BAB III METODOLOGI PENELITIAN
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat pengumpulan data yang digunakan dalam suatu penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Tes kemampuan pemecahan masalah matematis dilaksanakan untuk melihat sejauh mana peserta didik mampu menyelesaikan masalah yang terkait dengan materi yang diberikan. Tes yang dibuat sesuai dengan materi yang dipelajari. Soal yang diujikan untuk tes akhir dibuat dalam bentuk essay. Dalam penelitian ini hal-hal yang dilakukan untuk memperoleh hasil tes yang baik adalah:
1. Penyusunan Tes
Langkah-langkah dalam penyusunan tes dapat dilakukan dengan urutan :
a. Menentukan tujuan mengadakan tes yaitu untuk mendapatkan hasil kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik.
b. Membuat batasan terhadap materi pembelajaran yang akan diuji.
c. Menyusun kisi-kisi soal tes kemampuan pemecahan masalah
matematis dapat dilihat pada Lampiran VI Halaman 145.
d. Menuliskan dan menyusun butir-butir soal yang diujikan. Butir-butir soal yang diujikan dapat dilihat pada Lampiran VII Halaman 147. dan kunci jawaban pada Lampiran VIII Halaman 148.
2. Validitas Tes
Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur. Sebelum soal diuji cobakan, dilakukan validasi terlebih dahulu. Pada penelitian ini validitas tes yang digunakan adalah validitas isi dan validitas muka. Validitas isi suatu instrumen penelitian adalah ketepatan instrumen tersebut ditinjau dari segi materi yang akan diteliti. Validitas isi suatu instrumen tes berkenaan dengan kesesuaian butir soal dengan indikator, kesesuaian dengan kompetensi dasar materi yang diteliti, sedangkan validitas muka adalah ketepatan susunan kalimat atau kata-kata yang digunakan pada suatu butir pertanyaan atau pernyataan dalam instrumen tersebut. Suatu instrumen dikatakan memiliki validitas muka yang baik jika susunan kalimat atau kata-kata dapat dipahami dan tidak menimbulkan tafsiran lain (Lestari dan Yudhanegara, 2017:190). Jadi tes dapat dikatakan valid apabila tes tersebut secara tepat, benar dapat mengukur apa yang seharusnya diukur dan tes harus sesuai dengan indikator pembelajaran dan kisi-kisi soal yang dibuat.
Rancangan soal tes disusun sesuai dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai dan sesuai dengan kisi-kisi soal yang telah dibuat. Ada beberapa karakter penilaian yaitu dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 3.9 Kriteria Karakter Penilaian Validasi Tes
Huruf Arti penilaian
A Dapat digunakan tanpa revisi
B Dapat digunakan dengan sedikit revisi
C Dapat digunakan dengan revisi sedang
D Dapat digunakan dengan banyak revisi
E Tidak dapat digunakan
Soal-soal tes diberikan kepada beberapa ahli untuk menvalidasi soal-soal yang telah dibuat yaitu oleh 2 orang validator dari dosen matematika IAIN Batusangkar Ibunda Lely Kurnia, S.Pd, M.Si. (Dosen IAIN Batusangkar) dan bapak Jumrawarsih, M.Pd (Dosen IAIN Batusangkar) dan
41
seorang guru berasal dari SMP Negeri 1 Batusangkar yaitu Ibunda Yunisasniar, S.Pd (Guru mata pelajaran Matematika SMP Negeri 1 Batusangkar). Hasil valiadasi dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 3.10 Hasil Validasi Tes Kemampuan Pemecahan Maslah Matematis
Nama Validator Hasil Validasi Tes Lely Kurnia, S.Pd, M.Si Sedikit Revisi
Jumrawarsih, M.Pd Tanpa Revisi
Yunisasniar, S.Pd Tanpa Revisi
Dari hasil validasi tersebut diperoleh dan dilakukan perubahan atau revisi tes kemampuan pemecahan masalah matematis yang mana dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.11 Saran Validator Revisi Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Saran Sebelum Revisi Sesudah Revisi Soal nomor satu tidak
sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi. point c dan d dihilangkan
karena tidak sesuai
dengan kisi-kisi soal
a. Identifikasilah unsur-unsur yang diketahui, ditanya, dan kecukupan unsur-unsur yang diperlukan! b. Buatlah model matematika dari soal di atas! c. Selesaikanlah permasalahan di atas dengan menggunakan metode grafik! d. Berikanlah kesimpulan dari penyelesaian permasalahan di atas! a. Identifikasilah unsur-unsur yang diketahui, ditanya, dan kecukupan unsur-unsur yang diperlukan! b. Buatlah model matematika dari soal di atas!
