AGRIBISNIS DALAM PRESPEKTIF SYARIAH
E. Inovasi dan Bioteknologi Dalam Agribisnis
Seiring perkembangan zaman, untuk masa depan agribisnis manusia mau tidak mau harus mulai memikirkan bioteknologi sebagai salah satu aspek terpenting dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi resiko dalam pengembangan agribisnis. Hal ini seperti memperkecil resiko penurunan produktivitas panen. Bioteknologi berarti melakukan berbagai macam inovasi dan aplikasi rekayasa genetic untuk menciptakan bibit unggul, mengurangi resiko kegagalan panen dan memperbesar kuantitas serta kualitas dalam sector agribisnis dan agronidustri. Lalu bagaimana Islam menyikapi hal ini? Bolehkan rekasa genetic atau bioteknologi diterapkan manusia dan memenuhi syarat-syarat syar’i? ternyata Islam lebih dahulu sudah mengisyaratkan hal tersebut dalam surat Al Waqi’ah dalam Al Qur’an. Islam memang mengadaptasi semua kemungkinan hukum alam semesta.
Surat Al Waqi’ah ini merupakan surat ke 56 terdiri dari 96 ayat. Sebagian besar diturunkan di Mekah kecuali ayat 39,40,81 dan 82 yang diturunkan di Madinah. Arti dari Waqi’ah adalah hari kiamat. Surat ini istimewa, karena Rasulullah SAW sendiri mengisyaratkan:
“Barang siapa membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, tidak akan ditimpa kemiskinan
selama-lamanya” (Dari Abdullah bin Mas’ud dalam riwayat Ibnu Asakin dan Abi Dzabiah).
Hal ini dilakukan bukan dengan tanpa usaha. Karena makna tersurat dan tersirat dari Al Waqi’ah adalah anjuran bagi setiap muslim untuk berlomba-lomba meningkatkan usaha dam melakukan amal saleh. Usaha yang diberkahi dalam Islam tentu usaha yang halal, apalagi yang hasilnya diperlukan oleh masyarakat banyak, seperti usaha dibidang agribisnis ini.
Manusia sebagai wakil Allah di bumi atau Khalifah seperti yang tertera dalam surat Al Baqarah ayat 30, mengandung arti jika manusia diharapkan bisa memelihara ciptaan Allah dan mengurus seluruh potensi yang ada dimuka bumi untuk dikembalikan memakmurkan bumi. Tugas berat yang dipikul manusia saat harus mengapresiasikan sumber daya alam,
terus bermanfaat. Dalam surat Ibrahim ayat 32-33 berulang Allah mengatakan jika Allah menundukkan (sakhkhara) kapal, matahari, bulan, malam dan siang yang mempunyai makna jika manusia diharapkan menyeimbangkan hak dan kewajibannya terhadap ciptaan Allah tersebut dengan menyerahkan segala daya pikirnya.
Salah satu ayat terpenting dalam bioteknologi agribisnis terlihat dalam surat Yasin (36) ayat 35:
“Agar mereka dapat makan dari buahnya dan dari hasil usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?”
Ayat ini secara tersirat menganjurkan manusia untuk memanfaatkan produk tumbuhan yang melimpah di alam raya ini. Manusia diizinkan pula mengolah berikut memodifikasi produk alam sesuai dengan daya kepandaian manusia, berupa molekul organikpun diperbolehkan melakukan perubahan atau modifikasi baik atas struktur kimia maupun genetisnya. Namun hal ini ada catatannya yakni semuanya untuk kemaslahatan manusia dan makhluk hidup lainnya namun jika menimbulkan mudharat maka hal tersebut haram dilakukan.
Dalam salah satu ayat yang penting untuk bioteknologi tumbuhan terlihat pada surat al Mulk ayat 3-4:
“Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak
seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadami tanpa menemukan cacat daan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih”
Selain membicarakan tentang kesempurnaan jagad raya ciptaan Allah yanga mana didalamnya juga termasuk tetumbuhan, ayat ini seolah memberikan ‘arahan’ pada manusia yang tengah berupaya memodifikasi kimiawi atau genetis terhadap makhluk ciptaanNya. Dalam ayat ini terlihat jelas, bahawa manusia diharapkan juntuk melakukan observasi intensif sebelum melakukan ‘perbaikan’ pada makhluk alami agar nantinya hasilnya tidak menimbulkan mudharat atau mengalami kekeliruan dalam rangka eksperimen tersebut.
