BAB IV HASIL PENELITIAN
4.4 Pembahasan Penelitian
Benjamin S. Bloom mengatakan bahwa pemahaman (Comprehension) adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengerti tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa seseorang dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal yang dia pelajari dengan menggunakan bahasanya sendiri. Lebih baik lagi apabila seseorang dapat memberikan contoh atau mensinergikan apa yang dia pelajari dengan permasalahan-permasalahan yang ada di sekitarnya.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara kelima informan penelitian dan telah dideskrisikan sebelumnya, jika dibahas satu persatu, Gilang yang dijadikan sebagai key informan dalam penelitian ini di tahun 2013 lalu sedang senang-senangnya menciptakan karya foto menggunakan teknik HDR (High Dynamic Range), tiap foto ia buat menggunakan HDR (High Dynamic
Range), karna memang HDR (High Dynamic Range) ini bukan salah satu kategori foto. Berdasarkan pemahamannya, HDR (High Dynamic Range) hanya sebatas memberikan karakteristik filter ataupun efek pada foto saja.
Dari manfaatnya pun HDR (High Dynamic Range) dapat menyeimbangkan gelap-terangnya cahaya pada sebuah frame foto. Dalam artian
High Dynamic Range itu dinamika cahayanya lebih disetarakan. Penerapannya pada foto landscape, arsitektur, human interest, dan still life dapat berpengaruh untuk menyeimbangkan cahaya ekstrim yang terdapat pada foto tersebut, serta dapat menimbulkan detail dan warna yang lebih dibandingkan foto normal.
Lebih jauh lagi, pemahaman dan pengalamannya sebagai fashion photographer, ia menjelaskan bahwa penerapan HDR (High Dynamic Range) pada foto portrait atau beauty portrait pun dapat memberikan efek detail
retouching pada kulit, kemudian rentang cahaya pada kulit pun bisa diseimbangkan. Jadi teknik HDR (High Dynamic Range) pada foto portrait ini hanya sebatas teknik pengolahan atau editing dengan menggunakan HDR (High Dynamic Range), dan proses pengambilan fotonya pun secara standart.
Kemudian pada foto bergerak, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, untuk kamera-kamera yang sudah memiliki fitur atau mode HDR (High Dynamic Range), ataupun kamera-kamera smartphone yang sudah bisa menggunakan aplikasi HDR (High Dynamic Range), foto bergerak secara instan bisa dijadikan foto HDR (High Dynamic Range) dengan sekali foto. Akan tetapi, dengan catatan bukan menggunakan kamera yang masih mengandalkan mode bracketing pada kamera. Jadi prosesnya hanya sebatas filtering atau pemberian efek saja pada foto
tersebut. Secara teknis mungkin tidak bisa, karna dalam bracketing pengambilan foto yang minimal 3 exposure foto yang berbeda-beda itu pasti komposisi fotonya tidak akan sama, dikarnakan adanya pergerakan seper-sekian detik pada obyek foto yang akan diambil. Sesuai pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman yang didapat dari tiap pembelajarannya, ia menjelaskan:
“Setelah saya pahami lebih jauh lagi, mengenai teknik HDR (High Dynamic Range) ini, saya sudah bisa menyesuaikan dimana harus menggunakan HDR (High Dynamic Range), dan dimana tidak harus menggunakannya juga. Karna memang HDR (High Dynamic Range) ini memiliki kelemahan juga, yang dimana ketika sebuah foto itu pencahayaannya sudah baik dan seimbang, kemudian kita gunakan HDR (High Dynamic Range), maka hasil fotonya pun menjadi tidak baik dan tidak enak dilihat, yang ada jadi merusak dan menghilangkan estetika foto tersebut. Jadi intinya, harus disesuaikan sesuai kebutuhannya.”91
Dari hal tersebut, dapat diambil pengetahuannya, bahwa setiap fotografer harus menyesuaikan penggunaann HDR (High Dynamic Range) dalam tiap menciptakan karya foto. Karna HDR (High Dynamic Range) tersebut pun memiliki kelemahan, yang dimana jika penggunaanya diterapkan pada foto yang pencahayaannya sudah baik dan seimbang, alhasil foto tersebut akan menjadi tidak baik.
