• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

2. Pembahasan Tentang Kemampuan Pemecahan

Problem Solving (CPS)

Adapun pengerjaan soal tes oleh peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada jawaban peserta didik berdasarkan indikator kemampuan pemecahan masalah matematis sebagai berikut: a. Mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan

kecukupan unsur yang diperlukan

Indikator kemampuan pemecahan masalah matematis yang pertama adalah mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan. Pencapaian indikator kemampuan pemecahan masalah matematis yang pertama pada peserta didik kelas eksperimen sudah mampu memahami masalah secara lengkap dan juga begitu dengan kelas kontrol.

63

Peneliti memilih salah satu jawaban peserta didik yang mewakili kelas eksperimen :

Gambar 4.6 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial DF Kelas Eksperimen

Gambar 4.7 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial ANT Kelas Eksperimen

Dari Gambar 4.6 terlihat bahwa peserta didik kelas eksperimen sudah mampu mengidentifikasi yang diketahui, ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan. Artinya untuk indikator ini peserta didik sudah memahami permasalahan dan konsep secara lengkap. Sehingga indikator pertama dari kemampuan pemecahan masalah matematis sudah tercapai dengan menerapkan model pembelajaran

Creative Problem Solving (CPS). Adapun terlihat pada Gambar 4.7

terlihat bahwa peserta didik kelas eksperimen sebagian kecil salah dalam memahami masalah yaitu salah dalam mengidentifikasi unsur diketahui dan ditanyakan pada soal, sehingga permasalahannya tidak lengkap yaitu harga Paket Super Besar 1 (1 potong ayam, 1 porsi nasi, dan gratis es krim) adalah Rp.16.000,00 harga Paket Super Besar 2 (2 potong ayam, 1 porsi nasi, dan gratis es krim) adalah Rp.28.000,00 hanya saja membuatkan yang terlihat pada Gambar 4.7.

Selanjutnya peneliti memilih salah satu jawaban peserta didik yang mewakili kelas kontrol:

Gambar 4.8 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial GMA Kelas Kontrol

Gambar 4.9 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial ANP Kelas Kontrol

Pada Gambar 4.8 terlihat bahwa jawaban peserta didik belum mampu membuatkan secara lengkap dalam mengidentifikasi unsur yang diketahui, ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan. Namun pada kelas kontrol ini kebanyakan peserta didik tidak mengerjakan soal dengan baik. Berbeda dengan Gambar 4.9 sebagian kecil peserta didik sudah mampu membuatkan secara lengkap dalam mengidentifikasi unsur yang diketahui, ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan.

65

b. Membuat model matematika untuk menyelesaikan masalah

matematika

Pada indikator ini peserta didik dituntut untuk bisa membuat model matematika untuk menyelesaikan masalah matematika. Dari hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematis, peserta didik kelas eksperimen sudah memenuhi indikator kedua dari kemampuan pemecahan masalah matematis. Peserta didik kelas eksperimen sudah mampu membuat model matematika untuk menyelesaikan masalah secara lengkap sedangkan kelas kontrol secara umum belum mampu secara maksimal dalam membuatkan model matematika untuk menyelesaikan masalah matematika.

Peneliti memilih salah satu jawaban peserta didik yang mewakili kelas eksperimen :

Gambar 4.10 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial AVS Kelas Eksperimen

Gambar 4.11 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial PD Kelas Eksperimen

Berdasarkan Gambar 4.10 terlihat bahwa peserta didik mampu membuat model matematika untuk menyelesaikan masalah. Dalam jawaban peserta didik di atas sudah membuatkan prosedur penyelesaian secara tepat, tanpa kesalahan. Sehingga indikator kedua

dari kemampuan pemecahan masalah matematis sudah tercapai dengan menerapkan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). Juga terlihat bahwa peserta didik menuliskan info yang dibutuhkan, memisalkan kalimat dengan varibel. Sedangkan Pada Gambar 4.11 terlihat tidak semua jawab anak yang menjawab pertanyaan dengan baik dan benar. Sehingga ada sebagian kecil peserta didik yang tidak bisa merumuskan dan membuatkan model matematika.

Selanjutnya peneliti memilih salah satu jawaban peserta didik yang mewakili kelas kontrol :

Gambar 4.12 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial SYS Kelas Kontrol

Gambar 4.13 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial AFA Kelas Kontrol Dari Gambar 4.12 terlihat bahwa peserta didik tidak membuatkan model matematika untuk menyelesaikan masalah matematis, namun unsur-unsur digunakan kurang tepat. Artinya peserta didik tersebut salah dalam menggunakan rumus untuk menyelesaikan masalah. Sebagian kecil ada beberapa peserta didik

67

benar dan mampu dalam membuat model matematika untuk menyelesaikan masalah matematis yang terlihat pada Gambar 4.13.

