PERTANIAN DAN PERADABAN MANUSIA DALAM ISLAM
A. Anjuran Menanam Tumbuhan
4. Hal yang Musyrik dalam Pertanian
3. Anjuran Menabung Benih dan Bahan makanan
Dalam Islam, larangan untuk berlebih-lebihan dalam dalam hal apapun memang mempunyai pengertian yang luas. Dalam hal pertanian, juga demikian. Saat panen, seseorang dianjurkan untuk tidak menghabiskan semuanya secara berlebihan untuk konsumsi, namun ada yang disisakan untuk disimpan atau ditabung. Dalam satu ayat menyebutkan,
Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasanya, kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan ditangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan” (Yusuf (12) ayat 47)/
Menelisik ayat ini menemukan fakta jika manusia pada umumya dan petani pada khususnya dianjurkan untuk menyisihkan benih agar dapat ditanam pada musim berikutnya. Hal ini mengandung pengertian jika pada dasarnya manusia dihimbau untuk berjaga-jaga pada musim paceklik, agar mereka tidak menderita kekurangan pangan.
4. Hal yang Musyrik dalam Pertanian
Sebelum mengenal Islam, masyarakat pada umumnya menyembah pada selain Allah. Aliran animism dan dinamisme merebak dimana-mana. Mencari kekuatan dan bimbingan dari benda-benda, roh-roh nenek moyang, pada gunung, hutan, pohon besar dan lainnya yang
terjadi. Setelah Islam datang dan memberikan pencerahan dan jalan keluar pada kehidupan manusia untuk mengajak pada ajaran keselamatan, menyembah pada Yang Satu, Allah SWT semata, dan menjauhkan diri dari kemusyrikan, menyembah selain kepadanya.
Salah satu bentuk syirik adalah menduakan hak Allah untuk disembah oleh hambanya. Meski masih mengakui Islam sebagai agamanya, namun praktek menganggap kekuatan lain bisa mengatur alam, menciptakan juga memberikan rezeki adalah dosa besar yang tak termapuni oleh
Allah. Hal ini tersurat dalam surat An Nisa’(4) ayat 48:
Sesunggguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukanNya (syirik) dan Dia mengampuni apa (dosa) selain (syirik) itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa besar.
Didaerah Indonesia sebelum kedatangan Islam, disadari atau tidak syirik dalam beberapa hal, juga hal pertanian tak pelak terjadi diperbagai daerah di Indonesia. Meski Islam datang di Indonesia telah berabad-abad yang lalu, namun pengaruh Hindu dan aliran kepercayaan animism, dinamisme amat kental terjadi. Hal ini Nampak pada penentuan hari baik untuk mananam atau memanen.
Seolah mereka lupa jika dalam Islam, semua hari sama baiknya; tidak ada hari baik atau hari sial. Sebenarnya hari apapun tidak mendatangkan mudharat ataupun manfaat karena Allah-lah yang berkuasa atas segala sesuatu. Pada masa lalu, dizaman Nabi Musa-pun, masyarakat pembenci Musa dan pengikutnya juga sangat yakin jika kebaikan panen mereka disebabkan oleh usaha mereka sendiri, sedang jika saaaat kesialan tiba, atau gagal panen, maka hal tersebut ditimpakan pada Musa dan pengikutnya, hal ini tampak pada surat al-A’raf (7) ayat 131:
Kemudian apabila kebaikan (kemakmuran) datang kepada mereka, mereka berkata,”Ini
karena usaha kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka di tangan Allah, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Sangat disayangkan diera globalisasi ini alih-alih melestarikan kebudayaan, praktek kemusyrikan masih terjadi dimana-mana. Padahal sosialisasi mengenai bahaya syirik kerap dilakukan oleh ulama. Masih juga mengadakan selamatan saat tandur atau memanen, bahkan dengan upacara tabur bunga, beri sesajen, dan pesta besar-besaran saat panen tiba dengan hal-hal menghambur-hamburkan hasil panen, uang dan hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya. Allah
tidak meridhoi hal ini bahkan alih-alih dibungkus dengan upacara keagamaan secara Islam. Begitupula Rasulullah telah melarang tatayyur dan menggolongkannya dalam kemusyrikan, hal ini terlihat dalam sabdaNya.
Tatayyur adalah syirik, tatayyur adalah syirik (tiga kali). Dan tiada seorangpun dari kitab kecuali (pernah melakukan suatu bentuk darinya), hanya saja Allah menghilangkan itu dengan tawakal kepadaNya. (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah dari Abdullah bin Mas’ud).
Tatayyur atau Tiyarah adalah menganggap sial apa yang didengar apa yang dilihat dan
diketahui. Misalnya saat mendengar kicauan burung, ketiban cicak, juga begitu percaya akan sial jika memulai menanam atau memanen pada hari dan bulan tertentu.