Ada sebuah hadis yang saat diperhatikan secara seksama hadis tersebut memberikan semacam code of conduct, yakni kode berperilaku atau etika yang harus dipegang umat Islam dalam realisasinya dengan makhluk berupa tetumbuhan, hewan atau bahkan semacam
mikroorganisme juga perlakuan terhadap makhluk hidupnya (environment maupun
biosphere). Hadis ini adalah:
“Ada dua hal yang aku hafal betul dari ajaran Rasulullah. Beliau bersabda,”Sesungguhnya Allah telah mewaajibkan berlaku baaik kepada apapun. Karenanya, jika kalian membunuh (hewan) maka hendaknya ia membunuhnya dengan baik. Apabila kalian menyembelih maka lakukanlah penyembelihan dengan baik; tajamkanlah pisau kalian dan biarkjanlah hewan sembelihan kalian merasa nyaman” (Riwayat Muslim
dari Syaddad bin Aus) .
Dalam hal ini ada empat prinsip bioetika yang dikemukakan oleh Beauchamp dan Childress (1994) yang mana hal ini bisa dijadikan pertimbangan ketika manusia akan melakukan eksperimen transgenic pada tumbuhan, yang ternyata jika ditelusur hampir sama dengan konsep yang ditunjukan oleh Maulana Jalaludin ar-Rumi yang ternyata sudah ada sejak abad 13. Prinsip tersebut adalah respek terhadap:
(1). Otonomi (autonomy) (2). Keadilan (justice)
(3). Kemaslahatan (beneficence)
(4). Tidak menyebabkan mudharat (non-maleficent).
1. Apikasi Bioteknologi dalam Agribisnis
Sifat genetic dari tanaman dan hewan yang tersusun dari gen, yakni kumpulan kode yang tersusun atas protein dan berfungsi untuk menentukan sifat sebuah sel makhluk hidup, baik tanaman maupun hewan. Dan tentu setiap sifat genetic makhluk hidup mempunyai keunggulan dan kelemahan yang fungsinya saling melengkapi satu sama lain. Dari sekian banyak tanaman dan hewan manusia dibolehkan untuk melakukan perkembangbiakan yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah atau populasi tanaman atau hewan hingga mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Manusia diperbolehkan melakukan inovasi dan rekayasa dalam meningkatkan produktivitas tanaman dan hewan untuk meningkatkan ketahanan pangan. Salah satu
keunggulan bioteknologi, contohnya adalah tanaman transgenic. Ada beberapa contoh tanaman transgenic yang sudah mulai dikomersialkan.
Seperti tanaman tomat yang direkayasa genetika hingga bisa dihambat pematangan dan pelunakan buah serta tahan terhadap insektisida. Adapula yang dijadikan menjadi tahan terhadap herbisida dan tahan terhadap insekta yakni jagung, padi, kapas dan kanola. Pengetahuan dalam bidang bioteknologi penting diketahui oleh umat Islam karena berkaitan langsung dengan perjuangan memperbaiki taraf hidup dan kesejahteraan kaum petani dan orang-orang yang bergerak pada bidang agribisnis ini.
“Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Maha Mengetahui apa yang kamu ketahui” (Al-Mujadillah ayat 11)
Dengan pengetahuan memang bisa membuka jendela dunia, termasuk mengelola bidang agribisnis yang sebenarnya merupakan sector dinamis karena bisa mengikuti trend yang ada didunia. Maka tak pelak sector ini selalu memerlukan pengembangan dan inovasi dalam segala aktivitasnya baik on farm maupun off farm. Perlu adanya trobosan teknologi rekayasa genetika pada level molekuler khususnya DNA. Dalam pengertian luas bioteknologi merupakan teknologi yang dimanfaatkan makhluk hidup dalam salah satu komponen utamanya (Muladno, 2002).