91
Hasil wawancara dengan Gilang Arasky R. Manto pada tanggal 17 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 16.44 WIB.
Berikut, salah satu karya foto HDR (High Dynamic Range) lain, yang pernah gilang buat:
Gambar. 4.6
The Kathedral (2012)
Sumber. Foto Gilang Arasky R. Manto
Foto berjudul “The Kathedral” diatas tersebut memvisualisasikan bangunan gereja beserta exteriornya yang klasik di daerah Ibu Kota Jakarta. Foto tersebut menyampaikan bahwa ini tempat ibadah untuk umat beragama kristen atau katholik.
Kemudian, Anton pun cukup sering sekali menggunakan HDR (High Dynamic Range) tiap menciptakan sebuah karya fotonya. Seperti yang ia pahami, dikutip dari hasil wawancara sebagai berikut:
“Foto HDR (High Dynamic Range) ini memang cukup unik tampilannya yang hampir menyerupai lukisan, dan dapat memanjakan mata. Salah satu dosen saya pernah mengatakan bahwa sebuah karya foto yang memiliki banyak warna itu merupakan salah satu karya yang dapat memanjakan mata. Maka dari itu, beberapa foto hasil karya saya, sudah menggunakan
HDR (High Dynamic Range), agardapat memanjakan mata bagi penikmat
foto diluar sana.”92
Berdasarkan hal tersebut, anton meyakini, bahwa karya foto yang memiliki banyak warna itu dapat memanjakan mata bagi penikmat karya foto. Berikut salah satu karya foto HDR (High Dynamic Range), yang pernah Anton buat:
Gambar. 4.7
Let It Flow (2015)
Sumber. Foto Antoni Budi Mulia
Foto berjudul “Let It Flow” tersebut diatas berlokasi di Floating Market,
daerah Lembang, Bandung. Memvisualisasikan suasana yang tenang dengan disuguhkan danau dan udara dingin yang sejuk.
Selanjutnya, Hikmat yang tidak terlalu sering menggunakan HDR (High Dynamic Range), karna teknik ini bisa dikatakan teknik yang agak rumit. Karna berdasarkan pemahamannya, yang dimana prosesnya harus mengambil beberapa
angle foto yang sama,namun exposure-nya bervariasi. Kemudian, penggabungan
92
Hasil wawancara dengan Antoni Budi Mulia pada tanggal 19 Februari 2016, di Taman Graha Asri, pukul 23.06 WIB.
fotonya pada proses pengolahan dan editing melalui software yang direkomendasikan.
“Jadi bagi saya pribadi, selama kita masih bisa menghasilkan foto baik tanpa menggunakan HDR (High Dynamic Range), ya kenapa tidak ! Yang pasti, kita harus memaksimalkan dahulu skill pada proses pengambilan foto dengan baik, sesuai dengan seperti foto apa yang ingin kita buat. Adanya HDR (High Dynamic Range), disesuaikan sajakebutuhannya.”93
Berikut, salah satu karya foto HDR (High Dynamic Range) yang pernah Hikmat buat:
Gambar. 4.8
Saksi Sejarah Pemberi Arah (2016) Sumber. Foto Hikmat Rachmatullah
Foto tersebut diatas mendeskripsikan akan simbol yang menjadi saksi sejarah, yaitu mercusuar yang berlokasi di Anyer, Banten. Simbol tersebut seharusnya menjadi sebuah ketertarikan dan pengetahuan untuk bahan studi bagi anak-anak, karna di zaman sekarang ini mereka lebih banyak bermain teknologi ketimbang mempelajari sejarah.
93
Hasil wawancara dengan Hikmat Rachmatullah pada tanggal 16 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 15.22 WIB.
