BAB IV PENGARUH PERTARUNGAN PRIMORDIALISME MARGA
4.6. Konflik Marga Pasaribu dengan Marga Tambunan
Pertarungan primordialisme marga dalam pemilihan kepala desa tahun 2015 di Desa Garoga Sibargot berujung pada konflik antara marga Pasaribu dengan marga Tambunan. Sentimen-sentimen antara marga Pasaribu dengan marga Tambunan tersebut tidak mengarah pada terjadinya kekerasan fisik, tetapi konflik batin. Hal-hal tersebut mengarah pada muncunlnya ke inginan untuk menunjukkan kelebihan dan kemampuan kelompok marganya.
Konflik marga yang terjadi dalam kehidupan penduduk Desa Garoga Sibargot sebenarnya juga memiliki pengaruh yang positif, rasa cinta dan kehendak untuk menunjukkan keunggulan dan kelebihan kelompok marga sendiri menjadi prioritas setiap anggota kelompoknya. Konflik tersebut juga menumbuhkan dan memperkuat rasa cinta terhadap marga sendiri dan kehendak untuk menunjukkan identitas marga dalam kajian yang lebih besar dalam kelompok marga.
Konflik antara marga Pasaribu dengan marga Tambunan yang terjadi karena pemilihan kepala desa ini akan mempersempit ruang sosial interaksi penduduk Garoga Sibargot. Hubungan-hubungan antara marga yang bertentangan menyebabkan interaksi diantara mereka hilang.
Perasaan benci dan sakit hati tentu akan menimbulkan rasa enggan untuk saling menyapa dalam kehidupan sehari-harinya. Namun, konflik marga dalam kasus pemilihan kepala desa tersebut berdampak luas, yaitu marga Pasaribu beserta seluruh kerabat kelompok marganya yang tergolong
dalam kelompok kerabat Dalihan Na Tolunya akan otomatis ikut berkonflik kepada kelompok marga Tambunan beserta seluruh kerabat marga Tambunan itu juga.
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Primordialisme adalah sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat istiadat, kepercayaan maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya. Primordialisme juga merupakan ikatan emosional yang mendalam yang terbentuk oleh konstruksi dari kondisi sejarah untuk menjaga keutuhan solidaritas kelompok. Loyalitas yang berlebihan terhadap budaya subnasional tersebut dapat mengancam integrasi sosial karena primordialisme mengurangi loyalitas warga negara pada budaya nasional dan Negara sehingga mengancam kedaulatan negara.
Marga Pasaribu adalah marga yang memiliki kekuasaan dan cukup berpengaruh di Desa Garoga Sibargot. Berdasarkan latar belakang sejarah, Desa Garoga Sibargot pertama sekali dibentuk oleh marga Pasaribu.
Awalnya hanya marga Pasaribu yang mendiami wilayah itu, namun seiring perkembangan zaman akhirnya banyak marga-marga lain yang ditemukan di desa tersebut. Bahkan hingga saat ini masyarakat lebih dominan yang memiliki marga Pasaribu. Oleh karena itu sebagian besar wilayah Desa Garoga Sibargot adalah tanah ulayat marga Pasaribu.
Kekuasaan marga Pasaribu di Desa Garoga Sibargot dapat kita perhatikan dalam periode jabatan kepala desanya. Jabatan kepala desa
tidak pernah lepas dari kelompok marga Pasaribu. Selain itu jabatan-jabatan lain di dalam pemerintahan desa juga di dominasi oleh marga Pasaribu. Banyaknya orang-orang yang memiliki marga Pasaribu menunjukkan adanya primordialisme margaPasaribu dalam sistem pemerintahan desa tersebut.
