BAB IV PENGARUH PERTARUNGAN PRIMORDIALISME MARGA
4.4. Interaksi Budaya Masyarakat Desa Garoga Sibargot
Interaksi yang baik diantara anggota masyarakat akan menciptakan sebuah jalinan kekerabatan yang baik juga. Dalam kehidupan masyarakat Batak Toba interaksi hal yang penting dalam setiap ada kegiatan yang formal maupun nonformal akan melibatkan interaksi antara pihak yang berkepentingan dengan masyarakat luas. Interaksi yang terjadi misalnya interaksi sosial maupun budaya.
Interaksi budaya masyarakat Garoga Sibargotakan terlihat pada saat ada acara adat perkawinan dan pesta saur matua. Namun setelah tejadi pertarungan politik yaitu pertarungan pada pemilihan kepala desa interaksi budaya di Desa Garoga Sibargot mengalami perubahan. Dimana pada masa sebelum terjadinya pertarungan antara marga Pasaribu dengan marga
Tambunan pada waktu pemilihan kepala desa tahun 2015 yang lalu, setiap ada acara adat disetiap anggota masyarakat Garoga Sibargot natua-tua nihuta beserta marga Pasaribu selalu menghadiri pesta tersebut. Tapi setelah terjadinya pertarungan tersebut setiap ada pesta adat yang dibuat oleh pihak yang memilih marga Tambunan natua-tua nihuta yang berasal dari marga Pasaribu hanya sebagian saja yang menghadirinya begitu juga marga Pasaribu yang ada di Desa Garoga Sibargot.
Perubahan yang terjadi akibat pertarungan primordialisme tersebut terus berlanjut sehingga membuat keakuran diantara masyarakat menjadi berkurang. Hasil wawancara dengan ibu Romasta Simatupang sebagi informan yang berasal dari keluarga marga Tambunan menyatakan :
Gambar 5 : Ibu Romasta Simatupang
Najolo sebelum pemilihanon bere, denggando iba tu sude akka marga Pasaribu na adong dihutaon alai alani pemilihan nataon 2015 i gabe maralo maiba. Alana homajo marpikir leleng dihutaon lalap holan marga Pasaribu calon kepala desa, asa tabaen jo perubahan. Asa tabereng jo muse hasadaon ni marga Pasaribu mangalo au”. Alana naung songoni didok imana tuau ba huolohon ma, alana mulai sian namarsahit tulangmu nahinan sampe tu namate godangdo dibantu imana iba. Pas pemilihan narahai alana dang adong olo mambagihon lappet on pas pemilihan narahai gabe auma mambagi. Alani i gabe sogo hian do pamerengan ni marga dialusi imana do nian au, olo akkang. Dung saema pemilihan roma dabah adong marga Pasaribu dijumpangi ma anakku, talu do bah calon munai ateh ninnama alai songonna mangasangi. Baru hubege muse adong hata ni Pasaribu dang boi ninna au pajongjong adat dihuta on dohot dang ro marga Pasaribu molo pas adong ulaon diau. Alai pas pesta ni anakku nabulan 5 mai gabe dang piga be ro natua-tua sian marga Pasaribu (Dulu sebelum pemilihan baiknya hubunganku dengan marga Pasaribu yang ada dikampung ini, tapi setelah pemilihan itu jadi ada perselisihan. Kamu lah dulu berfikir apabila ada kawanmu yang mau naik jadi kepala desa pasti kamu mendukungnya. Tapi sebelum pemilihan saya pernah berkata kepada Pak Sanggam(Marlan Tambunan) apakah kamu sudah memikirkan ini? Karena kita pendatangnya disini. Dia pun berkata “sudah ka, lagian kita sudah lama disini. Hanya marga Pasaribu terus yang menjadi kepala desa disini, kita buat dulu perubahan. Biar kita lihat juga kekompakan marga Pasaribu mengalahkan saya”.
Karena dia berkata seperti itu, saya pun berkata baiklah kalau begitu, karena mulai dari pamanmu sakit sampai meninggal dunia dia banyak memberikan bantuan kepada saya. Karena kemarin pada saat pemilihan tidak ada yang mau membagikan lempat, terpaksa saya jadi turun tangan.
Karena hal itu, marga Pasaribu menjadi benci kepada saya.
Setelah penghitungan suara selesai dan dimenangkan oleh marga Pasaribu, saya langsung berkata kepada Marlan Tambunan “ kamu sudah melihat seperti apa kekompakan marga Pasaribu pada pemilihan ini kan, jadi gausah buat keributan karena kamu kemaren berkata seperti itunya kepada saya”. Setelah pemilihan selesai datanglah seorang dari marga Pasaribu medatangi anak saya dan berkata “ kalah kan calon kalian itu ” dengan logat bahasa mengundang keributan. Baru setelah kejadian itu, saya mendengar kabar bahwa saya tidak bisa mengadakan pesta dikampung ini dan mara Pasaribu pun tida akan datang ke acara yang saya buat. Perkataan itu memang tidak terbukti sepenuhnya pada saat acara pernikahan anakku, tapi natua-tua dari marga Pasaribu hanya sebagian yang datang ke pesta itu dan marga Pasaribu yang ada disini pun sedikit yang datang menghadiri pestanya.)
Dari hasil wawancara diatas dengan salah satu informan dari marga Tambunan mengatakan bahwa karena pertarungan primordialisme marga pada saat pemilihan kepala desa tahun 2015 lalu mengakibatkan interaksi kebudayaan banyak mengalami perubahan. Dimana orang-orang ynag tidak memilih calon kepala desa dari marga Pasaribuakan mendapatkan serangan dan ancaman dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh pertarungan tersebut menjadikan konflik diantara warga masyarakat Garoga Sibargot seperti pada saat melaksanakan pesta adat pernikahanan yang dimana pesta adat itu tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari mereka.
Primordialisme merupakan hal yang paling tering dilihat pada saat terjadinya pertarungan politik diberbagai wilayah terlebih didaerah pedesaan. Karena kelompok lokal marga yang jumlahnya paling banyak akan selalu mempunyai power (kekuatan atau kekuasan) dibangdingkan
dengan marga pendatang ataupun yang jumlahnya lebih sedikit.
Kelompok marga lokal biasanya bebas melakukan apa saja dikampungnya sendiri, contohya seperti apabila seseorang membuat kesalahan yang merupakan anggota kelompok marga lokal maka dia akan dimaafkan begitu saja. Begitu juga sebaliknya, apabila seseorang yang merupakan orang pendatang ke wilayah tersebut melakukan kesalahan maka dia akan diberi hukuman oleh pemilik desa tersebut yaitu marga lokal bahkan akan diberi sangsi seperti diusir dari desa tersebut.