Adapun, pemarapan Noval dikutip dari hasil wawancara sebagai berikut:
“Saya sendiri tidak selalu sering menggunakan HDR (High Dynamic Range) ini, namun pernah beberapa kali menerapkannya pada foto
landscape dan still life yang saya buat, lebih banyaknya foto landscape
dibanding foto still life.”94
Menurut pemahamannya, keindahan dan keasrian HDR (High Dynamic Range) itu bisa tertampak sekali penerapannya pada foto landscape, karna karakternya yang dapat memberikan efek warna dan detail yang mencolok itu hampir bisa disamakan dengan keaslian alam dari foto tersebut.
Berikut salah satu karya foto HDR (High Dynamic Range), yang pernah Noval buat:
Gambar. 4.9
The Half Mount (2015) Sumber. Foto Noval Afif
94
Hasil wawancara dengan Noval Afif pada tanggal 16 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 16.00 WIB.
Foto berjudul “The Half Mount” tersebut diatas mendeskripsikan akan keserakahan dari berbagai pihak yang mengambil lahan dan kekayaan alam demi industrial mereka tanpa mementingkan keseimbangan alam.
Kemudian informan terakhir, Harry yang lebih seringnya menggunakan HDR (High Dynamic Range) ini untuk diterapkan pada foto landscape. Menurut pemahamannya, dengan HDR (High Dynamic Range), foto tersebut bisa terlihat lebih detail, banyak memiliki warna sesuai dengan yang kita inginkan, dan memberikan karakteristik yang berbeda dari foto normal. Namun, HDR (High Dynamic Range) juga bisa diterapkan pada foto arsitektur, portrait, human interest, dan foto-foto lainnya.95
Berikut salah satu karya foto HDR (High Dynamic Range), yang pernah Harry buat menggunakan fitur HDR pada kamera Nikon D5200-nya:
Gambar. 4.10
Tempat Ibadah (2015) Sumber. Foto Harry Setiawan
95
Hasil wawancara dengan Harry Setiawan pada tanggal 16 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 15.41 WIB.
Foto dengan judul “Tempat Ibadah” tersebut diatas mendeskripsikan masjid yang sepi di waktu solat ashar. Masjid tersebut berlokasi di komplek kampus Untirta. Terlihat hanya sedikit dari penduduk warga komplek tersebut yang datang dan beribadah di masjid, sebagian lainnya mungkin lebih memilih beribadah di rumahnya masing-masing, dikarnakan kesibukannya.
BAB V
KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan
Penelitian mengenai pemahaman foto HDR (High Dynamic Range) di kalangan anggota Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta telah dilakukan peneliti selama lebih dari 3 (tiga) bulan. Berdasarkan uraian hasil penelitian pada bab sebelumnya, maka pada sub bab ini peneliti akan menguraikan kesimpulan yang ditarik dari hasil penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Adapun kesimpulan dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1. Dari kelima informan penelitian, dapat disimpulkan bahwa Gilang Arasky-lah yang dapat memberikan informasi dan data-data yang relatif lebih detail mengenai pemahaman arti foto HDR (High Dynamic Range), sesuai dengan pengetahuan dan pengalamannya yang sudah dipelajari sejak tahun 2013 lalu. Dan Antoni Budi M, memberikan informasi dan data yang lebih singkat.
Kemudian infomasi dan data mengenai pemahaman arti HDR (High Dynamic Range) yang didapat dari ketiga informan lainnya hampir sama, karna pada tahun 2015 kemarin mereka baru mempelajari, dan mendapat tambahan pemahaman mengenai HDR (High Dynamic Range) tersebut. 2. Disimpulkan dari hasil penelitian yang didapat dari kelima informan
penelitian ini, bahwa Gilang Arasky, Antoni Budi. M, Hikmat. R, Noval Afif, dan Harry Setiawan sering dan pernah menggunakan teknik membuat foto HDR (High Dynamic Range) yang sama, yaitu teknik multiple
exposure atau bracketing beberapa foto, yang kemudian digabungkan menggunakan software yang sama pula yaitu photomatix.