Pemilihan kepala Desa Garoga Sibargot tahun 2015 menjadi sebuah ajang terjadinya pertarungan primordialisme marga. Hal tersebut dikarenakan oleh adanya marga lain yang ikut mencalonkan diri menjadi kepala desa yaitu marga Tambunan. Disamping itu ada juga marga Pasaribu yang mencalonkan diri. Dalam pemilihan kepala desa tersebut terjadi perebutan kekuasaan pemerintahan desa antara marga asli yaitu Pasaribu dan marga pendatang yaitu Tambunan. Kemenangan marga Pasaribu dalam pemilihan tersebut menunjukkan adanya bentuk Primordialisme marga Pasaribu di lingkungan masyarakat Desa Garoga Sibargot.Marga Tambunan memang lebih sedikit dibanding dengan margaa Pasaribujika dilihat dari segi kuantitasnya. Marga Tambunan memiliki banyak kerabat marga yang tergabung dalam punguan marga Silahi Sabungan.
Pemilihan kepala Desa Garoga Sibargot menimbulkan adanya persaingan antara kelompok marga Pasaribu dengan marga Tambunan.
Dapat dikatakan dalam proses pemilihan tersebut telah terjadi pertarungan politik kelompok dengan latar belakang marga. Dalam kesempatan ini akan terlihat jelas bagaimana primordialisme marga dalam kehidupan
masyarakat desa dan yang menang adalah kelompok marga yang meiliki jumlah anggota kelompok marga yang terbanyak.
Pertarungan primordialisme marga dalam pemilihan kepala Desa Garoga Sibargot terlihat jelas ketika kampanye mulai dilakukan para calon. Kedua calon kepala desa saling menggunakan taktik dan strateginya guna memperoleh dukungan dari masyarakat. Mereka mendekatkan diri dengan masyarakat dengan berbagai cara. Misalnya calon marga Tambunan mengadakan acara makan bersama dengan punguan marga Tambunan yaitu Silahisabungan. Begitu juga dengan marga Pasaribu, mereka menggelar berbagai acara layaknya ketika ada marga Pasaribu calon kepala desa sebelumnya.
Organisasi sosial yang terdapat dalam kehidupan masyarakat Garoga Sibargot juga menjadi media calon kepala desa untuk mendekatkan diri dan memperoleh dukungan. Organisasi sosial itu antara lain: serikat tolong menolong dan kelompok pemuda. Sistem keanggotaan organisasi-organisasi ini membuat para calon berani memasukinya. Oleh karena itu para calon kerapkali menggunakan berbagai cara guna memperoleh dukungan dari kelompok organisasi yang dimaksud. Organisasi sosial tersebut sifatnya terbuka, mereka menerima dengan baik siapa pun calon yang hendak datang kepada mereka. Berbeda sekali dengan organisasi punguanmarga, misalanya calon marga Tambunan pasti tidaka akan berani untuk masuk ke dalam organisasi marga Pasaribu untuk memperoleh dukungan. Begitu juga dengan marga Pasaribu, dia tidak akan mungkin
memasuki dan memepengaruhi kelompok marga Tambunan yang tergabung dalam kelompok marga Silahisabungan agar mendukunya dalam pemilihan.
Pertarungan primordialisme marga yang terjadi dalam pemilihan kepala desa memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat Desa Garoga Sibargot. Sistem kehidupan desa yang dulunya sangat didasarkan pada hubungan kekeluargaan telah hilang. Kerukunan dan ketentraman tidak lagi terwujud dalam kehidupan masyarakat. Telah kerjadi konflik batin diantara masyarakat antara pendukung pasangan calon kepala desa. Meskipun pemilihan telah berakhir, namun imbasnya sampai hingga lapisan masyarakat. Penyebab utama hal itu terjadi adalah rasa primordial terhadap marga sendiri.
Jabatan-jabatan pemerintahan desa adalah sasaran utama adanya primordialisme marga. Artinya ketika pemilihan kepala desa dimenangkan oleh marga Pasaribu, maka aparat-aparat pemerintahan desa pasti mereka-mereka yang medukungnya yaitu marga Pasaribu. Kalaupun ada marga lain selain marga Pasaribu, tentu pasti terdapat hubungan internal dengan marga Pasaribu, misalnya: keponakan dan menantu marga Pasaribu.