Sesuai dengan pendapat Suherman (2003) mengenai strategi untuk menyelesaikan masalah ada beberapa strategi pemecahan masalah, yaitu: (1) Act it out (menggunakan gerakan fisik atau mengerakkan benda kongkrit), (2) Membuat gambar dan diagram, (3) Menemukan pola, (4) Membuat tabel, (5) Memperhatikan semua kemungkinan secara sistematis, (6) Tebak dan periksa, (7) Kerja mundur, (8) Menentukan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan informasi yang diperlukan, (9) Menggunakan kalimat terbuka, (10) Menyelesaikan masalah yang mirip atau lebih mudah, dan (11) Mengubah sudut pandang.

c. Menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah matematika

Indikator kemampuan pemecahan masalah matematis yang ketiga adalah menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah matematika. Dari hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematis, peserta didik kelas eksperimen sudah memenuhi indikator ketiga dari kemampuan pemecahan masalah matematis. Peserta didik kelas eksperimen sudah benar dalam menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah matematika sedangkan kelas kontrol secara umum salah dalam menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah matematika.

Peneliti memilih salah satu jawaban peserta didik yang mewakili kelas eksperimen:

Gambar 4.14 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial SSF Kelas Eksperimen

Gambar 4.15 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial FE Kelas Eksperimen

Dari Gambar 4.14 terlihat bahwa peserta didik sudah mampu menuliskan langkah penyelesaian dari soal dengan sistematis dan jawaban yang diperoleh peserta didik sudah tepat. Sehingga indikator ketiga dari kemampuan pemecahan masalah matematis sudah tercapai dengan menerapkan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). Adapun sebagian kecil peserta belum mampu menuliskan

69

penyelesaian masalah dari soal dengan sitematis tetapi tidak benar seperti pada Gambar 4.15.

Selanjutnya peneliti memilih salah satu jawaban peserta didik yang mewakili kelas kontrol :

Gambar 4.16 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial DAN Kelas Kontrol

Gambar 4.17 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial SYS Kelas Kontrol

Dari Gambar 4.16 terlihat bahwa dalam jawaban peserta didik di atas sudah membuat model matematika untuk menyelesaikan masalah matematika akan tetapi model tersebut salah dan kurang

tepat. Sehingga peserta didik kelas kontrol sebagian besar salah dalam menuliskan penyelesaian masalah dari soal. Ada sebagian kecil peserta didik mampu menyelesaikan masalah dengan baik terlihat pada Gambar 4.17.

Menurut Bransford (NCTM, 2000) menyatakan bahwa para pemecah masalah yang baik menyadari apa yang sedang mereka lakukan dan sering memonitor, atau meninjau sendiri kemajuan diri mereka, atau strategi-strategi mereka saat menhadapi dan memecahkan masalah.

d. Menjelaskan atau menginterprestasikan hasil permasalahan

menggunakan matematika secara bermakna

Pada indikator ini peserta didik dituntut untuk mampu

menjelaskan atau menginterprestasikan hasil permasalahan

menggunakan matematika secara bermakna. Dari hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematis, peserta didik kelas eksperimen sudah memenuhi indikator ketiga dari kemampuan pemecahan masalah matematis. Peserta didik kelas eksperimen sudah

untuk mampu menjelaskan atau menginterprestasikan hasil

permasalahan menggunakan matematika secara bermakna, sedangkan

kelas kontrol secara umum tidak menjelaskan atau

menginterprestasikan hasil permasalahan menggunakan matematika secara bermakna.

71

Peneliti memilih salah satu jawaban peserta didik yang mewakili kelas eksperimen:

Gambar 4.18 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial AMP Kelas Eksperimen

Gambar 4.19 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial FE Kelas Eksperimen

Berdasarkan Gambar 4.18 terlihat bahwa peserta didik sudah tepat dalam menyimpulkan hasil permasalahan menggunakan matematika secara bermakna dengan benar dan tepat. Sehingga indikator keempat dari kemampuan pemecahan masalah matematis sudah tercapai dengan menerapkan model pembelajaran Creative

Problem Solving (CPS). Berbeda dengan Gambar 4.19 peserta didik

kurang tepat dalam membuat kesimpulan karena jawaban pada soal salah.

Selanjutnya peneliti memilih salah satu jawaban peserta didik yang mewakili kelas kontrol :

Gambar 4.20 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial DAN Kelas Kontrol

Gambar 4.21 Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta didik inisial AFA Kelas Kontrol

Berdasarkan Gambar 4.20 peserta didik kurang tepat dalam membuat kesimpulan karena jawaban pada soal salah. Sehinga kemampuan peserta didik kelas kontrol dalam menjelaskan dan menginterprestasikan hasil permasalahan menggunakan matematika

secara bermakna belum tepat dikarenakan salah dalam

menyelesaikan soal. Adapun pada gambar 4. 21 peserta didik sudah mampu untuk menjelaskan dan menginterprestasikan hasil permasalahan menggunakan matematika secara bermakna, akan tetapi hanya sebagian kecil peserta didik mampu dalam hal tersebut dibandingkan keseluruh peserta didik yang ada pada kelas kontrol.

Terlihat pada pembahasan kemampuan pemecahan masalah

matematis peserta didik kelas eksperimen melebihi kemampuan kelas kontrol. Berdasarkan penelitian Herlawan dan Hadija (2017: 38) sebelumnya menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan pemecahan

73

masalah matematis peserta didik yang mengikuti pembelajaran matematika dengan model Creative Roblem Solving (CPS) berbasis kontekstual lebih baik dari pada peserta didik yang mengikuti pembelajaran matematika model konvensional.

Dokumen terkait