Kemudian, Harry Setiawan yang mempunyai kelebihan pada kameranya, yaitu dilengkapi dengan fitur atau mode HDR (High Dynamic Range). Ia pun pernah beberapa kali membuat foto HDR (High Dynamic Range) langsung dari kameranya menggunakan fitur tersebut.
3. Dari pemaparan kelima informan penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan foto HDR (High Dynamic Range) itu dapat digunakan untuk sejumlah keperluan atau kepentingan. Seperti karya foto HDR (High Dynamic Range) Gilang Arasky yang menjadi hiasan dinding atau
furniture di dalam interior, karyanya sudah pernah dipamerkan pada pameran foto HDR (High Dynamic Range) di Univesitas Taruma Negara tahun 2013 lalu, dan karyanya pun sudah pernah laku terjual (terkomersilkan). Antoni Budi Mulia, karya foto HDR (High Dynamic
Range)-nya sering di-up load pada media sosial. Kemudian Hikmat Rachmatullah, yang karya foto HDR (High Dynamic Range)-nya untuk dinikmati sendiri. Lalu Noval Afif, karya foto HDR (High Dynamic
Range)-nya untuk porto folio pribadi, dan Harry Setiawan yang karyanya sama untuk dijadikan porto folio atau stock foto pribadi.
5.2. Saran
Penelitian ini sangat berkaitan dengan Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta, karna komunitas tersebut merupakan subyek dalam penelitian ini. Setelah melakukan pengumpulan data selama beberapa bulan, dengan cara wawancara mendalam dengan beberapa informan dari komunitas tersebut dan studi pustaka, peneliti pun dapat memberikan saran untuk Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta terkait permasalahan yang sedang diteliti, sebagai berikut:
1. Sebuah komunitas seperti Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta, yang namanya sudah dikenal banyak kalangan, baik dikalangan kampus (universitas) maupun luar kampus, mungkin tiap anggotanya harus paham betul mengenai fotografi, sesuai dengan profesinya sebagai fotografer pada komunitas tersebut. Namun, masih ada beberapa anggota komunitasnya yang belum mengetahui dan memahami betul akan fotografi, salah satunya pengetahuan dan pemahaman mengenai HDR (High Dynamic Range).
Dari hal tersebut, perlu adanya kegiatan sharing mendalam mengenai HDR (High Dynamic Range) ataupun hal-hal tentang fotografi lainnya bersama anggota-anggota komunitasnya. Dimana nantinya pada kegiatan tersebut akan muncul pertanyaan-pertanyaan, serta pemahaman dan pengetahuan baru, sesuai dengan apa yang dibahas, yang kemudian dipraktekan langsung dilapangan secara bersama-sama sesuai dengan
mottonya “Belajar bersama-sama, bertanya bersama-sama, dan berkarya bersama-sama.”
2. Adanya teknik HDR (High Dynamic Range) itu untuk menyeimbangkan pencahayaan dalam sebuah frame foto. Jika memang sangat ekstrim sekali pencahayaannya, maka dibutuhkanlah HDR (High Dynamic Range). Namun, saat pencahayaan dalam sebuah foto yang direkam sudah seimbang, mungkin tidak perlu lagi untuk menggunakan HDR (High Dynamic Range), yang dimana nantinya dapat merusak dan menghilangkan estetika foto tersebut. Jadi, sesuaikanlah dalam kebutuhan dan penggunaannya.
3. Foto HDR (High Dynamic Range) nantinya bisa dijadikan tema untuk pameran Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta, baik pameran di kampus maupun diluar kampus. Dengan karakteristik karya-karya fotonya, mungkin akan banyak penikmat atau pengunjung dari kalangan manapun yang melirik untuk menjadikan karya foto tersebut sebagai media promosi iklan arsitektur, promosi iklan pariwisata, dan media promosi lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ajimardi, Seno Gumira, 2005. Kisah Mata Fotografi Antara Dua Subyek: Perbincangan Tentang Ada. Yogyakarta: Galangpress.