Fungsi utama dilakukannya bioteknologi dalam agribisnis yakni agar negara dapat memanfaatkan keunggulan komparatif yang berupa sumber daya alam dan plasma nuftah yang melimpah serta agroindustri untuk tingkatkan nilai tambah (value added) dari berbagai komoditas.
Dalam al Waqiah ayat 62-65 tersirat dengan jelas jika manusia seharusnya mengetahui sekaligus mengambil pelajaran dari ciptaan Allah ini. Sekaligus memberikan kesempatan berpikir seluas-luasnya untuk mengatasi segala kesulitan juga ‘merekayasa’ atau memberikan nilai tambah dari tumbuhan atau hewan yang bisa dimanfaatkan secara lebih baik.
“Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka
mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran? Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamilah yang
menumbuhkannya? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang”
2. Etika Bioteknologi dalam Islam
Tidak bisa dipungkuri kemajuan dalam bioteknologi dewasa ini yang sangat pesat ternyata menimbulkan dampak yang cukup signifikan baik positif maupun negative. Jika dampak positif tak perlu dipertentangkan, namun jika itu menimbulkan kemudharatan, atau menyalahi etik maka dalam Islam hal itu perlu dikaji ulang atau bahkan di hentikan.
Menyadari dampak tersebut, maka dalam melakukan kegiatan penelitian, pengkajian dan aplikasi bioteknologi di bidang agribisnis ini mutlak diperlukan rambu-rambu atau etika yang akhirnya akana memberikan pedoman aplikasi . Menurut Soehaji (1995) ada beberapa etika dalam bioteknologi diantaranya:
a. Tidak adakan atau merencanakan kegiatan penelitian yang tujuannya membentuk anomali-anomali (kelainan fisik atau diluar bentuk normal) yang rugikan hewan atau tak layak ditinjau secara estetika. Hal ini terlihat dalam surat al Qamar ayat 49:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”.
b. Tidak mengadakan atau merencanakan kegiatan penelitian yang berkaitan dengan hewan, langsung maupun tidak langsung yang pada akhirnya dapat membentuk spesies-spesies baru atau bertentangan dengan hukum alam atau kaidah agama. Hal ini seperti yang tertera dalam surat al Hajj ayat 73:
“Sesungguhnya segala yang kamu selain Allah, sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya”.
c. Tidak mengadakan atau merencanakan penelitian bioteknologi yang menggabungkan sifat fisik hewan dengan manusia. Semisal menanam embrio manusia pada hewan atau rekombinen gen (DNA) hewan dan manusia.
d. Tidak mengadakan atau merencanakan kegiatan penelitian menyangkut
mikroorganisme pada hewan maupun manusia secara langsung maupun tidak langsung yang dapat merusak kehidupan hewan maupun manusia serta lingkungan sekitarnya. Sebuah contoh, jika bom mikroorganisme serta membentuk mutan
pemusnahannya. Surat Al A’raf ayat 56 menyitirnya dengan jelas dimana manusia tidak diperbolehkan membuat kerusakan dimuka bumi.
e. Dalam mengadakan penelitian, pengkajian dan aplikasinya yang berkaitan dengan bioteknologi dibidang peternakan tidak bertujuan secara langsung maupun tidak menyakiti hewan baik bersifat permanen ataupun sementara.
f. Pengkajian dan aplikasi dari hasil bioteknologi dari luarnegeri tidak diperkenankan yang bertentangan dengan kaedah-kaedah agama, membahayakan kehidupan hewan maupun manusia dan lingkungan.
g. Tidak mengadakan atau merencanakan kegiatan penelitian bioteknologi yang disadari atau tidak bertujuan merendahkan derajat hewan hanya untuk kepuasan diri belaka. h. Dan diharapkan sebelum melakukan penelitian, pengkajian dan implikasi hasil
bioteknologi harus menempuh pengkajian dalam bidang aspek keagamaan, estetika budaya maupun aspek teknis.