Begitulah kuatnya primordialisme marga yang terjadi dalam masyarakat Batak Toba khususnya dilingkungan masyarakat Desa Garoga Sibargot.
Pengaruh pertarungan primordialisme marga dalam pemilihan kepala Desa Garoga Sibargot juga berdampak kepada sistem ekonomi dan kesejahteraan hidup masyarakat desa Garoga. Para pemilik modal tidak
lagi memerikan modal secara efektif terhadap masyarakat petani. Pemilik moda pasti akan memperhatikan dulu identitas orang yang hendak meminjam modal. Apabila orang yang hendak meminjam modal usaha adalah anggota kelompok lawan politiknya dalam pemilihan kepala desa yang telah berlalu, maka modal tidak akan dipinjamkan. Begitu juga dengan pembagian bantuan pemerintah melalui perangkat desa. Hal dilakukan aparat desa adalah memprioritaskan orang-orang yang telah mendukungnya ketika pemilihan dilakukan. Hal-hal seperti itulah yang terjadi di dalam lingkungan masyarakat Desa Garoga Sibargot yang menyebabkan tingkat perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sudah berkurang semenjak tahun 2015.
Interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Garoga Sibargot juga dipengaruhi oleh pertarungan primordialisme marga dalam pemilihan kepala desa. Masyarakat yang awalnya memiliki keramahan antara satu dan yang lain kini telah berkurang. Interaksi sosial masyarakat Desa Garoga Sibargot berubah total setelah terjadi pemilihan kepala desa.
Kehidupan masyarakat desa yang dulunya nyaman dan rukun antara kelompok-kelompok marga yang berbeda sekarang telah hilang. Sistem kehidupannya sudah menjadi seperti sistem kehidupan masyarakat kota.
Yang bertetangga saling menunjukkan kemampuan dirinya dan terjadi diskomunikasi.
Dalam kehidupan budaya terlihat juga pengaruh pertarungan primordialisme marga dalam pemilihan kepala desa tersebut. Dimana pada
masa sebelum terjadinya pertarungan antara marga Pasaribu dengan marga Tambunan pada waktu pemilihan kepala desa tahun 2015 yang lalu, setiap ada acara adat disetiap anggota masyarakat Garoga Sibargot natua-tua nihuta beserta marga Pasaribu selalu menghadiri pesta tersebut. Setelah terjadinya pertarungan tersebut setiap ada pesta adat yang dibuat oleh pihak yang memilih marga Tambunan natua-tua nihuta yang berasal dari marga Pasaribu hanya sebagian saja yang menghadirinya begitu juga marga Pasaribu yang ada di Desa Garoga Sibargot.
Pertarungan primordialisme marga Pasaribu dan marga Tambunan menyebabkan ketegangan dan konflik hingga berujung kepada status kepemilikan tanah/lahan. Dan karena kejadian tersebut marga Pasaribu mengadakan rapat untuk menarik semua lahan yang dipakai oleh pendatang. Dan setelah tanah tersebut ditarik kembali, marga Pasaribu membaginya menurut garis keturunan mereka. Hal tersebut menyebabkan terjadinya konflik diantara warga masyarakat Garoga Sibargot antara pemilik lahan yaitu marga Pasaribu dengan marga-marga lain yang telah bertahun-tahun telah bertani di lahan tersebut.
Primordialisme marga pasaribu dalam kehidupan masyarakat Desa Garoga Sibargot tentu menjadi sebuah ancaman besar bagi kelompok-kelompok marga pendatang. Kepentingan-kepentingan kelompok-kelompok marga Pasaribu akan lebih diprioritaskan khususnya oleh pemerintahan desa.