Soal nomor dua cara penyelesaian dilakukan secara open ended dan
disesuaikan dengan
perintah soalnya.
c. Selesaikanlah model matematika yang diperoleh dari
permasalahan di
atas dengan metode gabungan! c. Selesaikanlah model matematika yang diperoleh dari permasalahan di
d. Berikanlah kesimpulan dari penyelesaian permasalahan di atas! atas dan tuliskan metode apa yang kamu pakai! d. Berikanlah kesimpulan dari penyelesaian permasalahan di atas!
3. Uji Coba Tes
Sebelum tes dilaksanakan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, tes perlu di uji coba. Hal ini bertujuan untuk melihat apakah soal yang telah disusun memiliki kriteria soal yang baik, maka soal diuji cobakan terlebih dahulu pada peserta didik yang berbeda tetapi mempunyai tingkat kemampuan akademik yang setara.
Peneliti melakukan uji coba tes di kelas IX.8 SMPN 1 Batusangkar pada tanggal 18 November 2019 hal ini dikarenakan kelas ini telah membahas materi yang sama dengan kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Hasil tes uji coba tercantum dalam nilai uji coba tes kemampuan pemecahan masalah matematis yang dapat dilihat pada Lampiran X Halaman 154.
4. Analisis Butir Soal Tes
Setelah uji coba dilakukan maka kegiatan selanjutnya adalah melakukan analisis butir soal. Analisis butir soal ini memiliki tujuan untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik, kuarang baik, dan soal yang jelek. Dengan analisis soal dapat diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan petunjuk untuk mengadakan perbaikan.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menganalisis butir soal yaitu:
a. Validitas Empiris
Validitas empiris menurut Lestari dan Yudhanegara (2017:192) adalah validitas yang diperoleh melalui observasi atau pengamatan
43
yang bersifat empirik dan ditinjau berdasarkan kriteria tertentu. Kriteria untuk menentukan tinggi rendahnya validitas instrumen penelitian dinyatakan dengan koefisien korelasi yang diperoleh melalui perhitungan. Koefisien korelasi butir soal atau item pernyataan atau pertanyaan suatu instrument dinotasikan dengan . Adapun rumusnya adalah sebagai berikut (Lestari dan Yudhanegara, 2017:193):
(∑ ) (∑ ) (∑ )
√ ∑ (∑ ) ∑ ) ∑ (∑ )
Keterangan:
= Korelasi Product Moment antara skor butir soal (X) dan total skor (Y)
= Jumlah jawaban benar yang dijawab oleh kelompok awal
= Jumlah jawaban benar yang dijawab oleh kelompok akhir
= Jumlah responden
Untuk menginterprestasikan tingkat validitas, maka dilihat kriteria penafsiran mengenai indeks korelasinya sebagai berikut: Tabel 3.12 Kriteria Koefisien Korelasi Validitas Instrumen
Koefisien Korelasi Korelasi Interpretasi Validasi 0,90 rxy 1,00 Sangat Tinggi Sangat tepat/sangat baik
0,70 rxy 0,90 Tinggi tepat/ baik
0,40 rxy 0,70 Sedang Cukup tepat/cukup baik
0,20 rxy 0,40 Rendah Tidak tepat/buruk
rxy 0,20 Sangat Rendah Sangat tidak
tepat/sangat tidak baik (Sumber:Lestari dan Yudhanegara, 2017:193)
Setelah harga koefisien validitas tiap butir soal diperoleh dan dilakukan uji coba tes serta dilakukan perhitungan maka didapatkan validitas butir soal yang dapat dilihat pada Tabel 3.13.
