BAB IV HASIL PENELITIAN
4.3 Deskripsi Hasil Penelitian
4.3.2 Pemahaman Teknik Pembuatan Foto HDR ( High Dynamic
Di Kalangan Anggota Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta
Salah satu kendala dalam memotret di jaman serba digital ini adalah keterbatasan jangkauan dinamik dari sebuah sensor kamera. Kita tentu kerap mengalami saat memotret di kondisi dengan kontras tinggi, ada saja bagian dari foto yang tampak terlalu gelap (under) atau justru
74
Hasil wawancara dengan Antoni Budi Mulia pada tanggal 19 Februari 2016, di Taman Graha Asri, pukul 23.06 WIB.
terlalu terang (over). Sensor kamera memang jauh kalah dibanding mata manusia dalam urusan kepekaan dalam menangkap perbedaan terang-gelap yang begitu lebar di alam ini, dari teriknya sinar matahari sampai redupnya cahaya lilin di kegelapan.
Kondisi ini membuat banyak fotografer mendambakan sebuah hasil foto yang sebisa mungkin mendekati kondisi aslinya, dengan jangkauan dinamis (dynamic range) yang lebar atau biasa disebut dengan HDR (High Dynamic Range). Dihadapkan pada kondisi kontras tinggi, matering kamera hanya memilih antara menyelamatkan detail di area gelap (mengorbankan detail di area terang) atau sebaliknya. Maka kitalah yang perlu mengeluarkan sedikit usaha untuk memperbaiki foto dengan teknik HDR (High Dynamic Range), bila perlu.75
Gilang memaparkan pengalamannya saat wawancara, yang dikutip sebagai berikut:
“Salah satu tokoh HDR (High Dynamic Range) di Indonesia itu adalah Mas Golkariadi N. K, yang biasa dipanggil dengan sebutan mas GK. Dengan karya terbaiknya, berdasarkan penilaian kurator dan hasil polling via internet pada ajang kejuaraan bergengsi fotografi internasional pada tahun 2009. Namanya dinobatkan menjadi salah satu fotografer HDR (High Dynamic Range) terbaik no. 4 dunia. Mas GK inilah yang menyarankan saya, untuk menciptakan dan menghasilkan foto HDR (High Dynamic Range) yang baik itu, minimal menggunakan 3 exposure (under exposure, normal exposure,
over exposure).”76
75
HDR (High Dynamic Range) Photo Effect, Yudo Sudanardi Photograph (Yogyakarta: Putstaka Ananda Srva, 2012), hal. 3.
76
Hasil wawancara dengan Gilang Arasky R. Manto pada tanggal 17 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 16.44 WIB.
Berikut, salah satu karya foto HDR (High Dynamic Range) yang diciptakan Golkariadi N. K:
Gambar. 4.2
Prambanan Temple
Sumber. Foto Golkariadi N. K (Facebook Golkariadi N. K)
Gilang pun menambahkan, bahwa sebenarnya agak cukup rumit untuk membuat foto HDR (High Dynamic Range). Teknik yang biasa ia pakai yaitu bracketing exposure, dimana teknik tersebut membagi satu foto, satu view menjadi 3 bagian foto yang exposure-nya berbeda-beda.
Bracketing ini harus disesuaikan dahulu tahapan-tahapan exposure-nya, yang pasti teknik ini harus menggunakan tripod. Karna jika tidak menggunakan tripod, posisi view untuk mengambil foto pasti akan berubah. Minimal untuk menciptakan foto HDR (High Dynamic Range) itu menggunakan 3 exposure foto, yang terdiri dari under exposure, normal exposure, dan over exposure. Dari ketiga foto ini, kita bisa menggabungkannya menjadi satu foto yang menghasilkan satu foto HDR (High Dynamic Range) yang baik.