Alwi, Audi Mirza, 2004. Foto Jurnalistik: Metode Memotret dan Mengirim Foto ke Media Massa. Jakarta: Bumi Aksara.
Darmiyati, Zuchdi, 2007. Strategi Meningkatkan Kemampuan Membaca. Yogyakarta: UNY Press.
Effendy, M. A, Prof. Onong Uchjana, 2003, Ilmu Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Griand, Giwanda, 2001. Panduan Praktis Belajar Fotografi. Jakarta: Puspa Swara.
Kriyantono, S. Sos., M. Si, Rachmat, 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana.
Moleong, Lexy. J, 2005. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyana, M. A., Pd. D, Daddy, 2005. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Photograph, Yudo Sudanardi, 2012. HDR (High Dynamic Range) Photo Effect. Yogakarta: Pustaka Ananda Srva.
Salim, Agus, 2006. Teori Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Sukara, Daniek. G, 2009. Kiat Sukses Daniek. G Sukarya. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Soedjono, Suprapto, 2007. Pot-Pourri Fotografi. Jakarta: Universitas Trisakti. Sless, David, 1981. Learning and Visual Communication.
Sudjana, Nana, 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sugiyono, Prof. Dr, 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Sugiyono, Prof. Dr, 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Zuriah, Nurul, 2006. Metodelogi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Sumber Lain:
B. M. Sarao, 1999. S. Gunnarsson, ed. Ben Sarao, Trenton, NJ.Hasselblad Forum, Edisi 3 (1993), Volume. 35. ISSN 0282-5449.
Mujtaba. SE, MSi, Burhanuddin. Diktat Fotografi Dasar. Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Tinarbuko, Sumbo, 2003. Semiotika Analisis Tanda Pada Karya Desain Komunikasi Visual. Research Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain. Yogyakarta: Universitas Kristen Petra. Wyckoff, Charles. W, 1962. Experimental extended exposure response
film. Society of Photographic Instrumentation Engineers Newsletter.
Internet:
Ginosar, R., Hilsenrath, O., Zeevi, Y., "Wide dynamic range camera", published 1992-09-01 (https://en.wikipedia.org/wiki/High-dynamic-range_imaging). J. Paul Getty Museum. Gustave Le Gray, Photographer. July 9 – September 29,
2002. Retrieved September 14, 2008 (https://en.wikipedia.org/wiki/High dynamic-range_imaging).
Steve Mann, "Method and apparatus for producing digital images having extended dynamic ranges", published 1998-10-27
(https://en.wikipedia.org/wiki/High-dynamic-range_imaging). Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Photography).
Wyckoff, Charles W. & EG&G Inc., assignee, "Silver Halide Photographic Film having Increased Exposure-response Characteristics", published March 24, 1961, issued June 17, 1969 (https://en.wikipedia.org/wiki/High dynamic-range_imaging).