Tabel 3.13 Hasil Validitas Butir Soal Setelah Dilakukan Uji Coba Tes
Nomor Soal Kriteria
1a 0,524 Cukup tepat 1b 0,751 Tepat 2a 0,556 Cukup Tepat 2b 0,429 Cukup Tepat 2c 0,859 Tepat 2d 0,826 Tepat
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa semua soal cukup tepat dan tepat. Hasil perhitungan validitas butir soal secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran XI Halaman 156.
b. Reliabilitas Soal
Reliabilitas tes adalah suatu ukuran apakah tes tersebut dapat dipercaya. Suatu tes dikatakan reliabel jika beberapa kali pengujian menunjukkan hasil yang relatif sama. Untuk menentukan reliabilitas tes dipakai rumus Alpha Cronbach yang dinyatakan oleh Arikunto (2016:122) yaitu: ( ) ( ∑ ) Dengan Variansi (∑ (∑ ) ) Keterangan: : nilai reliabilitas : jumlah butir soal
∑ : jumlah varians butir soal : variansi total
Untuk menentukan soal mempunyai reliabilitas sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah atau sangat rendah ditetapkan kriteria seperti pada tabel berikut:
45
Tabel 3.14 Kriteria Reliabilitas Tes
Koefisien Korelasi Korelasi Interprestasi Reliabilitas
0,90 1,00 Sangat tinggi Sangat tetap/sangat baik
0,70 0,90 Tinggi Tetap/baik
0,40 0,70 Sedang Cukup tetap/cukup baik
0,20 0,40 Rendah Tidak tetap/buruk
0,20 Sangat rendah Sangat tidak tetap/sangat
buruk (Sumber:Lestari dan Yudhanegara, 2017:206)
Harga yang diperoleh adalah yang berada pada interval sehingga soal uji coba memiliki reliabilitas tinggi. Perhitungan reliabilitas uji coba tes dapat dilihat pada Lampiran XII Halaman 162.
c. Taraf Kesukaran Soal
Indeks kesukaran adalah suatu bilangan yang menyatakan derajat kesukaran suatu butir soal. Indeks kesukaran sangat erat kaitannya dengan daya pembeda, jika soal terlalu sulit atau terlalu mudah, maka daya pembeda soal tersebut menjadi buruk karena baik peserta didik kelompok atas maupun kelompok bawah akan dapat menjawab soal tersebut dengan tepat atau tidak dapat menjawab soal tersebut dengan tepat. Oleh karena itu, suatu butir soal dikatakan memiliki indeks kesukaran yang baik jika soal tersebut tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Rumus yang digunakan untuk menentukan indeks kesukaran instrumen tes tipe subjektif dalam:
Ik ̅ Dimana:
Ik = Indeks kesukaran butir soal
̅ = Rata-rata skor jawaban peserta didik pada suatu butir soal
Tabel 3.15 Kriteria Indeks Kesukaran Instrumen
Ik Interpretasi Indeks Kesukaran
Ik = 0,00 Terlalu Sukar
0,00< Ik ≤ 0,30 Sukar
0,30< Ik ≤ 0,70 Sedang
0,70< Ik ≤ 1,00 Mudah
Ik =1,00 Terlalu Mudah
(Sumber: Lestari dan Yudhanegara, 2017:224)
Setelah dilakukan uji coba tes dan dilakukan perhitungan didapatkan indeks kesukaran soal pada Tabel 3.16 :
Tabel 3.16 Hasil Indeks Kesukaran Soal Setelah Dilakukan Uji Coba Tes No Kriteria 1 0,29 Sukar 2 0,82 Mudah 3 0,59 Sedang 4 0,49 Sedang 5 0,59 Sedang 6 0,68 Sedang
Berdasarkan Tabel 3.16 dapat dilihat bahwa semua butir soal tersebut termasuk ke dalam kriteria sukar, sedang, dan mudah. Hasil perhitungan indeks kesukaran soal dapat dilihat pada Lampiran XIII Halaman 165.
d. Daya Pembeda Soal
Daya pembeda digunakan untuk mengukur kemampuan suatu soal dalam membedakan antara peserta didik yang mempunyai kemampuan rendah dengan peserta didik yang berkemampuan tinggi. Untuk menentukan daya pembeda soal langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1) Mengurutkan data dari nilai tertinggi sampai nilai terendah.
