• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTANIAN DAN PERADABAN MANUSIA DALAM ISLAM

B. Perkembangan Pertanian

3. Kehidupan Menetap

Lokasi pertama manusia awal ditengarai mempraktekkan kehidupan menetap dan bertani adalah kawasan Timur Tengah (lembah Nil di Mesir), Asia Barat (kawasan pegunungan Zagros, Iran), Anatolia (Turki), dan lembah sungai Yordan.

Saat itu sekitar 10 ribu-12 ribu tahun yang lalu upaya bercocok tanam diduga upaya manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim yang dipicu hilangnya lapaisan-lapisan gacier di Eropa.

Bercocok tanam dan bertani sebenarnya terjadi hampir bersamaan di belahan dunia lain, ini dibuktikan dengan beberapa penemuan-penemuan budaya bertani didaerah daratan China, Asia Selatan, Asia Tenggara, kawasan sub-sahara Afrika, Amerika Utara dan Amerika Selatan. Meski penemuan kebudayaan dalam bertani ini masih dalam perdebatan mengenai keterkaitan satu dengan lainnya. Namun yang pasti sejak saat itu pertanian sudah menyebar hampir keseluruh dunia. Jika ada perbedaan dalam perkembangannya maka kemungkinan hanya pada level jenis tanaman dan binatang yang dipelihara, baik yang diperoleh secara local maupun yang didatangkan ditempat lain.

Pada suatu kesempatan, pertukaran teknologi yang muncul akibat aktivitas pertanian terus berlangsung diantara bangsa-bangsa. Penemuan domestikasi tumbuhan disekitar dataran tinggi Meksiko dan Amerika Utara sekitar 10 ribu tahun yang lalu. Lalu, didataran rendah Ekuador 2000 tahun lalu membuat peneliti dapat mengidentifikasikan tanaman disana yakni sebangsa mentimun dan labu.

Temuan berupa kereta beroda dua yang diduga berasal dari masa perunggu di Turkmenistan, Asia Tengah, dapat diindikasikan jika petani pada 5000-6000 tahun lalu menggunakan untuk keperluan pertanian. Sebagian bersat tanamanaan petanian saat ini untuk pertama kali didomestikasi oleh penduduk asli Benua Amerika. Penjelajah seperti Christopher Columbus saat injakan kaki dibenua Amerika pada tahun 1492, bisa merasakan apulkat, kacang-kacangan, cokelat, singkong, cabai, jagung, papaya, kacang tanah, merica, nanas, kentang, labu, ubi jalar, tomat maupun vanili. Meski mereka belum memakai baju yang ditenun dengan menggunakan kapas, namun mereka cukup berjasa dengan mengenalkan sekitar 300 jenis tanaman keluar benua Amerika.

Adapun kendala-kendala yang mereka hadapi pada awal-awal kehidupan menetap yakni: - Ketergantungan pada sedikit tanaman, atau beberapa macam tanaman saja, misalnya

tanaman pangan yang paling utama. Dan ini proses yang cukup revolusioner, bagaimana tidak, pada masyarakat pengumpul, pemburu, masyarakat mengumpulkan bermacam-macam jenis makanan di alam liar.

- Sangat ketergantungan dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah. Karena belum terlalu berpengalaman memastikan cuaca dengan kondisi tanamannya, maka sikap ‘gambling’ sering diambil mereka, untuk menambah pengalaman antara cuaca dengan hasil panenannya. Hal ini berbeda dengan saat mereka menjadi masyarakat pengumpul. Mereka bisa mengumpulkan tanaman-tanaman dalam kondisi apapun dan menyimpannya dalam waktu lama, hingga hampir tak pernah kekurangan makanan. Hingga masyarakat pertanian pada masa awal-awal kehidupan menetap ini sangat rentan kekurangan bahan makanan, saat kondisi alam tidak mendukung.