Pengalaman yang tidak jauh beda dipaparkan oleh Anton, dari hasil wawancara sebagai berikut:
“Untuk teknik yang pernah saya lakukan itu, menciptakan satu karya foto HDR (High Dynamic Range) dengan memotret 3 atau 5 sampai 6 frame foto yang sama angle-nya, namun exposure -nya berbeda-beda. Kemudian, 3 foto tersebut digabungkan melalui software yang akan merubah tampilan warna dan detail tiap frame fotonya. Selain itu, pada saat pengambilan foto, dibutuhkan keseimbangan. Yakni dibutuhkan atau tidaknya sebuah tripod itu tergantung pada fotografernya. Jika memang fotografer tersebut memiliki kelebihan pada tangannya yang selalu stabil, mungkin tripod tidak dibutuhkan. Akan tetapi, alangkah baiknya untuk menggunakan tripod agar pengambilan foto bisa dapat secara maksimal. Pada intinya, manfaat dari tripod tersebut, guna menyeimbangkan dan menyamakan komposisi satu frame foto dengan frame foto yang lainnya.”77 Lebih detailnya lagi, teknik untuk menghasilkan foto HDR (High Dynamic Range) itu, langkah pertama dengan menyiapkan sebuah tripod yang berfungsi sebagai penopang kamera dan berguna untuk menyeimbangkan komposisi frame foto yang ingin kita ambil agar tidak tergeser ataupun goyang. Kemudian, mengatur setting-an kamera dengan menggunakan automatic bracketing untuk dapat menghasilkan 3, 5 sampai 7 frame foto dengan shutter speed yang bervariasi, yang dimana harus diatur menggunakan apperture priority
sesuai dengan speed yang diinginkan. Setelah foto tersebut didapat, langkah selanjutnya untuk menggabungkan minimal 3 foto tersebut tadi menggunakan sebuah software.78
77
Hasil wawancara dengan Antoni Budi Mulia pada tanggal 19 Februari 2016, di Taman Graha Asri, pukul 23.06 WIB.
78
Hasil wawancara dengan Hikmat Rachmatullah pada tanggal 16 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 15.22 WIB.
Hal serupa dibuktikan oleh Noval, yang dikutip dari hasil wawancara sebagai berikut:
“Teknik membuat foto HDR (High Dynamic Range) itu, kita harus mengambil beberapa foto yang minimal 3 frame foto dengan exposure yang berbeda-beda, perhitungannya under exposure (+2 stop), normal (0 stop), dan over exposure (-2 stop). Proses pengambilannya pun diusahakan menggunakan tripod agar foto tidak goyang dan komposisinya tetap sama dari satu foto dengan foto lainnya. Kemudian ketiga foto tersebut digabungkan menggunakan software untuk pengolahan foto HDR (High Dynamic Range). Hasilnya bisa lebih detail dan pencahayaannya pun lebih merata dibandingkan dengan foto
normal.”79
Selain teknik bracketing dan penggabungan beberapa foto menggunakan software, ada pula teknik yang dapat dilakukan secara otomatis. Harry memaparkan penjelasannya, bahwa sekarang sudah ada penambahan teknologi pada kamera untuk dapat menghitung rentang cahaya, yaitu dengan diadakannya teknologi fitur HDR (High Dynamic Range). Prakteknya hanya dengan mengatur setting-an menggunakan mode HDR (High Dynamic Range) pada kamera. Cukup satu kali jepretan atau rekam, bisa langsung menghasilkan foto HDR (High Dynamic Range) secara cepat dengan perhitungan shutter speed yang sudah matang.80
Saat seorang fotografer memotret sesuatu yang memiliki pencahayaan merata dan kamera sanggup menangkap semua terang-gelap dari bidang foto dengan baik, ia tidak merasa ada yang salah
79
Hasil wawancara dengan Noval Afif pada tanggal 16 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 16.00 WIB.
80
Hasil wawancara dengan Harry Setiawan pada tanggal 16 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 15.41 WIB.
dengan foto tersebut. Namun umumnya saat siang hari, dimana sebagian dari langit yang terang ikut terekam dalam foto, barulah fotografer tersebut merindukan kemampuan lebih dari sebuah kamera.
Ada beberapa spesifikasi kamera untuk bisa menghasilkan foto HDR (High Dynamic Range), karna beberapa fitur di kamera tipe lama ataupun analog itu ada bagian dimana kamera tersebut tidak bisa melakukan teknik bracketing. Dan pada kamera standart seperti type
Canon EOS 1100D atau 1200D itu sudah bisa bracketing. Setelah mendapatkan minimal 3 foto yang sama namun berbeda exposure
(under exposure, normal exposure, over exposure) dari hasil bracketing
pada kamera, kemudian digabungkanlah 3 foto tersebut menggunakan
software.