Rasulullah amat menyermati keadaan seperti ini terjadi pada masyarakat. Maka, beliau mewanti-wanti masyarakat untuk hati-hati benar terhadap sesuatu yang sudah menjadi tradisi turun menurun itu jika ada hubungannya dengan syirik,
Barangsiapa yang hajatnya dikendalikan oelh tatayyur maka ia benar-benar sudah berbuat syirik. Para sahabatnya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, lalu apa yang dapat menghapus hal itu?’ beliau menjawab, ‘Hendaknya orang itu berkata,’Ya Allah tiada kebaikan kecuali,kebaikanMu, tidak ada kesialan kecuali kesialan dariMu dan tidak ada Tuhan selain Engkau” (Riwayat Ahmad dari Abdullah bin ‘Amr).
Percaya, jika semua hal yang baikbada ditanganNya, dan dialah yang mendatangkan kebaikan pada seluruh umat manusia. Allahlah yang akan memberikan takdir sekaligus menolak marabaya yang akan singgah pada hamba-hambaNya. Manusia yang selalu membuat ulah untuk membahayakan dirinya sendiri, dan dosa yang disandangnya tentu akibat dari perilaku buruknya.
Allah sudah mengisyaratkan hal ini dalam surat an Nisa (4) ayat 79:
Kebajikan apapun yang kamu peroleh, aalah dari sisi Allah, dan keburukan apapun yang menimpamu, itu darin(Keslahan) dirimu sendiri. Kami mengutus (Muhammad) memjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan Cukuplah Allah yang menjadi saksi.
Hal kecil yang sering dilakukan, khususnya masyarakat Jawa, seperti meminta bantuan pawang hujan untuk mencegah hujan turun, memindahkan ketempat yang lain, itu adalah sebenarnya sudah mengurangi hak Allah, karena pada dasarnya Allah yang mengatur waktu dan kadar dari hujan yang disampaikan melalui firmanNya:
Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang dari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada didalam rahim. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakan besok. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah maha Mengetahui, maha Mengenal (Luqman (31) ayat 34).
Meminta dukungan dari roh adalah suatu pekerjaan syirik yang menuju kesia-siaan, apalagi pada jin yang nyata-nyata adalah makhluk Allah, seperti juga manusia. Pertolongan agar tidak diganggu makhluk halus, dan meminta dengan sesajen agar panennya melimpah sangat tidak disukai oleh Allah. Dia menyindir dengan surat al-jinn (72):6.
Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetai mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.
Biasanya, sesaji itu berupa buah-buahan atau hasil panen. Namun adakalanya bisa berupa daging. Nah, hal ini harus sangat diwaspadai. Dalam Islam, penyembelihan hewan tanpa menyebut asma Allah amat fatal hukumnya. Ali bin Abi Thalib berkata;
Rasulullah tidak pernah mewartakan kepadaku sebuah rahasia pun yang beliau sembunyikan dari orang lain. Hanya saja aku mendengar beliau bersabda, “Allah melaknat orang yang menyembelih binatang bukan karena Allah; orang melaknat orang yang melindungi pembuat hal-hal yang baru (bid’ah); Allah melaknat orang yang melaknat orang yang mengubah batas tanah” (Riwayat Muslim dari Ali bin Abi Thalib).
Keharaman untuk menyembelih dan memakan bangkai, darah, daging babi dan hewan yang disembelih bukan atas nama Allah sudah tertera jelas pada surat al Baqarah(2) ayat 173. Namun untuk memakan hewan-hewan, darah dalam keadaan yang telah disebut diatas bisa saja terjadi jika dalam keadaan darurat (tidak ada makanan selainnya), asalkan dalam jumlah yang terbatas dan sebenarnya sama sekali tidak menginginkan hal itu, karena keterpaksaan. Makah al demikian akan diampuni oleh Allah.
Adapula petani yang menggunakan jimat, pohon besar, keris atau benda-benda lain yang dianggap mempunyai hal-hal ghaib dan sejenisnya sebagai perantara untuk aktivitas petaniannya, adalah hal amat sangat disayangkan. Walaupun didalam Islam ada salah satu batu yang sangat di hormati, yakni batu Hajar Aswad, yang konon banyak orang menyebut jika batau tersebut berasal dari luar angkasa, semisal komet atau bintang jatuh, namun sejati ia hanya sekedar
penanda atas kebenaran Islam, juga kebenaran kisah-kisah dimasa lampau. Batu tersebut tidak mempunyai tuah apapun, sebagaimana yang diucapkan Umar bin Khattab,”Aku tahu engkau hanyalah sebongkah batu; tidak bisa menyimpan mudharat dan memberikan manfaat. Andai saja aku tidak melihat Rasulullah menciummu, maka aku pun tidak akan menciummu”.