BAB IV HASIL PENELITIAN
4.3 Deskripsi Hasil Penelitian
4.3.3 Pemahaman Akan Pemanfaatan Foto HDR ( High Dynamic
Di Kalangan Anggota Komunitas Fotografi FISIP (KFF)Untirta
Pemanfaatan foto HDR (High Dynamic Range) bisa dibilang tidak jauh berbeda dengan genre fotografi lainnya, mungkin dengan terkecuali foto jurnalistik. Menurut Gilang, foto itu merupakan salah
85
Hasil wawancara dengan Harry Setiawan pada tanggal 16 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 15.41 WIB.
satu karya seni rupa dua dimensi juga. Jadi pemanfaatan foto HDR (High Dynamic Range) sejauh ini dengan berdasarkan pengalaman Gilang, karya foto HDR-nya sudah pernah menjadi hiasan dinding, kemudian dalam hal ekonomi atau komersil bisa untuk dijual.
Karna memang efek dari HDR (High Dynamic Range) itu memberikan sentuhan yang berbeda pda foto dibandingkan dengan foto normal. Foto HDR (High Dynamic Range) hampir terlihat seperti lukisan. Selain estetika sebuah karya foto, kebanyakan orang atau khalayak yang awam akan fotografi, melihat foto itu dari segi keindahannya juga. Disini foto HDR (High Dynamic Range) memiliki kelebihan tersebut. Foto HDR (High Dynamic Range) pasti akan terlihat lebih indah jika pengolahannya baik. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, HDR (High Dynamic Range) mempunyai nilai tambah (), selain dapat menyeimbangkan cahaya ekstrim yang terdapat pada frame foto, HDR juga dapat memberikan efek detail dan warna yang lebih menyesuaikan karakter foto tersebut.
“Pada intinya, pemanfaatan foto HDR (High Dynamic Range) yang sudah saya lakukan itu sebagai hiasan dinding atau
furniture di dalam interior, karya foto yang dikomersilkan, kemudian bisa untuk dipamerkan pada acara pameran-pameran foto HDR (High Dynamic Range) ataupun pameran foto dan seni rupa lainnya.”86
86
Hasil wawancara dengan Gilang Arasky R. Manto pada tanggal 17 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 16.44 WIB.
Salah satu karya foto HDR (High Dynamic Range) Gilang, yang sudah pernah terjual ditahun 2012:
Gambar. 4.3
Senja Jakarta (2012)
Sumber. Foto Gilang Arasky R. Manto
Foto berjudul “Senja Jakarta” diatas tersebut diambil oleh
Gilang dari atap salah satu gedung di jakarta, yang mendeskripsikan akan padatnya suasana perkotaan di ibu kota. Dan angka penduduk di Jakarta pun tiap tahun semakin meningkat, dikarnakan banyaknya pendatang yang memperuntungkan hidupnya di kota tersebut.
Kemudian, berdasarkan pengalaman Gilang di tahun 2013 lalu, ia pernah mengikuti dan menjadi salah satu peserta pada acara pameran foto HDR (High Dynamic Range) di Universitas Taruma Negara (UNTAR) bersama teman-teman fotografer lainnya yang gemar menggunakan HDR (High Dynamic Range). Pada acara pameran tersebut menampilkan karya-karya foto HDR (High Dynamic Range) dan karya-karya foto normal.
Kemudian dari pihak panitia dan peserta pameran memberikan secarik kertas berupa kupon kepada apresiator pameran yang terdiri dari para penikmat karya foto, pehobi fotografi, kolektor, kaula muda, sampai pengunjung yang awam mengenai fotografi untuk memberikan apresiasi lebih dan feedback pada acara tersebut, yang dimana mereka dianjurkan untuk memberikan kritikan dan kesan melalui kupon tersebut, kemudian memasukannya pada kotak-kotak yang sudah tersedia di tiap-tiap karya foto HDR (High Dynamic Range) maupun foto normal.
Alhasil, karya-karya foto HDR (High Dynamic Range)-lah yang lebih banyak dipilih dan mendapatkan kesan dan kritikan baik dari para apresiator tersebut. Menurut mereka, memanjakan mata dan melihat foto HDR (High Dynamic Range) yang baik itu terasa lebih menarik dan indah, karna memang karakternya hampir menyerupai lukisan.
Berikut, karya-karya foto HDR (High Dynamic Range) Gilang, yang sudah pernah dipamerkan pada acara Pamera Foto HDR (High Dynamic Range) di Universitas Taruma Negara (UNTAR) tahun 2013:
Gambar. 4.4
Kapal Bersandar (2013)
Sumber. Foto Gilang Arasky R. Manto
Foto berjudul “Kapal Bersandar” tersebut diatas
memvisualisasikan akan lingkungan sekitar daerah Karangantu Banten. Dimana aktivitas dan kegiatan penduduk daerah tersebut sebagian besar adalah nelayan, yang memanfaatkan kekayaan alam sekitarnya.