PROFIL DAN DOKUMENTASI WAWANCARA INFORMAN PENELITIAN
INFORMAN I
Nama : Gilang Arasky R. Manto Nama Panggilan : Gilang
Tempat. Tanggal lahir : Pandeglang, 28 Desember 1993
Alamat : Kp. Lembur tengah Rt/Rw: 004/002 Desa Cimanuk Kec. Cimanuk Kab. Pandeglang Banten
Jurusan/Fakultas : Konsentrasi Jurnalistik Ilmu Komunikasi / FISIP
Semester : 10
Passion Fotografi : Fashion Photography
Waktu bergabung : 2013
Jabatan : Divisi Hunting Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta
INFORMAN II
Nama : Antoni Budi Mulia M Nama Panggilan : Anton
Tempat. Tanggal lahir : Tangerang, 17 Oktober 1993
Alamat : Taman Ciruas Permai Blok J5 No. 02. Jurusan/Fakultas : Konsentrasi Jurnalistik Ilmu Komunikasi / FISIP
Semester : 10
Passion Fotografi : Landscape Photography
Waktu bergabung : 2011
Jabatan : Ketua Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta
INFORMAN III
Nama : Hikmat Rachmatullah Nama Panggilan : Hikmat
Tempat. Tanggal lahir : Serang, 18 Juni 1995 Alamat : Komplek Permata Serang
Jurusan/Fakultas : Konsentrasi Marketing Komunikasi Ilmu Komunikasi / FISIP
Semester : 6
Passion Fotografi : Landscape Photography & Food Photography
Waktu bergabung : 2015
Jabatan : Anggota Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta
INFORMAN IV
Nama : Noval Afif Nama Panggilan : Noval
Tempat. Tanggal lahir : Serang, 16 Januari 1995
Alamat : Jl. Mayjen Soetomo km. 7 Link. Tegalwangi Rejane Rt/Rw: 02/02 No. 84 Desa Rawa Arum Kec. Grogol Kota Cilegon-Banten. Jurusan/Fakultas : Konsentrasi Marketing Komunikasi, Ilmu Komunikasi / FISIP
Semester : 6
Passion Fotografi : Landscape Photography
Waktu bergabung : 2015
Jabatan : Anggota Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta
INFORMAN V
Nama : Harry Setiawan Nama Panggilan : Harry
Tempat. Tanggal lahir : Serang, 14 April 1995
Alamat : Reni Jaya Lama, Blok A10 No. 5 Rt/Rw: 02/06 Pondok Petir, Bojongsari Depok Jurusan/Fakultas : Konsentrasi Marketing Komunikasi, Ilmu Komunikasi / FISIP
Semester : 6
Passion Fotografi : Human Interest Photography
Waktu bergabung : 2015
Jabatan : Anggota Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta
Anggota Komunitas Fotografi FISIP (KFF) Untirta:
1. Menurut anda, apa HDR (High Dynamic Range) dalam fotografi itu?
2. Menurut anda, bagaimana perkembangan HDR (High Dynamic Range) dalam fotografi itu?
3. Menurut anda, bagaimana teknik untuk membuat foto HDR (High Dynamic Range) tersebut?
4. Menurut anda, kamera dan software apa yang dibutuhkan?
5. Menurut anda, bagaimana pemanfaatan HDR (High Dynamic Range) dalam fotografi? Dan untuk keperluan apa sajakah foto HDR (High Dynamic Range) tersebut?
6. Apakah anda merupakan salah satu fotografer yang sering menggunakan HDR (High Dynamic Range) dalam tiap menciptakan karya foto?
TRANSKIP WAWANCARA PENELITIAN
Informan: Gilang Arasky R. Manto
1. P : Menurut anda, apa HDR (High Dynamic Range) dalam fotografi itu? I : HDR (High Dynamic Range) dalam fotografi sesungguhnya bukan sebagian dari kategori fotografi, entah itu landscape photography, human interest photography, jurnalistik, atau apapun itu. HDR (High Dynamic Range) itu hanya sebatas dilingkup tentang karakteristik foto, mulai dari pengolahan atau editan hingga pada tampilan foto tesebut.
HDR singkatan dari High Dynamic Range, dimana High Dynamic Range
merupakan suatu cara atau teknik dalam peningkatan cahaya atau perataan cahaya yang disesuaikan oleh perangkat keras kamera itu sendiri. Lebih jelasnya, pada foto-foto biasa itu ada yang namanya pembagian gelap dan terang atau dinamika cahaya yang cukup konstan terlihat, dimana ada
shadow (bagian gelap) dan highlight (bagian terang) pada foto.