Sikap dan toleransi yang tidak baik anatara kelompok marga yang berbeda akan cenderung menimbulkan pengaruh negatif. Selain itu Desa Garoga
Sibargot akan sulit mengalami perkembangan kaaren tidak memberikan ruang gerak bagi para marga-marga pendatang. Masyarakat luar pun akan berpikir apabila hendak masuk dan berniat untuk tinggal di wilayah Desa Garoga Sibargot itu.
Pertarungan primordialisme marga dalam pemilihan kepala Desa Garoga Sibargot menunjukkan adanya sistem politik dinasti dalam jabatan kepemimpinan kepala desa. Jabatan kepala desa yang diduduki oleh marga pasaribu sudah turun-temurun. Hal itu menimbulkan adanya kekuatan primordial marga Pasaribu tersebut agar jabatan kepala desa tidak dipegang oleh marga lain.
5.2. Kritik
Primordialisme merupakan sebuah kebiasaan yang telah mendarah daging bagi pribadi seseorang yang ditanamkan sejak kecil baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada pada lingkungan pertamanya. Primordialisme ini sering digunakan oleh sekelompok orang untuk mencapai keinginan yang diincarnya. Faktor-faktor penyebab primordialisme ini terjadi adalah adanya hasrat untuk mempertahankan keutuhan nilai-nilai dari ancaman dari luar.
Pada masyarakat Garoga Sibargot terdapat primordialisme yang dijunjung tinggi sampai pada saat ini yaitu bahwa yang akan memimpin daerah mereka harus dari marga Pasaribu. Karena mereka ingin mempertahankan tradisi yang ada sejak berdirinya daerahnya. Disamping
mempertahankan tradisi tersebut, marga Pasaribu tidak ingin marga lain untuk memimpin daerah mereka. Hal ini merupakan hal yang wajar kita jumpai diberbagai daerah-daerah, masyarakat lokal selalu menjadi penguasa dalam segala hal di daerahnya sendiri.
Pertarungan primordialisme marga yang terjadi di Desa Garoga Sibargot memang merugikan banyak hal, dimana marga lain yang lebih berpotensi tidak bisa memimpin daerah tersebut karena jumlah pendatang jelas lebih sedikit dibanding dengan marga lokal. Pertarungan ini juga mengakibatkan terjadinya perselisihan diantara anggota masyarakat padahal hubungan persaudaraan diantara mereka pasti ada bila dikaitkan dengan sejarah marganya.
Pertarungan primordialisme marga akan berpengaruh besar dalam kehidupan masyarakat, karena rasa benci diantara mereka pasti ada sehingga setiap adanya suatu kegiatan di berbagai aspek kehidupannya, mereka tidak bisa lagi sejalan bahkan diantara mereka akan ada rasa untuk menggagalkan dalam setiap acara tersebut. Oleh karena itu, apabila rasa primordialisme yang berlebih yang dimiliki oleh setiap orang akan merugikan mereka sendiri, karena hidup seseorang tidak dari terlepas dari diri orang lain.
5.3. Saran
Primordialisme yang dianut oleh sekelompok orang merupakan rasa ingin mempertahankan nilai-nilai yang dianut oleh leluhur mereka. Akan tetapi, rasa primordialisme ini sering menjadi salah satu ajang pertarungan diberbagai pihak untuk mencapai kepentingannya. Seperti halnya yang terjadi dalam pertarungan primordialisme marga pada pemilihan kepala desa di Desa Garoga Sibargot.
Dari hasil penelitian yang penulis lihat di Desa Garoga Sibargot, saran yang dapat penulis berikan dalam pencegahan konflik diantara masyarakat Garoga Sibargot adalah sebaiknya marga pendatang yang datang ke wilayah Garoga Sibargot tidak usah merebut kekuasaan dalam kepemimpinan kepala desa karena tindakan tersebut akan merugikan mereka sendiri. Karena sejauh yang kita ketahui, masyarakat lokal akan menjadi penguasa di daerahnya sendiri.