Gambar. 4.5
Kota Tua dan Gedung Tua (2013) Sumber. Foto Gilang Arasky R. Manto
Foto diatas tersebut mendeskripsikan salah satu bangunan yang
sudah tua di Kota Tua Jakarta. Foto berjudul “Kota Tua dan Gedung Tua” tersebut diberi efek HDR (High Dynamic Range), salah satuya untuk mempertegas unsur kekusaman pada bangunan tua tersebut, karna memang warna gedung yang puth biasanya sulit untuk mendapatkan detail tanpa cahaya buatan (artficial lighting).
Penjelesan yang hampir serupa, menurut Anton, pemanfaatan HDR (High Dynamic Range) dalam fotografi itu sebenarnya tergantung dari selera fotografernya. Tiap fotografer pasti ingin menciptakan karya foto yang baik, dan HDR (High Dynamic Range) merupakan salah satu teknik untuk menjadikan sebuah karya foto itu baik. Karna memang manfaatnya yang dapat memberikan efek warna dan detail yang lebih pada foto, dan menerangkan sisi gelap, serta menggelapkan sisi yang terlihat lebih terang pada foto tersebut.
Kemudian, Foto HDR (High Dynamic Range) ini pun bisa dijadikan keperluan untuk di-up load pada media sosial sebagai luahan dan ekspresi dari fotografernya, bisa pula dikomersilkan (diperjual-belikan) karyanya, dan tidak menutup kemungkinan juga, karya-karya foto HDR (High Dynamic Range) ini dapat dipamerkan pada pameran foto ataupun seni rupa, sesuai dengan kebutuhan dan tema yang diangkat pameran tersebut.87
87
Hasil wawancara dengan Antoni Budi Mulia pada tanggal 19 Februari 2016, di Taman Graha Asri, pukul 23.06 WIB.
Hal yang tidak jauh beda pun dipaparkan oleh Hikmat sebagai berikut:
“Foto HDR (High Dynamic Range) ini bisa digunakan untuk beberapa kepentingan seperti untuk dinikmati sendiri, dinikmati para penikmat karya seni yang ditampilkan pada hiasan dinding,
gallery foto, serta pameran-pameran foto maupun seni rupa.”88 Adapun pemaparan dari Noval yang tidak jauh berbeda pula. Pemaparkan tersebut dikutip dari hasil wawancara sebagai berikut:
“Foto HDR (High Dynamic Range) ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan komersil, yang berarti karya foto HDR (High Dynamic Range) ini bisa diperjual-belikan, karna memang sudah banyak peminat dan penikmatnya. Kemudian, untuk porto folio saya sendiri, yang jika nantinya ada pameran foto bisa diikut pamerkan.”89
Selain itu, ia pun menambahkan, bahwa foto HDR (High Dynamic Range) sebenarnya bisa diterapkan pada foto landscape, arsitektur, portrait, hitam-putih, still life, dan lain-lain. Karna memang fungsinya yang berguna untuk meratakan pencahayaan obyek foto, memberikan efek warna yang mencolok, dan menaikkan tingkat detail dari semua obyek yang terdapat pada foto. Namun, tidak harus berlebihan dan kembali lagi pada tingkat kebutuhan fotografernya.
“Saya sendiri, foto HDR (High Dynamic Range) itu untuk stock
foto pribadi, yang mungkin nantinya bisa diikut sertakan pada acara pameran yang sesuai dengan temanya. Dan juga tidak menutup kemungkinan karya foto HDR (High Dynamic Range) ini bisa untuk diperjual-belikan jika ada yang tertarik.”90
88
Hasil wawancara dengan Hikmat Rachmatullah pada tanggal 16 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 15.22 WIB.
89
Hasil wawancara dengan Noval Afif pada tanggal 16 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 16.00 WIB.
90
Hasil wawancara dengan Harry Setiawan pada tanggal 16 Februari 2016, di Lab Fotografi FISIP Untirta, pukul 15.41 WIB.
Berdasarkan hasil wawancara dari kelima informan penelitian, peneliti mendapatkan informasi yang bisa dikatakan serupa dalam pemanfatannya, foto HDR (High Dynamic Range) ini dapat digunakan untuk berbagai macam kepentingan, yang dimana foto tersebut dapat digunakan untuk menjadi hiasan dinding pada suatu ruangan atau
gallery foto yang dapat dinikmati sendiri ataupun orang lain, stock foto pribadi, porto folio foto, komersial (dapat diperjual-belikan), dan karya foto yang dapat dipamerkan pada acara pameran.