuan selalu merindukan keluarga dan rumah asalnya, tempat di- mana ia dilahirkan, dibesarkan dan belajar. Akan tetapi, sebagai seorang isteri, ia harus bisa mengadaptasikan diri pada kehidupan yang baru. Se- orang isteri harus bisa membina kehidupan dengan seorang laki-laki yang menjadi suami, pengayom dan bapak bagi anak-anaknya...inilah duniamu yang baru.

Wahai anakku, ini adalah kehidupanmu untuk masa kini dan masa yang akan datang. Ini adalah bangunan rumah tangga yang engkau bina bersama suamimu. Adapun kedua orang tuamu adalah masa lalu. Aku tidak ingin

dirimu melupakan bapak, ibu dan saudara-saudaramu. Karena, mereka tidak akan melupakanmu selamanya. Wahai buah hatiku, bagaimana mungkin ibu melupakan kenangan indah bersamamu. Akan tetapi, aku minta darimu untuk mencintai suamimu dan hidup bersamanya dengan bahagia. ‡

BAB 6. KEGEMBIRAAN DAN ARAK-ARAKAN PENGANTIN

PERKAWINAN DAN MUSIK REBANA

Ada sebuah riwayat dari Rubai' bin Muawwidz Radhiyallahu 'Anhu yang mengatakan:

"Bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah memasuki rumahku. Kemudian beliau duduk diatas sofa, seperti dudukmu ini di hadapanku (kata ganti orang kedua yang ditujukan kepada perawi, Ed.). Lalu aku memerintahkan kepada para tetangga untuk mem- bunyikan rebana dan meratapi bapak-bapak kami yang gugur di-dalam peperangan Badar. Tiba-tiba salah seorang diantara mereka berkata: Diantara kita ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Maka Nabi Muhammad pun berseru: Tinggal-kanlah akan hal ini! Dan katakanlah seperti apa yang telah kalian ucapkan sebelumnya (sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Allah dan Rasul- Nya)." (HR. Bukhari, Baihaqi dan Ahmad)

Dalam riwayat lain yang juga berstatus sahih dinyatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

"Tidak seorang pun mengetahui apa yang di kandung rahim, kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala." (HR. Bukhari)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berbicara kepada Nabi Muhammad Sha- llallahu 'Alaihi wa Sallam melalui firman-Nya (yang artinya): "Katakan-lah olehmu (ya Muhammad); aku (Nabi) tidak mengetahui akan hal-hal yang ghaib." Dengan adanya ayat ini, mengapa Al Bushiri —seorang pe-ngarang kitab Burdah— masih membicarakan tentang Nabi, sebagaimana disebutkan didalam sya'irnya:

"Kemurahanmu meliputi urusan dunia dan akhirat Termasuk ilmu yang engkau miliki

Ilmu yang tertulis di Lauh Al Mahfuzh dan Kalam."

Dari bait-bait yang telah direvisi didalam kitab Burdahnya, Al Bushiri menyatakan; bahwa dirinya meminta pertolongan kepada Rasulullah Sha- llallahu 'Alaihi wa Sallam. Kemudian beliau berkata kepadanya: "Apabila engkau meminta sesuatu, maka mintalah kepada Allah dan apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah." Ke- mudian Nabi berkata pula kepada anak perempuannya, yaitu Fathimah: "Wahai Fathimah, beramallah! Karena sesungguhnya aku (ayahmu) tidak akan dapat mencukupi kebutuhan akan amalmu dihadapan Allah kelak."

Lebih lanjut dikatakan didalam kitab tersebut: "Wahai makhluk yang mulia (Nabi)

Tiada tempat bagiku berlindung selain kepada engkau Ketika terjadi bencana yang menimpa semua makhluk Tidaklah aku dizhalimi oleh seseorang

Lalu aku berlindung kepada Nabi

Kecuali mendapatkan perlindungan darinya dan tidak terhina Andaikan tanda-tandanya sesuai dengan kebesaran derajatnya Ketika dipanggil namanya

Menghidupkan tulang belulang yang hancur."

Dari sebagian mukjizat yang Allah berikan kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam —yakni Al Qur'an Al Karim— yang tiada satu pun dapat

Nya telah menghidupkan segala sesuatu yang telah mati. Hal yang sangat disayangkan adalah, bahwa qasidah Burdah dimaksud mengandung banyak hal yang menyesatkan, bahkan di kategorikan sebagai syirik, sebagaimana yang penulis amati.

Sering kita temukan para guru mengajarkan qasidah burdah kepada murid-muridnya lebih banyak porsinya daripada mereka belajar Kitabullah dan Sunnah Nabi. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga memerintahkan kepada para muridnya untuk menulis pada bejana, lalu meminum airnya untuk penyembuhan. Penulis pernah bersama-sama sekelompok murid dari seorang syaikh menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Sepanjang perjalanan pulang dan pergi mereka melantunkan burdah. Seolah-olah mereka menampakkan —sekalipun mereka tidak suka berhaji— ketetapan perbuatan mereka pada hal-hal yang sesat serta aqidah yang bathil.

Mereka juga menyampaikan, bahwa Al Bushiri menderita penyakit lumpuh serta bermimpi melihat Rasulullah seusai membaca nazhamnya dan beliau (Rasulullah) menyelimutkan jubah yang beliau kenakan sebagai obat baginya. Semua itu adalah bohong!

Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, ia berkata:

"Bahwa sesungguhnya ia pernah mengantarkan mempelai wanita kepada suaminya, seorang laki-laki dari kaum Anshar. Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun bertanya kepadanya: Wahai 'Aisyah, apakah engkau tidak menyukai sebuah permainan? Sebab sesung- guhnya kaum Anshar itu sangat dikagumi karena permainan mereka yang menarik." (HR. Bukhari dan lainnya)

Pada riwayat yang lain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga bersabda:

"Pemisah antara halal dan haram adalah rebana dari suara dalam pernikahan." (HR. Nasa'i, Tirmidzi dan lainnya)

Tidak diperbolehkan berlebihan dalam bernyanyi, kecuali pada hari resepsi pernikahan, sebagaimana disebutkan didalam hadits. Selama mak-

nanya masih murni, yakni bersih dari hal-hal yang tidak baik dan dari alat