• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.4 Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrument atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri.Oleh karena itu, peneliti sebagai instrument juga harus

“divalidasi” seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang

selanjutnya terjun kelapangan.

Nasution (1988) menyatakan, “Dalam penelitian kualitatif, tidak ada

pilihan lain dari pada menjadikan manusia sebagai instrument penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti.Masalahnya, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti

50

Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2012), hal. 13.

51

Rachmat Kriyantono, S.Sos.,M.Si. Teknik Praktis Riset Komunikasi (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 67.

dan jelas sebelumnya.Segala sesuatu masih perlu dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat

mencapainya.”52

Dalam hal ini, peneliti akan menjadi instrument penelitian. Peneliti adalah salah satu mahasiswa IlmuKomunikasi yang masih terus menggali kajian-kajian ilmu tersebut. Dimana selama dalam perkuliahan peneliti telah diajarkan dan mendapatkan berbagai macam kajian-kajian ilmu komunikasi seperti, komunikasi massa, komunikasi simbolik, fotografi, kejurnalistikan, fotografi jurnalistik, serta kajian-kajian ilmu komunikasi lainnya, yang kemudian diaplikasikan dalam tugas-tugas yang diberikan. Maka, kualitas penelitian tergantung pada kemampuan peneliti dalam menggali dan memaknai data.

3.5. Informan Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, data utama diperoleh melalui proses wawancara dengan narasumber yang disebut sebagai informan. Informan penelitian adalah seseorang yang, karena memiliki informasi (data) banyak mengenai obyek yang sedang diteliti, dimintai informasi mengenai obyek penelitian tersebut.

A. M. Huberman & M. B. Miles mengemukakan bahwa informan juga berfungsi sebagai umpan balik terhadap penelitian dalam ruang cross check. Sementara itu merujuk kepada Lexy J. Moleong, peneliti menetapkan informan sebagai sumber data dengan menggunakan pertimbangan diantaranya, informan

52

Nasution (1988) dalam Prof. Dr. Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2009), hal.59-60.

dapat memberikan keterangan mengenai situasi dan kondisi siswa-siswi yang menjadi responden.53

Mengenai pemilihan informan, menurut Zuriah, dalam penelitian kualitatif teknik sampling dan penentuan dan penentuan informan cenederung bersifat

purposive atau snowballing sampai jenuh, kerepresentatifan sampel bukan merupakan perhatian utama dalam penelitian kualitatif. Sampel itu tidak mewakili populasi dengan dikaitkan pada generalisasi, tetapi lebih mewakili informan untuk memperoleh kedalaman studi dalam konteksnya.Peneliti memilih informan yang dipandang lebih mengetahui dan memahami masalah yang dikaji.54

Peneliti menetapkan informan (nara sumber) pada kalangan anggota Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta, yang tiap harinya berkumpul di Lab. Multimedia dan Fotografi FISIP gedung D lantai 4 Untirta.

Ketertarikan penelitimerujuk penelitian ini pada kalangan anggota Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta, karna sudah banyak prestasi yang diperoleh komunitas ini di bidang fotografi pada perlombaan, pameran, dan kesenian, baik di tingkat provinsi maupun tingkat nasional.

Adapun yang akan menjadi subyek informan penelitian ini adalah:

1. Gilang Arasky R. Manto, sebagai divisi hunting Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta (Key informan).

2. Antoni Budi Mulia M, sebagai ketua Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta.

53

Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), hal. 90.

54

Nurul Zuriah, Metodelogi Penelitian Sosial dan Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hal. 96.

3. Hikmat Rachmatullah, sebagai anggota Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta.

4. Harry Setiawan, sebagai anggota Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta.

5. Noval Afif, sebagai anggota Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta.

3.6. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data dalam kegiatan penelitian diperlukan cara-cara atau teknik pengumpulan data tertentu, sehingga proses penelitian dapat berjalan dengan lancar. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik wawancara, studi pustaka, dan triangulasi.

Gambar 3.1

Macam-macam Teknik Pengumpulan Data

Macam teknik pengumpulan data

Wawancara Studi Pustaka

3.6.1. Wawancara

Wawancara (Esterberg, 2002) merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.55

Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara peneliti melakukan wawancara pada beberapa anggota Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara tak berstruktur karena wawancara tak berstruktur mirip dengan percakapan informal.Wawancara tidak berstruktur adalah waancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.

3.6.2. Studi Pustaka

Peneliti melakukan pencarian dan pengumpulan data dengan cara merujuk pada dokumen atau literatur-literatur sebagai studi pustaka yang berkaitan dengan masalah penelitian, guna mendukung peneliti dalam proses penulisan.

Studi Pustaka merupakan teknik pencarian dan pengumpulan data dan informasi mengenai hal-hal atau variable yang berupa dokumen tertulis, catatan, arsip, buku, surat kabar, majalah, foto,

55

gambar, website, dan lain-lain. Adapun variables yang didapat, peneliti tampilkan pada hasil dan lampiran dalam penelitian ini.

3.6.3. Triangulasi

Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.

Triangulasi teknik, berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan wawancara mendalam dan studi pustaka untuk sumber data yang sama secara serempak.

Gambar 3.2

Triangulasi “Teknik” Pengumpulan Data

Dalam hal triangulasi, Susan Stainback (1988) dalam buku

Prof. Dr. Sugiyono menyatakan bahwa “the aim is not determine the

truth about social phenomenon, rather the purpose of triangulation is to increase one’s understanding of what ever is being insvestigated”.

Wawancara mendalam

Studi Pustaka

Tujuan dari triangulasi bukan untuk mencari kebenaran tentang berbagai fenomena, tetapi lebih pada peningkatan peneliti terhadap apa yang telah ditemukan.

Tujuan penelitian kualitatif memang bukan semata-mata mencari kebenaran, tetapi lebih pada pemahaman subyek terhadap dunia sekitarnya. Dalam memahami dunia sekitarnya, mungkin apa yang dikemukakan informan salah, karena tidak sesuai dengan teori, tidak sesuai dengan hukum.

Selanjutnya Mathinson mengmukakan bahwa “the value of triangulation lies in providing ecidance – whether convergent, inconsistent, or contracdictory”.

Nilai dari teknik pengumpulan data dengan triangulasi adalah untuk mengetahui data yang diperoleh convergent (meluas), tidak konsisten, kontradiksi.

Oleh karena itu dengan menggunakan teknik triangulasi dalam pengumpulan data, maka data yang diperoleh akan lebih konsisten, tuntas dan pasti. Dan dapat disimpulkan dengan triangulasi akan lebih meningkatkan keabsahan data, bila dibandingkan dengan satu pendekatan.56

Alasan menggunakan triangulasi teknik pengumpulan data karena peneliti merasa teknik tersebut tepat untuk menguji keabsahan data yang diperoleh peneliti.Dalam penelitian ini peneliti

56

menggunakan teknik wawancara dan studi pustaka.Hasil wawancara yang peneliti dapatkan mengenai pemahaman foto HDR (High Dynamic Range) kemudian disesuaikan kembali dengan menggunakan studi pustaka dan sumber data yang sudah ada. Apabila hasil dari teknik tersebut berbeda karena sudut pandang setiap sumber atau informan berbeda, maka peneliti mendiskusikannya lagi kepada sumber data atau sumber yang lain untuk mencari tahu mana yang dianggap benar atau semuanya benar.

Dokumen terkait