2) Mengambil 27% dari peserta tes yang mendapat nilai tertinggi disebut kelompok atas dan 27% yang mendapat nilai terendah disebut kelompok bawah.
3) Menghitung derajat kebebasan dengan rumus yang dikemukakan oleh Arifin (2009: 356), yaitu:
47
df = (n1 -1) + ( n2 – 1)
Keterangan:
: degrees of freedom
: banyak anggota kelompok tinggi : banyak anggota kelompok rendah
4) Menurut Jumlah kuadrat deviasi skor kelompok atas untuk menentukan daya pembeda soal tersebut dapat digunakan rumus:
( ̅ ̅ )
√∑ ∑ ( )
Keterangan:
̅ : Rata-rata skor dari kelompok atas
̅ : Rata-rata skor dari kelompok bawah
∑ : Jumlah kuadrat deviasi skor kelompok atas ∑ : Jumlah kuadrat deviasi skor kelompok bawah
:
: Jumlah peserta didik yang mengikuti tes
Menurut Arifin (2009: 357) item soal dikatakan mempunyai daya beda yang signifikan jika . Setelah dilakukan uji coba tes dan dilakukan perhitungan, didapatkan daya pembeda soal pada Tabel 3.17 :
Tabel 3.17 Hasil Daya Pembeda Soal Setelah Dilakukan Uji Coba Tes No Keterangan 1a 3,10 2,30 Signifikan 1b 3,79 2, 30 Signifikan 2a 3,10 2, 30 Signifikan 2b 2,40 2, 30 Signifikan 2c 4,11 2, 30 Signifikan 2d 4,22 2, 30 Siginifikan
Berdasarkan Tabel 3.17 dapat dilihat bahwa daya pembeda semua soal adalah signifikan. Untuk lebih jelasnya hasil perhitungan indeks pembeda soal dapat dilihat pada Lampiran XIV Halaman 167.
e. Klasifikasi Soal
Setelah dilakukan uji coba soal kemudian dilakukan perhitungan validitas, reliabilitas, perhitungan indeks daya pembeda (Ip) dan indeks kesukaran soal (Ik) maka ditentukan soal yang digunakan. Klasifikasi soal uraian menurut Arifin (2012: 126) adalah :
1) Soal tetap dipakai jika:
Daya pembeda signifikan, 0,00 < Indeks Kesukaran < 1,00 2) Soal diperbaiki jika:
Daya pembeda signifikan dan indeks kesukaran = 0,00 atau indeks kesukaran = 1,00
Daya pembeda tidak signifikan dan indeks kesukaran = 0,00 < Indeks kesukaran < 1,00
3) Soal diganti jika
Daya pembedatidak signifikan dan indeks kesukaran = 0,00 atau Indeks kesukaran =1,00
Berdasarkan hasil analisis daya pembeda dan indeks kesukaran, soal dapat diklasifikasikan pada Tabel 3.18 :
Tabel 3.18 Klasifikasi Soal
No Keterangan Keterangan Klasifikasi
1 3,10 Signifikan 0,29 Sukar Dipakai
2 3,79 Signifikan 0,82 Mudah Dipakai
3 3,10 Signifikan 0,59 Sedang Dipakai
4 2,40 Signifikan 0,49 Sedang Dipakai
5 4,11 Signifikan 0,68 Sedang Dipakai
6 4,22 Signifikan 0,29 Sukar Dipakai
Dari hasil analisis soal uji coba tes kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dapat disimpulkan bahwa semua soal dapat dipakai. Lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran XV Halaman 169.