GLOSARIUM
Dalihan Na Tolu : tungku berkaki tiga, ketiga kaki tungku melambangkan pengakuan atas adanya pembagian masyarakat Batak dalam tiga kelompok utama. Pembagian inilah yang menjadi struktur kemasyarakatan bagi orang-orang Batak Toba.
Huta : Desa/kampung.
Jabu : Rumah.
Mamakhulingi Tondong : Menjumpai keluarga.
Marga : Identitas yang dimiliki etnik Batak
Martahi dohot Hahanggi : Mengadakan perkumpulan dengan kelompok marga yang sama.
Martahi tataring : Perkumpulan sekeluarga.
Paboahaon tu dongan sahuta : Memberi tahu kepada saudara satu kampung.
Paboahon tu dongan tubu : Memberi tahu kepada saudara semarga.
Partuturan : Hubungan kekerabatan.
Punguan : Perkumpulan.
Raja huta : Pemuka desa/kampung.
Tarombo : Urutan keturunan atau silsilah marga pada etnik Toba.
DAFTAR INFORMAN Informan Kunci
1. Bapak Manuppak Pasaribu : Anggota punguan marga Pasaribu 2. Bapak Pintoruli Pasaribu : Kepala Desa Garoga Sibargot
3. Bapak Sahat Sinurat : Informan yang berasal dari keluarga marga Tambunan
4. Ibu Romasta Simatupang : Informan yang berasal dari keluarga marga Tambunan
Informan Pendukung
1. Bapak Monang Pasaribu : Tokoh adat masyarakat Garoga Sibargot.
2. Bapak Tongku Pasaribu : Tokoh adat masyarakat Garoga Sibargot.
3. Bapak Paul Pane : Ketua Panitia Pemilihan Kepala Desa.
4. Bapak Bisa Pasaribu : Tokoh adat masyarakat Garoga Sibargot.
DAFTAR PUSTAKA Claessen, H.J.M
1987. Antropologi Politik Suatu Orientasi. Jakarta: Erlangga Habib, Ahmad
2004 Konflik Antaretnik Di Pedesaan. Yogyakarta: LKiS Haboddin, Muhtar
2015. Politik Primoedialisme Dalam Pemilu Di Indonesia. Malang: UB Press
Hefner, W. Robert
1999. Geger Tengger(Perubahan Sosial dan perkelahian Politik).
Yogyakarta: LKiS Isaacs, Harold R
1993 Pemujaan Terhadap Kelompok Etnis. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Mashad, Dhurorudin, dkk
2005 Konflik Antarelit Politik Lokal Dalam Pemilihan Kepala Daerah.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar M.S, Wahyu
1986 Wawasan Ilmu Sosial Dasar. Surabaya: Usaha Nasional Saifuddin, Achmad Fedyani.
2005. Antropologi kontemporer. Jakarta: Kencana.
Spradley, James P.
1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana yogya
Sugiprawaty
2009. Etnisitas, Primordialisme, dan Jejaring Politik di Sulawesi Selatan.
Semarang: Universitas Diponegoro Suparlan, Parsudi
2005. Suku Bangsa dan Hubungan Antar-Suku Bangsa. Jakarta Selatan:
YPKIK Press.
T. Ishiyama, Jhon.
2013 Ilmu Politik dalam Paradigma Abad Kedua Puluh Satu. Jakarta:
Kencana Vergouwen, J C
2004 Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Jakarta: PT LKiS Aksara Yando Zakaria, R.
2004 Merebut Negara. Yogyakarta: LAPERA Pusataka Utama
Sumber Lain:
Suparlan, Parsudi
2003. Keanekaragaman Suku Bangsa dan Kebudayaan. Jurnal
(http://yufifakhiraa98.blogspot.co.id/2017/04/primordialisme.html) (http://mbahkarno.blogspot.co.id/2013/09/pengertian-primordialisme)
(https:/www.google.com/search?ie=UTF-8&source=android-browser&q=teori+kekerabatan)