Dengan HDR (High Dynamic Range) ini, bagian shadow dan highlight yang terdapat pada frame foto itu diratakan dan diseimbangkan pencahayaannya, sesuai seperti foto apa yang kita inginkan. Misalkan kita mengambil foto panorama pantai, dengan menggunakan HDR (High Dynamic Range) bagian-bagian gelapnya dapat menjadi terang, serta obyek pada foto tersebut dapat terlihat lebih detail. Jadi, lebih tepatnya HDR (High Dynamic Range) dalam fotografi itu berguna untuk menyeimbangkan cahaya ekstrim atau
2. P : Menurut anda, bagaimana perkembangan HDR (High Dynamic Range) dalam fotografi itu?
I : Menurut saya, perkembangan HDR (High Dynamic Range) dalam fotografi semakin berkembang dengan baik. Buktinya dengan pengadaan fitur atau mode HDR (High Dynamic Range) pada teknologi kamera digital yang sudah keluar. Diadakannya fitur atau mode HDR (High Dynamic Range), karna sebelum adanya teknologi tersebut pada kamera, menggunakan HDR (High Dynamic Range) dalam penciptaan karya foto itu merupakan hal atau teknik yang super ribet, dimana prosesnya harus menggunakan tripod, kemudian perlu bracketing 3 foto atau lebih yang komposisinya sama dan eksposurnya berbeda-beda.
Dengan perkembangannya yang pesat di era sekarang, foto HDR (High Dynamic Range) bisa lebih mudah diciptakan, tentunya dengan perangkat keras kamera yang sudah memiliki fitur atau mode HDR (High Dynamic Range). Selain kamera pun, sudah banyak Smartphone yang bisa
meng-instal aplikasi HDR, yang penggunaannya instan melalui kamera smartphone-nya langsung, seperti Iphone, Samsung, Sony Experia, dan lain-lain, sehingga khalayak awam fotografi pun sudah mengetahui tentang foto HDR (High Dynamic Range) tersebut. Contohnya seperti Instagrammers, selain menggunakan kamera, banyak juga penggunanya yang sering
meng-up load foto menggunakan HDR pada smartphone-nya.
3. P : Menurut anda, bagaimana teknik untuk membuat foto HDR (High Dynamic Range) tersebut?
I : Sebenarnya agak cukup rumit untuk membuat foto HDR (High Dynamic Range). Teknik yang biasa saya pakai itu bracketing exposure, dimana teknik tersebut membagi satu foto, satu view menjadi 3 bagian foto yang
exposure-nya berbeda-beda. Bracketing ini kita sesuaikan dahulu tahapan-tahapan exposure-nya, yang pasti teknik ini harus menggunakan tripod. Karna jika tidak menggunakan tripod, nanti akan berubah posisi view untuk mengambil fotonya. Minimal untuk menciptakan foto HDR (High Dynamic Range) itu menggunakan 3 exposure foto, yang terdiri dari under exposure, normal exposure, over exposure. Dari ketiga foto ini, kita bisa menggabungkannya menjadi satu foto yang menghasilkan satu foto HDR (High Dynamic Range) yang baik.
Salah satu tokoh HDR (High Dynamic Range) di Indonesia itu adalah Mas Golkariadi N. K, yang biasa dipanggil dengan sebutan mas GK. Dengan karya terbaiknya, berdasarkan penilaian kurator dan hasil polling via internet pada ajang kejuaraan bergengsi fotografi internasional pada tahun 2009. Namanya dinobatkan menjadi salah satu fotografer HDR (High Dynamic Range) terbaik no. 4 dunia. Mas GK inilah yang menyarankan saya, untu menciptakan dan menghasilkan foto HDR (High Dynamic Range) yang baik itu, minimal menggunakan 3 exposure (under exposure, normal exposure, over exposure).
4. P : Menurut anda, kamera dan software apa yang dibutuhkan?
I : Ada beberapa spesifikasi kamera untuk bisa menghasilkan foto HDR (High Dynamic Range), karna beberapa fitur di kamera tipe lama ataupun analog itu ada bagian dimana kamera tersebut tidak bisa melakukan teknik