Pola hidup baru mulai dicanangkan oleh masyarakat petani saat awal ini saat mereka tahu dengan ketergantungan dengan alam. Mereka memang di’paksa’ untuk menyimpan hasil panen untuk menghindarkan berbagai gangguan, kelembaban, penyakit, hama hingga pencurian. Waktu bagi mereka menjadi begitu penting karena tidak boleh melewatkan

waktu terbaik saat tanam atau panen. Dan ini hampir tidak dilakukan oleh masyarakat pengumpul yang tak ada kewajiban untuk menyimpan bahan makanan mereka karena bisa jadi yang dicari hari ini ya dimakan dan dihabiskan hari ini juga.

- Bercocok tanam dan pertanian ternyata memerlukan tenaga kerja yang cukup banyak pada saat-saat tertentu, untuk menanam pagi, gandum dan biji-bijian lainnya saat menanam dan memanen baik lelaki maupun perempuan dikerahkan dalam pekerjaan ini. Hingga tidak mengherankan jika tekanan ini cukup memunculkan suatu pola hidup yang disiplin, dan bekerja dengan target tertentu. Hingga tidak dinyana sikap seperti ini dapat merembet secara komunal dibidang lainnya.

Pola hidup yang demikian ini akan memunculkan hal positif lainnya seperti, pemikiran lebih maju untuk memodifikasi lingkungan, tanaman dan mengeksploitasinya dengan lebih efektif. Bukan hanya untuk tanaman saja, namun sudah melebar pada cara untuk menjinakan binatang yang bisa untuk diternakan.

Padang rumput yang diubah menjadi lahan maka secara definitive tanaman di ladang ini termasuk dalam monokultur. Perubahan ini tenetu membuat dampak baik positif maupun negative. Dampak positifnya disini adalah saat mereka menanami dengan satu macam tanaman saja misalnya gandum secara terus-menerus dengan harapan memperoleh hasil yang maksimal, namun mereka tidak sadar jika ternyata nutrisi dalam tanah akan terkuras dengan cepat hingga hasil panen mereka menjadi tidak maksimal. Hal lainnya yang cukup mengganggu tentu berbagai macam binatang pengrusak tanaman, hama, penyakit dan virus kerap menyerang tanaman mereka. Namun sering bertumbuhnya pengalaman dan proses berpikir manusia, lama kelamaan hal tersebut dapat diatasi.

Pola kehidupan bermukim dan menetap ini tentu saja membuat konsekuensi jika manusia segera harus membuat rumah tempat tinggal permanen yang bahannya didapat dari sekitarnya. Kehidupan menetap ini memungkin manusia memulai investasi jangka panjang terhadap kehidupannya.

Sebenarnya dimanakah situs pemukiman pertama ditemukan? Ternyata dikawasan Catal Huyuk, Turki. Pemukiman kuno di pegunungan Zagros itu masih pertahankan bentuk orisional,

ini bisa dijumpai pada desa Abyaneh, pegunungan Zagros di Iran. Karena keunikan dan mengandung unsure sejarah, maka daerah ini barau diusulkan oleh pemerintah Iran untuk ditunjuk menjadi warisan dunia (World Heritage).

Dan dalam perkembangannya, masyarakat mulai menata diri terhadap pemukiman mereka, mengenai kebersihan, rasa aman dan nyaman akhirnya membentuk suatu organisai dengan heirarki atau tingkatan social. Di wilayah Mesopotamia saat itu heirarki tertinggi ditempati oleh pendeta kepala yang sudah mahir baca tulis. Dibawahnya terdapat tingkatan-tingkatan yanga bekerjasama untuk memerintah kota, yang akhirnya diangkatlah seorang pemimpin, seorang raja.

Dari sini bisa diketahui jika berawal dari pola hidup pertanian yang merupakan awal mula kehidupan menetap, bisa sampai mencakup semua hal yang berkaitan dengan perubahan budaya dan adaptasi masyarakat yang akhirnya merembet pada tananan social, ekonomi bahkan politik dri suatu masyarakat, yang akhirnya semuanya saling berhubungan.