“Software yang biasa saya gunakan itu Photomatix. Photomatix
merupakan salah satu software untuk membuat dan menghasilkan foto HDR (High Dynamic Range). Software itu pun tidak sembarang membaca 3 foto yang sudah kita hasilkan. Ketiga foto tersebut harus dihasilkan dengan perhitungan
exposure yang pas, dalam artian under exposure tidak terlalu
under, dan over exposure pun tidak terlalu over. Jadi proses pengambilan fotonya pun harus pas agar proses penggabungannya dapat langsung disesuaikan oleh software photomatix-nya.”81
Gilang menambahkan, bahwa di era digital yang makin canggih seperti sekarang ini, ada beberapa kamera keluaran terbaru yang sudah dilengkapi dengan fitur atau mode HDR (High Dynamic Range), seperti yang diketahuinya kamera Canon EOS 5D Mark III, Canon EOS 1D,
81
Hasil wawancara dengan Gilang Arasky R. Manto pada tanggal 17 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 16.44 WIB.
dan Nikon D4. Bahkan pada kamera handphone atau smartphone, seperti I-phone, Samsung, Sony Experia, dan smartphone lainnya sudah bisa dilengkapi fitur HDR (High Dynamic Range), hanya dengan
men-download aplikasnya saja.
Jadi, untuk menciptakan foto HDR (High Dynamic Range) itu sudah jauh lebih instan dibandingkan pada era dulu. Hal yang serupa dengan Gilang, Anton menjelaskan, salah satu kamera yang sudah memiliki fitur atau mode HDR (High Dynamic Range) yang ia ketahui yaitu kamera Canon EOS 5D mark III. Cara penggunaannya pun
simple, hanya mengganti pengaturannya dengan mode HDR (High Dynamic Range), kemudian dengan sekali foto bisa langsung menghasilkan karya foto HDR (High Dynamic Range).82
Kamera Nikon D600, salah satu kamera yang sudah memiliki fitur HDR (High Dynamic Range) yang Hikmat ketahui.83 Adapun kamera Pentax K3, yang Noval ketahui kamera tersebut sudah memiliki fitur HDR (High Dynamic Range) juga.84 Ditambah dengan Sepengetahuan Harry, bahwa semua kamera yang sudah memiliki mode
bracketing dan aperture priority itu sudah bisa menghasilkan foto HDR (High Dynamic Range), contohnya seperti standar kamera Nikon D3200, Canon EOS 500D, dan kamera lainnya. Lalu, ada pula
82
Hasil wawancara dengan Antoni Budi Mulia pada tanggal 19 Februari 2016, di Taman Graha Asri, pukul 23.06 WIB.
83
Hasil wawancara dengan Hikmat Rachmatullah pada tanggal 16 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 15.22 WIB.
84
Hasil wawancara dengan Noval Afif pada tanggal 16 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 16.00 WIB.
kamera yang sudah dilengkapi dengan fitur HDR (High Dynamic Range).Pengalamannya dikutip dari hasil wawancara sebagai berikut:
“Seperti kamera yang biasa sering saya pakai, yaitu kamera Nikon type D5200. Saya pernah beberapa kali membuat foto HDR (High Dynamic Range) langsung menggunakan kamera tersebut, namun hasilnya tidak sebaik dengan hasil dari
bracketing foto, penggabungan dan pengolahan menggunakan
software pada perangkat computer, yakni software photomatix pro yang pernah saya gunakan. Software tersebut sangat direkomendasikan untuk mengolah foto HDR (High Dynamic Range).”85
Namun menurutnya, Fitur HDR (High Dynamic Range) pada kamera itu memiliki kelemahan, walaupun shutter speed-nya sudah diatur dengan matang, hasilnya masih bisa dikatakan belum memuaskan, karna memang mode tersebut masih dikendalikan oleh perangkat kamera. Dibandingkan dengan cara manual, yang hasilnya terlihat lebih baik, karna fotografer sendirinyalah yang mengatur seberapa pencahayaan atau exposure foto yang ingin digabung. Semakin banyak exposure foto, maka semakin soft pula hasil foto HDR (High Dynamic Range) tersebut, sesuai dengan seperti foto yang fotografer tersebut inginkan.